Ameru : *nyeruput teh* Hem..., akhirnya terbit juga nih chapter..., berarti hutangku sudah menipis lagi...
Tsuna : Author-san sudah berjuang keras...
Ameru : yaya..., begitulah *nyeruput teh*
Tsuna : (Entah kenapa Author-san jadi keliatan seperti nenek-nenek) *sweatdrop*
Ameru : Baiklah, readers..., silahkan menikmati chapter 003 ( =w=)9
MANDI
FanFiction © Amano Akira
"Tsu-kun.., kami semua akan pergi seharian, tolong jaga rumah, yaa…" Sawada Nana berucap pada sang anak.
"Jaga rumah dengan baik, Dame-Tsuna." Reborn menyeringai sambil menendang kepala Tsuna. Tsuna pun terpelanting hingga menubruk tembok. Tembok malang(?) itupun retak.
Baik. Tembok itu kini berstatus almarhum. Semoga tenang disisinya.
Baik. Kembali pada cerita.
"Itte…, Reborn, jangan menendangku!" Tsuna hendak memarahi Reborn. Tapi nasib tidak berpihak(?) padanya, pintu sudah tertutup dan mereka sudah pergi.
Meninggalkan Tsuna yang diam dan menatap pintu itu dengan mulut mangap bak ikan koi (Apa hubungannya? ).
"Haah.., sudahlah…" Tsuna lalu bangkit dari kubur(?) . Salah, bangkit dari posisinya, lalu bergerak kearah ruang keluarga. Menyalakan TV, berniat untuk santai.
Channel berhenti di sebuah film. Judul filmnya 'Sarangheo, Squarepants' . Dari judulnya saja sudah terlihat bahwa ini film nggak wajar.
Ternyata benar, terlihat adegan 2 pasang makhluk di tepi tebing. Ombak dengan gemulai(?)nya bergulung-gulung dan menabrak tebing itu dengan maha dramatisnya(?) . Bahkan author sempat bingung kenapa merangkai kata aneh seperti itu ( Padahal elu yang buat ceritanya, author geblek! *dilempar bata* ) .
Oke. Lanjut.
Makhluk itu adalah sebuah sponge raksasa berwarna kuning yang sedang terduduk sambil hendak meraih tangan makhluk yang didepannya. Dengan effect slow motion, benda itu menangis Bombay pada orang didepannya.
"JANGAN PERGI, YUYU KANGKANG! AKU MENCINTAIMU—" Sponge berbaju kemeja itu memandang sosok didepannya dengan berlinang air liur(?) . Salah, itu air mata. Sosok dibelakang sponge itu hanya menatap laut lepas.
"Tidak bisa, Sponge, aku harus pergi, ini takdir—" Sosok besar dengan capit ditangannya berusaha menahan kencingnya(?)—ralat—air matanya untuk keluar. dengan effect alay-lebay, terlihat bekgraun ombak yang menghantam tebing dengan gagahnya dan cipratan air laut menambah effect nista ini.
"TIDAK YUYU KANGKANG, TIDAK—" Dan terjadilah adegan teriak-teriakan gajelas yang berkata jangan pergi, jangan tinggalkan aku, dna sederet kalimat nggak wajar lainnya.
Tsuna sukses dibuat facepalm.
Daripada sakit jiwa dan raga, pikir Tsuna, lebih baik ia melihat acara lain. Namun sayang, acaranya tidak ada yang menarik. Bosan dengan TV, Tsuna pun mematikannya. Ia lalu menatap langit-langit ruang tamu itu.
"Hum…, mandi, ah—" Tsuna berniat untuk berdiri begitu melihat jam sudah menunjukkan pukul 12. Hari sudah siang. Namun Tsuna berhenti. Ia teringat kejadian 2 hari ini saat Tsuna ditangkap kepolisian Namimori karena mandi.
Yang pertama : Tsuna bernyanyi, dan akibatnya seorang nenek tua Bangka mati. Hukumannya waktu itu, ia disuruh melakukan pelayanan masyarakat sepanjang sore.
Yang kedua : Tsuna bersiul, dan menyebabkan burung peliharaan sang prefek terbang entah berantah kemana, membuat sang prefek naik darah dan menangkap Tsuna (lagi) . Hukumannya adalah Tsuna harus mencari si Hibird—burung si prefek—hingga ketemu. Tsuna baru bisa pulang jam 10 malam.
Dan ia tidak mau ini kejadian lagi.
'Mending nggak usah mandi, ah, entar ditangkap lagi ama tuh prefek…' Batin Tsuna. Ia pun memutuskan untuk tidur. Karena kemarin ia pulang malam, ia ingin melanjutkan tidurnya.
Jam 3 sore. Sudah 3 jam Tsuna tertidur. Matanya mengerjap sebentar untuk menyesuaikan matanya dengan silaunya ruangan itu. Tsuna terbelalak. Ia sudah tidak ada diruang tamunya lagi. Tapi ditempat lain.
"Hn. Sudah bangun kau, herbivore.." Sebuah suara yang amat-teramat-sangat Tsuna kenal bergema.
"HIEEEE! HI—HIBARI-SAN!" Tsuna bergidik ketakutan saat melihat sang prefek berdiri tak jauh darinya. Ia mundur beberapa langkah.
Tsuna bingung. Ia hanya tidur tadi, tidak melakukan apa-apa. Kenapa ia ditangkap lagi? Apa jangan-jangan nih prefek doyan lagi ama si Tsuna yang sangat cough-moe-cough . Wah, pasti sekarang Hibari adalah jelmaan pedophile, lagi—( Dan tidak lama lagi sebuah tonfa akan menancap dengan indahnya di kepala author ).
"Sawada Tsunayoshi, kau ditangkap—" Hibari mulai angkat suara.
"HIE! KENAPA?" Tsuna bertanya dengan penuh keheranan. Lihat saja, tanda tanyanya sampai 3 #Abaikan.
"—hn. Kau telah mencemari udara Namimori dengan baumu itu.." Hibari bicara lagi. Baunya? Memangnya bau apaan?
Tsuna menciumi tubuhnya sendiri. Dan bingo! Mata Tsuna langsung nge-blur. Rupanya gara-gara 3 jam tidak mandi, bau Tsuna sudah menyamai bau TPA. Ya, TPA, tempat pembuangan akhir. Tempat semua barang-barang nista yang berbau aduhai berkumpul. Buu.., membayangkannya saja membuat author pusing 20 keliling(?) .
'HIE, TERNYATA TIDAK MANDI JUGA BERAKIBAT BURUK—' Jerit Tsuna dalam hati. Dalam hatinya juga, ia sudah memanjatkan wasiat. Sang prefek maju sambil mengambil tonfa tercintanya. Tsuna mundur, dan Hibari semakin maju.
"Sekarang, Sawada Tsunayoshi—"
"HIEEEEEEEE! IBUUUUU!"
"Kamikorosu."
Dan kantor kepolisian Namimori, terdengar rintihan orang tersiksa.
Doakan saja semoga Tsuna selamat.
O-O-O-O-OMAKE
"Ara, Reborn-kun..., kenapa sampai saat ini Tsu-kun belum pulang, yaa.." Nana nampak khawatir karena sejak kepulangan mereka, Tsuna belum pulang juga. Pintu rumahnya juga tidak dikunci.
"Jangan khawatir, maman, mungkin Tsuna sedang bermain dengan teman-temannya.." Si kecil Reborn *ditembak Reborn* berucap sambil menyeruput esspressonya. Nana lalu tersenyum, "Hum.., mungkin saja.., ah, aku harus masak.." Lalu Nana bergerak kearah dapur untuk memasak.
...::::OWARI (MAYBE?)::::...
Ameru : *baca dari awal ampe akhir* WTF IS THIS? Aneh amat nih cerita...
Tsuna : kenapa aku selalu dibully Hibari-san...? ( _ _)
Ameru : sudahlah, komplen mulu kayak demonstran.., ini kan udah takdir..
Tsuna : *pundung dipojokan*
Ameru : kucian... *nyeruput teh*
Yosh! Mind to RnR minna ;) ?
