Iseng Versus Magazine Edisi 1


Sora dan Roxas terlahir sebagai kembar tapi beda. Sementara di rumah yang lain, lahir pula si kembar Kairi dan Namine.

Mungkin ini tak ada kaitannya, tapi di pos ronda, Riku sedang asik maen gaplek bersama Axel, sang juru kunci gunung Twilik.

Sebuah cerita dimana kelahiran mereka justru lebih dari sekedar hal yang menarik bagi dunia dan sisi lainnya.

Sebuah kisah heroik, dimana seorang hansip dan juru kunci berperang melawan kejamnya kemiskinan (?)


Twin Blaze and Black Priestesses

Chapter 1: Abdi Keraton dan Silat Api Twilik

Genre: Comedy, Fantasy, and Action! FULL ACTION!


Silat Api Twilik, seni beladiri yang tak ada bedanya dengan debus. Kebal terhadap serangan api, tapi tak bisa mengeluarkan api. Itu dulu!

Sekarang ilmu dari silat itu sudah dikembangkan dan digunakan untuk membuat fire arena! Sebuah papan api untuk memainkan permainan paling bergengsi bagi para "Pendekar". Ya, namanya Axel dan dia bukan sekedar pendekar. Dialah juru kunci dan game master dari permainan yang dikenal sebagai "GAPLEK"!

"Ayo kita bertarung!"

"HYAAAAAAAA!"

Sebuah teriakan yang menantang maut terdengar hampir setiap hari dibelakang pos ronda. Denting suara besi juga tak lekas berhenti dalam waktu yang singkat. Ditambah dengan hujan yang semakin deras mengguyur, sosok dari dua pemuda semakin mempercepat gerakannya.

Tangan kanan yang saling menyambut dari tiap pukul sampai hempasan menjadi semakin ganas. Tak lupa dengan sapuan kaki yang elegan nan mematikan. Membuat siapapun yang menyaksikannya terkesima. Seperti film-film laga di televisi dengan genre sinetron...

"Keluar kau dari rumah ini!"

"Hmph, liat saja. Akan kuhabisi suamimu dan kunikahi istrimu yang cantik itu. BAHAHAHA!"

Sinetron.

"Jangan kabur!" Suaranya berhenti dan berakhir dengan teriakan berat dari salah seorang lelaki.

Bayangan keduanya saling mengejar dengan kecepatan penuh. Selama beberapa menit, mereka berdua berhenti pada suatu tebing dengan batuannya yang curam. Uniknya, tebing itu memiliki batuan dengan warna merah. Sebuah merah yang seringkali mereka bilang dengan merah darah.

"Demi takdir yang saling bersilang di hadapan ruang dan waktu, X-BLADE!"

"Sialan!"

Sebuah cahaya yang datang dan diselingi kegelapan berkumpul di tangan salah satu bayangan. Dari kekuatan itu pula muncul sebuah pedang yang dengan sekejap menembus tubuh lawannya. Satu tusuk seribu!

"Kalau begini apa boleh buat..."

Dia yang tertusuk mulai menunjukkan perlawanan pasif, namun tangannya bergerak dengan cepat. Membentuk gerakan unik yang memercikkan cahaya merah dari jentikan jarinya.

"HUOOOOO!"

Ilmu Kanuraga Silat Api TWILIK nomor 1, Tinju Api!

Cahaya merah, api sakral, Twilik, kini dengan cepat membungkus tubuh sang pemanggil. Pukulan yang terang nan dahsyat melesat ke wajah si pemilik pedang. Menghempaskan pedang itu darinya.

"Gahh!"

"Sekali lagi!"

Ilmu Kanuraga Silat Api TWILIK nomor 5, Menara Api Pemuda!

Kilatan api muncul dari dalam jurang dengan skala besar. Membentuk pilar raksasa yang melahap sang musuh masuk kedalamnya. Membakar setiap inci epidermis sampai inti sel. Memusnahkan jejak keberadaannya dari dunia ini.

"... Habis..."

"Aku dibelakangmu."

Suara tusukan yang dalam segera mencuat keras ke zona pergerakan angin. Darah yang hangat juga berpacu keluar layaknya sungai di gunung Twilik. Sebuah senyum yang terlihat karena rasa puas kini membuka lebar di tengah kegelapan. Mengerikan.

"... Satu pendekar sudah tumbang."

Selagi ia merayakan kemenangan, lima tangan api menyergapnya. Memaksa seluruh anggota tubuhnya untuk diam.

Ilmu Kanuraga Silat Api TWILIK X-1, Hangatnya Buaian Ibu!

Dan ia tertidur.

Semua pertarungan selesai dengan padamnya api dari kelima tangan misterius itu.

-0-


Pertarungan singkat diatas hanyalah gambaran semata. Cerita yang sebenarnya akan baru dimulai ketika "mereka" pergi dari rumah. Nongkrong di warung kopi dan memakan pisang goreng. Lapar soalnya.

"Sialan, pisang goreng ini enak kali coy!"

"Sora, jangan makan terlalu banyak, WC dah mampet, capek kalo tiap hari bersihinnya."

"Ngghhh..."

Sora dan Roxas, sedang bersantai, menikmati malam mereka sebelum orang itu datang dan memulai legenda yang baru.

-0-


"Berdasarkan hukum dan undang-undang nomor 54, setiap kembar, berjenis kelamin perempuan yang lahir tepat pada saat bulan purnama harus menjadi seorang petinggi spiritual di istana. Bersama dengan ini, maka..."

"Kairi dan Namine, kembar dari keluarga Wavena, kalian dinobatkan sebagai abdi istana pada kedudukan sang pemegang buku. Semoga tugas ini akan selalu kalian pegang sampai akhir hayat kalian..."

Ketika penobatan sudah selesai diucapkan, kedua kembar itu menaikkan wajahnya. Meluruskan mata mereka kearah sang raja.

"Siap yang Mulia!" Tegas mereka secara bersamaan.

-0-


Cerita dimulai pada sebuah dunia, dimana ada empat negara yang berdiri dan masing-masing dari mereka berperang untuk memperluas wilayahnya. Di utara yang dingin ada Keratuan Estralice, sebuah negara dengan landasan feudal. Di selatan yang dipenuhi rimbunnya hutan dan rawa ada Republik Ijo Royo-Royo. Lalu, di timur ada Federasi Teknorasio, merupakan sebuah negara besar, tumbuh bersama dengan teknologinya yang maju dengan pesat. Kemudian yang terakhir, sebuah negara dengan gunung api tertinggi sebagai ciri utamanya, Kepulauan Bukuireng, terletak di daerah barat dunia.

Kepulauan Bukuireng, dikenal sebagai rumah dari kedua buku sakral "Ireng" yang masing-masing dipegang oleh satu "Abdi" dari istana. Selain dari buku tersebut, kepulauan ini memiliki salah satu landmark yang sangat terkenal. Namanya gunung Twilik. Jauh di lereng gunung itu terletak sebuah desa kecil yang mewarisi budaya dan pusaka murni dari kehidupan masa lalu masyarakatnya. "Silat Api Twilik", itulah namanya.

Silat api twilik sendiri sebenarnya merupakan satu dari empat aliran cabang silat elemen yang ada di dunia ini. Tapi, entah kenapa, sampai saat ini, hanya Silat Api Twilik yang menggunakan ajaran murni dari sisa peradaban terdahulunya.

Seperti pada saat ini, dimana Sora dan Roxas, dua kembar yang sedang berlatih mengendalikan nyala api mereka.

"HUWWWWWWWWWWWWWWWWWWWWWWWWWWWWWWWWWWWWWWWWWWWWOOO OOOOOOOOOOOOO!"

"Roxas, kau tak perlu teriak seperti itu!" Sora menangkis tinju yang dilemparkan kepadanya, membalas menggunakan tendangan kaki kirinya, dan menjatuhkan kembarannya dengan mudah.

"UWWWWWWWOOOHHH!" Roxas masih tidak menyerah. Ia selalu bangkit dengan cepat, melompat, dan membentuk apinya seperti naga yang hendak mengamuk, meluluhlantakkan sebuah kota kecil dihadapannya.

"Cih, aku bukanlah kota kecil seperti dalam legenda! Rasakan ini!" Menyangkut hal itu, Sora menyalakan api dari kedua tangannya. Masing-masing dari bola pijar kemerahan itu memencar dan langsung melesat ke arah Sora.

Sebuah bentrok yang hebat terjadi disana, percikan api dimana-mana, dan semua menjadi silau. Takkan pernah berhenti keduanya jika seseorang tak datang untuk menghentikan perseteruan itu. Namun, nasib baik. Seorang hansip datang menghampiri mereka.

"Wew, sudah cukup. Kalian berhentilah..."

"Whoa! Riku?!"

"Oit? Kau membawakan kami pisang goreng?"

"Aku tidak membawa pisang goreng, tapi, sesuatu yang lebih penting."

Sora dan Roxas saling menatap dengan heran. Riku, si hansip yang menjaga keamanan desa itu mengeluarkan amplop berwarna merah dengan segel emas yang menguncinya.

"Aku yakin ini dari kantor pemerintahan di pulau utama." Ucap Riku seraya memberikannya kepada Roxas.

"Ini surat resmi, kan?"

"Tentu saja, bodoh. Ayo kita buka dan baca. Siapa tahu kalau ini perkara penting?" Sora dengan tidak sabar mengambil surat dari tangan Roxas. Ia menyobek segel emas itu dan membacanya dengan seksama. Wajahnya langsung membiru.

"Hmm?" Roxas kemudian ikut membaca. Matanya bergerak mengikuti arah tulisan sampai akhir. Lalu, berhenti pada satu titik. Ia terdiam sebentar.

"Ada apa kalian berdua?"

"I-ini..."

"Ini undangan resmi untuk pergi ke KERATON!"

"Cius loh?!" Riku membuka topinya dengan semangat dan wajah yang bingung.

"Cius lae!"

"Masbuloh?"

Percakapannya semakin aneh dan mari kita lewatkan beberapa adegan.

-0-


Keraton Bukuireng, terletak di pulau utama dengan ibukota yang mengeliliginya. Ini adalah tempat teraman dan juga termegah di seluruh pulau. Karena memang sektor industri dan produksi dihasilkan disini. Terlebih lagi seluruh keuangan negara masuk dan diolah disini pula. Maka dari itu semua yang sudah disebutkan dapat menjelaskan kenapa kota ini sangat besar.

"Whoa, besar ya?"

"Itu-nya?"

"Bukan! Makanya jadi hansip pikiran jangan kawin terus! Nikah dulu kenapa?!"

"WAT?! Tapi memang aku sudah kebelet buat kawin... maksudnya buat nikah."

Disaat mereka asik dengan kegiatan ricuh mereka, dua orang mendatangi mereka. Mereka mengenakan gaun putih yang cantik dan di pinggangnya menggantung sebuah sabuk hitam berikatkan buku hitam dengan ukiran emas bersama permata "merah". Selain dari pakaian yang sama, mereka juga memiliki sesuatu yang membuat para pemuda itu terkejut. Ya, mereka hot. (dibaca: hooot)

"HUWWWWWOOO!"

"Naluriku untuk kawin... maksudku menikah telah meningkat 65 persen!"

"W-wow!"

"KYAAA! K-Kairi, mereka menatapi kita dengan museum!"

"Sebelum kancil makan ia baca buku... itu mustahil! Untukmu, sebelum bicara, berpikir dulu! Untuk kalian, berhenti menatap kami dengan tatapan mesum!"

"... Ehem, maafkan kami, tapi kami juga ingin tahu... sebenarnya, apa yang dilakukan kedua ABDI KERATON di tempat seperti ini?" Tanya Sora dengan wajah kerennya.

"Jadi kalian sudah tahu, ya? Baiklah kalau begitu." Gadis yang dikenali sebagai Kairi itu tersenyum nakal dan membalikkan tubuhnya ke arah keraton. "Kami disini untuk menyambut kalian, para pesilat api."

"Selamat datang di ibukota negara kita, Abdicughup."

"Kawin?"

-0-


Curhatan hatiku:

Duhai hati yang kesepian

Disini aku menahanmu untuk bertindak

Hari ini aku bertemu dua bidadari

Tapi kurasa takdir akan berkata lain nantinya

Karena aku tahu endingnya

Ya, aku kenal dengan authornya dan dia bilang aku akan menjomblo seumur hidupku

Dear, Riku kepada author tercinta

-0-


Surat tadi langsung dikoyak author, terima kasih.

-0-


To Be Continue di edisi kedua majalah Iseng Versus

Author's note: Hai, lama tak jumpa. Baru terbit nih, sengaja dimasukkin dalam Iseng karena memang dibuat pas iseng. disamping itu, kenapa author buat dan simpan dalam iseng? yah, intinya saja, itu artinya author mau berbagi kepada kalian semua, jika menurut author ini menyenangkan maka akan author bagi, walau author tahu kalau rasa setiap orang beda. Maaf kalau nggak lucu (tapi bagi author ini lucu - ya iyalah dia yang buat), soalnya dibuat pas ngilangin rasa jenuh atas tugas kuliah. Sekarang saatnya author nunjukkin motto barunya, Ijo Royo-Royo!