"Akhirnya, penelitian kita selesai," kata seorang lelaki berambut bintang 3 warna beriris purple amethyst.

"Kau benar. Dengan begini... Tinggal menunggu saja," sahut seorang wanita berambut blonde beriris blue aquamarine sambil menatap kedua tabung berisi jasad manusia yang masih utuh di masing-masing tabung itu.

Kedua jasad itu terlihat sangat persis, hanya saja warna kulit yang membedakan mereka. Yang lelaki berkulit putih cream, sedangkan yang perempuan berkulit tan. Masing-masing tabung disinari oleh sinar berwarna hijau di bagian dalamnya.

"Kalau begitu, ayo kita pergi," kata sang lelaki beriris amethyst tadi.

.

.

Second Life

.

By : Gia-XY

.

Summary :

Yugi, seorang ilmuwan jenius yang berniat menghidupkan kembali 2 orang yang berharga di hidupnya dengan bantuan teman masa kecilnya. Apa jadinya kalau kedua orang itu hidup kembali sebagai... /"Kalian... Seharusnya sudah meninggal..."/"Kenapa kembaranku bisa ada di dalam tabung yang persis dan sekarang seperti sedang tertidur?"/

.

Disclaimer :

Yu-Gi-Oh! © Takahashi Kazuki

Story, Gia's OC : Kisaragi Yurika © Gia-XY

.

Warning :

OC, OC as mainlead (Maybe), AU, OOC, typo(s), misstypo(s), genderbender, krisis kosakata, sedikit bahasa Jepang, DLDR, dll.

.

Chapter 1

Two Important People

.

.

Di sebuah kafe terlihat seorang lelaki dan seorang perempuan menghabiskan waktunya bersama. Raut kelelahan terlihat jelas di wajah mereka.

"Jadi... Kenapa kau sangat ingin menghidupkan dua orang itu? Aku yakin kau bukan memakai mereka hanya sebagai kelinci percobaan kan, Yuu? Kalau tidak untuk apa kau memanggilku jauh-jauh dari Inggris hanya untuk membantumu?" tanya sang gadis berambut blonde beriris blue aquamarine pada lelaki di berambut bintang tiga warna beiris purple amethyst di depannya depannya—Mutou Yuugi.

"Yah, aku memang tidak akan bisa berbohong padamu, Yurika," balas Yugi sambil menyeruput kopinya.

"Jadi? Kenapa? Apa mereka kenalanmu?" tanya gadis tadi—Kisaragi Yurika, pada teman masa kecilnya itu.

Yugi hanya menghelas nafas saja mendengar perkataan Yurika.

"Haah... Baiklah. Kedua jasad itu adalah jasad 2 orang yang sangat berharga di hidupku. Jasad yang wanita, adalah jasad pacarku...," kata Yugi sambil tersenyum miris.

"Maksudmu... Sennen Atemu?" tanya Yurika tidak percaya.

"Ya, dia adalah yang paling berharga diantara semua yang paling berharga di dunia ini bagiku," kata Yugi.

"Aku mengerti. Tenang saja Yuu, kita pasti berhasil," kata Yurika meyakinkan Yugi.

"Semoga saja kau benar," kata Yugi.

~Laboratory~

~00.00 Α.M.~

Di laboratorium yang seharusnya kosong itu, ada sesosok wanita memasuki ruangan itu.

"Aku... Harus mengecek kalau semua berjalan lancar... Aku tidak mau Yuu kecewa,"kata wanita itu.

Mata blue aquamarinenya berkilat penuh dengan keseriusan. Ya, dia Yurika.

Yurika lalu berjalan mendekati kedua tabung itu. Tangannya perlahan-lahan menyentuh tabung milik jasad sang pria.

"Apa mungkin... Akan berhasil?" tanya Yurika.

Matanya menatap lekat-lekat pria di dalam tabung di depannya itu. Tiba-tiba saja, mata pria itu terbuka.

Merah...

Merah menyala...

Mata merah red crimson yang baru saja terbuka dan menunjukkan suatu ambisi...

Itulah yang dilihat Yurika sekarang. Mata Yurika langsung terbelalak lebar.

'Nani!? Uso!' pikir Yurika tidak percaya.

Semua organ di dalam tubuh pria itu kembali bekerja. Sinar hijau di dalam tabung itu sudah tidak dibutuhkan olehnya. Sinar itu hanya berfungsi untuk menjaga keutuhan tubuhnya selama organ-organ tubuhnya tidak bekerja.

Yurika perlahan-lahan berjalan mundur menjauhi tabung itu. Wajahnya memperlihatkan ekspresi ketakutan.

Pria tadi hanya tersenyum tipis saja melihat tindakan Yurika. Terlihat suatu kelicikan di balik mata crimson pria itu.

'Bukan! Aku seharusnya bukan menjauhi pria itu! Seharusnya aku memberitau Yuu sekarang!' pikir Yurika.

Baru saja kakinya akan beranjak pergi keluar dari laboratorium, tiba-tiba terasa serangan angin menghantamnya dan membuat tubuhnya terpelanting ke belakang.

PRANG!

'A-angin!? Tidak mungkin! Angin malam tidak sekencang ini! Dan suara kaca pecah!? Apa mungkin...'

Yurika memberanikan dirinya untuk mendongakkan kepalanya dan menatap ke arah kedua tabung tadi. Terlihat sinar hijau di dalam tabung itu sudah menghilang dari pengelihatan Yurika dan tabung milik sang pria sudah hancur berkeping-keping. Pria itu sendiri sekarang sudah berjalan perlahan mendekati wanita yang sedang menunjukkan ekspresi ketakutan sekaligus kaget di depannya itu.

'Sennen Yami! Dia... Hidup kembali!' pikir Yurika senang—karena penelitiannya berhasil, sekaligus panik—karena pria di depannya—Sennen Yami, terus berjalan kearahnya dengan seringaian licik dan dia tidak tau apa yang akan pria itu lakukan padanya.

"He? Aku tidak tau siapa kau, tapi kenapa begitu aku terbangun yang kulihat adalah wajahmu ya? Dan kenapa aku ada di dalam tabung dengan sinar hijau tidak jelas itu?" tanya Yami sambil mengangkat dagu milik Yurika yang saat ini sedang bergetar hebat karena ketakutan.

Dingin...

Itulah yang dirasakan Yurika saat kulitnya bersentuhan dengan kulit Yami.

"Hei, jawab aku. Dan kenapa kembaranku bisa ada di dalam tabung yang persis dan sekarang seperti sedang tertidur?" tanya Yami lagi.

Yurika lalu memberanikan diri membuka mulutnya dan menjawab pertanyaan pria di depannya.

"Kalian... Seharusnya sudah meninggal...," jawab Yurika pelan.

"Ya, aku tau. Yang kutanya adalah, kenapa saat aku bangun aku bisa ada di tabung yang sama persis dengan milik kembaranku?" tanya Yami lagi.

"Yu-Yuu, Mutou Yuugi... Dia terus menyimpan jasad kalian di dalam tabung itu dan terus berusaha menghidupkan kalian dengan bantuanku... Akhirnya penelitian kami selesai siang ini dan kami menyuntikkan cairan hasil percobaan kami ke tubuh kalian... Lalu soal sinar di dalam tabung itu... Itu berfungsi untuk mempertahankan jasad kalian tetap utuh selama organ tubuh kalian tidak bekerja..." jelas Yurika masih dengan nada ketakutan.

'Dasukette, Yuu!' pikir Yurika sambil panik memejamkan matanya.

"Hm, ternyata begitu... Sepertinya aku harus berterima kasih pada Yugi. Hei nona, kau tau? Seperti berkat kalian aku dapat hidup kembali sebagai..."

Yami memutus perkataannya lalu mendekatkan wajahnya ke leher Yurika. Yurika merasakan nafas memburu Yami di lehernya seakan-akan Yami adalah seekor serigala yang sedang bernapsu karena kelaparan.

"Vampire...," bisik Yami pelan sebelum Yurika merasakan sepasang benda tajam menembus leher mulusnya.

"A-AAAAHHH!"

.

.

Tsuzuku

.

.

Yurika : ...

Yami : Err... Apaan tuh, Gi? *Nunjuk-nunjuk scene terakhir*

Gia : Hehehe~ Pembalasan buat baka OC

Yurika : *Lemes* INI FIC APAAN!?

Gia : *Senyum tanpa dosa*

Yugi : Ateeeem! Kenapa kau harus matiiii?

Atem : Hei! Aku masih hidup!

Gia : Tenang Yug, pasti nanti Atem hidup lagi kok~

Yurika : *Masih lemes* Thanks for reading...