Sorry for hiatus this fanfiction about 1,5 years. Then, thanks for waiting!
Kazusa dan Jin segera menambah kecepatan saat sudah melihat tempat yang sesak dengan suara tembakan senjata. Seorang agen Moozat bersiap untuk mengarahkan kayu penghalang ke arah Kazusa dan Jin. Segera Kazusa menambah kecepatan motornya dan mengambil pistol yang berada di pingangnya dan mengarahkan ke arah agen Moozat.
DUAR!
Satu tembakan segera melesat mengenai kaki agen Moozat. Beberapa darah berceceran membasahi aspal.
Jin segera menurunkan kecepataan saat berada di samping agen Moozat yang kakinya tertembak itu. Ia segera mengarahkan kaki kanannya untuk menendang sosok itu hingga jatuh. Setelah itu ia menambah kecepatan untuk menyamakan posisi dengan Kazusa. Suara tembakan kian keras terdengar. Kazusa yang merasa gerah memakai helm segera melepasnya dan meleparnya sembarang, begitupula dengan Jin.
Kazusa mengambil pistolnya dan segera menembak seorang agen Moozat saat melihat Karin akan diserang dari belakang. Karin segera terlonjak saat merasakan beberapa ceceran darah di punggungnya. Ia melihat agen Moozat yang akan memukulnya dengan kayu. Karin segera menatap sepasang orang yang tengah mengendarai motor ke arahnya. Iris emerald-nya membulat menatap sosok itu. Kazusa dan Jin menghentikan motornya dan memakirkanya di samping Karin yang tengah berdiri. Karin menatap Kazusa tajam. Seolah ia ingin menginterogasi Kazusa dan Jin. Baru saja Karin ingin berbicara ia segera menembak seorang agen Moozat yang ingin memukul Kazusa dan Jin.
"Baiklah. Untuk sementara aku tak akan membahas itu. Sekarang kalian harus membantu kami," ucap Karin seraya menembak beberapa agen Moozat. Kazusa segera mengambil sebuah bom kecil berbentuk bola dan segera melemparkannya ke arah pohon yang di bawahnya ada banyak agen Moozat.
DUAR!
Ledakan yang tak terlalu besar itu menjatuhkan beberapa batang pohon disertai beberapa agen Moozat yang segera tergeletak. Kazusa segera mengambil pistol laras pendeknya dan segera berlari menembaki beberapa agen Moozat. Jin segera menembak beberapa agen Moozat dan berlari mengikuti Kazusa. Sesekali Jin menendang beberapa agen Moozat yang akan memukulnya.
Jin dan Kazusa melempar pistolnya seketika saat ada 4 orang agen Moozat yang akan memukul mereka. Segera Kazusa melayangkan kepalan tangannya menuju ke arah wajah agen Moozat yang ada di depannya. Jin segera menendang seraya memukul tubuh agen Moozat yang menjadi lawannya. Setelah 4 orang itu tumbang, segera Kazusa dan Jin melompat dan meraih pistol yang mereka lempar.
"Kita bertemu lagi Bunny Girl!" seru Masao seraya melompat dari dahan pohon dan mengarahkan pistol laras pendek ke arah Jin. Jin mendengus menatap Masao. Ia segera mengarahkan pistolnya ke arah Masao.
Jin segera menarik pelatuk pistolnya. Segera sebuah pelurus menembus udara dan mengarah ke arah Masao. Masao melompat menghindar seraya mengarahkan pistol ke arah Jin. Jin segera melompat dan menembakkan beberapa peluru ke arah Masao. Masao melompat menghindar. Ia segera menarik pelatuk pistolnya. Tapi pelurunya sudah habis. Jin menyeringai. Ini kesempatan!
Jin segera mamasukan pistolnya pada wadah di pingangnya dan mengambil pisau lipatnya. Ia segera mengarahkan pisau itu untuk menggores ke arah pipi Masao. Darah berwarna merah kental segera membasahi pipinya. Setelah itu Jin segera menendang Masao. Tapi Masao berhasil menangkis tendangan Jin. Masao segera menarik Jin. Ia mengambil pisau Jin dan meletakan pisau itudi dekat leher Jin.
Kazusa yang berada di sekitar Masao dan Jin yang tengah bertarung sedang menembak beberapa agen Moozat. Seorang gadis berambut pendek segera melompat ke belakang Kazusa. Ia segera menunjukan pisau dengan ujung yang runcing. Segera menarik Kazusa dan menggunakan tangan kiriknya untuk menahan leher Kazusa dan menghentikan geraka Kazusa. Segera di arahkan pisau itu di dekat leher Kazusa.
"You will die now!" bisiknya pada Kazusa seraya sedikit menggoreskan pisau itu di leher Kazusa.
Kamichama Karin (Chu) belongs to Koge-Donbo
Protection © Hana Kazusa Laytis
[!] AU; bad diction; typo; bloody scene; some OC
8-B : The Attack!
Kazusa meringis ketika ujung pisau dingin itu menggores lehernya hingga sebuah timah panas melubangi tangan gadis yang memainkan pisau di leher Kazusa. Gadis itu—Ami—meringis ketika manik ungu fucia itu menatap darah membasahi tanah di bawahnya. Gadis itu menoleh dan langsung berdecih ketika mengetahui sosok yang menembaknya.
"Oh Hanazono-san!" Ami menyeringai tipis. "Lama tak berjumpa."
Karin memincingkan matanya menatap Ami. Ia mengarahkan pistol miliknya ke arah Ami. "Jauhkan tanganmu dari Kazusa bila kau ingin selamat!" serunya.
Ami terkekeh. "Oh well," jawabnya dan mengendikan bahunya. "Bagaimana jika tidak?" Ami memainkan ujung pisaunya di leher Kazusa. Kazusa meringis merasakan permukaan benda dingin itu di lehernya.
"Kau akan menyesal."
Karin menarik ujung pelatuknya. Dan detik berikutnya Kazusa menarik napas lega ketika pisau itu jatuh di tanah. Gadis itu menoleh dan mendapati Ami tersungkur dengan lengan berdarah. "Kurasa itu sepadan," ucapnya dan melirik Karin dengan ekor matanya. "Arigatou Karin-nee." Kazusa berjongkok dan mengambil pisau Ami yang terjatuh.
Kazusa berbalik dan melempar pisau Ami ke arah Masao yang menangkap pisaunya cepat. Masao menyeringai ke arah Kazusa. "Not bad. But you must try again," dan detik berikutnya pisau itu berbalik ke arah Kazusa.
Kazusa melompat menghindari pisau yang kini menancap di batang pohon itu. Ia mengambil pistol di pinggangnya dan mengarahkanya ke Masao. Masao memasukan kedua tanganya di sela tangan Jin dan mengunci gerakanya dengan membalik tubuhnya di belakang Jin. Masao menatap Kazusa dan tersenyum remeh.
"Masih mau mencoba menembak?" tanyanya.
Kazusa menggeram. Gadis itu melirik Karin yang tengah menghajar beberapa anggota Grup Moozat dengan tanganya sebelum melirik Jin yang meringis ketika Masao menarik tanganya. Ia tak mungkin menembak Masao yang tengah mengunci gerakan Jin, kemungkinan untuk menembak sasaran tepat sangat tipis. Mungkin ia bisa melukai Jin bila ia nekat mengarahkan timah panas itu ke arah Masao.
Kazusa menghela napas panjang dan menurunkan pistolnya. "Baiklah katakan apa yang kau inginkan!" ucapnya.
Masao menyeringai, "Bukan masalah berat. Kau jatuhkan senjatamu lalu suruh anggota OSST pergi dari sini dan panggil orang tua anak kecil itu untuk membayar tebusan dan menyerahkan kembali pabrik di daerah timur Tokyo ke kami."
"Kau bodoh!" Jin mendelik Masao. "Kenapa kami harus melakukanya? Sudah Kazusa kau tembak saja dia!"
Kazusa meringis mendengarnya. Menembak Masao sama saja menembak Jin. Pria itu menggunakan tubuh Jin sebagai tamengnya. Kazusa mendesah panjang dan meletakan pistol miliknya di tanah. Masao menyeringai melihatnya dan Jin mendesah kecewa.
Kau bodoh Kazusa! Jin merutuk ketika melihat pistol milik Kazusa tergeletak di tanah.
Masao menyeringai melihatnya. "Sekarang hubungi ketua OSST dan suruh dia kembali atau," Masao meremas tangan Jin dan memelintirnya.
Jin meringis ketika salah satu jarinya ditarik dan diputar berbalik oleh Masao. Kazusa mendesah. Beberapa ide sudah ia susun dalam kepalanya dengan presentase yang sedikit. Seperempat kemungkinan untuk berhasil dan sisanya kemungkinan gagal. Kazusa mengarahkan ekor matanya melirik anggota OSST yang sibuk menghajar mundur anggota Moozat. Gadis itu mengarahkan telunjuknya menekan alat komunikasi di telinganya.
"He—hei Ka—rasakan ini!" Kazusa menarik kaki kananya mundur lalu maju dengan cepat hingga mengarahkan pistol di tangah itu melayang ke kepala Masao dan membuatnya tersungkur.
Masao melengguh ketika pipinya terkena sudut revolver dan menyisakan luka lebam di sana. Masao mengusap pipinya dan mendelik Jin yang kini lebah dari kuncianya. Jin menarik kerah kemeja Masao dan mengarahkan ujung revolver Kazusa ke pelipis pria itu dengan tangan kiri menarik kedua tangan Masao.
"Katakan kami dimana Miyon!" bisiknya di telinga Masao.
Masao mencibir saat manik matanya melirik Kazusa yang berjalan mendekatinya dan tersenyum sinis. "Apa untungnya?" serunya sinis. "Gadis cilik itu akan mati sebentar lagi."
Kazusa menggeram. Ia menarik kerah kemeja Masao dan menatapnya kesal. "Katakan saja!" serunya.
"Tak akan ada gunanya kau bertanya Bunny Girl. Mungkin gadis cilik itu sudah ma—argh!"
Kazusa mengarahkan kepalan tanganya ke wajah Masao. Gadis itu menatap Masao datar dan mengarahkan kepalan tangan ke wajah Masao hingga darah mengalir di sudut bibirnya. "Katakan saja!" serunya dengan kepalan amarah.
"W—wo, slow down Bunny Girl," ucapnya. "Dia mungkin bisa selamat bila ayahnya bisa mengembalikan saham perusahaanya ke nona Rika dan memberikan uang 30 milyar yen. Itu pun jika ia sanggup."
Jin mendengus. Ia mengeratkan kuncian tanganya pada lengan Masao. Masao melengguh ketika tanganya tertarik lebih rekat. Ia menekan ujung revolver miliknya di pelipis Masao, "Aku bisa menarik pelatuk ini jika aku mau."
Masao meringis pelan dan melirik Jin dengan ekor matanya. "Cobalah," ucapnya. "Kurasa kehilangan nyawa di sini tak terlalu buruk."
Kazusa memutar matanya malas. Ia mengambil borgol yang terselip di pinggangnya dan memborgol tangan Masao. "Kau masih berguna di sini," ia mencengkram tangan Masao sejenak, "Selama kau masih memiliki nyawa."
Kazusa menarik pisau lipat tipis di pinggangnya dan mengarahkannya ke leher Masao. "Cepat jalan! Tunjukan di mana ruangan Miyon di sekap!" ia mendorong bahu Masao agar pria itu berjalan.
...
Rika menggertakan giginya melihat rekaman CCTV di ruanganya. Beberapa anggotanya sudah terluka—mati malah—karena serangan OSST yang jauh dari dugaanya. Rika mendelik Sukichi yang ada di sampingnya. Ia menatap pria yang tengah memainkan pistol laras panjangnya. Dilihatnya luka di lengan kanan Sukichi yang merembetkan darah di kemeja putih pria itu.
"Berapa yang tersisa?" tanya Rika dan fokus menatap layar di depanya datar.
Sukichi menatap Rika sejenak, "20 orang nona. Itu yang kuhitung sebelum aku datang kemari. Mungkin bisa berkurang."
Napas Rika memburu. Sial! Perkiraanya tentang serangan OSST lepas dari dugaanya. Harusnya OSST hanya membawa beberapa batalion, tidak mengerahkan seluruh anggotanya seperti ini! Apalagi agen khusus seperti Kazune Kujyou dan Hanazono Karin tak perlu turun. Sigh. Rika mendecih mengucapkan dua nama itu. Karin dan Kazune adalah orang yang telah menjadi penghambat pergerakan organisasi ayahnya ini sejak beberapa tahun yang lalu ditambah ayah Kazune juga salah satu musuhnya.
Rika mengarahkan ekor matanya ke arah Miyon yang tertunduk dan menangis. Tsk, anak kecil itu hanya satu peluangnya untuk mendapatkan perusahaan ayahnya yang jatuh ke tangan ayah Miyon. Rika menatap Sukichi sekilas.
"Suruh semua yang selamat mundur masuk ke gedung sisi timur," ucapnya tenang dan melirik layar CCTV.
Sukichi mengangguk sebelum menekan alat komunikasi di telinganya, "Semuanya tahan tembakan dan mundur ke gedung sisi timur."
Rika menyeringai tipis mendengarnya. Ia menyangga wajahnya di atas tenganya. "Dan oh Sukichi-san," Rika menoleh menatap Sukichi, "Apa kalian sudah memasangnya di sekeliling gedung?"
Sukichi tersenyum mendengar ucapan Rika, "Tentu Nona. Kami telah memasangnya."
Rika menoleh dan mengendikan bahunya. "Good. Berikan aku sumbu pemicunya," Rika menarik kedua sudut bibirnya.
Sukichi tersenyum. Ia melempar sebuah kotak hitam kecil dengan tombol merah di ujungnya. Rika menangkapnya dengan tangan kirinya. Ia tersenyum tipis. "Sukichi-san seret gadis cilik itu kemari!" Rika melirik Miyon yang mendongak dengan ekor matanya.
Miyon bercicit takut ketika tangan Sukichi yang berdarah menarik tubuhnya paksa. Gadis itu bahkan bisa mengendus aroma anyir di tangan Sukichi. Ketakutan Miyon semakin membuncah ketika ia dilempar Sukichi untuk duduk di samping Rika. Rika memiringkan kepalanya menatap Miyon dengan senyum kecil. Miyon menegang menatapnya. Apa lagi sekarang? Apa kematian akan menghadapinya sekarang?
Rika mencondongkan wajahnya ke telingan Miyon. Ia menarik sudut bibirnya naik, "Tersenyumlah yang lebar pada kamera gadis kecil."
...
"Tahan tembakan!" Kazune menekan alat komunikasi di telinganya dengan tangan kirinya sedangkan tangan kananya memborgol Kirio. Kirio berdecih menatap Kazune.
"Baiklah," ia mengendikan bahunya dan menatap Kirio. "Ikut aku sekarang."
Kirio meringis ketika Kazune menyeretnya masuk ke dalam van besar di sisi selatan gedung. Kakinya yang tertembak peluru dari pistol Kazune semakin memperburuk keadaan. Apa lagi wajahnya yang kini hancur. Sudut bibirnya berdarah, pipinya lebam, dan matanya sedikit berkunang karena pukulan Kazune di matanya tadi. Kirio berdecih. Pertarungan yang belum selesai dengan Kazune beberapa tahun silam kini berakhir dengan kekalahan dirinya. Sigh.
"Ketua Grup Moozat mengirimkan anda pesan video Kazune," Mira membenahi kacamatanya yang melorot. Ia menunjuk komputer yang hidup di dalam van dengan telunjuknya.
"Negosiasi mungkin."
Kazune mengangguk pelan. Ia melepas cengkraman pada tangan Kirio. Ia melirik Kirio dengan ekor matanya dan menatap Mira, "Urus dia. Jangan sampai lepas. Kita membutuhkan dia untuk mendapat informasi."
Kazune segera duduk di depan komputer di van yang menyala. Manik sapphire-nya bisa menatap Rika yang tengah menyangga wajahnya dan menguap pelan. "Apa yang kau mau?" ucap Kazune ketus.
Rika meringis mendengarnya, "Oh Kujyou, apa kau harus sekasar itu hm?" Ia memiringkan kepalanya menatap Kazune sebelum terkekeh, "Hanya mengajukan penawaran yang, well mungkin menguntungkan."
"Cepat katakan!" paksa Kazune.
Rika mengendikan bahunya. Ia memainkan ujung kuku tajamnya di pipi Miyon, "Aku memberikan penawaran. Anak ini bisa selamat bila ayahnya bisa mengembalikan saham perusahaanya ke nona Rika dan memberikan. Dan uang 10 milyar yen. Itu pun jika ia sanggup."
Miyon meringis merasakan ujung kuku Rika menusuk pipinya yang berdarah. "Memohonlah," ia berbisik pelan ke telingan Miyon.
"To—tolong," cicit Miyon diakhiri dengan ringisan.
Rika tersenyum puas. Ia memiringkan kepalanya pelan, "Jadi apa pilihan kalian? Gadis ini mati sekarat di sini atau selamat dengan membayar uang yang kukatan tadi?"
Kazune menggeram. Ia bisa melihat jelas seringai Rika yang tercetak kian lebar di wajahnya.
"Oh kurasa kalian membutuhkan waktu berpikir. Jadi kuberi kalian waktu 2 jam untuk berpikir. Manfaatkan dengan baik Kujyou. Ingat nyawa gadis cilik ini adalah taruhan kita."
Dan detik berikutnya pesan video itu selesai. Kazune mendesah. Ia menoleh menatap beberapa anggota yang ikut mendengar percakapanya dengan Rika. Kazune mengacak rambut blonde-nya dan melengguh frustasi.
Kazune menarik napas panjang sebelum membuangnya, "Segera hubungi ayah Miyon dan sambungkan ke aku segera."
"Baik."
Kazune melengguh. Ia menyandarkan tubuhnya di kursi dan menatap langit-langit van. Keadaan nyaris terkendali tapi sekarang kacau.
"Aku membawa kabar baik."
Kazune menoleh saat menatap Karin masuk ke van dan mendekat ke arahnya. Kazune mencoba menarik sudut bibirnya menatap gadis itu.
"Apa?" tanyanya.
"Kazusa dan Jin berhasil menerobos masuk ke dalam. Mungkin mereka bisa menyelamatkan Miyon."
"Kau tak bercanda bukan?"
Karin mengangguk pelan, "Untuk apa aku bercanda Kujyou? Tadi Kazusa menghubungiku dan menjelaskanya."
Kazun menarik napas panjang dan memejamkan matanya sebelum menatap gadis itu, "Semoga mereka berhasil. Kali ini nyawa adalah taruhanya."
...
Kazusa mengarahkan kepalanya tanganya ke arah salah satu agen Moozat sebelum mengarahkan pistol ke wajahnya. Ia menoleh dan menatap Jin yang menyeret Masao hingga ke lantai 3 ini. Kazusa berbalik saat ia melihat seorang agen Moozat berlari ke arahnya dengan sebuah tongkat. Kazusa menendang tongkat itu hingga jatuh di lantai sebelum mengarahkan tanganya menghajar wajah agen itu.
"Cepat katakan dimana ruanganya!" paksa Kazusa setelah membuat agen itu tergeletak di lantai.
Masao menyeri, "You have to find it."
Jin menggeram dan mengarahkan tanganya bersiap mencekik Masao, "Katakan sekarang! Nyawamu adalah taruhanya!"
Masao meringis saat goresan di lehernya di sentuh Jin, "Oh baiklah! Mereka menyekap gadis itu di ruangan paling pojok di sisi kiri lorong ini!"
Jin menatap Masao dan tersenyum simpul, "Good boy."
Kazusa mengisi revolver kaliber 44 miliknya dengan 5 peluru dan beberapa senjata lain dengan peluruh. Kazusa menatap Jin yang memborgol salah satu tangan Masao dan memasangkan borgol yang lain ke sebuah tiang besi di dekat tangga. Ia lalu mengambil semua senjata Masao dan memasang plester di mulut Masao untuk berjaga jika ia berteriak memanggil beberapa agen Moozat.
Jin berdiri dan menepuk tanganya. Ia menoleh menatap Kazusa dan mengambil senapan laras pendek dan mengenggamnya erat.
"Siapa yang harus kita waspadai?"
"Tentu saja Rika."
Jin mengangguk pelan dan menatap Kazusa sekilas sebelum menatap lorong yang sudah telihat ujungnya itu. Jin menghela napas singkat sebelum berjalan lurus. Kazusa mengendap. Ia sudah menyiapkan senjata berjaga jika ada beberapa agen Moozat yang kemungkinan besar bisa menikam mereka dengan pisau.
Jin menunduk dan merapatkan tubuhnya ke pintu. Senapan laras pendeknya berada erat dalam genggaman tanganya.
"Menurutmu hasilnya nanti bagaimana nona?"
"Kemungkinanya imbang. Tapi menurutku condong untuk mengarah ke membayar kita tentu saja."
Jin menoleh menatap Kazusa sebelum mengangguk pelan. Ia mengarahkan kakinya menendang pintu dengan kakinya. Dua pistol laras pendek di arahkan ke seorang perempuan dan pria berbadan tegap.
Rika menyeringai lebar, "Well, tamu khusus rupanya."
"Oh sudahlah! Berhenti berbicara, serahkan Miyon kepada kami!"
Rika terkekeh mendengar ucapan Kazusa, "Gertakanmu tak menyeramkan seperti Kazune kau tahu?"
Kazusa menggertakan bibirnya geram. Ia menatap sekitarnya. Dua pria berbadan kurus dan satu pria berbadan tegap mengarahkan senapan ke arahnya dan Jin. Seorang gadis yang tengah merawat luka Miyon menoleh setelah perban terpasang di rapi di lengan Miyon.
"Ka—Kazusa-nee," lirihnya dengan dua manik mata siap meneteskan air mata.
"Habisi mereka!"
Dua laki-laki berbadan kurus itu menarik pelatuk pistol mereka. Kazusa menunduk seraya berlari ke arah meja dan menendang meja itu agar berbalik. Jin bergerak menyamping dan menembak salah satu dari mereka.
Kazusa berdiri dan mengarahkan revolver miliknya ke arah pria berbadan tegap yang dengan sigap menghindar. Setelahnya ia melompat keluar dari balik meja dan mengarahkan dua tembakan. Sukichi, pria berbadan tegap, segera mengarahkan tembakan beruntun ke Kazusa.
Kazusa menyeringai saat tembakan Sukichi terhenti karena pelurunya habis. Tanpa membuang waktu ia segera menendang pistol laras pendeknya itu hingga terbanting ke lantai. Dengan sigap Kazusa memasukan dua pistol di wadah yang melingkar di pinggangnya dan mengarahkan tendanganya mengarah ke wajah Sukichi.
Sukichi tersungkur dan ia mencoba berdiri. Kazusa berbalik dan bersiap mengarahkan tinjunya ke wajah Sukichi. Sukichi terdesak. Dengan tinju yang langsung menghantam wajahnya ia jatuh ke lantai dan pingsan. Kazusa mendongak. Ia menatap Rika yang mendesah panjang dan mengepalkan tanganya kesal.
"Oh dasar tak berguna!"
Rika menoleh menatap Kirika yang berdiri di belakanganya dengan Miyon, "Jangan sampai dia lepas Kirika! Aku akan mengurus mereka."
Rika membalik tubuhnya secepat kilat ke arah meja dan meraih sebuah senapan laras panjang. Rika mengarahkan bidikanya ke arah Kazusa. Kazusa menghindar cepat. Dan Rika menggeser arah bidikanya ke arah Jin yang tengah mengacungkan dua revolver ke arahnya.
Kazusa berlari menerjang Rika dan mengarahkan tanganya menarik senapan itu dari Rika. Rika berdicih saat senapan itu terbanting ke lantai. Rika mengarahkan kepalan tanganya ke wajah Kazusa. Kazusa terhuyung ke belakang saat merasakan nyeri di wajahnya.
Rika menatap Kazusa dan menyeringai lebar. Manik matanya lalu mengunci ke wadah senjata yang melingkar di pinggang Kazusa. Ia segera mendekat ke arah Kazusa dan menarik salah satu pistol dari wadahanya. Rika segera mengarahkanya ke arah Jin. Kazusa berbalik dan segera mengarahkan tendangan hingga Rika tergeletak di lantai.
Kazusa menatap Rika dan mendengus, "Itu balasan untuk pipiku."
Jin berdiri. Ia menepuk tanganya yang kotor dan mendekat ke arah Kazusa. Kazusa berbalik dan menatap Kirika yang tengah mengendong Miyon. Kazusa merapikan poninya yang menutup matanya.
"Serahkan Miyon pada—"
"Argh!"
Kazusa refleks menoleh. Manik blue ocean-nya membelalak menatap Rika yang sudah berdiri dan mengunci gerakan tubuh Jin dengan sikut yang mengunci lehernya dan menarik sebuah revolver dan meletakanya di pelipis Jin.
"Kirika jangan biarkan dia lepas!" Manik mata Rika menatap garang Kirika.
Kirika mendesah. Ia melonggarkan pelukanya pada Miyon yang tengah terisak. Rika menatap Kirika garang.
"YA! Apa yang kau lakukan Kirika?!"
Dan ia menarik pelatuk revolver hingga membuat luka bulat di bahu Kirika. Kirika meringis. Darah berwarna merah membasahi pakaianya. Ia menatap Rika yang kembali mengacungkan pistol ke arah Kirika.
"Apa yang kau lakukan?" ucap Kirika disela ringisannya.
Rika berdecih pelan, "Itu balasan untukmu. Aku masih baik hati menembaknya di bahu bukan di kepalamu!"
Jin meringis ketika Rika kian mengeratkan cekikanya di leher. Rika mengarahkan revolver ke arah Kazusa.
"Dan kau jika mendekat ke arahnya—" Rika mengarahkan pucuk pistolnya kembali ke kepala Jin, "—kau harus mengatakan sampai jumpa padanya."
"Jangan pedulikan aku Kazusa. Cepat tolong Miyon!" teriaknya.
Rika mendengus. Ia mengarahkan ujung revolver ke bahu Jin. Ia menarik ujung pelatuknya. Dan suara letupan senjata dan lengguhan sakit Jin menggema di ruangan. Kazusa mendelik Rika yang sudah melubangi bahu Jin.
"Oh diamlah! Dan kau Kazusa jangan berani mendekati Miyon!"
Kazusa melirik Miyon dengan ekor matanya. Gadis itu tengah pingsan setelah melihat darah mengalir dari bahu Kirika. Kazusa kembali memfokuskan pandanganya ke Rika dan Jin setelahnya. Kazusa mengarahkan pistolnya ke arah Rika.
Rika tertawa. Ia menatap Kazusa dengan kepala sedikit miring dan tersenyum remeh.
"Kau mau dia mati?" tanyanya.
Kazusa mengendikan bahunya, "Well, itu bagus mungkin. Lagi pula ia terlalu berisik."
Jin mendelik Kazusa. Ia mendengus di sela cekikkan tangan Rika. Rika terkekeh pendengarnya. Ia lalu mengarahkan revolver miliknya ke pelipis Jin dan menekanya kian kuat.
"Say bye."
Dan saat Rika menarik pelatuk revolver, Kazusa berlari ke arahnya dan menabrak tubuhnya. Rika terjatuh dan Jin segera melepaskan diri dari cekikan Rika Jin meringis menatap peluru yang masih bersarang di bahu kananya. Ia segera menendang revolver yang terjatuh menjauh dan menjauhkan sebuah pisau dari cengkraman Rika.
Jin segera berkelit saat kaki Rika nyaris mengarah ke tubuhnya untuk menjatuhkanya. Jin segera berjongkok dan meraih borgol untuk memborgol kedua tangan Rika. Rika mendelik dan mengumpati mereka.
"Ba—bagaimana bisa? Seharusnya kau tertembak mati!"
Kazusa menoleh ke arah Rika dan tersenyum simpul, "Aku sudah menggunakan tiga peluru dan kau menggunakan dua peluru. Kau lupa itu revolver berkaliber 44, hanya memiliki 5 peluru."
Dan umpatan Rika terus bergulir berikutnya. Kazusa menoleh menatap Kirik yang diam di pojok ruangan dan mencoba mengulas senyum tipis. Ia menaikan tangan kanannya.
"Aku menyerah," ucapnya dan menarik napas panjang. "Sebenarnya aku sudah tak ingin berurusan dengan Grup Moozat."
"Ka—kau Kirika! Apa yang kau ucapkan?!" Rika menatap garang Kirika.
Kirika menatap Rika dan tersenyum tipis. Ia menghela napas sejenak, "Keberadaanku di sini terpaksa. Aku bekerja di lapangan dulu karena kakakku sakit. Dan juga aku sudah menolak bekerja di sini mentah-mentah, tapi kakakku memaksaku. Dan ya untuk serangan dulu aku minta maaf."
Kazusa menatap Kirika tersenyum simpul, "Tak masalah. Itu paksaan bukan?"
Kirika mengangguk dan menarik napas panjang, "Apa aku akan mendapat hukuman yang lama?"
Kazusa menatap Kirika dan tersenyum simpul. "Aku tak tahu. Tapi hukum harus ditegakkan bukan?" jawabnya.
Jin mengangguk pelan. Ia menggendong tubuh kecil Miyon perlahan dan menoleh ke arah Kirika saat berdiri tepat di sampingnya. Jin hanya tersenyum kecil.
"Tak masalah. Semua berakhir sekarang," ucapnya saat mengendong Miyon dengan perlahan. Jin meringis saat bahu kananya mencoba menggendong Miyon terasa kian sakit.
Kazusa menghela napas sejenak. Ia memejamkan matanya seraya menekan alat komunikasi di telinganya, "Kami berhasil menyelamatkan Miyon. Kami ada di lantai tiga ruang pojok sisi kiri. Pelaku utama berhasil dilumpuhkan. Dan bawa paramedis, Jin membutuhkan perawatan."
...
"Ah... Akhirnya ini yang terjadi," ucap Jin seraya menurunkan kacamata hitamnya beberapa mili dari wajahnya.
Kazusa menoleh menatap pria berkemeja putih yang tengah mendorong kopernya memasuki bandara yang padat. Ia mengangguk pelan, "Begitulah."
Jin mengangguk sejenak dan membenahi letak kacamatanya. Kazusa menoleh. Mencermati Jin. Manik matanya terdiam sejenak menatap bahu Jin. Bekas luka itu bagaimana keadaanya sekarang?
"Ya, misi berhasil dan Miyon selamat. Tapi apa hal buruk yang akan terjadi pada Miyon?"
"Hanya trauma. Psikolog keluarnya mengatakan itu padaku."
Jin mengangguk pelan. Ia mendongak menatap langit-langit bandara internasional di kota Tokyo yang berwarna putih, "Semoga saja itu tak terjadi. Dan well bagaimana yang lain? Maksudku keadaan Grup Moozat dan OSST selama aku dirawat?"
"Semua anggota Grup Moozat yang hidup dipenjara dengan tuntutan berat terutama untuk Rika. OSST terlihat normal, tak terlalu menarik dengan OSST," jawab Kazusa dan membenahi letak jaket birunya.
Jin mengangguk pelan. Ia menoleh menatap Kazusa sebelum fokus lurus.
"Kau tahu aku dipindah tugaskan kemana?" tanyanya.
"Tidak. Dan aku tak mau tahu," jawab Kazusa.
"Oh baiklah. Jangan bersikap seperti itu Bunny Girl! Kita menjadi partner yang baik di misi ini!" Jin mendelik Kazusa.
"Baiklah itu fakta mungkin," jawab Kazusa malas.
"Oh, aku tahu kita mengawalinya dengan hal buruk," Jin menghentikan langkahnya. "Tapi kurasa ini berjalan baik. Dan kita partener yang bagus. Mungkin ini bisa merambat ke hal lain."
Kazusa menoleh menatap Jin dan mengangguk pelan, "Ya itu hanya beberapa persen. Lukamu bagaimana?"
Jin menggerakan bahu kananya sejenak. "Baik. Sangat baik kurasa," jawabnya.
"Oh syu—"
"Jika kau mengkhawatirkanku kita bisa bertemu di Hongkong. Aku dipindahkan ke Hongkong. Tak terlalu bukan dari Jepang? Aku bisa ke Jepang jika mendapatkan libur."
Kazusa mengendikan bahunya. Berusaha tak terlalu memperdulikanya. Jin hanya tersenyum tipis. Ia kembali menarik kopernya hingga mereka, ia dan Kazusa, sampai di terminal ke berangkatan ke Hongkong.
"Kurasa ini bukan akhir," Jin memasukan kacamata hitamnya dalam saku kemejanya.
Kazusa mengendikan bahunya. "Itu hanya beberapa persen," balasnya. Kazusa memiringkan kepalanya menatap Jin sejenak, "Baiklah ini sudah lebih dari cukup untuk mengobrol. Sampai jumpa."
Jin menarik napas panjang. Ia menarik jari telunjuknya ke pelipis sebelum mengarahkanya ke arah Kazusa dan berbalik, "Sampai jumpa."
— The End —
Hola~ Maaf ya fanfiction ini ngadat hampir 1,5 tahunan. Lalu baru kelar sekarang ._. Maaf kalo ini kurang muasin ya.
Selain itu saya juga mau ngucapin terima kasih untuk semua yang sudah review/fav/follow fanfiction ini. Maaf romance-nya gak muncul atau bahkan gak ada karena saya berubah haluan seketika. Hehe :3 Dan oh ya, fanfiction ini juga saya sedikit ngedit dari chapter awal untuk mengurangi dan mengedit beberapa hal yang tak perlu. No sequel ya, saya gak kuat buat sequel soalnya masih banyak utang di sini sama si wordpress.
Dan setelah ini fanfiction yang akan saya lanjutkan adalah Cooking? Cooking! dan Black Heart.
Mohon maaf Paparazzi dan Love Song saya belum bisa lanjutkan karena file lagu yang kacau. Walau laptop saya akhirnya kembali ke saya dengan memori yang selamat, tapi banyak plot yang saya rancang sudah lupa dan beberapa lagu yang akan menjadi backsound dan main idea untuk kedua fanfic itu setelah saya pikir kurang ada feel-nya. Jadi mungkin saya akan mulai mencari lagu untuk Paparazzi dan Love Song yang ada feel sama plot dari awal.
Jadi, harap pengertianya dan maklum. Jika ada yang ingin protes silakan kirim e-mail ke saya, alamat e-mail saya ada di bio saya. Saya akan membalasnya dengan senang hati.
Thanks for waiting and read this one!
Wanna leave some opinion?
