Cho Ji Hyeon presents
So Goodbye
Disclaimer : EXO dan Super Junior milik SMEnt. Membernya punya Tuhan
Pairing: you'll find so on
Warning : geje, OOC, typo, genderswitch, mpreg, YAOI, crack pair, DON' LIKE DON'T READ, NO BASH
My 1st EXO fic. Fanfic ini berisi crack pair. If you don't like Suho as uke and Kris as his seme, would you mind to click those 'X' button, please?
~Happy Reading~
Three
.
Hari ini operasi pencangkokan Junmyeon dilaksanakan setelah sebelumnya dilakukan operasi pengangkatan sel kanker. Hidup mati Junmyeon tergantung dari hasil operasi hari ini. Kulihat seluruh keluargaku yang hadir di ruang tunggu ini selagi operasi berlangsung. Mama, Nainai, Luhan, dan Kyuhyun Eomeoni berdoa bersama. Jangan salahkah wajahku yang poker face ini meskipun sekarang aku berada dalam keadaan tegang. Salahkan Baba yang menurunkan wajah ini padaku. Meskipun memasang wajah pokernya, aku tahu Baba sama tegangnya dengan kami semua.
Tak terasa enam jam telah berlalu. Sekarang sudah hampir tengah malam. Para wanita tampak kelelahan, tapi belum ingin beranjak dari kursi yang kami duduki selama enam jam terakhir ini. Dari sudut mataku, kulihat Baba beringsut.
"Ma, sebaiknya Mama dan Nainai istirahat. Sekarang sudah tengah malam. Lagipula Junmyeon tidak akan sadar begitu operasi selesai. Kau juga, Kyuhyun-ah."
"Tidak. Aku ingin menunggu sampai operasinya selesai. Aku ingin mendengar hasilnya sendiri." Jawab Kyu Eomeoni.
"Aku juga." Mama dan Nainai menyahut.
"Istirahatlah di kamar rawat Junmyeon. Di sini dingin. Bila operasinya selesai Junmyeon akan dibawa ke kamarnya. Luhan, antarkan Aunty dan Nainai ke kamar rawat Junmyeon." Baba memang berhasil membujuk Mama dan Nainai, tapi Kyuhyun Eomeoni tetap tak bergeming dari tempatnya. Baba menghela napas dan membiarkannya.
Kusandarkan kepalaku pada dinding dan memejamkan mataku yang terasa panas akibat kurang tidur belakang ini. Aku memikirkan hubungan kami. Di satu sisi aku masih sangat mencintai Junmyeon dan ingin memdapatkannya lagi, tapi di satu sisi aku masih terikat oleh pernikahan dengan Zi Tao. Kalau saja waktu itu aku mempertahankan hubunganku dengan Junmyeon atau jatuh cinta pada Zi Tao sebelum aku pindah ke Korea, tidak akan ada yang terluka seperti saat ini. Aku menyadari bagaimana perasaanku pada mereka. Aku menyayangi Zi Tao, tapi aku tidak bisa mencintainya seperti dia mencintaiku. Sejak dulu aku menganggapnya seperti namdongsaeng yang tidak kumiliki. Berbeda dengan Junmyeon, bersamanya aku merasakan apa itu yang disebut mencintai. Dengan Junmyeon aku merasa hidupku lengkap. Aku tidak membutuhkan apa-apa lagi bila Junmyeon ada di sisiku. Sound cheesy, eh? Tapi memang seperti itulah kenyataannya. Seberapa keraspun aku mencoba mencintai Zi Tao dan melepaskan Junmyeon, hatiku semakin sakit. Melihat Junmyeon hampir mati tanpa seorangpun di sisinya, membuatku menyadari bahwa aku tidak bisa meninggalkannya sendiri lagi, namun di satu sisi, aku juga tidak bisa menyakiti Zi Tao. Bagaimana ini?
Hampir satu jam kemudian, suara pintu ruang operasi yang menjeblak terbuka mengejutkanku dari pemikiran terdalamku. Tampak dokter Choi melepaskan maskernya dan berjalan menuju arah kami.
"Bagaimana hasilnya?" tanyaku segera setelah dokter Choi mendekat.
"Operasinya berhasil. Selanjutnya kita hanya bisa berdoa Junmyeon akan membaik." Aku menghela napas lega. Kudengar Baba mengucapkan, "Thanks God."
"Di mana Junmyeon sekarang?"
"Di ruang isolasi. Kami harus memantau konsisi pasca operasinya baru memindahkannya ke kamar rawat."
"Bolehkah aku menjaganya?" kami semua menatap Kyuhyun Eomeoni.
"Maafkan aku, tapi ruangan itu hanya boleh dimasuki selama jam besuk dan tidak lebih dari 30 menit."
"Kumohon. Untuk sekali saja biarkan aku tidur bersama Junmyeon setelah berpisah selama ini."
Kulihat dokter Choi tampak berpikir keras. Walaupun aku sama inginnya bersama Junmyeon seperti Kyuhyun eomeoni, tapi aku merasa Kyuhyun eomeoni lebih berhak. Dia sudah berpisah dengan Junmyeon selama enam belas tahun, tentunya dia ingin berada di dekat Junmyeon.
"Baiklah, tapi hanya untuk malam ini."
"Terima kasih, Siwon-ah."
Dokter Choi mengantarkan Eomeoni menuju ruang isolasi Junmyeon sementara aku dan Baba kembali ke kamar rawat Junmyeon sebelumnya. Tampak Luhan dan para wanita di keluarga kami telah tertidur. Baba membentangkan selimut di atas tubuh Nainai yang tidur di atas sofa, sementara aku menyampirkan jaketku pada Mama yang tidur di sofa satunya.
Kutatap keluargaku yang tertidur di semua sisi kamar ini. Aku tahu mereka sangat peduli pada Junmyeon bahkan sejak aku memperkenalkannya pada mereka pertama kali beberapa tahun lalu. Yah, aku tidak bisa menyalahkan mereka. Junmyeon adalah seseorang yang mustahil untuk bisa dibenci. Lalu semua itu terjadi. Aku menikah dengan Zi Tao. Di antara semua orang dalam keluargaku, reaksi Nainai merupakan yang paling sulit dilupakan. Ketika aku membatalkan pertunanganku dengan Junmyeon dan memperkenalkan Zi Tao, Nainai yang notabenenya orang tua yang sehat dilarikan ke rumah sakit karena berita mendadak yang dibawa olehku. Nainai bahkan menolak bicara denganku setelahnya. Reaksi kedua orang tuaku memang tak seekstrem Nainai, tapi tetap saja. Zi Tao pasti merasa tidak nyaman dengan keadaan ini. Ah, Zi Tao! Aku benar-benar lupa dia bersama kami sejak hari di mana aku membawa Junmyeon pulang. Kutarik ponsel yang ada di dalam saku celanaku dan mencari nomer Zi Tao pada daftar kontak. Ketika aku akan menekan tulisan dial, aku mengurungkan niatku. Sekarang sudah lewat tengah malam. Zi Tao pasti sudah tidur. Kukantongi kembali ponselku ke saku celanaku dan duduk di samping Luhan yang tertidur dengan mulut terbuka. Kebiasaannya ketika dia kelelahan. Dari semua keluargaku, Luhan adalah satu-satunya orang yang ramah dengan setulus hati pada Zi Tao walaupun aku tahu dia juga kecewa padaku karena mencampakkan Junmyeon.
"Dui bu qi." Ucapku pelan. Meskipun keluargaku tidak mendengarnya, aku hanya ingin mengucapkannya karena semua kerepotan yang kubuat.
-JHC-
Aku memeriksa kondisi Junmyeon seperti biasanya. Ketika aku memeriksa denyut jantungnya, Junmyeon membuka matanya dan menatapku.
"Appa." Panggilnya. Aku tersenyum mendengarnya memanggilku 'Appa'. Aku memimpikan saat-saat seperti ini bahkan semenjak dia berada di dalam kandungan.
"Ne, Junnie-ah?" kuusap kepalanya dengan sayang. Tampak Junmyeon kembali memejamkan matanya dan menikmati sentuhanku.
"Kapan aku bisa keluar dari rumah sakit?" aku tersenyum lebih lebar mendengarnya. Junmyeon yang sekarang bukanlah Junmyeon yang kulihat beberapa waktu lalu yang menantikan kematiannya sendiri.
"Segera. Kau harus terus membaik kalau ingin keluar dari sini dengan cepat."
"Lalu bagaimana dengan Eomma?" aku terdiam mendengarnya. Sejauh mana yang dia ketahui tentang eommanya?
"Bagaimana apanya, Junnie-ah?"
"Bukankah Appa sudah berpisah dengan Eomma? Apakah aku tidak bisa bertemu dengannya lagi? Apakah sekarang Eomma sudah memiliki pengganti Appa?" ketika aku ingin menjawab, suara pintu yang dibuka menginterupsi kami.
"Maafkan Eomma karena harus berpisah dengan Appamu, Sayang. Tapi Eomma janji kita akan saling menghubungi. Appa memiliki nomer telepon dan alamat email Eomma dan Eomma akan menghubungimu sesering yang kau inginkan. Ya, kau punya Appa lain, Sayang. Kami cukup bahagia dengan keadaan kami sekarang. Maafkan kami karena kembali bertemu denganmu dalam keadaan berpisah seperti ini." Kyuhyun yang masuk dan duduk di tepi tempat tidur Junmyeon. Diusapnya pipi Junmyeon.
Junmyeon menggeleng. "Tidak apa-apa. Bertemu lagi dengan kalian sudah lebih dari cukup untukku. Di mana Appaku yang lain?"
Kyuhyun tersenyum dan menjawab, "Dia ada di Cina. Untuk itulah Eomma kemari. Dia membutuhkan Eomma, jadi Eomma ingin berpamitan padamu. Eomma akan menghubungimu begitu tiba di Cina."
"Secepat itu?"
"Ne. Mianhae, Junnie-yah, karena Eomma tidak bisa menjagamu begitu keluar dari rumah sakit. Baik-baiklah dengan Appa, ne?"
Junmyeon mengangguk dan memejamkan matanya ketika Kyuhyun mengecup keningnya lama. "Jangan merepotkan Appa dan jangan telat makan. Sampai jumpa, Sayang."
"Biar Appa menemani Eomma keluar. Tunggulah sebentar, ya?" Junmyeon kembali mengangguk dan setelahnya kami keluar dari ruang isolasi menuju lobi rumah sakit.
"Suamimu benar-benar membutuhkanmu sekarang? Bukankah ini agak tidak adil untuk Junmyeon? Dia baru saja bertemu denganmu."
"Tidak juga. Ini masalah dengan Zi Tao. Dia yang membutuhkanku saat ini. Aku tahu, sampaikan permintaan maafku pada Junmyeon. Aku akan mengunjunginya begitu aku sempat. Apa tak masalah dengan itu?"
"Tidak apa. Kau juga berhak menemuinya kapanpun kau mau. Ada apa dengan Zi Tao?"
"Dia..." Kyuhyun menceritakan semuanya. Sekarang aku mengerti kenapa Kyuhyun harus menemani Zi Tao. Hanya ada keheningan di antara kami setelahnya.
"Omong-omong, darimana kau mendapat donor untuk Junmyeon secepat itu?"
"Itu...pendonornya adalah pasienku. Dia seseorang yang memiliki masa lalu rumit dengan keluarganya seperti yang diceritakannya padaku dan dia sangat ingin menebus dosa-dosanya dengan berbuat kebaikan. Ironisnya, setelah dia menghadiri acara amal untuk tuna wisma, dia mengalami kecelakaan. Saat ambulans datang, dia sudah sekarat. Dia berpesan ingin berbuat kebaikan untuk terakhir kalinya, jadi dia mendonorkan organ-organ tubuhnya. Begitulah ceritanya."
"Malang sekali nasibnya. Aku sangat berterima kasih padanya karena memberikan kesempatan bagi Junmyeon untuk hidup."
"Ya. Aku juga merasakan hal yang sama denganmu. Nah, hati-hati selama perjalanan. Sampaikan salamku pada suamimu. Sampai jumpa, Kyuhyun-ah." Kataku ketika kami sampai di lobi.
"Ne. Jaga Junmyeonnie baik-baik. Sampai jumpa, Siwonnie." Setelahnya dia berbalik dan menghilang di balik pintu kaca rumah sakit. Aku merasakan kesedihan melingkupi hatiku karena dia kembali pergi, tapi toh dia sudah menemukan kebahagiannya. Itu sudah cukup untukku. Lebih baik sekarang aku mengurusi putraku.
Ketika aku kembali ke ruang isolasi, kulihat Kris ada di sana. Kuurungkan niatku untuk masuk dan menunggu di depan pintu.
"Mulai sekarang aku akan menjagamu." Kudengar dia berkata.
"Apa maksudmu? Kau sudah punya keluarga yang harus kau perhatikan. Tidak perlu merepotkan diri dengan menjagaku."
"Tapi keluargaku adalah kau, jadi tak masalah."
Aku tersenyum mendengarnya. Lebih tepatnya tersenyum pada wajah kebingungan Junmyeon. Membayangkan wajahnya yang seperti itu membuatku geli. Kalau tidak bingung, dia pasti menduga Kris menganggapnya hanya sebagai dongsaeng. Aku memilih berbalik dan meninggalkan ruangan itu. Kris pasti akan ada di sana 24/7 selama Junmyeon dirawat setelah operasi.
.
Hari ini tepat setahun setelah Junmyeon keluar dari rumah sakit. Ketika aku kembali ke Seoul selama beberapa hari untuk mengunjungi kedua orang tuaku bersama Junmyeon, mereka sempat terkejut melihatnya. Tapi syukurlah mereka dapat menerima Junmyeon dengan baik setelah mendengar penjelasanku. Selama ini mereka memang mengharapkan cucu dariku. Sayangnya, hanya Junmyeon lah cucu yang dapat kuberikan pada mereka, jadi mereka memilih menerimanya.
Kami, aku dan Junmyeon, tinggal di Vancouver. Hanya kami berdua. Well, aku bersyukur karena Junmyeon mewarisi tujuh puluh persen sifatku, sayangnya tiga puluh sisanya adalah turunan ibunya. Kenapa aku bersyukur? Karena aku tidak bisa membayangkan ada Kyuhyun lain yang cerewet, diva, yang kadang-kadang kekanak-kanakan. Bukannya aku tidak menyukai sifat Kyuhyun itu, hanya yah, kau tahu sendiri seberapa 'berwarna'nya hidupku karenanya. Dan Junmyeon bisa menjadi sangat talkative bila aku mengacuhkannya. Ah, satu lagi turunan dari ibunya. Dia tidak suka diacuhkan. Sebelum Kris meninggalkannya dan orang tua angkatnya meninggal, Junmyeon pasti seperti ini. Orang yang ceria dengan senyuman yang seolah diiringi malaikat-malaikat yang bernyanyi dan matahari yang terbit dari balik awan mendung sebagai latar belakang.
Oh ya, Junmyeon juga kembali tampil di atas panggung. Aku ingin dia meraih mimpinya yang sempat terlupakan karena penyakitnya. Saat ini aku tengah memperhatikannya melatih dialog yang akan ditampilkannya dalam acara yang akan diadakan panti asuhan yang selama ini kuberi donasi. Aku tidak mengerti, kenapa dia berlatih dengan gerakan gemulai seperti itu. Bukankah seorang pria harusnya bergerak dengan gagah? Kutanyakan hal itu padanya.
"Appa tidak tahu kalau aku memerankan Snow White di drama ini?" mendengar jawabannya, membuatku tersedak kopi yang kuminum. Kuraih naskah drama di tangannya dan membacanya. Benar. Namanya tercantum sebagai pemeran Snow White. Aku melotot melihatnya.
"Apa-apaan ini? Bagaimana bisa putra seorang Choi Siwon memerankan seorang wanita?"
"Memangnya tidak boleh? Mereka kesulitan menemukan orang yang tepat untuk memerankan Snow White." Aku melihat penampilan Junmyeon. Kulitnya yang seputih susu, tubuhnya yang mungil dan ramping, bibir merah yang sekarang membentuk pout imut, nice nose, dan mata bulatnya, aku harus mengakui dia cocok memerankan Snow White. Tapi...
"Tidak. Kau tidak boleh memerankan peran ini! Appa tidak mau anak Appa dicium oleh sembarang orang!" kataku teringat alur cerita buatan Disney ini.
"Tapi Appa, aku tidak dicium sembarang orang. Kris yang menjadi pangerannya." Katanya polos.
Aku melotot mendengarnya. "Pokoknya tidak boleh! Apalagi yang menjadi lawan mainmu Kris Wu. Appa tidak mau dia mempermainkanmu lagi."
"Ayolah, Appa. Ini hanya drama. Kenapa tidak boleh?"
Aku tetap menggeleng tidak setuju. Kemudian dia mengeluarkan jurus andalannya. Mata berair siap menangis dan pouting. Astaga, bagaimana bisa dia meniru kebiasaan ibunya ini. Sejak dulu aku tidak pernah bisa tahan dengan ekspresi ini. Aku menghela napas berat dan mengiyakan kemauannya.
"Baiklah, tapi hanya sekali ini saja Appa membiarkanmu memerankan peran seperti ini. Sebagai gantinya, suruh orang lain untuk menggantikan Kris Wu."
Pout itu kembali muncul. "Baik, baik. Suruh dia mencium di pipi."
"Neeee. Gomawo, Appa!" Ekspresi wajahnya yang mendung berubah seketika. Dia berjinjit mencium pipiku kemudian berlari ke dalam kamarnya melanjutkan latihannya. Kuharap aku tidak menyesali keputusanku.
Oke, aku menyesali keputusanku. Rasa-rasanya aku sudah memberi pesan pada Junmyeon agar Kris mencium di pipi, tapi kenapa ketika drama ini mulai, Kris menciumnya di...bibir. Kurasakan kedutan di pelipisku dan tepukan di bahu oleh dokter Wu sambil terdengar kekehannya, oh, bukan hanya dokter Wu yang terkekeh, tapi juga Nyonya Wu dan Nainai. Aku duduk bersama keluarga Wu, sebagai informasi. Aku tersenyum hambar sebagai respon.
"Ayolah, Siwon. Aku tahu kau menginginkan anakmu untuk dirimu sendiri, tapi bukankah Junmyeonnie sudah besar? Sebentar lagi dia berumur 22 tahun dan apa yang bisa dilakukan para orang tua saat anaknya sudah mencapai umur tersebut dan ingin membangun keluarganya sendiri?" Nyonya Wu berkata.
"Well, paling tidak aku ingin anakku berada di tangan yang benar." Balasku.
"Hei, apakah cucuku tidak termasuk sebagai 'tangan yang benar'?" kali ini Nainai yang berkata. Aku tertawa hambar, tidak berani menjawab.
"Junmyeonnie benar-benar cantik. Kenapa dia tidak terlahir sebagai perempuan saja. Aduh, aku benar-benar tidak tahan untuk tidak mencubit pipinya." Nyonya Wu berujar dengan gemas. Benar, saat ini Junmyeon memang terlihat manis dan imut, walaupun biasanya juga dia sudah manis dan imut tapi sekarang lebih, dengan gaun pink yang sesuai dengan kulit putih susunya dan wig yang terlihat seperti rambut asli yang sesuai dengan bentuk wajahnya.
Kalau para wanita saja gemas dengan Junmyeon, maka para lelaki lebih dari gemas, well, kecuali aku dan dokter Wu. Aku menatap kesal para pemuda dan lelaki hidung belang yang menatap Junmyeon dengan pandangan ingin.
"Resiko memiliki pretty boy, Siwon. Kau harus bersabar." Dokter Wu kembali terkekeh.
Drama akhirnya selesai. Sebenarnya aku juga sudah capek memelototi Kris Wu yang terlalu clingy dengan Junmyeon dan pria-pria yang memiliki niatan menistai anakku. Sekarang giliran anak-anak dari panti asuhan yang menjadi paduan suara. Ah, ini lebih menyenangkan daripada melihat Junmyeon berdiri di atas panggung seperti umpan lezat serigala-serigala yang kelaparan di sekelilingku ini. Oke, berlebihan. Tapi yah, lebih baik menonton anak-anak kecil lucu ini.
-JHC-
Aku menunggu Junmyeon yang sedang berganti konstum dengan pakaian kasualnya. Aku tak menyangka setelah menuruti paksaan Baba untuk bermain di drama seperti ini ada untungnya juga. Misalnya mendapat ciuman dari Junmyeon. Ahahaha...walaupun beresiko mengundang kemarahan dokter Choi. Aku menyadari tatapan tajam dari dokter Choi tadi. Tapi apa boleh buat. Kalau dulu aku tidak meninggalkan Junmyeon, restu dari dokter Choi kukira tidak akan sulit didapat.
"Krease? Ayo kita ke tempat Appa. Appa bilang setelah ini kita akan memanggang barbeque." Kehadiran Junmyeon mengejutkanku dari lamunanku. Aku tersenyum kecil melihat matanya yang berbinar-binar senang. Tanpa menungguku dia berlari kecil menuju meja keluarga kami. Benar, setelah acara ini selesai, dokter Choi mengajak kami semua memanggang barbeque di halaman belakang rumahnya yang seluas istana itu. Aku heran kenapa dia memilih rumah sebesar itu kalau yang tinggal di dalamnya hanya dia dan Junmyeon.
"Oww.." aku segera berlari ke arah Junmyeon ketika dia terjatuh setelah bertubrukan dengan seseorang. Aku membantunya berdiri dan memeriksa apakah dia terluka.
"Kau tak apa-apa?" tanya orang yang bertabrakan dengan Junmyeon.
"Tidak apa-apa. Maaf, Saya tak melihat. Apa Anda baik-baik saja?" aku memutar bola mataku. Junmyeon yang jatuh kenapa dia yang bertanya apa orang ini baik-baik saja.
"Junmyeon-sunbae?" orang itu tiba-tiba bertanya.
"Huh? Anda mengenal Saya?"
"Wah, benar kau Kim Junmyeon-sunbae! Apa kabar? Aku Jongin, Kim Jongin yang dulu sempat satu panggung denganmu saat kuliah." Orang itu, yang mengaku bernama Jongin berseru dengan semangat, sementara Junmyeon tampak berpikir lama. Oke, harus kuakui Junmyeon memang pintar dalam bidang akademik, tapi untuk sekedar mengingat nama orang lain dia benar-benar pentium satu. Aku jadi kasihan dengan orang ini.
Kurasa hampir lima menit kemudian barulah Junmyeon ikut berseru, "Jonginnie? Kai hoobae berbibir tebal itu? Sedang apa kau di sini?" kemudian menjabat tangan Jongin dengan semangat. Kau terlalu jujur Junmyeonnie sayang. Ekspresi wajah Jongin sudah ingin menangis karena akhirnya Junmyeon mengingatnya, tapi dengan deskripsi hoobae berbibir tebal itu.
"Aku sekarang sedang mengisi liburan dengan menjadi koreografer di sebuah perusahaan entertainment. Sunbae sendiri sedang apa di sini?"
"Aku pindah kemari. Ah, aku jadi teringat masa-masa kuliah. Bagaimana kalau kau ikut ke rumah kami setelah ini? Kami akan mengadakan pesta barbeque. Ayo, datanglah. Sudah lama kita tidak bertemu."
"Benarkah Sunbae pindah kemari? Wah, pantas saja aku tidak pernah melihat Sunbae tampil di drama-drama musikal di Seoul lagi. bolehkah aku datang?"
"Tentu saja. Tambah satu orang takkan jadi masalah."
"Baiklah kalau begitu. Eh, apa benar tidak apa-apa?" tanyanya lagi ketika dia melirikku dan menyadari kalau aku menatapnya dengan tajam. Baik, aku cemburu melihat perhatian Junmyeon tertuju sepenuhnya padanya.
"Sudah, tidak apa-apa. Rumahku di..." Junmyeon menyebutkan alamatnya. "Datanglah tepat setelah acara di sini berakhir."
Mereka berdua berjalan beriringan meninggalkanku di belakang. Aku merasa diacuhkan. Bisa-bisanya Junmyeon mengacuhkanku seperti ini. Kami berjalan menuju meja keluarga kami. Kulihat Junmyeon memperkenalkan Jongin pada keluarga kami. Lihat saja, Myeonnie, setelah ini kubuat kau tidak bisa mengacuhkanku lagi.
"Sepertinya ada yang cemburu." Kulirik Mama yang tertawa lebar bersama Nainai dan memilih tidak mempedulikan ledekan-ledekan mereka.
Seperti yang direncanakan, kami pergi ke kediaman dokter Choi setelah acara ini berakhir. Syukurlah laki-laki bernama Jongin itu membawa kendaraannya sendiri. Sayangnya, Junmyeon berada di mobil lain bersama ayahnya. Dokter Choi menolak membiarkanku bersama Junmyeon di mobil yang sama walaupun masih ada keluargaku. Entah hanya perasaanku saja atau memang benar dokter Choi overprotektif pada Junmyeon.
Bagitu kami tiba di mansion dokter Choi, ternyata semua perlengkapan untuk pesta barbeque telah siap, jadi kami tinggal memanggangnya saja. Rencanaku tidak meninggalkan Junmyeon sendirian bersama Jongin gagal karena dokter Choi membuatku melakukan kerja paksa tanpa upah dengan memanggangi tumpukan barbeque ini. Aku hanya bisa melirik kesal pada Junmyeon yang asyik ngobrol dengan Jongin.
Kemudian muncul sebuah kejutan dengan datangnya Kyuhyun eomeoni, FYI, aku sudah biasa memanggilnya begitu. Bersama Zi Tao. Junmyeon menyambut eomeoni dengan senang dan semangat, dan sedetik kemudian terkejut melihat Zi Tao. Meskipun setahun telah berlalu, kami sepakat untuk tidak memberitahunya mengenai status Zi Tao dalam keluarganya. Biar bagaimanapun selama ini tak menjadi soal kami tak memberitahunya karena eomeoni biasanya menghubungi Junmyeon lewat telepon atau berkunjung sendirian. Jadi kedatangannya sekarang bersama Zi Tao cukup mengejutkan.
Dari tatapannya, aku tahu Junmyeon bertanya-tanya kenapa Zi Tao datang bersama eommanya. Kemudian kulihat dokter Choi yang membisikinya sesuatu. Mungkin akan memberitahu Junmyeon yang sebenarnya begitu pesta ini berakhir karena kulihat Junmyeon hanya mengangguk.
Kurasa kekhawatiranku mengenai Junmyeon dan Zi Tao berada di tempat yang sama tak beralasan karena kulihat Zi Tao yang sekarang asyik ngobrol dengan Junmyeon sementara Junmyeon sibuk menghabiskan barbeque-barbeque yang kubakar seolah tidak ada hari esok.
"Baby, you're such a messy eater." Kataku dan mengusap sudut bibirnya yang belepotan saus. Junmyeon menghentikan gerakannya menungguku selesai membersihkan wajahnya kemudian kembali melahap hidangan di piringnya. Aku tertawa kecil melihatnya.
-JHC-
Aku menatap Kris Wu yang berlutut di hadapanku. Baru saja dia mengatakan ingin menikahi Junmyeon. Keheningan menyelimuti kami. Di sofa sampingku, duduk Kyuhyun dengan Junmyeon yang memeluk lengannya erat. Di sofa lainnya, dokter dan Nyonya Wu berada. Mereka sama tegangnya menunggu apa yang akan kukatakan selanjutnya.
"Apa yang membuatmu berpikir aku akan membiarkanmu menikahi Junmyeonnie?"
"Saya tidak berpikir Anda akan membiarkanku, dokter Choi. Tapi Saya hanya ingin Anda tahu bahwa Saya amat mencintai putra Anda dan akan menjaganya sepanjang hidup Saya."
"Kurasa kau juga mengatakan hal itu padanya saat meninggalkannya dulu."
"Saya benar-benar menyesal karena meninggalkannya dulu. Saat itu Saya begitu buta dan tidak melihat kenyataan bahwa Junmyeon menderita. Anda boleh menghukum Saya karenanya, Tuan Choi."
"Kalau kau menyesal, kenapa sekarang kau berani meminta izin dariku untuk menikahinya?"
Kris Wu mengangkat wajahnya dan tersenyum ke arahku. "Karena dengan melamarnya langsung seperti ini menjadi bukti bahwa kali ini Saya serius ingin menikahi dan membahagiakannya, Tuan Choi. Di hadapan keluarganya Saya melamarnya langsung agar Anda tahu bahwa bila suatu saat sekali saja kata tidak bahagia terucap dari bibir Junmyeon saat dia bersama Saya, Anda bisa membawanya pergi dari Saya. Saya akan membiarkannya dan tidak akan pernah muncul lagi di hadapannya bila itu membuatnya bahagia."
Sebelum aku sempat menjawab, Junmyeon ikut berlutut di samping Kris Wu di hadapanku. "Kumohon, Appa. Biarkan aku menikah dengan Kris. Aku mencintainya. Bersama dengan orang yang kucintai adalah satu-satunya yang kuinginkan."
Kris Wu menggenggam tangan Junmyeon dan kembali memohon padaku. Aku menatap Kyuhyun yang juga menatapku. "Junnie menginginkannya, kita tidak boleh egois." Ucapnya. Kemudian aku beralih pada Tuan dan Nyonya Wu.
"Seperti yang kubilang sebelumnya, kami menyayangi Junmyeon seperti kau menyayanginya, jadi kami dengan senang hati menerimanya sebagai menantu kami."
Aku menghela napas dan mengangguk. "Baiklah, kalian boleh menikah. Tapi seperti yang kau bilang, bila kau tidak bisa membahagiakan anakku, aku akan mengambilnya kembali dan kau harus menghilang dari kehidupan kami, kau mengerti?"
"Saya mengerti, Tuan Choi."
Junmyeon berseru senang dan melingkarkan lengannya di leher Kris Wu sementara Kris Wu balas memeluknya erat. Aku memilih bangkit dan menghilang ke balkon yang menghadap taman belakang rumah. Tempat ini adalah tempatku biasa menjernihkan pikiran. Kurasakan seseorang menepuk bahuku dan mendapati Kyuhyun telah berdiri di belakangku.
"Aku mengerti perasaanmu. Kita baru saja bertemu dengan Junmyeon, tapi seseorang sudah ingin mengambilnya dari kita, tapi bukankah sudah kubilang, kita tidak boleh egois karena Junmyeon yang menginginkannya."
"Aku tahu, tapi aku masih tidak ingin dia pergi dari sisiku. Kau tahu, dia satu-satunya temanku selama ini, yah walaupun hanya setahun."
"Kalau begitu kenapa kau tidak memintanya tinggal bersamamu saja setelah menikah? Dengan begitu kau juga bisa mengawasi Kris, kan? Lagipula rumah ini terlalu besar untuk ditinggali berdua saja."
Aku terdiam sejenak memikirkan saran dari Kyuhyun. Benar juga. Kenapa hal itu tidak terpikirkan olehku?
"Nah, karena sepertinya kau sudah punya solusi untuk masalahmu, sebaiknya sekarang kita membicarakan persiapan pernikahan mereka. Karena Junmyeon anak kita satu-satunya, aku ingin pernikahannya tak terlupakan."
Dan para wanita sibuk membicarakan pernikahan sepanjang hari dan hari berikutnya.
-JHC-
"Gege." Kris yang baru saja tiba di rumahnya mendengar seseorang memanggilnya dan mendapati Zi Tao telah menunggunya.
"Zi Tao, aku..."
"Ada yang ingin kubicarakan, Gege. Kemarilah." Kris memilih mengikuti Zi Tao ke ruang keluarga. Ketika dia sudah duduk di salah satu sofa, Zi Tao menyodorinya sebuah map.
"Apa ini?" tanya Kris sambil meraih map itu dan membukanya.
"Bacalah." Kris membaca surat-surat dalam dokumen itu dan membelalakkan matanya.
"Ini..."
"Ya. Sebaiknya kita berpisah, Gege. Sudah cukup selama ini aku menjadi penghalang di antara Gege dan Junmyeon-ge. Setelah apa yang terjadi belakangan ini, aku merasa menjadi orang bodoh. Aku tetap memaksa Gege untuk berada di sisiku walaupun aku tahu Baba dan Mama, bahkan Nainai tdak menyukaiku dan membuat posisi Gege sulit di keluarga Gege sendiri. Dui bu qi. Selama ini kukira kita akan tetap bisa bersama dengan aku mencintai Gege, kupikir itu sudah cukup, tapi aku salah. Melihat Mama tidak bisa bersama dengan anak pertamanya yang selama ini sangat dia rindukan karena aku membuatku sadar, bahwa Gege pasti juga merasakan hal yang sama dengan Mama. Sekarang, aku tidak bisa memaksa Gege untuk tetap di sampingku. Aku tahu Gege pasti ingin bersama Junmyeon-ge."
"Zi Tao..." tanpa menunggu apa yang akan dikatakan Kris, Zi Tao meraih dokumen yang ada di tangan Kris dan stempel Kris yang berada di atas meja dan menyetempel sebagai ganti tanda tangan pada surat cerai itu.
"Kita bertemu di pengadilan besok, untuk mengesahkan surat ini. Untuk Gege ketahui, aku juga belum siap dengan semua ini, tapi sekarang aku tidak perlu merasa bersalah lagi. Berbahagialah dengan Junmyeon-ge."
Zi Tao menghilang ke dalam kamar yang biasa ditempatinya bersama Kris untuk terakhir kalinya untuk mengemasi barang-barangnya, kemudian menenggelamkan wajahnya pada bantal dan menangis. Dia sama sekali tidak siap dengan perpisahan ini, namun bila dia bertahan lebih lama lagi dia dan orang lain hanya akan semakin terluka. Zi Tao tertidur setelah kelelahan menangis dan terbangun karena Kyuhyun yang mengguncang bahunya pelan. Tampak kekhawatiran menghiasi wajahnya.
"Tao-ni, kenapa kau menangis? Ceritakan pada Eomma."
Zi Tao menatap ibunya dengan mata berkaca-kaca dan kembali menangis. Kyuhyun memeluk putranya yang lain itu dan menenangkannya. Setelah Zi Tao merasa agak tenang, dia menceritakan apa yang terjadi sebelum dia tertidur tadi.
Dengan air mata yang ikut mengalir dari sudut mata Kyuhyun, Kyuhyun mengusap pipi Zi Tao sambil tersenyum dan berkata, "Eomma tahu ini pasti berat untukmu, tapi kau sudah melakukan sesuatu yang benar."
"Tapi aku mencintainya, Eomma. Kenapa dia tidak bisa merasakan hal yang sama untukku."
"Cinta bukanlah sesuatu yang bisa kau paksakan, baby. Cinta memilih siapa yang ingin menjadi pasangannya, tapi dengan mengorbankan diri kita untuk kebahagiaan cinta kita akan sangat mulia karena mengorbankan perasaan kita adalah hal tersulit untuk dilakukan. Bila Kris tidak bisa membalas perasaanmu, Eomma dan Baba yang akan memberikan semua cinta kami untukmu."
"Rasanya sakit sekali, Eomma."
"Eomma tahu. Biarkan waktu dan kami yang akan menyembuhkanmu, ne?"
Zi Tao hanya mengangguk dalam diam. "Setelah sidangnya selesai, kita akan kembali ke Cina."
Zi Tao melepaskan pelukannya dan menatap Kyuhyun tidak mengerti. "Eomma baru saja bertemu dengan Junmyeon-ge, Eomma tidak perlu ikut mengorbankan kebahagiaan Eomma dengan menemaniku."
"Eomma memang bahagia bertemu lagi dengannya, tapi Eomma akan sangat bahagia bila dapat menemani Huang Zi Tao eomma."
"Xie xie, Eomma." Ucap Zi Tao dan kembali memeluk Kyuhyun. Kyuhyun sadar, dia tidak bisa mendapatkan semuanya sekaligus. Saat ini Zi Tao lebih membutuhkannya. Dia tahu Siwon dan keluarga Wu akan menjaga Junmyeon dengan baik, jadi tidak ada yang perlu dikhawatirkan.
Kyuhyun menetapi janjinya untuk menemani Zi Tao dan kembali ke Cina setelah sidang perceraiannya selesai. Kyuhyun menguatkan diri untuk berpamitan pada Junmyeon. Melihat ekspresi sedih yang terpancar dari mata anak itu ketika dia berpamitan, membuatnya ingin mengurungkan niatnya kembali ke Cina, tapi dia harus tetap melakukannya.
Semua itu terbayar ketika Zi Tao kembali menjadi seperti dulu setelah satu tahun berlalu. Zi Tao yang mencintai wushu dan panda dan bukan Zi Tao yang selalu mengurung diri di kamar dan pendiam setelah bercerai dengan Kris. Mengetahui semua itu, membuat Kyuhyun ingin menemui Junmyeon.
Zi Tao tahu ibunya sangat ingin bertemu dengan Junmyeon, jadi dia menyuruh Kyuhyun untuk terbang ke Kanada. Kemudian Kyuhyun memaksa Zi Tao untuk ikut dengannya walaupun Zi Tao sempat menolak ikut. Mulanya Kyuhyun takut akan terjadi sesuatu ketika mereka sampai di mansion Siwon, keluarga Wu juga ada di sana. Tapi melihat seorang teman Junmyeon yang bernama Kim Jongin menemani Zi tao mengobrol dan Zi Tao yang sama sekali tidak terpengaruh dengan interaksi Junmyeon dan Kris yang dapat dikatakan mesra, membuatnya tenang.
Perlukah dikatakan bahwa perasaan bahagia meledak-ledak di dada Kyuhyun ketika melihat Junmyeon yang sibuk melahap barbeque sementara Kris kerepotan memanggang barbeque lain karena Junmyeon makan seperti kesetanan dan membersihkan wajah Junmyeon yang belepotan saus dengan tangannya atau dengan ciuman. Lalu beberapa hari kemudian Kris melamar Junmyeon. Dan sebentar lagi Junmyeon akan menikah. Kyuhyun merasa dapat mati karena bahagia.
.
Dua tahun kemudian...
Kris sibuk menenangkan istrinya yang kesakitan karena kontraksi di perutnya. "Wu Yi Fan, aku tidak mau melakukannya lagi denganmu! Aku tidak tahan bila sesakit ini. Aarrghh!"
"Baby, jangan berkata seperti itu. Bagaimana nasibku selanjutnya, Baby."
"Kau jahat! Yang kaupikirkan hanya seks!" Junmyeon mulai menangis membuat Kris makin panik.
"Ah, mian, mianhae, Baby."
"Sakit, Kris. Bisakah kau melakukannya untukku?"
"Aku ingin, Baby. Sayangnya aku tidak bisa memindahkan baby kita padaku. Aku tahu kau kuat. Ayo, sedikit lagi, Junnie."
Dengan air mata dan keringat yang bercucuran, akhirnya Junmyeon berhasil melahirkan bayinya. Sementara perawat membawa bayinya untuk membersihkan tubuhnya, Kris menemani Junmyeon yang tampak sangat kelelahan.
"Baby, sekarang kita menjadi orang tua." Kata Kris dengan bahagia kemudian menatap istrinya dengan terpukau. Benar kata orang, seseorang akan tampak paling cantik setelah melahirkan.
"Kris?" panggilan Junmyeon menyadarkan Kris dari kekagumannya.
"Ne?"
"Aku mau makan kemudian tidur." Jawab Junmyeon dengan mata yang masih terpejam. Kris tertawa kecil kemudian mengecup kening istrinya dengan sayang.
"Tentu, Junnie-baby."
Setelah Junmyeon mendapatkan apa yang diinginkannya dan terlelap, Kris menggendong bayinya keluar kamar menemui keluarganya yang telah menunggunya.
"Eommadeul dan Appadeul, perkenalkan pada Sehun. Bayi kami." Para Eomma berkaca-kaca. Saat semua orang ingin menggendong Sehun, Luhan meraihnya terlebih dahulu dan meninggalkan gerutuan dari para orang tua.
"Hai, Sehunna. Ini Luhan, Ahjussimu yang paling manis. Krease, dia secantik ibunya. Apa yang kau wariskan padanya, Kreasee?" goda Luhan sambil memainkan jemari mungil bayi Sehun.
"Sebaiknya dia tidak menuruni kebiasaan memakai berbagai jenis krim wajah sebelum tidur seperti ayahnya." Kata Zi Tao menambahkan ledekan Luhan. Dia datang bersama dengan tunangannya, Jongin. Kris melirik mereka dengan kesal.
"Bagaimana Myeonnie?" tanya Kyuhyun.
"Dia baik-baik saja, Eomeoni. Setelah menghabiskan kimchi, yah sebenarnya dia menghabiskan semua makanan yang Eomeoni dan Mama bawa, dia tertidur."
"Setelah Myeonnie keluar dari rumah sakit ayo kita berfoto bersama." Kata Nyonya Wu tanpa ada yang membantah. Selama ini mereka memang belum memiliki foto keluarga besar mereka.
-THE END-
Akhirnya end. Pfiuuuh...ternyata bikin endingnya lebih susah daripada bikin chap 2nya. Mian bila chapter terakhir ini nggak memuaskan. Dan karena banyaknya request soal pasangan siwon dan author bingung pilih yang mana, jadi siwon dipasangin sama author #dilemparbata ahahaha...becanda readers. Karena author bingung jadi siwon tetep jadi sexy, free and single daddy X3 dan sesuai permintaan tao dipasangin sama kai sebagai ganti kris karena banyaknya yang minta tao sama kai. And krisho have a baby! Mari kita bales review
shin young rin:
xiumin: tuh, kan. Gara2 kamu ngomong gitu sih young rin-ssi jadi salah paham, kan
luhan: oh, jadi gege nggak suka aku ngomong gitu? yaudah, kita putus!
Xiumin: eh?
Kai: #diem aja ngeliat mereka berdua sambil peluk balik youngrin-ssi
Tao: boleh deh dinikahin sama kai #wink eh, boleh nggak ya? #nglirik D.O yang lagi ngasah pisau
D.O: #ngasah pisau sambil ngedeathglare tao author bilang bakal ngunjungi wp young rin-ssi secepatnya. Gomawo udah udah review
Wonkyudaughter:
Kai: wah, berarti sama dong kaya kris baba. Ngejer-ngejer sendiri waktu ngeliat umma ngeekting
Sehun: ini udah happy ending. Can you believe this crazy author put me as a baby?
Chanyeol: kalo aku bukan kasian sama kamu, sehun-ah, tapi sama suho umma yg ngelahirin bayi segede kamu, mana badannya kecil lagi. Gomawo udah review #creepysmile
Park Seung Ri:
D.O: ini tao udah dikawinin sama kai sama si author abal ini. Hiks. Hiks. Terus suamiku siapa? T.T
Lay: sabar ya, D.O yah. Kan ada aku #ketawamesum
Tao: aku nggak seputus asa itu buat bunuh diri kok, tapi rasanya sakiiiit banget
Chen: tumben nih unicorn atu muncul dengan niatan buruk dan ini kungfu panda tumben-tumbennya lebe. Gomawo udah review, seung ri-ssi
Ilia funtimes:
Baekhyun: iya mengharukan. Anak-anak EXO bareng suju sunbae, tvxq sunbae, SNSD nuna (saranghae, nunadeul XD), shinee sunbae, sama f(x) sunbae nangis bareng loh waktu mereka lagi ngeekting sampe kita dimarahin soo man ahjussi gara2 ngebanjirin gedung SME
Lay: iya, taonya mau minggat ke cina, ilia-ssi. Udah nggak tahan sih sama naga-naganya kris baba yang napasnya bau jigong. Auw!
Kristao: #ngelemparinlaypakekentongan
Xylionite:
Sehun: sabar ya Xylionite-ssi. Aku juga sedih soalnya dibikin jadi bayi
Suho: umma sama appa udah cerai. Hiks hiks. Appa tetep sexy, free and single karena mau fokus ngurusin aku. Hihihi
Kris: siapapun ummanya, saya berterima kasih karena telah melahirkan babyku yang manis ini #backhuggedsuho
Suho: #blushing
Xiumin: ciieee...yang baru punya anak. Gomawo udah review, Xylionite-ssi
AIrzanti:
D.O: kai udah muncul buat tao, AIrzanti-ssi. Huwee...aku sama siapa #nangislagi
Lay: #pelukD.O ada aku, don't worry. What if we go married now?
D.O: O_O
Suho: no! No! No! My baby kyungkyung masih kecil, Yixing! Udah didonorin kok ginjalnya, AIrzanti-ssi. #ikutandoabuatgongchanahjussi
Tao: sebenarnya sih nih author udah jadi KrisHo shipper bahkan sebelum foto pelukan mereka muncul. Soalnya waktu teaser2 EXO muncul nih author udah mikir pasti seru karo leaderxleader pairingan, jadi umma appanya EXO gitu deh. Author bingung mau pair siwon sunbae sama siapa, jadi author ngepair siwon sunbae sama author ndiri gara2 sehun ngambek jadi baby di sini. Gomawo udah review.
Nadia-Veela:
Suho: iya, ummaku kyuhyunnie hyung, nadia-ssi. Makanya kulitku pucat gini. Hehe
Kris: ada wknya, tapi Cuma sebagai masa lalu, Lady. Btw, nih author juga WKS, meskipun nggak sefanatik dulu
Kai: sekarang nih author jadi KrisHo shipper fanatik barengan aku XD #highfivesamaauthor gomawo udah review, nadia-ssi
Kyuminjoong:
Chanyeol: author bilang makasih banget atas apresiasinya. Author sampe nangis bahagia di pojokan tuh
Sehun: oke, meskipun aku masih kesel sama nih author karena bikin aku jadi bayi, aku juga terharu baca epep ini. Tumben nih author geje ngebikin epep model begini. Nggak sia2 waktu itu nih author ngurung diri di kamar mandi dorm EXO sama aku buat nyari ingspirasi. Hehehehe
Suho: #ngebekepmulutsehun nah, karena kyumin-ssi belum kenal sama EXO jadi kita bakan ngenalin diri. We are...
EXO: One! Annyeong haseyo, EXO imnida
Tao: I am EXO-M maknae, tao imnida
Baekhyun: I am EXO-K baekhyun imnida
Xiumin: I am EXO-M xiumin imnida
Chen: I am EXO-M chen imnida
Suho: I am our member's guardian, Suho imnida
Kai: I am EXO dancing machine, Kai imnida
Luhan: I am EXO-M luhan imnida
Lay: I am EXO-M...Lay imnida #lupastagenamendiri
D.O: I am EXO-K D.O imnida
Sehun: I am EXO-K maknae thehun imnida
Chanyeol: I am EXO-K rapper, Chanyeol imnida
Kris: I am EXO-M leader, kris imnida. Gomawo udah review, kyumin-ssi
zumkyu28:
tao: seneng deh kalo ada yang sedih bareng aku #pelukzumkyussi
xiumin: author bilang salam kenal juga sambil bow terus kejeduk meja
JHC: nggak usah didekripsiin selengkap itu, kali ge
Xiumin: biarin. Aku masih kesel habis diputusin luhannie #ngambek
Chen: hyung apaan sih. Sayangnya pendonornya bukan tao, zumkyu-ssi. Ntar siapa yang jadi kungfu pandanya EXO kalo Tao mati. Gomawo udah review, zumkyu-ssi
BLUEFIRE0805:
Kai: author bilang makasih atas apresiasinya. Ternyata author ini nggak sia-sia waktu itu sembunyi di kamar mandi dorm bareng sehun—katanya sih nyari inspirasi, tapi aku nggak percaya
Luhan: kai yadongnya kumat =''= author bilang author harap chapter ini memuaskan meskipun nggak sebagus chapter sebelumnya. Author nggak pernah bisa bikin ending bahagia yang mengesankan sih #
Chen: gomawo udah review~ review lagi ya =)
Isnaeni love sungmin:
D.O: kasian banget isnaeni-ssi disuruh nguras bak #
EXO, kecuali suho: kita juga nangis bareng SMTown. Kita nangis bareng ya #
Suho: hehehe...segitu hebatnya ya ternyata aku kalo ekting, jadi bikin semua orang nangis
Baekhyun: suho umma mulai besar kepala. Gomawo udah review, Isnaeni-ssi
Aztrii:
Baekhyun: kalo wk bersatu kasian dong appanya tao ngeduda. Hehehe
Tao: author jahat udah bikin aku jadi orang licik! Untung deh masih ada yang kasian sama aku. Huhuhu
EXO kecuali kris: di mana ada kami, di situ ada keonaran #ketawasetan
Kris: anak sama istri gue udah mulai mabok. Gomawo udah review, nuna
Call me Rii:
Lay: udah jadi keahlian author geje ini untuk ngebikin orang sedih, lady
JHC: tuh kan gege mulai sewot sama aku lagi. jangan2 gege itu sebenernya naksir aku ya?
Lay: cuih. Maafkan aku, sayang. Karena cintaku hanya untuk D.O yang lagi menjanda seorang #ngegrepe2D.O
D.O: ihh! Gege, lepas! #blushing
Suho: yixing! Stop merape anakku! Anakku masih kecil! Aku kan memang hebat dalam bertahan hidup, rii-ssi. Katanya sih aku dilahirin dengan sembilan nyawa gitu.
Xiumin: jinchayo? Pantes waktu kemaren aku bekuin di kutub umma nggak tinggal nama. Author bilang makasih banget atas apresiasinya
Kris: oh, jadi yang ngebikin gue ngeduda kemaren itu elo. Jadi bini gue lo bekuin gitu? nih, makan api naga gue #nyemburxiuminpakeapi pantes luhan ngeputusin elo
Xiumin: uwaaaa~ ampun, baba! Gomawo udah review, rii-ssi. Review lagi ya~
meyminimin:
luhan: tao mau cerai sama kris baba, lady. Terus balik ke cina
chanyeol: umma udah menikah sama baba terus punya baby. Ah, they live happily ever after. Sebegai pelengkap, baba cium umma!
Kris: dengan senang hati #nariksuhoterusciumsuhomesra
SMTown: #tebar bunga buat pasangan yang baru menikah ini
Chen: gomawo udah review, nona =3
RizkyKey:
Baekhyun: tapi tao juga udah melakukan kebaikan kok dengan berpisah dari baba #pukpuktao
Chen: author bilang mianhae chap ini updatenya nggak sekilat chap sebelumnya. Hambatan inspirasi
Luhan: gomawo udah review, key-ssi =3
novia permatasari 5:
xiumin: ambil aja dia. Toh gue udah diputusin #pundunglagi
luhan: gege apaan sih, aku Cuma becanda kok tadi #mukainnocent
xiumin: oh, jadi habis ngedudain aku selama ini kamu bilang Cuma becanda. Tunggu aja ntar, I'll bang you so hard till you scream my name ALL. NIGHT. LONG
luhan: #gulp
D.O: my baby, baby, baby, baby... yeah
Baekhyun: haruga machi ibuncheoreom meukyeojige mandeulji neomanisseumyeon yeonghwasogui juingong
Suho: yah, nggak usah nerusin nyanyi di sini. Kasian si author ngetik nyanyian kalian # semua orang terharu waktu aku ketemu sama umma dan appa. Gomawo #nangisbahagia kyu umma jadi appa? O_O
Luhan: jangan kasi baozi! Baozi itu konsumsi pribadi aku XD
Kai: di [bunnypiggydinorawr]dot[blogspot].com novia-ssi. Judulnya what happened with our leaders? Seru deh baba yang ngehamilin umma malah nggak sadar. Gomawo udah review. Review lagi ya~
:
Kai: aku juga. Selama ini aku nyari-nyariin suho umma jadi uke, eh malah dia jadi seme. Badannya doang sixpack tapi muka secantik Yoona nuna
Sehun: makasih atas pujiannya, angel-ssi. Wah, namanya kayak ummaku ya, angel. Hehe
Chanyeol: makasih udah review. Review lagi ya!
Hyesunnie:
Lay: kalo kita sih udah nangis rame2 bareng SMTown. Soo man-ssi juga ikutan lho, tapi ujung2nya ngamuk gara2 kita ngotorin SME
Tao: nasib aku cerai sama kris gege terus mau nikah sama kai, hyesunnie-ssi. Hehehe
Suho: gomawo udah review, hyesunnie-ssi. Review lagi ya :-)
Terima kasih banyak buat yang udah review sampe chapter terakhir ini, segala kritik dan pujian author terima dengan senang hati. Sekedar mengingatkan bahwa dengan mengisi kotak review di bawah ini akan dihitung sebagai donasi peduli keeksisan cinta KriSu, KrisHo, SuKris, leader couple. Let's spread KrisHo love! EXO, say thanks and goodbye!
EXO: THANK YOU AND GOOD BYE!
~Mind to RnR?~
