Mata yang biasanya memicing tajam itu kini menatap sendu satu-satunya kursi kosong di kelasnya. Kursi yang biasa diduduki oleh perempuan bernama Haruno Sakura. Tiga hari sudah kursi tersebut tidak ditempati lantaran pemiliknya tak menampakan eksistensinya di sekolah. Dan itu cukup untuk membuat Sasuke memusatkan perhatiannya pada Sakura.

Tangan pucatnya mengacak rambut ravennya dengan frustasi. Ke mana anak itu?

Sasuke memutar kepalanya ke arah kiri, melihat keadaan luar sekolahnya untuk sekedar melepas penat. Seketika alisnya bertaut. Siluet merah muda melewati jalan yang ada di depan sekolahnya.

Arah itu ... satu-satunya kemungkinan yang dapat terjadi adalah Sakura ingin mengunjungi daerah rumah Sasori. Sudut bibir Sasuke sedikit terangkat, membentuk senyum pahit.

Ternyata memang tidak bisa melihatku lagi ya, Sakura?

.

.

.

Naruto by Masashi Kishimoto

Aku atau Game

A Naruto FanFiction by Iwahashi Hani

.

.

.

Ditengah kesunyian yang melanda kelas, Sasuke mengangkat tangannya tanpa ragu. "Sensei, aku tidak enak badan. Boleh aku izin pulang?" tanya Sasuke. Ia tidak peduli dengan tanggapan Iruka-sensei yang kini tengah menatapnya bingung lantaran tiba-tiba meminta izin untuk pulang.

Iruka-sensei mengangguk kaku, tidak dapat menolak permintaan Uchiha itu. Agaknya ia sedikit takut melawan anak keluarga terpandang tersebut karena temannya—Kakashi—sudah merasakan batunya karena tidak mematuhi perintah Sasuke.

"Terima kasih, Iruka-sensei." Sasuke berdiri dari kursinya dan segera menarik tasnya. Disempatkannya untuk membungkuk sejenak sebelum menghilang di balik pintu.

Guru muda itu melongok. Ini kali pertama seorang Uchiha Sasuke mengucapkan kata 'terima kasih' pada gurunya. Namun Iruka tidak mau ambil pusing, ia kembali melanjutkan pelajaran tanpa Sasuke.

Kedua kaki jenjang berlapis sepatu mahal melangkah di lorong sekolah yang sepi. Keringat membasahi wajahnya. Sakura, tunggu aku!

Sampai di gerbang sekolah, Sasuke segera berlari menuju arah yang Sakura tempuh tadi. Dalam hati ia berdoa agar gadis tersebut belum terlalu jauh darinya.

Napasnya mulai tidak beraturan, tapi sama sekali tidak ia indahkan. Prioritas utamanya adalah Sakura. Mau tubuhnya akan hancur setelah ia berlari pun masa bodoh.

Langkah kaki itu terhenti dalam sekejap saat sampai di lingkungan kumuh yang padat oleh rumah penduduk. "Sakura ..." Sasuke mendesis lemah. Onyxnya mendapati gadis itu tengah berdiri di depan sebuah warung internet kecil dengan bahu bergetar.

Sasuke terdiam di tempatnya. Pupilnya bergerak tidak beraturan, menggambarkan perasaan tidak percayanya pada pemandangan yang ia lihat. Sakura ... menangisi seseorang. Dan orang itu adalah lelaki yang tarafnya jauh di bawah Sasuke.

Dihelanya napas dengan berat. Setelah dapat menguasai emosinya, Sasuke berjalan mendekati Sakura. Sejak tadi, gadis itu tidak kunjung menyadari kehadiran bungsu Uchiha tersebut. Entah karena keberadaan Sasuke yang memang sulit dirasakan atau dirinya yang terlalu larut dalam kesedihannya lantaran Sasori pergi ke Suna.

"Menangisinya, eh?"

Bahu Sakura menegang saat mendengar suara baritone itu. Segera ia menghapus jejak air mata yang ada di kedua pipinya. Wajahnya mengeras, menatap garang Sasuke yang mengusiknya.

"Mau apa kau? Uchiha sialan," sungut Sakura. Hey Sakura, tidak tahukah kau? Uchiha Sasuke sedang merasakan sesak di dadanya saat kau menyebutnya dengan kata-kata kasar seperti itu.

Kepala yang biasanya akan terangkat untuk bersifat angkuh kini tertunduk. Tidak lupa senyum terpaksa juga terulas di bibir tipisnya. "Hanya ingin tahu keadaanmu," jawab Sasuke pelan.

Sakura mengepalkan tangannya kesal. "Seenaknya saja kau menemuiku setelah semua yang kaulakukan pada Sasori-kun!" geramnya. Diayunkannya tangan mungil itu menuju wajah Sasuke.

Hup! Dengan sekali gerakan, Sasuke menahan kepalan tangan Sakura. "Tidak bisakah kau melihatku sekali lagi, Sakura?" masih menunduk, Sasuke enggan menunjukkan wajah sedihnya pada gadis musim semi yang berniat memukulnya ini.

Sekuat tenaga, Sakura berusaha menarik tangannya dari Sasuke, namun usahanya sia-sia. Sasuke tetap menahan tangannya tanpa ada niat untuk melepaskannya.

"Jawab aku! Tidak bisakah kau melihatku sekali lagi, Haruno Sakura?!"

Pergerakan tangan Sakura terhenti. Pun napasnya tercekat mendengar teriakan menggelegar dari bibir Sasuke. Ia ikut menundukkan kepalanya, lalu terdengar suara tawa kecil. Tawa yang lebih terkesan mengejek daripada jenaka.

"TENTU SAJA TIDAK!" Sakura menghempaskan cengkraman tangan Sasuke dari kepalan tangannya.

Sakura berjalan terseret melalui Sasuke. Beberapa bulir air kembali menetes dari matanya yang mulai membengkak. Diarahkannya punggung tangan kanannya untuk menghapus air mata itu.

Di belakang Sakura, Sasuke meremas ujung gakurannya untuk menahan air mata yang kini sudah lolos dari kelopak matanya. Gigi putih bersihnya menggigit bibir bawahnya, menahan isakannya agar tidak sampai di telinga Sakura.

"Sakura," tap! Langkah kaki Sakura terhenti di sana. Keduanya saling membelakangi dengan jarak sepuluh meter di antara mereka. "Bilang pada Sasori kalau aku menyerah dan dia boleh kembali ke sekolah."

Setelah suara bergetar milik Sasuke itu memasuki gendang telinga Sakura, gadis tersebut menolehkan kepalanya. Tanpa menunggu apa pun, Sasuke berlari meninggalkan Sakura.

Mulut mungil Sakura sedikit terbuka. Apakah ia bermimpi? Sasuke ... memperbolehkan Sasori untuk kembali ke sekolah. Perlahan, kedua sudut bibirnya berkedut dan menciptakan senyum yang amat manis.

"Terima kasih, Uchiha Sasuke..."

Sakura mendongakkan kepalanya, menatap hamparan awan di atasnya dengan lembut. "Sasori-kun, tunggu aku."

Tatapan bersyukur terpancar jelas dari kedua iris sekelam jelaga Sasuke yang sejak tadi memperhatikan Sakura dengan menyembunyikan diri di balik sebuah pohon besar yang cukup jauh dari Sakura.

Meski telinganya tidak mampu mendengar suara Sakura, tapi ia tahu kalau gadis tersebut tengah bahagia. Ya, pujaan hatinya akan kembali ke Konoha. Dan Sasuke ... lelaki itu menghela napas. Mulai sekarang, ia hanya akan memperhatikan gadis itu dari jauh. Menjaganya tanpa ada seorang pun yang tahu.

"Aku menyukaimu, Haruno Sakura."

.

.

.

Hari Sabtu kali ini mentari bersinar terik, sangat kontras dengan hari-hari kemarin dimana hujan selalu mendominasi. Sebuah kendaraan yang terdiri dari beberapa gerbong—kereta—melaju dengan cepat tanpa hambatan. Menembus jalan pedesaan yang sunyi karena jumlah penduduk yang masih sedikit.

Kereta yang mengantarkan penumpang dari Konoha telah sampai di stasiun Suna. Siluet bersurai soft pink berjalan keluar dari pintu kereta. Mata hijau anggurnya menjelajahi tiap sudut stasiun itu. Jauh dari kata mewah. Apakah kesenjangan ekonomi di desa dan kota sejauh ini?

Sakura membuang jauh-jauh pikirannya tentang keadaan di sini. Jemari kanannya merogoh saku celana jeans panjangnya, mengambil benda berteknologi tinggi yang disebut smartphone.

Dikirimnya sebuah pesan singkat untuk Sasori, memberi kabar kalau ia sudah menginjakkan kaki di desa kelahiran lelaki tersebut, dan tidak lupa menanyakan di mana alamat rumahnya. Menunggu balasan Sasori, gadis manis itu mendudukkan dirinya di salah satu kursi tunggu dalam stasiun.

Belum lama ia duduk, sebuah getaran datang dari smartphonenya. Ia tersenyum sumringah.

From : Sasori-kun

Eh?! Kamu ngapain ke sini? Kamu nggak diganggu penjahat, kan? Ugh, kamu bikin aku panik, Sakura-chan! Tunggu aku di sana dan jangan bergerak sedikit pun. Jangan terima minuman apa pun dari orang asing. Jaga dirimu sebelum aku sampai di sana. Ingat, tunggu aku dan jangan berjalan sendirian!

Sakura tertawa kecil membaca isi pesan singkat—atau pesan panjang?—dari Sasori. Ini pertama kalinya Sasori mengirimkan pesan singkat sepanjang ini dan mengajukan pertanyaan bertubi-tubi yang akhirnya malah memberikan wejangan.

Tangan kanannya memasukkan smartphone miliknya ke dalam saku celana jeansnya lagi. Sedikit mengantisipasi adanya tindak perampokan karena mengeluarkan benda canggih seperti itu pasti akan membuat banyak orang mengincarnya. Terlebih ia hanya sendiri sekarang.

Punggung mungilnya bersandar pada kepala kursi, mencari posisi nyaman untuk menunggu Sasori.

Lima menit.

Sepuluh menit.

Dua puluh menit.

Sakura bosan menunggu kekasihnya yang lambat itu. Ia berdiri, berniat membeli sekaleng minuman dingin atau sejenisnya untuk mengusir dahaga yang tiba-tiba menyerangnya.

Setelah berjalan beberapa langkah, Sakura merasakan ada seseorang yang mengikutinya. Ia menolehkan kepalanya ke belakang. Tidak ada. Ditelannya ludah dengan kaku. Ia takut sekarang.

Gadis manis tersebut menggelengkan kepalanya cepat, mengusir pikiran buruknya. Mungkin hanya perasaannya saja. Kedua kakinya kembali melangkah dengan ragu. Puk! Dua buah tangan besar muncul dari belakang dan menutupi kedua mata Sakura.

"Lepas! Lepaskan aku!" teriak Sakura sembari meronta. Baiklah, ia sedikit menyesal tidak menuruti perintah Sasori untuk tetap pada tempatnya.

"Tidak sebelum kau menciumku."

Eh?

Setelahnya, kedua tangan itu membiarkan emerald Sakura terbebas dan dapat melihat eksistensinya. Sakura menggembungkan pipinya kesal.

"Aku tadi benar-benar ketakutan tahu, Sasori-kun!" ujarnya. Ia mencubit kedua pipi Sasori dengan gemas sekaligus kesal. Seenaknya saja Sasori membuatnya berteriak ketakutan lantaran mengira lelaki tersebut adalah penjahat.

"Sakit! Sakit! Hentikan, Sakura-chan," pinta Sasori saat pipinya terasa seperti dihancurkan oleh penjepit bertenaga gajah. Salahkan kekuatan Sakura yang layak disebut kekuatan monster.

Sakura melepaskan cubitannya dari lelaki itu dan berkacak pinggang setelahnya. "Rasakan itu! Siapa suruh membuatku kesal?" kata Sakura.

Tidak ada jawaban dari Sasori, lelaki tersebut tampak sibuk mengurusi pipinya yang memerah. Sesaat setelahnya, kedua mata berwarna cokelatnya berair, siap menangis kapan saja. "Sakura-chan jahat~"

Lewat ekor matanya Sakura melirik Sasori. Ugh, manis sekali wajahnya. "E-eh? Ja-jangan menangis, Sasori-kun." Sakura mengusap lembut pipi Sasori yang tadi sempat ia cubit sekuat tenaga.

Wajah Sasori semakin memerah saat melihat Sakura sangat dekat dengannya. Hidung mereka bahkan nyaris bertemu. "Sakura-chan," panggilnya lembut. Yang dipanggil bergumam kecil, masih mengusap pipi Sasori untuk menghilangkan warna merah dari benda kenyal itu.

Sasori menghapuskan jarak antara keduanya. Hidung mereka bertemu. Kepala merah itu sedikit ia miringkan. Sedikit lagi. Dan—cup! Sasori menempelkan bibirnya pada bibir Sakura dan langsung melepaskannya.

Semburat kemerahan menjalari wajah keduanya. Sakura bahkan tidak bergeming di tempatnya. Ia, seorang Haruno Sakura, yang terkenal galak kini tidak bisa berbuat apa-apa hanya karena kecupan singkat Sasori.

"A-ano ... " Sasori bergumam pelan, menyadarkan Sakura dari lamunannya tentang ciuman barusan. "Sakura-chan, ayo kita ke toko cokelat dekat sini. Aku akan mentraktirmu cokelat sepuasnya~" kata Sasori sembari menarik lengan Sakura.

Pupil gadis itu mengecil. Ini ... apa ini ajakan kencan? Selama mereka berdua pacaran, bisa dibilang mereka tidak pernah berkencan. Paling-paling Sasori mengantar Sakura pulang sekolah dan membelikannya minuman kaleng. Pun itu hanya beberapa kali.

Keduanya berjalan beriringan, nyaris membuat semua orang yang ada di sana memandang iri keduanya. Pemuda manis dan gadis yang cantik. Bergandengan tangan dengan wajah merona. Apa yang lebih sempurna dibanding ini?

Sasori menghentikan tarikan tangannya ketika mereka telah sampai di depan bangunan mungil bertuliskan 'King of Choco'. Dua tangannya menunjuk tulisan di atas sana.

"Sakura-chan, selamat datang di King of Choco~" seru Sasori.

Mulut Sakura membulat, sedikit terpana dengan arsitektur bangunan mungil di depannya. Perasaannya saja atau memang bangunan ini dibuat oleh cokelat?

"Ya," sahut Sasori tiba-tiba seakan ia bisa membaca pikiran Sakura, "toko ini memang terbuat dari cokelat yang sudah dikeraskan hingga tidak akan meleleh meski udara panas menyerang."

"Keren~" puji Sakura.

Senyum Sasori mengembang. "Ayo kita masuk ke dalam, Sakura-chan!" ajaknya dan kembali menarik Sakura. Kesempatan tidak boleh disia-siakan, begitulah katanya dalam hati.

Bau makanan manis langsung menyambut keduanya saat memasuki toko itu. Sakura mengedarkan pandangannya. Sejauh mata memandang, hanya ada etalase berisi ratusan kue berbahan dasar cokelat.

"Selamat datang," sambut seorang Maid cantik. Maid tersebut mengedipkan matanya dengan nakal pada Sasori meski lelaki itu tampak mengabaikannya. Sakura menggembungkan pipinya. Kekasihnya dalam bahaya!

Dipeluknya lengan Sasori, seakan mengatakan bahwa Sasori adalah miliknya seorang hingga wajah manis Maid tersebut berubah masam. Haha, rasakan itu, Maid nakal!

"Sakura-chan kenapa? Minta kucium lagi ya?" tanya Sasori. Wajah menggemaskannya kini kembali memerah karena lengannya yang dilingkari oleh Sakura.

"Ih, pengen banget?" sahut Sakura dan segera melepaskan pelukannya. Ugh, jadi malu begini. Ditolehkan wajahnya ke arah lain agar Sasori tidak dapat melihat semburat merah di pipinya. "Ah, tadi kamu bilang mau traktir aku kan, Sasori-kun? Aku mau beli kue cokelat yang itu~" manja Sakura sembari menarik ujung kaos hitam yang Sasori kenakan.

Sasori berjalan pasrah mengikuti Sakura. Ia sedikit bersyukur karena harga kue di sini murah, jadi ia tidak perlu khawatir jikalau gadis di sampingnya ini makan banyak kue.

Tapi dugaannya ternyata salah. Sakura hanya membeli dua kue cokelat. Ah, apa gadis itu mengkhawatirkan dompet Sasori?

"Kalau kamu mau yang lain ambil saja Sakura-chan, aku tidak akan marah." Sasori berusaha menghentikan langkah Sakura yang hendak menuju kasir hanya dengan dua buah kue di tangannya.

Kepala bermahkotakan surai soft pink itu menggeleng pelan, "Ini saja sudah cukup, Sasori-kun," ucapnya lembut.

.

.

.

Sakura berdiri di belakang pagar putih yang membatasi dirinya dari jurang pendek dengan dasar sawah yang telah menguning. Embusan angin menerbangkan beberapa helai merah merah mudanya, namun ia tidak ambil pusing. Tangan kanannya bergerak membawa kue cokelat menuju mulut mungilnya kemudian mengunyahnya pelan.

Enak.

Itulah yang muncul di benaknya saat makanan manis itu berhasil ia telan.

Sasori di sampingnya pun melakukan hal yang sama. Tadinya, ia tidak ingin memakan kue cokelat itu. Namun Sakura terus mendesaknya dengan alasan tidak ingin gendut karena memakan dua kue sekaligus.

Untuk pertama kalinya dalam sejarah, sepasang kekasih ini ditenggelamkan oleh kesunyian. Hingga Sasori membuka mulutnya—

"Sakura-chan, kenapa kamu datang jauh-jauh ke sini?"

Orang yang ditanya tersenyum kecil dan menghentikan kegiatan mengunyah kuenya. Agaknya ia lupa dengan tujuan awalnya datang ke Suna.

"Aku membawa kabar bagus untukmu," ucapnya riang, "kamu bisa kembali bersekolah di Konoha, Sasori-kun. Jadi, ayo kita pulang bersama-sama besok!" seru Sakura dengan tangan kiri terkepal yang terangkat ke udara.

Sasori terdiam sejenak.

"Aku tidak bisa ikut denganmu," gumamnya pelan, membuat Sakura memekik kaget dan hampir memberikan protesnya jika saja Sasori tidak melanjutkan perkataannya, "aku tidak mau merepotkan siapa pun lagi jika aku kembali ke sana. Lagi pula, aku nyaman di sini."

Nyaman, ya? Pikir Sakura. Emeraldnya menatap lurus sawah yang ada di bawah sana.

"Aku mengerti."

Sasori menolehkan kepalanya, menatap tidak percaya pada gadis di sebelahnya. Apa maksud dengan kalimat 'aku mengerti' itu?

"Aku nggak berhak menyuruh Sasori-kun kembali ke Konoha. Tapi aku ingin kau berjanji, suatu saat nanti, jemput aku di Konoha." Sakura memiringkan kepalanya ke Sasori. Sekuat tenaga ia berusaha agar tidak menangis. Ugh, ia sangat ingin membawa Sasori kembali ke Konoha!

"Pasti, Sakura-chan."

Dan setelah mendengar janji Sasori tadi, entah kenapa hati Sakura menjadi tenang. Sangat tenang hingga air mata yang tadi ditahannya langsung lenyap. Ia tersenyum lebar.

"Baiklah, aku akan pulang sekarang!" seru Sakura sembari memutar haluan tubuhnya. Sebuah tangan menahan bahunya, membuat pergerakannya terhenti.

"Secepat ini? Tidak ingin menginap dulu?"

Sakura menggeleng pelan, "Aku tidak bisa tidur jika bukan di kamarku." Bohong. Ia hanya tidak yakin dapat menahan air matanya lebih lama dari ini.

Jemari Sasori kembali mengisi sela jemari Sakura, menggenggam lembut tangan putih itu. "Aku akan mengantarmu sampai stasiun," desisnya parau.

Mata Sakura terpejam, menikmati hangatnya genggaman tangan Sasori. Sepertinya, ia akan sangat merindukan saat ini. Gadis ini terus mengikuti tuntunan tangan Sasori hingga mereka kembali ke stasiun. Tempat yang tadi pagi terlihat sepi kini mulai ramai oleh orang dewasa, sepertinya meraka baru pulang kerja.

Dimulai dari membeli karcis, lalu menunggu kereta datang. Mereka terus bergandengan tangan dan enggan untuk saling melepaskan. Karena mereka tahu, setelah pertemuan ini, belum tentu takdir membuat keduanya kembali bersama.

"Kereta jurusan Konoha telah datang. Para penumpang yang telah memiliki karcis dipersilakan untuk menaiki kereta."

Suara pengumuman itu membuat hati Sakura berdenyut perih. Sebentar lagi, keduanya akan dipisahkan kembali oleh jarak.

Sakura menolehkan kepalanya pada Sasori dengan risau. Genggaman tangannya ia eratkan, membuat lelaki tersebut menatapnya dalam. Pun iris hijau emeraldnya seakan memohon agar Sasori bisa ikut dengannya kembali ke Konoha. Namun ia sadar tatapannya sia-sia. Ya, Sasori akan tetap di Suna.

Hazel Sasori meredup. Ia mengerti tatapan mata Sakura. Tapi tekadnya sudah bulat. Ia tidak akan kembali ke Konoha sebelum impiannya tercapai. Itu tekadnya.

"Aku mencintaimu, Sakura-chan."

Liquid asin mulai meluncur dari sudut mata Sakura. Upayanya untuk tidak menangis hari ini ternyata gagal. Dibalasnya pelukan Sasori dengan erat, menenggelamkan wajahnya pada dada bidang Sasori.

"Aku tahu itu, Sasori-kun."

Dan perlahan, pelukan itu terlepas.

Kaki beralaskan high heels itu melangkah terseret menuju pintu kereta. Tidak ada sedikit pun niat untuk menoleh ke belakang karena takut hatinya akan semakin sakit saat melihat wajah Sasori. Biarlah seperti ini.

"Sampai jumpa, Sasori-kun," desis Sakura sembari memasuki kereta itu. Tidak lama kemudian, kendaraan tersebut mengeluarkan bunyi yang sangat nyaring, memberikan tanda bahwa ia akan segera memulai perjalanannya.

Kereta yang terdiri dari lima gerbong itu mulai melaju meski pelan, kemudian bertambah cepat. Kaki Sasori dengan reflek berlari, mengikuti kereta tersebut walau ia sadar kecepatannya tidak bisa menandingi kendaraan itu.

Hingga akhirnya Sasori menghentikan larinya saat pijakannya berubah menjadi kerikil kecil. Kini ia benar-benar tertinggal dari Sakura.

Diangkatnya tangan kanan setinggi yang ia bisa, kemudian menggerakkannya ke kiri dan ke kanan—melambaikannya.

Sekuat tenaga ia menahan sesak di dadanya, kemudian menarik napas panjang. "SAKURA-CHAN! TUNGGU AKU YA DI KONOHA!" teriaknya.

Bodoh.

Sasori tersenyum miris setelah tenaganya habis. Sekuat apa pun suaranya, Sakura tidak akan bisa mendengarnya karena suara getaran kereta.

"Tunggu ... aku..." gumamnya.

.

.

.

.

Owari

Yosh! Hani cuma mau ngucapin terima kasih untuk yang sudah bersedia baca fanfic ini hingga tamat. Maaf jika cerita ini burukoke ini sih udah pasti.

Hontou ni arigatou gozaimasu! O3O

Regard,

Iwahashi Hani.

.

.

.

Omake

Seorang mahasiswi kedokteran berjalan dengan tergesa menuju kampusnya. Ia bukannya terlambat, hanya saja—

Kejadian ini berawal saat sebuah pesan singkat dari Sasori—pesan singkat pertama sejak empat tahun mereka berpisah—berisi permintaan agar Sakura menonton berita sekarang. Tanpa bertanya apa pun, gadis ini menekan tombol merah di remotnya agar benda elektronik itu menyalah.

Sakura mendudukkan dirinya di ranjang, sekedar bersantai pada pagi hari yang sejuk ini. Lagi pula, jadwal kuliahnya dimulai saat pukul sepuluh. Dan kini masih pukul tujuh pagi.

"Seorang lulusan SMA terbaik di desa Suna berhasil memenangkan kontes game se-Jepang. Umurnya yang masih belia membuatnya mendapat perhatian lebih dari halayak ramai..."

Alis Sakura bertaut. Perasaan saja atau memang berita ini ada hubungannya dengan Sasori?

"...nama anak laki-laki ini adalah Akasuna no Sasori. Berkat kehebatannya dalam bidang game, pemerintah Jepang menghadiahkannya sejumlah uang dan membiayai kuliahnya hingga lulus nanti..."

Eh? Benar Sasori? Pupil Sakura mengecil saat itu juga. Kaget, pastinya.

"...awalnya, Tokyo University sudah menawarkan anak berusia 18 tahun ini untuk kuliah di sana. Namun Akasuna menolak..."

Jari telunjuk Sakura menekan tombol volume saat melihat wajah manis Sasori di layar kaca.

"Saya ingin melanjutkan pendidikan saya di Meiji karena ada seseorang yang harus saya jemput di sana," ucap Sasori kalem disertai senyuman yang mampu membuat para wanita berteriak histeris, "ah! Boleh aku bicara sedikit? Sakura-chan, jika kau melihat aku, aku hanya ingin mengatakan kalau aku masih sangat mencintaimu. Jika kau masih mencintaiku, temui aku di kantin Meiji University tanggal tujuh pukul delapan."

EH?! Hari ini 'kan tanggal tujuh!

Sakura menolehkan kepalanya ke jam dinding di sudut kamarnya. Sudah pukul setengah delapan. Gadis manis itu segera beranjak dari posisinya dan berlari menuju kampusnya. Syukurlah ia sudah mandi tadi.

Sampai di kantin kampusnya, Sakura memegangi lututnya, berusaha mengatur napasnya. Sial, padahal jarak rumahnya dan kampus ini tidak terlalu jauh, tapi tetap saja perjalanan itu membuatnya bermandikan keringat.

"Sakura-chan!"

Panggilan itu membuat Sakura berdiri dengan tegap. Sesosok laki-laki berambut merah darah melambaikan tangan kananya dari meja yang ada di sudut kanan. Sakura berjalan pelan menuju meja tersebut. Baiklah, jantungnya sedikit memberontak lantaran tidak percaya sang pujaan hati tengah duduk di depannya.

"Ayo duduk, Sakura-chan. Jangan malu begitu padaku~" ucap Sasori meski kedua hazelnya tetap tertuju pada tab yang menampilkan sebuah game seru.

Diiringi anggukan kaku, Sakura mendudukkan dirinya di hadapan Sasori. Gadis itu menelan ludahnya gugup. Tidak bertemu selama bertahun-tahun dengan Sasori entah mengapa membuatnya canggung dan sulit untuk mengontrol rona merah di wajahnya.

"Ano ... Sakura-chan," panggil Sasori, masih terfokus pada benda di tangannya, "aku bingung mau bicara dari mana. Tapi, ayo menikah denganku!"

Sakura menahan nafasnya.

Ini ... ajakan pernikahan? Jika saja Sasori mengatakan kalimat itu sedikit lebih romantis—tentunya tanpa tab di tangannya yang membuat Sakura seperti diabaikan—pasti Sakura akan berteriak kegirangan dan bukannya menatap Sasori dengan raut wajah yang sulit diartikan begini.

Ditemani tarikan napas, Sakura melemaskan tulang-tulang tangannya hingga membuat Sasori menatapnya ngeri. Ugh, naluri calon-suami-takut-istri milik Sasori mengatakan bahwa sekarang dirinya dalam bahaya.

"Kamu mau melamar 'aku' atau melamar 'game tidak bergunamu' itu sih, Sasori-kun?!" hawa panas mulai menguar dari tubuh Sakura.

Tawa hambar terdengar dari Sasori. Jari telunjuknya terangkat, menggaruk pipi kanannya dengan kikuk. Tangan kirinya segera meletakkan tabnya di atas meja.

"AYO JAWAB! PILIH AKU ATAU GAME?!

"Ano ... bisa aku jawab pas?"

"SHANNARO!"

BRUK! BRAK! CKIIITTTTT! MEOW!

Jarak beberapa meja dari sana, seorang pemuda berambut raven sedang menutup mulutnya untuk menahan tawa. Sedikitnya ia bersyukur bisa melihat Sakura yang seperti dulu lagi, bukan Sakura yang murung lantaran tidak ada Sasori.

"Selamat ya, Sakura." Sasuke mendesis lemah.

.

.

.

Owari