"Kau mau kemana, Kai?"
"Soo, aku akan pindah besok. Paman dan bibiku memintaku untuk tinggal bersama mereka di Jepang. Kau baik-baik disini, ya?"
"Hiks, kau bilang kau tidak akan pernah meninggalkanku? Kau bohong, Kai! Kau jahat! Aku membencimu!"
"...Soo, jika aku terus berada di sisimu saat aku begini, kau akan sedih. Dan aku tidak mau melihat gadis yang kucintai bersedih, maafkan aku..."
preview last chap:
Zhang Yixing. Apakah aku benar-benar akan menikahinya?
"Jadi, aku ini anak tunggal?"
"Benar. Kau anak tunggal keluarga Kim. Ayahmu, Kim Siwon, sangat memanjakanmu. Dan ibumu, Kim Taeyeon, sangat menyayangimu. Dengan berbekal kasih sayang dan materi berlimpah, kau tumbuh menjadi seperti ini, namja yang tampan, cerdas, dan sangat ramah. Persis seperti kedua orangtuamu."
"Aku juga merasa mereka sangat menyayangiku, hyung. Aku malah merasa tidak enak pada mereka karena melupakan mereka."
"Haha, berhentilah memasang muka sedih begitu. Kau tidak bersalah, Suho. Kau bahkan tidak menginginkan kecelakaan itu kan? Lay sudah pulang?"
"Kecelakaan? A-ah te-tentu tidak. Bagaimana aku bisa menginginkan sebuah kecelakaan terjadi padaku dan membuatku melupakan banyak hal? Sudah, tadi dia dijemput adiknya."
"Ya, mungkin saja kau lelah dengan hidupmu, lalu..."
"Berhenti berandai-andai yang tidak-tidak. Mana mungkin aku lelah dengan hidupku, bukankah dari ceritamu tadi, dapat kusimpulkan bahwa hidupku ini bahagia? Ani, bahkan mungkin sangat bahagia?"
"You do. Kau sempat mengeluhkannya padaku beberapa bulan lalu sebelum kau mengenal kekasihmu itu, Lay. Dia seperti matahari dalam hidupmu, Junmyeon. Dia memberimu cahaya yang tak terkira, dia membuatmu lebih hidup. Kau berubah menjadi Suho yang berbeda ketika kau mengenalnya. Dan jujur saja, aku menyukai perubahanmu. Kau terlihat jauh lebih bahagia."
Lagi-lagi nama yeoja itu yang disebut. Haneunim, apa harus begini akhirnya? Lalu untuk apa aku hidup kembali jika akhirnya aku harus menikahi orang yang tidak aku cintai?
"Kata Tuan Kim, kau akan melamarnya? Benarkah?"
"..."
"Suho?"
"..."
"Kim Junmyeon!"
"A-ah hyung! Kau berisik sekali eoh? Wae geurae?"
"Aish benar-benar kau ini. Apa kau melamun? Wae geurae? Ada masalah?"
"T-tidak, hyung. Gwaenchana. Aku baik. Kau tadi bilang apa? Mian aku tak mendengarmu,"
"Aku tahu kau sedang tidak baik, Junmyeon. Aku mengenalmu bahkan sebelum kau lahir. Kau tidak bisa menyembunyikan apapun dariku. Bukankah selama ini kau selalu tidak berhasil jika berbohong padaku? Aku tanya padamu, apa kau akan menjadikan Zhang Yixing istrimu?"
"Aku baik, hyung. Tenang saja, tak perlu khawatir. Tentang itu, aku sedang memikirkannya. Kau tahu, tidak mudah mengembalikan ingatan, dan jika aku harus membuat keputusan besar saat ingatanku masih belum stabil, itu pasti akan menyakiti banyak pihak. Dan aku tak mau menyakiti siapapun. Lay yeoja yang sangat baik, begitupun orangtuaku, mereka orangtua yang hebat. Aku tak mau melukai perasaan mereka. Sudah hyung, aku mengantuk. Aku tidur dulu, ne? Pay hyung. Jaljayo, Kyu hyung."
"Ne. Kau bisa menceritakan apapun padaku kapanpun kau siap, Suho. Jaljayo,"
.
.
Aku tidak mengerti. Ini semua terasa sangat membingungkan. Bagaimana aku bisa melamar Lay noona? Mencintainya saja tidak pernah bisa ku lakukan. Meskipun hanya memenuhi mau Suho hyung, tetap saja ini jiwaku. Haneunim, apa yang sebenarnya Kau mau? Jika aku harus menikahi yeoja lain, lebih baik aku tidak hidup lagi.
"Jangan bicara begitu. Jika Dia mengabulkannya bagaimana? Apa kau tak mau menemui Kyungsoo terlebih dulu sebelum kau kembali?"
"HYUNG! Aigo. Kau mengagetkanku saja. Ya, bagaimana lagi. Aku mencintai Kyungsoo, tapi malah harus menikahi Lay noona. Bukankah lebih baik aku tetap bersama appa, jika begini akhirnya?"
"Dia punya rencana, Kai. Percayalah, rencananya itu lebih baik dari segala pikiran yang kau punya. Lakukan saja permintaannya."
"Aku tahu itu. Hanya saja... Ah, ini berat hyung! Aku bingung harus bagaimana!"
"Pikirkanlah matang-matang. Ingat, waktumu hanya satu bulan. Dan ini sudah hari keduamu, tiap hari sangat berharga, Kai. Jangan sia-siakan waktumu jika kau memang mencintai Kyungsoo. Perjuangkan dia,"
"Arrasseo. Sekarang, tepati janjimu. Ceritakan apa yang perlu ku tahu tentang kekasihmu itu. Selengkapnya, jadi aku tak perlu pusing mencari tahu. Lagipula, jika urusan ini cepat selesai, kuharap Dia akan memberiku keringanan beberapa hari untuk melihat Kyungsoo secara intens lagi."
"Aku ini namja penepat janji. Tenang saja akan ku ceritakan apa yang perlu kau tahu. Tapi ingat, setelah kau tahu tentang dia, jangan jatuh cinta padanya. Atau kau benar-benar akan kubuat kembali bersamaku."
"Pemarah sekali. Tenang saja hyung, aku tak akan jatuh cinta pada Lay noona. Aku hanya mencintai Kyungsoo, kau kan tau itu. Sudah cepat ceritakan!"
.
.
.
"Jadi bagaimana noona? Besok kau akan benar-benar mengajak Suho hyung ke rumah sahabatmu itu?"
"Ne, Hyunnie. Bagaimana menurutmu? Apakah itu bagus? Sebagai calon dokter, kau pasti tahu kan?"
"Menurutku itu baik, asal kau tidak memaksanya untuk mengingat. Well, karena aku tak tahu seberapa parah amnesianya, aku hanya bisa menyarankanmu itu. Hwaiting noona, aku akan selalu mendukungmu bila itu membuatmu senang. Ah, dan apakah kau melihat odult? Aku harus ke kampus sekarang, dan dia bilang dia mau berangkat bersamaku."
"Baiklah, aku tak akan memaksanya. Gomawo Hyunniee~ Eh? Odult? Bukankah dia masih tidur? Tadi aku lewat di depan kamarnya, masih terdengar suara dengkuran halus khas miliknya. Sudah, biar nanti ku antar dia ke kampus. Kau berangkat saja dulu, dia kuliah siang kan?"
"TIDUR? AIGO. Masih saja tidak bisa bangun pagi. Hhh, ne noona. Dia kuliah siang, tapi entahlah, dia bilang mau menemui seseorang dulu makanya dia ingin berangkat bersamaku. Ya sudah kalau begitu, aku berangkat dulu. Pay noona!"
BRUM!
"DAEHYUN HYUNG TUNGGU AKU!"
BRAK!
"SEHUN! Ommona! Gwaenchanayo? Ada yang terluka?"
"A-aw ka-kakiku noona. Kurasa kakiku terkilir. Aaahhh! Sakit sekali!"
"Makanya, jangan lari-lari. Lagipula, jika kau memang mau berangkat bersama Daehyun, kenapa bangun terlambat? Sudah, nanti ku antar saja. Sekarang duduk disini, aku akan memijat kakimu sebentar."
"Aku baru tidur 4 jam, noona. Dan itu belum cukup memenuhi batas tidur minimal manusia. Lagipula Dae hyung tidak bilang akan meninggalkanku jika aku terlambat bangun. AAAAA, bisakah kau pelan-pelan memijatnya noona? Aigo ini sakit sekali!"
"Dasar namja bawel. Apa yang kau lakukan semalaman sampai baru tidur jam 5 pagi? Kau mau cepat sembuh atau tidak, bodoh."
"Ya! Tidak kau, tidak Dae hyung. Selalu saja mengataiku bawel dan bodoh. Apa tidak ada yang tahu aku ini peringkat 3 besar di kelas?"
"Ah, jinjja? Apa kau benar-benar peringkat 3 besar Hunnie?"
"Tentu. Tapi jika peringkat itu dihitung dari bawah, ehehe"
KYUUT!
"NOONAAAAAA!"
.
"Sudah siap? Ayo berangkat. Kau tidak mau terlambat masuk di kelas pertamamu kan?"
"Ne! Tentu saja tidak. Tapi, apa tidak apa-apa Chan jika aku baru saja masuk? Lalu, mata kuliah yang ku tinggalkan bagaimana?"
"Tenang, aku sudah meminta tolong salah satu temanmu untuk membuat catatan rapi tentang materi kuliahmu. Youngjae. Kau sekelas dengannya kan?"
"Ne. Gomawo Chanyeol. Mian aku merepotkanmu terus,"
"Tidak, kau tidak merepotkanku. Lagipula aku tidak pernah merasa direpotkan olehmu. Jadi, kita berangkat sekarang, tuan putri?"
BLUSH!
"Berhenti menggodaku pagi-pagi begini, Chanyeol. Haha, kajja!"
.
"Eomma, appa. Aku akan ke rumah Lay, setelahnya mungkin aku akan ke kampus. Apa itu oke?"
"Ah, apa kau benar sudah siap ke kampus, chagiya? Apa kondisimu benar-benar sudah baik?"
"Tentu eomma. Aku sudah merasa sangat lebih baik dari beberapa hari lalu. Jika kalian masih merasa khawatir, izinkan aku berangkat bersama Kyu hyung."
"Kyuhyun?"
"Ne appa. Tidak masalah kan?"
"Tentu anakku. Kau boleh berangkat bersamanya. Ingat, tetap hati-hati dan jaga kondisi. Kau tahu harus menelpon siapa jika kau butuh bantuan."
"Polisi?"
"Appamu, pabbo!"
"Hahaha, tentu saja appa. Aku berangkat dulu! Kajja Kyu hyung! Pay appa, eomma!"
BRUM!
"Kau mengajakku pasti ada maksud tertentu. Sekarang katakan padaku, apa maksudmu tuan muda Junmyeon?"
"Haha, kau ini memang benar-benar mengenalku rupanya hyung. Begini, aku ingin meminta pendapatmu untuk beberapa hal. Dan aku mohon untuk sebulan ini saja, jika aku memintamu menemaniku kemanapun, kau harus mau. Jebal, hyung?"
"Pendapatku? Tentang apa? Aish, anak ini. Arra arra, aku mau."
"Great! You're the best, hyung! Pertama, aku akan bertanya. Bagaimana jika aku mencintai orang lain? Maksudku, maksudku aku mencintai yeoja selain Lay, bagaimana pendapatmu?"
"Kau? Mencintai yeoja lain? Nuguya, Suho? Kenapa kau tak menceritakannya padaku?"
"Aish, hyung kenapa malah balik bertanya? Suatu saat akan ku jelaskan padamu mengapa hyung. Yang jelas, apa pendapatmu?"
"Menurutku itu normal. Maksudku, lihat dirimu tuan muda. Kau ini namja sempurna. Wajar jika banyak yeoja menyukaimu. Dan wajar juga jika kau menyukai yeoja selain Lay. Tapi, jika kau mencintai 2 orang sekaligus di saat yang sama, itu buruk."
"Ma-maksudmu, hyung?"
"Wanita tidak suka diduakan. Walaupun pria juga, tapi kau tahu kan perasaan wanita lebih sensitif? Jika kau memang mencintai yeoja lain selain Lay, tentukanlah pilihan pastimu. Jangan perdulikan tentang perasaan mereka yang akan tersakiti. Pedulikan hidupmu, Suho. Pedulikan hati kecilmu,"
DEG!
CKIIIT!
"Akan ku pertimbangkan. Kalau begitu, aku masuk dulu. Aku akan temui Lay. Kau mau ikut?"
"Aku di mobil. Kau segera temui dia. Ingat, pedulikan hati kecilmu."
Aku mengangguk pelan menjawab tetuah Kyuhyun hyung. Kakiku terasa sangat berat ketika kulangkahkan mereka keluar dari kursi kemudi menuju pintu rumah Lay noona. Aku juga sebenarnya tak mengerti apa yang harus ku lakukan. Aku hanya melakukan apa yang membuat Lay noona senang, setidaknya begitulah kata Suho hyung.
TING TONG!
"Noona, sepertinya ada yang datang. Apa kau tak mau membuka pintu?"
"Kau saja Hun. Aku sedang membereskan buku kuliahku. Kakimu sudah baik kan?"
"Tentu. Sudah lebih baik, noona. Gamsahamnida,"
TING TONG!
CKLEK!
Eh? Namja?
"Kau cari siapa?"
"A-ah, a-aku mencari yeoja berdimple manis bernama Zhang Yixing. Apa dia ada?"
Astaga. Apa yang baru ku katakan? Yeoja berdimple manis?
"Ah! Apa kau Suho hyung kekasih noonaku itu?"
"A-ah aku memang Suho. Tapi aku bukan ani maksudku belum menjadi kekasih Lay. Jadi, apa dia ada?"
"Belum? Kukira kalian sudah berpacaran. Kau tahu, cukup geli melihat Lay noona terus tersenyum tiba-tiba saat dia melihat fotomu atau sekedar membalas messagemu, hyung. Ah, aku Sehun. Choi Sehun."
"Siapa yang da- A-ah, Suho.. A-ada apa?"
"A-ani, aku hanya ingin mengajakmu berangkat bersama. Kau ada kuliah kan hari ini?"
"Ne, aku ada kuliah. Tapi, memangnya kau sudah siap kembali ke kampus, Suho? Apa kondisimu, baik?"
"Kau tak usah mengkhawatirkanku. Aku baik, lagipula selama ada kau, aku akan tetap baik, bukan? Kajja."
Aku menarik tangannya pelan. Mencoba menggenggamnya dengan lembut, merasakan bagaimana Suho hyung bisa jatuh cinta pada sentuhan Lay noona. Ternyata dia tak berbohong. Ini terlalu lembut untuk ukuran yeoja pekerja keras seperti Lay noona.
"Ya ya! Lalu bagaimana nasibku, noona? Aku kan juga mau ke kampus!"
"Dimana kampusmu?"
"Seoul State University. Kampus yang sama dengan kampus hyung dan noona. Jadi, apa aku akan dapat tumpangan? Karena kakiku sedang cedera barusan, kecelakaan kecil tadi."
"Begitu kah? Kuharap kau cepat sembuh, Sehun. Dan, ya tentu saja kau boleh ikut. Kenapa tidak? Kajja"
Aku kembali menggenggam tangan lembut Lay noona tanpa memperdulikan apapun. Saat aku berniat membuka pintu depan untuk Lay noona, Sehun mencegahku.
"Ah ah, hyung. Aku yang di depan. Kau dan Lay noona di belakang saja. Aku tak ingin mengganggu kalian untuk mengobrol, jadi kalian di belakang." ujar Sehun sambil menggelengkan kepala cepat dan bersiap membuka pintu belakang untuk Lay noona.
"Kalau ini, serahkan padaku. Arrasseo, namsaeng? Silahkan masuk, nona manis"
"Haha, baiklah hyung. Ya! Noona! Malah melamun saja, kajja palli masuk. Aku bisa terlambat ini..."
"Dasar cerewet! Baiklah aku akan masuk. Go-gomawo Suho-ya.."
.
"Gamsahamnida Kyuhyun hyung, Suho hyung. Mian merepotkan. Dan karena aku buru-buru, jadi aku masuk dulu ne? Annyeong!"
"Anak itu. Apa selalu terburu-buru setiap kuliah, Lay-sshi?"
"Ah tidak usah formal begitu, oppa. Ani, Sehun tidak pernah begitu. Molla, mungkin dia memang sedang ada urusan penting pagi ini?"
"Hehe, baiklah. Kalau begitu, kalian belajarlah yang benar. Jangan membolos kelas, dengarkan dosen baik-baik. Jika butuh apa-apa, kau bisa menelfonku, Suho. Aku pergi dulu, annyeong!"
"Gomawo hyung! Kajja Lay, kita masuk kelas.."
"Kaj- eh tunggu dulu. Memangnya kau tahu dimana kelasmu?"
"Tentu, aku satu kelas denganmu kan?"
"Aish. Namja pabbo, kau itu anak kedokteran. Sedangkan aku ini anak-"
"Arsitek. Benar kan? Haha, aku tahu itu Lay. Aku hanya bercanda tadi. Kelasku masih 1 jam lagi, apa kelasmu sudah masuk?"
"Aish, kau ini. Ani, kelasku baru masuk jam 1 nanti. Ini baru jam 10, jadi masih lama."
"Kelasmu jam 1 siang dan kau berangkat jam 10 pagi? Aigo Lay, kenapa kau tak memberitahuku? Kalau begitu tadi kita bisa makan dulu, aku lapar kau tahu."
"Haha, mana aku sempat memberi tahumu? Kau saja tadi langsung mengajakku berangkat. Tadi kan aku akan mengantar Sehun ke kampus. Rencananya setelah itu aku akan ke rumah temanku untuk sekedar menunggu jam kuliah datang."
"Jadi aku tadi menganggu rencanamu? Mian Lay,"
Lay noona tersenyum. Dan demi segala gula yang pernah masuk dalam tubuhku, senyumnya manis sekali. Lihatlah lesung pipinya yang jelas menambah manis wajahnya itu. Aigo, pantas saja Suho hyung begitu mencintai yeoja satu ini.
"Ani, Suho. Kau tidak menggangguku, aku senang bisa berangkat bersamamu. Jadi, kau lapar? Bagaimana kalau kita ke kantin? Jika beruntung, kita bisa bertemu teman-teman yang lain."
"Jinjja? Arrasseo. Kurasa, ini sudah seharusnya aku mulai tahu tentang mereka. Teman-temanku, teman-temanmu dan mereka yang mengenalku. Kajja, cacing di perutku sudah sangat berisik kau tahu?"
"Hihi, kau ini. Tidak biasanya kau sangat senang ku ajak ke kantin. Biasanya kau akan lebih memilih ke perpustakaan dan menghabiskan seluruh waktu luangmu disana sambil menikmati cemilan atau roti yang kau beli dari kantin."
"Jinjja? Aish. Perpustakaan itu kan tempat yang membosankan. Kenapa aku bisa betah disana?"
"Molla, haha. Sudahlah, katanya kau lapar? Jadi ke kantin?"
"Tentu! Kajja!"
Aku kembali menggenggam tangan Lay noona. Entahlah. Aku seperti kecanduan dengan tangannya. Lembut sekali. Seperti tangannya saat aku menggenggamnya dulu.
.
.
.
mian apdetnya so long-long time, readers.
dimohon reviewnya ne :)
