When It Rain
Disclaimer : Cerita milik Xylia Park.
Genre : Romance
Rating : T
Lenght: Two shoot
Warning : OOC, Alur amburadul, tidak sesuai EYD, Typho, BL as Yaoi, and Don't Like Don't Read.
Summary: Kisah Jung Daehyun disaat hari sedang hujan. DaeJae Fanfiction. YAOI, BL, Don't Like Don't Read!
.
When It Rain
.
.
.
Daehyun tersentak bangun dari tidurnya lagi. Dia berdecak sebal saat melihat jam dindingnya menunjukkan pukul sembilan pagi. "Kenapa aku selalu kesiangan?" rutuknya.
Hari ini ada kelas Nyonya Choi, Dosen paling killer tapi berparas cantik. Daehyun sudah sering terlambat masuk kelasnya. Jika dia terlambat lagi, bisa-bisa dia tidak lulus.
"SHIT!" Daehyun mengumpat lalu segera beranjak dari tempat tidurnya dan melesat lari menuju kamar mandinya.
.
Jung Daehyun, namja 20 tahun. Hidup seorang diri disebuah Flat yang sederhana. Dia pindahan dari Busan karena ingin mengikuti Open Audition di Seoul. Bekerja paruh waktu diCafe, dan sebisa mungkin menghemat gajinya. Karena dia harus bayar kuliah dan bayar sewa Flat nya. Oleh karena itu, dia bukan tipe namja yang dengan mudah mengeluarkan uang dari dompetnya. Atau sebut saja dia 'irit' atau 'pelit'. Haha..
Saat ini Daehyun sedang duduk dikursi paling belakang didalam bus. Kali ini dia butuh Bus untuk mengantarnya ke Kampusnya yang lumayan jauh. Jika tidak terlambat bangun, maka Daehyun akan berjalan kaki sejauh apapun tempat tujuannya. Hitung-hitung olahraga dan pengiritan.
Matanya menatap keluar jendela, dia merindukan kedua orang tuanya, terutama ibunya. Sebenarnya dia tidak perlu kabur dari rumah jika Ayahnya mengijinkan Daehyun untuk mengikuti Audisi itu bukan menyuruhnya sekolah kedokteran Guangzou. Hey, otak Daehyun tidak akan sampai belajar kedokteran! Dia hanya suka dengan musik.
Daehyun turun dihalte dekat kampusnya lalu segera berlari menuju kelas nyonya Choi. Astaga, waktunya tinggal lima menit lagi, dan kelas nyonya Choi ada dilantai tiga. Daehyun lari dengan cepat, menabrak orang, bahkan beberapa kali hampir jatuh. Dan setelah berjuang cukup parah, akhirnya Daehyun bisa mencapai kelasnya dengan tepat waktu(meskipun dia harus bertemu nyonya Choi didepan pintu kelas).
"terlambat lagi, Jung Daehyun?" tanya Nyonya Choi.
"Maafkan aku", kata Daehyun sambil membungkuk. Nyonya Choi tetap mempersilahkannya masuk dan duduk dikursi paling belakang. Dia tetap bersyukur meskipun dapat kursi paling belakang, itu karena disampingnya ada Zelo. Namja yang ia sukai.
"Kau terlambat lagi Dae" kata Zelo. Daehyun hanya menunjukan cengirannya sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Dasar bodoh.
.
.
Setelah kuliah berakhir, Daehyun pergi menuju Cafe tempatnya bekerja. Kali ini dengan jalan kaki. Ini masih pukul dua siang, dan kerjanya dimulai pukul tiga. Masih ada waktu satu jam untuk berjalan santai. Lagi pula jarak kampus-Cafe hanya lima belas menit dengan berjalan kaki, sambil mendengarkan musik pasti tidak akan terasa membosankan.
Mungkin jam dua siang bagi orang-orang adalah saat yang tepat untuk santai atau bahkan tidur siang. Tapi bagi Daehyun, waktu adalah uang. Jika kau santai terlalu lama, kau akan miskin. Itu adalah kalimat favorit Daehyun.
Sebenarnya dulu Daehyun bukanlah orang yang irit. Tapi ini semua karena tuntutan kemandirian(?), kalau saja kedua orang tuanya membiayai kuliahnya seperti teman-temannya. Mungkin uang hasil kerjanya akan ia gunakan untuk mentraktir Zelo, namja incarannya.
Dia bisa saja tidak kuliah, dan memilih untuk bekerja saja. Tapi dia butuh kuliah,untuk mengembangkan ilmunya terhadap musik. Dia mengambil jurusan Music and Art. Lagi pula, pendidikan adalah hal yang diutamakan oleh negara ini.
KLING!
Daehyun memasuki Cafe. Lumayan ramai, karena ini masih jam makan siang. "ah, Dae. Kau sudah datang" sambut Himchan, Si pemilik Cafe.
"ne, Hyung. Ini hari Rabu, aku hanya ada beberapa kelas dikampus" jawab Daehyun.
"kalau begitu kau bisa bantu kami sekarang. Cafe sedang ramai" kata Himchan. Daehyun mengangguk dan segera memakai seragam kerjanya dengan cepat diruang ganti dan buru-buru keluar untuk segera melayani tamu Cafe.
"tolong antarkan pesanan ini pada meja nomor 12" kata Himchan sambil menyerahkan sebuah nampan berisi dua cangkir cappuchino dan dua chees cake yang aromanya sangat lezat yang menggelitik hidung Daehyun.
Daehyun mengangguk dan segera mengantar pesamam itu ke meja 12. Mencium aroma lezat seperti ini membuatnya lapar. Nanti dia akan merayu Himchan agar mendapatkan chees cake gratis. Keh keh keh~
Daehyun membulatkan mata saat melihat tamu yang sedang duduk dimeja nomor 12 itu. Zelo sedang bersama seorang namja yang jauh lebih tampan dan keren darinya. Sepertinya dia namja yang jauh lebih kaya dari Daehyun. Dan mereka terlihat... mesra.
Daehyun tidak sedih, hanya sedikit kecewa saja saat tahu Zelo sudah punya kekasih. Dia sudah menyukai namja imut itu sejak pertama bertemu. Ternyata dia sudah punya pacar. Tapi, Hey! Belum tentu dia pacar Zelo, kan?
"d-dua cappuchino dan dua chees cake" kata Daehyun lalu menata pesanan itu diatas meja Zelo.
"Dae!?" kata Zelo. "aku tidak tahu kau bekerja disini" katanya lagi. Dia terlihat senang bertemu Daehyun disini.
"ah, ne. Aku sudah lama bekerja disini" kata Daehyun ramah. Kata Himchan, pelayan disini harus ramah dan sopan pada tamu jika tidak ingin dipecat. Jadi bisa dibilang, Daehyun terpaksa berakting ramah sekarang.
Zelo tersenyum. "Dae, kenalakan. Ini Yongguk Hyung, namjachingu-ku" kata Zelo dengan bangga menarik satu tangan Daehyun dan satu tangan 'Yongguk Hyung' untuk saling berjabat tangan.
JDAR!
Bagai tersambar petir di jam dua siang, pernyataan Zelo membuat Daehyun(sedikit) drop. Sudah kuduga, itu pacarnya, ucap Daehyun dalam hati meskipun diluar dia tersenyum dan ber'oh' ria.
"Zelo-ah, aku harus kembali bekerja" kata Daehyun. Tentu saja dia harus kembali, untuk apa dia berlama-lama berada didekat sepasang kekasih ini. Membuatnya tidak nyaman saja.
"oh, benar. Baiklah, silahkan" kata Zelo. Daehyun pamit dan segera kembali kedapur untuk kembali bekerja. Dan sebisa mungkin, selama mengantar pesanan dia tidak menatap kearah meja Zelo. Untung saja, Zelo hanya sebentar saja duduk di Cafe. Jadi dia tidak perlu bertemu kekasih Zelo lagi.
.
Pukul delapan malam. Waktunya Cafe tutup. Daehyun dan pegawai lainnya sudah selesai membereskan Cafe dan segera pulang kerumah masing-masing. Dan dia mungkin saja sudah pulang kerumah jika saja Himchan tidak menghentikannya. "Tunggu!".
Daehyun berbalik menghadap Himchan, "ne, Hyung?".
"ini untukmu. Aku tahu kau menginginkannya" kata Himchan seraya menyodorkan sebuah kotak kue berlogo Cafe ini.
Daehyun mengintip isinya dan wajahnya langsung terlihat bersemangat sekali saat melihat ada tiga potong chees cake didalamnya. Himchan sangat pengertian, Daehyun saja lupa akan niat untuk merayunya agar memberi Chees cake gratis. "Wah! Apa ini tidak terlalu banyak, hyung?".
"tidak" kata Himchan sambil mengunci pintu Cafe. "sudahlah, cepat pulang dan istitahat. Sepertinya mau hujan" kata Himchan lagi sebelum masuk kemobilnya.
"ne, Hyung. Gamsahamnida" kata Daehyun sambil membungkuk sebelum Himchan melaju pergi.
"ah, aku tidak sepenuhnya sial hari ini" kata Daehyun sambil menatap kotak berisi Chees Cake itu. Dikepalanya sudah terbayang bagaimana nanti dia memakannya sambil menonton tv dan ditemani secangkir coklat hangat favoritnya. Hmm, Yummy~*author jadi laper T.T
Dia mulai melangkah pulang. Dia sudah berniat untuk berjalan, lumayan sambil berjalan-jalan. Lagi pula jalanan tidak gelap. Daehyun jadi merasa aman.
Padahal perasaannya saat ini bisa dikatakan sedang tidak baik. Mengingat Zelo sudah punya pacar membuatnya- Aish! Sudahlah! Mungkin dia bukan takdirku.
TES!
Daehyun mendongak. Sesuatu menetes dihidungnya. Tapi, diatasnya tidak ada apapun. Lalu apa yang barusan menetes di pucuk hidungnya itu?
Daehyun mengelap hidungnya dengan tangannya lalu melanjutkan perjalannannya sebelum-
ZRASH!
Daehyun sontak melindungi kepalanya dengan tangannya saat hujan mengguyur jalanan. Ternyata yang menetes dihidungnya tadi air hujan. Daehyun buru-buru mencari tempat beteduh. Sedikit sulit mendapatkan tempat berteduh karena jalanan didekat cafe ini lumayan sepi dari bangunan untuk berteduh. Masa dia harus kembali ke Cafe? Tapi jika kembali kesana jaraknya juga lumayan jauh.
"Chees cake ku" kata Daehyun sambil menatap kardus kuenya yang sudah agak basah terkena hujan. Sial dia tidak bawa payung-sebenarnya tidak punya. Dia buru-buru menyembunyikan chees cakenya dibalik jaketnya dan segera berlari untuk mencari tempat berteduh.
Matanya menangkap sebuah box telepon berwarna merah tak jauh dari tempatnya berdiri. Daehyun segera berlari menuju box telepon itu. Dan untung saja didalamnya kosong. Daehyun akan berteduh sampai hujannya reda dan setelah itu dia akan naik bus saja. Tidak jadi berjalan kaki karena dia sudah terlalu lelah kehujanan dan kedinginan.
Daehyun mengintip keadaan Chees cake-nya, untunglah masih utuh. Dia menghela nafas lega lalu memeluk kotak kue itu. Dia sudah tidak sabar ingin segera pulang dan memakan kue lezat itu.
Hujan terdengar semakin deras. Daehyun mengusap kaca box telepon yang berembun itu dengan lengan jaketnya. Dia menatapi air yang mengalir dikaca, mulutnya menyenandungkan sebuah lagu yang entah kenapa muncul diotaknya disaat yang tepat.
"i bissoriga ni moksorinji, nal bureuneun sorinji naman nol senggakhani?" Menyanyikan lagu ini, ia jadi teringat akan Zelo. Dia tidak mungkin memikirkanmu, bbabo!
"i biga nareul wirohejulkka iron ne mameuralkka? jakku-"
Belum selesai bernyanyi, Daehyun dikejutkan oleh pintu box telepon yang tiba-tiba terbuka. Daehyun melihat ada sesosok namja yang sudah basah kuyup memegangi pintu itu. "b-boleh aku masuk?" tanya namja itu.
Daehyun tidak menjawab. Dia hanya mengangguk dan menggeser tubuhnya, memberi ruang untuk namja itu masuk. "gamsahamnida" kata namja itu dengan menggigil. Pasti dia kehujanan cukup lama.
"ka-kalau kau tidak keberatan, aku mau menelpon" kata namja itu. "ponselku rusak terkena air hujan" lanjutnya sambil menunjukkan ponsel touch screennya yang basah. Masih dengan menggigil. Daehyun jadi kasihan padanya, jika saja jaket Daehyun tidak basah. Dia akan meminjamkannya pada namja disebelahnya itu.
"silahkan" kata Daehyun.
Namja itu menunduk rendah lalu mengeluarkan beberapa uang koin dari saku celananya yang basah. Ia lalu memasukkan beberapa koin dan mulai memencet-mencet tombol. Namja itu melihat kearah Daehyun sekilas lalu tersenyum canggung.
"Yeoboseyo? Ne, Umma. Ini Youngjae"
Daehyun memperhatikan namja itu. Namja itu sedang memberitahukan keadaannya pada seseorang ditelepon. Caranya bicara entah kenapa sangat menarik, membuat Daehyun ingin terus menatapnya. Terkadang dia mengerutkan dahinya, kadang juga memejamkan mata sejenak, dan bibirnya mengerucut lucu saat mengucapkan vokal 'u'. Cantik, pikir Daehyun.
"ne, aku akan segera pulang setelah hujan reda. Jangan khawatir. Bye", namja itu memutuskan sambungan teleponnya. Dan Daehyun buru-buru mengalihkan matanya kearah lain. Tidak ingin ketahuan memandangi namja itu.
"ibuku" kata namja itu pada Daehyun sambil tersenyum canggung. Daehyun hanya mengangguk dan berkata 'oh' saja. Dan setelah itu mereka terdiam, bergelut dengan pikiran masing-masing.
Mereka tidak bisa melakukan apa-apa didalam box telepon sempit itu, mengingat seharusnya tempat ini hanya muat satu orang. Kecuali mereka berdiri saling berhadapan seperti sekarang ini.
KRUYUUK~
Daehyun menatap namja itu yang memegangi perutnya. "kau lapar?" tanya Daehyun.
"ah, anio" kata namja itu sambil tersenyum malu.
Daehyun menatap kotak kuenya. "aku punya kue" kata Daehyun, ia membuka kotak kuenya dan memamerkan isinya pada namja itu.
"ambilah" kata Daehyun. Entah kenapa dia merasa tidak tega pada namja dihadapannya itu. Seolah terhipnotis dengan wajah cantiknya. Daehyun rela menyerahkan chees cake gratisnya pada namja didepannya itu.
"bolehkah?" tanya namja itu. Daehyun mengangguk. Namja itu mengambil sepotong chees cake itu dengan mata berbinar. Membuat pipi Daehyun memanas melihatnya. Ada apa denganku?.
"jal meoggessumnida" kata namja itu lalu mulai memakan chees cake itu dengan lahap sampai ada krim yang menempel disudut bibirnya.
"pelan-pelan saja" kata Daehyun sambil terkekeh. "itu, ada yang menempel" kata Daehyun sambil munjuk sudut bibir namja itu.
"ahahaha, maaf. Aku berantakan" kata namja itu sambil mengelap krim disudut bibirnya.
"gwaenchanha" kata Daehyun. Dia tetap memandangi namja dihadapannya. Bisa dibilang, Zelo lebih cantik dari namja ini. Tapi entah kenapa, Daehyun lebih suka dengan yang satu ini. Mempesona. Entahlah, mungkin karena keadaannya saat ini membuatnya nampak menarik untuk dipandangi.
Wajah cantik, pipi yang merona, rambut basah dan pakaian basah. Hey, kenapa tidak dibuka saja pakaiannya? Supaya tidak masuk angin, begitu.
"kau, kenapa tidak makan juga?" tanya namja itu. Membuyarkan fantasi kotor Daehyun.
"a-aku mendadak kenyang" kata Daehyun. Benar, dia kenyang hanya dengan melihat namja dihadapannya itu makan dengan lahap. Dasar aneh.
"uhm, untukmu saja" kata Daehyun sambil menyodorkan kotak kue itu pada namja dihadapannya.
"ah, gamsahamnida" kata namja itu, menerima kue-kue itu dengan suka hati. "omong-omong, siapa namamu?" tanya namja itu. Ia mengelap tanggannya pada kaosnya yang basah lalu mengulurkannya pada Daehyun. "aku Youngjae. Yoo Youngjae" katanya.
"aku Jung Daehyun" kata Daehyun sambil menjabat tangan namja itu.
Mereka melepaskan jabatan tangan mereka. "tanganmu hangat sekali" kata namja itu. "aku tidak tahan dingin" lanjutnya.
"k-kau boleh menggenggamnya lagi kalau mau" kata Daehyun sambil mengulurkan tangannya ragu-ragu. Kapan lagi dia bisa menghangatkan tangan namja cantik seperti namja itu.
"ah, tidak. Kau sudah terlalu baik padaku" kata namja itu lagi. Dia diam sebentar, "tapi, baiklah" kata namja bernama Youngjae itu. Lalu dengan segera ia menggenggam tangan Daehyun.
"omong-omong, kau tinggal dimana?" tanya Youngjae basa-basi. Dan mereka pun mulai mengobrol ringan. Seperti tempat tinggal, sekolah, dan hal-hal kecil lainnya. Dengan tangan yang masih bertautan.
"kau mau kuliah di Rusia?" tanya Daehyun. Dia sungguh terkejut saat mendengar namja disampingnya itu bilang mau kuliah dinegara yang jauh. Youngjae mengangguk. "sekolah apa kau disana?" tanya Daehyun lagi.
"bisnis" kata Youngjae santai.
"apa- ayahmu yang menyuruhmu sekolah bisnis?" tanya Daehyun.
"tidak. Aku sendiri yang mau belajar bisnis" kata Youngjae lalu menggigit kuenya.
Daehyun terdiam. Tiba-tiba dia jadi iri dengan Youngjae. Seandainya saja ayah Daehyun itu seperti ayah Youngjae. Pasti sekarang dia juga bisa kuliah di Rusia seperti Youngjae. Yang jelas bukan sekolah Bisnis atau bahkan Kedokteran.
Mereka terdiam cukup lama sampai akhirnya, suara hujan sudah tidak terdengar lagi. "aku rasa hujannya sudah berhenti" kata Youngjae.
"benar, lebih baik kita cepat pulang sebelum hujan lagi" kata Daehyun. Daehyun membukakan pintu dan mempersilahkan Youngjae keluar duluan.
"jeongmal gamsahamnida untuk semuanya" kata Youngjae. "dan Chees Cakenya" lanjutnya seraya mengoyangkan kotak kue yang dipegangnya.
"tidak usah dipikirkan. Cepatlah pulang dan ganti bajumu" kata Daehyun.
"baiklah, sekali lagi gamsahamnida" kata Youngjae sebelum ia berlari pergi kejalan yang berbeda dengan tujuan Daehyun. Daehyun memandangi kepergian Youngjae.
KRUYUUUK~
Ia memegangi perutnya yang bunyi. "Aish! Terpaksa aku makan ramen lagi" katanya. Dan dia pun segera melangkah menuju halte bus.
.
.
"hhaaaaattcchhoooooo!"
Daehyun, sepertinya dia kena flu karena kehujanan tadi malam. Itu semua karena semalam ia tidak jadi makan ramen. Setelah pulang kerumah dia langsung mengganti bajunya dan segera tidur karena matanya yang terasa lelah. Untung hari ini tidak ada jadwal kuliah, tapi dia harus tetap berangkat untuk bekerja.
Saat ini dia sedang berjalan menuju Cafe tempatnya bekerja. Hari ini ada yang berbeda dengan style-nya. Ada tambahan syal putih yang melingkari lehernya dan masker yang menutupi mulut dan hidungnya. Padahal hari sedang cerah, sehingga membuatnya mendapat tatapan 'aneh' dari orang-orang yang melihatnya.
KLING!
"Annyeong haseyo, Himchan hyung" sapa daehyun pada Himchan yang sedang berdiri dibalik meja kasir. Himchan menoleh padanya, dan wajahnya mendadak menunjukkan kekhawatiran.
"kau baik-baik saja?" tanyanya.
"ne, Hyung. Haaattchooo!" Daehyun kembali bersin. "aku baik-baik saja, Hyung" lanjutnya.
"tapi Dae, kau tidak bisa bekerja jika sedang flu seperti itu" kata Himchan.
"waeyo?" tanya Daehyun. "Haaaaatchhooo!" Daehyun bersin lagi. Untung dia sedang pakai masker, kalau tidak bisa dipastikan akan ada hujan kecil disana.
"kau mau semua pesanan terkena bersin-bersinmu itu? Tidak bisa! Nanti tamu-tamu disini tertular flu juga" kata Himchan. "sekarang kau pergi berobat dan segera pulang. Jika kau sudah sembuh, baru kau boleh kembali bekerja" kata Himchan.
"tapi, Hyung. nanti-"
"aku tidak akan memotong gajimu" sela Himchan. Dia tahu jika Daehyun takut kehilangan uang gajinya meskipun itu hanya satu Won. "aku yang memberimu ijin. Sekarang pergilah berobat lalu pulang dan istirahat" kata Himchan lagi.
"tapi, Hyung-"
"pergi atau kupecat kau!" kalimat final Himchan membungkam mulut Daehyun. Ck! Padahal dia sudah keluar uang untuk naik bus tadi dan sekarang dia harus keluar uang untuk berobat?
"Ne. Ne. Aku pergi" kata Daehyun seraya berbalik dan berjalan menuju pintu. Daehyun tahu sebenarnya niat Himchan baik. Himchan adalah orang yang penyayang, dia ingin pegawainya tidak sakit.
"Ne, hati-hati dijalan" kata Himchan. Himchan tertawa kecil melihat tingkah Daehyun yang sayang uang seperti itu. "anak itu! Uang saja yang ada diotaknya" gumamnya.
.
Daehyun baru saja keluar dari apotek dengan sebuah bungkusan plastik ditangannya. Jangan dikira dia baru saja menebus resep obat dokter. Dia tidak akan mau mengeluarkan banyak uang hanya untuk sekedar mengobati sakit flu nya di dokter. Dia memilih untuk tanya pada apoteker, obat flu paling mujarab tapi murah. Dan dia sudah berhasil mendapatkannya, meskipun si apoteker itu memandangnya dengan aneh. Kenapa hari ini banyak sekali yang menatap aneh padanya?
Dia kembali berjalan menuju halte bus. Sial, dia harus keluar ongkos lagi. Tapi tidak apalah, yang penting dia harus segera pulang, makan, minum obat, istirahat dan harus segera sembuh supaya dia bisa kembali bekerja dan dapat uang lebih banyak lagi.
"haaatchooo!"
Daehyun bersin sekali lagi didepan apotek dan melepas masker yang ia pakai dan mengelap hidungnya dengan tissue sebelum ia melangkah menuju halte bus.
Flu yang diderita Daehyun sungguh menyiksa. Hidung tersumbat dan bersin-bersin parah membuat Daehyun sungguh ingin segera sembuh. Jika saja ada ibunya, pasti Daehyun sudah makan sup rumput laut hangat dan minum obat sejak semalam.
TES!
Sesuatu menetes dihidung Daehyun. Daehyun kembali mendongakkan kepala, langit tepat berada diatas kepalanya. Dia tidak terlalu memusingkannya dan memilih untuk kembali melanjutkan perjalanannya, namun-
ZZRAAASH!
Hujan lagi!? Daehyun mendongak sekilas dan segera berlari untuk mempercepat langkahnya. Padahal barusan langit cerah cerah saja. Kenapa mendadak hujan deras seperti ini? Daehyun harus cepat kalau tidak ingin sakitnya tambah parah. Ugh! Sialnya dia hari ini.
Daehyun berlari diantar pejalan kaki lainnya yang sudah memakai payung mereka. Seandainya saja dia punya payung. Untung saja halte bus berada tak jauh dari apotek, jadi pakaian Daehyun tidak terlalu basah.
Daehyun berdiri di halte. Banyak orang yang sedang berteduh disana jadi dia tidak bisa duduk. Tapi itu tidak masalah karena sesaat kemudian, bus yang akan ditumpanginya datang. Dia buru-buru masuk kedalam bus, membayar pada mesin dan segera mencari tempat duduk.
Dia ingin duduk dikursi belakang-dia selalu duduk dikursi belakang didekat jendela, ingat?. Dia paling suka melihat jalanan diluar bus. Tapi disana ada seseorang yang sudah mendudukinya, jadi dia memutuskan untuk duduk dikursi lain.
Tapi hampir semua kursi sudah bepenghuni. Hanya tinggal dua kursi kosong didekat seorang wanita berpakaian rapi(sepertinya pekerja kantoran), dan satu lagi disamping seorang namja yang sedang tertidur.
Daehyun memilih duduk disamping namja yang sedang tidur itu. Daehyun melirik namja disampingnya itu. Sepertinya memang sedang tidur. Karena dia sedang memejamkan matanya sambil menunduk.
Tunggu!
Sepertinya Daehyun familiar dengan wajah namja itu. Tapi dimana ya? Daehyun ingin melihat wajah namja itu lebih jelas lagi. Tapi susah karena namja itu menundukkan kepalanya.
Dia mengedikkan bahunya, sudah tidak terlalu memusingkan siapa namja disampingnya itu. Dia menyamankan posisi duduknya dan bersandar. Tiba-tiba-
PLUK!
Sesuatu memberati bahu Daehyun. Daehyun menoleh dan mendapati kepala namja itu sedang bersandar dibahu kirinya.
Daehyun berusaha menjauhkan kepala namja itu dari bahunya. Enak saja! Iya kalau namja disampingnya itu adalah pacarnya. Daehyun pasti tidak akan keberatan. Tapi Daehyun tidak ingin punya pacar. Dia tidak ingin mengeluarkan uang untuk kencan. Untuk dirinya sendiri saja dia pelit.
"eumm~ dingin" gumam namja itu sambil menyamankan kepalanya dibahu Daehyun.
"ne?" Daehyun membulatkan matanya saat lengannya malah dipeluk erat oleh namja itu. "Aish! Jjinja" gumam Daehyun sambil terus berusaha menjauhkan kepala namja itu dari bahunya. Heran. Pulas sekali sih tidurnya? Jangan-jangan dia sedang dalam pengaruh obat?
Tiba-tiba bus berhenti. Sepertinya sudah sampai di pemberhentian selanjutnya. Tapi Daehyun masih turun di satu pemberhentian lagi. Lalu seseorang yang duduk didepan Daehyun berbalik dan mulai menepuk-nepuk pipi orang yang duduk disamping Daehyun.
"Youngjae, Irreona. Sudah sampai" kata namja itu.
Daehyun mengerutkan keningnya. Youngjae? Dia juga pernah dengar nama itu. Daehyun beralih pada namja disebelahnya yang tersentak bangun.
"oh, Jongup. Sudah sampai?" kata namja disamping Daehyun dengan wajah mengantuk.
Daehyun menaikkan kedua alisnya. Dia ingat sekarang. Youngjae, ya. Namja disampingnya adalah Youngjae, namja yang berteduh bersamanya tadi malam di box telepon.
"ah, baiklah" kata Youngjae lalu berdiri. Sekilas ia melihat kearah Daehyun sambil berkata, "permisi" agar diberi jalan untuk lewat. Lalu sedetik kemudian dia menoleh lagi pada Daehyun dan menaikkan alisnya.
"kau" katanya tidak percaya. Youngjae terlihat senang dan sepertinya masih ingin berlama-lama disana, namun dia sudah diseret turun dari bus lebih dulu oleh temannya.
Daehyun bisa lihat jika namja bernama Youngjae yang berada diluar itu berlari dan berdiri didekat jendela tempat Daehyun duduk. Dia melambaikan tangannya pada Daehyun dari luar bus.
Daehyun tertegun melihat wajah Youngjae yang sedang tersenyum padanya. Wajahnya sangat dan lebih cantik jika sedang tersenyum. Atau pada dasarnya Youngjae memang cantik?
Daehyun pun membalas melambaikan tangannya pada Youngjae. Dia juga membalas senyum Youngjae. Dia tidak bisa mendengar apa yang diucapkan Youngjae dari luar sana. Tapi yang jelas Daehyun menbaca gerakan bibir Youngjae sepertinya berkata 'senang bertemu lagi'. Sampai akhirnya bus pun berjalan.
Entah kenapa dia sedikit tidak rela meninggalkan Youngjae disana. Maksudnya, hey! masa hanya bertemu secepat itu? Daehyun ingin lebih lama lagi mengobrol dengannya. Aish! Molla!
Daehyun menyamankan punggungnya disandaran kursi. Di pemberhentian selanjutnya dia akan turun. Masih ada beberapa menit untuk bernafas dengan normal.
Iya, Daehyun tidak bernafas normal sejak dia melihat senyuman namja bernama Youngjae itu. Senyumannya yang cantik, membuat nafas Daehyun tercekat. Jangan bilang dia naksir dengan namja itu? Sadarlah Daehyunnie, kau hanya dua kali bertemu dengannya, dan itu secara tidak sengaja.
Tapi. .
CIIIIT!
Bus berhenti, menyadarkan Daehyun dari pikirannya tentang namja cantik bernama Youngjae. Dia buru-buru turun dari bus dan kembali berteduh dihalte. Ini masih hujan dan dia sekarang bingung bagaimana dia bisa sampai ke flatnya tanpa kehujanan.
Dia melihat jam tangannya. Masih jam sebelas siang, tapi langit terasa seperti jam lima sore. Sepertinya hujan akan berhenti dalam waktu yang lama.
Akhirnya dia memutuskan untuk berlari pulang ke flatnya, tidak peduli jika dia akan basah kuyup nantinya. Ingat semboyan Daehyun 'jika diam terlalu lama maka kau akan miskin'. Jika Daehyun terlalu lama berteduh dihalte dan tidak segera pulang untuk makan dan minum obat, maka besok dia tidak akan bisa sembuh dan kembali bekerja. Dia sudah bertekat akan sembuh malam ini juga. Harus!
.
.
Daehyun mengambil nafas dalam, lalu menghembuskannya lagi. Dia tersenyum-menyeringai-sambil menatap jam dinding kamarnya. Masih jam enam pagi, masih ada waktu dua jam untuk bersiap pergi kekampusnya. Dan flu-nya sudah hilang. Dia sudah sembuh. Keh keh keh.. Hebat juga khasiat obat murah itu.
Daehyun sudah siap dari setengah jam yang lalu. Dengan sweater hitam, celana jeans hitam, topi dan sepatu putih. Tak lupa dia memakai ransel bututnya yang terlihat masih bagus, karena dia selalu menjaga setiap barangnya dengan hati-hati agar tidak cepat rusak. Dia harus hemat, ingat?
Dia mulai turun dari flatnya yang berada dilantai tiga dan mulai melangkah menuju kampusnya. Dia sudah bertekat akan jalan kaki pagi ini. Mumpung masih ada waktu dua jam. Lagi pula jaraknya hanya dua puluh lima menit dati flat nya. Seperti biasa, dia berjalan sambil mendengarkan lagu-lagu di mp3 ponselnya melalui earphone. Supaya tidak bosan dijalan.
Seoul sangat ramai di pagi hari. Banyak pejalan kaki yang berlalu lalang dihampir setiap jalan. Dari anak sekolahan, orang yang akan pergi bekerja, sampai yang sedang lari pagi pun ada. Tidak hanya pagi saja sih, bahkan setiap saat selalu saja ada orang yang memenuhi jalan ini.
Dan dua puluh lima menit kemudian, Daehyun sudah sampai didepan kampusnya. Universitas TS. Bukan Universitas mahal memang, Daehyun tidak akan sanggup membayar uang bulanannya jika sekolah ditempat yang mahal.
Daehyun tersenyum. Akhirnya dia tidak telat hari ini. Dia buru-buru berlari menuju kelas pertama hari ini, meskipun kelas dimulai lima belas menit lagi. Rajin sekali dia hari ini.
.
Daehyun merasa hidupnya monoton sekali. Kuliah-kerja-tidur di flat nya. Hanya itu saja rangkaian kegiatannya. Sungguh membosankan sebenarnya. Tapi mau bagaimana lagi, ini juga demi masa depannya.
Daehyun tidak pernah punya waktu untuk berkumpul bersama teman-temannya. Sebenarnya sih dia tidak punya teman. Tapi tidak apa-apa. Daehyun memang(bisa dibilang) tidak terlalu memusingkan masalah pertemanan. Dia sebenarnya lebih suka sendiri. Sendiri lebih hemat. Tapi kadang dia merasa sepi juga. Aish! Hidup sendiri memang serba salah.
KLING!
Daehyun memasuki Cafe. Seperti biasa, cafe selalu ramai pengunjung. Banyak pegawai Cafe yang sedang hilir mudik membawa nampan berisi pesanan. Sepertinya sibuk sekali. Daehyun buru-buru menuju ruang ganti untuk memakai seragamnya. Dan setelah dia selesai, dia buru-buru keluar untuk mulai bekerja.
"tapi, mana Himchan Hyung?" gumamnya. Dia hendak melapor bahwa dia sudah siap kembali bekerja. Flu nya sudah sembuh. Daehyun mengedikan bahu. Lebih baik dia langsung mulai bekerja sajalah.
.
Kira-kira setengah jam setelah Daehyun datang di Cafe. Himchan datang bersama seseorang yang Daehyun rasa dia pernah lihat wajahnya. Tapi dia tidak terlalu memusingkannya, apalagi yang menyangkut urusan pribadi bosnya itu. Dia tidak ingin ikut campur.
"Yah! Daehyun, sini kau!" panggil Himchan dengan gaya khasnya. Sok kejam tapi sebenarnya hanya dibuat-buat. Himchan bukan orang yang kejam bahkan Daehyun rasa, Himchan berjiwa lembut.
"ne, Hyung?" kata Daehyun saat dia sudah berada didepan Himchan dan temannya.
"siapa yang menyuruhmu bekerja, eoh? Memang kau sudah sembuh?" tanya Himchan.
"tentu saja, Hyung" jawab Daehyun dengan mantap.
Himchan mendengus, lalu ia teringat sesuatu. "oh iya, kenalkan. Ini Jongup, namjachinguku" kata Himchan seraya merangkul bahu namja bernama Jongup itu.
"oh. Annyeong haseyo, Jung Daehyun imnida" kata Daehyun sambil membungkukkan badannya.
"ne, Moon Jongup imnida" kata namja itu sambil menunduk. Lalu dia membisikkan sesuatu pada Himchan. Membuat Himchan mengangguk-angguk.
"hehehe, cium dulu" kata Himchan sambil menyodorkan pipinya pada namja bernama Jongup. Dan langsung dihadiahi sebuah jitakan dikepala oleh Jongup.
Daehyun sweatdroped melihat adegan itu. Sebenarnya Himchan memanggilnya hanya untuk mengenalkannya pada Jongup atau apa?
"iya, iya. Tapi nanti ya" kata Himchan sambil menggosok kepalanya yang sakit. "biasa. Dia pemalu" kata Himchan pada Daehyun sambil menunjuk pacarnya itu. Dan dia hampir mendapat jitakan lagi jika saja Daehyun tidak menyela mereka.
"ada tamu, Hyung. Aku kesana dulu ya, permisi" pamit Daehyun. Himchan dan Jongup mempersilahkannya pergi untuk melayani tamu.
.
Cafe sudah ditutup. Sekarang Daehyun sudah bersiap pulang. Namun lagi-lagi Himchan menahannya. Daehyun mulai berpukir jika menahannya sebelum pulang kerja adalah hobi barunya.
"ne, hyung. Ada apa lagi?" tanya Daehyun.
Himchan terlihat baru muncul dari arah lain Cafe merangkul Jongup, pacarnya. Masing-masing dari mereka terlihat membawa sebuah kantung belanjaan yang terisi penuh.
"ini untukmu" kata Himchan seraya memberinya kantung belanja yang dibawanya pada Daehyun.
Daehyun melongokan kepalanya untuk mengintip isi kantung itu. Bahan-bahan makanan. Dia menatap Himchan penuh tanya.
"kami baru belanja. Sekalian saja aku belikan untukmu. Kau jangan makan ramen instan terus" kata Himchan sambil menepuk lengan Daehyun. "masaklah sesekali" lanjutnya.
"g-gomawo hyung" kata Daehyun sambil membungkuk.
"kami pulang dulu ya. Annyeong" pamit Himchan seraya berjalan menuju mobilnya bersama Jongup.
"ne. Hati-hati, hyung" kata Daehyun sambil sekali lagi membungkuk pada Bos-nya sebelum mobil bosnya melaju pergi.
Dia menatap kantung belanjaan itu dengan raut wajah bingung. Bukannya dia tidak bersyukur diberi Himchan bahan makanan. Tapi masalahnya, dia tidak bisa masak.
Daehyun menghela nafas. Dia memilih untuk membawanya pulang saja. Lumayan. Siapa tahu bahan-bahan makanan ini akan berguna untuknya.
Daehyun berjalan lagi dengan musik yang ia dengarkan melalui earphone. Kecintaannya pada musik membuatnya tidak bisa berhenti menikmati musik kapan saja.
Setiap berjalan kemanapun dia pergi, dirumah, saat istirahat kerja. Dia selalu mendengarkan musik. Sebenarnya cita-citanya adalah menjadi penyanyi terkenal. Dia ke Seoul juga untuk mengikuti audisi yang diadakan oleh Agency artis disana.
Sejak kecil dia sudah suka bernyanyi. Dia menganggap bernyanyi adalah bagian dari hidupnya. Tapi sayang, Ayahnya tidak menyetujui keinginannya untuk menjadi penyanyi karena dia ingin Daehyun jadi dokter sepertinya.
Dan pada akhirnya Daehyun memilih untuk egois. Dia egois untuk dirinya sendiri. Dia tidak ingin menuruti kemauan ayahnya dan memilih lari dari rumah untuk membuat cita-citanya menjadi nyata. Yaitu menjadi seorang penyanyi.
TES!
Daehyun menghentikan langkahnya. Lagi-lagi sesuatu dari langit menetea dihidungnya. Daehyun tahu, pasti sesaat lagi hujan akan turun. Berhubung flatnya masih jauh, Daehyun memilih untuk mampir ke mini market yang kebetulan ada didekat tempatnya berada. Dia terpaksa membeli payung, sepertinya dia membutuhkan benda bernama 'payung' itu untuk sekarang dan hari-hari berikutnya.
Daehyun memasuki mini market itu bertepatan dengan guyuran hujan yang terdengar keras diluar. Fiiuhh, untung dia sudah masuk ke dalam. Daehyun menitipkan kantung belanja yang berisi bahan makanan dari Himchan ditempat penitipan, supaya tidak repot.
Dia segera berjalan menuju tempat peralatan rumah tangga yang ada di rak paling belakang mini market. Dia mengambil sebuah payung lipat transparan disana lalu buru-buru membawanya pada kasir.
Baru dua langkah, dia teringat akan persediaan coklat instan-nya dirumah yang hampir habis. Dia akhirnya berjalan menuju rak tempat minuman instan. Dia memang irit, tapi minum coklat hangat adalah kesukaannya sejak lama. Jadi dia tidak bisa lepas dari kebiasaan meminum coklat hangat tiap malam.
Daehyun membawa barang belanjaannya menuju kasir, membayarnya dengan total hara empat belas ribu Won. Dan segera mengambil barang titipannya. Sebenarnya dia ingin meninggalkan katung belanjaan itu. Tapi dia teringat akan kebaikan Himchan yang sudah repot-repot membelikannya bahan makanan. Jadi ia membawa serta kantung itu pulang dan mencoba payung barunya.
Daehyun tersenyum bangga saat payungnya terbuka melindunginya. Hebat! Dia tidak lagi kehujanan seperti kemarin-kemarin. Dia melirik aliran air hujan dipayungnya lalu tersenyum seolah mengejek air-air itu.
Mulai besok dia akan selalu membawa payubg ini kemanpun dia pergi, jadi dia tidak perlu kehujanan lagi. Daehyun kembali melanjutkan perjalanannya menuju flatnya.
Daehyun tertawa senang. Masih tidak percaya jika dia tidak lagi kehujanan seperti biasanya. Dia akan merawat pyung barunya dengan baik. "haha", dia tertawa lagi.
Flatnya sudah tidak jauh lagi, Daehyun mempercepat langkahnya. Dia ingin cepat sampai dan segera beristirahat. Duh, tubuhnya terasa lelah sekali.
Daehyun memasuki bangunan flatnya dan hendak menaiki tangga. Namun langkahnya terhenti saat dia melihat seseorang sedang duduk di anak tangga dengan keadaan yang basah kuyup. Tunggu! Sepertinya dia kenal dengan wajah itu.
Namja itu menoleh pada Daehyun. Namja itu segera bangkit dari duduknya dan menunjuk pada Daehyun. Tak jauh beda, refleks daehyun juga sama. Dia menunjuk namja itu. Dan mereka berdua bersamaan mengatakan-
"Kau?!/ Kau?!"
TBC
Annyeong ^^. Author aneh lagi nyoba bikin FF baru DaeJae. Hihihi..
Jelek ya?
Mind to Review?