Disclaimer : I do own nothing
THE HATRED OF BETRAYAL
(An IchiRuki's Fanfiction)
Author: Brainless Creation
.
.
Chapter 1 : The Day I Met Her
.
Pagi masih terlalu buta, dan matahari belum sepenuhnya menunjukkan dirinya. Angin pagi masih sangat menggigit kulit, tapi binatang pagi sudah meneriakkan suara mereka untuk membangunkan para makhluk bumi lainnya. Tidak banyak yang bisa aku lakukan saat bangun sepagi ini, entah mengapa aku merasa sangat pusing, berat sekali kepalaku untuk aku angkat dari bantal.
Aku menggaruk kepalaku, rambut yang sudah berantakan jadi jauh lebih berantakan lagi sekarang, dan aku bisa tahu tanpa harus melihat ke cermin. Sudah terlalu banyak orang yang bilang aku berantakan dan seram, karena itu aku juga tidak ingin berusaha merapikan diriku yang sudah tercetak seperti ini dari sananya.
Kakiku menjejak lantai apartemen yang luar biasa kotor dan tak terawat ini.
Aku menguap lebar dan merasakan mataku berair parah.
Kalau begini aku menyesal sudah mengikuti saran Renji untuk ikut pesta bujang Stark semalam. Kami minum sampai mabuk dan menyeret badan susah payah untuk bisa pulang, alhasil aku jadi kacau pagi ini, padahal masih harus berangkat kerja.
Pintu kamar mandi yang sudah berdecit hebat terpaksa aku dorong hingga terbuka, suaranya sampai membuat telingaku berdenging. Ku cuci muka dan melihat tampang kusutku di cermin.
"Kau mengerikan Ichigo," kataku pada diri sendiri.
Rambut orange -yang warnanya senada dengan warna cat kamar mandi- sekarang sudah berdiri tak karuan, mata setengah terbuka dan lingkaran hitam di bawah mata cukup membuatku terlihat seperti yakuza.
Lengkap sudah tampangku untuk membuat anak TK satu sekolah kabur ketakutan.
Pandanganku beralih pada siluet putih yang ku gunakan, bahuku terlihat jelas di cermin buram ini. Seketika ku buang pandanganku dan langsung menuju pintu keluar apartemen. Aku tidak akan melihat bekas luka itu lama-lama, hanya akan membuat suasana hatiku makin buruk.
Ku buka pintu keluar apartemen, dan melihat kanan kiri, sepertinya para tetanggaku belum bangun.
Tiba-tiba perhatianku terkunci pada sesuatu yang teronggok di dekat kantung sampah yang aku letakkan kemarin pagi. Aku terdiam melihat sesuatu itu bergerak dan merintih.
Ragu-ragu ku langkahkan kakiku untuk mendekatinya. Aku kembali melihat ke kanan dan kiri, tidak ada tanda-tanda yang mencurigakan, lalu aku menjulurkan kakiku dan menyodok sumber rintihan itu.
"Di-ngin…"
Apa?
Aku segera berjongkok saat melihat sesuatu itu terjatuh dari posisi duduk, dan pandanganku terpatri pada sesosok tubuh yang meringkuk seperti udang, dia memeluk lututnya erat, sekujur tubuhnya gemetar hebat dan rintihan itu tidak pernah berhenti lolos dari mulutnya.
"Hei!" aku kembali menyodok punggungnya, karena aku tidak bisa melihat jelas dia ini perempuan atau laki-laki.
"Ja-ngan…"
"Hei!" kali ini aku mengguncang bahunya, tapi tiba-tiba dia bergerak cepat dan meronta-ronta seperti orang kesetanan.
"Jangan sentuh aku! Pergi! Pergi! Jangan sentuh!"
Dia menendang dan memukul membabi buta, membuat tinjunya mendarat di perutku yang sudah luar biasa mual, sekarang aku benar-benar ingin muntah.
"Hei, diam!" aku panik dan mencoba menenangkan sosok yang sekarang aku tahu adalah perempuan. Suaranya terdengar sangat lemah, dan rambutnya berantakan saat menghadapku.
"Pergi! Pergi!"
Dia terus memukulku.
Bagaimana ini, bisa-bisa para penghuni lain berpikir yang tidak-tidak tentangku.
"Sst.. diam, kau bisa membangunkan semua orang!" hardikku dalam bisikan.
"BRENGSEK! PERGI! LEPASKAN AKU!"
Gila! Perempuan ini malah makin tak terkendali.
Tiba-tiba pintu apartemen di sebelahku terbuka. Wajah ngantuk dan bingung Ulquiorra muncul dari balik pintu, mata malasnya menatapku tajam.
"Kau ribut sekali, Strawberry!" katanya kasar.
"LEPAS! PERGI!"
Perempuan ini terus saja meronta dan memberontak, padahal aku tidak melakukan apapun padanya, ini sungguh membuat kepalaku sakit mendengar teriakannya.
"Apa yang kau lakukan padanya? Tidak cukup kau menggoda Istri Ichimaru kemarin?" celetuk Ulquiorra tetap dengan nada yang sama.
"Ini tidak seperti yang kau pikirkan!" balasku tidak terima.
Kuputuskan juga akhirnya -karena aku tidak bisa melakukan cara lain- segera saja aku mengunci tangan perempuan di hadapanku, dan menggendongnya dengan mengekang kakinya agar tidak lagi menendang.
"Kau mau bawa kemana dia?" Tanya Ulquiorra.
"Bukan urusanmu!" jawabku seraya membawa masuk perempuan yang terus memberontak dalam gendonganku, langsung saja aku membantingnya di tempat tidurku dan mengunci apartemen rapat.
"Bajingan!"
"Akh!"
Perempuan itu menghantam kepalaku, dan seketika aku terpuruk di lantai, pusing sekali rasanya.
"Kau-!"
Aku mendongak dan untuk pertama kalinya aku benar-benar melihat wajahnya.
Perempuan itu berdiri di hadapanku dengan sangat tegas, matanya yang berwarna biru kelam menatapku tajam, namun jejak air mata di pelupuk mata dan pipinya membuatku yakin dia tidaklah sekuat kelihatannya. Rambutnya yang berwarna hitam legam terurai hingga bahunya, warna yang senada dengan kesan gelap yang menguar darinya. Tubuhnya kecil dan ringkih, bahkan dadanya hampir rata.
Apa dia benar-benar perempuan?
Tapi dari gerakan dada yang naik turun dan gundukan di dadanya itu aku yakin dia perempuan.
"Berani sekali kau menyentuhku, Brengsek!"
Dia kembali menerjangku, namun kali ini dia menyambar asbak yang ada di atas meja samping tempat tidurku, kontan aku menghindari lemparannya. Asbak pemberian Orihime hancur berkeping-keping.
"Perempuan Sial! Itu satu-satunya hadiah yang aku terima dari perempuan yang aku suka!" umpatku seraya bangun dari lantai, tapi tidak cukup cepat hingga wanita bertubuh kecil itu menumbangkanku lagi, duduk di atas perutku dan mulai mencakar wajahku. Tubuhnya bergesekan dengan panggulku, mau tidak mau organ yang berada diantara kedua kakiku tersenggol, seketika saja aku merasa seperti tersengat. Tubuhnya hangat, mengirim gelombang gairah yang sudah lama tidak menyapaku.
Masa' perempuan lusuh begini saja bisa membangunkan hasratku?
"Argh! Minggir, kau Perempuan Liar!" aku menghempaskan tubuh kecilnya di lantai dan posisi kami berbalik sekarang, ku kunci tubuhnya di bawahku, ku cengkram kedua tangannya dengan tanganku, dan menahan tubuh bawahnya dengan beban tubuhku.
"Lepas! Lepas! Brengsek! Bajingan! Monster!" dia terus meronta, membuat tubuhku dan tubuhnya bergesekan lebih parah.
Gawat! Ini bisa membuatku lebih tegang. Aku sudah merasakan panas yang menjalar di perutku.
"Diam! Dengarkan aku atau ku habisi kau sekarang juga?"
Aku merunduk hingga wajahku dan perempuan liar ini hanya berjarak beberapa senti, untungnya hal itu manjur untuk membuatnya berhenti bergerak. Aku langsung menghela napas lega, akhirnya tidak jadi ada yang berdiri.
Napas perempuan itu berhembus cepat di wajahku, sekalipun berantakan dan tampak tak terurus seperti ini, dia memiliki wangi yang khas, enak sekali saat ku resapi harumnya di cuping hidungku.
Dia menyeringai seperti menertawakanku.
"Semua pria sama saja! Ancam aku! Bunuh aku! Apa kau juga ingin menikmati tubuhku?" desisnya lirih namun penuh nada jijik.
Aku tercekat, seolah dia baru saja mendengar apa yang melintas di benakku. Baru saja aku berpikir untuk menyapukan bibirku di bibirnya yang tipis namun tampak penuh itu.
Aku melihat matanya yang menyiratkan kebencian.
"Kau bahkan tidak bisa membuatku tertarik! Sudah kurus, dada rata, bahkan gembel seperti ini!" jawabku dengan nada mencemooh yang sama. Sebisa mungkin aku menunjukkan ketidaktertarikanku padanya."Lalu kenapa kau berteriak seperti orang gila sementara aku tidak melakukan apa-apa padamu?" lanjutku yang mulai merenggangkan cengkramanku di tangannya agar tidak menyakitinya, namun cukup aman untuk mencegahnya berontak lagi. Sepertinya dia sudah cukup tenang.
"Bukan tidak, tapi belum," ralatnya dalam suara dingin yang sama.
"Kau! Sudah ku bilang aku tidak tertarik padamu, untuk apa menyentuh perempuan seperti mu? Lebih baik aku menyentuh kucing Ishida dari pada menyentuhmu!"
"Jadi kau juga melakukannya pada binatang?"
"Bukan begitu!" hardikku marah. Aku sudah mengatakan kalimat yang salah, padahal menyentuh kucing Ishida juga tidak pernah.
"Kau pikir tidak ada perempuan yang mau tidur denganku?" balasku tidak terima.
"Cih! Kau jawab saja sendiri pertanyaanmu itu! Sekarang lepaskan aku, Bajingan!" teriaknya tepat di wajahku, tapi aku tidak bergerak dan terus menatap matanya garang.
"Lepas!"
Aku tidak menyangka saat dia seketika menghentakkan kepala dan mengadu kepala kami hingga suara benturannya menggema.
"Perempuan Sial!" umpatku yang langsung hilang kendali padanya, karena merasakan kepalaku yang sakit bukan main.
Dia bergerak merangkak susah payah, hendak mencapai pintu tapi aku menangkap kakinya dan menyeretnya hingga mendekat kembali padaku.
"Beraninya kau meremehkanku, kau harus diberi pelajaran!"
Aku menarik tangannya dan membalikkan badannya hingga menghadapku, segera saja aku mengangkat tanganku, hendak menampar pipinya.
"Jangan! Jangan pukul, jangan…"
Perempuan itu menutupi kepalanya dengan tangannya yang bebas, suara rintihannya kembali terdengar, membuat hatiku sendiri sakit saat mendengarnya hingga tanganku terhenti dengan sendirinya.
"Jangan pukul, aku mohon, jangan… jangan… sakit…" lirihnya dengan tubuh gemetaran, sekujur tubuhnya gemetar seperti terkena gempa bumi lokal, kontan aku mengurungkan niatku dan melepaskan cengkraman tanganku.
"Aku akan menurut, ku mohon, jangan pukul. Aku tidak salah, aku tidak salah, aku tidak akan mengatakannya pada siapapun, aku bersumpah tidak akan mengatakannya, makanya jangan pukul, jangan kurung aku, jangan…"
Aku memerhatikan perempuan yang terus meracau itu sekalipun aku sudah tidak lagi mengancamnya. Aku memilih duduk di dekatnya, dan melihatnya yang perlahan menarik lututnya hingga dada, memeluknya erat dan terus menangis, mengucapkan mantra yang sama dengan suara lirihnya.
Dia sangat ketakutan, bahkan aku belum sempat mendaratkan tanganku di badannya, dia sudah begitu ketakutan, dan menangis seperti ini.
Kaosnya yang berwarna putih polos sudah bertaburan noda coklat tanah, dan hitam kotoran, bahkan celananya yang berwarna hijau sudah berubah warna karena terlalu lusuh dan penuh debu. Rambutnya tak terurus, tubuhnya kurus dan aku hampir mengiranya anak SMP jika tidak melihat wajahnya yang sudah beranjak dewasa.
"Jangan menangis lagi, aku tidak akan memukulmu," kataku seraya menjatuhkan selimutku di atas bahunya, untuk menutupinya yang tampak kedinginan.
Aku beranjak menuju dapur, dan mengambil segelas air, meletakkannya di dekat perempuan yang masih menggumamkan kalimat yang sama itu.
"Minumlah," kataku tak bersahabat.
Dia mendongakkan wajahnya, menatapku dengan mata basah. Dia terlihat seperti anak anjing yang dibuang.
"Kenapa? Kau takut aku racuni?" selorohku dalam nada suara yang sama.
Dia tidak meraih minuman yang aku sodorkan, malah menarik selimut hingga lebih rapat ke dadanya, tapi untungnya tangisnya sudah berhenti.
"Duduk di tempat tidur atau sofa, lantainya dingin!"
Dia tidak menggubris kata-kataku dan tetap pada posisinya, seperti patung yang bernapas.
"Hah.. ada apa denganmu? Kau yang tertidur di depan apartemenku, kau juga yang teriak-teriak histeris seperti orang gila, dan sekarang kau malah diam seperti ini. Sebenarnya kau waras atau tidak?" cecarku yang sudah mulai merasakan frustasi berat.
"Ichigo!"
"Mati!" umpatku saat mendengar suara ketukan di pintu apartemenku, dan barusan itu suara Pak Kyoraku, pemilik apartemen. Dia pasti mendengar ribut-ribut yang sudah membuat orang satu bangunan ini terjaga.
"Ichigo!"
Aku bangkit dari tempatku dan menjatuhkan pandangan pada perempuan yang masih terdiam itu. Aku berjongok di depannya, dan mencoba meraih perhatiannya, tapi matanya tetap menatap lantai kosong di hadapannya.
"Kau diam di sini, jangan berteriak, atau melakukan hal macam-macam. Aku tidak ingin diusir dari apartemen ini, gajiku tidak cukup untuk membayar apartemen lain. Kau dengar aku, Perempuan?"
Dia tetap bungkam.
"Jawab aku!" hardikku tidak sabar. Dia mengangkat matanya sesaat untuk melihatku, pandangannya kosong, dan aku tidak bisa membaca apa yang sedang terbersit dalam benaknya.
"Diam di sana, atau ku laporkan kau pada polisi!" ancamku sementara matanya masih melihatku, tapi yang aku dapati masih kesunyian yang sama dan matanya jatuh kembali ke lantai.
"Argh! Terserah!" kataku frustasi.
Aku segera menuju pintu apartemenku yang reyot dan terus berisik karena digedor tanpa ampun. Aku memutar anak kunci dan menarik slot pintu, membukanya sedikit dan menjulurkan kepalaku, mencegah Pak Kyoraku melihat lebih jauh ke dalam apartemenku.
"Semua orang melaporkan kau ribut, apa yang kau lakukan pagi buta begini, Ichigo?"
"Tidak ada apa-apa, hanya… hanya… kerabatku datang," jawabku yang sudah kehabisan ide.
"Kerabat? Sejak kapan kau memiliki kerabat?" tanyanya dengan alis terangkat tinggi.
"Ahm.. itu…" aku mulai mengorek otak untuk mencari pernyataan yang meyakinkan.
"Salah satu penghuni bilang kau membawa masuk perempuan, dan kalian berteriak mengenai saling menyentuh dan tidur."
"Bukan begitu, ini salah paham," kataku dengan tangan mengibas cepat untuk menyangkal.
Ini pasti laporan Ulquiorra, Si Stoic itu suka sekali membuatku tidak hidup tenang!
"Kau tahu peraturannya, Ichigo. Kau bisa bebas membawa perempuan manapun ke apartemenmu, tapi jangan mengganggu penghuni lain."
"Tapi dia bukan-"
"Jangan menyangkal lagi, Strawberry!"
Aku menoleh ke sisi kanan Pak Kyoraku dan melihat Ulquiorra yang keluar dari apartemennya, sudah rapi dengan jasnya, siap untuk berangkat kerja.
"Sial kau, Stoic. Bicara apa kau pada Pak Kyoraku?" Aku lepas kendali dan langsung mencengkram kerah kemeja pria bermata hijau membosankan itu, aku sudah gatal hendak meninju pipi cekung Ulquiorra tapi Pak Kyoraku menahanku.
"Kendalikan dirimu!" bisik Pak Kyoraku.
Ulquiorra pun lepas dari cengkramanku dengan mudah, lalu ia mendekati pintu apartemenku, yang tidak aku sadari sudah menjeblak terbuka, menunjukkan sosok perempuan yang duduk tertutup selimut di lantai apartemenku.
"Oh, jadi perempuan yang tadi. Rupanya kau sudah melupakan Orihime, Strawberry?" celetuk Ulquiorra.
"Tutup mulutmu, Ulqui!" sengaja aku merapatkan rahangku untuk menahan amarah dan cacian yang siap untuk ku bombardir padanya. Ulquiorra memang sahabatku selama dua tahun ini, namun mulut tajamnya sering membuat kami baku hantam, dan dia pun seperti selalu menyediakan banyak maaf untukku yang sering membuatnya babak belur.
"Sudah ya, aku berangkat dulu, jangan lupa janji dengan Renji hari ini!" katanya dengan santai.
"Dasar kau!" umpatku saat melihatnya berjalan pergi.
"Nah, sudah jelas sekarang. Dia perempuanmu dan ingat, jangan membuat ribut lagi!" ucap Pak Kyoraku dengan senyum meledek.
"Sepertinya dia cukup cantik jika sedikit dipoles, tapi kalau kau suka yang alami seperti itu tidak apa sih," bisik Pak Kyoraku dengan seringai mengejek.
Aku tahu, pria berumur 35 tahun ini juga suka bertualang dengan banyak wanita, makanya dia bisa membuat aturan seperti itu untuk seluruh penghuni apartemennya. Dia bisa dengan mudah mengasumsikan perempuan liar ini sebagai perempuanku. Argh… mimpi apa aku semalam? Mimpi basah bukan, mimpi kejatuhan durian juga tidak. Bisa-bisanya hari ini aku sial begini.
"Terserah kau saja Pak Pemilik!" jawabku seraya kembali masuk dan menutup pintu apartemen dan berbalik menghadapi perempuan yang masih membisu itu.
"Kau dengar, kan? Mereka jadi berpikir macam-macam tentangku, semua gara-gara kau!" kataku seraya melangkah menuju lemari, mengambil baju ganti dan menyambar handuk yang ku gantung dekat lemari.
"Mau sampai kapan kau duduk di sana?" kataku sebelum masuk ke kamar mandi.
"…"
"Kalau kau mau pergi, pergi saja! Aku tidak peduli, lagi pula tidak ada barang berharga yang bisa kau ambil dari apartemen bobrok seperti ini!" gerutuku, tetap meneliti perempuan yang penuh misteri ini.
Dia seperti tidak waras, emosinya tidak stabil. Sebentar dia tampak sangat brutal dan tak terkendali, namun detik kemudian dia bisa diam seperti patung. Tapi tidak ada tanda-tanda dia pasien rumah sakit jiwa, karena dia tidak menggunakan seragam pasien.
Aku masuk ke kamar mandi, membuka kran air, menampung air dalam bak, dan mulai melucuti pakaianku.
Perempuan itu memiliki warna mata yang sangat kelam, sepertinya sama kelamnya dengan warna hatinya, karena aku yakin dia memiliki sesuatu yang ia ingin sembunyikan dalam dirinya. Entah mengapa aku merasa seperti melihat cerminan lain dari diriku. Perempuan itu… tidak bisa aku tebak apa yang ada dalam benaknya, bahkan sorot matanya begitu rumit untuk aku terka.
Rutinitas mandiku seperti yang selalu terjadi dalam satu minggu sekali, harus berlangsung dalam lima belas menit, karena aku lama mencukur kumis dan jenggot yang selalu tumbuh dengan cepat, dan parahnya pisau cukurku sudah berumur ratusan tahun, hingga memotong helaian kumis saja sampai harus berulang kali digerakkan, tidak heran aku sering mendapat goresan luka.
Ku keringkan rambut saat melihat janggutku cukup bersih, dan keluar kamar mandi dengan kaos dan celana pendek bersih. Aku langsung mencari perempuan yang seharusnya masih duduk di lantai, tapi yang aku temukan hanya selimut yang teronggok berantakan, dan pintu apartemen yang sedikit terbuka.
"Baguslah dia pergi, aku jadi tidak perlu repot-repot."
Aku menyalakan tv dan mengambil mie cup instan, menuangkan air panas dan menonton tv sambil menikmati sarapan yang alakadarnya ini.
Berita pagi ini agak berat sepertinya, ada beberapa kasus pemerkosaan yang bersamaan dengan perampokan, lalu kebakaran di ruko pusat kota, serta berita politik yang kurang membuatku tertarik dengan konspirasi para pejabat tinggi Negara.
Aku merapikan cup yang kosong dan meneguk air banyak banyak.
"Berita terakhir sebagai penutup, dari keluarga bangsawan Kuchiki."
Bangsawan? Ha! Yang benar saja, siang bolong begini masih ada keluarga bangsawan di Negara ini? Ku kira mereka sudah musnah seperti dinosaurus.
"Adik Kuchiki Byakuya, Kuchiki Rukia, yang beberapa bulan ini dikabarkan hilang, ternyata berada di rumah rehabilitasi psikologi dokter Ukitake, dan malam tadi kami menerima kabar bahwa Kuchiki Rukia telah kabur dari rumah rehabilitasi tersebut. Bagi masyarakat yang menemukannya, silahkan hubungi nomor telepon ini dan keluarga Kuchiki menjanjikan imbalan besar bagi siapapun yang menemukan Kuchiki Rukia."
Aku hampir tersedak air yang aku kumpulkan dalam mulutku, buru-buru aku telan, untuk menghembuskan napas yang tak cukup ku keluarkan lewat hidung, karena yang sekarang aku lihat membuat jantungku hampir anjlok ke dasar bumi.
Wajah perempuan tadi, perempuan yang beberapa menit lalu masih duduk di lantai apartemen bobrok ku ini ternyata adik dari bangsawan Kuchiki Byakuya, dan yang terpenting dia menjanjikan imbalan.
Gawat! Aku sudah kehilangan kesempatan emas untuk memperbaiki taraf hidup!
Kemana perginya perempuan itu?
Segera saja aku catat nomor yang masih tertera dalam layar ke ponselku, dan aku mematikan televisi, mengambil baju mekanikku, mengenakannya dalam beberapa detik saja, lalu memacu kaki mengejar perempuan itu. Siapa tahu aku masih bisa menemukannya, dan aku meminta imbalan yang besar dari orang kaya itu.
"Ichigo, kau selalu membuat keributan!" protes Pak Kyoraku saat aku sampai di tangga terakhir menuju jalan utama.
"Pak, apa kau melihat perempuan yang keluar dari apartemenku?" tanyaku dengan napas memburu.
"Tidak, aku tidak melihat siapapun keluar dari apartemenmu. Apa perempuan itu mencuri barangmu?" celetuknya sambil tertawa.
"Lebih dari itu! Dia tambang hartaku!" jawabku sambil berlari menuju jalan utama, dan sempat aku lihat wajah bingung Pak Kyoraku.
Aku mengedarkan pandangan ke sekelilingku, mencari keberadaan perempuan lusuh itu. Aku yakin dia belum terlalu jauh, tapi kemana perginya dia? Jangan-jangan sudah ada yang mendahuluiku dan mengembalikannya, mengambil harta yang seharusnya menjadi milikku. Waktu sudah menunjukkan delapan kurang lima menit, aku bisa terlambat kerja kalau terus mencarinya, bisa-bisa Urahara menceramahiku hingga telinga ini banjir, dan akupun tidak ingin kehilangan pekerjaanku.
Sebagai harapan terakhir, aku mengedarkan pandangan ke dekat halte bis tempat aku berdiri, tapi tidak menemukan tanda-tanda keberadaan perempuan itu. Akhirnya aku putuskan untuk menaiki bis yang berhenti di halte, mungkin perempuan itu memang bukan takdirku untuk memperbaiki hidup.
Tapi… lumayan juga cakaran perempuan bernama Kuchiki Rukia itu, dia membuat tiga garis panjang dari rahang hingga leherku, merah dan lecet.
Bis melaju dengan cepat, hingga aku sampai di bengkel Urahara sepuluh menit kemudian, untungnya sebelum Pak Urahara tiba.
"Kau terlambat lagi, Ichigo!" protes Renji yang membersihkan tangannya dengan kain berwarna kehitaman, bekas oli.
"Ada orang gila mengganggu apartemenku, makanya aku jadi kesiangan!" jawabku seraya mengambil peralatan yang tersimpan dalam lemari.
Renji adalah rekan tempat satu pekerjaan denganku, dia kerja sampingan di sini, karena dia seorang mahasiswa. Aku sendiri heran, padahal ayahnya dokter, dan bisa membiayai seluruh beban kuliahnya, tapi dia memilih bekerja sendiri untuk membiayai hidupnya.
Laki-laki ini sama brengseknya denganku, hanya saja lebih jinak sedikit. Dia tidak gila berkelahi sepertiku, dia bahkan masih cenderung bisa mengendalikan diri. Tak jarang kalau kami bersama, dia ikut lebam-lebam untuk melerai perkelahianku. Rambutnya berwarna merah menyala, kalau dari informasinya sih itu asli, bukan dicat, apa waktu di rahim ibunya ia tersiram pewarna ya?
"Orang gila, apa perempuan baru? Aku dengar dari Ulqui bukan seperti itu ceritanya," sahut Renji dengan seringai misterius.
"Apa yang dibilang Stoic itu padamu?" kejarku tersulut.
Renji tertawa lepas dan mengambil kunci pas untuk membuka baut motor yang sedang ia perbaiki, dia mengabaikan pertanyaanku yang sudah sarat dengan kemarahan.
"Dia bilang kau sudah punya mainan baru, dan bisa melupakan Orihime."
Renji tampak kaget saat aku membanting tas peralatan tepat di depannya.
"Habis kau, Ulqui. Mulutmu harus ku beri pelajaran beruntun rupanya," gerutuku dengan tangan terkepal kuat.
"Sudahlah, Ichigo. Kau seperti baru kenal Ulqui …"
Renji menyenggol bahuku.
"Siapa perempuan itu? Apakah lebih seksi dari Orihime?" bisiknya.
"Jidatmu!" umpatku dan dia tertawa lebih keras.
"Perempuan seperti papan gilas cucian begitu, mana mungkin aku tertarik. Sudah kecil, tidak punya dada, bahkan dia mencakarku!" selorohku kesal.
"Makanya jangan 'main kasar', dia jadi berontak deh!" jawab Renji tetap dengan tawa mencemooh yang sama.
"Main kasar? Menyentuhnya saja tidak bisa, dia itu gila! Belum disentuh sudah teriak histeris, seperti aku akan memperkosanya saja! Tapi dia sudah pergi…"
"Kenapa kau sedih begitu?"
"Karena dia seharusnya bisa memberikan aku banyak uang. Argh, menyesal aku tidak cepat melihat berita itu!" gerutuku yang lalu mengunci mulut, mulai bekerja dan menangani mobil yang sudah menjadi jadwal perbaikanku hari ini.
"Berita apa?"
"Lupakan saja, burung itu sudah terbang jauh!" kataku mengakhiri pembicaraan.
Hari beranjak siang, pekerjaan yang seharusnya selesai sore ini sudah aku selesaikan sebelum istirahat siang. Maklum aku sedang kesal, jadi sengaja ku lampiaskan pada pekerjaanku, jadinya begini deh.
Aku membersihkan tangan dan menuju dispenser untuk membasahi tenggorokan. Ku teguk air banyak-banyak, dan menghela napas panjang. Segar sekali rasanya…
"Ichigo, kau tidak makan siang?" Aku berbalik dan melihat Renji sudah siap di motornya, hendak kabur ke toko ramen favoritnya.
"Tidak, aku tidak ik-"
Aku menghentikan ucapanku untuk memperjelas pandanganku pada seseorang yang berdiri di halte seberang jalan, baju putih dengan celana hijau, rambutnya yang kusut dan mata yang menunduk itu, aku yakin dia perempuan yang tadi pagi, Kuchiki Rukia.
"Kau lihat apa, Ichigo?" Renji ikut melihat kea rah mataku memandang.
"Aku pergi dulu, kau duluan saja!" jawabku seraya memacu kaki menuju jembatan penyeberangan.
"Oh, OK!" Renji menggas motornya dan berlalu dalam satu tarikan gas. Sementara aku menapaki tangga yang rasanya lebih banyak dari biasanya. Aku menabrak bahu orang yang menghalangi jalanku, dan segera saja aku sampai di halte tempat Kuchiki Rukia berdiri, tapi aku tidak mendapati sosoknya. Dimana dia?
Di antara puluhan kepala yang menghalangi pandanganku, aku tidak bisa melihat Kuchiki Rukia yang sangat pendek itu. Sial! Kenapa dia pendek sekali sih?
Aku mengikuti instingku yang menyuruhku bergerak ke kanan, sambil terus menoleh ke belakang, takut salah arah, bahkan aku melihat seberang jalan, takut dia justru menyeberang di jalur cepat seperti ini.
"Awas! Itu-"
Aku menoleh dan melihat perempuan itu berjalan dengan kepala tertunduk, matanya menekuri aspal yang ia jejak dengan kaki telanjang, dia seperti tidak mendengar klakson mobil yang tiada hentinya bergerung.
"Kuchiki Rukia!" teriakku seraya berlari mengejarnya, berharap dia berhenti melangkah saat mendengar aku memanggilnya. Tapi dia terus melangkah, tidak mendengar atau sengaja tidak mendengar.
"Berhenti, Bodoh!" pekikku marah, kontan aku mempercepat kakiku.
Suara klakson bergema saat aku melompat sejauh mungkin untuk meraihnya, dalam satu hentakan aku menarik tangannya, dia tampak kaget dan menatapku dengan mata membelalak lebar. Aku tidak memberi waktu untuknya kaget lebih dari satu detik, karena aku langsung membawa tubuh kami terhempas di trotoar jalan, berguling berkali-kali, di warnai teriakan histeris dan klakson mobil.
Aku berusaha bangun, tapi seluruh tubuhku sakit bukan main karena tertempa kerasnya aspal. Sedangkan perempuan yang baru saja aku selamatkan malah menatapku kosong dengan mata kelamnya, seperti badan tanpa jiwa. Ku paksa diriku terduduk di sisi jalan, dan membiarkannya bangun untuk duduk di hadapanku.
"Kau mau mati?" hardikku.
Dia tetap menunjukkan wajah yang sama.
"Kalau kau mau mati jangan begini caranya. Perempuan Bodoh!" umpatku seraya menarik tangannya dan menyeretnya menuju jembatan penyeberangan. Aku membiarkan pandangan orang-orang jatuh pada kami, bahkan beberapa berbisik mengenai keadaan kami, tapi aku tidak peduli. Karena aku sudah tidak sabar menghadapi perempuan ini, dia rumit dan mengerikan dengan sikap diam seperti ini.
Tangan kurusnya berada dalam genggamanku, dan baru aku sadari tangannya begitu kecil, ringkih dan rapuh. Aku jadi tidak yakin, benarkah perempuan ini adalah adik dari bangsawan? Dia bahkan terlihat seperti gembel yang tak pernah memiliki keluarga.
Aku membawanya masuk ke bengkel, Pak Urahara bengong melihatku menyeret perempuan ini ke bagian dalam bengkel.
"Hei Ichigo, jangan bawa perempuan masuk ke beng-"
Aku tidak menjawab Pak Urahara, malah membanting pintu masuk bengkel tepat di mukanya.
"Sebenarnya siapa yang pemilik?" gerutunya dengan nada bingung, bisa aku bayangkan dia menggaruk kepalanya dengan kipas kesayangannya.
Perempuan di belakangku terus diam, mengikutiku ke manapun aku membawanya. Aku pun membawanya ke ruang ganti, tapi dalam ruangan itu ada Szayel dan beberapa rekan kerjaku yang lain.
"Ichigo, kau-"
"Tinggalkan kami berdua!" kataku dalam nada suara luar biasa tinggi, membuat Szayel langsung bungkam dan lari meninggalkan ruang loker bersama yang lain.
Aku mendorong Kuchiki Rukia hingga jatuh terhempas di kursi panjang, dia duduk dengan mata tetap diam menekuri lantai, seolah tak ada objek lain yang bisa ia lihat selain lantai kotor itu. Napasku memburu, lelah sekali rasanya karena seluruh amarahku terpancing, semua berawal dari perempuan yang baru aku tahu setengah hari ini.
"Aku tidak mengerti, kenapa kau begitu mudah menghabisi nyawamu sendiri?" kataku setelah debaran jantung kemarahan dalam diriku mulai reda.
"Bukan urusanmu," ucapnya setelah sekian lama bungkam.
"Bukan urusanku? Kalau kau mati, aku tidak bisa meminta imbalan!" jawabku diluar kendali.
Seketika aku menyadari sudah mengatakan hal yang seharusnya aku simpan baik-baik dalam benakku, dan benar saja, perempuan berambut hitam legam itu mendongakkan wajah untuk menatapku, matanya kosong dan bosan seperti sebelumnya.
"Berapa yang kau minta?" bisiknya datar.
Aku tidak bisa menjawab pertanyaan perempuan ini, karena aku sendiri tidak memikirkan berapa banyak yang ingin aku minta. Di samping itu aku juga tidak berniat seterang ini padanya, tapi keteguhan di matanya yang kosong itu membuatku sendiri merasa bersalah sudah mengatakan hal seperti tadi.
Dia kembali menunduk, wajahnya tertutup helaian rambutnya yang jatuh ke depan.
"Kembali ke rumah itu atau tidak, tidak ada bedanya untukku, karena pada akhirnya aku akan mati, dibunuh atau bunuh diri. Hanya cara, waktu dan tempatnya yang berbeda," lirihnya penuh duka.
Aku tersentak, menatap dirinya yang bahkan tidak tampak takut mengatakan kalimat seperti itu. Tidak ada terbersit sedikitpun gentar dalam suaranya.
"Kuchiki Rukia," panggilku.
"Aku bukan lagi seorang Kuchiki, tidak sejak mereka tidak mempercayai kata-kata yang ku ucapkan sekalipun bukti ada di depan mata mereka, tidak sejak mereka memilih untuk membuangku."
Perempuan itu tampak begitu terluka, sekilas aku melihat tubuhnya sempat gemetar.
Aku melangkah mendekatinya, tapi tiba-tiba ia beranjak dari tempat duduknya, dan mulai membenturkan kepalanya di pintu loker yang terbuat dari kayu keras. Suara benturan menggema ke seluruh ruang loker, membuat telingaku berdenging.
"Biarkan aku mati, biarkan aku sendiri. Kenapa masih mencariku padahal sudah membuangku? Kenapa masih mengharapkan hidupku padahal aku sudah tidak diizinkan bernapas? Kenapa biarkan aku terluka hingga seperti ini. Kenapa? Kenapa? KENAPA?"
"Apa yang kau lakukan?" aku meraih bahunya menariknya untuk menjauh dari loker, tapi dia berontak dan berusaha kembali membenturkan kepalanya di pintu loker.
"Biarkan aku! Lepas! Biarkan aku mati. Bukankah itu yang selalu mereka inginkan dariku, aku aib bagi mereka. Mati, aku ingin mati!"
Dia menangis, meraung dan berusaha lepas dari pelukanku, tapi aku tidak akan melepaskannya, dan saat aku sadar darahnya sudah mengalir di tanganku.
"Sakit…" rintihnya penuh perih, tiba-tiba dia melemah dan merosot di lantai, sontak aku memeluknya lebih erat.
"Sakit. Aku tidak ingin selamanya merasakan sakit seperti ini, biarkan aku mati…"
Aku merasakan sekujur tubuhnya gemetar, tangisnya menyentuh bagian terdalam diriku, membuatku tahu betapa terlukanya dia, betapa menderitanya dia. Duka seperti apa hingga yang membuatnya ingin mengakhiri nyawanya sendiri?
"Ku mohon, biarkan a…ku…"
Kuchiki Rukia pingsan, dia jatuh tak sadarkan diri dalam pelukanku. Aku menatap wajahnya lekat-lekat.
"Perempuan Bodoh, kau tidak tahu betapa berharganya nyawa yang diberikan padamu. Kau tidak berhak menghakimi dirimu sendiri," bisikku yang merasakan perih yang sudah sejak lama aku pendam di dasar ingatanku, semua kembali mencuat dan menghujam dadaku.
Ku usap pipinya yang basah oleh air mata yang bercampur darah, wajah pucat itu tanpa warna, seolah pemiliknya memang tidak ingin menghiasi warna yang lebih untuk dirinya.
Aku membopongnya, membawanya keluar dari ruang loker. Tepat saat aku membuka pintu, aku mendapati Pak Urahara, Szayel, bahkan Renji berdiri canggung dengan wajah tertunduk. Aku tahu mereka baru saja menguping.
"Dia berdarah," pekik Szayel yang langsung berlari menuju kotak P3K yang terletak di lemari peralatan.
"Siapa dia, Ichigo?" Tanya Renji yang mengikutiku menuju sofa di sisi ruang tamu, dan aku membaringkan Kuchiki Rukia di sana, meraih kotak P3K yang diberikan Szayel, langsung saja aku membersihkan luka dan menghentikan darah yang masih mengalir itu, lalu menutupnya dengan perban dan plester.
Ku ambil kapas dan membasahinya dengan alcohol, untuk membersihkan jejak darah di wajah perempuan yang tak sadarkan diri itu.
"Dia perempuan yang kau bicarakan tadi pagi?" tebak Renji kerena tidak juga mendapatkan jawaban dariku, aku pun mengangguk samar.
Dia tampak kaget dan langsung mengatupkan mulutnya rapat-rapat.
"Dia yang tadi pagi ada di berita, adik dari bangsawan Kuchiki Byakuya, dia-"
"Iya, memang dia Szayel," jawabku cepat, mencegahnya membeberkan semua fakta yang kami semua sudah tahu.
"Kau menculiknya untuk meminta tebusan?" celetuknya tiba-tiba.
"Otak Udang! Tentu saja tidak! Untuk apa aku melakukan pekerjaan kotor seperti itu!"
"Lalu kenapa dia bisa bersamamu?" sambung Renji.
Aku menggeleng, karena aku sendiri tidak tahu mengapa seperti ini jadinya. Padahal sampai tadi pagi aku berpikir sudah tidak akan bertemu dengannya lagi, tapi takdir berkata lain, dan setelah bertemu, aku malah tidak ingin menyerahkannya kembali ke keluarga Kuchiki, aku tidak ingin membuatnya berada di tempat yang tidak ia inginkan. Ada luka yang ia sembunyikan, hingga membuatnya tidak bisa kembali berada di tengah-tengah keluarga terpandang seperti Kuchiki.
"Kau tidak ingin mengembalikannya? Bukannya ada imbalan bagi yang menemukannya?" kali ini Pak Urahara angkat bicara.
Aku terdiam dan kembali meraih pipi pucat perempuan bertubuh kecil ini, menyibakkan rambut yang jatuh menutupi wajahnya. Dia terlihat cantik sekalipun beberapa luka gores di wajahnya masih belum kering, dia mempesona dengan caranya sendiri.
"Kau suka padanya?" lagi-lagi Szayel asal bicara.
"Bicara lagi, ku sumpal pakai ban mulut besarmu itu, Szayel!" geramku serius.
Szayel nyengir lalu menekap mulutnya. Memberi isyarat bahwa ia tidak akan bicara lagi.
"Lepas suka atau tidak, kau akan apakan perempuan ini? Tidak mungkin kau selamanya menahan dia, kan?" Pak Urahara yang jauh lebih bijaksana dalam berpikir, membuatku membuka mata yang sedari tadi hanya terpaku pada sosok Kuchiki Rukia.
"Aku akan memikirkannya nanti," jawabku. Aku sendiri tidak tahu apa yang akan aku lakukan, aku hanya tidak ingin mengembalikannya ke rumah itu, dan aku merasa harus mencari tahu penyebab itu semua.
"Terserah padamu, Ichigo. Tapi kau harus memikirkan konsekuensinya, dia bukan sekedar perempuan biasa, dia adik dari seorang bangsawan yang bahkan bisa mempengaruhi kepala negara," tambah Renji.
Aku tidak menjawab peringatan Renji, kepalaku kosong, dan sepertinya ini akan menjadi langkah awal perubahan besar dalam hidupku.
.
.
.
To Be Continued
.
.
And this is little pieces for the next chapter :
"Dokter! Dokter! Pasien kamar 14 kembali mengamuk, dan dia melukai teman sekamarnya!" teriak seorang suster yang tiba-tiba menerobos ruang kerja dokter utama.
"Baiklah, aku akan ke sana." Dokter Ukitake beralih padaku, "Bisa Anda tunggu di luar?" ucapnya padaku.
"Oh, tidak masalah," jawabku enteng, dan berjalan mengekornya, namun mataku sempat melirik map yang tergeletak di meja, bertuliskan Kuchiki Rukia. Dalam hati aku menyeringai, betapa takdir memudahkan langkahku.
Kami sudah berada di luar ruangan, dan dokter Ukitake meninggalkanku setelah menutup pintu ruangannya, dan yang terpenting dia tidak mengunci ruangannya.
"Bakar! Bakar semua setan di dunia ini!" sayup-sayup aku mendengar suara teriakan seorang pria, itu pasti pasien yang sedang mengamuk itu. Lalu beberapa orang perawat pria berlari melewatiku, membawa ranjang dan beberapa alat yang tidak aku mengerti namanya.
"Terus mengamuk ya, biar aku bisa leluasa," gumamku seraya berjalan berjingkat menuju pintu ruangan berwarna putih itu, dan dengan cepat aku sudah berada dalam ruangan.
Aku sudah melihat sekeliling ruangan, tidak ada kamera CCTV jadi ini pasti aman.
Ku buka tutup map, dan melihat tumpukan kertas yang menyerupai buku. Halaman pertama memuat data diri Rukia, dan baru aku tahu, ternyata dia berumur 21, lebih muda empat tahun dariku. Aku segera pindah ke lembar kedua...
.
.
.
Im Just a newbie, so please kind to me
So See You Guys On The Next Chapter
Xx - - Brainless - - xX
June 5th, 2012