K © GoRa-GoHands
M-Rated
YAOI, SEMI-CANON, OOC, FREAK, and so on
Gemuruh petir yang menggelegar terdengar begitu memekakan telinga. Kilatan-kilatan cahaya bak blitz kamera tampak menjelajah langit dengan seribu gumpalan awan pekat yang saling mengikat. Tak tampak pendar bulan pada lautan dan netra manusia. Yang ada hanyalah langit gelap yang sedang membelakangi sang pemilik cahaya tunggal malam. Suasana malam mencekam yang akmal tampak memayungi kota penghasil teknologi dengan guguran sakura tersebut. Aklimasi pun seakan-akan tak dapat menyesuaikan diri dengan cuaca ekstrim malam itu. Cakrabuana tampaknya tak berpihak pada malam itu. Terlihat dari cuaca yang dapat menjeritkan semua orang yang melihatnya.
Seorang pria tampak dengan cacaunya melompat dari satu gedung ke gedung yang lain. Matanya menatap pada cakak yang terjadi di bawahnya. Penganiayaan seorang pria terhadap pria lainnya. Saat ini dia sedang berdiri di sebuah gedung tinggi sembari memandang ke bawah. Tangannya terkepal erat saat melihat hal tersebut.
'BLAR'
Petir menyambar dengan kuat dan nyaring, membuat kilatan besar menyentuh permukaan bumi dan menggetarkan natura. Cahaya tersebut menerpa wajah orang itu. Sehingga dapat terlihat dengan jelas dimana sosok tersebut sedang menyeringai lebar. Matanya bersinar menatap kejadian di bawahnya. Malam ini bukanlah malam yang campah baginya. Kedahukannya akan darah membuatnya tersenyum lebar.
'SYUT'
'BRUAK'
Dia loncat dari gedung itu dan memukul salah satu pria yang tampak sedang memukuli pria lainnya. Belum sempat pria tersebut berbalik, dia tersenyum lebar dan kembali memukul orang tersebut tepat di kepalanya. Darah segar mengucur deras dari kepala orang tersebut bagai semburan mata air yang terus menerus keluar dari lapisan bumi. Dia menatap sosok yang sedang tergeletak tersebut dengan sendu. "So weak," ucapnya sembari mendekati sosok lainnya yang sedang bersimbah darah tak sadarkan diri. "Sama denganmu," tambahnya sembari menggendong sosok yang sedang tak sadarkan diri tersebut.
'PYAK'
Dia berbalik dan menatap kedua kakinya yang sedang berpijak pada lautan darah segar. Rambutnya tertiup angin kencang yang bertiup pada saat itu. Dia tersenyum lebar dan mengarahkan tangannya pada lautan darah tersebut.
'BWOSH'
Api besar menyulut dari tangannya dan melahap semua yang ada di hadapannya. Dengan langkah pelan dia pergi dari gedung tersebut sembari membawa sosok lemah yang terkulai tak berdaya di gendongannya.
Mad Gangster
First Note
.
.
Suasana pagi yang begitu tenang tampak memayungi sebuah bar dengan nuansa klasik yang begitu elegan. Tampaknya badai semalam sama sekali tak berpengaruh dengan keadaan bar tersebut. Matahari yang telah terduduk manis di ufuk wetan tampaknya sudah mulai ceria kembali. Cahaya hangatnya mulai menyirami seluruh nara yang ada di permukaan bumi belahan Asia Timur. Aroma Tsuya perlahan tergantikan dengan kehangatan awal musim panas.
Tampak seorang pria dengan rambut pirang pudar yang sedang sibuk membersihkan gelas-gelas yang tersusun rapi pada meja bartender tersebut, Izumo Kusanagi. Tak pernah bosan. Izumo tak pernah bosan dengan apa yang dikerjakannya. Bahkan dia sangat menyukai dan mencintai pekerjaannya. Dia tersenyum tipis saat matanya menangkap seorang gadis kecil yang bermain dengan bola kaca kecil berwarna merah yang berada tak jauh darinya.
"Bodoh! Jangan membersihkannya dengan cara seperti itu! Hei jangan memakai benda itu!"
"Eh? Kenapa? Kan ini bagus sekali!"
"Pokoknya kau tidak boleh memakainya dan berhenti mengikutiku!"
"But, San-chan~"
"Diam! Kalau pecah Izumo bisa mengamuk!"
Sosok berambut pirang itu menghela napas lelah ketika mendengar keributan kecil yang selalu terjadi di bar tersebut dan pelakunya selalu orang yang sama. Mata cokelatnya menatap lelah pada dua bocah yang selalu meramaikan suasana bar miliknya tersebut. Matanya kini beralih pada seorang gadis kecil yang sama sekali tak merasa terganggu dengan keributan tersebut. "Anna-chan, apa kau melihat Mikoto?" tanyanya kepada gadis berumur sebelas tahun tersebut dengan pelan.
Gadis itu berbalik dan menatap Izumo dengan kedua pasang netra merahnya dengan lekat. "Dia beristirahat," ucapnya singkat sembari kembali bermain dengan bola-bola kaca merah yang ada di hadapannya. Mendengar jawaban singkat tersebut Izumo hanya mampu menghela napas lagi. Sepertinya gadis tersebut sulit sekali tertarik dengan orang maupun topik pembicaraan.
Izumo tersenyum dan menatap kedua pria yang masih sibuk bertengkar satu sama lain.
'PRANG'
Dan senyuman Izumo menghilang sempurna ketika matanya melihat salah satu pria tersebut memecahkan sebuah gelas kecil yang terletak di atas sebuah meja di pojok ruangan. Dia tersenyum sangat lebar ke arah dua pria tersebut. Tiba-tiba dia tertunduk dan—
'BWOSH'
—api panas menguar dari tubuhnya. "Ka-li-JANGAN LARI!" teriaknya sembari menatap kedua sosok yang kini sudah tak berada di hadapannya. Yang ada hanyalah pintu masuk yang tampak berayun akibat dibuka dengan paksa dan kasar. Dia menghela napas lelah. Kemarin Yata dan Kamamoto dan sekarang Bandou dan Shouhei. Ingin rasanya Izumo membakar keempat orang tersebut di dalam tungku panas dengan api abadinya.
'Tap Tap Tap'
Dia menolehkan kepalanya dan menatap seorang pria yang kini sedang menuruni tangga dengan wajah malas dan lelah. Karismanya begitu kuat dan mampu membuat siapa saja yang melihatnya menciut dan menyingkir. "Kau tidur nyenyak, Mikoto?" tanyanya sembari menatap sosok berambut merah darah tersebut dengan senyuman tipis. Sosok itu benar-benar membuatnya kagum. Mulai pertama kali dia bertemu dan sampai sekarang, dia selalu bisa membuat Izumo kagum dengan apa yang dimilikinya.
"Aku masih lelah," jawab orang tersebut dengan datar. Dia adalah Mikoto Suoh yang merupakan ketua dari perkumpulan yang didirikannya beberapa tahun lalu. Mikoto Suoh terkenal dengan julukannya yang selalu membuat orang menatapnya kagum, yaitu The Red King. Karena Mikoto memiliki aura api merah membara yang begitu kuat dan menakjubkan bagi orang-orang. Dia tampak meregangkan badannya dan mendudukkan dirinya tepat di sebelah gadis berambut putih bernama Anna yang sedari tadi sibuk bermain dengan bola-bolanya.
'KLANG'
Bunyi lonceng pada pintu masuk bar tersebut membuat ketiga orang tersebut menoleh. Tampaklah dua orang pria yang sedang tersenyum ke arah mereka. Seorang pria dengan senyuman yang selalu tergambar di wajahnya dan seorang pria lainnya yang selalu memakai kacamata dan topi, Yu Chitose dan Masaomi Dewa. Mereka tersenyum dan berjalan mendekati Izumo. Mereka mendudukkan diri pada kursi di depan meja bartender tersebut dan menatap Izumo dengan seringaian kecil.
"Ada kabar apa?" tanya Izumo seolah-olah mengerti dengan seringaian kedua temannya tersebut. Dia meletakkan dua gelas minuman tepat di hadapan kedua orang tersebut.
"Saat badai semalam, ada perkelahian kecil yang terjadi di dekat gedung kosong sebelah utara pertokoan tunggal. Menurut penyelidikan, yang terlibat perkelahian adalah dua orang pria. Salah satu pria sudah mati dan yang lainnya menghilang tanpa jejak." Dewa tampak menjelaskan panjang lebar kepada Izumo sembari menegak minuman yang diberikan Izumo.
"Lalu, apa yang aneh dengan hal itu?" tanya Izumo sembari mendekatkan wajahnya ke arah Dewa dan Chitose yang sedang sibuk menyesap minuman paginya.
Kedua sosok itu menyeringai sembari menatap Izumo dan beralih pada ketua mereka, Mikoto Suoh. "Dan menurut saksi mata. Ada orang ketiga yang terlibat dalam perkelahian itu dan bertanggung jawab atas matinya salah satu pria tersebut. Dan kau tahu siapa yang menjadi tersangka?"
Hening.
Dewa membetulkan letak kacamatanya dan menopang dagunya dengan kedua tangannya. "Orang itu adalah salah satu dari anggota Homra."
"HEEEEE? Benarkah itu? Siapa orangnya?"
Baik Dewa, Chitose, Izumo, Anna, dan bahkan Mikoto menatap dua sosok yang berada di belakang Dewa dan Chitose dengan kesal.
'TWITCH'
"JANGAN MUNCUL DAN MERUSAK KETEGANGAN SEMBARANGAN!" teriak Dewa, Chitose, dan Izumo bersamaan dengan nyaring. Chitose tampak mengelus dadanya dengan pelan sementara Izumo berusaha menormalkan jantungnya yang baru saja dikejut kaget oleh dua orang bodoh yang ada di hadapannya.
Kedua sosok tersebut hanya tersenyum lebar. "Heheheh, kami hanya terbawa suasana," ucap seorang pria dengan rambut cokelat muda dan mata cokelat yang indah.
"Ceh! Kau saja yang berisik!" sosok berambut hitam dengan warna mata yang sewarna dengan matanya tampak mendengus kesal.
"But, San-chan~ kau juga tegang bukan. Sama seperti semuanya, heheh."
Mikoto hanya mampu menghela napas lelah saat mendengar ucapan kedua anak buah gilanya tersebut. Matanya kini beralih pada sesosok gadis kecil yang tampak mendekatkan bola merah kacanya ke mata merahnya. "Bahaya mendekati Homra. Dan Izumo-san akan bersedih."
Eh?
Semuanya menatap Anna dengan bingung dan kemudian menatap Izumo secara bergantian. "A-anna-chan? Apa maksudmu dengan aku akan bersed—"
'BRUAK'
Pintu itu dibuka dengan kasar dan tampaklah seorang pria dengan jaket yang terikat di pinggangnya dan headphone yang tergantung manis di lehernya. Rambut cokelatnya tampak basah akibat keringat. Yang membuat mereka semua terdiam bukanlah kemunculan sosok tersebut. Melainkan sosok yang sedang digendong oleh orang itu. "Ya-yata? Kau membawa siapa?"
"Tolong rawat dia. Aku harus segera pergi dari sini. Kumohon rawatlah dia!" sosok dengan mata hazel tersebut meletakkan sosok tak berdaya yang ada di gendongannya ke sofa yang ada di ruangan tersebut dengan hati-hati. Setelah itu dia segera pergi dari tempat tersebut.
Keheningan melanda ruangan besar tersebut saat Yata pergi dengan seenaknya. Sementara Shouhei dan San-chan tampak membulatkan matanya saat menatap sosok yang tak sadarkan diri tersebut.
"Ada apa?" tanya Dewa sembari menatap kedua orang tersebut dengan bingung.
"Di-dia! Dia sosok yang terlibat dalam perkelahian semalam yang Dewa-san ceritakan barusan!" ucap Shouhei seraya menunjuk sosok tersebut dengan horror.
"Hah?"
Hening.
Hening.
Hen—
"YATAAAAAAAAA!"
Izumo terdiam di tempat sembari menggenggam gelas kaca yang sedang dibersihkannya dengan kuat. Rahangnya tampak mengeras saat dia mendongakkan kepalanya dan menatap pintu tempat Yata keluar barusan. Mikoto tersenyum tipis saat melihat Izumo saat itu. "Maa, sepertinya ada yang sedang cemburu," batinnya sembari menatap langit luar yang tampak begitu cerah melalui kaca besar yang ada di sebelahnya dengan lekat. Tiba-tiba senyuman tipis terukir di wajahnya. "Apa kau akan memberi tantangan lagi, Mu-na-ka-ta-kun?"
Sepertinya sebentar lagi kekacauan akan dimulai.
.
.
.
Seorang pria berambut hitam panjang tampak berjalan di tengah keramaian dengan santainya. Belakangan ini sosok itu diketahui bernama Yatogami Kuroh. Matanya menatap awas pada para nara yang melewatinya. Menjaga keseimbangan kotak yang sedang ada di pelukannya dengan ketat. Menjaga-jaga jika ada orang yang menabrak atau pun menyenggolnya. Dia tampak memeluk erat kotak yang ada di pelukannya sembari sesekali mengelusnya—menganggapnya seperti anaknya sendiri. Dia tersenyum tipis saat melihat jalanan di hadapannya tiba-tiba kosong. Ha—ah, sepertinya orang-orang ini begitu mengerti dengan keadaannya yang membawa barang berharga.
"Baik sekali orang-orang in—"
'BRUK'
'SYUT'
Hening.
Keheningan melanda dirinya dan orang-orang di sekitarnya saat tiba-tiba omongannya terpotong oleh seorang manusia yang menabraknya dengan tidak berkeprimanusiaan. Dan keheningan mengais dirinya lebih dalam saat dia mengetahui bahwa kotak yang tadi dipeluk dan dianggap sebagai anaknya telah tergeletak tak berdaya di bawah sana. Mata abu-abu kebiruannya tak berkedip melihat anak jejadiannya sudah terburai tak berdaya.
Dengan perlahan dia menundukkan dirinya dan memegang barang berharga tersebut. Senyuman tipis terukir di wajahnya. "Ku-kue pesanan pe-pelangganku? Ma-mati," ucapnya tidak jelas sembari meratapi ketiadaan kue yang dianggapnya barang berharga sekaligus anaknya tersebut.
'DENG'
Dia berbalik dan menatap sosok yang baru saja menabraknya dengan kasar tersebut. Pria yang memakai kupluk, dengan sebuah headphone tergantung di lehernya, dan skateboard yang menempel pada kedua kakinya. Dia tampak menarik napas panjang sembari mengambil benda yang ada di kantongnya. Sebotol penyedap rasa yang selalu dibawa-bawanya. "KEMBALI KAU KESINI DASAR BERANDAL!"
'DUAGH'
Dia melemparkan botol tersebut dan tepat mengenai kepala orang yang menabraknya barusan.
"SIAPA YANG BERANI MELEMPARKU? HAH?" sosok tersebut tampak berbalik dan menatap Kuroh dengan kesal dan marah. "WANITA SIALAN!"
WHAAAT?
Rasanya kesabaran Kuroh sudah putus akibat sosok tersebut. Dia berani menabraknya dan berani mengatainya wanita? Wanita? Dia pria tulen, dammit!
Dan terjadilah aksi yang sangat tidak senonoh.
.
.
.
Seorang pria dengan kacamata dan rambut hitam kebiruan tampak menyeringai lebar saat melihat seorang pemuda yang tampak menggunakan skateboard dengan kecepatan yang ekstrim sedang melewati bangunan besar yang begitu tinggi. Wajah sosok itu tampak terlihat begitu tertekan dan kelelahan. Namun, sedetik kemudian keringat sweat dropped menuruni pelipisnya saat memperhatikan adegan perkelahian tidak senonoh yang orang itu lakukan dengan 'wanita' yang ditabraknya. "Double bad temper, huh? Just like you … Mikoto," ucapnya bingung sembari tetap memperhatikan adegan tersebut.
TO BE CONTINUED
Terima kasih bagi yang telah membaca fic ini. Hehe senangnya bisa buat fic di Fandom K. Semoga saya dapat berteman dengan author-author K lainnya. Dan semoga makin banyak yang meramaikan This Newest Fandom. Ayo ramaikan Fandom ini! Kalahkan Fandom-fandom mainstream lainnya! Dan kalau bisa sekalian berbagi ilmu penulisan, hahaha! *abaikan author yang satu ini*. Nyahahah senangnya bisa membuat Kuroh dengan karakter dan kemampuan asli yang dimilikinya! Oh, poor Chef! *ketawa nista* tenang aja, Kuroh ngga bakal author nistain kok, hehehe. Salam S. Oyabun. Arigatou gozaimasta!
Mind to Review?