EXO.

Hari ini orang- orang dari Gangnam High School berbondong- bondong menuju ke koridor utama sekolah, seakan tak ingin ketinggalan sedikit saja moment yang menurut mereka menarik ini. Ada 2 yang mengejutkan. Kalian pilih yang mana?

Jika berita ini di rangking atas kepopularitas nya, tentu:

1. Luhan si cupu, si itik buruk rupa. Dia berubah menjadi angsa mahal semenjak seminggu yang lalu.

2. Sehun yang notabene murid kelas 1, menyatakan cinta nya kepada Luhan di tengah koridor yang luas, ini.

Dan tentu saja berita ini sampai terdengar ke tempat terpelosok sekalipun.

Dan disana bisa dilihat, Luhan yang memasang wajah angkuh nya. Dalam hati tertawa terbahak- bahak seolah mengejek.

Dia tidak ingin termakan omong kosong ini. Walaupun dalam hati dia juga tertawa miris. Dia sudah lama menantikan ini, Luhan sangat mencintai Sehun.

Dia menolak menerima semua ini, karena dia harus. Walaupun hati nya berkata lain.

Dalam pikiran nya dia hanya bisa mengulang kata bullshit, bullshit, and bullshit.

Dia juga merutuki Sehun.

Kemana Sehun sejak penantian Luhan kepada nya semenjak setahun yang lalu?

Apa Sehun tahu tentang diri nya?

Bahkan, apa Sehun pernah peduli pada nya sebelum dia 'berubah'?

Tentu saja, tidak.

Dan itu membuat hati Luhan sakit.

"Jadi Luhan sunbaenim, apakah kau mau menjadi kekasih ku?" Ucap Sehun dengan senyum manis nya, jangan lupakan setangkai mawar merah yang saat ini dipegangnya sambil ia yang berlutut didepan Luhan. Dia yakin Luhan akan jatuh kepelukannya.

Sayangnya, Luhan bisa melihat senyum itu sangat palsu.

"Hoobae ku yang tampan, sebelum kau menyatakan cinta kepada ku. Bisa kau tanyakan pada dirimu sendiri, siapa kau?" Ucap Luhan sinis.

Dan itu membuat dahi seorang Oh Sehun mengkerut.

"Ye, sunbaenim?" Tanya Sehun ragu.

"Kau itu siapa dan aku siapa!" Bentak Luhan.

Membuat orang- orang yang melihat mereka mulai berbisik.

Reaksi Luhan membuat Sehun terkejut, sungguh berbanding terbalik dengan pemikirannya bahwa Luhan akan tersipu malu dan menerima cinta nya. Sehun merasa dipermalukan di banyak mata orang.

Sehun pun bangkit dan berucap,

"Seharusnya, kau merasa terhormat seorang Pangeran seperti ku mau menjadi pasangan mu!" Bentak Sehun balik.

"Cih! Kau tahu aku saja tidak, berharap aku menerimamu, huh?!"

Sehun tersulut emosi dan menunjuk muka Luhan,

"Kau! Baru berubah dari itik buruk rupa menjadi angsa membuat mu besar kepala! Sekarang lihatlah, kau sudah menunjukkan tingkah sok jual mahal dan murahan mu disaat bersamaan!"

"Kau hanya melihat seseorang dari luar! Kau yang murahan!"

"Bangsat, kau!" Sehun sudah mengangkat sebelah tangan nya. Tapi di urungkan niat nya saat Luhan memoloti nya, tapi bukan itu alasan nya. Seorang Pangeran harus menjaga image nya.

"Kau! Kau brengsek, murahan!" Luhan tidak peduli apa yang akan terjadi setelah ini. Tidak peduli efek yang akan ia terima. Toh, dia sudah sering di-bully dari dulu.

Grep

"Luhannie, ayo pergi. Aku menunggu mu daritadi dikelas. Ternyata kau disini." Ucap seseorang sambil menarik Luhan keluar dari kerumunan orang yang masih tercengang ditempatnya.

Sedangkan Sehun? Mukanya sudah memerah geram karena merasa dipermalukan oleh Luhan.

"Apa yang kalian lihat? Bubar!"

Orang- orang yang kena imbas marah Sehun berlalu dan menyoraki Sehun.

"Ah, Baekhyunnie. Tidak perlu menyusulku. Biarkan aku saja tadi yang menjemputmu dikelas." Ucap Luhan sambil tersenyum.

"Tidak masalah, Luhannie." Balas Baekhyun sambil membalas senyuman Luhan.

"Pasti karena aku terlalu lama ya? Maaf ya."

"Hihi, iya. Tapi tidak apa kok. Ayo ke kantin aku sudah sangat lapar."

Xi Luhan dan Byun Baekhyun. Penampilan yang sangat berbanding terbalik, Luhan sangat modis sedangkan Baekhyun sangat kutu buku bahkan tidak sedikit yang melihatnya aneh.

Tapi Baekhyun hanya persetan dengan itu semua.

Ia dan Luhan sahabat nya semenjak duduk dibangku menengah, sepakat untuk merubah penampilan mereka agar mereka fokus untuk belajar.

Rambut rapi yang klimis, kacamata tebal dan besar hampir menutupi setengah muka, muka kusam dan baju yang selalu rapi. Di tambah tubuh mereka dengan perawakan lemah.

Tapi bukannya fokus. Mereka mendapat hujatan, hinaan, dan kekerasan.

Dan soal Luhan merubah penampilannya,

Tentu saja Sehun.

Awalnya, Luhan tidak ingin merubah penampilan nya. Dia ingin dan akan melakukan nya bersama Baekhyun. Tapi Baekhyun memaksa nya agar bisa mendekati Sehun yang telah Luhan taksir setahun yang lalu. Namun, bukan Luhan namanya jika tidak berprinsip dan keras kepala. Dia bilang selain ingin melakukannya bersama Baekhyun, dia juga ingin melihat kepribadian Sehun.

Apakah Sehun melihat seseorang dari hati atau penampilannya.

Apakah Sehun tertarik dan menerima orang seperti Luhan.

Dan, apakah Sehun mencintai seseorang apa adanya.

Semua jawaban tersebut telah terjawab dan mengecewakan.

"Jadi Luhannie, yang tadi bagaimana?" Ucap Baekhyun membuka pembicaraan.

"Sangat menyedihkan, Baekhyunnie. Tidak seharusnya aku mencintai seseorang seperti dia." Luhan terlihat ingin menangis.

"Tetap saja Luhannie tidak bisa menyalahkan siapapun. Ini bukan salah Tuhan, Luhannie ataupun Sehun. Cinta yang memilih Sehun untuk Luhan. Dan Luhan kumohon jangan menangis, ya?" Baekhyun tersenyum manis.

Luhan membalas senyuman Baekhyun dan menatap Baekhyun dengan tatapan sulit diartikan.

"Tentu saja, apa yang perlu ditangisi, Hyunnie?"

"Inilah Luhannieku, tidak mengenal apa itu sedih" Baekhyun terkekeh.

"Soal, Kim Jongin itu..." Baekhyun mengerutkan kening, kenapa tiba- tiba Luhan berbicara tentang lelaki itu?

"Ada apa dengan nya?"

"Baekhyunnie, kenapa tidak pernah bilang bahwa ternyata dia yang mencampakkan mu? Dan Park Chanyeol teman Kim Jongin juga yang telah mempermainkan mu? Ya kan?" Ucap Luhan dengan nada yang meninggi.

Baekhyun tersenyum.

"Ya, hyung benar. Mereka berdua orang nya. Ternyata mereka berdua dan teman mereka yang lainnya membuat taruhan bodoh 'Siapa yang dapat menahklukkan Si Cupu Byun Baekhyun' dan yang menang tentu saja Kai."

"Keterlaluan..."

"Sudahlah, hyung."

"Kau mencintai Kim Jongin, bukan?"

"Sudah tidak." Lagi- lagi senyum itu.

"Bersediakah kau bersama ku melihat kehancuran mereka?"

"Tentu."

Kini mereka berdua tersenyum menyeramkan. Menyeringai.

Siapa yang berani mempermainkan mereka.

Akan dapat balasannya.