Tersembunyi di balik bayangan, aku merasakannya. Ketika langit hitam tersentuh sinar pertama fajar, dia memaksaku bangun. Tak ada penolakan, tak bisa melakukan penolakan. Semua hanya tergenggam dan dilakukan tanpa tanya. Yah, dia menginginkan segala yang diinginkannya terwujud. Dan aku benar-benar mengerti apa yang diinginkannya. Paham bahwa keinginannya hanya satu—
Untuk seorang lelaki yang bersematkan nama Ivan terhapus dari muka bumi ini.
Sosok sang "Ivan" ini, hanya dia yang benar-benar mengetahui rupanya. Dan untukku, dia hanya memperlihatkan bayangan. Namun sekalipun hanya bayangan, aku bisa merasakan.
Monster.
Tetapi bukan sesuatu yang akan menyembur dalam amukan panas. Bukan sesuatu yang begitu kasat mata. Ia monster, ya, namun juga tak bisa diraih. Tak bisa disentuh dengan ujung kuku jari. Tersembunyi dalam kedalaman yang hampir nisbi dan sulit disampaikan dengan leksikal apapun jika memang tak ada usaha menggapainya. Seperti—
—leviathan.
. . .
LEVIATHAN
6 – foist
Disclaimer:
Hetalia © Hidekaz Himaruya
Warnings:
AU. OOC. Mind connection? Plot kusut. Slight reference to Cold War.
. . .
"Hei, Orang tua."
"Berhenti memanggilku orang tua, Alfred. Aku Kepala di sini."
"Terserah kau saja. Tapi, hei, kau menyingkirkan wanita itu? Aku bisa merasakan ia bagian dari mereka."
"Siapa? Elizaveta maksudmu? Aku tak menyingkirkannya." Dahi yang mengernyit. "Dia pergi sendiri. Hanya muncul sekali."
"Hahaha. Sudah sepatutnya di hadapan Hero!"
"Tapi kurasa—" Ludah tertelan. "—dia sudah mati. Sepertinya sesuatu telah terjadi."
"Ya. Ralph juga." Nada yang ringan.
Mata yang membesar. "Apa? Ralph katamu? Sial!" Helaan napas. "Sekarang aku harus mencari dua pekerja baru. Bagaimana bisa?"
Kedikan bahu. "Aku kurang cepat membunuh bidak mereka. Apa boleh buat. Tapi kalau kau mau, Matthew bisa menggantikan Ralph. Dia bisa dipercaya."
"Entahlah, Al. Tetapi kalau ditambah dengan saudaramu, segalanya akan semakin berbahaya di sini. Aku tak bisa mempertaruhkan lebih banyak orang. Cukup kau dan aku saja yang tahu."
"Ah, ya. Aku lupa kalau anak sulungmu juga masih digenggam mereka. Siapa namanya? Galby?"
"Gilbert. Karena ia tertangkap adiknya jadi seperti ini." Helaan napas. "Tapi... sebenarnya aku tak terlalu khawatir padanya. Lebih baik dia yang ada di tangan mereka daripada Ludwig. Aku percaya Gilbert bisa melakukan sesuatu untuk meloloskan dirinya. Kau dan aku sebaiknya tetap berjaga di sini."
"Baiklah..." Helaan napas. "Aku masih tak bisa mengerti pemikiran kalian, keluarga Beilschmidt."
. . .
Sebuah ruangan berukuran median berpenerangan apa adanya. Tak cukup untuk mencapai sudut-sudut dari dinding yang bertemu, hingga tersisa pulasan hitam dari penumbra. Namun sinar itu cukup untuk menjangkau sosok yang terduduk di sebuah kursi berlapis beludru dengan warna seperti darah—begitu merah hingga di bawah temaramnya sinar tampak seakan hendak meleleh menodai sekujur tubuh yang tengah bersandar padanya. Kontras dengan beludru merah, ia mengenakan mantel tebal berwarna biru gelap dengan bulu-bulu penghangat menutupi leher jenjangnya. Rambut pirang platinum terpulas oleh sinar lampu hingga tampak lebih kelam.
Sayangnya keelokannya hanya sampai di wajah dan eksterior. Karena di dalam dirinya, hanya ada dingin—menyelimuti hatinya yang telah mulai lapuk sejak lama. Oh ya, hati siapa tidak akan lapuk ketika sang terkasih tak bisa membuka matanya? Ketika realitas mengecewakannya? Dan karena itu mata sang gadis, sekalipun tajam saat berniat menembus jiwa orang lain, kini tenggelam dalam sendu pilunya. Sayu, ditemani bayangan yang mencoba menggapai-gapai sosoknya dari balik punggungnya yang membungkuk terbebani kesedihan.
Mendadak ia mendengar suara langkah sepasang kaki—pertama, kosong lalu pelan, hingga akhirnya sejelas lonceng sebelum berhenti tepat di belakangnya. Sang gadis tak bergeming. Ia mendengar seseorang menghela napas sebelum sepasang tangan yang familier melingkari lehernya. Ah, ya, sosok yang sangat ia kenali.
"Oh, Natalia. Jangan bersedih lagi," ujar sosok itu di telinganya. Suara seorang perempuan yang telah lama hadir dalam hari-harinya.
Sudut bibirnya terangkat dalam senyuman tawar. Kepalanya menggeleng pelan.
"Tidak, Kakak. Aku tidak bersedih."
Sekali lagi ia mendengar helaan napas. Merasakannya menyapu kulit di daun telinga dan pipinya.
"Aku tahu kau berbohong, Natalia. Jangan khawatir, usaha kita tak akan sia-sia. Ivan pasti akan membuka matanya." Sang kakak terus menghiburnya.
Namun sang gadis yang berada di rengkuhan tangan itu hanya merasakan senyumannya semakin terasa pahit. Tak ada yang bisa diperbuat selain menunggu. Menanti sepasang bola lembayung terindah yang pernah ia lihat untuk kembali menatapnya, membawanya keluar dari pelukan dunia agar tak ada perih lagi di hati mereka. Ya, untuk ia, kakak perempuannya, dan yang lain yang bersama mereka.
Sayu matanya terangkat, menatap dinding berbayang gelap di depannya. Seakan bisa menerobos bentukan konkret itu, sang gadis membayangkan garis bentuk sesosok manusia yang tengah terbaring di ruangan di depan matanya. Seorang laki-laki muda yang tak pernah melepas dingin dari genggaman tangannya, berselimut tebal dengan syal melingkar di leher.
"Kakak—"
. . .
Tok. Tok. Tok.
Bunyi ketukan cepat berlalu lewat lembaran kayu tebal bernama pintu di rumah kediaman Kirkland. Seorang pemuda berambut pirang dengan sepasang bola lembayung lembut di soket tengkoraknya bergegas membukakan pintu. Menemukan seorang anak kecil yang baru berusia delapan tahun berusaha menormalkan regulasi napasnya yang pendek sampai ke frekuensi biasa. Namun sebelum sang pemuda sempat menemukan kata-kata, anak itu sudah menerjangnya terlebih dahulu hingga terjungkal.
"Arthur!" seru anak itu. Namun begitu membuka matanya, mimik wajahnya berubah menjadi penuh tanya.
"Eh, halo," sang pemuda berbicara pelan. "Maaf aku bukan Arthur, Peter."
"Oh, ya." Peter melepaskan dirinya dari sang pemuda dan menunggunya berdiri kembali sebelum bertanya, "Siapa namamu lagi? Aku lupa."
Terdengar helaan napas menyertai kalimat Peter yang tidak bisa disebut sopan untuk anak seusianya dari arah sang pemuda. "Namaku Matthew, Peter. Ingat itu baik-baik!"
"Ya! Sekarang bisa kau beritahu aku di mana Arthur sialan itu?" balas Peter cepat.
Ia hanya bisa menggeleng mendengar kata-kata yang diucapkan anak itu untuk menyebut sang sepupu yang lebih tua. "Dia di tempat kerja dan tak akan pulang sebelum senja."
Segera saja air wajah sang anak berubah kecut penuh cemberut. "Padahal aku sudah datang kemari. Dasar Arthur sialan!"
"Sudahlah. Apa kau mau menunggu—"
"Tidak!" potong Peter cepat. "Lagipula ada hal lain yang lebih penting untuk kulakukan daripada menunggu si brengsek itu pulang."
Matthew menganggukkan kepalanya pelan. Ia menyaksikan anak itu membalikkan punggungnya.
"Baiklah. Aku pergi. Sampai jumpa, err—"
"Matthew! Namaku Matthew!" ia mengingatkan. Namun tampaknya nihil, karena sang anak sudah tinggal landas berlari ke jalan.
"Ya!" seru Peter dari kejauhan. Ia tak pernah melihat sorot mata Matthew yang berubah menjadi aneh.
. . .
"Dia telah datang."
"Benarkah? Siapa kali ini?"
"Seorang anak kecil. Jangan khawatir! Hero akan mengatasinya, Matt."
. . .
Siang itu terasa begitu membosankan untuk Peter Kirkland. Sepupunya sedang bekerja, lalu orang-orang itu yang tinggal bersama Arthur tidak cukup menyenangkan untuk diajak bermain. Teman-temannya tengah berlibur sendiri-sendiri. Tapi ia—dengan tidak kerennya—ditinggal sendirian.
Dan sudah lama ia tahu, sendirian itu tidak asyik.
"AA! Aku bosan!" serunya di tengah taman yang hampa pengunjung.
Mendadak saja ia merasakan bulu kuduknya berdiri tanpa sebab. Napasnya terpompa pendek. Ia melirik ke segala arah. Sepi. Tak ada orang. Lalu yang tadi—
Ia merasakan sepasang mata mengawasi tajam di arah punggungnya. Ketika ia membalikkan badan, sebuah senyuman lebar pecah di wajahnya. Seorang anak lelaki berdiri di seberang jalan. Segera saja ia berlari menghampiri anak itu. Tak mempedulikan fakta bahwa anak itu berwajah pucat dan pandangannya kosong.
"Hei, kau baru di sini, ya? Siapa namamu?" tanya Peter.
Mata yang tampak mati itu bertemu dengan matanya sendiri. Ia terhenyak sedikit, dada berdebar menanti jawaban keluar dari mulut berbibir pucat itu. Lalu perlahan kepala anak itu mengangguk. Sekali.
"Raivis," pelan anak itu mengutarakan namanya.
"Oh," Peter mengedipkan matanya, sedikit heran dengan volume suara anak itu. Namun ia menyampingkan fakta itu dan mengulurkan tangannya sambil tersenyum lebar. "Halo, Raivis, namaku Peter."
Raivis tak bergeming untuk beberapa saat, sebelum akhirnya perlahan—sangat perlahan—mengangkat tangannya dan menyambut tangan yang diulurkan anak berambut pirang itu. Kirkland muda melemparkan senyuman lebar yang tak lekang walaupun tangan mereka telah lepas.
"Kau baru ya, di sini? Aku tak pernah melihatmu sebelumnya di sini."
Kepala Raivis mengangguk, namun mulutnya rapat tertutup.
"Di mana kau tinggal?" tanya Peter.
Raivis menoleh ke ujung jalan dan menunjuk ke sebuah rumah yang berada di ujung jalan. Peter mengikuti arah yang ditunjukkan telunjuk anak itu. Dahinya mengernyit mengenali rumah itu. Teman-temannya berkata kalau rumah itu berhantu. Oh, ya. Sebuah rumah yang kumuh karena lama ditinggal penghuninya pindah ke luar kota, dengan dinding yang terkelupas, memperlihatkan bata-bata berwarna kusam, lalu pintu yang berkerak.
"Kau tinggal di sana?" ulang Peter.
Raivis menganggukkan kepalanya.
"Keren! Sudah lama aku ingin ke sana. Kau tahu, rumor tentang hantu di rumah itu!"
Raivis hanya mengangkat alisnya, namun matanya menunjukkan sedikit ketertarikan.
"Bisa kita ke rumahmu?"
Beberapa saat terlewat sampai Raivis menganggukkan kepalanya. Kedua anak itu berjalan menuju rumah yang masih tampak tak terawat. Hawa dingin datang dari kesunyian rumah dan membuat atmosfer yang kurang menghendaki kehadiran kedua anak itu. Dengan hati-hati, Peter membuka pintu. Matanya terjatuh ke dinding yang catnya terkelupas di sana dan di sini. Kayu yang menyusun lantai telah berlubang di banyak tempat. Suara decitan dan langkah-langkah tergesa tikus yang berlarian di sudut-sudut rumah terdengar sesekali.
"Sepi sekali. Orang tuamu sedang pergi bekerja, ya?" tanya Peter, menoleh sejenak ke arah teman barunya yang masih mengekor di belakang.
Raivis hanya mengangguk sekali. Kirkland muda itu sedikit merasa heran. Ia menyadari sesuatu dari temannya telah berubah sejak mereka memasuki rumah itu. Namun ia tak bisa membaca apa itu. Jadi ia menafikkan hal itu dan kembali menyusuri lantai dengan hati-hati.
Ia berhenti di bawah tangga, di mana sebuah lubang besar menganga di lantai, memperlihatkan ruang basement yang cukup besar dan dalam. Matanya berusaha melihat dalam gelap apa yang ada di dalamnya. Mendadak ia merasakan angin bertiup dari bawah, membuat bulu kuduknya berdiri. Seakan ada sepasang mata menusuk tajam dari balik punggungnya. Ia mulai merasa takut, namun mencoba tak mengabaikannya. Karena ada teman barunya di sini—tentu ia tak ingin disebut penakut, kan?
"Raivis, bisa kau ke sini? Aku tak bisa melihat apa-apa," ujarnya.
Ia hanya mendengar saja ketika sepasang kaki datang dari arah belakang dengan langkah cepat. Namun sejenak sebelum sang pemilik kaki mencapai tubuhnya, tiba-tiba saja ia merasa tubuhnya membeku—lalu ia mendengar bisikan kecil di otaknya yang menyuruhnya melangkah ke samping. Tanpa sadar ia menuruti perintah bisikan asing. Saat itulah ia melihat dari sudut matanya, sang pemilik langkah kaki—teman barunya—terjatuh langsung ke lantai basement. Ia sempat melihat wajah Raivis yang sebelumnya tanpa ekspresi berubah penuh keterkejutan, sebelum kepala anak itu menghantam lantai keras basement.
"Raivis! Raivis!" panggilnya.
Namun teman barunya itu tak bergerak sama sekali. Tak ada respon. Jantungnya berdenyut cepat. Peluh dingin mulai merembes ketika ia menyadari sesuatu. Mata Raivis jauh lebih kosong dari ketika saat pertama mereka bertemu.
Mati. Anak itu sudah mati.
Peter, segera setelah menyadari apa yang telah terjadi, merasakan ketakutan yang jauh lebih besar dari ketakutannya akan rumah berhantu ini sebelumnya. Ia sudah membunuh seseorang, walau tanpa sengaja.
"Aku... Aku..." Ia memandang ngeri pada tubuh anak lelaki yang lain, berbibisik pelan, "...pembunuh."
Tanpa dikomando sepasang kakinya telah berlari keluar dari rumah kumuh itu menuju ke rumahnya sendiri. Ia meringkuk di sudut kamarnya. Jantungnya tak pernah melambat. Matanya berkaca-kaca oleh air mata kengerian.
"Aku—" Bisikan pelan, terus terulang-ulang.
"—pembunuh."
(to be continue)
.
Kenapa... aah! Saya gak nyangka bakal bisa nyelesaiin chapter ini. Setelah saya tinggal menyelam di tugas-tugas dan laporan plus ekspedisi (baca: ngalas) yang menyerang saya terus di RL, sampai muse saya ilang. Menguap. Blas ding dong ;w; - tapi, ternyata saya terbukti salah... Uhuhuhu #lebehle
Dan maaf untuk yang nunggu updatenya fic ini—ah, tapi siapa sih yang nunggu. Saya yakin fic ini sudah lama terlupa gara-gara penyakit malesnya author satu ini .w. – dan ketika sudah update, jadi half-asses gini dengan hints yuri di depan orz #isfaillikethat
Tapi, saya masih akan merasa begitu bahagia jika milord/milady/fair maiden menyisihkan waktu 30 detik untuk review? Bitte? #dogeza
-knoc
