Ch 9 : Calling Out Your Name
Akhirnyaaaa!
REVIEW SECTION :
=monkey D nico : seepp... b
=christy : XD.. Ini baru apdet sayang.. maaf ya, kemarin ada sedikit problem jadi bawaannya bad mood buat edit-edit fic ini.. kalau buat fic ini nya udah fin sampai di chapter ini say.. cuma ada sekuelnya dengan judul lain.. ntar lagi di publish tapi baru prolognya doang ._.
=Ryu-chan Ryuki : hehe.. iya say, gapapa.. thank you yaa.. :)
=Salha no Oichiru : thank you buat pujiannya.. ^^
=Berlian Cahyadi : ^^:
=Hanamiru : hehe.. iya gapapa.. :) Yang manggil? Nanti ketahuan di fic yang The Boy's Letter chapter 2 :)
NOTE :
Saya baru sadar kalau jas yang di pake Levi di episode 25 itu warna item yak.. ._.
Tapi berhubung di lappie ini warnanya dark blue, akhirnya saya tulis warna dark blue deh.. #ya sudahlah.. XD
Sorry kalau feelnya gak kerasa..
ENJOY
..
..
..
..
"Suara itu… jangan-jangan…"
Levi segera menancapkan kail maneuver ke pohon di sampingnya untuk berbalik arah.
'Jika benar dugaanku, jangan-jangan…'
Sekelebat, Levi memikirkan hal terburuk yang mungkin terjadi di tempat yang ia tuju sekarang.
'Jika Eren sampai berubah wujud menjadi titan, apakah mungkin…'
Sesaat muncul pikiran yang paling ia takutkan, sebenarnya.
'Apakah mungkin mereka…'
Dalam pikirannya, ia melihat tiga orang pasukannya tersenyum. Merekalah para prajurit terbaik : Erd, Gunter, dan Auruo.
Setelah ketiga pasukannya menimbulkan memoir tersendiri di kepala Rivaille, kini muncul sosok perempuan manis berambut merah coklat tersenyum padanya. "Heichou?"
'Petraa…'
Ya, cinta sejatinya. Ia harus tahu bagaimana keadaan mereka di tempat yang jauh di sana. Ia harus meyakinkan diri kalau pasukannya baik-baik saja.
Terutama Petra. Ia harus tahu kalau wanita itu masih menunggu di sana untuk memakai cincin pernikahan.
Levi semakin mempercepat gerakannya. Dengan segala kemungkinan terburuk yang menggaung di kepala, ia masih menaruh harapan bahwa semuanya baik-baik saja. Setidaknya, tidak ada yang meninggal.
Setelah menempuh jarak puluhan kilometer dengan kecepatan tinggi, Levi kini memperlambat laju tubuhnya ketika ia mendapati satu pemandangan yang sangat mengejutkan.
Gunter Schultz, tergantung terbalik. Hanya dengan melihat mata mati milik Gunter, Levi bisa membayangkan bagaimana cepatnya malaikat maut mencabut nyawa salah satu prajurit terbaik.
'Satu,' gumam Levi dalam hatinya.
Levi mempertahankan kecepatan. Ia bergerak maju sembari melihat ke sekeliling. Ada harapan dalam benaknya kalau tiga bawahannya yang lain masih hidup dan menunggu di suatu tempat. Di detik-detik Levi meyakinkan dirinya itu, ia mendapati tubuh Erd Gin terbaring di tanah, terbagi dua.
'Dua,' gumamnya lagi dalam hati.
Harapannya tertepis sedikit. Bahkan Erd Gin, yang ia percayakan 'tahta'nya untuk sementara kini terkapar tanpa nyawa.
Hati Levi sakit dan matanya perih. Haruskah ia berpura-pura kuat sekarang?
Levi melanjutkan perjalanan walaupun setengah hatinya berkata 'tunggu sebentar'. Hatinya butuh istirahat sejenak. Namun Levi yang kuat tetap melanjutkan perjalanan untuk mengetahui hal lain yang harus ia ketahui.
'Tiga,' gumamnya saat ia menemukan pemandangan mengerikan ketiga dari jasad Auruo Bossard.
Levi meratapi sebentar tubuh tanpa nyawa bawahannya itu. Ia memang tidak suka dengan siapa pun yang menghalangi jalannya untuk 'bersama' dengan Petra. Pria yang terbaring itu adalah salah satu saingan cinta Levi, tapi ia tidak ingin mendapati saingannya itu mati.
Levi melanjutkan perjalanannya. Kali ini ia menggunakan kecepatan yang paling lambat dibandingkan dengan sebelum-sebelumnya.
'Petra, di mana kau?'
Levi memperlambat lajunya agar ia dapat mencari Petra dengan lebih teliti.
'Petra, di mana kau?'
She said she gave all her love to me
Levi terus melihat ke depan, lalu ke samping kiri dan kanannya, lalu ke bawah. Selama itu, rancangan mimpinya melesit dalam pikiran..
We dreamt a new life
Some place to be at peace
Musim panen gandum telah datang dan itulah saat di mana ia bekerja di ladang. Setelah seharian mengurus gandum dan memotong beberapa kayu bakar di dekat lumbung, ia pulang ke rumah dengan tubuh penuh keringat dan kayu bakar di atas pundaknya. Agak jauh memang rumah sederhana itu, tapi ia yakin semua akan terbayar begitu ia melihat senyum sang istri dan bayi mungilnya.
Dan di sanalah mereka, istrinya berdiri di depan rumah dengan Levi junior yang sedang dininabobokan. Istrinya yang cantik tersenyum menawan seperti biasa, membuat bibir sang suami ikut tersungging. Wanita manis di depannya itu akan bertanya ketika mereka berhadapan satu sama lain : "bagaimana pekerjaanmu hari ini?"
Levi tidak akan menjawab, setidaknya belum. Yang ia lakukan pertama kali adalah merasakan lembutnya bibir sang istri, melepas kerinduan dan haus akan perhatian secara bersamaan. Levi tentu ingin semua pekerjaannya hari itu dibayar. Baginya, ciuman itu hanya pembukaan.
''Aku lelah, sayang. Bisakah kita tinggalkan ia sejenak?"
Istrinya akan tersenyum dan bicara mengenai betapa jahatnya Levi karena berniat merebut ibu dari anaknya sendiri. Levi tidak peduli. Garland –dia akan menamai anaknya itu- masih bayi dan ia tidak perlu tahu urusan orang tuanya. Toh, Garland juga tidak akan mengerti apa yang orang tuanya tengah lakukan, bukan? Levi pun bersumpah bahwa ia tidak akan mengganggu tidur seorang Garland Rivaille kecil. Berharap saja pada sang ibu, semoga suara nakalnya tidak membangunkan si Levi junior.
Kembali pada dunia yang kejam…
Levi masih mencari keberadaan satu prajurit –yang sekaligus kekasihnya-.
'Petra, tolonglah…'
'Di mana kau?'
Setiap inci yang ia lewati membawa Levi semakin dalam pada ketidaktenangannya. Ditambah dengan hutan yang begitu sepi saat itu, perasaan Levi makin tidak karuan.
But things changed suddenly
Semua fantasi akan kehidupan barunya memudar ketika Levi melihat sebuah pemandangan yang ia harap hanya merupakan fatamorgana belaka. Dengan kekuatan dan rasa penasaran yang ada, ia menghampiri apa yang dilihatnya barusan.
Levi tidak memijak tanah. Cukup dengan menempelkan telapak kakinya di atas pohon, ia bisa melihat dengan jelas pemandangan macam apa yang telah membawanya ke tempat itu.
I lost my dreams in this disaster
Di depan matanya, Petra menatap kosong ke arah langit. Seolah hilang jantungnya, untuk sesaat Levi merasa nyawanya ikut hilang entah ke mana. Dadanya terasa sesak dan ada sesuatu yang menyulitkan paru-parunya untuk bekerja seperti biasa. Bahkan ketegangan ototnya saat itu lebih kuat daripada saat ia harus melawan puluhan titan. Levi bahkan sempat mengedipkan matanya, berharap apa yang ia lihat hanyalah sebuah bayangan semu dan akan hilang begitu ia membuka mata. Masih ada harapan kecil di hatinya bahwa Petra masih hidup dan sekarang ada di suatu tempat yang aman dan bayangan semu di depannya itu terjadi karena fisiknya yang lelah.
Sayang, pemandangan itu tidak hilang dari matanya. Pemandangan itu bukan hal semu.
I'm crying, missing my lover
'Benarkah itu dirimu, Petra?'
Berbekal rasa keputusasaan dan hancurnya keyakinan, Levi turun dari atas batang pohon tersebut. Dengan penuh hati-hati, ia mencoba melepas tubuh Petra dari pohon yang seperti memeluknya dengan erat.
I don't have the power, on my side forever
Setelah tubuh itu lepas, Levi mendekap dan memandangi tubuh lemah itu. Berbagai cara telah Levi lakukan untuk memastikan apakah cintanya itu masih bernyawa atau tidak. Mulai dari memeriksa denyut nadi di pergelangan mungil gadis itu, memeriksa denyut nadi di bawah dagunya yang dingin, dan mencari detak jantung dari dadanya yang lembut –karena terlanjur hancur.
Percuma, Petra sudah tiada.
Oh, where is my lover?
Levi tahu itu sejak awal, tapi apa salahnya memiliki sedikit harapan untuk wanita yang –rencananya- hendak ia nikahi nanti?
Leher Petra patah dan bagian atas tubuhnya pun sudah hancur di dalam seperti bubur. Bahkan akan sangat sulit untuk memisahkan antara tulang rusuk, otot, dan jantung karena keduanya telah menyatu dengan baik.
Kopral muda itu mendekap erat raga mungil nan dingin dengan gemetar di sekujur tubuhnya. Ingin sekali rasanya untuk menangis, tapi air mata seolah tidak mau keluar membasahi pipinya. Jauh di dalam hatinya yang sesak, Levi berteriak dan menyalahkan dirinya yang begitu bodoh telah meninggalkan Petra.
And I got no power
Ia tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Tangannya gemetar saat ia membelai rambut coklat kemerahan. Matanya menahan perih ketika satu telunjuk miliknya mengelus pipi kenyal yang dulu terasa hangat. Kini pipi itu terasa dingin seperti es. Hatinya hancur saat ia menatap kedua mata Petra yang kini tidak bersinar lagi seperti biasa.
I'm standing alone,
No way
Terakhir, Levi mencium kening Petra sebelum ia menaruh jasad itu di atas tanah dan menutup mata kosong yang masih bersarang di sana. Beberapa detik lamanya ia pandangi lagi jasad itu. Sungguh, ia masih tidak dapat memercayai pemandangan tersebut.
Calling out your name
Dalam hati Levi menyesali semua. Seandainya ia lebih memaksa agar Petra tidak ikut hari itu, mungkin gadis itu akan kembali ke ruangannya malam ini untuk menyuguhkan secangkir kopi atau memijat bahunya.
'Petra, apa ini rencana indah yang Tuhanmu berikan kepada kita, kau dan aku?
Inikah kebaikan Tuhanmu itu, Petra? Membuat orang terlalu baik sepertimu pergi dari dunia ini?
Apa Tuhanmu punya rasa cemburu sehingga membawamu pergi tanpa seizinku seperti ini?
Atau apa Tuhanmu benci melihatmu selalu bersama denganku, yang tidak percaya padaNya sama sekali?
Kenapa, Petra? Bukankah kau yang mengatakan kalau Dia adalah Pengasih seluruh umat manusia? Tapi kenapa tidak denganku? Kenapa Ia begitu tega padaku?!
Kenapa ia selalu mengambil orang baik yang harusnya ada di dunia ini?!'
Levi mengepal kedua tangannya dengan erat. Saking eratnya hingga ia merasakan ujung kuku jarinya menembus kulit, mengeluarkan cairan merah segar.
Dalam pikirannya, semua tentang Petra mengalir begitu cepat. Levi ingat bagaimana manisnya senyum Petra, lembut pijatan tangannya, matanya yang sewarna dengan dedaunan jatuh di musim gugur, hangat tubuhnya yang pernah ia dekap untuk menenangkan gadis itu, harum lembut helaian emas di kepalanya, dan suara yang selalu menghiasi mimpinya setiap malam. Suara dari gadis itu adalah poin utama. Suara itu selalu saja berhasil mengagungkan dirinya ke langit ketika gadis itu memanggilnya 'heichou'.
Levi terdiam mengingat semuanya, termasuk isi surat cinta yang ia terima beberapa tahun lalu. Ia bahkan belum memberikan jawaban secara eksplisit hingga sekarang. Penyesalan datang di detik itu karena ia belum mengungkapkan perasaannya. Kini, orang yang harus mendengar isi hatinya itu telah tiada.
Saat semua tentang Petra menari dengan indah di kepalanya, dari kejauhan Levi mendengar suara titan Eren menggema dan ada banyak sekali suara hentakkan yang keras.
'Dengar, Petra? Bahkan si bodoh itu pun marah karena kau meninggalkannya.'
Levi memejamkan mata sejenak, berusaha menyimpan semua rasa kecewa dan sakit yang menghancurkan mimpi-mimpinya. Lupakan rumah di dekat ladang gandum, senyum Petra di sore hari, dan buah cintanya yang bernama Garland. Semuanya kandas bersamaan dengan kenyataan bahwa cintanya kini sudah tiada.
Setelah ia merasa emosinya sudah cukup stabil, Levi memutuskan untuk pergi menyusul Eren yang sedang bertarung. Bagaimana pun juga, tugasnya masih belum selesai.
'Aku akan kembali. Tunggu aku, Petra Rivaille.'
Dengan kecepatan tinggi, Levi meluncur di antara atmosfer hutan pohon raksasa untuk mencari keberadaan Eren. Ia berusaha agar tetap fokus pada tugas dan menyampingkan duka yang sedang berputar di dalam dirinya. Untuk sejenak saja, ia ingin membuang rasa patah hati yang menggema dan menggantinya dengan niat kuat untuk membalaskan semua rasa sakit yang diderita para pasukannya.
'Ironis. Aku selalu melarang setiap pria gatal yang berusaha mendekatimu agar kau selalu ada untukku, di sisiku. Pada akhirnya, aku tetap tidak bisa memilikimu.'
'An Eye for an eye, bitch!' gema Levi dalam hati saat ia berhasil menghancurkan kedua mata titan wanita yang ia pijaki sekarang. Dua pedangnya patah, menandakan betapa kuatnya pukulan yang baru saja ia berikan.
'Sakit, huh? Belum cukup!' gumam Levi saat ia mengambil isi pedang yang baru dan berencana untuk kembali menyerang.
'Ini untuk Gunter,' gumamnya saat menyayat dada titan itu.
'Ini untuk Erd Gin,' gumamnya saat menyileti perut.
'Ini untuk Auruo!' serunya saat menggoreskan pedang di betis.
'Dan yang ini….' gumamnya sembari berputar, bersiap untuk merobek pundak sang titan wanita.
"Heichou?"
Kembali, senyum manis dan ingatan mengenai panggilan seseorang membuat emosi Levi semakin mencuat.
'….untukmu, Petra….!'
BLASSSHHH!
Darah keluar dengan deras dari luka yang berhasil Levi buat di pundak titan tersebut. Titan wanita roboh dan ia terduduk menyandar pada sebuah pohon.
'Ini untuk Pasukan Sayap Kanan…' Levi menyileti titan itu lagi.
'Belum cukup,' gumam Levi.
SLASH!
'Ini untuk Pasukan Pendukung..!' serunya.
SLASH!
'Belum cukup.'
SLASH!
'Belum cukup…'
SLASH!
'Lagi…'
SLASH!
Darah kembali mengalir.
'LAGI!'
SLASH..!
'Jika bukan karena Erwin, aku benar-benar akan berusaha membunuhmu sekarang. Dasar brengsek!"
Levi melangkahkan kakinya dan berhenti di sebuah tempat. Ia memandang nanar pemandangan di bawahnya. Ia tahu ia tidak bermimpi, tapi ia masih tidak percaya dengan apa yang ia lihat saat ini.
'Petra,'
'Apakah benar ini kau?'
Levi berjongkok. Sekali lagi, Levi menyingkap rambut coklat kemerahan yang menutupi wajah mayat di hadapannya. Sulit dipercaya, Petra masih tetap terlihat cantik di matanya walau gadis itu sudah tidak lagi memegang nyawa.
Di sekeliling Levi banyak anggota Pasukan Pengintai yang lain. Misi sudah dihentikan dan kini, mereka berada di sana untuk memungut setiap jenazah kerabat yang mereka temukan.
Levi mengangkat tubuh Petra, membawa tubuh itu seperti seorang pria yang membawa pengantinnya. Miris. Harusnya cara itu Levi gunakan nanti, ketika Petra sudah resmi menerima janji sehidup semati dari bibirnya.
..
..
Kini, Levi menatap jenazah para anggota pasukan elitnya yang siap diangkut ke atas wagon.
Ia masih tidak bisa percaya.
Perlahan, Levi melutut dan menyingkap sedikit kain salah satu jenazah yang terbaring di rumput. Berbekal pisau kecil yang selalu ia bawa, ia melepas satu badge lambang sayap kebebasan dari seragam jenazah tersebut.
'Setidaknya, ini bisa mengingatkanku padamu.'
'Tidak apa-apa kan, Petra?'
'Kau masih ingat saat aku melingkarkan cincin jalaran labu beberapa tahun yang lalu? Kau begitu senang. Aku tidak bisa membayangkan betapa senangnya dirimu jika cincin pemberian Hanji yang aku lingkarkan saat itu.'
'Kau ingat ketika kau memberiku coklat valentine tempo hari? Itu begitu manis, perlakuanmu padaku. Aku hanya seorang pembunuh –dulu dan sekarang- dan kau begitu mengasihiku. Mereka yang manusia selalu menyuruhku membunuh titan, bersorak menyerukan namaku karena jumlah titan yang aku bunuh. Mereka mencintaiku karena aku bisa membunuh, sedangkan kau?'
'Huh, aku baru sadar sesuatu. Semua momen memorial kita selalu terjadi di dekat pohon. Memakaikan cincin jalaran labu, penyerahan coklat valentine, aku melatihmu setiap malam, aku duduk berduaan denganmu membahas surat cinta. Semuanya, kita lakukan di tempat yang hijau dan begitu tenang. Dulu aku sangat suka pohon, Petra. Aku tak yakin untuk sekarang dan seterusnya. Harusnya kau tahu apa alasanku untuk menyukai pohon, walau mereka menyimpan banyak sekali ulat bulu. Kini, aku benci melihat pohon karena di sanalah aku mendapatimu seperti ini.'
'Kau buat aku senang dengan pohon, namun kau juga yang membuatku membencinya.'
'Lagipula…
…tanpamu, pohon tak akan lagi sama,'
'JIka hatiku adalah pohon, maka hatiku adalah pohon dengan banyak dedaunan dan bunga saat kau bersamaku, tersenyum padaku. Kini, dedaunan dan bunga itu telah habis. Apa kau tahu kapan mereka akan tumbuh lagi?'
"Saya tidak bisa menerima ini, Komandan Erwin!"
"Hei, kau…"
"Kita harus membawa mereka! Tubuh Ivan tepat berada di depan kita!"
"Tapi ada titan di dekatnya. Ini bisa menambah jumlah korban lain!"
"Jika mereka menyerang, kita bisa mengalahkan mereka!"
"Ivan adalah teman lama. Kami dari kota yang sama. Aku kenal dengan orang tuanya. Jika ia sudah mati, aku ingin membawanya pulang!"
"Jangan egois!"
Erwin hanya terdiam memperhatikan dua anak buahnya. Ia tahu bicara tidak akan membawa ketenangan untuk mereka.
"Apa ini? Pertengkaran anak-anak?"
Suasana hening sejenak ketika kalimat sindiran itu merambat di udara.
"Kapten Levi?"
Levi memandang tajam pada dua bawahan yang merengek di sana.
'Tch, dasar anak-anak manja!'
"Jika kau sudah yakin bahwa ia telah mati, itu sudah cukup. Tidak peduli apakah kau memiliki tubuhnya atau tidak. Ini tidak akan mengubah apapun."
Pandangan Dieter dan Jurgen berubah. Kedua mata mereka bergetar.
"Tidak…"
"Kita akan mengumumkan kalau Ivan dan yang lainnya hilang. Itu keputusan akhirku. Menyerahlah," ujar Erwin sambil memalingkan pandangannya.
Erwin dan Levi berlalu bersama menjauhi tempat itu dengan wajah tegas dan tatapan lurus, serta dingin. Tidak ada yang berubah, baik pada ekspresi maupun intonasi langkah yang mereka berdua ambil.
"Apa kalian… TIDAK PUNYA PERASAAN MANUSIAWI SAMA SEKALI?!" suara parau penuh amarah keluar dari kerongkongan Dieter. Kedua pimpinan itu begitu dingin menyikapi kematian temannya. Tentu ia tidak rela temannya diperlakukan seperti tumbal atau apapun. Apalagi misi hari itu gagal.
"Hei Dieter, kau lancang!"
Dieter hanya diam meratapi kepergian sang komandan dan sang kapten. Kata-kata lancangnya barusan tetap tidak mempengaruhi langkah Erwin maupun Levi.
'Mengapa?' pikir Dieter.
Tak kalah, Erwin dan Levi yang masih berjalan dengan tenang pun tidak bisa berhenti berpikir 'mengapa'.
'Mengapa mereka tidak bisa mengerti?'
Andai saja Dieter lebih peka dan memahami posisi kedua orang yang ada di matanya sekarang. Dua pemimpin itu harus tetap terlihat tegar apapun yang terjadi, di manapun, kapan pun, dan tidak peduli berapa jumlah korban yang jatuh pada misi dalam perintah mereka.
Terutama Erwin, yang harus menanggung dan memikirkan semuanya. Bukan berarti tidak manusiawi, Erwin memang terpaksa dan harus untuk tidak peduli. Ia harus memberikan contoh pada setiap anak buahnya agar lebih tegar.
"Tidak! Mereka akan menggapai kita!"
"Aku akan pergi ke belakang dan menarik perhatian mereka, lalu kalian-"
"Jangan lakukan itu! Kalian hanya akan menjadi mayat. Mereka akan meraih kita."
"Tapi…"
"Di masa lalu pun banyak jasad yang tidak bisa dibawa pulang," ujar sang kapten pada dua bawahannya yang berada di atas wagon pengangkut mayat. "Mereka bukanlah sesuatu yang istimewa," tambahnya.
Salah satu bawahannya terdiam, mencoba mengikuti jalan pikiran Levi.
"Apa yang harus dilakukan sekarang?!" temannya histeris. "Apakah kita benar-benar akan melakukannya?!" tambahnya sembari memeluk salah satu mayat.
Tegakah untuk melakukannya?
Temannya yang berambut cepak terdiam. Ia masih bertanya pada dirinya sendiri : apakah perlu untuk melakukannya? Perlukah untuk membuang mereka -para kerabat satu perjuangan-? Haruskah mereka membawa para pemberani yang gugur ini ke handai taulan masing – masing, lalu menguburkan mereka secara layak agar bisa dikunjungi dan tetap dikenang? Haruskah mereka meninggalkan 'sesuatu yang tidak spesial' agar jumlah korban tidak semakin bertambah?
Levi mengutuk cedera pada kaki kirinya.
Setelah berpikir mengenai hasil yang baik dan yang buruk, akhirnya..
"Kita harus melakukannya!"
Papan belakang wagon diturunkan.
Dengan berat hati, dilemparkanlah satu tubuh berbalut kain ke tanah.
Masih tidak berpengaruh, mereka memutuskan untuk melempar satu lagi. Lemparan kedua penuh dengan berat hati dan perasaan bersalah.
DUAAARRR!
Masih tidak berpengaruh.
Tegakah mereka untuk melakukannya lagi? Melihat makhluk yang bahkan tidak bisa mencerna makanannya menginjak salah satu kerabat mereka, hingga tubuh tak berdaya itu benar-benar hancur?
Harus bagaimana? Dua mayat tidak berpengaruh apapun..
Lagi, dengan hati yang patah, mereka melakukannya. Entah sudah berapa 'maaf' yang mereka gumamkan dalam hati pada setiap mayat yang akan mereka lempar ke tanah.
Dan saat itu, saat mayat terakhir dilemparkan, mata Rivaille tidak bisa bergerak sama sekali. Keringat dingin menyelubungi pundaknya ketika beberapa helai kecoklatan yang sangat ia kenal melambai dari celah kain…
'Tidak.'
'Jangan-jangan…'
Levi menggenggam tali kudanya erat-erat saat lemparan di udara membuat kain pembalut tersingkap lebih banyak. Helaian coklat, darah di wajah, hidung yang terluka, warna kulit itu…
'Tidak… jangan dia…'
'Kumohon…'
BRUAAAKKK!
Sama seperti hentakkan tubuh Petra yang jatuh dengan keras ke tanah, hati Levi juga terasa dihentakkan dengan begitu keras. Hancur dan tidak ada satu pun yang peduli dengan hatinya saat itu. Begitu memilukan dan mengenaskan. Cinta dan hatinya harus terkapar tanpa pertolongan.
'Haruskah aku kembali? … Petra?'
Pada detik sang humanity's strongest memikirkannya, ia ingat kejadian beberapa jam yang lalu ketika ia bersikap dingin pada Dieter.
'Jika kau sudah yakin bahwa ia telah mati, itu sudah cukup. Tidak peduli apakah kau memiliki tubuhnya atau tidak. Ini tidak akan mengubah apapun.'
Karmakah ia karena berkata hal demikian? Karena kini, orang yang ia kasihi pun tidak bisa ia bawa pulang.
Haruskah ia kembali dan memungutnya?
Bagaimana dengan para bawahannya yang lain?
Dia tetap seorang pemimpin di sana. Apa yang akan bayi-bayi besar di sana katakan dan pikirkan jika ia begitu berjuang untuk membawa satu jasad?
Hanya suara langkah puluhan kuda yang terdengar. Jika ada yang mampu mendengar suara batin yang menggema, maka akan terdengar satu teriakan yang paling keras. Teriakan itu akan terdengar terlampau pilu, mengerikan, dan tidak akan ada satu orang pun yang mampu mengabaikan rasa sakit si empunya. Itu pun jika ada yang mampu mendengarnya.
Tentu, Levi tidak akan keberatan untuk membuat orang yang mampu membaca isi hati ikut bersedih atas teriakan histerisnya yang masih berlangsung. Jika tidak bisa mendengarkannya, tak apa. Sang kapten memang pandai untuk berlaku acuh pada siapapun namun matanya, tidak bisa berbohong.
Mata egois itu akan memancarkan apa isi hatinya. Apapun yang terlihat dari pupil biru keabuan itu adalah cerminan perasaannya yang terdalam. Sangat dalam, penuh retakan, penuh perasaan, dan kaya akan kesedihan.
'Maafkan aku, Petra.'
Levi memalingkan pandangannya kembali ke depan. Apapun yang terjadi, ia tidak boleh melihat ke belakang. Genggamannya pada tali kuda makin erat, hingga ia merasakan kuku-kuku jarinya kembali menusuk kulit tangan bagian dalam. Levi masih mencoba untuk tetap fokus melihat ke depan dan berada di dunia nyata ini. Namun sekuat apapun usahanya, ia tetap tidak bisa menyingkirkan momen menyakitkan yang baru saja terjadi. Dirinya adalah seorang prajurit. Apapun yang terjadi, ia tidak boleh melihat ke belakang. Ia harus kuat.
'Salahkah aku?'
'Yakinkah aku?'
Levi terus memikirkan tindakannya beberapa jam yang lalu, ketika ia menyerahkan satu-satunya benda peninggalan terpenting yang ia punya. Kini, kakinya tengah menyusuri jalanan kota di mana semua penduduk yang tidak tahu apapun sibuk melayangkan berbagai hujatan.
'Apa aku sudah melakukan hal yang benar?'
'Apa aku harus melupakannya?'
'Apa aku yakin tidak akan menyesal?'
'Apa aku…'
"Levi-heichou?!"
Sebuah suara yang ditujukan padanya mengalun dari kejauhan. Diiringi dengan suara langkah kaki, suara panggilan yang ditujukan pada Levi itu semakin terdengar sangat jelas, bahkan ketika Levi masih ada dalam pikirannya yang gelap tanpa cahaya.
'Abaikan saja.'
'Tapi kenapa suara itu begitu familiar?'
"Levi-heichou, putri saya ada dalam pasukan anda. Saya adalah ayah dari Petra. Sebelum dia melihat saya, saya ingin bicara dengan anda."
DEG
Jantung Levi serasa berhenti saat itu.
'Tidak, jangan….'
"Dia mengirimi saya surat ini. Dia menulis bahwa anda telah begitu menghargai kemampuannya agar bisa bergabung dalam pasukan anda."
'Petra? Tidak, tidak hanya itu. Aku membawanya karena aku…'
"Dia bilang dia akan mengabdikan dirinya pada anda."
'…karena aku… mencintainya. Agar aku bisa melindunginya…'
'Melindunginya? Tapi…'
"Saya kira dia terlalu banyak berpikir untuk mempertimbangkan bagaimana perasaan ayahnya. Hahahahaha."
'….aku malah meninggalkannya..'
Tangan Levi berkeringat dingin. Jantungnya benar-benar seperti berhenti berdetak. Rasanya tidak ada lagi darah yang mengalir ke otaknya. Ingin sekali ia menghilang dan tak kembali saat itu. Lebih baik menghilang daripada menghadapi seorang ayah yang sedang tersenyum kepadanya.
"Yah, sebagai ayahnya, saya pikir ini terlalu dini baginya untuk menikah. Dia masih sangat muda, dengan begitu banyak pengalaman…."
'Pernikahan?'
'Cukup. Tidak… '
'Kumohon, jangan pernikahan…."
TOK TOK
"Kopral Levi?"
Yang dipanggil tersadar dari buaian lamunan. Ia mendapati dirinya sedang duduk di kursi kamar dengan kaki cedera. Ia baru sadar mengenai tujuannya berada di sana yang tak lain dan tak bukan adalah untuk mengobati kakinya sendiri. Namun yang terjadi adalah ia kembali memutar memori, mengingat setiap detik kejadian di hari itu. Kakinya sama sekali belum mendapat pertolongan.
"Kopral Levi?" panggilan itu kembali terngiang dari luar kamarnya.
"Masuk saja!" perintah Levi dengan tegas.
Kenop pintu diputar dari arah berlawanan. Saat pintu dibuka, muncul sosok kadet bermata tosca yang sangat ia kenal, Eren. Pemuda itu menatap ke arah Levi dengan sorot mata penuh kesedihan dan penyesalan.
Levi membalas tatapan sendu itu dengan ekspresi sehari-harinya. Ekspresi itu memang Levi yang punya. Begitu orisinal sekaligus palsu. Ekspresinya saat itu memang terbukti ampuh untuk membuat orang-orang berpikir bahwa ia adalah kapten tanpa rasa manusiawi sama sekali. Padahal jauh di dalam hatinya, ia menganggap dirinya tak lebih dari sekedar pecundang munafik karena menggunakan ekspresi itu untuk berpura-pura kuat, berpura-pura acuh, berpura-pura bengis, dan sebagainya untuk saat-saat berduka seperti sekarang.
Namun sepandai apapun Levi beradu akting dengan ekspresinya -melawan perasaan sendiri- mata biru keabuan itu tetap tidak bisa berbohong. Mata egoisnya menunjukkan kehampaan yang dalam. Beruntung cahaya di kamarnya hanya berasal dari lilin yang jauh berdiri di atas meja.
"Ada apa?" tanya Levi pada Eren yang kini berdiri di hadapannya.
"Komandan Erwin meminta saya untuk mengobati cedera anda, Levi-heichou. Saya datang kemari untuk melakukannya," jawab Eren sembari menatap tanah, murung.
"Tidak usah. Aku bisa mengobatinya sendiri. Pergi sana!" perintah Levi acuh sembari mengambil kapas yang tergeletak tidak jauh darinya.
Eren masih berdiri sementara Levi tengah bersiap untuk mengobati kakinya yang cedera.
"APA YANG KAU LAKUKAN, JAEGER?! CEPAT KEMBALI KE SELMU!"
Eren tidak menggubris kata-kata sang kapten. Arah dan tatapan bocah Jaeger itu masih sama walaupun teriakkan Levi yang barusan begitu memekakkan telinga.
"Izinkan saya untuk mengobati luka anda, heichou. Setelah itu, baru saya akan kembali ke sel saya."
Levi terdiam dua detik mendengarnya.
"Tch. Ya sudah, cepat obati!"
Dengan segera, Eren berlutut dan mulai mengobati cedera sang kapten. Eren melakukannya dengan lambat dan begitu lembut. Mungkin ada rasa takut pada dirinya, takut akan melakukan kesalahan. Dirinya masih shock atas kejadian di luar dinding hari itu.
Masa bodoh.
Levi membiarkan sang kadet mengobati kakinya dengan begitu lambat. Atmosfer di kamarnya berubah kaku hingga Eren memecahkan keheningan dengan suara parau dan bergetar.
"Heichou…?"
Levi melirik ke bocah yang berlutut di hadapannya.
"….Maafkan saya…"
Levi tidak menggubris. Toh ia juga sudah tahu untuk apa 'maaf' itu.
"Maaf…. karena telah menyia-nyiakan kesempatan yang saya punya, yang telah heichou berikan untuk saya…." Air mata Eren mengalir.
We don't know what is wrong tonight
Levi masih diam, sama sekali tidak melihat ke arah Eren.
"Gara-gara saya, heichou jadi kehilangan semuanya. Gara-gara saya terlalu bodoh dan lama dalam berpikir, makanya-"
"Sudahlah, Eren."
Levi memutuskan untuk bicara sebelum ia mengingat pasukannya lagi. "Mereka gugur karena berjuang. Bukan salahmu karena kau tidak bisa memutuskan. Pilihan apapun yang kita buat pasti ada risikonya."
Everybody's got no place to hide
"Tapi.. heichou.. saya sudah hendak melakukannya, tapi begitu melihat mata Petra-san, saya jadi…"
Mendengar nama Petra, Levi jadi ingat kejadian kemarin malam. Sang kapten pun mengutuk dirinya sendiri dalam hati. Toh gara-gara mata madu itu pula Levi luluh. Hatinya kembali teriris.
"….saya jadi tidak bisa melakukannya. Dia ingin saya percaya padanya. Karena itulah, saya mengurungkan niat karena saya ingin mempercayainya, tapi… saya malah membuat ia dan yang lain terbunuh…!" Eren berubah histeris. Kini isak tangis terdengar begitu jelas walau Eren masih berusaha untuk menahannya.
Levi terdiam menunduk, meratapi nasib para pasukan yang percaya padanya.
'Percaya, huh?'
No one's left and there's no one to go on
Ya, Gunter, Auruo, Gin, dan Petra terus berlari bersamanya saat misi siang tadi karena mereka percaya padanya. Tak dipungkiri lagi, Levi merasa ia juga telah mengkhianati mereka, bahkan lebih buruk dari Eren.
'Tidak akan ada yang mati, Petra. Aku berjanji. Jangan berpikir begitu. Aku akan melindungimu -eh, tidak..maksudku pasukanku.'
'Aku berjanji untuk melindungimu dan yang lain, tapi akhirnya aku malah pergi.'
Eren masih menangis histeris menyalahkan dirinya sendiri. Menyesal? Sudah pasti.
'Aku lebih buruk dari Eren.'
"Jika Petra-san masih ada di sini, mungkin-." Eren berhenti berkata-kata sementara Levi sibuk menyalahkan dirinya sendiri dan berakhir dengan mengenang kembali Petra di setiap malamnya yang telah berlalu. Rasanya begitu sakit di dada bidang pria bermata panda itu. Ia bahkan masih tidak bisa percaya kalau Petra sudah tidak ada lagi di sana.
"Heichou, saya mohon, maafkan saya….." Eren masih terus menangis.
All I know is my life is gone..
"Gara-gara saya, orang yang heichou sayangi pergi untuk selamanya."
Pada pagi yang cerah itu Levi terpaksa mengangkat tubuhnya dari ranjang. Tubuh tegang itu baru istirahat selama kurang lebih dua jam karena insomnianya yang semakin parah. Setelah bangkit dari ranjang, ia mencuci wajah dengan air dalam piringan yang telah disediakan sebelumnya. Sial, rasa lelah masih mendera walau ia sudah mampu membuka penuh kelopak matanya.
Dengan gerakan tangan yang cepat Levi memakai pakaian yang telah disiapkan olehnya semalam. Sebuah kemeja putih, celana hitam dan cravat sebagai aksesoris wajib. Yah, hari ini bukan hari berseragam seperti biasanya, tapi ia akan memakai pakaian formal seperti itu.
Lucu, entah mengapa Levi ingin sekali memakai pakaian anak culun seperti yang selalu Hanji layangkan padanya.
Setelah ia memakai semuanya, Levi menatap dirinya di cermin. Ia merasa masih ada yang kurang dengan dirinya.
Mendadak Levi ingat sesuatu.
Ia membuka lemari pakaian dan mencari sesuatu di kolom tenggeran baju yang digantung di sana. Ketika ia menemukannya, ia mengeluarkan apa yang ia cari tersebut.
Sebuah kotak merah.
Levi membuka kotak itu dan membentangkan isinya.
Sebuah jas dark blue.
Pada detik pertama, Levi menggumamkan kembali pujiannya mengenai jas tersebut. Detik kedua dan seterusnya, tatapannya berubah muram. Jas itu mengingatkannya pada seseorang. Seseorang itu membuat pagi Levi yang cerah harus dimulai dengan sedikit memoir pahit.
Gadis Rall, perempuan yang memberinya jas dark blue tersebut adalah pencuri hatinya. Lagi-lagi, Levi harus terperangkap dalam kesedihan setelah kepergian gadis itu sejak beberapa hari yang lalu.
'Petra…'
Levi membuka kancing jas itu satu per satu lalu menggantungkan jas itu di bahunya.
'Cukup dipakai seperti ini, tidak apa-apa, kan?'
Levi kembali menatap dirinya di cermin.
'Aku ingin memakainya seperti ini. Rasanya seperti dipeluk olehmu, Petra.'
Setelah selesai bersiap dengan pakaian, Levi melangkahkan kakinya menuju kandang kuda. Niatnya ke sana tidak lain dan tidak bukan adalah untuk membawa Xena, sang kuda patriot untuk ditunggangi ke ibukota. Namun sebelum Levi mencapai tempat tujuannya, ia terhenti di depan bilik milik Rosy, Albert, Bonjour, dan Presto. Ia lihat keempat kuda itu belum mendapat sarapan mereka.
Dengan panggilan dari hati yang terdalam, Levi mengambil beberapa ember rumput di samping kandang dan menaruhnya di kotak makanan mereka berempat.
"Kasihan sekali kalian. Kuda lain sudah makan, kalian belum mendapat apa-apa."
Ia memandangi Albert, kuda Inggris milik Erd Gin yang sudah mengabdi pada majikannya selama lima tahun tanpa henti. Kuda itu terlihat kelaparan dan lahap menyantap rumput pemberian Levi.
'Majikanmu tidak akan pulang. Kau harus bangga karena telah melayaninya lama sekali. Ia sungguh yang terbaik.'
Pandangan Levi beralih pada Bonjour, kuda milik Auruo. Kuda ini sangat menyukai Petra karena selalu memberinya campuran susu dan madu. Auruo sendiri yang sebagai majikan selalu lupa memberi Bonjour makan dan minum setiap pagi. Walau begitu, kuda ini tetap setia pada si penggigit lidah tersebut.
'Aku yakin dia sudah berusaha untuk menyelamatkan Petra. Bonjour, tetaplah menjadi pagi yang cerah.'
Kini ratapannya beralih pada Presto, kuda yang lahir dan besar di tangan Pasukan Pengintai. Bisa dibilang Presto adalah kuda yang paling penurut di antara semua kuda yang ada. Gunter memilih Presto karena kuda itu begitu pintar dan mampu mengimbangi gerakan Gunter yang terkadang selalu sembarangan ketika berkuda.
Yang terakhir, Rosy. Levi mendapati kuda itu tidak makan sama sekali. Ia memang sempat mengunyah beberapa rumput, namun tidak banyak. Kuda itu kembali duduk di lantai dan diam, membiarkan rumput-rumput di kotak tergeletak begitu saja.
Rivaille meratapi kuda itu. Rosy adalah kuda Spanyol yang liar dan nakal. Sekarang kuda itu malah terlihat bersedih setelah Petra tidak lagi menyuapinya rumput.
'Apa dia juga sedih karenamu?' gumam Levi dalam hatinya.
Levi melangkah sedikit agar semakin dekat dengan Rosy. Melihat kuda itu, Levi merasa melihat dirinya sendiri. Rosy dan dia sama-sama kehilangan Petra.
'Petra, apa kau melihatnya? Kuda sombong itu sedang bersedih sekarang karena kehilanganmu.'
Levi melangkahkan kakinya semakin dalam menuju bilik Xena di ujung istal dan membawa kuda cantik itu keluar.
'Aku juga merindukanmu, Petra.'
Levi naik ke punggung kudanya.
'Hari ini hari yang penting.'
Kini Levi memacu kudanya untuk pergi ke dinding Sina, di mana Erwin dan lainnya sudah ada di sana.
'Aku sudah tahu siapa titan bejat itu, Petra. Aku akan membawanya kemari, ke kastil ini.'
Levi memacu kudanya agar semakin cepat berlari.
'Setelah aku mendapatkannya, aku akan membuat ia membayar untuk semua. Lihat saja nanti. Ia akan menerima sesuatu yang pantas karena telah membuatmu pergi jauh dariku.'
OMAKE
Levi terus memacu kudanya dengan penuh kepercayaan diri. Hujan di hari yang gelap saat itu terus menusuk tubuh dan kudanya tanpa ampun. Di hamparan luas rerumputan hijau yang licin dan jarangnya pohon yang ada di sana, ia berharap semuanya akan baik-baik saja. Semoga.
Kudanya terus berlari bersama dengan semangat sang majikan. Bermodalkan jubah hijau kebebasan, Levi menutupi kepala dan tubuhnya walaupun percuma. Tubuhnya sudah basah tanpa sisa karena hujan sudah sedari tadi mengiringi kepergiannya sejak ia keluar dari dinding. Kini sudah puluhan kilometer jarak telah ia tempuh tanpa henti diiringi dengan guyuran hujan yang semakin lebat menghantamnya.
'Aku pasti bisa,' gumamnya.
'Sebentar lagi.'
Xena masih menghentakkan empat kaki ke tanah. Beruntung juga hujan saat itu begitu lebat sehingga membuat langkah Xena tidak membangkitkan nafsu beberapa makhluk berwajah lucu nan menjijikkan untuk datang pada mereka dan membuat semua semakin sulit.
Setelah kurang lebih tiga setengah jam memacu kudanya tanpa henti, akhirnya Levi sampai di suatu tempat. Ia turun dari kudanya dengan perlahan -mengingat cederanya masih tersisa sedikit-, lalu berjalan beberapa langkah dan berhenti.
Levi berlutut, memandangi sosok kaku yang terbaring di dekat kakinya.
'Petra?'
Levi menyingkap sedikit rambut keemasan yang menutupi wajah jasad itu.
'Apa kabar?'
Levi mengelus pipi jasad itu yang basah. Serasa menyentuh jendela di musim salju, pipi itu terasa dingin sekali.
'Kau masih ingat padaku, Petra?'
Kini sang kapten yang tengah merapuh menempelkan satu tangan jasad tersebut ke pipinya. Ia ingin jasad itu merasakan sedikit kehangatan dari wajahnya. Di wajah itu, pupil biru keabuan menatap sosok mungil tanpa nyawa dengan penuh kesedihan dan kelegaan dalam melepas rindu.
'Aku kemari untuk menjemputmu. Kita akan pulang.'
..
..
First Spring, Last Autumn : FIN
..
..
..
Akhirnya fic ini selesai jugaa... XDDDD
Yah, sebenernya fic ini masih ada kelanjutannya.. #dijitak
Di kelanjutan nanti bakal diceritain soal Levi setelah ditinggal Petra, alasan kenapa saya masukkin nama Lucy di chapter 6, tiga orang temen Levi yang meninggal (ditulis di chapter pertama fic ini), dan lain-lain..
Nama fic nya nanti The Boy's Letter (Cr : JYJ - In Heaven album).. Kenapa judulnya The Boy's Letter? Nanti terjawab sendiri.. hehehe.. :P
Thanks buat supportnya selama ini, minna.. ^^
