Disclaimer: Kuroko no Basuke is belong to Tadatoshi Fujimaki
Main cast: Akashi Seijuro and Kuroko Tetsuya
Warning: Au, ooc, konsep yang (mungkin) sudah umum
Akira Scarlet present: Seiyuu of The Year
Chapter 6: END
Mendadak, semuanya terasa seperti adegan slow motion dalam film-film action di layar kaca.
Suara peluru ditembakkan dari pistol yang dipegang Hanamiya awalnya ditujukan untuk membunuh pemuda dalam genggamannya. Namun Akashi dengan kecepatan menakjubkan, terlebih dahulu meraih pergelangan tangan pemuda tersebut dan membelokkan arah sasaran peluru.
Peluru itu memang meleset, tidak jadi membunuh seseorang. Tapi sebagai konsekuensi atas tindakan heroiknya Akashi harus menerima kenyataan kalau bahunya terserempet peluru.
Terlanjur tanggung, Akashi mengabaikan rasa sakit yang mendadak menghampiri bahunya. Dengan pengalaman berguru bela diri selama beberapa tahun ia menendang pistol yang dipegang Hanamiya dengan keras. Membuat pistol itu terlempar entah kemana.
"Akashi-kun!" melihat Hanamiya yang lengah, Kuroko tentu tidak menyia-nyiakan kesempatan. Diinjaknya kaki pemuda itu. Begitu cengkramannya pada Kuroko melemah ia segera melarikan diri.
"Aku tidak apa-apa kok. Sungguh," ujar Akashi melihat kekhawatiran di wajah Kuroko.
"Tapi bahumu berdarah.."
"Ini bukan apa-apa," Akashi yang tadinya terduduk mencoba berdiri. Dipandangnya Hanamiya yang berdiri tidak jauh dari mereka. "Masih ada lagi yang ingin kau coba lakukan?"
Hanamiya terengah. Kekesalan jelas tercetak di wajahnya. Tapi ia masih memiliki satu kartu as lagi.
"Voting," ujarnya.
"Apa?" tanya Akashi memastikan dirinya tidak salah dengar. Voting? Apa maksudnya?
"Kau tahu kalau Seiyuu Awards tahun ini setengah nilai penjuriannya berasal dari voting bukan? Aku dapat memanipulasi hasil voting agar nilai Kuroko membumbung tinggi. Lalu para juri akan melihatnya dan menganggap Kuroko melakukan kecurangan agar dapat menang."
"Tunggu dulu, maksudmu-"
"Dengan begitu nama baik dan karier Kuroko akan tercemar bukan?"
Akashi menampakkan ekspresi wajah terkejut, membuat Hanamiya nyaris menyuarakan tawa kemenangan. Tapi kemudian ekspresi terkejut itu berubah menjadi sebuah senyuman. Seringai penuh arti.
"Bercanda," katanya. "Kau bodoh kalau berpikir aku tidak mengantisipasi hal tersebut."
"Memangnya kau punya rencana?"
"Perhatikan saja," kini Kuroko yang berbicara. "Kise-kun," panggilnya.
Tak lama setelah panggilan Kuroko, beberapa pria berseragam polisi datang. Mengarahkan senjata mereka ke arah Hanamiya sebagai syarat agar tidak bertindak macam-macam.
"Apa yang-"
"Nah nah cukup," suara familier terdengar. Diikuti kehadiran sosok tidak asing lagi menyeruak di antara para polisi.
"Ryota. Bagaimana kau melakukan semua ini? Setahuku kau bukan orang yang mengurusi urusan orang lain hingga seperti ini," Akashi menuntut penjelasan dan agaknya Hanamiya juga menuntut hal yang sama.
"Yah kau benar Akashicchi. Aku memang tidak berniat melakukan ini. Kagamicchi yang merencanakannya. Setelah teleponmu yang menanyakan keberadaan Kagamicchi dia jadi curiga, mengatakan bahwa kau mencurigainya macam-macam. Lalu Kurokocchi menghilang setelahnya. Untung saja Kurokocchi sudah memberitahu kami semuanya. Jadi Midorimacchi menduga kalau kau pasti mendatangi perusahaan umm – tunanganmu yang katanya mencurigakan. Kagamicchi menyuruhku membawa polisi kalau kalau ada sesuatu dan ternyata benar!" Kise mengakhiri penjelasannya yang panjang lebar, membuat semuanya terdiam. Entah karena segalanya terasa tidak masuk akal atau karena banyaknya kata –cchi yang mengharuskan mereka mencernanya lebih lamban.
"Darimana Midorima-kun tahu kalau Akari mencurigakan?"
Tapi sayangnya pertanyaan itu tidak pernah mendapat jawaban yang jelas.
"Baiklah, terima kasih Ryota. Dan kalian," pandangan Akashi beralih pada para polisi. "Kalau kalian membutuhkan bukti kejahatan pria ini, kurasa tidak sulit mendapatkannya. Cukup melihat rekaman CCTV saja."
Para polisi itu mengangguk, lalu salah satu dari mereka bergegas menuju ke ruang rekaman sementara yang lainnya menangkap Hanamiya juga Akari.
"Aku tidak menyangka Kagami-kun bisa sepintar itu," bisik Kuroko pelan. Akashi tersenyum mendengarnya.
"Harus kuakui dia lebih hebat dari perkiraanku. Mungkin aku harus minta maaf kepadanya."
"Sekarang?"
"Tentu saja tidak. Kapan-kapan, barangkali," pemuda itu tidak akan pernah mengakui kalau ia diam berterima kasih kepada Kagami.
Akashi menatap datar kepada Hanamiya yang telah diborgol, siap dibawa menuju kantor polisi. Akan ada kehebohan besok, atau bahkan hari ini. Ia tahu. Tapi semuanya telah terjadi, dan harus terus berjalan.
"Kau akan menyesali ini," kata-kata Hanamiya terdengar menggantung.
"Mungkin. Tidak ada yang tahu," jawab Akashi tenang. Lalu ia berbalik dan menghampiri kedua temannya yang sedang berbincang.
"Satu hal Akashi-kun," kata Kuroko. "Bagaimana dengan hasil votingku nanti? Aku tidak ingin ada kecurangan apalagi atas namaku."
"Kurokocchi tenang saja!" diluar dugaan, Kise yang menjawab dengan nada cerianya seperti biasa. "Yang namanya meretas program komputer itu pasti bisa dikembalikan. Kita hanya harus menemukan orang yang tepat untuk melakukannya."
"Dia benar," Akashi menyetujui. "Aku akan meminta salah satu temanku yang pandai melakukan hal seperti itu untuk mengembalikan hasil voting sebagaimana mestinya. Tidak sulit kok."
"Terima kasih. Oh ya Akashi-kun, kurasa kita harus mengobati bahumu dulu jika kau ingin tampil prima di acara nanti." Akashi hanya mengangguk mengiyakan.
"Dan berbicara mengenai Awards tersebut … apa kalian sudah bersiap-siap? Hanya tinggal hitungan hari loh!"
.
.
Tidak ada sumber suara yang terdengar kecuali alunan musik yang berasal dari atas panggung, tempat salah satu band paling naik daun saat ini bernyanyi. Mengeluarkan lagu baru mereka sepenuh hati. Di balik tirai panggung, Kise tidak dapat berhenti tersenyum sementara pandangannya terfokus hanya pada satu personil, Aomine Daiki.
"Aku tidak percaya bahwa pada akhirnya aku akan datang di acara ini."
"Oh diamlah Akashi-kun. Kau telah mengatakan hal itu setidaknya lima kali semenjak kita turun dari mobil. Aku bosan mendengarnya. Lagipula," Kuroko menatap ruangan luas yang dipenuhi orang, kursi, dan dekorasi menarik. "Tidak seburuk itu mengingat banyaknya teman kita yang juga berada disini."
"Itu kan menurutmu," Akashi mendengus. "Kau juga tidak menyinggung mengenai pakaian kita yang luar biasa ini. Aku tidak akan melihat kaca hingga esok hari, kurasa."
Kuroko tertawa, "Ayolah. Ini hanya kostum gaya era Victoria yang tidak terlalu buruk. Bahkan kalau kupikir-pikir sebenarnya ini bagus juga."
"Seleramu jelek," hina Akashi. "Oh lihat itu Taiga dan Daiki sedang duduk menikmati hidangan kue. Kurasa kita sebaiknya duduk disana juga Tetsuya," ia menarik tangan Kuroko pelan. Membuat Kuroko menggelengkan kepala geli.
"Kurasa tadi ada seorang penggerutu yang berubah menjadi bersemangat melihat seonggok kue."
.
.
"Dan sekarang kita akan segera mengetahui siapa yang memenangkan Seiyuu Awards for Best Actor in a Leading Role," Kise membuka amplop dengan dramatis – sepertinya ia sangat sesuai menjadi pembawa acara – dan membacakan sebuah nama keras-keras.
"Akashi Seijuro! Selamat!"
Suara tepuk tangan terdengar riuh memenuhi ruangan. Kuroko mendorong Akashi pelan agar ia maju ke atas panggung, mengucapkan sepatah dua kata untuk merayakan kemenangannya.
Dari samping kursi Akashi bisa mendengan Kagami tertawa, lalu berkata pada Aomine bahwa ia kurang beruntung tahun ini.
"Aku tidak bisa berpidato. Tidak hari ini," aku Akashi pelan. "Seluruh rangkaian kata di otakku hilang begitu saja."
"Kalau begitu lakukan secara spontan. Kau Akashi si Jenius, ingat?" bisik Kuroko. Ia menggenggam jemari Akashi erat. "Sekarang cepatlah."
"Baiklah … tapi aku ingin kau ada disisiku," tanpa meminta ijin ia menarik genggaman Kuroko, membuatnya ikut terseret maju ke atas panggung. Ratusan pasang mata menatap mereka berdua heran.
Kise menjauhkan mic-nya sebelum ia berbicara, "Akashicchi apa yang kau lakukan dengan membaca Kurokocchi?"
"Tidak apa-apa Ryota," ia merebut mic dari tangan Kise. Jemarinya yang kini berbalik menggenggam Kuroko semakin erat. "Kalian pasti heran mengapa aku membawa Kuroko Tetsuya, salah satu saingan terberatku ke atas panggung."
Kuroko tidak dapat melakukan apapun kecuali bersembunyi di balik punggung Akashi dengan wajah merah karena malu, sementara pemuda di depannya berbicara dengan nada yang tegas seperti seharusnya.
Tatapan Akashi yang sedari tadi tegas kini melembut. Ia menoleh menatap Kuroko yang balas menatapnya bingung. "Itu karena aku ingin berterima kasih kepadanya. Meski aku tidak selama itu mengenalnya, tetapi aku mengetahui kalau ia adalah orang yang luar biasa. Hanya dengan waktu yang singkat, ia bisa membuatku terpana, terkagum-kagum dengan segala kebaikan dan kelebihannya. Karena itu aku ingin membagi kemenanganku saat ini dengannya."
Selama beberapa detik hening mengisi acara bergengsi tersebut. Tapi kemudian tepuk tangan kembali terdengar, bahkan lebih riuh dari sebelumnya. Kise, Aomine, dan Taiga yang menyaksikannya hanya bisa tersenyum sembari bertepuk tangan. Reaksi yang terjadi diluar dugaan mereka, tentu dengan arti positif.
Mungkin besok akan ada headline koran yang menulis besar-besar tentang kejadian ini.
"Akashi-kun aku …"
"Terima kasih," bisik Akashi. Lalu tanpa mempedulikan ratusan orang yang memandanginya ia mendekatkan diri pada Kuroko, mengucapkan satu kalimat dengan pelan agar tidak terdengar siapapun, tapi jelas terdengar di telinga pemuda biru itu.
"Terima kasih telah datang dalam kehidupanku … aku rasa aku mencintaimu."
END
Oke hampir satu tahun setelah janji saya untuk mengupdate bulan itu juga. Dan saya sungguh minta maaf atas keterlambatannya. Tidak ada kata-kata pembelaan, saya hanya berharap kalian masih ingat jalan ceritanya dan mau membaca chapter terakhir ini.
Terima kasih banyak untuk para pembaca, reviewers, dan yang telah memfavorite maupun memfollow. Saya speechless, kalian bener-bener kekuatan buat saya. Hontou ni Arigatou!
Semoga chapter ini memuaskan dan sesuai ekspetasi kalian! Sampai jumpa di cerita selanjutnya. See ya!
[19.05.16]
Sign,
Akira.S
