Coklat Abu's here!
Thousands Thanks For
Hyou Hyouichiffer, Mitsuki Ota no login, Yukina Aizawa, Lady Spain, lonelyclover, zoroutecchi¸n, Ryu Uchiha, Ika, Ai HinataLawliet, Lollytha-chan, Yui-chan, Lavender hime chan, Uchiha Stephanie, Michiko, Uchihyuu Nagisa, Shyoul Lavaen, The Amethyst Hime, Naw d Blume, Miya-hime Nakashinki, Mikki-sama, GALAU, SasuHina-caem, YukoYoshioka, Hyuuga-chan, Salt no Pepper, Iminochiyo, SasuHina
Thanks for RnR on previous chapter, all!
And here we go!
[Previous Chapter]
Pemuda tampan itu menghela nafas. Ia memang paham. Sang gadis bukanlah seperti dirinya. Gadis itu berbeda dalam arti yang sebenar-benarnya. Sebuah perbedaan yang membuat ia tak akan dapat menjangkau kenyataan yang sang gadis katakan.
"Lalu," Sasuke menghampiri siluet gadis berkimono yang tengah tertidur, "apa yang harus kulakukan?"
"Kau tahu dongeng Snow White?"
"Ya, sedikit. Ibuku sering menceritakannya saat aku kecil."
"Jadi … kau tahu, bukan, bagaimana cara pangeran membangunkan Snow White?"
Tepat dengan selesainya sang gadis berucap, Sasuke berani jamin bahwa degup jantungnya kian mengonstan. Kelebatan skenario Snow White membayangi benaknya. Membuat ia berhipotesa tentang apa yang sang gadis inginkan darinya.
Hei, Sasuke! Kau tahu bukan maksud gadis siluman itu?
Disclaimer
Masashi Kishimoto
Pair
Sasuke. U & Hinata. H always
And there is a special slight
Warning
AU, OoC (I need it), typo[s], and many more
Song Recommended
Aizome – Mamiko Noto
Coklat Abu presents
■□▫▪ Three Requests and a Sacrifice ▪▫□■
(Final Chapter)
.
.
"The story's hidden will be revealed here. Now…."
.
.
Ia, Sasuke Uchiha, dengan karunia daya ingatnya, jelas tak lupa bagaimana kisah Snow White yang dahulu menjadi penghantar ia hingga terlelap dalam mimpi. Sebagaimana ceriteranya, Sasuke pun tak melupakan sebuah adegan yang Ibunya sampaikan sebagai penutup dari kisah tersebut. Ya, ketika sang pangeran mengecup lembut bibir merekah milik sang puteri yang tertidur dalam kesurian.
"Apa aku harus melakukannya?" Ia mengurut kening. Ini akan menjadi ciuman perdana untuk pemuda tampan tersebut.
Siluman bersurai indigo di sisinya mengangguk, ia melanglang menuju padang lavender tempat di mana raga aslinya bersemayam. "Iya, Tuan. Karena segel yang dirasukan pada sebangsaku hanya bisa dihilangkan oleh pertukaran udara melalui celah bibir. Jika kau tidak keberatan."
"Aku," Sasuke melelai ucapannya sejenak. Ia tak mungkin menolak permintaan sang gadis yasha. Ia telah menyetujui kesepakatan untuk membantunya, apa pun tanpa pengecualian, dan ia lelaki. Ia tak akan menarik kembali perkataannya. Maka, Uchiha muda itu melayangkan pandangan yang sarat akan keteguhan di balik punggung mungil sang lavender. "Aku akan melakukannya. Hanya, beritahu aku siapa kau dan apa yang terjadi sebenarnya."
Siluet dengan kimono berjuntai ke rerumputan itu berbalik. Ia memandang Sasuke sejenak hingga melabuhkan vistanya pada ilalang di bawah sana. Jemari lesi putihnya lantas mengeluarkan sebuah seruling dari dalam obi kimono-nya. "Akan kuberitahu melalui ingatanku yang akan kau lihat, Tuan."
Sang yasha ber-kimono putih kucam itu meletakkan sebuah seruling perak di depan bibir merah mudanya. Ia meniupkan nafasnya pada lubang-lubang seruling, menghasilkan rangkaian nada yang menyuplai irama. Suara seruling melengking di sana, bersamaan dengan kian menipisnya kesadaran sang pemuda pemilik oniks. Hingga irama dari seruling itu terputus dan redam sama sekali. Sasuke ambruk, melayangkan kesadarannya menuju ingatan sang gadis siluman. Iris lavender sang gadis menatap lurus pada raga yang telah terjatuh di antara karpet hijau alam.
Apa yang sesungguhnya terjadi, kau akan lekas mengetahuinya …
"Past time will reveal the story…."
Lansekap pertama yang Sasuke lihat di hadapannya adalah sebuah hutan yang masih asri, menandakan bahwa tempat ini berkisar beratus-ratus warsa lamanya dari zaman ia berasal.
Oniks Sasuke lantas menangkap sesiluet manusia dari belakang.
Seorang pemuda raven dengan hakama hitam dan yukata merah yang tengah berjalan di antara semak belukar. Sebuah katana terselip di antara sarung dalam obi-nya. Alas kaki dari serabut padi itu memijak di antara tumbuhan, tanpa penerangan berarti di malam yang gulita.
Malam merupakan saat emas bagi pemburu sepertinya mencari mangsa. Hewan-hewan liar berada dalam fase lengah kala itu.
Suasana terasa begitu mencekam ketika serigala mengaung dengan nyaring, gagak bersahutan, dan burung hantu bertengger di antara dahan-dahan pepohonan. Namun, pemuda itu tak menghiraukannya. Kaki menjulangnya tetap membelah ilalang di sana. Gemerisik dedaunan yang letaknya ringkas mengalihkan perhatian sang pemuda. Dilihatnya beberapa rubah menyelinap di antara semak. Ia tak punya barang setitik pun minat untuk memburu hewan-hewan itu. Ia butuh hewan yang lebih besar untuk ia santap atau ia jual pada jasa pemotongan hewan seperti babi hutan atau rusa. Pemuda itu tetap meneruskan perjalanannya menghalau rerumputan di sana, dalam lebatnya hutan. Hingga suara seruling yang indah sekaligus terdengar pilu membahana. Sang pemuda itu lalu menghentikan langkah secara mendadak ketika di hadapannya terjulur helaian indigo panjang dari atas pepohonan berdaun lebat. Helaian indigo itu bahkan mengurai di antara rerumputan saking panjangnya. Sang pemuda menengadahkan wajah untuk menemukan wajah pasi sewarna salju yang tengah menyeringai kepadanya. Wajah dengan iris lavender yang berkilat diterpa pijar rembulan yang mana urat-urat bermunculan di area sekitar mata sang lavender yang berkenakan kimono perak bersulur-sulur.
Ia berdecih, tanpa kenal rasa kalut sekali pun di atas pepohonan sana tengah duduk sesosok makhluk yang bukan berasal dari kawanannya.
Siluman … Pemuda itu mendiagnosa. Ini bukan kali pertama ia berjumpa dengan sosok makhluk dari dimensi yang berlainan itu. Ia telah kerap menjumpai siluman ular, siluman katak, dan berbagai siluman lainnya sepanjang masa ia hidup. Di lain sisi, ialah sang pemuda dengan bakat sebagai seorang shaman yang dapat mengatasi segala hal paranoid persembahan dimensi lain.
"Turunlah," sang pemuda masih menengadah, menjulurkan lengannya ke atas, di mana siluman bersurai panjang itu temurun dengan perlahan dari atas ranting pohon, dan menyentuhkan jemarinya di atas telapak tangan sang pemuda pemilik oniks. Gulita dari kepekatan oniks dan kemilau laksana temaram rembulan bertemu kedua dua pasang bola mata saling tatap.
Sang yasha terkekeh ketika ia telah mendarat di atas tanah. "Kau tidak merasa takut kepadaku, wahai manusia?"
Dengan air muka datar yang memandang lurus sang yasha, pemuda itu menjawab, "Tidak. Aku tak menganggap kalian menakutkan."
Bola mata lavender itu membola, hingga kekehan terulang dari bibirnya.
Pemuda raven memandangi siluet sang yasha. "Hei, ikutlah denganku. Kau tidak akan kesepian."
Reaksi tak terduga dari sang pemuda membuat sang gadis siluman itu terpekur.
"Kau manusia yang cukup menarik." Sang yasha mengulaskan seringainya.
Sang pemuda pun beranjak diikuti siluet siluman yang kini berjalan di belakangnya dengan surai-surai indigo yang menyapu tanah. Di antara sorak-sorai binatang yang melolong di antara malam seribu bintang.
Asap mengepul dari tengah hutan tatkala seekor babi hutan telah berada di atas bara api unggun. Sang pemuda duduk bersila sembari bersandar menghadap santap malamnya kali ini sementara sang yasha bersimpuh di dekatnya. Aroma sedap yang tercium menjadi penanda bahwa daging dari mangsa yang didapatnya tadi telah melewati tahap matang. Ia meraup sekoyak daging untuk ia tusuk dengan dahan kecil dan ia sodorkan pada sang siluman yang hanya membisu.
"Makan ini. Kau bisa makan, bukan?"
Jemari sang gadis meraih daging yang terlihat menggiurkan tersebut. Ia hendak menyantapnya andai saja berhelai-helai indigo panjang yang sebagian menutupi wajah tidak menghalanginya. Mendapati betapa merepotkannya surai panjang sang gadis, pemuda bermanik hitam menarik katana dari sarungnya. Ditebas indigo-indigo tersebut hingga helaiannya hanya sepanjang punggung sang gadis. Meski demikian, untaian surai itu masih tertata dengan begitu . Hingga sang pemuda menghela nafas dan menyisirkan surai demi surai yang kini memendek dengan jemari kekar lentiknya.
"Kau itu seorang gadis bagaimana pun juga. Jadi, lebih perhatikanlah penampilanmu." Sang pemuda mengakhiri penyisiran di surai sang gadis dan meraih koyakan daging untuknya sendiri.
Tanpa ia sadari ucapannya telah menghiaskan rona-rona merah di pipi pasi sang gadis yang lalu menunduk, menghayati debaran tak wajar di jantung siluman selayaknya. Pemburu muda dan sang yasha pun menikmati panganan malam mereka di antara tarian angin dan hangatnya bara.
Fajar telah menyingsing ketika sepasang gadis-lelaki itu berada di perbukitan di tepi hutan. Perlahan, cahaya menggantikan gulita yang ada, kilauan angkasa biru mengeliminasi kelabu-ungu, dan mentari menampakkan diri. Gadis siluman itu memejamkan matanya saat sang pemuda raven membunyikan suara melalui rerumputan yang ditiupnya. Suara rumput yang begitu mendamaikan hati dan sepadan dengan suasana pagi.
"Suara rumput itu begitu indah, Tuan."
Pemuda raven meletakkan rerumputan kembali pada domainnya di tanah. Seraya melirik sang yasha, ia memberikan tanggapan, "Iya."
Sang lelaki bangkit, ia memandang mentari dini hari seraya mengajak, "Hei, ikutlah denganku ke desa. Kita bisa tinggal bersama di sana."
DEG …
Anomali degup jantung sang siluman kian menjadi, semakin menggesa, memompa dengan begitu pesat ketika ia memaku irisnya pada wajah rupawan sang pemuda.
"Aku," sang gadis memandangi rerumputan di bawah sana. Ada sirat kecemasan di sanubarinya. "Aku berbeda, Tuan. Apakah Tuan tidak keberatan bersamaku?"
Dengan sebuah hela dari nafas yang keluar melalui belahan bibirnya, sang pemuda menjawab tegas, "Tidak. Karena sudah kukatakan sebelumnya. Kau tetaplah seorang gadis. Kau punya nama?"
Gadis itu menggeleng. "Tidak, Tuan."
"Jika begitu," sang pemuda menolehkan kepalanya. Sosoknya yang tengah tersenyum disinari oleh hangatnya surya mentari. "Mulai sekarang namamu adalah Hinata. Nama yang memiliki makna 'di bawah naungan cahaya'."
"Hi-na-ta," siluman itu mengeja nama yang kini disandangkan sang pemuda kepadanya. Lantas ia tersenyum lembut menerima kebaikan yang sang pemuda berikan. Senyuman yang terulas seiring dengan cahaya yang meraibkan urat-urat di area matanya, dan mengubah sosoknya menjadi sosok seorang gadis dengan paras elok nan menawan.
"Kemudian, jangan panggil aku dengan embel-embel 'Tuan'. Panggil aku dengan nama … Madara. Uchiha Madara."
"Tuan, kekasih Anda sungguh cantik sekali," puji seorang wanita bersurai hitam dengan yukata merahnya.
Itu bukanlah pujian prima yang mereka terima. Selama berlanglang di antara penduduk desa, eulogi-eulogi telah mereka dapatkan dari banyak mulut yang bersuara. Memulas rona semi-merah yang kini mengentarai pipi sang gadis, Hinata. Madara pun membenarkan pendapat para penduduk. Gadis itu memang memesona, dan tidaklah jahat seperti sebangsanya. Itulah yang membuat Madara meyakini bahwa apa yang ia rumuskan benar. Bahwa tak akan ada pertentangan selama ia dapat memendam rahasia sang gadis ketika mereka bersama. Ya, semua akan berjalan dengan lancar sebagaimana yang ada dalam pencanangannya.
"And he forgot something. That they're different."
"Hei, apa kau punya permintaan? Sebutkan tiga permintaanmu, dan aku akan mewujudkannya. Namun, sebagai balas budi, akan kupinta satu hal darimu."
"Permintaan? Aku mau! Wujudkanlah permintaanku!"
"Dengan senang hati, manusia."
Namun, kupintakan satu hal darimu. Hal yang paling berharga, yang akan kuabadikan dalam dimensi hampa. Diri kalian, batin kalian …
Penduduk kian meresah, suatu kejanggalan terjadi di desa secara tiba-tiba. Di mana beberapa penduduk hilang tanpa jejak dalam kurun waktu bersamaan di tiap malam. Hingga saat ini, telah lebih dari sepuluh penduduk yang dinyatakan lenyap secara tak wajar. Tentu saja desas-desus tersebut hinggap pula pada telinga Madara. Membuat ia seketika berhipotesa, soal sang gadis yang kini tengah berusaha membaca lembaran haiku di atas bantal duduk di dekat jendela yang bertiraikan bambu.
Tidak, pastilah pelakunya bukan dia, Madara berusaha memercayai yasha yang kini menjelma sebagai manusia biasa tersebut. Ia tak ingin memikul curiga. Hanya saja, patutkah sang gadis dipercaya?
Karenanya, demi sebuah inspeksi—pembuktian bahwa sang gadis bukanlah yang bersalah, Madara sengaja terjaga hingga malam. Jika pada saat biasa ia akan pergi ke hutan dan membiarkan sang gadis lavender terlelap. Kini, tidak. Ia berbohong kepada sang gadis, membual bahwa ia akan berkelana mencari buruan, namun sesungguhnya ia bersembunyi di antara sudut-sudut bangunan tinggal. Penduduk tak beranjak dari naungan atap mereka sejak desas-desus mengerikan tersebut berhembus, hingga kelengangan begitu pekat terasa di sepanjang jalan desa. Ia berjalan dengan pantang gentar. Hingga suara-suara tipis terdengar dari kejauhan. Ia setengah berlari, menempelkan tubuhnya pada dinding dan melongok ke sumber suara. Ia melihat jalannya kejadian! Kejadian yang mana memang melibatkan Hinata yang kini telah kembali pada wujud asalnya! Dengan jelas tanpa halauan, Madara mendapati Hinata mengajukan penawaran. Three requests and a sacrifice. Beberapa gadis bar yang tak sadarkan diri karena pengaruh minuman keras menyepakatinya. Hingga mereka lenyap tak berapa lama usai Hinata mengabulkan permintaan yang ada. Segala yang tersuguh itulah yang mengangakan mata Madara.
"Hinata!" Ia memunculkan jati dirinya. "Apa yang telah kau lakukan?"
Sosok siluman ber-kimono melambai hingga tanah itu berbalik, "T-tuan …?"
"Kau …," Madara menampakkan raut seseorang yang telah didustai. "Kenapa? Bukankah kau itu berbeda? Karena itulah aku memercayaimu dan membawamu ikut serta ke desa …?"
Terbongkar rahasianya di hadapan seorang pemuda yang paling tak ingin ia untuk mengetahuinya membuat Hinata jatuh berlutut. "M-Madara-kun …."
"PEMBUAL!"
"Bukan! A-aku bukan pembual!" Gadis itu berteriak setengah terisak. "Aku mohon. Jangan mengatakan hal seperti itu. A-aku hanya tidak dapat menahan diriku. Bagaimana pun ada sisi diriku yang tak dapat kukendalikan, Madara-kun, dan a-aku mengabulkan tiga keinginan mereka terlebih dahulu sebelum aku mengoleksi jiwa mereka di dalam dimensi hampa!"
"Kau—"
—GRAB …
Sosok siluman itu kembali pada wujud sementaranya yang berupa manusia dan mendekap sang pemuda. "Ta-tapi aku ingin tetap bersamamu! Karena … karena aku menyayangimu, Madara-kun!"
Menyayangiku? Hinata? Madara termangu tak percaya.
Dengan segala egoisme yang ada, Madara memaafkan apa yang telah Hinata perbuat. Rasa sayangnya telah mengalahkan nalar yang seharusnya menabukan ia untuk menyembunyikan sebuah kesalahan. Ia terlampau menyayangi sang gadis meski ia tak kunjung mengatakannya. Namun, hubungan mereka pasca terungkapnya sisi lain Hinata yang tak dapat dibendung membuat jarak di antara mereka. Hinata yang merasa ia begitu membebani sang pemuda dengan sisi silumannya yang tak henti merenggut korban penduduk desa, dan sang pemuda yang merasa bahwa jalan yang dipilihnya salah. Kian lama, harmonisasi di antara mereka membeku. Semakin mereka memikirkan situasi, semakin intens mereka berjauhan.
Hingga di suatu tengah hari, Hinata memutuskan untuk mencari udara segar di antara pertokoan berpondasikan kayu. Gadis itu melewati sosok demi sosok dan bangunan demi bangunan.
"Lho? Bukankah Anda nona manis yang tinggal bersama tuan pemburu?" Seorang wanita bersurai pirang menyapa.
Sang gadis lavender menoleh dan memberi anggukkan. Wanita dengan proporsi sensual itu lantas mendekat. "Kebetulan sekali. Nona, aku punya seorang anak lelaki yang ingin kukenalkan kepadamu. Ia keponakanku, Sasori, anaknya pendiam tapi begitu hangat. Sejak melihatmu, aku langsung tertarik untuk mengenalkanmu padanya."
"A-ah, tapi bukankah Anda tahu jika saya selalu bersama dengan Madara-kun?"
Wanita ber-kimono oranyeitu mengubah ekspresinya. Ada rasa meremehkan saat nama sang pemuda raven disebut oleh sang gadis. "Apa yang bagus darinya? Kau tak seharusnya bersama dengan pekerja serabutan yang tak jelas! Ia bahkan tak pernah bersosialisasi dan sibuk dengan memburu hewan di hutan sana. Ia pecundang—"
"—Nyonya!" Hinata menginterupsi celaan sang wanita. "Jangan sekali pun menghina Madara-kun! Ia bahkan jauh lebih baik dibanding Anda yang seorang penghina! Dia telah bersudi hati menerima saya di sisinya! Padahal, padahal yang saya lakukan hanyalah menyulitkannya! Jadi, Anda tidak berhak mencapnya dengan keburukan seperti itu!"
Dua hawa itu terdiam pasca Hinata usai berucap. Namun sebuah hal yang tak disangka terjadi. Sang wanita memandang penuh kengerian kepada sosok Hinata. Telunjuk berisi milik sang wanita bernama Tsunade itu terarah dengan gemetar. Membuat Hinata menyentuh wajahnya yang kini telah bermunculan urat-urat kembali, dan tanpa diberi penjelasan pun Hinata sadar, ia seketika kembali ke wujud asalnya tanpa ia kehendaki.
"SILUMAN!" Tsunade melantangkan suaranya.
Sontak beberapa penduduk dirundung kepanikan. Tsunade berlari pergi sementara beberapa pria perkasa meraih senjata untuk memusnahkan sang lavender yang tersudut seorang diri.
Seorang pria lantas berteriak lantang memberikan sebuah usulan. "Cari pemburu itu! Bisa jadi dia pun seorang siluman seperti gadis ini!"
Dengan itulah tirai kebahagiaan bagi Madara dan Hinata ditutup …
BRUGH!
Seorang pria bertubuh besar menjatuhkan dua onggok raga ke tanah. Siluman dan seorang pemuda murni. Mereka di bawa ke sebuah puncak gunung yang letaknya berada di antara desa. Beberapa senapan telah menanti ketika penutup mata mereka dilepas. Berkali-kali Hinata dan Madara silih berseru nama. Menguatkan diri masing-masing akan perkara yang bermula dari kesalahan mereka sendiri. Andai saja keduanya tak terlibat cinta buta. Andai saja saat pertama kali mereka saling pandang bukanlah saat di mana cinta bersemi di antaranya. Madara mencoba melepaskan diri, ia tak ingin gadis yang sesungguhnya ia cintai terluka. Ia tak ingin melihat segala timpaan peluru merembes di antara tubuh sang gadis. Tak ingin! Keteguhan lantas membuat sang pemuda mendapat sejumlah kekuatan yang membuat ia dapat bangkit dari rasa sakit pasca dipukuli dan dihantam dengan sejumlah balok kayu. Madara berteriak dan menyerang beberapa pria sekaligus. Ketika penjagaan di antaranya luntur, ia memanfaatkan saat itu untuk membuka ikat penutup matanya. Ia membelalak pasca mengetahui bahwa sekumpulan pria telah siap menembakkan peluru kepada Hinata yang berada beberapa langkah darinya.
"HINATA!" Sang pemuda berlari menyongsong siluet Hinata yang hanya dapat bersimpuh di antara balut ikatan di sekujur tubuhnya.
DOR!
Sebuah peluru melesak dan mengenai sesosok tubuh. Namun, bukanlah tubuh seorang gadis yang dikenainya. Melainkan, tubuh seorang pemuda yang telah memunggungi para pria bersenapan. Dengan lubang senapan di punggungnya, Madara merintih kesakitan. Namun, ia tetap berupaya melepaskan ikatan Hinata. Dijadikan tubuhnya sendiri sebagai tameng dari peluru-peluru yang ditembakkan secara beruntun kala itu. Sang lavender yang penutup matanya terlepas hanya mampu mengurai air mata ketika mendapati sosok pemuda yang dicintainya bersimbahkan darah—akan tetapi masih bisa mengulas sekurva senyuman untuk dirinya.
"Ma-madara-kun …."
"Hinata, maaf. Tapi, k-kita sepertinya belum bisa bersama sekarang," Madara menyentuhkan jemari penuh bercak merah amis pada pipi pualam milik Hinata.
"Kenapa kau mengorbankan diri untukku—"
"—Karena," Madara mengecup sekilas bibir sang lavender. "A-aku mencintaimu. Aku telah terperangkap bola mata indahmu ketika kita bertemu di hutan itu, ketika kau menampakkan dirimu di, ukh, di hadapanku."
Seusainya, Madara membacakan sebuah mantera seraya menyentuhkan jemari telunjuknya di pusat dahi Hinata. Mantera yang perlahan membentuk sulur-sulur rantai yang mengikat pergelangan kaki dan tangan sang gadis.
"Dengan begini, kau akan selamat dari s-senapan itu …."
"M-madara-kun!" Yasha itu berteriak ketika tubuhnya mendadak bersilaukan cahaya yang membuat sosok pemuda tercintanya kian memudar.
"Sampai bertemu, suatu hari nanti …."
Dengan seulas senyuman penuh kasih di bibir sang pemuda itulah Hinata tak mampu lagi melihat sosok Madara. Segalanya terlihat begitu silau dengan warna putih bersinar yang mendominasi pandangannya yang mengabur. Yang samar ia dengar sesaat sebelum kesadarannya menghilang hanyalah sebait kalimat "aku mencintaimu", yang disusul dengan suara-suara tembakan peluru yang memekakkan telinga.
"Finally, he knows why he is. That he is here to continue the story."
Kelopak putih itu membuka, mengiringi singsingan sepasang oniks yang lalu berkaca. Seiring dengan kenangan demi kenangan yang berkelebat dalam otak. Seiring dengan sebuah kesadaran yang kian meresap.
Uchiha Madara …
Bukanlah marga yang serupa yang menjadikan Sasuke diliputi kegamangan. Yang membuatnya kini ingin mendekap siluet gadis di hadapannya adalah kebenaran. Bahwa ia … nyatanya adalah Madara yang terdahulu. Bahwa ia merupakan kelahiran kembali dari jiwa sang pemuda yang bereinkarnasi. Seruling yang terdengar kembali membuat ia mengenang segala yang telah dilupakannya semasa dahulu kala. Kelahirannya, masa kecilnya—segala hidupnya sebagai Madara.
"Kau sudah mengingatnya?" Sesosok gadis berseruling duduk di samping tubuhnya yang terbaring.
Sasuke beranjak untuk ikut menduduki rerumputan. Ia menyentuh kepalanya yang sedikit terasa pusing. "Ya. Aku telah mengingatnya … dengan jelas, Hinata."
"Kau tahu kenapa aku tahu bahwa Madara adalah kau?"
Sasuke menggeleng. Membuat sang gadis menatap maklum. Bagaimana pun, Madara-nya kini telah bermetamorfosa menjadi seorang pemuda berfisik lain, dengan hidup baru yang lain pula. "Karena hanya kaulah yang bersikap biasa sekali pun mengetahui diriku yang sesungguhnya. Banyak manusia yang sesumbar bahwa mereka akan menerimaku apa adanya. Namun, tidak. Mereka tetap takut, itu kenyataannya. Ketika mengerti, aku tahu akhirnya bahwa di antara mereka, kau tidak ada. Kau belum ada. Hingga kita bertemu, dan aku tahu benar itu kau. Karena kaulah seorang yang berbeda. Satu-satunya."
Keduanya terdiam, menyisakan saat untuk Sasuke beradaptasi dengan kenangan lamanya yang rupanya masih tetap terukir awet di dalam hati. Berangsur-angsur waktu berlalu kemudian untuk Sasuke menerima dirinya yang lain—dirinya yang dulu.
"Siapa namamu sekarang?" Hinata bertanya ketika ia yakin Sasuke telah melewati masa kebingungannya dan dapat memaknai banyak kejadian selama ini. Kebenaran, kenyataan, dan tragedi masa lampau yang membawanya pada suatu keputusan.
"Sasuke. Uchiha Sasuke. Aku ada untuk mewujudkan perkataanku dahulu, Hinata." Sasuke lantas tersenyum, dengan senyuman yang bagi Hinata tetap sama dengan yang dahulu kala.
"And he decided something."
Sosok Sasuke perlahan melangkah menuju tubuh yang tengah terlelap pulas tersebut. Digenggamnya tangan sedingin es milik yasha yang dicintainya. Yang pernah ia lupakan dan kini berhasil ia ingat kembali tanpa kurang sekeping pun mozaik ingatannya.
Sasuke mengucap sefrasa, "Kita akan bersama." Hingga ia menyatukan bibirnya pada bibir sang gadis. Bahwa ia tengah mewujudkan kebersamaan yang sempat disela itu. Dengan jeda ratusan tahun, dan masa yang terbilang sukar, cinta itu tak akan pernah pudar.
Sasuke menyapa sosok yang kini mulai terbuka kelopaknya dengan hangat senyuman. Inilah alasan mengapa ia sedari dahulu tak dapat menerima siapa pun untuk mengisi kekosongan hatinya. Karena sedari semula, hatinya memang tak kosong. Ada cinta yang membeku dan butuh ia lelehkan di lubuknya. Cinta dari dirinya yang lampau, sebuah hadiah kehidupan untuk dirinya yang sekarang.
"Hinata," Sasuke berucap pada gadis di sisinya. "Apa orang yang telah kau lenyapkan bisa kembali?"
Sang lavender terdiam. "Ya, jika aku mendapat bantuan kekuatan dari seorang yasha."
"Jika begitu … ayo kita hidup bersama. Jadikan aku sebagai seorang yasha dan pendampingmu, Hinata."
Gadis yang kini bukan berupa hasrat melainkan sosok tubuh yang utuh hanya dapat menimpali sebuah ajakan sakral sang pemuda dengan senyuman dan linangan tangis. Ada rasa bahagia teramat dalam di hatinya. Usailah sudah segala perkaranya melewati masa demi masa. Sang pemuda itu kini telah memutuskan suatu kata. Bahwa ia akan berubah sepertinya untuk keabadian cinta. Jemari Hinata membingkai wajah tampan milik yang dicintainya seorang. Diucapkan olehnya beberapa frasa tak biasa, hingga kemudian sosok sang pemuda meluruh adanya. Oniks kini berubah merah laksana api yang menyala, taring menyelinap di antara deretan gigi putihnya, dan sayap hitam bak kelelawar menyembul di antara punggungnya. Satu yasha yang lain telah hadir, dengan anugerah sayap yang didapatnya.
"Ayo kita pergi Sasuke. Ke tempat di mana kita tak akan terpisahkan oleh kata. Di mana orang lain tak akan memberi cela kepada kita berdua."
Dua tangan Sasuke melilit di antara pinggang Hinata, seraya mengangkat tubuh ramping milik sang gadis berupa cantik itu. Dengan sebuah pijakan, sayap hitam itu terkembang membelah pekatnya gulita malam. Di antara taburan bintang dan keindahan panorama, dua yasha saling memadu dalam cinta.
"Always together as yasha they are…."
Sedari hari itu, sosok Sang Uchiha muda menghilang laiknya sosok sang yasha sementara korban Hinata selama ini dengan ajaib kembali, menjadikan hari itu sebagai hari yang begitu mencengangkan. Buah bibir menyebar secepat kibasan angin. Buah bibir yang berkisahkan seorang pemburu yang jatuh cinta pada sesosok gadis yasha beratus-ratus tahun kala. Dari situlah penduduk mengungkap fakta, bahwa cinta memang tiada duanya. Menyatukan yang enggan untuk dapat disatukan, memutus nalar akan suatu hal yang mustahil adanya. Seperti mereka, Uchiha Sasuke dan Hyuuga Hinata.
Sepuluh tahun telah berselang sepeninggal dua sosok saling mencinta. Membuat ketentraman terasa di seluruh penjuru desa. Seorang pemuda berusia tujuh belas tahun berlari di antara pegunungan yang rindang. Ia tersenyum pasca kakinya terhenti di antara bebatuan di puncak gunung. Pemuda bersurai pirang itu selalu berada di sini sedari sepuluh tahun yang lalu ketika kakak sepermainannya dikabarkan menghilang di tempatnya kini berdiri.
Ia berteriak kencang pada raya angkasa, "Sasuke-nii! Semoga kau baik-baik saja di sana, ya!"
Teriakan sang pemuda itu menggema ke seantero pegunungan. Ia tersenyum puas, berharap jikalau teriakannya sampai hingga telinga yang dituju. Hingga sebuah kekehan kecil membuat ia berbalik ke belakang. Seorang gadis sebayanya tengah tersenyum dengan manis. Gadis bersurai merah muda dengan bola mata serupa dedaunan.
"Hai! Kau suka ke sini, ya? Perkenalkan, namaku Sakura."
Pemuda bernama Naruto itu berlari untuk menjabat tangan sang gadis manis yang namanya seakan mengingatkan sang pemuda pada musim semi yang indah.
"Aku Naruto Uzumaki! Salam kenal!"
Andaikan Naruto tahu, bahwa sang gadis rupanya adalah satu dari sekian banyaknya yasha yang ada di sana. Yang hendak mengintimkan diri dengan manusia pasca ia mendapat ceritera tentang sebangsanya yang bersua dengan anak manusia.
Akankah kisah kedua dari kisah cinta yasha dan manusia terulang? Siapa tahu.
"The love story between yasha and human."
FIN
Note*
Obi:: Ikat pinggang untuk kimono dan yukata
Katana:: Pedang samurai
Yasha::Siluman
Thanks, thanks so much for reviewers and readers! Thanks for reviews I accepted, I'm so happy to read it!
I hope this final chapter isn't boring~ haha~
And for all, don't mind to review?