"Kau yakin mau meninggalkan asrama, Sasuke?"

"Hn" Jawab Sasuke tanpa mengalihkan pandangannya dari lembaran-lembaran kertas yang ia tulis di meja informasi.

"Tanda tangan dua kali di sebelah sini" Shizune menunjukkan dua buah kolom di kertas itu.

"Hn"

"Memangnya kau mau pindah universitas juga?"

"Entahlah. Hari sabtu besok aku akan pulang dan membicarakannya dengan ayah" Sasuke menggoreskan tanda tangannya dan beralih pada lembaran yang lain.

"Ada apa sih?" Shizune penasaran "Kau bertengkar dengan Naruto ya?"

Sasuke menghentikan kegiatannya sesaat. Bukan bertengkar. Sasuke hanya ingin sebisa mungkin menghindar jauh.

Dia manusia. Pukul dia maka dia akan berdarah.
Dia bukan malaikat berhati sutera.
Dia bukan dewa yang tak bisa terluka.

"Tidak"

"Hm. Lalu apa? Ku rasa kau tampan dan pintar. Tidak mungkin ada yang berani macam-macam. Apalagi kau adik Itachi"

Itachi. Itu dia. Itachi sebabnya.

"Cuma urusan pribadi"

"Yah. Padahal kuharap kau disini sampai lulus. Jarang-jarang kan ada mahasiswa ganteng tinggal di asrama"

Sasuke hanya tersenyum kecil menanggapinya, lalu menyerahkan berkas-berkas itu pada wanita di hadapannya.

"Kalau kau berubah pikiran, kau bisa bilang kapan saja padaku"

"Hn. Terima kasih" Sasuke memasukkan pulpen hitam itu kembali ke sakunya, kemudian berjalan keluar dari gedung asrama untuk sekedar membeli cemilan di mini market.

Setelah semua yang terjadi, Sasuke memilih untuk meninggalkan Konoha tiga hari lagi.

Dia sudah menyiapkan segudang alasan untuk ia katakan pada Fugaku nanti. Mungkin akan sulit meyakinkan orang tua itu, tapi rasanya lebih baik daripada harus menetap disini dan tertekan selama tiga setengah tahun.
Bisa jadi kuliahnya berantakan dan sia-sia.

Berat, tapi mau bagaimana lagi.

Sasuke sudah merelakan Itachi.

"Hoi Sasuke"

Belum sampai dua meter dia meninggalkan gerbang, sosok berambut merah jambu, dan sosok berambut merah di belakangnya— yang menggegap tangan si rambut pink itu sambil menunduk— menghentikan Sasuke.

"Apa?" Tanya Sasuke singkat. Dia sebetulnya tahu permasalahan ini : Sasuke membatalkan ajakan membawa Karin menemui Orang tuanya tanpa konfirmasi.

Sasuke mencampakkan gadis itu untuk yang kedua kalinya dan kali ini dia tidak peduli lagi.
Toh, dia akan pergi.

"Pura-pura tidak tahu?" Sakura tertawa masam. Sementara Karin terus-terusan menariknya agar kembali ke asrama saja dari pada harus melabrak Sasuke.

"Aku memang lupa. Tolong katakan dengan jelas"

"Dasar brengsek!" Sakura mendekat beberapa langkah "Kau ini laki-laki macam apa hah?! Kau begitu tega mempermainkan temanku! Dia tidak bisa menjadi alat yang bisa kau pakai lalu kau buang seenaknya!"

"Nyatanya, dia bisa"

BUG!

Satu pukulan dari Sakura mendarat sempurna di pipi Sasuke.

Karin menatap nanar pemuda yang dicintainya itu. Tidak percaya atas yang barusan ia dengar. Sasuke benar-benar mempermainkannya.
Apa yang Sakura bilang ternyata benar. Jangan pernah mempercayai seseorang yang tampak sempurna.

Sasuke diam dengan wajah datarnya. Dia tahu, dia pantas mendapatkan itu.
Sekali lagi, dia tidak peduli.
Kehidupannya di Konoha akan segera ia buang jauh.
Terserah apa yang akan mereka lakukan.

"Kau jahat, Sasuke. Kau tahu itu. Kakakmu mungkin mengerikan, tapi setidaknya tidak berhati iblis sepertimu!"

"S-Sakura, sudah. Ayo kita kembali" Karin menyembunyikan wajahnya yang telah basah sambil menarik sahabatnya lagi.

"Tidak, Karin. Orang ini harus di beri pelajaran! Kau pikir aku bisa diam saja melihatmu menangis sepanjang malam hanya karena dia yang bahkan tidak mempedulikanmu!?"

Oke, Sasuke merasa seperti orang jahat sekarang.
Dia tahu itu. Dia paham dia pantas di hukum.
Bahkan dia merasa lega karena segalanya impas sekarang. Sasuke tak punya hutang apapun yang akan ia tinggal.

"Maaf Karin" Sahut Sasuke "Aku tidak bisa menyukaimu walaupun aku sudah berusaha"

Sakura mendekat dan mengangkat kepalan tangannya untuk memukul lagi pemuda di hadapannya itu. Namun Karin mencegah dengan menariknya sekuat tenaga masih sambil menunduk, menyembunyikan airmatanya yang telah berurai deras dan terisak.

Takdir macam apa ini.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Complex!

Disclaimer : Naruto (c) Masashi Kishimoto

Story by : Alice Amani Neverland

Rated : T

Warning! : ItaSasu with a bit ItaNaru, AU, Incest, Sho-ai, OOC!, Typo(s), EYD tumpeh-tumpeh, dan kesalahan manusiawi lainnya! So, DLDR. No flame loh. Jangan lupa review.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Enam : Jawaban

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.
.

"Sasuke, kok tumben barang-barangmu rapi sekali" Komentar Naruto sambil mengaitkan satu per satu kancing kemejanya.

"Aku tidak suka berantakan"

"Tapi masa mejamu sampai kosong begitu?"

"Aku tidak suka berantakan" Ulang Sasuke seraya meraih ranselnya dan meninggalkan kamar untuk berangkat ke gedung kampus, meninggalkan Naruto yang masih sibuk menjejalkan buku-buku ke dalam tasnya.

Sialnya, hari ini di jam pertama Sasuke harus berhadapan dengan mata kuliah Itachi.
Tapi tak apalah, hitung-hitung perpisahan.
Toh, besok dia sudah tidak berada disini lagi.

Sekitar sepuluh menit setelah Sasuke, Naruto berjalan keluar dari kamarnya dengan langkah sedikit terburu.
Dia asisten dosen, akan memalukan jika ia terlambat.
Naruto menggerutu saat di tengah perjalanan ponselnya berbunyi. Naruto tahu itu cuma nada SMS masuk dan berniat mengabaikannya.
Tapi rasa penasaran si pirang itu kemudian menggelinjang.

"Arggh!" Geramnya lalu berhenti dan membuka ponsel flipnya.

'From : Itachi

Naruto, maaf hari ini aku tidak bisa datang. Tadi malam aku sakit. Tolong gantikan aku ya. Terima kasih :) '

Ada emoticon senyum untuk Naruto. Tanpa sadar dia berdebar dibuatnya.
Tapi lupakan soal emoticon.
Dia harus menggantikan Itachi. Dan..
Itachi sakit?
Sakit apa?

Khawatir, panik, pokoknya segala rasa bercampur memenuhi Naruto sekarang.
Dia harus bagaimana? Kosongkan saja jamnya lalu pergi? Tapi Itachi percaya padanya dan Naruto tidak bisa mengingkarinya. Jika dulu mungkin dia akan lari tanpa peduli tapi sekarang dia tidak bisa.
Ada dedikasi yang mengikatnya dan ia tak bisa menjelaskan itu.
Naruto bahkan tak punya bakat untuk sekedar bicara di tengah publik.
Sial.
Apa yang harus ia lakukan?

Dia tak punya persiapan apapun. APAPUN.

Tapi toh, Naruto tetap melangkah masuk ke dalam ruang kuliah.
Riuh menyambutnya dengan tidak menyenangkan.
Well, Itachi tidak pernah terlambat sebelumya.
Naruto meletakkan berkas-berkas yang sudah ia ambil dari kantor Itachi di meja.
Dia menarik napas panjang, lalu membuangnya.

Tenang, Naruto.

"Hoi. Kemana sensei?" Kiba mewakilkan pertanyaan seisi ruangan.

"Ehem" Naruto berdehem sekali mencoba memudarkan gugup. "Teman-teman, Itachi-san tidak bisa hadir hari ini. Dia sakit sejak tadi malam. Jadi yah.. Hari ini aku gantikan Itachi-san"

"Huuuuu" Kemudian riuh lagi. Kali ini mereka mengeluh kecewa.

"Kenapa harus kau sih? Aku tidak mau bertambah bodoh loh" Komentar Kiba yang di setujui dengan anggukan-anggukan mahasiswa lain.

"WOY. AKU INI ASISTEN DOSEN. AKU LEBIH PINTAR DARI KALIAN SEMUA"

"Huuuuuuu" Kali ini satu diantara mereka melemparkan kertas yang sudah di remas-remas ke kepala Naruto.

"Sial kau! Siapa yang melempariku tadi HAH!? Coba tunjukkan wajahmu!"

Pluk. Pluk. Pluk. Pluk. Pluk. Pluk. Pluk.

"GYAAAA" Jerit Naruto.

Kali ini puluhan kertas dan beberapa pulpen bersamaan melayang kearah Naruto yang kemudian bersembunyi di bawah meja.

Sasuke hanya menggeleng malas menyaksikan histeria tidak penting di ruangan itu.

Itachi sakit, ya.

Tentu saja, Sasuke khawatir.
Sakit apa memangnya dia. Seingat Sasuke, Itachi rajin ke gym. Dia punya pola makan yang sehat, bahkan apapun dia masak sendiri.
Intinya, orang itu tidak mudah sakit.
Atau jangan-jangan Itachi terkena virus? Wabah? Kecelakaan? Apakah dia sudah pergi ke dokter?
Ah, semoga saja sudah.
Tapi bagaimana jika belum?
Bagaimana jika sakitnya cukup parah sehingga untuk ke dokter saja dia tidak mampu?

Sasuke meraih ponsel di kantungnya, berniat menulis pesan singkat untuk sang kakak.

'To : Baka Aniki

Kau sakit apa?'

Dia cukup ragu saat harus menekan tombol send.

Berhenti selama beberapa detik, akhirnya Sasuke malah menekan tombol merah.
Dia membatalkan niatnya.
Tidak bisa.
Setelah semua yang terjadi, tidak bisa.
Kenapa dia harus tahu soal kabar yang sepantasnya ia ketahui lebih dulu itu... Dari Naruto?
Seberapa banyak Itachi berkomunikasi dengan anak itu?

Selalu Naruto. Hanya Naruto.

Kenyataan ini hanya akan menyulut api kekesalan di sudut hati Sasuke. Api kekesalan yang selalu membakar habis sampai yang tersisa hanya rasa sakit tanpa obat.
Rasa sakit yang menyadarkannya bahwa dia belum bisa menghapuskan perasaan cinta itu dari Itachi.
Bahwa Itachi telah berhasil menggantikan dirinya dengan Naruto.

Bahwa semua kenyataan berjalan menginjak, seolah tertawa padanya.
Menertawakan kehancuran dan jatuhnya airmata seorang laki-laki.

Takdir ini mempermainkannya. Kejam. Tidak sayang padanya.

Setelah jam kuliah yang akhirnya di isi oleh Neji, Sasuke tak segera kembali ke gedung asrama melainkan meluncur ke supermarket yang berjarak cukup jauh dari Konoha menggunakan bis.

Dia mengambil dua kotak teh hitam dengan campuran ginseng di deretan teh yang terpajang disana— yang hanya dijual di supermarket itu. Lalu sebelum beranjak menuju apartemen Itachi, Sasuke juga tak lupa membeli bubur salmon panas yang juga tersedia di seberang tempat itu.
Cukup kesulitan, karena hari saat itu sedang hujan. Tak apalah, hanya dua jenis makanan ini yang Itachi suka saat ia sakit. Sasuke ingat saat Itachi harus dirawat di rumah sakit dan tidak memakan apapun kecuali bubur salmon dan teh ginseng.

Sasuke harus menaiki bis yang berlawanan, karena sesungguhnya jarak Konoha dengan supermarket itu dua kali lipat dari jarak menuju apartemen Itachi.
Jadi yah, dia harus balik lagi.

Sasuke meletakkan payung hitamnya yang sudah tertutup di pinggiran pintu, lalu mengeringkan sepatunya di keset yang terletak di sana.
Dia mengetuk pintu kayu oak itu beberapa kali.
Sepuluh detik tanpa jawaban, ia mengetuk lagi.

"Aniki. Ini aku" Tambahnya. Seraya menunggu, Sasuke menggosok-gosok lengannya menyamarkan dingin.
Dingin sekali hujan barusan itu.

Lagi, belum ada respon. Kali ini ia sudah menunggu nyaris tiga menit lamanya.
Penasaran, Sasuke meraih kenop pintu dan mencoba membukanya lembut.

Tidak terkunci.

Sasuke masuk. Sesaat ia takjub, pertama kalinya memasuki apartemen Itachi.

"Aniki?" Sasuke mengedarkan pandangannya, mencari sosok sang kakak.
Ia lalu menghampiri satu-satunya kamar di sana yang pintunya terbuka.

Begitu masuk, pemandangan cukup mengenaskan menyapanya.
Itachi terbaring lemah dengan selimut yang rapat dan mata tertutup. Wajahnya juga tampak begitu pucat.

Sasuke lalu duduk di pinggiran ranjang besar itu.

"Kau sakit apa?" Tanya Sasuke.

"Sasuke, ya?" Lirih Itachi tanpa membuka matanya "Cuma tifus"

"Jangan pakai 'cuma', bodoh. Sejak kapan?"

"Kemarin"

"Kenapa kau bisa kena tifus sih?"

"Tidak tahu"

"Sudah ke dokter?"

"Hm"

Itachi masih enggan membuka matanya. Benar-benar sakit rupanya dia.
Rambutnya jatuh teracak, aroma obat-obatan memenuhi kamar yang pengap karena tirai terus tertutup.
Berantakan.
Sasuke berniat menyiapkan makanan yang ia bawa, sebelum pandangannya menangkap sesuatu di meja kecil disebelah ranjang itu. Selain obat, gelas, dan wadah untuk air kompres, ada sesuatu disana.
Sebuah mangkuk kosong.

"Kau sudah makan?"

"Hm" Gumam Itachi "Tadi Naruto membawakanku bubur gandum"

Rasa nyeri yang cukup bersahabat itu datang lagi di sudut batin Sasuke.

"Oh, Naruto" Lirih Sasuke. Dia mengurungkan niatnya untuk menyiapkan bubur dan teh yang ia bawa.

Dia keduluan lagi.
Dia kalah lagi.
Kalah telak.
Bahkan untuk urusan sepele seperti ini, Naruto sanggup mendahuluinya.
Kenapa tak ada sedikit saja kesempatan untuk Sasuke merasakan apa itu kebahagiaan kecil?

Seperti saat Itachi tersenyum padanya, misalnya.
Yang kini senyuman itu telah di miliki orang lain.
Bukan dirinya.

"Jadi benar.." Lanjut Sasuke tersenyum pahit "...Kau sudah sungguh- sungguh sudah menyukai Naruto?"

Itachi membuka matanya spontan.
Sasuke tak bergerak dan tetap menatap lantai. Menahan rasa sakit yang kian memanas.
Tapi ada satu hal yang penting.
Secara tidak langsung, Sasuke mengakui bahwa dia adalah theblackstark lewat pertanyaan barusan.

Sasuke mengaku, dialah yang waktu itu mengatakan berada dalam situasi yang sama dengan Itachi, yaitu jatuh cinta pada saudara sendiri.

Sasuke mengaku, dia mengetahui bahwa Itachi juga pernah jatuh cinta padanya.

"Ya" Jawab Itachi tanpa banyak bertanya. Dari sana, seolah dia mengakui segalanya juga.

"Kau tahu, Naruto juga menyukaimu"

"—?"

"Dia sudah mengatakannya padaku bahwa dia menyukaimu" Sasuke meremas kantung plastik di tangannya kuat-kuat. Mencoba melampiaskan rasa sakit itu. "Apa yang akan kau lakukan? Kau akan segera menyatakan perasaanmu?"

Kali ini tanpa perlu menjadi theblackstark, Sasuke bertanya.

"Entahlah. Cepat atau lambat pasti"

Pasti.

Pasti dia akan bersama Naruto, begitu?
Sudut mata Sasuke memanas, tapi dia terus menahan diri agar tidak tampak bodoh, menangis di hadapan kakaknya.

Tapi tak perlu menjadi bodoh. Itachi bisa melihat airmata tersembunyi itu.
Dia tahu Sasuke terluka.
Dia tahu seandainya dia bisa memeluk sosok indah itu dalam rengkuhannya dan memilikinya.
Jika saja Sasuke bukan adiknya.

Rasanya tak kalah menyakitkan ketika harus melihat orang yang di cintainya terluka dan ia tak bisa berbuat apa-apa.

Itachi lalu beranjak dari tidurnya dengan kepala yang limbung, lalu duduk di sebelah Sasuke.

"Itu.. Apa yang kau bawa?"

"Kenapa kau harus menggantikan aku dengan bocah pirang sialan itu?" Sasuke mengabaikan pertanyaan Itachi dan malah balik bertanya. Tak perlu ada yang ia sembunyikan karena ini hari terakhirnya di Konoha, bukan?

"Tidak ada pilihan, Sasuke"

"Ada!" Sasuke menoleh, menatap lurus sepasang intan hitam milik Itachi "Kau bisa mengatakannya padaku. Kau bisa mengatakan semuanya sebelum kau bertemu dengan Naruto. Kau bisa abaikan apa kata dunia dan katakan. Kau tahu aku selalu punya perasaan yang sama, Itachi!"

"Tidak semudah itu, Sasuke" Itachi meraih rambut Sasuke yang cukup berantakan, lalu merapikannya pelan. Indah sekali wajah itu. "Dengarkan aku baik-baik. Kita sama-sama laki-laki. Dan bukan cuma itu, kita saudara. Aku kakakmu, kau adikku. Pikirkanlah, hubungan seperti ini tidak akan bertahan lama. Apa kata Tou-san, Kaa-san, dan semuanya? Mereka bekerja keras untuk kita. Suatu hari nanti aku harus menikah dengan seseorang. Begitu juga kau. Kelanjutan darah Uchiha ada di tangan kita dan aku tidak ingin membawamu kedalam sesuatu yang terlarang seperti ini. Apapun yang terjadi, kita tidak bisa bersama. Seberapapun perasaan yang aku punya, tetap tidak bisa. Kau mengerti, Sasuke?"

"Aku tidak mengerti" Sasuke menyingkirkan tangan Itachi dari kepalanya "Terserah apa katamu. Menyukai seseorang itu bukan sesuatu yang salah. Kau tahu itu"

Rasanya cukup sulit untuk membuat Sasuke mengerti dengan keadaan ini.
Tapi Sasuke bukannya tidak mengerti. Dia tak ingin mengerti.
Dia membutakan mata dan menulikan telinga dari dunia saat ini.

"Maaf, Sasuke" Tak ada yang bisa meluncur dari tenggorokan Itachi kecuali kalimat jahat itu.

Sasuke tak memberi respon apapun, dia hanya beranjak lalu pergi meninggalkan sang kakak tanpa pamit. Tanpa menoleh.
Dia berjalan cepat. Dan ketika ia sampai di ambang pintu untuk mengambil payungnya, dia melemparkan bungkusan di tangannya ke keranjang sampah yang terletak disana dengan keras.
Dia mematung, tangannya mengepal, dan air itu kembali jatuh.

"Sial" Rutuknya pada diri sendiri. "Sial"

Setelah menggosok matanya, Sasuke melanjutkan langkah cepatnya.
Dia tak bisa disini. Dia harus kembali.
Sekarang juga.
Saat ini juga.

Sebelum kenyataan ini benar-benar membunuhnya.
Sebelum semua terjadi lebih buruk lagi.

"Loh Sasuke, kau mau kemana?" Tegur Shizune saat Sasuke menyerahkan kunci kamar miliknya di meja informasi. Dengan ransel besar dan kopor di tangannya.

"Pulang"

"Hoi setidaknya tunggu hujan berhenti dulu"

Sasuke tak menjawab, dia tetap berjalan cuek keluar gedung.
Bahkan keputusannya untuk menjenguk Itachi saja salah.
Apa ada alasan untuknya tidak menunda kepergian ini?

Dia akan pulang, lalu membujuk Fugaku untuk memindahkannya jauh.

Jauh dari Itachi.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Naruto meraih bungkusan hitam itu dari tempat sampah yang awalnya memang kosong. Menatapnya nanar, tak percaya.
Ya.
Naruto mendengar semuanya. Dia bersembunyi di bawah tangga saat Sasuke keluar. Tapi dia mendengar semuanya.

Dia dengar soal Itachi yang menyukai Naruto.
Dia dengar soal Naruto menggantikan Sasuke.
Pembicaraan itu tak menyinggung secara langsung, tapi Naruto bisa menyimpulkan bahwa kakak beradik itu saling menyukai.

Bahwa dia berada diantara mereka.

Ketika perasaannya terhadap Itachi telah menjadi kesungguhan.

Naruto mengerjap, mengabaikan rasa sakitnya lalu memasang wajah ceria yang menjadi ciri khasnya itu, dan membuka pintu.

"Aku sudah kembaliii. Hehe" Naruto cukup kaget saat Itachi tak lagi terbaring, tapi duduk di pinggiran ranjangnya. "Loh, kenapa tidak tiduran saja?"

"Sudah sedikit membaik kok" Itachi tersenyum kecil.

"Oh, baguslah! Aku sudah dapat parasetamolnya nih"

"Terima kasih" Lirih Itachi sambil menatap lantai.

Naruto tahu dari mana asalnya ekspresi itu.
Dia tahu apa sebabnya.
Naruto meletakkan bungkusan di tangannya di meja, lalu duduk di sebelah Itachi.

"Aku menemukan itu di tempat sampah. Isinya bubur salmon yang sudah dingin dan teh ginseng" Ucapan Naruto membuat Itachi mengangkat wajahnya. Jadi itu yang Sasuke bawa tadi. "Sasuke tadi kesini ya?"

"Hm"

"M-Mau kubuatkan tehnya? Teh ginseng baik sekali untuk tubuhmu loh"

"Tidak perlu, Naruto. Kau sudah berbuat banyak"

"Ah, t-tidak apa-apa.."

"Naruto" Itachi menoleh, menatap lurus sepasang berlian sebiru lautan itu "Boleh kukatakan sesuatu?"

Dia juga tak boleh menunda. Tak boleh kalah dengan perasaannya.

Sementara Naruto tahu, kemana arah pembicaraan ini. Tapi dia tak bisa melontarkan kosa kata apapun.
Tatapan itu terlalu dalam, seolah merasuk memenuhi dirinya.
Tanpa menunggu sepatah jawaban dari Naruto, Itachi mendekatkan wajahnya perlahan, mencoba menangkap bibir si pirang itu.
Naruto beku seketika. Jantungnya berdebar panas ketika ia mulai merasakan nafas hangat dan segar itu. Separuh bagian dirinya begitu menantikan saat-saat ini. Tapi ketika jarak telah menipis, hanya terpisah sepersekian sentimeter saja, Naruto menghindar, mundur dari sosok di hadapannya.

"I-Itachi-san.. K-Kau cuma sedang bingung" Naruto tergagap melawan debar jantung yang berderap cepat atau rasa menggelitik di perutnya. "A-Aku paham perasaanmu sedang kacau"

Itachi hanya menghela nafas panjang atas sikap bodohnya.

"Maaf, Naruto. Aku tidak tahu kalau kau.."

"B-Bukan begitu, Itachi-san! Bukannya aku tidak menyukaimu. Bukan." Sela Naruto "Aku.. Aku selalu suka Itachi-san. Kau mengubahku. Kau.. Punya arti yang sangat besar dalam hidupku. A-Aku sangat menyukai Itachi-san. Sungguh"

Itachi cukup takjub saat Naruto mengatakan semuanya dengan terang tanpa sedikitpun keraguan.

"...Tapi.. Yang sesungguhnya ada di hati Itachi-san bukan aku" Tambah Naruto dengan volume suara yang kian melirih.

"Itu tidak benar-"

"Aku tahu, Itachi-san sudah berusaha" Sela Naruto, memasang senyuman yang di paksa. "K-Kau.. Sudah berusaha menyukaiku sebisamu. Aku menghargai itu. Jika kau suka Sasuke, maka kau harus jujur pada dirimu sendiri. Bukan melawannya"

Itachi masih tak percaya Naruto bisa tetap tersenyum mengatakan hal yang jelas-jelas menyakitkan itu.

"... Apa yang Itachi-san bilang memang benar. Tapi, cinta itu tidak datang dua kali untuk orang yang sama. Karena itu, saat kau jatuh cinta pada seseorang, siapapun itu, yang perlu kau lakukan adalah menjaga perasaanmu" Lanjut Naruto "Itachi-san, kau tidak perlu merasa bersalah padaku. Kau orang yang sangat baik. Kau dosen terbaikku, membuatku rajin belajar, sekaligus sahabatku, saudaraku. Karena itu, tetaplah menjadi Itachi-san yang kukenal. Kau tidak perlu memberikan apapun lagi, aku sudah mendapatkan segalanya sejak mengenalmu"

Naruto mengingat segala hal yang membuatnya jatuh cinta pada Itachi. Segala hal yang merubah hidupnya. Semua waktu yang ia habiskan bersama Itachi. Seolah cukup untuk membayar perasaan sepihaknya. Naruto mungkin patah hati, tapi dia lega. Dia tidak menyesal. Dia tidak kecewa.
Baginya kebahagiaan-kebahagiaan kecil itu sudah cukup.

Naruto terhenyak saat tiba-tiba Itachi memeluknya. Membenamkan pirang itu ke dadanya yang bidang.
Tak ada yang bisa Itachi berikan lagi pada sosok penuh dedikasi itu.

"Terima kasih, Naruto"

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Naruto berjalan lunglai. Layu. Mengabaikan sapaan-sapaan sepanjang ia menelusuri koridor asrama.
Pandangannya entah dimana. Pikirannya tidak disini.
Dia memang merelakan, tapi dia juga tak mampu berbohong pada dirinya sendiri bahwa hatinya sakit. Serasa seluruh dunia barunya yang damai itu luluh lantah.

"Tadaima" Naruto membuka pintu kamarnya dan kosong seketika menyapa.

Sasuke memang kadang-kadang pergi tanpa pamit. Tapi kali ini aneh. Semua barang-barang itu tidak ada.
Untuk memastikan, Naruto membuka laci-laci meja Sasuke, juga lemari.
Semuanya kosong.
Kemana Sasuke? Apa dia pindah kamar?

Apa semua ini ada sangkut pautnya dengan dirinya?

"Oi Shizune-san"

"Apa Naruto?" Shizune menyeruput kopi panasnya dari balik meja informasi.

"Kau tahu tidak Sasuke kemana?"

"Loh?" Shizune tampak terkejut "Kau tidak tahu?"

Naruto menggeleng pelan.

"Dia kan kembali ke rumahnya"

"HAH!?" Seru Naruto "SEJAK KAPAN!?"

"Ck. Kau bertengkar dengan dia ya? Pantas. Sudah kubilang disini kau harus jaga sikap terhadap teman-temanmu"

"Hoi aku tanya kapan dia pergi!?"

"Yah, yah baiklah kuberi tahu. Tadi. Sekitar setengah jam yang lalu"

Naruto mulai kehilangan pikiran. Ini pasti karena dirinya. Dan dia tidak bisa diam saja membiarkan Sasuke pergi hanya karena ia berada diantara mereka.

Dia tak ingin menjadi penghalang. Tidak lagi.

Sementara Itachi yang tengah menghangatkan bubur salmon itu dan memakannya, terhenyak berkat dering ponsel yang menampakkan nama familiar disana.

"Ya, Naruto?"

"Itachi-san, S-Sasuke! Sasuke!" Naruto panik, pusing, tak tahu bagaimana mengungkapkannya disana.

"Tenang, Naruto. Sasuke kenapa?"

"Dia pergi! Maksudku, dia pulang ke rumahnya. Shizune-san bilang Sasuke sudah berangkat ke stasiun sejak setengah jam yang lalu"

"Benarkah?"

"Benar, Itachi-san. Aku sudah mencoba menelponnya dan dia tidak menjawab. Tolong, hentikan dia. Kali ini jangan bohongi perasaanmu lagi, Itachi-san"

Itachi tak menjawab untuk sesaat. Tindakan bodoh apalagi yang Sasuke perbuat sih?
Dia ingin diam dan membiarkan saja anak itu melakukan apa yang dia putuskan.

Tapi tidak dengan kondisi hati yang hancur atau perasaan yang sakit.

"Baiklah aku akan ke stasiun sekarang" Itachi mematikan panggilan itu lalu memasukkan ponselnya ke saku celana.
Keadaannya belum pulih betul. Tapi untuk sekedar menyetir mobil di tengah hujan malam hari..

Well, dia akan berusaha.

Setelah mengenakan jaket tebal, Itachi segera melesatkan chevrolet hitamnya menuju stasiun.

Jalan cukup gelap, pandangannya terkadang kabur berkat derasnya hujan. Yang terlihat hanya kedipan-kedipan lampu jalan atau kendaraan lain.

Untunglah, stasiun tak berjarak terlalu jauh.

Setelah memarkirkan mobilnya, Itachi segera menuruni tangga dengan setengah berlari. Siapa tahu Sasuke masih berada di stasiun bawah tanah itu.
Sepi. Dengan kepala yang lumayan berat Itachi mengedarkan pandangan ke segala sudut. Benar-benar sepi. Tak ada orang, tak ada kereta.

Tapi tak lama kemudian, beberapa meter di depan, matanya menangkap sosok yang tengah duduk di bangku panjang dengan ransel di punggungnya dan kopor besar di sampingnya yang ia biarkan berdiri.

Itu Sasuke.

"Sasuke" Itachi memanggil Sasuke yang tampaknya belum menyadari kehadirannya.
Dan begitu ia menoleh dan melihat Itachi berdiri disana, entah insting macam apa yang membuatnya beranjak dari duduknya lalu..

Lari.

Ia meninggalkan tempat itu. Bahkan Sasuke lupa soal kopornya.
Ah, siapa peduli.

"Tunggu sebentar" Itachi menghampiri adiknya yang masih menjauh tanpa berpikir jernih itu.

Sasuke justru mempercepat langkahnya.
Mau apa lagi orang itu?
Sasuke tak ingin melihatnya dan goyah. Tidak lagi.
Itachi menyukai Naruto. Ingat itu, Sasuke.

Sasuke berlari tanpa berpikir dan tanpa melihat. Pandangannya kosong. Dia hanya ingin menjauh dari orang itu.
Dan tanpa diduga, beberapa langkah di hadapannya berdiri tempat sampah besar sehingga ketika Sasuke menabraknya-

-ia terjatuh.

Tubuhnya menghantam lantai dengan keras, menyebabkan benturan yang cukup menyakitkan. Sasuke meringis sakit, lalu meraba keningnya yang terasa luka. Dan benar saja, ada darah disana. Sial.

"Dasar bodoh" Tiba-tiba Itachi sudah berdiri disitu, mendengus malas menanggapi tingkah Sasuke. "Kembali. Cepat"

Mendengar perintah semena-mena sang kakak, Sasuke lalu melemparkan ranselnya keras—

BUK!

—tepat ke wajah Itachi.

"Pergi sana! Jangan ganggu aku!"

"Kau tidak boleh pulang" Itachi memijat pelipisnya sesaat, ransel berat itu cukup menyakitkan juga. Tapi ia justru mengalungkan ransel itu ke bahunya "Ikut aku"

"Heh! Kembalikan tasku!"

"Tidak. Kau yang melemparnya. Sekarang berhentilah mengoceh dan ikut aku" Itachi mendekat lagi pada sosok di hadapannya yang mundur secara spontan.

"Tidak mau! Aku harus pulang!"

"Tidak boleh" Dengan cepat Itachi meraih pergelangan tangan sang adik yang masih tersungkur di lantai itu lalu menggandengnya— atau menyeretnya— keluar dari stasiun.

Sasuke benci ini. Dia merasa dipermainkan. Dia merasa seperti barang yang bisa Itachi pakai dan buang sesukanya. Dia benci ini.
Atau, dia benci karena Itachi tak memberinya kejelasan apapun atas tindakan-tindakan posesifnya.

"Aniki lepaskan tanganku! Keretanya sebentar lagi datang"

"Kau tidak akan pergi kemana-mana" Itachi meraih kopor yang tadi terabaikan itu dengan tangan kanannya, sementara tangan kirinya masih menggegap Sasuke.

"Kau tidak bisa seenaknya begitu!" Seru Sasuke masih sambil meringis menahan perih di keningnya. Dan di hatinya.

"Kau masih punya kuliah besok"

"Aku tidak peduli! Aku mau pindah!"

"Tidak boleh"

"Huh! Dasar sial!" Sasuke menahan panas di wajahnya. Dia tidak boleh menangis. Tidak lagi. Tidak di hadapan Itachi "Kau sudah punya Naruto, idiot! Jangan pikir kau bisa melakukan ini padaku setelah kau memilih dia!"

"Jika aku memilih Naruto, lalu untuk apa aku kesini?" Sahut Itachi tanpa menoleh. Dia tetap berjalan menyeret sang adik yang terhenyak, antara takjub dan takut. Takut apabila dia salah mengartikan ucapan Itachi.

Sasuke tak bisa menjawab. Mulutnya seolah terkunci seketika. Genggaman tangannya mengendur, pertanda dia tak mencoba berontak lagi.
Diam-diam dia memohon agar ini bukan lagi sekedar harapan kosong yang berujung pada penyiksaan batinnya.

Dia lemah berkat seutas kalimat yang tak menjanjikan apapun itu. Dia bodoh.

.

.

.

.

.

.

.
"Itte!" Jerit Sasuke saat Itachi mendaratkan kapas yang sudah di bubuhi antiseptik itu ke kening Sasuke yang terluka. "Pelan sedikit!"

"Kau ini sudah besar. Jangan mengeluh" Itachi membersihkan luka yang cukup lebar itu dengan lembut. Tapi tetap saja rasanya perih.
Sasuke merapatkan matanya dan mengerinyit menahan sakit. Membuat Itachi tersenyum geli disana. Dia mendengus, setengah tertawa. Dan nafas hangatnya sedikit menyapu permukaan wajah Sasuke.
Mendadak sakit di keningnya hilang.

Kamisama, jarak sejuta watt.

"Nah selesai" Itachi mengaplikasikan plester sebagai langkah terakhir.
Sasuke membuka matanya dan Itachi disana, menatapnya dengan teduh.
Sial.
Doki-doki jantungnya menggelinjang hebat.
Dan dia bukan satu-satunya manusia di ruangan ini yang di penuhi rasa bergelora.
Tentu, Itachi merasakan hal yang sama.
Adiknya yang manis, adiknya yang begitu cantik meskipun dengan luka di wajah yang mensiratkan lelah itu kini berada di hadapannya. Tanpa penghalang. Tanpa syarat.
Dia miliknya.

Sasuke tanpa sengaja menangkap pemandangan aneh. Bubur salmon yang ia buang tadi telah terhidang, hampir habis di mangkuk yang terletak di meja itu.

"Itu kan.." Lirih Sasuke. Ya Tuhan. Itachi memakannya. "Sudah dingin. Kenapa kau makan?"

"Karena kau yang membawanya"

Oh. Kalimat sejuta watt. Gila.

Sasuke lalu melemparkan pandangannya ke segala penjuru. Kemanapun lah, asal jangan sepasang mata Itachi yang berbahaya itu.
Berbahaya, karena selalu berhasil melemahkan siapa saja.

Namun belum sempat Sasuke menoleh, tangan kanan Itachi menahan pipinya dengan halus, lalu menuntunnya mendekat pada wajahnya sendiri dan—

—menciumnya.

Jelas ini bukan ciuman sayang dari kakak untuk adiknya. Karena dia tak mencium dahi ataupun pipi. Melainkan bibir tipis Sasuke yang tadi memarahinya, membentaknya, dan mengatakan dengan jujur punya perasaan yang sama dengannya.
Awalnya Sasuke kaget, tapi ia melemah bersama kecupan yang kian mendalam. Ini bukan mimpi. Ini bukan harapan kosong.
Dia tak bisa bergerak. Syarafnya lumpuh. Jiwanya melayang.
Hawa posesif itu datang tanpa mengenal batasan.
Itachi menciumnya, tangannya menopang punggung kepala Sasuke yang nyaris jatuh karena perlakuan surgawi itu.
Keduanya larut dalam dosa yang manis. Mengecap rasa satu sama lain dengan lembut dan dalam.
Sampai kebutuhan untuk bernapas memaksa Itachi melepaskan ciumannya.
Dipandangnya wajah sang adik yang kini semerah tomat kesukaannya itu.

Sasuke meluruskan tatapan penuh pertanyaan. Itachi yang paham akan hal itu akhirnya angkat bicara.

"Maafkan aku karena sudah membuatmu bingung, Sasuke," Itachi tersenyum tipis kemudian "Mungkin memang benar. Kita tidak akan selamanya seperti ini. Suatu hari nanti kau akan menikah dengan seorang wanita, begitu juga aku. Jadi.. Sampai saat itu tiba—"

Katakan, katakan.
Persetan soal menikah. Sasuke tak peduli itu. Dia hanya butuh Itachi untuk membuatnya tetap hidup.

"—tetaplah di sampingku, Sasuke. Kita harus menjaga perasaan saat ini. Jangan menahan diri atau menghindar lagi" Itachi mengusap lembut rambut-rambut yang jatuh membentuk wajah Sasuke "Aku suka kau"

"Aku juga—" Jawab Sasuke cepat "—aku juga menyukaimu"

Bukan main. Meski awalnya terasa buruk, Sasuke bersumpah ini adalah hari terbaik yang pernah terjadi di hidupnya.
Dia merasa segala bebannya terbang. Segala lukanya terobati.

"Jadi, kau tidak boleh pergi" Itachi mengetuk bagian kening Sasuke yang tak terluka dengan jari telunjuknya "Mr blackstark"

"Baiklah kau menang, Beaver jelek" Sasuke kembali memasang topeng datarnya meskipun batinnya tengah berpesta di taman bunga langit ke tujuh sekarang.

"Sasuke," Itachi lalu tertwa kecil. Ada sedikit seringaian aneh disana yang terasa jahil dan.. Well, menggoda? "Tinggallah bersamaku"

Dan wajah Sasuke memerah lagi.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.
"GYAAAAAAAA MASIH PERINGKAT DUA!" Naruto histeris "Padahal aku sudah pakai cheat! Apa seharusnya aku bermain jujur ya!?"

Setelah menggerutu, Naruto menggeser laptopnya ke sembarang arah sambil mengumpat apa saja.
Dia lalu berbaring telentang, menghela nafas sedalam-dalamnya.

"Walaupun teme menyebalkan dan sok pintar, kalau tidak ada dia rasanya sepi juga" Naruto berbicara pada dirinya sendiri.

Seminggu telah berlalu sejak Sasuke tinggal di apartemen Itachi. Naruto mengarang cerita pada shizune bahwa Sasuke mempunyai masalah dengan Karin sehingga Sasuke ingin menghindari gadis itu.

Cukup dirinya, Itachi, dan Sasuke yang tahu soal permasalahan cinta berputar-putar mereka itu.
Sampai detik ini, semuanya masih tersimpan rapi.
Sampai detik ini, Naruto masih dalam usahanya untuk menghapuskan jejak-jejak perasaannya yang masih terperangkap pada Itachi.
Meskipun tidak mudah, dia yakin dia bisa.

"Itachi-san kan jelek. Aku pasti bisa biasa lagi padanya. Aku pasti bisa berhenti suka padanya. Hehe" Gumam Naruto menghibur dirinya sendiri.

BRAK!

Naruto terkerjap saat pintunya terbuka paksa dan kasar.

"SUDAH KUBILANG LEPASKAN AKU, NENEK BAWEL! AKU MAU TINGGAL DISINI!" Pemuda itu berteriak pada sosok wanita tua yang memegangi lengannya.

"TIDAK BOLEH! CUCU DURHAKA! AKU SUDAH MELARANGMU! KAU PASTI MAU TINGGAL DISINI KARENA BANYAK WANITANYA! IYA KAN!? "

"BAWEL KAU NENEK UBANAN!"

"APA KATAMU!?" Sang nenek melepaskan genggamannya dan bersiap melepas sandal yang hendak ia lemparkan pada wajah si pemuda berambut merah itu yang lalu memanfaatkan kebebasannya, menjulurkan lidahnya untuk mengejek sang nenek sesaat lalu membanting pintu itu lagi dan menguncinya.

Naruto menganga takjub tanpa bergerak. Apa barusan itu?

Sempat terdengar suara sayup si nenek yang berteriak mengutuk cucunya yang sepertinya di tenangkan oleh Shizune kemudian.

Naruto menelan ludah. Ternyata ada makhluk menakutkan juga selain ibunya.
Tampang pemuda ini mungkin tak kalah tampan dengan Sasuke ataupun Itachi. Rambutnya merah, kulitnya cerah, hidungnya mancung, serasi dengan kontur wajahnya yang indah dan tubuhnya yang tinggi.
Ia lalu melemparkan tasnya ke sembarang arah dan duduk di pinggiran ranjang yang dulu ditempati Sasuke.
Menyadari pandangan Naruto yang tak kunjung lepas, pemuda itu memicingkan matanya tajam.

"Apa!?"

"T-Tidak" Naruto menggeleng. Pemuda itu harusnya memperkenalkan diri. Tapi tampaknya dia terlalu congkak untuk itu.

"Siapa kau!?" Tanyanya sombong.

"Uzumaki Naruto" Sahut Naruto setengah tidak niat "Fakultas hukum. Semester dua"

"Oh" Pemuda itu mendelik Naruto dari atas kebawah "Baguslah. Artinya kau bisa jadi teman sekelas pertamaku!"

"Hah?" Naruto bingung. Sebingung-bingungnya. Makhluk abstrak macam apa sih dia? Masuk seenaknya, tidak memperkenalkan diri, dan memanggil Naruto teman?

"Kau main CSO?" Komentar pemuda itu saat melihat layar laptop Naruto yang masih menyala.

"Iya"

"Jangan-jangan kau Uzumaki10 ya!?" Raut wajah pemuda itu berubah tiba-tiba. Seolah menemukan secercah semangat atau apa.

"Ya, itu aku"

"Hebat! Kau pernah berada di peringkat pertama kan? Tapi akhir-akhir ini aku berhasil menggeser posisimu!"

Kali ini wajah Naruto yang berubah menjadi bersemangat.

"Jangan-jangan kau ReDevil ya!?"

"Benar! Itu aku!" Pemuda itu bersemangat.
Mereka menemukan kawan yang memiliki hobi yang sama. Dan itu terasa sangat menyenangkan.

"Sugeeeee aku tidak menyangka bisa bertemu saingan terbaikku!"

"Aku juga! Oh iya! Kenalkan, namaku Kyuubi. Namikaze Kyuubi!"

Dan begitulah.

Perkembangan segalanya jadi begini.
Satu kerumitan berakhir, tapi bukan berarti mereka tak akan menemui kerumitan-kerumitan lainnya.

Tapi setidaknya, tidak serumit sebelumnya.

Well, kedatangan Kyuubi menjadikan rekor mahasiswa-paling-sering-ditegur milik Naruto tergeser telak.

Kali ini, Itachi harus terbiasa memanggil kedua orang itu bersamaan. Dia juga harus terbiasa mendengar rengekan permintaan belas kasihan mereka yang tak akan ada gunanya.
Naruto dan Kyuubi benar-benar menjadi rekan yang cocok. Mereka di hukum bersama, beradu suara berisik dari laptop mereka bersama, bermalas-malasan bersama dan kebingungan bersama.
Tetap saja, Sasuke yang menjadi korban untuk dijadikan guru tambahan secara paksa oleh mereka.

Bagaimana dengan Karin? Well, Sasuke sempat bertemu dengan gadis itu di kafetaria. Bersama seorang pemuda berambut biru. Pemuda yang membalas tatapan Karin dan mengalungkan syal miliknya di leher gadis itu saat salju mulai turun. Mereka bahkan bergandengan tangan dan saling memberikan senyum.
Sasuke lega, tentu saja.

Luka semuanya telah terobati bersama waktu yang selalu tak bisa di tebak.
Juga perasaan.

Karena cinta itu buta, cinta itu tuli, cinta itu tak menentu.
Misalnya, siapa yang tahu cinta pertama Sasuke adalah kakaknya sendiri? Siapa yang menyangka cintanya terbalaskan?

Halangan dan pertentangan mungkin akan selalu ada.
Perasaan mereka mungkin akan berubah dan berputar suatu hari nanti.
Karena itu, supaya tidak menyesal nantinya, perasaan saat ini harus di jaga.
Agar ketika tiba saat dimana mereka harus mengenangnya, mereka akan mengenangnya dengan senyuman.

Cinta memang selalu rumit.

Love is just that Complex!

.

.

.

.

.

.

.
= END =

A/N : Yoshaa akhirnya selesai juga \(^w^)/
Lega rasanya. Mudah-mudahan endingnya gak mengecewakan ya.
Terima kasih banyak lho atas dukungan, review, fave, dan lain-lain dari kalian semua yang nggak bisa kusebutin satu-satu!
Tanpa kalian, fic ini mungkin ngga akan selesai.
Sekali lagi, terima kasih banyak!
Saya akan terus berusaha menulis lebih baik lagi m(_ _)m

Special thanks! : Daehyuk Shin, Frilia269, .1, son sazanami, kazusa kirihika, Wookie, UzumakiKagari, Maehime, Nabila Chan BTL, jiie, ruri rahman, Rannada Youichi, Subaru Abe, ExoLandKECEtar, ha-chan, Fuyuki Fujisaki, LovelyHime, Qren, TheBrownEyes'129, Kitsune Syhufellrs, kim arlein 17, Achiez, Kazawa No Ghita, Leslayy, Earl Louisia vi Duivel, , Iko Nacht, pitalica, 7D, Iko Nacht, BlacknightSkyeye Yue- Hime, Mikiraa, sheila-ela, Leomi no Kitsune, nans, Yuu, DEVIL ON THE HEL, oguri miruku, ai selai strawberry, Mushi kara-chan, dan semua 'Guest' yang sudah berkenan review, fave, dan follow. Hiksu,... Arigatooo

Mohon maaf, kalau saya ndak sempat balas review. Saya selalu online dari hape, dan buka komputer cuma kalao mau publish doang jadi yah.. begitulah T.T

Semoga pertanyaan anda semua terjawab di ending yang abal ini.

Siapa Kyuubi?

Well, disini dia bukan saudara Naruto lho.

Dia mahasiswa pindahan gitu.

Lalu.. Apakah ada sekuel?

Entahlah, kalau mood mendukung ._.v #ditaboks

Pokoknya, sekali lagi terima kasih banyak. Dan jangan kapok buat baca-baca tulisan saya ya! #kissu

Purwokerto, 30 Agustus 2013