Summary : Jaejoong yang menyukai Siwon menghalalkan segala cara untuk mendapatkan Siwon. Tapi sebuah kesalahan membuat mantra yang ditujukan bukan untuk Siwon melainkan pada Yunho, namja yang paling ditakutinya. Apa yang akan terjadi?
Cast : YunJae, 2Min, slight YooSu, MinKyu.
Desclaimer : YunJae saling memiliki, begitu juga dengan 2Min. ^_^
Warning : YAOI, typo berkeliaran, cerita yang gejenya selangit, dan humor gak jadi (?).
,
,
Jaejoong menahan nafas saat melihat pigura itu, salah satu namja yang mirip Kyuhyun, paranormal yang membuat Yunho tergila-gila padanya.
"Apa Yunho sunbae mengenal Kyuhyun-ssi? Lalu siapa namja yang disebelah kiri Yunho sunbae?" gumam Jaejoong pelan.
Dalam pigura itu tampak Yunho yang tersenyum sambil merangkul dua namja, yang satunya mirip 'Kyuhyun' dan namja satunya lagi tampak lebih muda dari mereka berdua, tingginya hampir sama dengan Yunho.
"Sebenarnya apa yang terjadi eoh?" gumam Jaejoong lalu menundukkan kepalanya.
"Boo." Panggil Yunho membuat Jaejoong terlonjak kaget dan tanpa sadar sedikit mneggebrak meja sehingga membuat pigura tadi jatuh menelungkup.
"Su…sunbae…" gugup Jaejoong.
"Ada apa?" tanya Yunho heran. Yunho melirik piguranya dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Ti..tidak sunbae." Jawab Jaejoong kikuk.
Tiba-tiba Yunho menatap Jaejoong dengan padangan yang sangat dingin dan menusuk. Jaejoong merasa terintimidasi dan langsung menundukkan kepalanya.
"A..aku tidak berbohong, sunbae. Maaf jika aku terlihat kurang sopan."
Yunho tersentak, lalu mengubah mimik wajahnya kembali dan menatap Jaejoong.
"Kau bicara apa eoh? Kajja, kita turun." Ajak Yunho sambil mengusap rambut Jaejoong dengan lembut.
Jaejoong tersenyum lalu mengangguk. Yunho menggandeng tangan Jaejoong dan menuju kelantai dasar untuk melanjutkan pesta bersama keluarga Yunho.
"Lama sekali." Ledek GD sambil tersenyum mesum.
"Kau tidak berbuat yang aneh-aneh pada Jaejoong kan?" TOP mendekati Jaejoong lalu memeriksa seluruh leher dan bahu Jaejoong.
"Bersih, tidak ada kissmark." Ucap TOP enteng membuat Yunho naik pitam.
"Ya! Jangan sembarangan menyentuh namjachinguku." Yunho menepis kasar tangan TOP yang menarik sisi pundak kaos Jaejoong.
"Aku kan hanya memeriksa." Jaejoong menunduk dengan wajah memerah sambil menarik kembali sisi pundak kaosnya.
"Aku tahu itu hanya modusmu. Kau lebih mesum dari naga gila itu." Yunho merangkul pundak Jaejoong untuk berjaga-jaga agar hyung-hyungnya tidak berbuat macam-macam lagi pada Jaejoong.
"Aku memang mesum, tapi tidak gila." Balas GD tidak terima.
"Sudah hentikan, kita mulai pestanya sekarang." Lerai Hankyung.
Yunho memakaikan topi yang diambilnya dari kamar kekepala Jaejoong.
"Kau tampak sangat manis, Boo." Jaejoong tersenyum malu dengan semburat merah menjalar dikedua pipi putihnya.
"Ayo berpestaaaaaa!" teriak GD dan Seungri semangat.
Taeyang menyalakan musik R&B dengan volume yang sangat keras, membuat telinga Jaejoong berdengung sakit.
"Kau akan terbiasa nanti." Hibur Yunho saat melihat Jaejoong menutup kedua telinganya.
Jaejoong mengangguk lalu tersenyum. Jaejoong agak bergidik saat lampu dimatikan, kemudian terkekeh saat lampu kerla-kerlip (?) yang ada diskotik menyala.
"Kajja….kita menyanyi sampai pagiiiii!" aba-aba Taeyang sambil mengangkat microphone tinggi-tinggi.
"Jangan didengarkan orang gila itu. Besok kita sekolah, aku akan mengantarmu sebelum jam 10 malam." Yunho membetulkan topi Jaejoong yang agak melorot.
"Ne."
"Kenapa hanya sebentar? Tidak seru." GD berdecak mendengar ucapan Yunho.
"Aku pikir Jaejoongie akan menginap malam ini." Daesung memasang wajah melas.
"Tidak bisa. Ummanya sudah berpesan padaku untuk mengantar pulang Jaejoong sebelum jam 10." Kekeh Yunho membuat semua hyungnya cemberut.
"Sudahlah, mungkin lain kali Jaejoong akan menginap disini. Kita mulai pestanya sekarang." Lerai Hankyung, lalu semuanya memulai pesta dengan berkaraoke, memakan kue buatan Heechul dan Hankyung.
Tawa dan canda mengiringi mereka selama berpesta, Jaejoong sangat senang dan merasa nyaman dengan keluarga Yunho. Meski keluarga Yunho berpenampilan sangar dan kasar tapi mereka pribadi yang hangat.
"Buka mulutmu, Jaejoongie." Jaejoong membuka mulutnya saat Hankyung menyuapinya sepotong blackforrest.
"Mashita."
"Ini Heechul yang membuatnya." Hankyung mengusap sisa coklat disisi bibir Jaejoong.
"Kau suka? Lain kali aku akan membuatkannya untukmu." Jaejoong mengangguk dan tersenyum pada Heechul.
Jaejoong ikut menari dengan Seungri, meski tidak tahu lagu apa yang diputar oleh Seungri, Jaejoong dengan iseng menirukan gerakan tarian Seungri yang membuat seluruh keluarga Jung tertawa.
,
Seorang namja dengan tubuh yang sangat tinggi tampak tergesa-gesa lalu masuk kesebuah café. Setelah masuk, namja tinggi itu mengedarkan pandangannya untuk mencari seseorang.
"CHANGMIN!" namja tinggi itu –Changmin- menoleh saat ada yang meneriaki namanya.
Changmin tersenyum saat menemukan temannya, seorang yeoja berambut lurus dan panjang sedang melambaikan tangannya. Changmin menghampiri yeoja itu yang berada ditempat duduk paling belakang.
"Mian aku terlambat. Apa kau sudah menunggu lama, Yuri-ah?" tanya Changmin setelah mendudukkan dirinya.
"Aniya, aku baru saja." Jawab yeoja itu –Yuri- sambil tersenyum manis.
"Jadi? Apa kau menemukannya?"
"Kau tidak memesan minuman dulu, Changmin-ah?" tawar Yuri.
"Langsung saja, Yuri-ah. Aku tidak suka berbasa-basi." Sergah Changmin membuat Yuri terkekeh.
"Aigoo…apa kau sangat merindukan namja pabbo itu eoh? Kau sudah ditinggalkan, tetap saja mempedulikannya." Ejek Yuri membuat Changmin berdecak.
"Jangan main-main denganku. Kau tidak tahu apa-apa tentang Kyuhyun."
"Aku tidak mau tahu tentangnya. Untuk apa? Sama sekali tidak ada gunanya untukku. Bagiku, dia adalah namja tidak tahu diri yang sudah merebutmu dariku."
"Kita sudah pernah membahas ini. Jebal…aku hanya menganggapmu sebagai saudara. Tidak lebih dari itu." Changmin menatap sendu yeoja yang ada dihadapannya.
"Ne, jangan menatapku seperti itu." Jawab Yuri sambil meminum lemon teanya.
"Jadi?"
"Aku membuntutinya kemarin. Seharian penuh, tidak ada yang terlewat sedikitpun."
Changmin berusaha mencerna perkataan Yuri. Changmin menghela nafas, lalu mengambil rokok yang akan dihisap Yuri.
"Aku tidak suka kau merokok. Lanjutkan."
"Dia bekerja mencari uang dengan cara yang menjijikkan." Ucapan Yuri membuat Changmin mengerutkan dahinya.
"Apa maksudmu?" Yuri tersenyum melihat ekspresi Changmin.
"Dia melakukan penipuan dengan menyamar menjadi seorang paranormal. Dan korbannya sudah sangat banyak."
"Mwo?" Changmin menatap Yuri tak percaya.
"Ne, dia menjadi paranormal gadungan untuk mendapatkan uang. Haha…sangat menjijikkan. Kenapa tidak jual diri sekalian saja. Ooppss…" Yuri menutup bibirnya lalu terkekeh.
"Jangan bercanda denganku Yuri. Katakan kalau kau berbohong." Hardik Changmin.
"Aku tidak berbohong. Aku berani bersumpah."
"Kenapa dia melakukan ini? Kau anggap aku apa, Kyuhyun-ah." Gumam Changmin sambil menundukkan kepalanya.
Yuri tidak tega melihat Changmin yang bersedih. Yuri menggenggam tangan Changmin membuat Changmin mendongak menatap Yuri.
"Jangan sedih. Aku akan membantumu, aku berjanji akan segera menemukan Kyuhyun untukmu. Dan ingat, jangan lakukan apapun pada Choi Siwon. Itu bisa membuat kita semakin lama menemukan Kyuhyun. Dan kalau bisa, jangan beritahu teman-temanmu, terutama Yunho."
"Ne, gomawo, Yuri-ah." Changmin mencium tangan Yuri dengan penuh perasaan, dan bersamaan turunnya air mata Changmin.
"Gomawo." Lirih Changmin.
,
"Kenapa waktu bergulir dengan begitu cepatnya." Rengek GD.
"Kita belum puas bermain denganmu, Jaejoongie." Rengek Taeyang sambil mengguncang lengan Jaejoong.
"Sudah hyungdeul, jangan berlebihan. Aku sudah berjanji pada eomma Jaejoongie untuk mengantarnya pulang tidak terlalu larut." Yunho menarik Jaejoong menjauh dari kedua hyungnya yang menyebalkan itu.
"Tapi kau akan main lagi kesini kan, Jaejoongie?" GD mengeluarkan jurus puppy eyesnya membuat Yunho bergidik.
"Jangan mengeluarkan aegyo seperti itu. Sangat tidak cocok dengan wajahmu yang menyebalkan itu."
"YA!" GD meninju lengan Yunho lalu dibalas oleh Yunho.
"Kalau kau bertengkar dengan hyungmu terus kapan kau akan mengantar Jaejoong eoh, Yunho-ah?" lerai Hankyung membuat Yunho melepas cekikannya pada leher GD.
"Urusan kita belum selesai naga gadungan." Ejek Yunho membuat GD melotot tak terima.
"Ahjumma, ahjussi dan hyungdeul aku pulang dulu. Terima kasih untuk malam yang menyenangkan ini." Jaejoong tersenyum manis membuat semua hyung Yunho meleleh melihatnya.
"Ne, jangan sungkan-sungkan untuk main kesini ne." ucap Heechul dan dijawab anggukan oleh Jaejoong.
"Kajja, boo." Yunho menggandeng tangan Jaejoong keluar dari rumahnya.
Setelah masuk kedalam mobil, Yunho menjalankan mobilnya menuju rumah Jaejoong.
,
Seorang namja berkulit pucat baru saja keluar dari sebuah bar yang terkenal di seoul. Bibirnya tak henti-henti menyunggingkan senyum sambil menatap uang dalam jumlah banyak yang ada digenggamannya.
"Sebentar lagi, sebentar lagi kita akan bebas, Chanyeol-ah. Aku sudah tidak sabar hidup normal lagi, dan bisa bersama Changmin lagi." Gumam namja itu dan setetes cairan bening mengalir dari mata teduhnya.
"Kenapa aku menangis eoh? Bisa diomeli lagi oleh Chanyeol jika aku ketahuan menangis." Namja itu mengusap pipinya dari bekas jejak cairan bening itu.
"Aku tak menyangka bisa bertemu denganmu disini." Ucap seorang namja, karena cahaya yang remang-remang membuat wajah namja itu tidak jelas terlihat.
Namja berkulit pucat itu terkejut bukan main setelah mendengar suara yang sangat dikenalinya itu.
"Sepertinya sudah cukup lama kita tidak bertemu, Cho Kyuhyun." Ucap namja itu sambil berjalan mendekat pada namja berkulit pucat itu –Kyuhyun-, sehingga membuat wajahnya kini terlihat jelas karena pantulan sinar lampu.
"Choi….Siwon…." gumam Kyuhyun dengan suara gemetar.
"Jangan takut seperti itu manis. Aku tidak akan melukaimu." Namja itu –Siwon- mengusap pipi pucat Kyuhyun membuat Kyuhyun bergidik.
"Sepertinya kau mendapat uang banyak malam ini." Ucap Siwon sambil tersenyum mengejek membuat Kyuhyun memberanikan dirinya untuk menepis tangan Siwon yang mengusap pipinya.
"Mau apa kau? Bukankah kau masih memberiku waktu sampai Changmin menemukanku?" tanya Kyuhyun sambil menatap Siwon dengan tatapan tak suka.
"Ne, kau benar. Aku hanya merindukanmu, apa itu salah?"
"Jika kukatakan iya, apa kau akan menerimanya?"
"Tentu saja tidak. Apa kau juga tak merindukanmu?" Siwon mendekatkan wajahnya dengan wajah Kyuhyun.
"Aku tidak ingin berurusan denganmu lebih dari 'ini'." Kyuhyun mundur dua langkah menghindari Siwon.
"Jangan begitu, aku begitu menginginkanmu. Aku jauh lebih baik dari Changmin sialan itu."
"Jaga bicaramu. Jangan sangkut pautkan Changmin dengan masalah kita." Hardik Kyuhyun membuat Siwon tertawa.
"Kau masih saja membelanya. Membuatku benar-benar muak." Siwon menarik tengkuk Kyuhyun dengan cepat membuat Kyuhyun tak sempat mengelak.
Kyuhyun menghindari Siwon yang akan menciumnya, tapi Siwon tetap bersikeras mencium Kyuhyun.
"Siwonnie…" panggil seorang yeoja membuat Siwon menghentikan kegiatannya.
"Yoona-ah…" balas Siwon pada seorang yeoja cantik yang tadi memanggilnya.
Siwon menghela nafas karena ketika menoleh, Kyuhyun sudah kabur dan tak terlihat lagi.
"Aishh…Aku gagal lagi. Tapi aku tidak akan melepaskanmu lagi nanti." Gumam Siwon lalu tersenyum iblis dan kemudian merangkul Yoona masuk kedalam mobilnya.
,
"Gomawo sudah mengantarku, sunbae." Jaejoong melepas sabuk pengamannya lalu tersenyum manis pada Yunho.
"Ne, masuklah. Sudah malam." Yunho mengusap puncak kepala Jaejoong dengan sayang.
"Sunbae hati-hati dijalan." Yunho mengangguk lalu Jaejoong membuka pintu mobil.
"Boojae…." Yunho menahan lengan Jaejoong yang sudah akan turun dari mobil Yunho.
"Waeyo sunbae?" heran Jaejoong.
Cupp….
Jaejoong terkejut, meski Yunho sering menciumnya tapi tetap saja Jaejoong merasa kaku bila Yunho tiba-tiba menciumnya.
"Selamat malam." Yunho tersenyum membuat Jaejoong merona karena posisinya dari Yunho sangat dekat.
Yunho dan Jaejoong saling menatap cukup lama, dan tanpa sadar Yunho mendekatkan wajahnya dengan Jaejoong dan memejamkan matanya . Jaejoong membelalakkan matanya, terkejut dengan apa yang akan dilakukan Yunho. Jaejoong memundurkan tubuhnya kebelakang untuk menghindari Yunho, entah kenapa Jaejoong tak dapat bersuara hingga hanya bisa menghindari Yunho.
Jaejoong terus saja memundurkan tubuhnya lalu tiba-tiba…..
Brukk…
Yunho membuka matanya karena terkejut mendengar suara seperti benda jatuh.
"Jaejoongie…." Panggil Yunho dengan cemas karena kini terlihat Jaejoong jatuh dengan sangat tidak elit. Kaki Jaejoong terangkat dijok kursi mobil sedangkan tubuhnya terjatuh disamping mobil.
"Appoo…" ringis Jaejoong karena pantatnya terasa sakit.
"Aigoo…Jaejoongie…" Yunho turun dari mobil lalu menghampiri Jaejoong.
"Gwaenchana?" tanya Yunho sambil membantu Jaejoong berdiri.
"Appoooo…" rasanya Jaejoong ingin menangis saat ini karena pantatnya makin sakit saat Jaejoong mencoba berdiri.
"Kenapa kau bisa terjatuh eoh? Ceroboh sekali kau ini." Ucap Yunho membuat Jaejoong mempoutkan bibirnya.
"Ini salah, sunbae. Sunbae kan mau menciumku tadi." Protes Jaejoong dalam hati.
"Kuantar kau sampai depan pintu." Yunho membantu Jaejoong berjalan tapi ditahan oleh Jaejoong.
"Sunbae pulang saja, aku tidak apa-apa kok." Ucap Jaejoong sambil mengusap pantatnya yang masih terasa sakit.
"Apanya yang tidak apa-apa. Kau mengusap pantatmu terus, pasti masih terasa sakit kan."
"Aniyo…" kilah Jaejoong dengan mimik wajah yang tidak meyakinkan.
"Pantatmu masih sakit kan? Aku bantu berjalan sampai depan pintu atau kau mau aku gendong supaya pantatmu tidak terlalu sakit?" tawar Yunho membuat Jaejoong menggelengkan kepalanya cepat.
"Wae?"
"Tetap saja itu terasa sakit, sunbae." Jaejoong menundukkan kepalanya karena kenyataannya Jaejoong malu bila Yunho menggendongnya. Belum lagi jika umma dan Taemin tahu, Jaejoong bisa digoda habis-habisan.
"Oh…kalau begitu aku bantu mengusap pantatmu saja supaya sakitnya cepat hilang." Ucap Yunho enteng membuat Jaejoong terlonjak kaget.
"M…MWOO!" Yunho tertawa melihat ekspresi Jaejoong. Menyenangkan sekali rasanya bagi Yunho menggoda Jaejoong.
"Ahahahaha. Aku hanya bercanda, boo. Kenapa kau sudah setakut itu."
"Aishh…kau menyebalkan, sunbae." Rajuk Jaejoong.
"Hahahaha. Mian, ya sudah, masuklah." Jaejoong mengangguk lalu berjalan meninggalkan Yunho dengan masih memegangi pantatnya.
"Aishh…appooo…" lirih Jaejoong agar suaranya tak terdengar oleh Yunho.
Yunho tersenyum saat melihat Jaejoong dengan langkah pelan-pelan mirip kura-kura. Yunho menjadi gemas sendiri pada namja cantik itu dan ingin sekali rasanya Yunho mencubit pipi Jaejoong sampai melar.
Jaejoong sudah sampai didepan pintu, sebelum membuka pintu Jaejoong menoleh kebelakang dan ternyata Yunho masih ada disana. Yunho tersenyum mengangguk lalu Jaejoong membuka pintu rumahnya dan masuk.
Yunho masuk kembali kedalam mobil dan melajukan mobilnya meninggalkan rumah Jaejoong. Jaejoong menghela nafas pelan saat dari balik tirai jendela rumahnya, Yunho sudah pulang.
"Sudah tidur semua ya." Gumam Jaejoong masih sambil meringis kesakitan.
Cklekk…
Jaejoong masuk kedalam kamarnya. Setelah mengganti baju dan cuci muka, Jaejoong merebahkan tubuhnya dikasur ukuran mininya.
"Hari ini menyenangkan sekali. Meski ujung-ujungnya pantatku menjadi korban karena Yunho sunbae yang seenaknya mau menciumku." Keluh Jaejoong sambil memeluk boneka gajah kesayangannya.
"Oya, namja dipigura Yunho sunbae tadi apa benar Cho Kyuhyun ya? Kenapa mirip sekali." Ingin sekali Jaejoong menanyakannya pada Yunho.
"Tapi kalau nanti Yunho sunbae tanya darimana aku kenal Kyuhyun sunbae, aku harus jawab apa? Kalau memang Yunho sunbae kenal Cho Kyuhyun berarti Yunho sunbae tahu kalau Cho Kyuhyun adalah seorang paranormal." Jaejoong menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Aniyo, Yunho sunbae tidak boleh tahu. Mau ditaruh mana mukaku jika Yunho sunbae tahu aku menggunakan jasa Cho Kyuhyun untuk membuat Siwon sunbae menyukaiku." Jaejoong menggigit bibir bawahnya membayangkan kalau Yunho dan teman-temannya mengolok-oloknya karena menggunakan cara licik untuk membuat Siwon menyukainya.
Jaejoong menggeleng-gelengkan kepalanya lagi. "Semoga itu bukan Cho Kyuhyun siparanormal, semoga hanya kebetulan saja wajahnya yang mirip. Ya…begitu…"
,
#Pagi Hari#
-Hari Kelima-
,
Jaejoong keluar dari kamarnya dengan berseragam lengkap.
"Selamat pagi,." Sapa Jaejoong pada ummanya.
"Kemarin kau pulang jam berapa?" tanya Karam sambil memberikan roti dengan selai coklat dan susu coklat pada Jaejoong.
"Entahlah, kemarin setelah pulang aku langsung tidur, umma."
"Sepertinya Yunho ingkar janji eoh?"
"Yang penting aku pulang dengan selamat, umma." Bela Jaejoong.
"Baiklah, tapi jangan diulangi lagi. Katakan itu pada Yunho." Jaejoong mengangguk lalu melanjutkan sarapannya.
"Taemin belum bangun ya, umma?"
"Taemin sudah berangkat, pagi-pagi sekali dia berangkat."
"Bersama Minho?" Karam mengangguk.
"Mungkin Taemin mendapat jadwal piket."
"Mungkin, atau mungkin kencan dengan Minho.
"Ck…umma ada-ada saja. Mana mungkin Minho mengajak kencan Taemin pagi-pagi buta begini." Sergah Jaejoong membuat Karam terkekeh.
"Umma membuat pantatku tiba-tiba sakit lagi."
"Sakit?" Karam menatap Jaejoong curiga.
"Ne, kupikir akan hilang hari ini. Kenapa masih sakit ya." Jaejoong mengusap-usap pinggangnya untuk meredakan rasa sakit dipantatnya akibat insiden kemarin.
"Aigoo Joongieee….apa yang telah kau lakukan bersama Yunho eoh?" Karam berteriak histeris membuat Jaejoong bingung.
"Melakukan apa, umma?" bingung Jaejoong.
"Jangan pura-pura tidak tahu, pantatmu sakit kan? Apa yang kau lakukan dengan Yunho kemarin, ha? Aku tidak menyangka kau jadi namja seperti ini." Karam memukul Jaejoong dengan sendok sayur yang entah kapan diambilnya membuat Jaejoong meringis kesakitan.
"Umma, apa maksud umma eoh? Ya! Appo umma." Ringis Jaejoong sambil berusaha menghentikan Karam yang tiba-tiba memukulnya.
"Kau pantas mendapatkan ini. Aku tidak pernah mendidikmu untuk berbuat hal semacam itu."
"Apa salah jika aku menghindari Yunho sunbae lalu jatuh dari mobil. Apa itu hal yang hina dan memalukan eoh?" gumam Jaejoong dalam hati.
"Kau benar-benar keterlaluan, Joongie. Kalau tahu akan terjadi hal seperti ini, aku tidak akan mengizinkanmu pergi bersama Yunho." Jaejoong makin pusing dan tidak mengerti dengan Karam. Belum lagi pukulan dari Karam membuat kepalanya makin pusing.
"Apa jatuh dari mobil benar-benar memalukan ya." Gumam Jaejoong dalam hati.
"Hiks….hiks…padahal aku berharap banyak padamu. Kau pintar dan dimasa depan kelak umma harap kau dapat mengangkat derajat keluargamu dan tak akan hidup susah seperti umma. Tapi apa…kau justru mengecewakan umma…hiks…" histeris Karam membuat Jaejoong makin bingung.
"Apa hubungannya terjatuh dengan masa depan. Umma benar-benar membuatku makin pusing." Gumam Jaejoong dalam hati.
Buakk..
"Ya! Umma…appo…" ringis Jaejoong setelah Karam memberikan pukulan terakhir yang sialnya cukup keras dikepala Jaejoong.
"Hiks…hiks…" Karam terduduk dikursi lalu menangis sesenggukan.
"Umma…." Jaejoong mengaampiri Karam lalu mengusap pundaknya.
"Aku tidak mengerti kenapa umma bisa seperti ini. Padahal aku pikir yang aku lakukan kemarin tidak berarti apa-apa, apalagi untuk masa depanku." Ucap Jaejoong membuat Karam kembali memukul kepala Jaejoong dengan sendok sayur.
"Aishh…appo…"
"Kenapa kau bicara seperti itu eoh? Apa kau tidak memikirkan perasaan umma? Umma mana yang tidak merasakan sakit hati saat anaknya melakukan sesuatu yang membuatnya dapat kehilangan masa depan dan cita-citanya."
"Mwo?"
"Umma tidak ingin kau kehilangan masa depan dan cita-citamu karena hamil, Joongie. Hiks…" Jaejoong melongo mendengar ucapan Karam.
"Ha…hamil?"
"Ne, apalagi kalau bukan hamil? Bukankah kau melakukannya dengan Yunho kemarin?"
Lama Jaejoong terdiam karena berpikir 'melakukan' apa yang dimaksud ummanya.
10 detik…
9 detik…
Sampai 5 detik Jaejoong masih belum mengerti, tapi saat 1 detik kemudian Jaejoong membelalakkan matanya dengan wajah merah padam.
"YA! APA YANG UMMA PIKIRKAN EOH?" hardik Jaejoong dengan wajah yang semakin merah padam.
"Sudah jelas yang umma pikirkan adalah kelakuanmu dengan Yunho. Dengar ya, Joongie. Umma tidak mau memiliki cucu. Kau itu masih terlalu muda untuk memiliki anak."
"SIAPA YANG HAMIL, UMMA?" jaejoong mengacak rambutnya frustasi karena baru mengerti dengan maksud ummanya.
"Tentu saja kau. Siapa lagi eoh?"
"Aku tidak hamil."
"Jangan berbohong, Joongie. Sudah jelas-jelas pantatmu sakit. Kau pasti berbuat yang iya-iya dengan Yunho kemarin. Sudah mengaku saja, daripada umma tahu kehamilanmu belakangan. Justru itu akan lebih parah."
"Aigoo…aku tidak hamil umma. Pantatku sakit bukan karena berbuat itu." Jelas Jaejoong merona lagi saat mengatakan 'itu'.
"Lalu? Pantatmu sakit karena apa?"
"Kemarin aku jatuh dari mobil Yunho sunbae dan yang jatuh duluan adalah pantatku. Itu penyebabnya." Jelas Jaejoong membuat Karam mengerutkan keningnya.
"Jatuh dari mobil?"
"Ne, aku ceroboh sehingga jatuh dari mobil. Bukan karena melakukan yang iya-iya dengan Yunho sunbae."
"Jeongmal?" Karam mengusap air mata dan ingusnya sambil menatap Jaejoong dengan mata berbinar-binar.
"Ne, lagipula aku tidak akan mau melakukan 'itu', umma. Aku belum siap jika hamil." Jaejoong menundukkan kepalanya dengan wajah memanas.
"Kau tidak berbohong kan?"
"Aishh…untuk apa aku berbohong eoh? Aku tidak akan berbohong jika menyangkut masalah seperti ini. Seperti yang umma katakan tadi, ini menyangkut masa depan dan cita-citaku." Karam tersenyum lalu memeluk Jaejoong.
"Syukurlah…" Karam mengusap punggung Jaejoong.
"Ne umma. Jangan berpikiran yang tidak-tidak lagi." Jaejoong balas memeluk Karam.
"Apa masih sakit?" tanya Karam setelah melepas pelukannya.
"Ne, masih sedikit sakit." Ringis Jaejoong sambil mengusap pantatnya.
"Lebih baik jangan sekolah dulu."
"Aniyo, hanya sakit seperti ini saja, umma. Aku tidak apa-apa."
"Baiklah, umma minta maaf sudah memukulimu tadi." Jaejoong tersenyum lalu mencium pipi Karam.
"Gwaenchana. Aku berangkat dulu ne." Karam mengangguk lalu Jaejoong mengambil tasnya dan berangkat kesekolah.
"Hhh…anak itu sudah sukses membuatku jantungan pagi-pagi buta begini." Ucap Karam sambil mengusap dadanya.
,
Jaejoong berdiri dihalte bis dan sesekali berdecak kesal karena bisnya belum datang-datang.
"Kalau begini aku bisa terlambat. Yunho sunbae tumben tidak menjemputku?" gumam Jaejoong mengharapkan mobil Yunho berhenti didepannya seperti hari-hari sebelumnya.
"Aku benar-benar akan telat."
Jaejoong sedikit terkejut saat sebuah mobil mewah berhenti didepannya.
"Hai Jaejoong-ah." Sapa sipemilik mobil setelah menurunkan kaca mobilnya yang ternyata adalah Park Yoochun.
"Ah…Yoochun sunbaenim." Jaejoong membungkuk sopan pada Yoochun.
"Ayo naik."
"Ne?"
"Hari ini Yunho hyug tidak bisa menjemputmu karena ada urusan yang harus ditangani dengan Seunghyun hyung. Mungkin nanti Yunho hyung tidak masuk sekolah."
"Jeongmal?" entah kenapa Jaejoong merasa kecewa mendengar ucapan Yoochun.
"Yunho sunbae tidak masuk sekolah. Jadi aku tidak bisa bertemu dengannya hari ini." Gumam Jaejoong dalam hati.
"Ne. jadi Yunho hyung menyuruhku menjemputmu. Kajja, sebentar lagi bel masuk." Jaejoong mengangguk lalu masuk kedalam mobil Yoochun.
"Yoochun sunbaenim tidak berangkat bersama Junsu?"
"Aniyo, Junsu sudah berangkat duluan." Jaejoong memgangguk lalu Yoochun menjalankan mobilnya.
,
Tampak seorang namja memakai topi hitam dan bertubuh tinggi diatas rata-rata berlari dengan sangat kencang. Beberapa kali namja itu menabrak banyak pejalan kaki tapi tak dihiraukan oleh namja itu. Rupanya namja itu sedang dikejar oleh lima namja bertubuh kekar.
"YA! BERHENTI KAU NAMJA BIADAB!" teriak salah satu namja bertubuh kekar itu.
Tapi namja itu tetap berlari, karena sedang tergesa-gesa namja itu menyebrangi jalan raya begitu saja tanpa melihat ada sebuah mobil mewah yang ternyata milik Yoochun melaju dengan cukup kencang.
Ckiitt….
Terdengar bunyi decitan ban mobil Yoochun karena menginjak rem tinba-tiba. Namja bertopi hitam itu terkejut dan hampir jatuh kebelakang.
"YA! KAU LETAKKAN DIMANA MATAMU EOH!"H ardik Yoochun pada namja bertopi hitam itu. Yoochun terdiam sesaat karena merasa familiar dengan namja bertopi hitam itu meski wajahnya sedikit trelihat oleh Yoochun.
Namja bertopi hitam itu tersentak saat mendengar suara 5 namja yang tadi mengejarnya. Tanpa menggubris dan meminta maaf pada Yoochun, namja bertopi hitam itu berlari lagi.
Yoochun memperhatikan namja bertopi hitam itu yang dikejar oleh 5 namja bertubuh kekar.
"Aigoo…sebenarnya ada apa dengan mereka eoh?" ucap Jaejoong sambil mengusap dadanya karena tadi sangat terkejut karena tiba-tiba ada seseorang yang menyebrang.
"Molla. Tapi sepertinya aku kenal dengan namja itu."
"Sunbae kenal?"
"Apa benar itu Chanyeol? Tapi Chanyeol namja yang baik dan polos. Tidak mungkin namja seperti Chanyeol berurusan dengan 5 namja seperti preman tadi. Kuharap aku hanya salah lihat." Gumam Yoochun dalam hati.
"Sunbae." Panggil Jaejoong membuat Yoochun tersadar dari lamunannya.
"Ne."
"Sunbae tidak apa-apa?"
"Gwaenchana." Jawab Yoochun lalu menjalankan mobilnya lagi.
,
Tak lama kemudian Jaejoong dan Yoochun sampai disekolah. Banyak pasang mata yang menatap Yoochun dan Jaejoong heran. Karena tak biasanya Yoochun dan Jaejoong bersama, karena kedua namja itu sudah memiliki pasangan masing-masing.
"Tumbaen kau tidak berangkat dengan Yunho, Jaejoong-ah? Apa kalian sudah putus?" tanya Tiffany.
"Memangnya kenapa?" tanya Yoochun dengan malas.
"Jika memang sudah putus, aku akan sangat senang. Aku akan mengajak Yunho berkencan." Ucap tiffany membuat Jaejoong ingin mencekik leher yeoja itu.
"Enak saja, apa-apaan yeoja ini? Mengajak Yunho sunbae berkencan? Aku tidak akan membiarkannya." Gumam Jaejoong dalam hati.
"Kau tidak akan pernah melihat hal itu terjadi. Karena aku yang akan menjadi orang pertama untuk menentang Yunho hyung jika dia mau berkencan denganmu." Tiffany cemberut sok imut mendengar ucapan Yoochun.
Jaejoong tersenyum kemenangan. "Sunbae, aku masuk kelas dulu ne. terima kasih tumpangannya." Jaejoong membungkukkan badannya lalu meninggalkan Yoochun dan Tiffany.
"Apa yang kau lakukan disini? Minggir." Sergah Yoochun sadis membuat Tiffany ingin menampar Yoochun dengan tas kulitnya.
"Kau menyebalkan, Park Yoochun."
,
Sesampainya dikelas, Yoochun menghampiri meja Changmin. Yoochun duduk dibangku yang ada didepan Changmin.
"Changmin-ah."
"Eum, waeyo hyung?" tanya Changmin sambil memasukkan kembali ponselnya yang tadi digunakannya untuk bermain game.
"Sebenarnya aku ragu, tapi kurasa tidak ada salahnya memberitahumu."
"Apa maksudmu?"
"Tadi saat berangkat kesekolah, aku bertemu Chanyeol."
Changmin terlonjak kaget. "Mwo? Chanyeol?" Yoochun mengangguk.
"Apa kau melihat Kyuhyun juga?"
"Aniyo, aku hanya melihat Chanyeol. Tadi Chanyeol dikejar oleh 5 namja yang tidak aku kenal."
"Dikejar?"
"Ne, tapi aku masih ragu itu Chanyeol atau bukan, karena aku tidak melihat wajahnya secara keseluruhan." Changmin mengusap wajahnya kasar.
"Tenang Changmin-ah, kurasa itu bukan Chanyeol. Seperti yang kita tahu, Chanyeol namja yang baik dan polos. Mustahil Chanyeol berurusan dengan namja seperti preman begitu." Hibur Yoochun membuat Changmin memandang tajam Yoochun.
"Aku meminta bantuan Yuri untuk mencari Kyuhyun."
"Yuri? Yeoja seksi yang tergila-gila padamu itu?" Changmin mengangguk dengan malas.
"Dasar, jika tak ada Junsu hyung saja dia berani bicara vulgar begitu." Cibir Changmin dalam hati.
"Lalu? Apa dia sudah menemukan Kyuhyun?"
"Ne, tapi Yuri hanya bertemu sekali dengannya. Yuri mengatakan kalau sekarang Kyuhyun bekerja sebagai paranormal."
"Mwo? Paranormal? Aku baru tahu kalau Kyuhyun sehebat itu."
"Ck…Kyuhyun tidak memiliki keahlian seperti itu, hyung."
"Lalu?"
"Tentu saja Kyunhyun bekerja sebagai paranormal palsu." Yoochun terkejut dengan ucapan Changmin.
"Jeongmal?"
"Awalnya aku juga tidak percaya. Tapi mustahil Yuri membohongiku."
"Lalu?"
"Kyuhyun sangat pandai, hyung. Dia memalsukan semua identitasnya. Hanya namanya saja yang tidak. Beberapa kali Yuri bertanya pada korban Kyuhyun dengan menanyakan rekeningnya. Tapi setelah diselidiki Yuri, rekening Kyuhyun memuat data-data palsu." Changmin menghela nafas membuat Yoochun merasa iba.
"Kenapa Kyuhyun seperti menjauhimu seperti ini? Apa terakhir kau bertemu dengannya kau dan Kyuhyun bertengkar?"
"Aniyo hyung. Hubunganku baik-baik saja waktu itu. Aku juga tidak mengerti." Yoochun menepuk pundak Changmin untuk memberinya dukungan.
"Sabar ne. aku dan Yunho hyung juga akan membantumu mencarinya. Kurasa Kyuhyun memang sangat pandai, buktinya sampai sekarang anak buah Yunho hyung belum bisa menemukannya. Hanya Yuri saja yang menemukannya. Tidak salah Yunho hyung merekrutnya sebagai anak buah kepercayaan Yunho hyung."
"Ne hyung. Gomawo." Changmin menepuk tangan Yoochun yang berada dipundaknya.
,
Minho bernafas lega setelah bel istirahat berbunyi. Baginya, pelajaran matematika adalah pelajaran yang paling membosankan dan menjijikkan dimuka bumi.
"Oya Jaejoong-ah, kau tadi mau membicarakan sesuatu kan? Karena bel masuk berbunyi kau tidak jadi bicara."
"Ne, ada yang ingin aku bicarakan dengan, Minho-ah." Ucap Jaejoong lalu berbalik mengahadap Minho karena hari ini Minho duduk sebangku dengan Minho.
"Apa?"
"Kemarin aku kerumah Yunho sunbae, saat aku masuk kekamarnya…"
"Mau apa kau kekamarnya?" potong Minho dengan wajah terkejut.
"Jangan berpikiran yang tidak-tidak, pabbo." Jaejoong memukul kepala Minho dengan kesal.
"Mian, Jae. Aku kan hanya bertanya. Kau tidak melakukan apa-apa dengan Yunho hyung kan?"
"Tentu saja tidak. Bukan itu hal pentingnya, dikamarnya aku melihat sebuah foto Yunho sunbae dengan Cho Kyuhyun."
"Mwo? Cho Kyuhyun?" Jaejoong mengangguk.
"Kau yakin, Jae? Mana mungkin namja seperti Yunho hyung kenal dengan orang seperti Cho Kyuhyun."
"Tapi aku melihatnya sendiri. Sebenarnya aku tidak yakin juga kalau namja yang ada difoto itu Cho Kyuhyun."
"Kau saja tidak yakin."
"Tapi wajahnya benar-benar mirip."
"Mungkin hanya mirip saja."
"Ne, oya kau sudah menemukan Cho Kyuhyun? Ini sudah hari kelima, Minho-ah." Gelisah Jaejoong.
"Mian Jae. Aku belum menemukan Cho Kyuhyun. Susah sekali mencarinya. Dia seperti hilang ditelan bumi."
"Jangan bicara seperti itu, Minho-ah." Jaejoong memukul lengan kekar Minho.
"Memang begitu, Jae. Tapi aku akan terus mencarinya. Kau jangan khawatir." Jaejoong mengangguk lalu melihat Junsu menghampiri mereka.
"Kalian tidak kekantin? Aku menunggu kalian sejak tadi. Yoochun dan Changmin sudah dikantin dari tadi."
"Mian, Junsu-ah. Kajja, Jae." Minho terlihat malas saat Minho mengajaknya kekantin.
"Waeyo? Kau sakit?" tanya Minho.
"Aniyo, hanya malas saja." Jawab Jaejoong dengan malas membuat Junsu terkekeh.
"Yunho hyung hari ini tidak sekolah, makanya Jaejoong jadi tidak bersemangat." Jaejoong merona mendengar ucapan Junsu.
"Hahahaha. Sampai seperti itu. Manis sekali." Ledek Minho membuat Jaejoong memukul lengannya –lagi-.
"Hahahaha. Kajja." Ajak Junsu sambil menarik tangan Minho dan Jaejoong.
,
"Aku pulang dulu ne." pamit Junsu pada Minho dan Jaejoong.
"Ne, hati-hati."
"Jae, kau bisa mengantarku membeli buku tidak?"
"Tumben tidak mengajak Taemin?"
"Hari ini Taemin ada kelas tambahan. Mau ya? Kalau aku mengajak selain kau Taemin akan memarahiku lagi." Jaejoong terkekeh.
"Sebegitu takutnya kau dengan dongsaengku sampai seperti itu."
"Tentu saja. Kalau Taemin minta putus bagaimana. Membayangkannya saja aku sudah ingin bunuh diri."
"Kau terlalu berlebihan. Baiklah, aku mau."
"Gomawo, Jae. Kau tunggu digerbang sekolah saja. Aku mau menemui Himchan dulu." Jaejoong mengangguk lalu keluar dari kelas.
Saat akan sampai digerbang sekolah, Jaejoong melihat Changmin yang sedang menelpon atau ditelpon seseorang.
"Changmin sunbaenim." Sapa Jaejoong setelah Changmin memutuskan telponnya.
"Ah…Jaejoong-ssi." Balas Changmin.
"Kenapa belum pulang?"
"Aku menunggu seseorang." Ucap Changmin sambil tersenyum manis.
Dari balik sebuah pohon besar, ada seorang namja yang mengintip Changmin dan Jaejoong. Seorang namja berkulit pucat yang berkali-kali menyeka air mata yang keluar dari mata sendunya.
"Changminnie…jeongmal bogoshippo." Ucap namja itu –Kyuhyun-.
"Sepertinya namja itu tidak asing." Gumam Kyuhyun sambil mengusap air matanya.
"Oya, Yunho sunbae ada urusan apa Changmin sunbae?"
"Kau merindukannya eoh?" Changmin tersenyum menggoda pada Jaejoong membuat Jaejoong merona.
"Aniyo, aku hanya tanya saja." Kilah Jaejoong sambil mempoutkan bibirnya membuat Changmin tertawa.
Jaejoong melihat kearah lain dan sedikit terkejut saat melihat seorang namja yang bersembunyi dibalik sebuah pohon besar.
"Seperti Cho Kyuhyun." Gumam Jaejoong pelan sehingga Changmin tidak mendengarnya.
Sedangkan dari balik pohon besar, Kyuhyun mengusap dadanya karena terkejut.
"Aigoo…itu kan Park Jaejoong. Jadi dia satu sekolah dengan Changmin. Kenapa aku baru menyadarinya? Apa tadi dia melihatku eoh?" Kyuhyun menggigit bibir bawahnya gugup.
"Sebaiknya aku pergi dari sini." Kyuhyun pergi menjauh dari sekolah Changmin.
"Kau melihat apa, Jaejoong-ssi." Tanya Changmin karena jaejoong melihat sebuah pohon besar dengan serius.
"Eh…ti…tidak sunbae. Aku tidak melihat apa-apa." Kilah Jaejoong.
"Mungkin hanya khayalanku saja. Mana mungkin Cho Kyuhyun datang kesekolahku." Ucap Jaejoong dalam hati.
Tin…tin…
Bunyi klakson mobil tiba-tiba terdengar membuat Changmin dan Jaejoong menoleh.
"Yuri-ah."
"Mian lama, aku ada urusan tadi." Ucap Yuri setelah menurunkan kaca mobilnya.
"Ne, gwaenchana."
"Apa namja ini Park Jaejoong yang sering disebut-sebut Yunho oppa?" tanya Yuri setelah mengamati Jaejoong.
"Ne, ini namjachingunya." Jawab Changmin membuat Yuri mengangguk.
"Selera Yunho oppa bagus juga, sebenarnya aku ingin berkenalan denganmu, Jaejoong-ssi. Tapi kurasa tidak sekarang mungkin lain kali."
"Ne, mungkin lain kali." Jawab Jaejoong sopan membuat Yuri tersenyum.
"Aku duluan ne." Jaejoong mnegangguk lalu Changmin masuk kedalam mobil Yuri.
Jaejoong melambaikan tangannya saat Yuri membunyikan klakson mobilnya. Lalu tak lama kemudian Minho menghampiri Jaejoong dengan motor besarnya. Minho menjalankan motornya setelah jaejoong naik kemotornya.
,
"Bagaimana bisa dia kabur, hyung?" omel Yunho pada T.O.P karena incaran mata-mata yang menjadi musuh mereka kabur.
"Kurasa hari ini hari keberuntungannya." Jawab T.O.P santai sambil menghisap rokoknya.
"Aishh…kau payah." Ejek Yunho membuat T.O.P terkekeh.
"Santai saja, saeng. Dia pasti akan kita tangkap." Yunho menghela nafas panjang.
"Aku merindukan Jaejoongie." Gumam Yunho.
"Aku juga merindukannya." Gumam T.O.P sambil menerawang.
"YA!"
"Wae? Memangnya salah jika aku merindukan calon adik iparku?" heran T.O.P.
"Kau…" ucapan yunho terputus saat Siwon menghampirinya.
"Annyeong, Yunho-ah." Sapa Siwon.
"Mau apa kau?"
T.O.P memandang Siwon dengan pandangan tak suka. " Yunho-ah aku tunggu dimobil." Lalu T.O.P masuk kedalam mobil.
"Aku ingin bicara denganmu. Kau bisa?" tanpa menjawab Yunho jalan duluan membuat Siwon tersenyum senang.
Minho menghentikan motornya disebuah toko buku. Lalu Jaejoong turun dari motor Minho lalu melepas helmnya.
"Aku tidak bisa lama-lama, Minho-ah."
"Ne, aku hanya sebentar saja. Kajja." Minho dan Jaejoong masuk ketoko buku dan tepat saat itu
Yunho dan Siwon berhenti didepan toko buku itu.
"Kita bicara disini saja. Cepat katakan apa yang ingin kau bicarakan."
"Kau kasar sekali. Apa begitu caramu memperlakukan teman lamamu, Yunho-ah."
"Jangan bertele-tele. Cepat katakan apa yang ingin kau bicarakan." Siwon tersenyum lalu memasukkan kedua tangannya disaku celana.
Jaejoong menoleh kejendela kaca tembus pandang karena merasa mendengar suara Yunho.
"Seperti suara Yunho sunbae." Jaejoong mendekat kejendela dan terkejut saat melihat Yunho bersama Siwon.
"Aku tahu kau sibuk, jadi aku tidak akan bicara banyak." Ucap Siwon membuat Jaejoong mengerutkan keningnya.
"Ne, cepat katakan."
"Mengenai Cho Kyuhyun." Ucap Siwon membuat Jaejoong terkejut.
"Mwo? Cho..Cho Kyuhyun…"
.
T.B.C
,
Annyeong….#lambai2 bareng yunjae.
Masih ingatkah dengan ff jadul ini? #plakk.
Mian ya, tahun ini lagi sibuk2nya ngurus skripsi. Jadi ya terbengkalai deh ff ni.
Aku ngetik ni antara sadar n gak. Kalo ceritanya ngaco aku minta maaf, coz aku ngetik ni sambil ngerjain skripsiku n gak aku cek lagi. kalo ada typo n kata2 yg gak jelas mohon dimaklumi #maksa.
Kritik n saran masih aku terima dengan senang hati asal jangan pedes2 cz nar bikin mules. #plakk
,
Berkenan review….
