Tittle: Which One

Genre: Romance & Hurt/Comfort

Rate : T

Pairing: KYUMIN OF COURSE, (crack) SIMIN, another~

Warning: Bahasa non-formal, typo(s) everywhere, crack-pair, look definitely OOC (I'm so sorry~ Q_Q)

Disclaimer: KYUMIN punya JOYers, managemen mereka, orang tua mereka dan Tuhan YME. Tapi Mommy Min dan Daddy Kyu punya SAYA! *tawa nista* /digodok JOYers

Summary:

Apa-apaan ini? Apa ini semacam permainan? Kenapa mereka memperlakukan gue seakan gue ini pion catur? Apa mereka nggak tau kalau mereka mengacaukan perasaan gue?

.

enJOY~

.


AUTHOR PoV

Hujan deras membasahi permukaan bumi dan seluruh benda yang menutupinya. Langit sore yang mendung menjadi momen dimana seluruh inspirasi berkembang. Namun tidak menurut kedua orang yang tengah berlari berlawanan arah. Panik, amarah, kekhawatiran tercetak jelas di wajah tampan mereka. Banjir peluh terhapus tetes air hujan. Mereka berlari demi satu tujuan.

"SUNGMIN!"

Seseorang beteriak dari atas jembatan. Napasnya terengah-engah, mencoba menghirup udara lebih banyak. Ia menatap panik ke arah aliran sungai yang deras. Hanya kegelapan yang mendasari sungai tersebut. Mencoba tidak panik, ia menarik napasnya dalam-dalam.

BYUR

.

Ditempat lain, seseorang berlari dan membuka dengan kasar pintu kantor polisi. Napasnya sama-sama terengah-engah, ia habis berlari. Dengan mimik wajah panik, ia segera menghampiri salah satu petugas yang berjaga.

.


KYUHYUN PoV

Gue terbangun dari tidur dengan napas terengah-engah.

'Mimpi, eoh?' tanya gue pada diri sendiri. Gue melihat jam dinding, samar-samar telihat jarum pendek menunjuk ke angka tiga. Mimpi buruk? Hah, kenapa gue jadi kayak anak kecil gini, sih?

Tapi jujur, itu mimpi yang cukup mengerikan. Dan karena gue takut kalau gue kembali tidur mimpi itu akan berlanjut, gue memutuskan bangun dan pergi ke dapur. Segelas air mungkin akan menghilangkan bayangan mimpi tadi.

Gue melangkah tanpa suara, berusaha tidak membangunkan penghuni apartemen. Sayangnya usaha gue gagal. Kaki gue kesandung undakkan di lantai, dan menimbulkan suara khas berturan... dengan tidak elitnya.

"Siwon?" panggil seseorang. Bukannya menjawab, gue malah diam. Nggak salah 'kan? Emang gue bukan Siwon.

Jadi gue lanjutin aja jalan lurus ke depan. Gue melangkahkan kaki dengan amat sangat pelan sekali. Terlihat sinar lampu yang menyala dari dapur, menarik perhatian siapapun yang melihatnya. Karena ruangan yang lainnya terlihat gelap.

"Kyu?" panggil suara itu lagi. "Mau kemana?" tanyanya. Seketika itu juga gue menoleh.

"Huwaaa!" seru gue shock. "Lo ngapain disitu?!" tanya gue pada sosok yang terduduk di sofa sambil menekuk lutut dan memeluknya erat. Sinar bulan yang masuk melalui jendela membuat sosok terlihat hanya bagai siluet.

"Gue nggak bisa tidur." Jelasnya pelan. Gue mengurungkan niat untuk pergi ke dapur dan mendekatinya. Entah bagaimana bayangan tentang mimpi buruk tadi samar-samar terulang. Seketika pikiran gue jadi panik. Mimpi tadi terasa terlalu nyata.

Mencoba tenang, gue mendudukkan diri di sebelahnya. Gue merhatiin wajahnya dari samping. Berkali-kali dia menghela napas berat. Dan tiap helaan napasnya, gue merasa sedikit sedih.

"Lo kenapa?" tanya gue hati-hati. Dan dia hanya menggeleng.

Hening. Gue nggak tau harus ngomong apa lagi. Hanya suara jarum jam yang menguasai keheningan.

"Gue mengganggu hidup lo nggak?" akhirnya sebuah suara terdengar. Gue menoleh. "Mianhae..."

"Gue kan belum jawab. Suka sok tau nih." Ujar gue, mencoba mencairkan suasana. Dan dia sedikit tersenyum, membuat gue sedikit lega. "Perlu gue jawab nggak nih jadinya?" tanya gue. Dan dia hanya tersenyum tipis sambil mengedikkan bahunya dengan manis.

"Gue nggak ngerasa lo mengganggu hidup gue kok." Jawab gue.

'Sedikitpun nggak.' Sambung gue dalam hati.

"Jinja?" tanyanya nggak percaya.

"Ne, malah yang harusnya nanya gitu kan gue."


SUNGMIN PoV

Pikiran gue kacau. Bagaimana bisa benci dan bahagia bercampur menjadi satu? Dan gue merasakan hal lain. Sakit. Bagaimana bisa mereka mempermainkan perasaan gue?

.

[start flashback]

"Saya hanya ingin anak saya dapat calon terbaik." Ujar papa. Dan entah kenapa semua orangtua yang hadir disana mengangguk setuju. Dan gue hanya bisa memutar bola mata sambil mengutuk dalam hati.

Hell.

.

Gue dan Siwon pun dipaksa putus. Gue bingung, dan Siwon nggak bisa menolak. Mereka –para orang tua— itu mengumpulkan kami dan membuat perjanjian atas persetujuan mereka sendiri.

"Mulai sekarang, kalian harus tinggal bertiga di apartemen ini."

Apa-apaan?!

"T-tapi..." ucap Siwon terbata-bata. Gue tau dia mau nolak perintah papa. Nggak usah dia, gue yang anaknya aja mau protes. Apa maksudnya?!

Gue merhatiin Kyuhyun yang cuma terdiam. Gue melihat setitik kekecewaan di matanya. Seakan dia merasa di permainkan. Entah, apa bener dia mikir begitu? Atau ternyata itu pikiran gue?

"Dengan begini akan terlihat, siapa yang pantas menjadi masa depannya."

[flashback end]

.

"Min?"

Kaget, refleks gue menoleh ke arah sumber suara. "N-ne?"

"Mikirin apa sih?" tanya Kyuhyun lembut. Gue hanya menjawab dengan gelengan.

Saat ini gue nggak bisa berpikir. Aneh, setelah dua minggu berturut-turut tinggal seatap dengan orang di samping gue ini, gue makin bingung ngeliat dia. Karena apa yang gue liat selama ini di sekolah, jauh berbeda sama apa yang gue liat di luar sekolah. Di sekolah dia bakal ngomong dengan intonasi yang agak tinggi, dan kelakuannya pun bikin orang nggak betah deket dia. Di sini? Dengan baik hati dia bakal nawarin bantuan ke gue juga ke Siwon.

"Masih belum ngantuk? Mau disini sampe kapan? Nggak bagus tidur terlalu malem..." ujarnya masih sama lembutnya dengan tadi. "Nanti badannya sakit semua, lho." Jelasnya sambil mengusap kepala gue lembut, entah kenapa gue ketawa dengernya.

Lihat kan?

DEG

Mulai lagi deh. Dasasr jantung aneh...


AUTHOR PoV

"Kemana aja lo beberapa hari ini?" tanya Eunhyuk heran.

"Iya. Kenapa nggak ada kabar?" tambah Ryeowook. "Dan bukan cuma lo, Kyuhyun dan Siwon juga nggak masuk sekolah di saat yang sama. Apa ini ada hubungannya dengan mereka berdua?" tanyanya lagi dengan tatapan haus.

"Ah! Bener juga!" seru Eunhyuk tiba-tiba seiring dengan matanya yang ikut membelalak. Dan Ryeowook memutar bola matanya sebal.

"Jadi selama ini lo nggak sadar kalau Kyuhyun sama Siwon juga nggak masuk sekolah selama dua minggu berturut-turut?" tanya Ryeowook panjang pada Eunhyuk. Yang ditanya hanya nyengir sambil berpose 'peace' lalu memeluk Ryeowook yang menepuk jidatnya sendiri.

'Kenapa punya temen jadi lola begini?' batinnya.

"Ah, pokoknya lo hutang penjelasan sama kita!" seru Ryeowook nggak mau ambil pusing.

"Iya! Nggak mau tau!" sahut Eunhyuk mengiyakan.

Sungmin— bulan-bulanan Ryeowook dan Eunhyuk, duduk di kursinya sambil mundur hingga punggungnya menempel dengan sandaran kursi. Mengerikan sekali kedua temannya ini. Di tengah ribut-ribut kedua temannya, matanya sedikit melirik ke tempat duduk Siwon dan Kyuhyun.

'Siwon dan Kyuhyun itu sepaket. Beli satu dapet dua.' Pikirnya asal, ia sedikit tertawa membayangkan kata-katanya tadi. Tapi HEY, bahkan keduanya bukan miliknya. Jadi dengan segera dia mengenyahkan segala bayangan tentang kedua orang itu. Dan kini wajahnya malah terasa panas.

'Sial.' umpatnya dalam hati.

"Yak! Lo ngeliatin siapa?" tanya Kyuhyun tiba-tiba dengan ketus. Seketika itu juga Sungmin kembali ke alam sadarnya.

"A-anni... eo-eobseoyo..." ucap Sungmin terbata-bata. Siapapun tau dia berbohong. Dasar.

"Nih," Kyuhyun menyodorkan lembaran kertas.

"Ige mwoya?" tanya Sungmin sambil mengerjapkan matanya, bingung.

"Rangakapan tugas selama kita nggak masuk. Jangan lupa nanti kerjain!" Kyuhyun berujar sambil berlalu.

"Ne..." ujar Sungmin pelan, yang tentu saja tidak akan di dengar Kyuhyun.

NYUT

Entahlah, kalau sudah begini Sungmin berpikir bahwa kejadian semalam hanyalah mimpi.

"Yak! Jangan bengong!" seru Eunhyuk.

"Hiks..."

"Yak! W-waeyo?" tanya Ryeowook panik.

Tidak ada jalan lain selain membagi semua pada kedua temannya.

.

"Kyu," panggil Siwon, dan yang dipanggil hanya memberika sahutan berupa dehaman. Matanya tak lepas dari lembaran soal yang diberikan guru-gurunya sambil sesekali menggerutu saat membaca soal yang pajang dan berbelit-belit.

"Kenapa?" tanya Kyuhyun masih sambil menatap kertas soal.

"Lo suka sama Sungmin juga, 'kan?" tanya Siwon to the point.

Seketika itu juga, yang ditanya langsung menoleh. Mereka saling bertatap sebentar sebelum akhirnya Kyuhyun kembali pada soal-soalnya.

"Ya," jawabnya datar. Seketika itu juga Siwon membulatkan matanya. Tidak menyangka terkaannya benar.

'Tuh, kan. Udah gue dug—'

"mungkin." Sambung Kyuhyun tiba-tiba.

"E-eh?"

Kyuhyun menoleh saat mendengar Siwon seperti melayangkan protesnya, tatapannya seakan mengatakan, 'Yak! Gue serius. Jangan bercanda!'

"Apa itu penting?" tanya Kyuhyun singkat.

"Iya lah. Mau sampai kapan kita bertiga begini?" Kyuhyun tiba-tiba mendengus mendengar omongan Siwon.

'Jadi dia udah nggak betah?'

.


SIWON PoV

Kyuhyun suka sama Sungmin.

Yah, gue nggak heran sih. Kayak gue nggak kenal Kyuhyun aja. Hey, udah berapa tahun gue deket sama Kyuhyun?

Lagian kalo nggak suka kenapa dia mau masuk ke permainan bodoh macam ini? Ya, gue yakin buat dia ini permainan bodoh. Kyuhyun nggak suka menyibukkan diri dengan hal konyol nggak masuk akal kayak gini. Gue sendiri sebenernya juga nggak suka. Menurut gue nggak ada gunanya. Dan Sungmin...

Apa perasaannya masih buat gue?

TOK TOK

"Siwon," panggil seseorang. Gue langsung melirik ke arah pintu kamar.

"Kenapa? Masuk aja." Ajak gue pada orang yang masih berdiri di ambang pintu. Orang itu menggelengkan kepalanya cepat.

Orang itu –Sungmin, menggaruk kepalanya. Ekspresi takut-takut tergambar di wajahnya. "Itu... eeuuung... ada makanan di meja. Kalau mau makan ambil aja, ya. Udah, dah." Tepat setelah dia mengatakan itu, dia kabur ke arah kamarnya. Kenapa dia?

.

TOK TOK

"Ne? Nugu?"

"Siwon. Boleh masuk?"

CKLIK

"Silakan."

Gue melangkah masuk ke ruangan bercat dasar ungu lembut dari tengah ke atas dan abu-abu dari tengah ke bawah. Di perbatasan kedua warna itu di beri cat berwarna merah muda. Di daerah cat berwarna ungu, terdapat polkadot berwarna oranye. Sedangkan di daerah lainnya dikuasai polkadot berwarna kuning. Langit-langit ruangannya berwarna putih, dan platform kayunya berwarna cokelat tua mengkilap yang dilapisi karpet putih.

"Kamar lo rapi ya." Ujar gue sambil mengedarkan pandangan ke penjuru kamarnya.

"Terimakasih. Silakan duduk dimanapun yang lo suka." Ujarnya menyilakan. Gue mengernyit. Ada apa dengannya sampai berlaku sopan begini?

Nggak mau ambil pusing, gue duduk di karpet sambil memangku bantal besar yang ada disitu. "Besok..."

Dia memperhatikan dengan mata yang membulat, mengisyaratkan ketertarikan. "Ya?" sahutnya.

"Kita jalan bertiga, yuk! Mau?" ajak gue.

"Jeongmal?" tanyanya dengan mata berbinar. "Eodi?"

Gue tersenyum melihat Sungmin begitu antusias. "Lo maunya kemana?"

"Hng, taman hiburan? Anni. Game center? Anni!" Ia sibuk menggelengkan kepalanya. Sesenang itukah? "Hng... kemana ya?" tanyanya bingung.

"Terserah." Ujar gue.

"Kebun binatang... anni!" pekiknya membuat gue kaget. "Ah!"

"Sudah?"

Ia mengangguk dengan lucu. "Kita ke akuarium, ne?" pintanya dengan mata berbinar dan senyum yang merekah.

"Ne." Sahut gue mengiyakan. "Sekarang lo tidur." Ujar gue seraya bangun dari duduk. Ya sudah, cuma itu urusan gue ketemu dia. Singkat, 'kan?

"Terus Kyuhyun?"

"Nanti gue yang kasih tau. Tenang aja."


KYUHYUN PoV

Pagi ini apartemen yang hanya ditempati oleh tiga orang, terdengar seperti ditempati oleh sekumpulan ahjushi yang sedang menonton pertandingan bola.

"BERISIK!"

"YAK! BANGUN!"

Gue langsung melempar bantal ke arah pelaku kerusuhan pagi yang ngebangunin gue. Demi seluruh kelinci imut di permukaan bumi, ini baru jam setengah delapan pagi. Dan ini hari MINGGU!

"Kyuhyun, cepat kita mau ke akuarium! Ayo cepat!"

DEG

Oh iya, gue lupa.

.

BUGH

"Yak!" pekik gue sambil berusaha menangkis pukulan Sungmin di lengan gue.

Masih sambil terus memukul lengan gue, dia mengomel. "Mengesalkan!" ujarnya sambil mempoutkan bibirnya kesal.

"Apa?!"

"Kita ketinggalan kereta! Lo kan tau ini hari Minggu, Kyu!" omelnya sambil menunjuk ke arah rel kereta yang kosong. Tadinya kereta ada di situ, hanya saja saat kami hendak menghampiri gerbong...

SRRREEET—

Pintu kereta tertutup. Dan mereka pergi meninggalkan kami.

"I-iya, Mianhae..." ucap gue sambil menggaruk kepala dengan gugup. Sungmin yang melihat gue, menghela napas dengan kasar. "Yak!" pekik gue saat dia lagi-lagi memukul lengan gue.

"Haish, pokoknya lo yang harus traktir gue seharian ini!"

"MWO?!"

.

[start flashback]

"Siwon?" panggil Sungmin sambil mencari ke penjuru apartemen dengan rusuhnya. Sampai tiba-tiba dia teriak, "Mwo? Siwon nggak ikut?"

Ia berlari menghampiri gue –yang lagi sarapan di meja makan— dari kamar Siwon sambil membawa secarik kertas. "Siwon nggak ikut. Eottae?"

Note:

Annyeong.

Maaf, tiba-tiba gue nggak bisa ikut. Appa tiba-tiba manggil gue ke perusahaannya. Mau bagaimana lagi? Tapi jangan dibatalin! Kalian jalan aja berdua. Lalu mungkin gue nggak balik selama dua hari. Mianhae, Sungmin-ah. Kyuhyun, jaga Sungmin!

The end?

"Kyuhyun, Eottae~?" tanya Sungmin sambil menggungcang-guncang badan gue.

"Katanya jangan dibatalin. Ya kita jalan aja."

"Gwaenchana? Biasanya lo lebih milih ngelanjutin tidur..."

"Jadi nggak mau nih?"

"Hng..."

"Gue balik tidur nih ya..."

"Y-YAK! ANDWAE!"

[flashback end]

.

Kami memasuki gedung. Berkali-kali gue melihat Sungmin tersenyum senang. Dia melangkahkan kakinya dengan semangat.

"Kaja, ppalli!" serunya sambil narik tangan gue.

"Ne, chamkkanman..."

Di dalam... GELAP. Beginilah akuarium, remang-remang. Sementara gue memperhatikan jalan agar tidak tersandung, Sungmin hanya memerhatikan ikan-ikan yang terpajang di dalam akuarium raksasa.

"Annyeong, ikan..." sapanya pada ikan-ikan sambil mengetuk-ngetuk kaca akuarium lembut.

"Annyeong, Sungmin-ssi." Seketika itu juga Sungmin langsung menoleh dan menatap horror ke arah gue. "Wae?"

"Ish, jangan men-dubbing ikan-ikan manis ini seenaknya." Larangnya sambil mempoutkan bibirnya, sama manisnya dengan ikan-ikan yang dia sebut manis tadi.

DEG

Hah?

"Kaja Kyu, kita ke sana!" ajaknya sambil menarik tangan gue.

"Ne." Sahut gue pelan. Entah terdengar atau tidak. Gue mengerjap dengan aneh. Kenapa gue jadi deg-degan—

DEG

—lagi?

Ia menarik gue ke tempat bintang laut dan kawan-kawannya. Gue hanya bisa tertawa disitu, pasalnya dia masih menyapa makhluk-makhluk laut tadi dengan riang dan lembut.

"Annyeong semuanya. Senang sekali bisa berjumpa dengan kalian!" serunya pada hewan-hewan air. Rasanya seperti mengajak balita. Lihat saja, saat ini pun dia sedang berjejer di deretan anak-anak balita dan anak-anak sekolah dasar.

"Yak, Noona. Kau seperti anak kecil saja!" tukas seorang anak –sekolah dasar, gue rasa— sambil berkacak pinggang. Ish, apa-apaan bocah ini?

Sungmin tak peduli akan dirinya yang dengan seenak jidatnya di panggil 'Noona' pada saat kenyataannya dia adalah namja. Namja yang kelewat manis. "Biar saja!" balasnya. Setelah ia berkata demikian, bocah tadi pergi.

Gue memperhatikan makhluk-makhluk air yang juga sedang diperhatikan Sungmin. Gue menunjuk salah satu objek.

"Itu bintang laut." Sahutnya. Bagaiamana dia bisa tau kalau gue mau nanya? Lalu gue tunjuk yang lainnya. "Itu kuda laut, timun laut,"

"Timun laut?"

"Ne, Teripang. Lo nggak tau?" tanyanya, dan gue hanya bisa menggeleng. "Hng... ya pokoknya gitulah..." Hah? "Itu bulu babi." Lanjutnya sambil menyebutkan sesuai tunjukkan jari gue. "Dan Itu cacing."

"Cacing?"

"Ne. Cacing laut." Ujarnya. Dan gue hanya ber-oh ria. "Mereka pipih dan hermafrodit." Lanjutnya, matanya tak lepas dari kumpulan makhluk laut itu.

"Eh, jinja?"

"Ne." Jawabnya singkat. Gue hanya bisa mengangguk-anggukkan kepala. Lalu tiba-tiba ia melanjutkan, "Hmm, ada dua cara cacing laut berkembang biak. Membelah diri dan pembuahan." Jelasnya. Sambil menjelaskan, jemarinya mengaduk-aduk air di akuarium membuat lingkaran kecil. Gue rasa dia lupa peringatan di papan...

'DILARANG MEMASUKKAN TANGAN ATAUPUN JEMARI KE DALAM AKUARIUM!'

Tapi gue rasa nggak masalah juga, jadi biarlah. Lalu ia melanjutkan, "Lo tau kan cara berkembang biak dengan membelah diri?"

"Ya, gue tau."

"Bagus, gue males jelasin soalnya."

Gue langsung memberikan Sungminthglare dan ia terkekeh pelan. "Terus gimana soal berkembang biak dengan cara pembuahan?" tanya gue.

"Entahlah."

"Hah?"

"Well, gue ragu. Waktu itu gue pernah nonton di TV, cuma gue nggak begitu inget." Jelasnya.

"Gwaenchana." ujar gue, dan Sungmin langsung menoleh. Matanya seaka berkata 'Eh?' Gue mengedikkan bahu dan berkata, "Jelasin aja seinget lo."

Ia menganggukkan kepalanya. "Well, seinget gue, awalnya mereka sama-sama jantan." jelasnya sambil menggaruk belakang kepalanya.

"Hmm, lalu?"

"Dikatakan bahwa cara yang satu ini seperti perang. Ada suatu 'peraduan' siapa yang bisa menaklukan pasangannya. Yang gagal menjadi betina, maka—"

"Y-yak, stop. Gue ngerti..." tiba-tiba wajah gue terasa panas mendengar penjelasan Sungmin. Kalau aja dia paham omongannya menjurus kepada yang 'iya-iya'. Apa orang ini benar-benar polos?

Haish... rasanya jantung gue mau meledak.


SUNGMIN PoV

"Y-yak, stop. Aku mengerti..." seru Kyuhyun mengaggetkan gue. Kenapa? Bukannya tadi dia yang minta dijelasin?

"A-ah, ne. Mian..." Gue tatap mukanya sedikit... merah? "Waeyo? Lo sakit?" tanya gue.

"Hah?" sahutnya shock.

"Muka lo merah tiba-tiba..." jawab gue. Entah kenapa secara reflek tangan gue nyentuh keningnya. Dan Kyuhyun dengan tiba-tiba mengerjap kaget, lalu memundurkan wajahnya.

"N-nan gwaenchana..." jawabnya cepat dan singkat.

"Jeongmal?" Ia mengangguk cepat. "Um, arasseo."

.

Keadaan jadi diam. Aneh ya, kenapa gue jadi sering banget jalan berdua sama Kyuhyun. Bukannya nggak suka, cuma gue bingung. Jujur gue masih suka sama Siwon. Tapi rasanya Siwon mulai menjauh. Memang nggak langsung, tapi sedikit demi sedikit dia menjauh. Semua berubah, dari seorang Siwon yang gue pikir memang nggak akan pernah terjangkau, hingga ke Siwon yang tiba-tiba bisa aja jadi milik gue selamanya. Dan di saat gue mulai berpikir begitu, Siwon pun berubah. Meskipun sekarang dekat –secara harfiah— tetap aja gue nggak bisa menyentuhnya.

"Huwaaa—" erang gue frustasi.

"Sungmin?" panggil Kyuhyun memecah lamunan gue. "Lo kenapa?" tanyanya yang langsung memegang lengan gue, menarik gue agar berdiri menghadapnya.

Gue mengerjap kebingungan. Bagaimana menjelaskannya? "A-anni..." jawab gue pelan, lalu memberanikan diri menatap wajah Kyuhyun.

"Jeongmal?" Kyuhyun bertanya dengan tatapan lurus ke mata gue, mencoba menyelidik. Seketika itu juga gue mengarahkan pandangan gue ke arah lain sambil mengatupkan rahang rapat-rapat.

Gue mencoba melepas cengkraman tangan Kyuhyun. "N-ne." Jawab gue singkat. Akhirnyapun ia melepas cengkramannya. "Kaja, gue lapar. Lo harus traktir gue." Gue bersuara, sedikit melirik ke arah Kyuhyun yang ternyata masih menatap ke arah gue sambil menarik sebelah sudut bibirnya, tersenyum manis.

DEG

Huwaaa, jantung gue!

"Nde, arasseo." Sahutnya sambil menggenggam tangan gue.

.

.

.

"Minimi-yaaa!" Gue meringis saat mendengar lengkingan suara riang sambil lalu menerima pelukan menyiksa –yang sebenarnya hangat— dari dua sahabat gue, Ryeowook dan Eunhyuk. Masalahnya mereka benar-benar menubruk badan gue tanpa belas kasihan. Tau sendiri badan gue mungil begini...

Eunhyuk mengernyit melihat dua pemuda di belakan gue yang berdiri layaknya bodyguard. Ya, Siwon dan Kyuhyun. "Yak, menyeramkan sekali kalian!" protesnya sambil memeluk gue posessive. "Dasar aneh. Enyahlah kalian!" hardiknya tiba-tiba, yang langsung dihujani deathglare oleh kedua makhluk di belakang gue.

"Oh, apa ini?"

.

.

.

—(to be continued)—


ANNYEONG! :*

Haaaaaah, setelah sekian lamaaa...

Akhirnya... terharu banget bisa lanjutin ini.

Mian lama update. Nggak ada waktu sih. Dibilang nggak sibuk, ya tugas numpuk. Tapi dibilang sibuk juga... masih aja sempet bikin beginian/?

Oke, skip.

Hihi, dan ini saya mau bilang Happy Birthday buat uri Daddy CHO KYUHYUN. Aishiteru, Daddy~ muach :*

Telat bangeeet, ya tapi daripada nggak.

Kurang panjang? Ini udah dua kali lipat dari biasanya lho... :(

Tapi banyak kyumin momennya kan?

Ya udahlah ya, rencananya sih PALING LAMBAT chap. 11 tamat. Tapi kalo bisa mah chap. depan tamat. Bosen kan ya? Sama... /hush/ Ya udahlah ya, sabar-sabar aja sama saya mah... /?

Terserah mau review atau nggak, dengan kalian membaca aja sebenernya saya udah seneng. Bahagia itu sederhana. Kkk~

Kataomoi on going. Masih harus bertapa buat nyari wangsit... /gak/ wkwk~

YO DAH YA, BABAY~ ;;)