FRIENDSHIP
Written by Oh Michele
CAST : Kim Jongin,Oh Sehun,dll.
Warning : cerita gajelas,typo(s),yaoi,crack couple,dll.
NOTE :
Maaf semuanya kalau chapter ini hancur banget -_- Sebenernya ini juga maksa-maksain nulisnya. Maaf ya kalau saya updatenya lama. Sekolah benar-benar membunuh. Niatnya juga aku mau tamatin semua ff-ku terus ga bikin-bikin lagi. -_- doain deh semoga semuanya cepet tamat. Aduh udah gatau mau ngomong apa lagi. Pokoknya ini hancur banget. Selamat membaca deh….. jangan lupa review kalau berkenan -_- byebye.
.
.
.
.
Aku selalu percaya
Dengan apa yang orang selalu sebut dengan karma
Lalu…..
Apakah bersama dia….
Adalah apa yang orang sebut dengan karma?
Dan mengapa rasanya….
.
.
.
Sakit sekali?
.
.
.
.
Malam semakin dingin. Angin terus berhembus mengiringi laju mobil yang semakin cepat. Di dalamnya ada Chanyeol yang sedang mengemudi. Pikirannya penuh. Dipenuhi kekasih manisnya yang membuatnya kesal hari ini. Akhirnya keluar juga sisi lain dari seorang Park Chanyeol. Sebenarnya ia sama sekali tak ingin memperlihatkannya pada Jongin. Keras,posesif, dan terlalu terobsesi. Itulah dirinya. Dia sudah terlalu mencintai Jongin.
" Apa aku terlalu berlebihan pada Jongin?"
Batin Chanyeol mulai bergejolak. Sepertinya dia sudah keterlalulan. Mereka ini kan sepasang kekasih. Harusnya Chanyeol lebih percaya pada Jongin. Dia terbutakan oleh rasa cemburu. Tapi itu semua karena Chanyeol tahu persis bahwa perasaan Jongin pada Sehun terlampau besar. Dia hanya takut Sehun merebut Jongin darinya. Apa itu salah?
Segera Chanyeol mengambil ponsel mliknya. Dia tekan angka satu yang langsung terhubung pada Jongin. Sekian lama menunggu namun tak ada jawaban. Jongin tak kunjung mengangkatnya. Apa Jongin begitu marah padanya? Dia coba menelpon beberapa kali namun Jongin masih tak menjawab. Chanyeol segera memutar kemudinya. Dia tidak tenang. Ini tidak bisa dibiarkan. Dia harus menemui Jongin. Dia harus mempertahankan Jongin untuknya.
.
.
.
.
.
Jongin terus menghapus air mata yang tak mau berhenti keluar. Ia memelankan langkah saat akan sampai di pintu apartement miliknya. Namun matanya terpaku pada sosok di depan pintu yang sedang duduk dan menenggelamkan wajah pada lutut. Bahkan tenggorokannya terasa kering untuk hanya memanggil nama orang itu.
Merasa ada orang yang datang, sosok itu mengangkat wajahnya hingga dapat melihat Jongin yang berdiri di depannya.
"Jongin…. Aku—"
"Sehun, apa yang kau lakukan disini?"
Jongin sedikit mundur saat Sehun mulai berdiri.
"Aku…."
"Pulanglah. Ini sudah malam."
Jongin mencoba mengabaikan Sehun dan membuka pintu apartementnya.
"Kau boleh menyebutku bodoh. Aku tak percaya kau bersama Chanyeol."
Jongin tersentak. Kemudian dia berbalik menatap Sehun tajam. "Apa yang masih tidak kau percaya?"
"Aku tidak bisa. Aku tidak bisa menerima ini."Mata Sehun menyiratkan keputus asaan. Tak hentinya menatap Jongin dalam.
"Mengapa kau egois?"Jongin menunduk. Bibirnya bergetar. "Mengapa kau melakukan ini padaku?"
Air matanya mengalir lagi. Bodoh! Mengapa hidupnya dikelilingi orang bodoh? Dan mengapa dia juga bodoh? Sehun…untuk apa dia kembali? Apa Sehun akan mempermainkannya lagi?
"Kau bahkan tak pernah—"
"Aku mencintaimu Jongin!"
Jongin langsung menatap Sehun. Dia terkejut mendengar ucapan Sehun.
"Aku mencintaimu."
Kalimat itu. Kalimat yang selalu Jongin tunggu selama ini. Dua kata itu. Tertangkap baik oleh pendengarannya. Membuat hatinya merasa sesak. Membangkitkan lagi sesuatu yang sudah lama ditutupinya dengan rapi.
"Kau pikir semudah itu kau—" Jongin kehabisan kata-kata. Entah apa lagi yang harus dilakukannya. Dia lelah sekali.
Sehun memejamkan matanya. "Maafkan aku." Kemudian membawa Jongin dalam pelukannya.
Jongin menggeleng kemudian segera dia memeluk Sehun erat.
"Aku…. Aku ju..juga mencintaimu Sehun. Aku mencintaimu…. Sa….sangat mencintaimu. Tapi sakit. Rasanya sakit sekali."ucap Jongin sambil terisak pelan.
"Kali ini aku tidak akan menyakitimu lagi. Kumohon maafkan aku. Kita mulai semuanya dari awal. Bukan sebagai sahabat lagi. Tapi sebagai orang yang aku cintai."
Jongin terdiam. Ada rasa bimbang dalam hatinya. Lalu bagaimana dengan Chanyeol? Tapi dia sangat mencintai Sehun. Rasanya hari ini adalah hari yang telah ditunggunya seumur hidup. Bolehkah dia egois kali ini?
Dalam pelukan Sehun, Jongin mengangguk. Entah apa yang akan dihadapinya nanti. Yang dia mau hanya bersama Sehun.
Kemudian mereka berciuman panjang. Meluapkan perasaan mereka. Betapa mereka saling mencintai. Betapa lelahnya mereka dipermainkan takdir. Dan betapa lelahnya Jongin dengan Chanyeol. Selanjutnya Sehun membawanya semakin dalam. Hingga ia sejenak lupa dengan Chanyeol.
.
.
.
.
.
Jongin dan Sehun berakhir di atas ranjang. Mereka seperti dua orang mabuk minuman namun perlu di garis bawahi bahwa mereka sepenuhnya sadar saat ini. Mereka hanya terus mengikuti nafsu. Hingga melupakan pintu yang bahkan belum tertutup. Jongin terus mendesah saat Sehun tak hentinya menyentuhnya. Ini adalah petama kalinya mereka melakukan ini.
Sehun terus memberi tanda pada leher Jongin. Membuat Jongin hanya bisa pasrah.
Namun tiba-tiba ponsel Jongin berdering.
"Akhh…. Se….hun ponselku…"
"Hmm… biarkan saja…."
Jongin terus menatap ponselnya yang terus berdering. Tiba-tiba perasaannya menjadi tidak enak.
"Sss…. Sehun…. Aku rasa itu….Akhh…."
Jongin tak dapat melanjutkan kata-katanya saat Sehun terus menyentuhnya. Membuatnya merasakan panas. Bahkan ia tidak sadar bahwa pakaiannya sudah tak berada pada tubuhnya lagi.
.
.
.
.
.
Chanyeol berjalan dengan cepat menuju apartement Jongin. Dia ingin cepat-cepat bertemu dengan Jongin dan memeluk namja manis itu. Kembali pada hari-hari menyenangkan mereka kemarin.
Krittt
Chanyeol agak terkejut saat pintu apartement Jongin tak terkunci. Dia masuk begitu saja dan mendapati ruang tengah masih gelap.
"Jongin….?"
"Akh…. Sehun…."
Chanyeol terdiam mendengar suara yang samar-samar didengarnya. Kemudian dia berjalan dengan perlahan ke arah kamar Jongin.
"Tidak Tuhan kumohon jangan benarkan dugaanku."
Dan Chanyeol melihat semuanya. Melihat Sehun dan Jongin bercumbu di depan matanya. Saat itu juga dia sadar. Bahwa Jongin memang tak pernah menjadi miliknya.
.
.
.
.
.
"Jadi apa aku memang harus ikut datang?" ucap Jongin yang sedang memasak di dapur.
Sudah tiga bulan berlalu sejak malam dimana Chanyeol menangkap basah dirinya bercumbu dengan Sehun. Saat itu dia tak bisa berkata apa-apa melihat wajah Chanyeol yang kelewat terluka. Dia sedih. Merasa bersalah. Dan pada akhirnya hanya bisa mengatakan kata "maaf" yang entah diterima atau tidak. Saat itu Chanyeol tak berucap apa-apa dan langsung pergi. Yang bagi Jongin menyiratkan semuanya telah berakhir.
Maka disinilah Jongin saat ini. Di dapur memasak untuk Sehun yang berkunjung di pagi hari. Sehun tersenyum diatas meja makan sambil memperhatikan Jongin.
"Ya kita bisa sekalian kencan. Bukankah sudah lama kita tidak makan di luar?"
"Maksudmu di ulang tahun temanmu? Jadi berkencan di luar itu seperti makan gratis di pesta temanmu itu ya Tuan Oh?"
Jongin menggembungkan pipinya sambil meletakkan piring di atas meja. Memasang wajah sebal padahal sebenarnya dia ingin tertawa sih.
"Bukan begitu. Mulai minggu depan aku akan sibuk sekali dan kita mungkin akan jarang bertemu. Aku ingin mengajakmu keluar tapi kau juga sering menolak. Lalu apa menemaniku ke pesta temanku juga akan kau tolak? Nanti pasti kau menyesal."
Jongin sudah duduk dihadapan Sehun sekarang. Menangkup pipinya sambil memasang wajah berpikir.
"Hmm iya baiklah aku akan menemanimu."
Sehun tersenyum mendengar jawaban Jongin. Kemudian mereka makan dengan hangat.
.
.
.
.
.
Mungkin yang akan menyesal adalah Sehun. Di pesta malam itu begitu banyak mata yang melirik Jongin. Ah Jongin memang mencuri perhatian. Apalagi sifatnya yang terlampau ramah bahkan pada orang yang belum di kenalnya. Itu bagus sih tapi Sehun tidak suka juga.
"Hey Sehun!"
Seseorang memanggilnya dan Sehun langsung menarik Jongin untuk membawanya pada orang itu.
"Hey Moonkyu selamat ulang tahun. Pestamu bagus juga."ucap Sehun dengan merangkul pinggang Jongin.
"Terima kasih. Ah tidak pestaku biasa saja. Terima kasih sudah datang. Dan….. ini pasti Jongin. Benar kan?"
Jongin mengangguk kemudian mereka berjabat tangan. "Aku Kim Jongin."
"Aku Kim Moonkyu. Senang bertemu denganmu. Aku juga sering melihatmu di lobi apartement."ucap Moonkyu ramah.
"Oh? Benarkah? Berarti tempat tinggal kita dekat? Kau di lantai berapa Moonkyu-ssi?"
"Ah panggil Moonkyu saja. Aku di lantai sepuluh."
"Oh aku di lantai dua belas. Mampirlah kalau ada waktu."
Merasa diacuhkan Sehun berdehem sedikit. "Ekheemm"
Moonkyu yang melihat Sehun langsung tertawa pelan. "Ahahaha jangan cemburu begitu Oh Sehun. Aku tidak akan merebut kekasihmu. Tenang saja."
.
.
.
.
.
Sudah lewat dua minggu. Sehun semakin sibuk dengan tugas-tugasnya. Kapasitas bertemu mereka semakin tipis. Jongin jadi sering mendapat penolakan bila mengajak Sehun. Seperti saat ini….
"Sehun aku mau belanja. Bisa kau mengantarku?"
"Aku baru saja tidur dua jam sayang."jawabnya dengan suara khas orang bangun tidur.
"Ah maaf. Tapi apa persediaan makananmu masih ada? Terakhir kulihat kulkasmu sudah kosong. Apa perlu aku membelikannya?"
"Tidak usah. Aku sudah membelinya."
"Oh ya sudah kalau begitu."
"Hey, aku rindu masakanmu."
Diam-diam Jongin tersenyum mendengar ucapan Sehun. Wajahnya jadi merah.
"Kau ini bisa saja. Jangan katakan kalau kau hanya makan mie instan akhir-akhir ini."
"Ah A-Aku—"
Mendengar Sehun yang sedikit gugup, Jongin menghela nafas. Ah dia ini terlalu mengenal Sehun.
"Sepertinya dugaanku benar kan?"
"Ya aku makan itu. Aku tak ada waktu memasak."
"Apa aku perlu menginap disana?"
"Ah tidak usah. Aku masih bisa mengatasi ini. Aku tak mau membuatmu repot. Oh iya bukankah kau mau belanja?"
"Ah iya aku akan berangkat sebentar lagi."
"Jadi dengan siapa?"
"Sepertinya dengan Moonkyu saja. Aku bertemu dia tadi. Dia bilang akan belanja juga."
"Oh."
Tiba-tiba terjadi keheningan yang membuat Jongin sedikit bingung.
"Sehun? Kau masih disana?"
"Hmm? Maaf aku tertidur. Kalau begitu pergilah. Mungkin Moonkyu sudah menunggu."
"Ah baiklah. Tidurlah yang cukup Sehun."
"Ya. Akan ku tutup."
Jongin sedikit terkejut. Sepertinya Sehun melupakan hal penting yang biasa mereka lakukan saat akan mengakhiri telpon mereka.
"Se-sehun?"
"Ya?"
"Kau lupa sesuatu?"
"Hmm? Apa?"
Jongin menghela nafas. Apa karena terlalu sibuk sampai Sehun melupakan hal ini.
"Huh baiklah biar aku saja. Selamat tidur. Aku mencintaimu."
Sehun sedikit tertawa. Ah dia lupa hal itu. Mungkin karena dia terlalu mengantuk.
"Maaf sayang. Baiklah. Aku juga sangat-sangat-sangat mencintaimu."
Kemudian Jongin tersenyum dan mematikan telponnya. Yah mungkin Sehun memang terlalu lelah.
.
.
.
.
.
Dan apa mungkin Sehun memang selalu lelah setiap hari? Sudah satu bulan Sehun tak menghubunginya. Dihubungi pun sangat sulit. Mungkin hanya ketika larut Sehun menjawab panggilannya. Itu pun membuat Jongin segan karena nada bicara Sehun yang terkesan terganggu. Bahkan saat hari ini adalah hari ulang tahunnya. Sehun belum juga memberi kabar ataupun ucapan selamat.
"Hey jangan melamun, itu tidak baik."
Moonkyu mengambil duduk di sebelah Jongin. Mereka sedang duduk bersama di lobby. Akhir-akhir ini memang Jongin lebih sering bepergian bersama Moonkyu. Entahlah dia hanya merasa kesepian sejak Sehun menjadi super sibuk. Dan yang bisa di ajak bicara memang hanya Moonkyu saja.
"Aku tidak melamun." Jongin menangkup pipinya.
"Jelas-jelas aku tadi melihatmu melamun. Ada apa sebenarnya? Apa tentang Sehun?"
Moonkyu meletakkan segelas kopi di depan Jongin.
"Hmm begitulah. Apa kau tahu apa yang sedang di kerjakan Sehun saat ini?"Tanya Jongin. Mungkin saja Moonkyu tahu tentang Sehun.
"Setahuku minggu ini sedang tidak ada tugas yang berat. Tapi mungkin saja Sehun sedang ada pekerjaan lain."
"Oh begitu ya."
Jongin kembali lemas. Kalau tidak ada tugas mengapa Sehun jarang menghubunginya?
"Sudahlah tak perlu bersedih. Bukankah hari ini hari ulang tahunmu?"
Moonkyu mengambil kotak yang ada disampingnya sementara Jongin terus memperhatikan pergerakan Moonkyu.
"Ini untuk apa?"tanya Jongin.
"Pabbo! Tentu saja untukmu."
Jongin terkejut kemudian matanya menunjukkan binar-binar bahagia.
"Bagaimana kau bisa—"
"Apa yang aku tidak tahu di dunia ini? Selamat ulang tahun Jongin-ah."ucap Moonkyu.
"Terima kasih Moonkyu-ah. Boleh ku buka kotak ini?"
Moonkyu mengangguk kemudian Jongin membukanya dengan cepat. Jongin hampir melompat dan memekik saking terkejutnya melihat hadiah yang diberikan Moonkyu untuknya. Seekor anjing yang lucu sekali. Ah dia memang sudah lama ingin membeli seekor anjing.
"Terima kasih Moonkyu-ah! Kau baik sekali! Aku sangat menyayangimu!" pekik Jongin sambil memeluk Moonkyu.
Moonkyu yang dipeluk secara tiba-tiba sedikit terkejut namun dia langsung membalas pelukan Jongin.
Dan seketika tawa mereka terhenti saat ada sosok lain yang berdiri di depan mereka. Dengan wajah dingin dan sebuket mawar ditangannya. Jongin sedikit terkejut namun dia tersenyum hangat seakan tidak tahu situasi.
"Sehun dari mana saja?"
.
.
.
.
.
TBC
