Disclaimer: Naruto bukan punya Hika.. kalo Sasuke baru milikku MWAHAHAHA *Di sumpel Kishimoto
Rate: masih galau, tinggal minna yang menilai saja *diBantai*
Pairing: SasuHina, HinaSasu, SasukexHinata, whateper…
Gendre: Romance/Drama
Warning: AU, OOC pastinya, Typo pun gak ketulungan, gaje, abal dan segala kekurangan yang membuat fic ini jauh dari kata SEMPURNA..
Don't like? Don't read.. flame? I don't care.. ( ~_")~
Happy Reading ^^d
May i hate you?
...
Sasuke memijit pelipisnya frustasi, telinganya terasa panas mendengar gelak tawa halus gadis di sebelahnya. Memang bagian mana yang salah darinya, rencananya untuk memberi kejutan manis bagi gadis bermata lavender ini bukankah sangat romantis.
Sebuah kejutan yang tak terduga, Sasuke pikir saat Hinata melihatnya, mata gadis itu akan berbinar senang dengan sedikit tambahan air mata yang berkumpul di pelupuk mata lavendernya membuatnya tampak berkaca-kaca. Setelah itu, Hinata akan tersenyum malu-malu lalu berlari dan memeluk Sasuke sambil mengatakan 'arigatou.' berkali-kali.
Tapi entah kenapa? semua bayangan itu musnah saat tiba-tiba Hinata tertawa cekikikan lalu berubah jadi tawa renyah yang terdengar aneh ditelinga Sasuke.
Penampilan manis dan elegan yang sempat Hinata bawakan setelah hampir setengah jam Sasuke menunggu hasil karya para pelayan profesional di bidang makeover semakin memperburuk mood Sasuke. Sebab, dalam waktu kurang dari semenit gadis itu langsung memecahkan harga diri serta kekaguman Sasuke padanya hanya dengan suara tawanya.
Oh great.
"Bisakah kau diam!" perintah Sasuke sedikit kesal, mendengarnya Hinata berusaha menahan tawanya dengan menahan nafas namun sedetik kemudian ia kembali tertawa tertahan membuat wajahnya tampak memerah.
"M-maaf… pftt.. tapi ini a-aneh sekali," ujar Hinata jujur sambil memegangi perutnya yang terasa sakit karena menahan tawa. "I-ide siapa ini?" tunjuk Hinata pada sebuah meja bundar berlapis kain putih bersih yang diatasnya telah tersaji hidangan lezat untuk dua orang, sebuah lilin beraroma manis dan vas bunga yang berisi bunga mawar merah segar. Balkom rumah Sasuke yang biasanya sepi kini disulap menjadi tempat paling romantis dengan bertaburkan bintang dan bulan dilangit serta alunan musik lembut dari violin yang dimainkan oleh orang profesional yang sengaja Sasuke bayar mahal untuk acara dinnernya bersama Hinata.
"Jika kau tidak suka tidak usah tertawa seperti itu." ujar Sasuke ogah-ogahan.
"Ehem.. b-bukannya begitu, hanya saja ini tidak seperti Sasuke yang a-aku kenal, semua jadi t-terasa aneh." Hinata memasang wajah polosnya. Sasuke yang masih dilanda kesal berjalan asal menuju meja didepan mereka dan duduk di sana dengan pose angkuh. Melihat tuan mudanya dalam keadaan bad, pelayan yang awalnya berdiri bagai patung segera menyingkir saat tatapan tajam Sasuke mengarah pada mereka.
"Erm… S-sasuke," panggil Hinata dengan suara kecil.
"Hn." Jawab Sasuke asal.
Sedikit gugup, Hinata melangkah mendekati Sasuke dan duduk bersebrangan dengan pemuda itu. "Kau.. marah ya?"
"Entahlah."
"Hm?"
Sasuke menghela nafas, "Pulanglah… akan ku suruh Obito mengantarmu."
"Ke_"
"Aku malas berdebat, Hinata." Potong Sasuke datar, mata kelamnya menatap lurus kearah Hinata yang tampak gelisah di tempatnya. Dengan wajah tertunduk, gadis bekulit pucat itu memainkan ujung dress merah maroon pemberian Sasuke. Sasuke menghela nafas, "Tidak perlu memasang wajah menyedihkan seperti itu."
"A-aku tidak, Hmpp.." Hinata memilih tidak melanjutkan kalimatnya, tak ingin membuat Sasuke semakin kesal padanya. "Ba-baiklah.. mungkin s-sebaiknya aku pulang.." ujar Hinata lalu berdiri secara terburu-buru, baru beberapa langkah ia berjalan, gadis bersurai indigo itu kembali menghampiri Sasuke.
"Ada apa lagi?"
"A-ano, Sasuke… pakaianku mana?" tanya Hinata polos.
"Sudah ku buang." Jawab Sasuke enteng.
"Ap- kenapa kau buang?!"
"Tidak usah berteriak.." perintah Sasuke.
"Sasuke…" Hinata nyaris menangis menghadapi tingkah Sasuke yang terkadang kekanakan."Aku tidak tahu apa sebenarnya niatmu.." Gadis itu mendekat, menyentuh kedua pundak Sasuke dengan wajah menunduk lemas. Sasuke seolah mengerti dengan apa yang selanjutnya akan di lakukan Hinata saat tangan gadis itu perlahan-lahan naik dengan gerakan lembut menuju tengkuk, leher, rahang, pipi…
"Tapi kenapa kau buang?.." ujar Hinata sambil mencubit pipi Sasuke gemas. Sasuke yang terkejut dengan tindakan yang dilakukan oleh Hinata secara refleks segera melepas cubitan pada kedua pipinya.
"Kau cari mati ya?" ujar Sasuke kesal. Dan bukannya takut, gadis berponi rata itu justru kembali mencubit kedua pipi Sasuke yang memerah akibat ulahnya.
"Ini agar Sasuke sadar~" ujar Hinata kegirangan.
"Hei!" kesabaran Sasuke sudah mencapai puncaknya, dengan ekspresi marah, pria 20 tahun itu mencengkram kedua pergelangan tangan Hinata. Dan entah apa yang dipikirkan gadis itu, mata obsidian miliknya terus menatap kedua mata kelam milik Sasuke dengan ekspresi terkejut.
Melihat air muka Hinata yang berubah ketakutan, Sasuke baru sadar jika tadi ia membentak gadis lugu itu dengan kasar. Sasuke memang sering memarahi atau bertindak seenaknya pada Hinata, namun ini pertama kalinya gadis itu menampakkan wajah ketakutan yang berlebihan seperti saat ini.
"Kau kenapa?" Sasuke tidak bisa menahan dirinya untuk tak mencemaskan Hinata.
Tak menjawab, justru kini air mata berkumpul dipelupuk mata Hinata, mengancam untuk tumpah membanjiri kedua pipi tembamnya. Sasuke yang bingung harus berbuat apa hanya bisa menghela nafas. "Dengar, aku tidak bermaksud untuk membuatmu menangis, oke." Bujuk Sasuke.
Namun Hinata tetap tak merespon, gadis itu dengan perlahan berusaha melepaskan tangan Sasuke di kedua pipinya, sebisa mungkin menghindari tatapan Sasuke.
"A-aku ing-ingin pu-lang," ujar Hinata putus-putus.
"Baiklah, tapi katakan kau kenapa?"
Hinata hanya menggeleng-gelengkan kepalanya, "Pu-pulang~" pekiknya lirih.
"Baiklah, baiklah. Akan ku antar." Lagi-lagi Hinata menggelengkan kepalanya.
"A-aku mau naik bis s-saja!"
"Tidak, kau pikir sekarang sudah jam berapa eh?"
Wajah Hinata tertekuk kesal, dalam hati ia terus merutuk karena tak kunjung sampai. Sesekali ia melirik kearah kursi kemudi dimana Sasuke sengaja memperlambat laju kecepatan lamborghini putih miliknya padahal jalanan yang mereka lewati saat itu bebas dari kemacetan.
Tak tahu harus berbuat apa, gadis berponi tebal itu mengedarkan pandangannya ke arah luar kaca mobil, menatap bangunan raksasa yang tinggi menjulang memenuhi tiap pinggir jalanan. Tanpa sadar gadis itu tersenyum kecil saat mendapati pemandangan sepasang kekasih yang terlihat harmonis berjalan kaki sambil bergandeng tangan melewati pertokoan, atau makan bersama di kedai yang berjejer di bawah naungan lampu warna-warni. Ah, pasti akan sangat menyenangkan jika ia bisa seperti mereka.
Kadang Hinata merasa iri pada mereka, pasalnya sejak ia menjalin hubungan dengan Sasuke, mereka sama sekali belum pernah menghabiskan waktu bersama seperti pasangan pada umumnya. Sekalipun mereka hampir setiap waktu bersama, namun Hinata merasa ada hal yang tak bisa ia lakukan bersama Sasuke, ia merasa.. kurang bebas.
"Kau masih marah?"
"Huh?" Hinata menatap Sasuke gugup, menyesali akan pikirannya yang seolah tak mensyukuri keberadaan Sasuke di sisinya. "A-aku… tidak."
Hening.
"S-sasuke,.." tiba-tiba Hinata merindukan ibunya. "Bi-bisakah kau m-mengantarkanku ke ru-rumah Okaa-san?"
Sasuke tak menjawab, tak mau membuat mood Hinata kembali buruk, Sasuke hanya menanggapi dengan kalimat "Hn." Lalu ia memutar balik kendaraannya menuju kediaman Yuuhi.
"Hinata.." wanita berkulit pucat itu segera merentangkan kedua tangannya, menyambut kedatangan putrinya dengan sebuah pelukan hangat. Dengan senang hati, Hinata menyambut pelukan wanita yang sudah ia anggap ibu kandungnya itu.
"Aku rindu Kaa-san~" ujar Hinata lemah di bahu ibunya.
Kurenai tersenyum lembut, dibelainya rambut indigo Hinata dengan sayang. "Apa kau sedang ada masalah?" pada saat itu, Kurenai baru menyadari ada kehadiran orang lain selain mereka saat itu. seorang pemuda tampan yang berdiri diam menatap mereka dengan wajah tenang sambil membawa sekantung buah-buahan.
"Ah, kenapa tidak bilang jika Hinata-chan membawa teman?" ujar Kurenai melepas pelukannya. Hinata menahan nafasnya, ia hampir lupa jika tadi ia juga bersama Sasuke.
"M-ma-maaf.. aku l-lupa," cicit Hinata menyesal.
"Apa kabar bibi? Perkenalkan, nama saya Uchiha Sasuke." ujar Sasuke sopan sambil membungkukkan badannya. Kurenai sedikit terbengong, biasanya teman-teman Hinata tak ada yang menggunakan bahasa se-formal itu saat berbicara.
"Aa…" Kurenai mengamati penampilan Sasuke dari atas sampai bawah, dan saat ia ingin kembali berkomentar Hinata sudah lebih dulu memotongnya.
"Kaa-san, i-ini Sasuke, dia t-temanku.."
"Teman ya?" jelas sekali saat ini Kurenai tengah menggoda Hinata dengan pertanyaannya itu, membuat Hinata tak dapat menahan rona merah di kedua pipinya. "Baiklah.. ayo masuk," ujarnya seraya tersenyum lembut.
Setelah masuk kedalam rumah berlantai kayu, Hinata yang tentu saja sudah sangat hafal dengan letak setiap ruangan segara menuju dapur diikuti Sasuke. Kurenai yang melihat pemandangan di depannya segera tersenyum lembut, entah mengapa ia seolah tengah menyaksikan sepasang suami-istri yang baru pulang berbelanja bersama.
"Biar Aku saja!" ujar Kurenai saat Hinata akan memanaskan teko berisi air. "Kau bawa saja temanmu ke ruang tamu!"
"Ti-tidak apa-apa.. kondisi kaa-san belum pulih sepenuhnya, kaa-san i-istirahat saja." Ujar Hinata halus.
"Tidak boleh, aku memang sakit, tapi aku cukup kuat untuk membuatkan putriku secangkir teh hangat!" ujar Kurenai keras kepala, akhirnya Hinata menghela nafas dan membiarkan ibunya untuk membuatkan mereka teh sedang ia sendiri mengambil beberapa camilan sebagai pendamping teh mereka nantinya.
…
10 menit telah berlalu,
Dan tak seorangpun dari ketiganya yang berniat untuk membuka suara. Sasuke terlihat sibuk mengetuk-ngetukkan jarinya di meja sambil menopang dagu dengan mata lurus kearah Hinata yang berada tepat di depannya dengan ekspresi datar. Hinata yang pemalu semakin gugup saat merasa pandangan Sasuke terus-menerus mengarah padanya sehingga ia hanya menunduk dan memainkan kedua jarinya, sesekali ia akan melirik kearah Sasuke dan akan menunduk semakin dalam saat menemukan pria itu memasang seringainya.
Sedangkan Kurenai..?
Wanita bermanik redah menyala itu hanya bengong melihat tingkah keduanya. Bahkan seingatnya, saat kencan pertamanya bersama sang suami tak pernah secanggung ini. Perlahan suara tawa kecil keluar dari bibir Kurenai membuat Hinata maupun Sasuke mengalihkan perhatian mereka pada Kurenai.
"Kalian lucu sekali.."
Sasuke dan Hinata kini saling bertatapan bingung melihat gelak tawa Kurenai.
"Apa kalian selalu seperti ini saat sedang kencan?"
Geezz..
Bahkan Sasuke tak dapat menahan rona kemerahan muncul di kedua pipinya(oh my gosh.. Sasu blushing*tepar) dan Hinata, sebaliknya wajah gadis itu tampak memucat dengan ekspresi mematung. Rasanya Hinata ingin menangis..
Melihat ekspresi keduanya, Kurenai tersadar akan sesuatu. "Eh, jadi aku benar?" tanya Kurenai polos. Dan Kurenai sukses membuat Hinata menangis layaknya anak kecil yang kehilangan barang kesangannya.
You#
"Uuuh.. panas." Hinata mengusap keningnya yang berkeringat, menatap ngeri pada teriknya matahari, ia tak begitu menyukai musim panas dimana selalu bermandikan cahaya ultraviolet yang serasa membakar kulit pucatnya.
Hinata menghela nafas, didekapnya bungkusan berisi tepung yang tak lama lagi akan berubah menjadi kue lezat buatannya. Untuk seukuran gadis pemalu sepertinya, bekerja di café sederhana seperti sekarang sangatlah menguntungkan. Ia hanya perlu menerima pesanan dari pelayan lain, membuatkan pesanan, dan
Clinkk..selesai..
Lagi pula ia juga bisa sesekali mencicipi masakannya sendiri yang kebanyakan berasa manis favoritnya itu.
"Selamat datang..!" Hinata dapat mendengar gemerincing lonceng kecil yang tergantung di atas pintu pengunjung saat para pelayan menyambut pengunjung yang datang hari itu.
"Ohayou.." Deidara, salah satu koki senior yang juga bekerja di café yang sama dengan Hinata menyapa saat ia baru masuk melalui pintu belakang, ia terlihat sibuk membawa berbagai bahan pokok untuk keperluan café. Di belakangnya terlihat Sasori- koki yang terlihat seperti anak-anak namun memiliki kemampuan jauh diatas Hinata maupun Deidara, terlihat kerepotan dengan barang bawaannya.
"O-ohayou senpai_" Hinata buru-buru menghampiri Sasori untuk membatunya.
"Ah, arigatou Hina-chan.." ujar Sasori bersyukur, Hinata hanya menjawabnya dengan senyum kecil.
"Eh.. Hinata-chan, sepertinya pengunjung itu mengenalmu!" tiba-tiba muncul seorang gadis bertubuh mungil yang mengintip melalui pintu pembatas.
"Siapa?"
Gadis berambut coklat itu mengedikkan bahu, "Wajahnya cantik dan rambutnya berwarna err.. pink?"
Mungkinkah Sakura-chan? Batin Hinata tak menyangka. Maka buru-buru gadis itu melepas apronnya dan meminta izin pada kedua senpainya untuk menemui temannya itu.
…
"Hello, Hinata-senpai.." Sakura membungkukkan badannya sedikit lalu tersenyum kecil kearah Hinata. Hinata tersenyum kikuk dan balas membungkuk, tanpa sadar ia membandingkan dirinya dengan penampilan Sakura saat ini.
Gadis berdarah Jerman-Jepang itu tampak menawan dengan casual blouse yang dipadupadankan dengan celana pendek. Jujur Hinata iri melihat bentuk tubuh Sakura yang tinggi semampai serta langsing, tak seperti dirinya yang terlihat gemuk.
"Maaf, apa aku mengganggu?"
Hinata gelagapan saat lamunannya buyar oleh teguran Sakura barusan, tampak semburat merah di kedua pipi chubby-nya. "Eh, te-tentu saja tidak!" sela Hinata malu-malu, saat ini sepatu sneakers yang dikenakannya terlihat jauh lebih menarik perhatiannya.
"Jadi, apa boleh jika kita duduk saja?"
Demi apapun, Hinata serasa ingin memukul kepalanya dengan palu raksasa atau menghantamkannya ke dinding untuk membuatnya amnesia secara tiba-tiba agar ia bisa lupa betapa bodohnya dia hari itu. Bagaimana bisa ia hanya berdiri seperti orang dungu dan membiarkan orang yang seharusnya menjadi 'tamu' untuk menawarkan dirinya sendiri untuk duduk?!
"I-itu… aku, uhh.. m-maaf Sakura-chan." Sakura hanya tersenyum samar, sedang Hinata dengan agak kikuk, mempersilahkan gadis berambut pink itu untuk duduk di kursi yang berada di sudut ruangan samping dinding kaca dimana tak begitu banyak pengunjung karena masih pagi.
"Ternyata di sini sangat nyaman," ujar Sakura sambil melihat sekelilingnya. "Pasti sangat menyenangkan bekerja di sini." Hinata tersenyum malu menanggapi ucapan Sakura.
"Ano… bagaimana Sakura bisa tahu aku ada di sini?"
"Hm?" Sakura mengeluarkan selembar kertas dari dalam tas kecil yang dibawanya. Lalu memperlihatkannya pada Hinata, "Aku melihat gambarmu di selebaran ini."
"A-aa.." Hinata tentu tahu tentang selebaran yang salah satunya kini ada di tangan Sakura, itu selebaran yang digunakan untuk mempromosikan menu baru di café dua hari yang lalu.
"Oh ya.." lagi-lagi Sakura membongkar isi tasnya, "Ini," ujarnya sambil menyerahkan selembar undangan berwarna hitam dengan tulisan bertinta emas.
"Undangan apa ini?"
"Orang tuaku akan merayakan pesta ulangtahun pernikahan mereka… aku harap senpai bisa datang, senpai juga bisa membawa pasangan kok. Kumohon…!" pinta Sakura dengan wajah memelas.
"Uh-uhh… a-aku…"
"Please~" pinta Sakura dengan mata berkaca-kaca, Hinata menghela nafas pendek, lalu kemudian ia mengangguk pelan meng-iyakan permintaan Sakura.
"Bagus..," ucap Sakura ceria. "Ne, kalau begitu aku pergi dulu."
"Eh, Sakura-chan sudah mau pergi?"
"Hm, aku tidak mau mengganggu pekerjaan senpai.. aku janji lain kali aku akan berkunjung sebagai pelanggan yang sebenarnya."
"B-benarkah? Baiklah.." Hinata melambai pelan saat Sakura meninggalkan café. Ia lalu membuka isi undangan dan membacanya, beberapa detik kemudian ia menghela nafas, "aku kan tidak biasa ke pesta.." gumamnya lemah. Diam beberapa menit, ia mulai berfikir telah melupakan sesuatu.
"Ah, cake-nya.." pekiknya panik dan buru-buru menghampiri oven yang ia tinggalkan saat menemui Sakura barusan. Dan setelahnya Hinata harus meminta maaf berkali-kali karena ia meninggalkan tanggung jawabnya kepada orang lain.
"Sasuke?" Hinata tengah membawa sekantung besar sampah untuk ia buang melalui pintu belakang saat ia melihat sosok tegap berdiri tak jauh darinya.
"Hai.."
"Apa yang sedang kau lakukan di sini? Kupikir kau sedang sibuk?" tanya Hinata bingung.
"Aku mencarimu," gumam Sasuke sambil mengurangi jaraknya dengan Hinata.
"E-eh… kau kan b-bisa lewat depan saja. K-kenapa malah lewat p-pintu belakang?" Hinata menghindari tatapan Sasuke yang bisa membuatnya kehilangan kata-kata.
"Di luar terlalu banyak pengganggu," Sasuke menatap datar Hinata. "Aku jadi tak bisa leluasa memakanmu."
"Eh, m-memakanku?" tanya Hinata tak mengerti, tubuhnya bergidik saat jemari Sasuke menyentuh pinggangnya. Gadis beraroma cherry itu tak dapat menahan rona merah menghiasi kedua pipinya yang memanas, bahkan ia bisa mendengar detak jantungnya yang memompa dengan cepat dan tak beraturan.
"Pasti kau sangat lezat.." Sasuke menyeringai.
"A-apa kau lapar? Aku bi-bisa mengambilkanmu sisa cake yang ku buat j-jika kau mau.." tawar Hinata karena mengira Sasuke hanya sedang lapar, maka dari itu ia berbicara aneh.
Sasuke menggeleng lemah, "Siapa bilang kau boleh pergi? Aku sangat lapar.. tapi aku tidak mau memakan apapun kecuali kau," Seringai kian melebar saat mendapati ekspresi Hinata yang terlihat lucu, tanpa aba-aba dengan secepat kilat ia mengulum bibir lembut Hinata membuat sang pemilik mengerang tertahan.
Hinata membenamkan jari-jari lentiknya dalam lebatnya rambut Sasuke saat lidah lelaki itu masuk kedalam mulutnya dan bereksplorasi di dalamnya. Cukup lama hingga akhirnya Sasuke melepaskan ciumannya, namun kedua tangannya tetap ia benamkan di helaian rambut Hinata seolah tak ingin jika gadis itu lepas darinya.
Ia menyeringai puas melihat tampang berantakan Hinata. Nafasnya yang terengah, wajahnya yang memerah dan bibirnya yang tampak sedikit bengkak akibat ulahnya. Inikah yang ia maksud dengan memakan Hinata?
"P-pervert.." gumam gadis itu sambil menunduk malu.
"Heh.." Sasuke merapikan rambut puncak kepala Hinata, seolah hendak menyisir helaian indigo yang menjadi mahkota gadis manis itu. "Aku hanya ingin menebus hutang maafku padamu," Hinata mendongak menatap Sasuke yang balik menatap lembut kearahnya.
Sasuke lalu mengecup puncak kepala Hinata, "Sampai nanti." Ujarnya datar kemudian meninggalkan Hinata yang mematung ditempatnya begitu saja.
Uchiha Sasuke itu menyebalkan.. tapi kenapa aku tak bisa menahan diriku untuk merasa senang?
Hinata berjalan lunglai menuju kamar apartementnya. Garis hitam di bawah matanya menandakan jika sang pemilik lavender sangat kelelahan. Sesekali gadis itu akan memberikan senyum kecilnya saat penghuni lain dari apartement tak sengaja lewat, meski tak banyak dari mereka yang memilih cuek. Hinata memang kurang mencolok dimata para penghuni lain meski ia sudah bertahun-tahun tinggal di sana.
Namun, berbeda dengan Uchiha Sasuke. Sejak pertama kali pewaris satu-satunya perusahaan Uchiha corp itu menginjakkan sepatu mahalnya di apartement yang sangat jauh dengan kriterianya ini, Sasuke sudah sangat di kenal.
Dulu, tak jarang gadis-gadis lajang yang tinggal di sana akan berbondong-bondong mengunjungi kamar Hinata dengan alasan bermacam-macam hanya untuk bisa melihat Sasuke. Ketampanannya yang tak kalah dengan bintang Hollywood, tubuhnya yang atletis, mobil dan caranya berpakaian yang menunjukkan betapa kayanya dia, semua itu seolah menjadi magnet untuk gadis-gadis centil seperti mereka.
Hinata mendengus, mengingat bagaimana para gadis lebih banyak membencinya gara-gara Sasuke membuatnya jengah. Meski kini gadis-gadis itu tak se'agresif dulu, namun sangat terlihat jika mereka tak menyukai Hinata dan entah kenapa dirinya seolah menyalahkan Sasuke atas semua ini.
Otak Hinata yang dipenuhi oleh nama Sasuke dan segala kesempurnaan yang dimilikinya segera sirna saat sesosok pria tegap bersandar di samping pintu apartementnya. Alarm berbahaya yang mengingatkan Hinata tak berfungsi pada tubuhnya yang tetap melangkah meski dengan langkah pelan.
Cahaya minim koridor tak memberi banyak petunjuk bagi Hinata siapa orang itu sebenarnya. Hingga saat jarak mereka hanya tinggal beberapa langkah saja, Hinata tersadar dengan kesalahannya. Sosok berkulit pucat itu menampilkan seringai menakutkan dan tatapan tajam yang seolah hendak menelanjangi Hinata.
"Kamisama…" bisik Hinata lemah sambil meletakkan kedua tangannya di depan dada.
"Hai, Imouto." Sapa Sai dengan menekankan kata 'imouto' pada kalimatnya.
"M-mau apa kau ke-kemari?" tanya Hinata berusaha tegas, namun justru suaranya terdengar mencicit saat Sai melakukan gerakan mendekat padanya. "J-jangan mendekat!" ancam Hinata sambil mundur selangkah.
Tapi Sai seolah tuli, dengan tenang ia mendekati Hinata bak binatang buas yang mendekati mangsanya. Hinata berdoa dalam hati semoga ada seseorang di koridor yang melihat mereka sehingga ia bisa meminta tolong. Namun sialnya, keadaan koridor kini benar-benar sepi layaknya kuburan.
"Ku-ubilang jangan mendekat! A-atau.."
"Atau apa? Hmm..?" Sai mencengkram lengan Hinata saat gadis itu berusaha lari. "Katakan, apa yang akan kau lakukan?" bisiknya saat menempelkan bibirnya pada daun telinga Hinata.
Gadis itu bergidik, usahanya untuk berontak sia-sia saja karena kekuatannya tak sebanding dengan Sai yang duakali lipat jauh lebih kuat darinya. "Le-lepas~" rengek Hinata tak suka. Gadis itu terpekik kaget saat dengan sangat tiba-tiba Sai memutar tubuhnya dan memeluknya erat dari belakang, tangan kanannya di gunakan untuk memeluk leher Hinata sedang tangan kirinya menjaga pinggul Hinata agar tak banyak membuat gerakan.
"A-apa-apaan kau ini, l-lepaskan aku..!" teriak Hinata panik.
"Diamlah.." bisik Sai parau sambil mengeratkan pelukannya pada leher Hinata membuat gadis itu tercekik.
"Apa maumu?" tanya Hinata ketakutan, kali ini ia tak dapat membendung air matanya sendiri.
Sai yang merasakan lengannya basah langsung memajang ekspresi sedih yang dibuat-buat. "Shhtt… kenapa kau menangis? Harusnya kau merasa senang…" ujar Sai dibuat semanis mungkin.
'kumohon, siapapun tolong aku!' teriak Hinata dalam hati. "Ka-kau gila!"
"Ya, dan itu semua karena salahmu." Bisik Sai dengan ekspresi dingin. Hinata memejamkan matanya sangat erat, bibirnya bergetar ketakutan, nafasnya serasa tercekat di tenggorokannya.
"Oh ya, pria yang tadi bersamamu… kelihatannya dia kaya, cih.. ternyata kau hebat juga,"seringai Sai makin lebar. "Tapi apa kau tahu? Aku benci saat melihatnya menyentuhmu.." Hinata memekik tertahan saat sebelah tangan Sai berusaha menyingkap pakaiannya.
Ini semua salah Uchiha Sasuke..!
Suara dalam diri Hinata berteriak protes. Pada saat itulah ia mendengar suara bariton dibelakang mereka yang terdengar tak begitu jelas.
"Aku bilang singkirkan tanganmu, brengsek!"
Buugh~
…
Semua terlihat putih di penglihatan Hinata, seolah waktu diperlambat saat Hinata merasakan tubuhnya yang kehilangan keseimbangan karena dekapan Sai yang mengendur dan tak terasa sama sekali hingga rasa nyeri di punggungnya karena menubruk tembok menyadarkannya.
Hinata mengerjapkan matanya, berusaha menormalkan penglihatannya yang sempat buram. Hinata mencari sesuatu yang bisa menjelaskan keadaan yang kini tengah terjadi. Hinata menemukan sepasang kaki yang dibalut celana jeans panjang tengah berdiri di antara dia dan Sai. Dan saat mendongak, Hinata nyaris tak percaya.
Rambut merah yang tampak acak-acakan dengan tato misterius bertuliskan 'Ai' serta sepasang mata azure yang balik menatap dingin kearahnya.
"K-kau.. G-Gaara?" tanya Hinata dengan mata terbelalak.
~TBC~
…
…
Ini chapter terakhir sebelum author kembali hibernasi berhubung author mesti berjuang untuk mendapatkan ijazah, well… doain supaya author lulus ya (^^)
Ok, this is the next chapter:
"Hinata, ayo kita kencan,". "aku akan memberi nama anak ayam ini Sasu-chan."/ "Jadi selama ini kau selingkuh dariku? Hiks… ke-kenapa kau j-jahat sekali Uchiha Sasuke..?", "Bukan aku, tapi kau yang menghianatiku."/ "Bawa aku pergi dari sini Gaara, bawa aku lari darinya!"/ "Kau di vonis dokter menderita pneumothorax. Apa kau sudah tahu?"
…
Wew, makin gaje kah ini fic… XDD
Ehem, pertama-tama, author ingin mengucapkan banyaaaakkkk terima kasih kepada minna yang sudah mau membaca, mereview, memfav ataupun memfollow fic ini, saya sangat terharu dan gak bosen baca review dari kalian. Oia, maaf kalo author gak bisa bales review bagi yang gak login (^^)v. Dan author ingin meminta maaf –lagi- karena kelemotan author dalam mempublish fic ini. TT_TTa
Kedua, author berencana menaikkan rate-nya menjadi M, bagaimana menurut kalian? Soalnya author gak yakin bisa bertahan di rate-T mengingat jalan cerita makin mengarah ke.. ehem.
Dan terakhir, author harap minna mau sedikit memberikan review baik berupa semangat, kritik maupun saran mengenai fic ini. Karena author sendiri masih ngerasa kalo fic ini banyak kekurangan.
^^a
Oke, gak mau banya bercuap.. sekali lagi terimakasih atas semua yang sudah mereview dan membaca fic ini tanpa terkecuali.. jangan lupa RnRnya saya tunggu^^
Salam, Hikari-chan
#Bow
