Disclaimers: Naruto © Kishimoto Masashi-sensei

Chances © Kyou Kionkitchee

Pairing: bisa SasuNaru maupun NaruSasu (tergantung intepretasi masing-masing)

Genre: Drama/Friendship

Rated: T

Warning: Shounen-Ai, semi-canon, OOC, heavy themes, betrayal, banishing, OC (?), typo(s). Don't like don't read! Find another story if you hate MxM. I've warned you!

Summary: Sasuke berhasil melarikan diri setelah ditangkap oleh Aliansi Desa Ninja. Ia berjalan kepayahan di tengah badai yang melanda hutan asing tempatnya tersesat, hingga akhirnya jatuh pingsan. Keesokan harinya, ia terbangun dan mendapati dirinya berada di sebuah gubuk dengan seseorang yang telah merawat luka-lukanya. Sedikit banyak ia merasakan suatu persamaan antara orang asing itu dengan orang yang sangat ia sayangi… dan ingin ia temui.

A/N: Fanfic Kyou yang serupa dengan Broken Seal of Promise namun tak sama! Kyou pengen banyakin fanfic canon/semi-canon, makanya Kyou bikin fanfic ini!

Kyou tau harusnya namatin fanfic yang masih belum tamat tapi, sama kayak BSoP, Kyou gak tahan mau nge-post yang ini dulu! Nggak banyak kok chapter-nya! Semoga berkenan ya~

-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-

Suara hutan bernyanyi keras-keras menemani hujan di suatu malam. Bersorak bagai maracas, berdentuman bagai tambourine, bergesekan bagai biola, bersiul bagai peluit, semua… bunyi alam yang hendak marah ditiup angin yang menggila. Bagian dari bumi berwarna hijau kecoklatan itu seperti menangis sehabis ditegur halilintar yang meraung membelah warna solid di atasnya. Mencekam sekaligus menegangkan, mengantarkan satu sosok berjalan kepayahan di genangan lumpur yang lengket dan menjijikan.

Warna yang serupa dengan malam milik sosok tersebut memicing menahan sakit yang menjalar di seluruh tubuhnya. Sudah tidak tampak jelas camellia merah mewarnai kulit putih pucatnya karena hujan telah menghapus keseluruhan yang menyedihkan itu. Namun, masih terasa perih luka nyata yang menggores tegas di permukaan yang tadinya halus itu. Pedih, mengoyak tidak hanya fisik tapi juga mental; cinderamata dari hukuman yang diterimanya. Separah itu? Wajar, karena ia adalah seorang kriminal kelas S yang diburu dan ditangkap oleh Aliansi Desa Ninja… oleh keluarganya.

Rambut raven kuyup miliknya sudah tak berbentuk seperti biasanya—dan ia tak peduli. Keeleganan dan keseimbangan yang membuatnya memikat mata sudah tak lagi dihiraukan. Hanya ingin lepas dari semuanya… dari dunia yang memuakkan ini. Persetan dengan ambisi sebagai seorang ninja! Buang semua harga diri sebagai seseorang yang berasal dari keluarga terhormat! Sekarang, semua sudah tidak berguna. Semua percuma… Ia hanya ingin mengakhiri hidupnya—tapi bukan di penjara! Bukan di tempat kotor yang membencinya—bahkan hutan ini jauh lebih baik dari tempat itu!

Orang itu… di sisi orang itu.

Tak apa harus kembali ke desa terkutuk itu. Tak apa harus menginjak kembali tempat pengkhianatan itu. Tak apa… selama di sana ada orang itu… selama di sana ada matahari yang menghangatkan tubuhnya yang mendingin dan mencairkan hatinya yang membeku. Karena ia yakin, pemuda itu akan menerimanya apa adanya. Tidak meminta, tidak berharap apa-apa, hanya dirinya apa adanya…

Naruto…

Sosok itu akhirnya jatuh di atas kubangan lumpur pekat. Tak sadarkan diri karena lelah yang menyiksa. Berharap tak pernah terbangun lagi… berharap mati.

-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-

Chances

1st chance: To See You

© Kionkitchee

-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-

Setitik sinar menerobos masuk di antara dinding jerami yang sedikit berlubang. Titik itu menerpa wajah seorang pemuda yang perlahan membuka matanya dari tidur yang lelap… tidur yang tak ia sangka masih akan memudar untuk sejenak.

"Sudah siuman?" Suara yang kenal-tidak-dikenal terdengar dari arah samping tempat pemuda tersebut berbaring. "Kalau sudah bisa bergerak, makanlah! Aku membuatkan makanan untukmu," tambah suara itu.

Sang pemuda menggerakkan kepalanya untuk melihat sang pemilik suara; seorang pemuda sebaya dengannya berambut merah yang mengenakan pakaian sederhana berwarna abu-abu pudar. Perawakannya tinggi dan lumayan besar, namun, tampak garis tirus di pipinya. Kulitnya kecoklatan dan wajahnya… wajahnya…

Sasori…? Bukan. Dia sudah mati. Apa mungkin Gaara? … Bukan. Siapa?

"Aku menemukanmu tergeletak di hutan Timur. Kupikir daripada kau jadi bangkai, lebih baik kubawa ke tempatku. Ternyata kau memang masih hidup," pemuda berambut merah tersebut kembali berkata seraya meletakkan nampan berisi semangkuk sup dan segelas air di samping sang pasien.

Siapa… orang ini?

Pemuda berambut merah apel itu berbalik lalu menghilang ke tempatnya muncul tadi. Sementara itu, pemuda satunya tetap memikirkan kemungkinan akan siapa orang yang sudah melakukan hal tak berguna seperti menolongnya. Tangannya yang sudah dibebat perban terangkat untuk menyeka poni rambutnya yang sedikit menghalangi pandangan. Seharusnya ia memperhatikan dengan cermat perawakan pemuda tadi sehingga ia tak perlu bersusah payah memikirkannya. Sudahlah. Ia akan melihatnya lagi nanti.

Pemuda berambut raven itu menghela napas berat. "Ternyata… masih hidup ya…" lirihnya. Suara yang keluar dari tenggorokannya memang hanya berupa bisik serak akibat menahan teriakan saat ia disiksa di penjara internasional Aliansi Desa Ninja. Butuh waktu untuk memulihkan pita suaranya dan juga kondisi tubuhnya… kalau ia memang ingin seperti sedia kala.

"Sebelum makan, kuobati dulu lukamu ya," dan suara lain terdengar kembali dalam ruangan itu. "Hampir semua lukamu memang sudah kuperban tapi ada beberapa yang harus diganti karena terus mengeluarkan nanah," jelas pemuda berambut merah seraya berjalan ke pemuda satunya sambil membawa kotak berukuran sedang yang berisi peralatan medis. Tangan kecoklatannya hendak menyentuh pemuda yang terbaring itu ketika jemari putih menahannya.

"Siapa… kau?"

Pemuda berambut merah menaikkan sebelah alisnya seraya menjawab, "Aku hanya ingin mengganti perban di sekitar bahu dan perutmu kok,"

Sang pasien mendecak, "Aku bertanya… siapa kau—dan di mana ini?"

"Tidak sabaran ya, Kau ini! Setelah mengganti perbanmu, baru akan kujawab!" Dokter muda itu membalas tak kalah ketus. "Sekarang diam dan biarkan aku bekerja!" Ia melepaskan jemari sang pemuda raven lalu mengambil perban baru dan racikan obat dari dedaunan yang dibuatnya barusan. Dengan lincah dan penuh perhitungan, jemarinya mengganti lapisan kain kasa yang sudah berwarna merah di sekitar bahu dan perut. Ia meletakkan racikannya di atas luka yang masih sangat basah itu—membuat sang pasien mengumpat kesakitan—lalu menutupnya kembali. Tak butuh waktu lama hingga proses itu selesai, membuktikan bahwa ia memang sudah berpengalaman dalam bidang medis.

"Okeh! Selesai! Sekarang kau bisa bertanya sesuka hatimu tapi aku hanya akan menjawab pertanyaan yang ingin kujawab,"

"… Siapa kau? Di mana ini?" Pemuda berambut raven merasa bodoh karena mengulangi pertanyaannya tiga kali.

"Namaku Mori Arashi, 20 tahun, petani sekaligus medis serabutan. Tempat ini adalah pedalaman hutan Midori no Garasu; hutan yang terkenal hijau dan menenangkan—kalau tidak ada badai tentunya," jawab pemuda bernama Arashi itu. "Sudah jarang ada badai sebesar kemarin, dan kau beruntung masih bisa hidup setelah menerima amukannya, Tuan-Tanpa-Nama," cengirnya kemudian.

Hampir melontarkan balasan berupa nama, pemuda bermata oniks itu berpikir cepat dan menghentikan dirinya sendiri. Ia tak boleh menyebutkan namanya pada orang asing mencurigakan itu. Namun, dari reaksinya, Arashi seperti tak mengenali wajahnya yang merupakan buronan kelas S bagi seluruh desa. Mungkinkah pemuda itu…

"… Hn." Hanya itu balasan darinya, membuat Arashi mengernyitkan dahi.

"Tidak mungkin aku memanggilmu 'Tuan-Tanpa-Nama' terus, 'kan?" Arashi bertanya secara tidak langsung. Dan lama baru ia mendapatkan balasan lirih yang mengungkapkan kepenasarannya.

"… Uchiha… Sasuke…"

Mengangguk, Arashi mengambil nampan berisi sup hangat dan segelas air yang ada di samping pemuda itu. "Sekarang kau harus makan, dan mengingat bahwa luka perutmu baru saja dibebat, aku akan menyuapimu," ujarnya sambil menyendok sup lalu mengarahkannya ke mulut sang Uchiha.

Tentu saja Sasuke menolak. Ia bukan bayi yang harus disuapi orang lain—terlebih laki-laki! Ia bisa makan sendiri dan hal itu akan dibuktikannya dengan berusaha bangkit dan duduk. Namun, rasa sakit yang luar biasa menusuknya tajam sehingga ia kembali terbaring kasar di futon. Sasuke mengumpat tertahan karena ulahnya itu.

"Lebih baik kau tidak memaksakan diri, Sasuke. Aku tahu kau tidak mau terlihat lemah tapi bersabarlah sampai lukamu sembuh," Arashi berkata setelah menghela napas.

Dan sesuatu mengetuk pintu kesadaran sang Uchiha. Sasuke? Atas izin siapa dia memanggilku dengan nama kecilku?

"Kau tidak tahu apa-apa, Arashi!" balas Sasuke yang juga memanggil nama depan pemuda itu. Ia melakukannya bukan karena ingin akrab, melainkan murni sebagai sindiran halus karena telah seenaknya memanggil 'Sasuke'.

"Yah, aku memang tidak tahu apa-apa tapi setidaknya aku memperlakukanmu dengan baik, Sasuke," kata Arashi sambil mengangkat bahu.

"Berhenti memanggilku seakan kau mengenalku, Orang tidak tahu malu!"

Terganggu, sang Mori membalas ketus, "Siapa yang 'tidak tahu malu', Brengsek! Namaku Arashi!"

Lagi-lagi, sesuatu mengetuk pintu kesadaran sang Uchiha. Kenapa ini…? Perasaan apa yang… Ia pun perlahan memperhatikan dengan lekat bola mata pemuda di sampingnya. Bukan… bukan biru… Huh! Apa yang kupikirkan? Tidak mungkin orang ini—

"Apapun yang kau pikirkan, sekarang kau harus makan! Dan karena kau BELUM BISA bangun, aku akan menyuapimu! Titik!" seru Arashi yang langsung saja memasukkan sendok berisi sup ke mulut sang Uchiha—membuat pemuda itu sedikit tersedak. "Itu karena kau keras kepala tahu!" sahutnya lagi sebelum meraih leher Sasuke lalu menopangnya di bahunya dengan hati-hati agar pemuda itu bisa minum—dan makan lebih baik.

Sungguh memalukan. Seorang Uchiha yang berharga diri tinggi ditopang oleh orang asing yang bukan siapa-siapa. Itachi dan kedua orang tuanya bisa menangis dalam makam mereka nanti! Rasanya ia ingin menggali lubang kuburnya sendiri lalu menenggelamkan diri selamanya…

Tidak. Tunggu…

Apa ini…? Kenapa rasanya seperti…

Sasuke melirik untuk melihat bola mata sang Mori yang beriris hijau zamrud itu. Begitu lekatnya ia melihat hingga tak sadar bahwa beberapa suapan sup sudah mampir ke dalam mulut dan tenggorokannya. Ia tak sadar kalau pemuda bernama 'hutan' itu hampir selesai membuatnya menghabiskan semangkuk sup hangat penuh sayuran tersebut. Kesadarannya kembali ketika gelas air menyentuh bibir bawahnya. Ia tak menolak karena ia memang membutuhkan air agar makanannya bisa dicerna dengan baik. Setelah selesai, Sasuke merasakan dirinya kembali dibaringkan dengan lembut oleh Arashi yang membereskan mangkuk dan gelas yang sudah kosong.

"Cobalah untuk istirahat lagi dan tidur, Sasuke,"

Tidak ada sindiran maupun ejekan dari Arashi, membuat Sasuke sedikit demi sedikit percaya bahwa pemuda itu memang tak mengenalnya. Ia menghembuskan napas panjang yang terdengar sedikit lega. Dari sudut matanya, ia melihat Arashi keluar dari ruangan bobrok itu entah ke mana. Tak lama, ia pun merasakan kantuk datang menyerang, dan gelap kembali mengambil alih kesadarannya.

Satu kata… nama… yang terlintas dalam benaknya sebelum menghilang tetap sama,

Naruto…

-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-

_Kantor Hokage Desa Konoha_

"Hokage-sama, tahanan kelas S, Uchiha Sasuke, melarikan diri dari penjara Aliasi Desa Ninja!"

Seorang pria muda yang sedang berkutat dengan berkas di atas meja kerjanya memicingkan mata. "Detailnya, Ino?" ia bertanya pada asistennya.

"Kemarin sekitar pukul satu dini hari, sel Uchiha Sasuke hancur oleh ledakan keras yang diduga sebagai ulah Sasuke sendiri! Ketika para ANBU yang berjaga memeriksa, mereka sama sekali tidak melihat Sasuke ada di sana. Bahkan, untuk melacak jejak chakra-nya pun sulit, seperti ada yang menghapus keberadaan Sasuke!" seru Ino panik.

"Tenanglah, Ino!" tegas Shikamaru. Ia mengambil beberapa berkas dengan cepat sebelum menyerahkannya pada gadis Yamanaka itu. "Panggil semua yang ada di berkas ini. Sekarang!" perintahnya kemudian. Ino segera melakukannya.

Tak lama kemudian, lima orang berseragam Jounin memasuki kantor Hokage. Shikamaru menatap mereka dengan pandangan bosan namun serius. Ia mengesampingkan berkas yang masih menumpuk di mejanya sebelum berbicara.

"Tahanan Aliansi Desa Ninja, Uchiha Sasuke, melarikan diri kemarin dan belum terlacak keberadaannya. Aku menugaskan kalian untuk mencari dan menangkapnya lalu menyerahkannya kembali ke penjara internasional!" tegas Shikamaru.

"Kenapa perkara kaburnya tahanan ADN menjadi tugas Konoha, Hokage-sama?" tanya Neji sopan. Pemuda dari keluarga Hyuuga itu sudah menjadi salah satu Top Shinobi yang kehebatannya sudah menyebar ke penjuru pulau. Tidak ada misi yang tidak bisa diselesaikannya. Oleh karena itu, ia sedikit merasa aneh akan kenapa Konoha harus mengurusi keteledoran ADN yang melepaskan tahanan penjara internasional.

"Aku juga penasaran, Shi—Hokage-sama," timpal Chouji, kali ini sama sekali bebas dari Potato chips-nya. Pemuda yang tadinya gemuk tak berbentuk itu kini sudah menjelma menjadi lelaki gagah yang tak kalah hebat dari Neji. Ia juga termasuk dalam kategori Top Shinobi meskipun tidak seterkenal sang Hyuuga.

"Semua karena Sasuke pengkhianat Konoha, benar?" duga Shino. Pemuda berkacamata hitam yang senantiasa mengenakan syal khas keluarga Aburame itu juga salah satu Top Shinobi yang dikagumi akan kemampuan menyusup tanpa terdeteksi. Ia mengetahui alasan mengapa masalah ADN kali ini menjadi tanggung jawab Konoha.

Shikamaru menghela napas panjang. "Shino benar. Uchiha Sasuke berasal dari Konoha dan menurut aturan ADN, masalah yang ditimbulkan oleh tahanan dari desa ini harus ditangani oleh Konoha pula jika mereka tak dapat mengatasinya," jelasnya.

Neji mendengus, "Padahal berbentuk kerja sama semua desa tapi malah bergantung pada Konoha. Memalukan!"

"Bicara apa kau, Neji! Misi ini bisa menjadi salah satu pengalaman terhebat yang pernah ada! Dan pengalaman terhebat akan semakin memperkuat keteguhan kita sebagai seorang shinobi! YEAH! MASA MUDA!" Seperti biasa, Lee menimpali dengan semangatnya yang membara. Pemuda serba hijau itu juga adalah Top Shinobi yang terkenal sebagai master taijutsu terkuat setelah Maito Gai. Misi seperti apapun pasti akan dilakukannya dengan sepenuh hati.

Sang Hyuuga mendecak, Chouji tersenyum, sementara Shino mengangguk. Sang Hokage menggelengkan kepalanya melihat tingkah mereka… meskipun semenjak tadi ia memperhatikan satu orang terakhir yang menjadi bagian misi kelas S itu.

"Kiba—"

"Melacak Uchiha Sasuke, menangkapnya, lalu menyerahkannya pada ADN, 'kan? Aku mengerti," potong sang Inuzuka dengan nada datar. Mata coklatnya sama sekali tidak menunjukkan emosi apa-apa menyangkut misi tersebut. Pemuda itu juga merupakan Top Shinobi yang sama dengan Aburame Shino; pelacak. Hanya saja, ia terkenal bukan karena kehebatannya—meskipun ia memang tak bisa diremehkan—namun karena ia pendiam. Karena suatu peristiwa, pemuda yang keributannya menyaingi kepopuleran ninja paling ribut dan mengejutkan di Konoha itu menjadi pendiam. Alasan di balik perubahan sifatnya itu pun berkaitan dengan si ninja nomor satu paling mencengangkan di Konoha… dulu.

Sekarang tidak lagi.

"Kiba, aku mengerti apa yang kau rasakan tapi misi ini sangat penting dan kau harus bisa bersikap profesional," ujar Shikamaru.

Hening sejenak sebelum sang Inuzuka membalas, "Aku tahu, Hokage-sama."

Shikamaru menahan diri untuk tidak membuang napas berat. Ia menuliskan sesuatu di selembar kertas lalu menyerahkannya pada Neji yang ia tunjuk sebagai ketua. "Semoga berhasil!" Dan dalam sekejap, kelima sosok yang tadi berdiri di depan meja Hokage lenyap setelah menimbulkan bunyi 'pop' pelan. Misi mulai dilaksanakan, meninggalkan sang Hokage dalam pemikirannya yang panjang… dan berhubungan dengan 'hari itu'.

-.-.-Flashback-.-.-

"Apa?" Shikamaru tak mempercayai pendengarannya.

"Kami memutuskan bahwa kaulah yang akan mewarisi posisi Tsunade sebagai Hokage keenam," salah satu tetua Konoha mengulangi ucapannya.

Sang Nara menatap nenek tua itu sebelum beralih ke Hokage kelima yang menundukkan wajahnya yang suram. Ia dapat menduga bahwa Tsunade sedang menahan amarah yang luar biasa besar, dan ia sedikit banyak mengerti alasannya.

"Kenapa bukan Naruto?" tanyanya, membuat Tsunade menatapnya seakan menyetujui kata-katanya.

Kedua tetua Konoha yang ditanya saling melihat, dan sang kakek membalas, "Kami berspekulasi bahwa kaulah yang pantas untuk menjadi Hokage, bukan Uzumaki Naruto."

Tentu saja seorang jenius dari keluarga Nara itu tidak akan menelan omongan itu mentah-mentah. Ia berpikir cepat dan cermat hingga satu alasan logis meluncur di benaknya. Dan entah mengapa, ia yakin sekali bahwa jawabannya adalah apa yang akan dikatakannya nanti.

"Pemilik Kyuubi sebelumnya adalah seorang wanita dari Klan Uzumaki—yang juga ibu kandung Naruto. Yang menyegel Kyuubi dalam tubuh Naruto adalah Hokage keempat yaitu Namikaze Minato. Karena Anda masih menyebut Naruto sebagai Uzumaki Naruto—bukan Namikaze Naruto, maka jawabannya hanya satu: Anda tidak ingin Naruto menjadi Hokage karena takut Kyuubi akan lepas kendali dan menghancurkan desa ini maupun desa lainnya. Begitu?"

Kedua tetua Konoha dan Tsunade terkejut. Mereka tak menyangka pemuda itu akan sampai pada kesimpulan tepat yang mereka sembunyikan. Keturunan Nara memang hebat.

"Tapi menurutku, alasan itu sama sekali tidak kuat," ucap Shikamaru lagi. "Aku menolak menjadi Hokage!" tegasnya.

Tsunade tersenyum mendengar jawaban itu. Ia mengerti bahwa sang Nara tidak menginginkan perbedaan yang didasari oleh sesuatu yang merupakan kesalahan Konoha sendiri. Ia pun menginginkan keadilan untuk Naruto yang selama ini mati-matian membela desa dengan jalan ninjanya yang kokoh dan tak tertandingi. Menyimpulkan pemuda itu buruk hanya karena memiliki Kyuubi bukanlah keadilan yang sesungguhnya.

"Sayang sekali, Nara-kun, kau tidak bisa menolak," sang nenek kembali berkata.

"Uzumaki Naruto sudah dikeluarkan dari desa ini," sang kakek menimpali, membuat Tsunade—yang sama sekali tidak mengetahui hal itu—dan Shikamaru membelalakkan mata karena sangat terkejut.

"APA MAKSUDNYA—"

"Naruto menyetujui ide ini lalu keluar dari desa dengan keinginannya sendiri. Ia takkan dilabeli sebagai missing nin karena ia bukan lagi shinobi desa Konoha!"

-.-.-End of Flashback-.-.-

Helaan napas panjang terdengar dalam ruangan Hokage. Pria muda bermarga Nara itu masih tak habis pikir kenapa Naruto mau keluar dari desa. Padahal di sini banyak yang menyayanginya seperti Tsunade, yang memutuskan untuk kembali berpetualang dengan Shizune dan Tonton karena kecewa dengan sistem Konoha; Sakura, yang berkonsentrasi di bidang medis yang khusus menyelidiki dan meracik obat untuk penyakit tak biasa, dan memutuskan untuk mengurung diri di desa Suna; Kakashi, yang mewarisi niat menulis Sannin Jiraiya yang sudah meninggal, yang memutuskan untuk menjelajah kondisi luar desa dan kembali hanya saat-saat tertentu saja; Teuchi, yang kehilangan pelanggan terbaiknya; teman-teman Rookie Nine, terutama Kiba, yang dengan beringas menolak isu bahwa Naruto keluar dari desa dan menyebabkannya berubah menjadi pendiam; dan banyak lagi. Hanya kedua tetua Konoha-lah yang tetap pada diri mereka, tak berubah—yang bisa dibilang 'tetap menyebalkan'.

Belum ada kabar mengenai keadaan Naruto hingga saat ini. Meskipun sudah dicari ke berbagai penjuru, hasilnya tetaplah nihil. Tidak ada seorangpun yang tahu di mana dan apa yang sedang dilakukan Naruto sekarang. Mereka hanya bisa berdoa semoga Naruto selalu baik-baik saja. Namun, hal itu berhenti setelah tiga tahun berlalu. Tetua desa memerintahkan beberapa penduduk Konoha untuk menorehkan nama Uzumaki Naruto di atas batu Memorial. Mulai detik nama itu ditorehkan, Naruto dianggap sudah mati. Penduduk desa awalnya tidak percaya, namun, lambat laun mereka tak punya pilihan lain kecuali mempercayai bahwa Naruto memang sudah tiada. Yang masih bersikeras bahwa sang Uzumaki masih hidup di suatu tempat hanya segelintir orang yang tekadnya bertambah kuat setelah dibangkitkan pemuda itu. Meskipun mereka tak lagi menyinggung soal Naruto, mereka yakin bahwa teman mereka itu ada di suatu tempat. Mereka meyakininya dalam hati… seperti sang Hokage keenam yang percaya bahwa suatu hari nanti, pemuda itu akan pulang untuk mengambil apa yang menjadi haknya.

-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-

"Sasuke…"

"Daripada bersikeras untuk membawaku pulang, bukankah lebih baik kau berlatih untuk menjadi Hokage?"

"Seseorang yang tidak bisa menyelamatkan temannya sama sekali tidak pantas menjadi Hokage. Iya 'kan, Sasuke?"

"… Waktu itu, aku tidak membunuhmu karena aku tidak ingin mengikuti jalan Itachi. Sekarang, aku akan membunuhmu karena aku ingin."

"Kau… tidak akan bisa memutuskan ikatan ini!"

Dan Sasuke terbangun dengan peluh di sekujur tubuhnya. Napasnya sedikit terengah-engah seperti baru berlari jauh tanpa berhenti. Rasa sakit dari luka-lukanya merambat hingga membuatnya meringis kesakitan. Namun, ia sadar bahwa rasa sakit itu tidak seperti awal ia terbangun setelah diamuk badai. Rasa sakit yang kini dirasakannya sudah jauh berkurang. Ternyata pengobatan yang diterimanya sangat efektif.

"Kau tidak apa-apa?"

Dahi Sasuke terasa dingin oleh sesuatu yang diletakkan Arashi yang baru saja bertanya padanya. Rupanya sesuatu yang dingin itu adalah handuk kompres berwarna putih yang di atasnya diletakkan beberapa balok es kecil dalam plastik. Dari benda tersebut, ia bisa menyimpulkan bahwa demam menyerangnya. Tidak terkecuali rasa panas yang menjalari tubuhnya dan peluh yang membasahi kulitnya. Wajar saja. Luka yang diterimanya sangat besar dan dalam jumlah banyak. Hanya orang aneh yang tidak mengalami demam setelah terluka sedemikian parahnya.

"… Hn."

Sejenak, Arashi tak percaya dengan balasan singkat sang Uchiha. Namun, ia tak ingin mengungkitnya lebih jauh. Pemuda yang ditemukannya itu harus beristirahat banyak agar obat yang diminumkannya tadi bisa bekerja dengan baik.

Jemari kecoklatan terasa membelai helaian raven Sasuke, membuat pemuda itu menatap sang pemilik jemari dengan tajam. Ia tidak suka diperlakukan seperti anak kecil, karena meskipun ia sedang sakit, ia bisa mengurus dirinya sendiri. Ia bisa MENENANGKAN dirinya sendiri TANPA perlu bantuan orang lain. Terima kasih. Namun, tampaknya pemuda yang mendapatkan trade mark-nya itu sama sekali tidak terpengaruh—atau tidak peduli?

"Aku tahu apa yang kau pikirkan, tapi lebih baik kau turuti saja perkataanku sampai kau pulih," ucap Arashi tanpa menatap balik sang Uchiha. Ia sedang membaca sebuah buku lumayan tebal yang diletakkan di depannya. Jemari kanannya membelai rambut Sasuke, dan jemari kirinya mengganti halaman yang sudah selesai ia baca. "Setelah itu, lakukan sesukamu," gumamnya kemudian.

Entah apa yang membuatnya merasakan hal seperti ini, Sasuke mendapati dirinya perlahan nyaman dengan perlakuan orang asing itu. Apa lebih baik ia sebut sebagai penyelamat? Tidak. Mau dalam keadaan apapun ia diselamatkan, pemuda itu tak lebih dari 'kebetulan'. Kebetulan lewat di hutan Timur—entah apa yang dilakukannya tempo itu, kebetulan melihatnya yang sekarat, kebetulan mempunyai gubuk untuk berlindung, kebetulan mempunyai kemampuan medis, kebetulan baik hati—atau lebih bisa dibilang 'tukang ikut campur masalah orang lain', begitulah anggapannya, dan kebetulan masih hidup. Kalau orang itu sudah mati tentunya ia tidak akan berada dalam kondisi sekarang, benar?

Ah, menyedihkan. Usahanya melarikan diri dari penjara malah membuahkan hal yang hanya kebetulan. Kalau seandainya kebetulan bisa dirancang, ia ingin kebetulan bertemu dengan Naruto yang kebetulan memang sedang mencarinya dan ingin membawanya pulang. Yah, tentu. Mimpi yang bagus. Mana ada kebetulan yang menyenangkan seperti itu? Kalau pun memang ada, tidak mungkin terjadi pada dirinya. Kami-sama sudah lama menghilang dari sisinya, menyisakan iblis dan kebencian bernama dendam… yang hingga sekarang masih membuncah dalam hatinya.

Kau… tidak akan bisa memutuskan ikatan ini!

Seruan Naruto saat itu masih terngiang dalam benaknya. Meskipun sudah lima tahun berlalu semenjak pertemuan mereka yang pertama setelah tiga tahun berseberangan, Sasuke masih jelas mengingatnya. Nada suaranya, ekspresi wajahnya, penampilannya, semua tentang Naruto yang baginya tidak berubah. Masih sama… Naruto yang dulu selalu mengejarnya—tidak, Naruto yang hingga kini juga masih mengejarnya. Kenapa ia bisa yakin akan hal itu? Karena Naruto tidak akan berubah. Naruto akan terus menjadi Naruto yang istimewa bagi dirinya. Itulah harapannya.

Pertarungan yang mereka janjikan sama sekali tidak terjadi. Setelah Madara mentransplantasikan mata Itachi, kakek itu pergi ke Konoha untuk melancarkan Moon Eye Plan-nya. Namun, seperti yang sudah ia duga, Naruto dan Killer Bee, Jinchuuriki ekor delapan, membantu Konoha sehingga rencana Madara terpatahkan dan akhirnya kakek abadi itu mati. Ternyata, keabadian Madara tidak sanggup mengalahkan chakra Kyuubi, yang merupakan bagian terkuat dari Jubi. Setelahnya, Aliansi Desa Ninja mengoyak semua bagian dari rencana Madara, termasuk dirinya. Tentu saja ia memberontak, namun, efek transplantasi mata Itachi membuatnya lemah sehingga ia pun tertangkap dan dimasukkan ke dalam penjara internasional khusus kriminal kelas A – S. Maksud khusus di sana adalah penyiksaan, baik mental maupun fisik. Terus dan terus disiksa hingga akhirnya mati.

Apa yang akan kau lakukan seandainya kau berasal dari keluarga bermartabat tinggi yang terbiasa mendapatkan apa yang kau mau? Tentu saja kau akan melarikan diri dari tempat memuakkan itu untuk mencari tempat matimu sendiri. Dan itulah yang dilakukan Uchiha Sasuke, keturunan terakhir Klan Uchiha.

Ia melarikan diri dari penjara internasional dengan mengerahkan segenap kekuatannya. Dalam kondisi parah akibat penyiksaan yang diterimanya, ia berhasil mengalahkan penjaga khusus lalu menghilangkan diri ke hutan. Untunglah chakra-nya sudah sangat melemah sehingga aura hutan bisa menutupi keberadaannya… hingga sampai ke tempat ini… tempat Arashi.

Tunggu. Kalau ia berangsur pulih, tentunya akan memudahkan Aliansi Desa Ninja untuk menemukannya, bukan? Kalau benar begitu, ia tak boleh terus-terusan berada di tempat ini! Ia harus segera pergi ke Konoha! Ia harus segera berada di sisi Naruto! Ia takkan mau kembali ke tempat memuakkan itu lagi meskipun Naruto menyerahkannya pada aliansi tersebut. Lebih baik ia mati… mati di tangan sang Uzumaki.

Ya. Itulah tujuannya yang sesungguhnya.

"Pengobatanmu… sampai kapan?" Sasuke tak bisa menahan mulutnya untuk menanyakan pertanyaan bodoh seperti itu. Tapi ia harus tahu. Ia harus tahu agar bisa pergi secepatnya.

Arashi menoleh sekilas sebelum kembali membaca bukunya. "Kau ingin aku bohong atau jujur?" tanyanya balik.

Mendengus, Sasuke membalas, "Terserah."

"Kalau begitu, bohong; luka-lukamu akan pulih dua-tiga bulan ke depan," jawab pemuda berambut merah.

"… Jujur?"

Arashi menghela napas, "Jujur; luka-lukamu akan pulih lusa. Aku punya kemampuan khusus dalam menyembuhkan luka, dan kau tidak perlu kaget lukamu bisa pulih secepat itu."

Meskipun tetap pada wajah stoic-nya, Sasuke sedikit terkejut dengan jawaban jujur sang Mori. Ia tidak yakin jujur itu memang berarti kebenaran atau malah jujur dalam garis miring. Ia hanya bisa berharap bahwa jujurnya sang pemuda benar. Ia tak mungkin bertahan di tempat ini lebih dari seminggu. Waktunya tak sebanyak itu… tidak jika kematian terus memburu.

"Hei, jangan terlalu banyak berpikir dulu, Sasuke!" tegur Arashi seakan mampu menembus ruang pikiran sang Uchiha. "Sudah kubilang untuk istirahat, 'kan? Istirahat itu dimaksudkan untuk menenangkan tubuh dan otak. Jadi, lenyapkan masalahmu sejenak dan non-fungsikan kinerja tubuhmu sementara. Atau perlu aku yang melakukannya?"

"…"

Karena tidak ada balasan, Arashi kembali menolehkan kepalanya dan mendapati kelopak mata sang Uchiha yang menutup setengah. Jemari kanannya masih bermain di helaian raven pemuda yang tampaknya akan segera terbang ke alam mimpi… membuatnya tersenyum.

"Oyasumi," bisiknya setelah Sasuke memejamkan matanya. Arashi pun kembali membaca bukunya.

Sweet dreams, Dear friend.

-.-.-TBC-.-.-

Okeh, chapter pertama! Mungkin banyak yang ngebingungin dari fanfic ini—atau malah gampang ketebak? *grin* Tunggu aja lanjutannya ya~

Mind giving me reviews? As usual, don't waste your time for leaving me flames! ^^

_KIONKITCHEE_