1
.
Hermione mendorong pintu ruangan itu dengan perasaan campur aduk.
Dia tahu itu, seharusya dia tidak terlambat. Seharusnya dia bisa membuat waktunya lebih singkat dan berguna. Seharusnya dia tidak melangkah masuk dengan semua mata tertuju padanya, dan mungkin otak-otak dalam setiap kepala bertanya tentang dirinya. Well, dia Hermione Granger. Si Ketua Murid, benar kan? Dia bisa saja datang lebih awal. Dia bisa saja duduk di bangku itu—bangku utamanya—dan menunggu mereka berkumpul. Bukan malah membiarkan mereka menunggunya—itu tidak profesional. Dia tahu pasti seseorang akan memerhatikan tindaknnya dan akan melaporkan selip waktu ini dengan salah satu Profesor yang berwenang.
Hermione merasakan aura itu memenuhi ruangan. Seketika semuanya terdiam, memerhatikannya melangkah menuju kursinya. Apakah disini tidak ada Hak Privasi? Dimana seseorang dibebaskan dari sebuah kesalahan kecil dan menganggapnya tidak ada saja? Hermione menghela napas. Mengangkat dagunya agak tinggi, dia berusaha mengabaikan suasana itu, dan menatap tujuannya.
Fuck. Hermione menahan napas. Sialan.
Sekarang dia terlalu sembrono kan? Matanya bertemu dengan mata biru-kelabu itu. Jantungnya berpacu lebih cepat mengalahkan deru nafasnya sendiri. Panas merambat di pipinya. Hermione menahan nafas, melihat sosok itu menyeringai samar—tapi dia bersumpah bahwa dia benar-benar bermaksud menyeringai—sebelum dia menjatuhkan dirinya pada kursi di sampingnya.
Sekarang apa? Hermione meletakan beberapa buku catatan diatas meja. Draco Malfoy bergerak di sampingnya, berdiri. Hermione merasakan setiap pergerakannya. Tidak perlu melihat untuk tahu bahwa si pirang tengah membenahkan dasinya dan berdehem penuh wibawa. Hermione tahu matanya kini menyapu seluruh ruangan, karena, semua orang beringsut pada kursinya masing-masing. Seolah bersembunyi dari tatapan yang mengintimidasi itu.
"Well, well, well. " dia memulai. Menarik nafas, matanya masih memandang berkeliling. "Hari yang agak panjang, kan?" Dia mendengus. Mengerling sesaat pada Hermione. "Kalian sudah tahu tentang beberapa rencana baru tentang Dumbledore tahun ini kan? Aku yakin beberapa telinga sudah mendengarnya dengan jelas. Jadi—disinilah kita akan membahasnya lebih jauh…"
Hermione membuka catatannya. Tentang pesan-pesan Dumbledore minggu lalu. Dia menghela napas.
"Granger?"
Hermione bangkit dan menumpukan tangannya pada meja dibawahnya. "Kita sudah sepakat untuk kerja sama, kan? Jadi biarkan aku menjelaskan apa yang—"
"Jelaskan sesingkat-singkatnya, Granger. Kau tahu apa arti singkat?" Tukas Draco yang telah beringsut kembali pada kursinya.
"Tentu—"
"Bagus. Lanjutkan."
Hermione menggertakan giginya. Dia benci diperintah seperti itu. Mengatakan seolah-olah Hermione akan taat dengan kata-katanya. Otaknya sudah menyiapkan kalimat protes, namun dia mengurungkan niatnya untuk melanjutkan acara potong-memotong ini. Jadi dia hanya menarik nafas, dan melanjutkan dengan nada yang lebih sabar. "Yah, mungkin ada pertanyaan?"
Malfoy sudah membuatnya bertingkah seperti orang tolol. Hermione menggigit lidahnya saat pandangannya menyapu seluruh ruangan.
Suasana hening.
"Bagaimana dengan Pembukaan Piala Quidditch?" Seorang cowok pentolan Ravenclaw bertanya dari sudut meja.
"Dan peresmian jabatan Ketua Murid Baru?"
"Dan jabatan-jabatan Kapten Quidditch?"
Kali ini Hermione menoleh pada Blise Zabini yang berada tepat di samping Malfoy. Wajahnya penuh keceriaan khas Slytherin. Senyum miringnya menyapu ruangan. Seolah meminta persetujuan dari anggota-anggota Prefek lainnya. Di sampingnya Malfoy ikut meyeringai. Mereka saling mengerling sesaat sebelum menyapu pandangan keseluruh ruangan. Seolah memerhatikan kalau-kalau ada orang yang tak sependapat—lalu apa? Menyudutkan orang seperti biasa?
"Dumbledore tidak mengatakan secara pasti apa yang sebaiknya dilakukan." Jawab Hermione, suaranya paten. "Tapi dia memberi kami wewenang untuk memilih. Disini bukan hanya ada aku dan Malfoy, kan? Jadi kalian bisa menyuarakan pendapat jika mau. Ada yang punya ide?"
Beberapa orang mendengus. Hermione tahu itu berasal dari petolan-pentolan Slytherin. Dan sialnya, memang orang-orang itu tepat berada di sampingnya. Dia berusaha mengabaikannya.
"Bagaimana jika sebuah Upacara Perayaan? Tahun kemarin kita melakukan hal yang sama."
"Ya ampun, dia punya otak tidak sih?" Seseorang menggerutu pelan, namun telinga Hermione terlanjur menangkap kata-kata itu.
"Yah, Zabini? Punya ide? Kau terlihat bersemangat daritadi."
"Dan kau terlihat senang bicara daritadi." Balasnya dalam gumaman.
"Ayolah, Blise. Biarkan Ketua Murid yang tentukan." Malfoy menyahut, nadanya mengejek. Tangannya terlipat rapi di dadanya. Kursinya sudah di dorong jauh dari meja, sehingga dia bisa menyilangkan kedua kakinya di posisi lurus. Seringai bermain di bibirnya.
Ya ampun, kapan sih dia akan berhenti membuat ekspresi seperti itu?
"Mungkin harus ada kostum yang ditentukan."
"Bagaimana dengan sedikit tarian?"
"Musik kelihatannya oke juga."
"Harus ada peraturan."
"Prefek tetap beroprasi?"
"Bagaimana dengan penyitaan tongkat?"
"Ya ampun, ini payah banget." Akhirnya Malfoy bicara, lalu dia mengangkat tangan.
"Yah, apa idemu Malfoy?" Tanya Hermione, agak bingung kenapa dia harus repot-repot angkat tangan jika biasanya lebih senang menggunakan komentar sinis untuk protes.
"Kau bercanda ya? Sialan, tidak. Aku harus ke keluar."
"Seharusnya kita tidak boleh bilang 'sialan'" gumam salah seorang cowok Hufflepuff tahun kelima takut-takut.
"Yeah?" Draco menoleh pada anak berambut cokelat lebat itu, Hermione samar-samar tahu bahwa dia Benjamin McAwen. Cowok yang suka menunduk dan selalu melangkah cepat di koridor. "Well, untuk pengetahuanmu saja ya, anak aneh. 'Sialan' itu adalah kata umum. Kau juga mau kupanggil begitu?"
Blise membuat suara tawa tertahan. Draco menatap tajam pada anak itu, yang jika diperhatikan lekat-lekat bisa pingsan kapan saja. Hermione menatap Draco.
"Dia benar, kau tidak seharusnya bilang 'sialan'. Kata-kata itu sudah jelas tabu kan?" Hermione memandang seluruh ruangan sesaat. "Dan hentikan sikap mengintimidasimu itu, Malfoy. Aku bisa memotong lima belas poin dari Slytherin atas sikapmu ini."
"Oh? Kalau itu bisa membuat si Nona Sok Tahu tutup mulut."
"Dan penghinaan-penghinaan lainnya." Hermione melanjutkan seolah Draco tidak bicara.
"Oke, terserah. Aku keluar."
Hermione mengamati Malfoy yang bangkit dari duduknya dan berjalan santai menuju pintu keluar. Dia melihatnya berjalan. Seluruh ruangan bisu seolah berkonsentrasi dalam menatap gerak-gerik Ketua Murid Putra mereka. Hermione menghela nafas berat. Sosok Malfoy sudah menghilang di balik pintu.
Dia merasa kacau.
"Sebaiknya—"
"Jika kau keluar juga, kau tidak perlu repot-repot berjalan. Aku akan dengan senang hati menendangmu sampai ke pintu." Hermione memotong perkataan Blise dengan cepat dan kenes. Ada emosi tertahan di dalamnya. Dia menumpukan berat tubuhnya pada kedua tangan yang menyangga diatas meja. Sebelum menyapu pandangannya keseluruh ruangan, dia menunduk dan menghela nafas. Membuka catatannya.
Dia sudah terlalu banyak membuang nafas hari ini.
"Kita bisa lanjutkan pembahasan yang sempat terpotong tadi." Hermione menunggu respon dari seluruh ruangan. Telunjuknya mengetuk-mengetuk diatas meja kayu tua itu. "Ide?"
"Mungkin kau bisa membuat Pesta Dansa seperti Musim dingin tahun lalu." Padma Patil bersuara.
"Kenapa cewek selalu berpikir tentang hal semacam itu, sih?" Sahut Tracey Davis dari Slytherin. Selalu Slytherin.
"Hanya itu perayaan besar-besaran yang bisa kita buat kan?" Jawab Padma.
"Tapi tidak harus Pesta Dansa, Patil." Tukas Davis tak sabar. "Mungkin pesta—tapi lebih oke daripada Pesta Dansa—tentu saja. Blise?"
"Tanyakan saja pada si Ketua Murid Putri kesayangan kita ini," gerutu Blise.
"Oh, ayolah. Kita tidak mungkin melewatkan tahun terakhir kita dengan hal-hal pecundang, kan?" Kali ini semua cewek menatap Davis dengan mata mendelik. "Hei, maksudku, kita tak akan benar-benar membuat Pesta Dansa untuk merayakan ini semua kan? Apa yang kalian pikirkan? Menyambut Mentri Sihir yang berkunjung ke Hogwarts? Itu payah banget, guys."
"Oke, anggap saja kau mengatakan bahwa Pesta Dansa bukan acara yang cocok. Lalu apa idemu?" Tanya Hermione.
"Kau tinggal dari peradaban lain ya? Pesta Dansa bukan lagi tidak cocok, tapi sudah benar-benar kuno." Gerutu Blise, wajahya meringis penuh penyiksaan.
"Bagaimana dengan pesta kostum? Semacam Hallowen. Itu menantang, kan?"
"Apa bedanya dengan Pesta Dansa?" Hermione mengangkat alisnya.
"Pakai otakmu, Granger. Kita bisa mengganti musik Opera dengan musik dubstep. Kita beri sentuhan yang berbeda dengan hidangannya. Bagaimana dengan Wiski Api dan Vodka sebagai minuman utama?"
"Apa? Kau gila, tidak! Dumbledore pasti tidak akan setuju!"
"Itu benar." Sahut suara-suara berbarengan dari Prefek lainnya.
"Oh, dasar aneh. Kalian tidak pernah pergi ke klub strip ya? Kalau kalian tahu, pasti kalian akan menganggap itu kebiasaan umum anak muda—"
"Tidak, Davis. Kita semua tahu itu adalah perencanaan yang sia-sia. Dumbledore bahkan bisa merobek kertas-kertas proposalnya terlebih dahulu sebelum mendengar ide sinting ini."
"Ini tahun terakhir kita! Dia mau bilang apa? Mengeluarkan semua siswa tahun ketujuh dari Hogwarts? Dia pasti bermaksud menyiapkan peti matinya juga jika hal itu sampai terjadi."
"Kau bahkan bicara omong kosong. Tentu saja Dumbledore bisa melakukan apa yang dia inginkan, termasuk menendang otakmu keluar—"
"Ow, bahasa, Granger." Hermione menoleh pada pintu. Semua orang melakukan hal yang sama. Malfoy sudah ada disana, menyandar pada pintu. Hermione marah pada dirinya sendiri karena tidak tahu kapan tepatnya cowok itu menyelinap masuk lagi. Malfoy menyunggingkan senyum malas padanya. Seketika dia berdiri tegak dan menatapnya, dahinya berkerut seolah berpikir. "Apakah ada yang membahas klub strip disini?"
Wajah Hermione langsung berubah merah. Dia marah. "Diam atau bawa pergi bokongmu dari sini, Malfoy. Kami sedang tidak butuh pecundang untuk memperpanas ruangan."
"Apakah 'ruangan panas' telah menyebabkan blusmu itu basah, Granger?" Tanya Malfoy. Blise bersiul rendah di sampingnya. Malfoy menyeringai senang, berjalan maju melewati beberapa anak yang menatapinya begitu saja.
Rasa panas merambat di wajah Hermione, menggelitiknya hingga tetesan-tetesan keringat mulai meluncur di dahinya. "Mungkin kau tidak pernah dengar istilah Urus Urusanmu Sendiri?"
Malfoy berhenti di kursinya, tepat di samping Hermione. Cewek itu menghadapnya untuk menatapnya, memerhatikan kalau-kalau saja dia bertindak konyol seperti biasa. Tapi Draco merogoh saku jubahnya—matanya masih menatap Hermione—dia mengeluarkan secarik kertas. Itu surat.
"Dumbledore memberikannya padaku. Ini tentang malam perayaan." Dia bahkan bisa mendengar kesenangan tersembunyi di dalam nada-nadanya.
Hermione menerima surat itu dari tangannya—perlahan dan waspada—dia membukanya. Matanya bergerak-gerak lincah saat membaca isinya. Hermione membuka mulutnya—namun tidak mengatakan apapun. Dia membaca ulang suratnya. Lalu menatap Malfoy. Matanya lebar penuh ketidak percayaan. Malfoy mengakat alisnya sebelum menyunggingan seringai yang lebih lebar padanya. "Kau tidak mungkin mendapatkan surat ini dari Dumbledore langsung. Dia sudah pergi—maksudku, dia benar-benar pergi kan? Kau tidak—"
"Dia memang sudah pergi, Granger." Draco mengangkat bahu. "Mungkin sehari lalu? Tadi malam? Siapa peduli?"
"Lalu—"
"Profesor Snape yang memberikannya padaku." Potong Draco tidak sabar. "Jadi, ini dia…" Cowok pirang itu beralih menghadap wajah-wajah Prefek. "Dumbledore pergi bertamsya untuk waktu dua bulan—"
"Di surat tidak seperti itu, Malfoy. Dia—"
"Acara kementrian, kunjungan antar sekolah, apalah itu. Kita tidak benar-benar ingin tahu, kan? Yang kita perlu dengar adalah dia pergi selama dua bulan penuh untuk itu. Dia membawa anjingnya untuk itu—"
"Dia bukan anjing, Malfoy. Namanya Hagrid kalau kau lupa."
"Dan beberapa guru lainnya. McGonagall ikut juga." Kata Malfoy tanpa memperdulikan Hermione. Pandangannya bersemangat menyapu ruangan. "Oke, darimana kita mulai rencanya?"
"Rencana?" Ulang Hermione.
"Kau tuli ya? Daritadi itu kan yang kita bicarakan?" Sahut Blise. Dia melipat tangannya di dada, menyandar pada tubuh kursi sepenuhnya.
"Kukira ini bukan lagi soal perayaan. Bahkan para Profesor tidak ada di sini untuk menyaksikan!" Tukas Hermione, memandang Blise seolah dia gila.
"Inilah yang membuat kami semua enggan terlibat percakapan denganmu, Granger. Kau terlalu ketat, kan? Seperti ibu melindungi telurnya. Apakah diseumur hidupmu tidak pernah tahu apa itu arti 'kau hidup hanya sekali'? Kapan lagi kita bisa berpesta tanpa Dumbledore tua itu? Belum lagi McGonagall yang senang mengacau. Maksudku—ini tahun terakhir kita di Hogwarts. Kau tidak mau terus-terusan tenggelam di balik buku-buku tebal itu kan? Mendengarkan ceramah Profesor Binns sampai tidur? Berpikir sampai rambut di kepalamu rontok tentang N. E. W. T? Aku benar kan?" Kata Davis diakhir celotehannya. Dia mulai merebut beberapa perhatian. Terutama murid tahun ketujuh. Tentu saja khotbah panjang lebar itu ada benarnya.
Mereka bukan mesin, kan? Bagaimana pun juga mereka butuh sesuatu yang membangkitkan semangat, Hermione berpikir. Tapi mereka tidak harus melanggar peraturan. Mereka bisa saja bersenang-senang tanpa harus merusak peraturan apapun. Jadi, Hermione menghela nafas lagi. Great. Sekarang itu jadi hal favoritnya kan?
"Tidak akan ada pesta tanpa Dumbledore." Akhirnya Hermione bicara. Menahan nafas menunggu reaksi. Tapi mereka semua masih tetap membisu, saling menatap satu sama lain. "Tidak."
"Kenapa tidak?" Ernie menyahut.
"Kau tahu alasannya. Kita semua tahu alasannya. Tidak ada yang akan melangar peraturan." Karena? Karena, jika Hermione menyetujui hal tolol itu, mereka semua pasti akan bertindak sesuai dengan insting binatang mereka. Walaupun Hermione tidak tahu pasti kemana arah rancana ini pergi, dia sudah merasakan firasat buruk itu menyelinap ke otaknya. Jika sesuatu yang buruk terjadi saat Dumbledore pergi, maka tanggung jawab akan jatuh ke tangan Kepala masing-masing asrama. Namun bagaimana jika semua kepala asrama juga ikut pergi? Dimana tanggung jawab itu dijatuhkan? Hermione membaca baris pada surat itu lagi.
…sangat memohon untuk dimengerti. Semoga Ketua Murid dapat bekerja semaksimal mungkin atas kekosongan pelajaran ini.
Hermione menggigit bibirnya. Dia bisa saja berkata tidak sampai mati sekalipun—tapi siapa yang peduli?
"Oke, sepertinya aku benar-benar harus mengumumkan hasil akhir sepihak karena partnerku masih berkutat dengan otaknya." Kata-kata Malfoy menariknya kembali pada alam sadar. Dia menatap cowok itu, namun Malfoy tampak sangat sempurna mengabaikannya. "Aku sudah putuskan baiknya, well…"
Hermione mencengkram permukaan meja, sehingga tangannya membentuk tinju bertumpu.
"Pesta ini akan diadakan tanpa Dumbledore. Dan aku sepakat dengan tim daruratku—" Astaga, sejak kapan dia membuat tim itu? Konyol sekali. "Bahwa ini lebih cenderung ke pesta malam. Tidak perlu ada tuxedo menyapu lantai. Tidak ada gaun abad pertengahan yang tolol. Kita ingin senang-senang kan? Jadi jangan menyiksa diri sendiri dengan penampilan yang terlalu berlebihan."
Apa? Banci, dia tidak bisa mengambil keputusan sendiri kan? Enak saja, masih ada Hermione disini! Si Ketua Murid Putri. "Kau tidak bisa melakukan itu, Malfoy. Jika Dumbledore tahu—dan dia pasti tahu—kita semua pasti akan—"
"Apa? Diberi lusinan detensi? Potongan poin asrama?" Potong Malfoy, menghadapnya. Alisnya terangkat tinggi. "Dia tidak akan tahu karena dia tidak disini, Granger. Dan dia tidak akan tahu jika tidak ada yang memberi tahu."
"Tapi tetap saja! Masih ada hantu-hantu asrama dan beberapa staf, kan? Bagaimana?"
"Kita hanya butuh satu malam, semua bisa diatur dengan sihir." Salah satu anak Hufflepuff menjawab.
"Itu benar." Theodore Nott, memandang lurus kedepan. Dagunya beristirahat pada tangan yang bertumpu diatas meja. "Kita bisa bekerja sama dengan murid-murid lainnya."
Hermione menjatuhkan rahangnya. Bahkan Nott—cowok yang dianggapnya paling normal di Slytherin—menyetujui hal itu. Mereka semua sudah gila, ya? Hermione menghela nafas, mengusap dahinya. Pandangannya menyapu seluruh ruangan sesaat. Sebelum dia memejamkan mata frustasi saat seluruh mata di ruangan itu menatapnya. Menunggu. Dia menggingit bibirnya, lalu bicara. "Okeee." Dia tidak percaya dengan telinganya sendiri. "Delapan belas mulut dengan satu otak. Baiklah. Tidak ada yang mau mendengarkanku kan? Terserah kalian saja."
Hermione mendengar sorak kesenanan dari segerombolan Slytherin. Beberapa bahkan ada yang melakukan high five untuk itu. Dia juga melihat murid asrama lain mendesah lega dan sumringah. Hermione mengerang.
"Kalian akan berada disini besok. Tepat di pukul empat." Hermione melirik jam dinding tua besar diatas pintu masuk ruangan. Dia mendesah. "Rapat bubar."
Semua orang bangkit dari kursinya, dan perlahan-lahan meninggalkan ruang rapat. Beberapa masih sibuk mengobrol. Hermione menatap kepergian mereka. Dalam hati bertanya apakah dia harus memanggil mereka lagi untuk membatalkan semua rencana sinting itu. Tapi dia menggelengkan kepalanya, dan menunduk untuk membereskan buku catatannya yang berserakan diatas meja.
"Tidak akan terjadi apa-apa." Hermione melirik untuk melihat bahwa Malfoy-lah yang bicara di sampingnya. Hermione menggeleng.
"Kau sudah menyiapkan peti mati kita. Kerja bagus, Malfoy."
"Jangan berlebihan, ini tidak seburuk itu. Kau sudah menaburkan kebahagiaan bagi mereka. Berbesar hatilah, Granger."
"Oh? Apakah aku harus berterima kasih atas pujian itu?"
"Mungkin." Jawab Malfoy, senang. Hermione merasakan dia masih menatapinya. Dengan menumpuk buku-buku itu, Hermione membawa kepelukannya dan menatap Malfoy. "Bagaimana kau akan membalasnya, kalau begitu?" Seringai menyebar dibibirnya.
Hermione tahu dengan jarak sedekat itu mereka bisa melakukan apa saja. Malfoy bisa berbuat apa saja. Seharusnya dia mundur beberapa langkah, tapi Hermione diam saja. Matanya balas menatap mata biru-kelabu itu. Dia harus mendongak untuk menatapnya. Helaian pirang jatuh di dahinya. Sempat ada ide gila untuk menyentuh mereka dengan jari-jarinya. Sekedar ingin tahu bagaimana rasanya menyentuh rambut itu. Hermione menelan ludah.
"Draco?"
Hermione dan Malfoy langsung menoleh pada sumber suara. Disana Pansy Parkinson berdiri dengan pinggul yang bersandar pada pinggir meja, tangan terlipat rapi di dada. "Ya, Pans?"
"Kau akan bergabung ke asrama malam ini kan?"
"Aku tidak tahu. Mungkin ya. Bisa juga tidak. Ada beberapa hal yang harus kukerjakan." Kata Draco. Pansy maju untuk mendekatinya.
Hermione mundur dua langkah, dia masih menatap Pansy. Lalu beralih pada Draco. Merasa konyol ada disini sedangkan dua Slytherin membuat percakapan di hadapannya. Dengan itu dia memutar tubuh pada tumitnya, dan melangkah menuju pintu.
Sebelum dia benar-benar meninggalkan ruangan, Hermione berhenti diambang pintu. Dia masih mendengar suara Pansy yang halus dan tenang untuk Draco. Dia menoleh kebelakang, dan melihat kedua tangan Pansy yang beristiahat nyaman dia dekat pundak Draco. Hermione langsung membuang pandangannya, menggeleng pelan pada dirinya sendiri, lalu melenggang pergi.
this is it...akhirnya balik lagi. Ini serius ngga sih lo publish fict lagi? Pasti ada beberapa orang yang nanya gitu. Atau, hell-o, fict lama kemana ajaaa? Ngga apa-apa. It's your opinion and be my pride to take it. Saya lagi seneng-seneng main ke FFN luar aja. Dan nemuin buanyak buanget fict Dramione yang oke. Tadinya memang mau publish fict ini dari lamaaaa, tapi baru kesampean sekarang. Gaenak banget deh sumpah, semua media terbatas banget. Saya udah gapunya laptop ya, jadi ini ngetik full fict dari HP dan ini internet seadanya publish dari HP juga. Niat bener kan? (curhat ceritanye) Tapi serius. Saya minta maaf banget punya kebiasaan nelantarin fict. Mangkanya, di fict yang ini saya berani publish lagi karena udah punya stock sampe bab 7. Walaupun ngga janji, tapi barakallah lah ya, mudah-mudahan lancar sampe tamat. Biar bisa tumpengan kita, bro. *loh salah fokus* ya intinya, entah ada yang dapet enjoy apa engga di fict ini, I'll try to do the best from my yesterday. Bab selanjutnya akan saya coba publish di waktu-waktu dekat. So, maap-maap aja kalo bab ini agak singkaaaaat pake z. Singkatz. Bakakak. Maap juga kalo banyak typo sana-sini. Besok author mau minta laptop sama modemnya dulu ke bapak deh...huhu. See ya!