Falling In Love

Naruto © Masashi Kishimoto

Warning: OOC, Typo, Fanon, AR dan AH

Enjoy...

.

.

.

Chapter 5: Sweet Day

Gadis berambut merah muda itu tampak sempoyongan saat berjalan di trotoar jalan. Dia kelihatan mabuk sekali. Sepasang hazel terus mengawasinya dari belakang, tatapan matanya terlihat sangat khawatir. Ingin sekali dia berjalan di samping gadis tersebut, namun apa daya? Ini belum saatnya.

Langkah gadis ini semakin terhuyung-huyung bagaikan diterjang angin yang sangat kencang. Akhirnya dia memilih duduk di salah satu bangku yang ada di trotoar jalan. Kepalanya menengadah ke atas, memandang langit yang hanya dihiasi bulan sabit.

"Bulan sabit... ini seperti bulan ketika pertama kali aku dan Sasori-kun jalan berdua." Sakura tersenyum miris saat memandang bulan. Tangannya mencoba melukiskan bulan sabit yang terlihat seperti senyuman di udara.

Sasori yang duduk di kursi yang dipisahkan oleh pohon dengan kursi yang Sakura duduki mendengarkan dengan seksama apa yang Sakura ucapkan. Dia pun ikut memandang langit.

"Tapi... karena aku, Sasori-kun dan Deidara-san jadi susah. Entah sekarang mereka tinggal di mana." Sakura berbaring dengan posisi menyamping di kursi yang panjang tersebut. "Aku merindukanmu, Sasori-kun... Maafkan aku, Sasori-kun, Deidara-san," gumamnya. Sasori tersenyum mendengarnya.

Beberapa menit Sasori tidak mendengar suara Sakura, dia memutuskan untuk mengintip dibalik pohon pembantas mereka. Sasori mengangkat kedua alisnya ketika melihat Sakura yang tertidur di kursi berwarna cokelat. Dia tersenyum simpul, lalu segera bangkit dari duduknya dan menghampiri Sakura yang tertidur.

Sasori berjongkok tepat di depan wajah Sakura. Dia mengamati wajah yang kelihatan sangat lelah itu, kemudian dia tersenyum tipis. Pria ini segera menggendong Sakura di punggungnya.

"Ngggg..." erang Sakura dalam tidurnya, namun dia tidak sadar kalau Sasori sedang menggendongnya. Sasori menolehkan kepalanya melihat wajah Sakura yang menopang di bahu kanannya. Dia lagi-lagi tersenyum dan kembali memandang lurus ke jalanan di depannya.

~FALLING IN LOVE~

"Nggg... hoaaaampp~" Sakura menggeliat di atas kasurnya kemudian dia kaget karena dia berada di kamarnya yang nyaman.

Sakura langsung duduk di kasurnya dan mengucek-ucek matanya. Tapi, dia memang benar-benar berada di dalam kamarnya. Seingatnya semalam dia tiduran di kursi jalanan, namun kenapa ia bisa ada di dalam?

Tok tok tok...

Terdengar bunyi ketukan dari pintu kamar Sakura, dan muncullah Ibu Sakura dengan membawa nampan yang berisi makanan untuk sarapan Sakura. Ibu Sakura tersenyum padanya dan melangkah masuk lalu duduk di pinggir ranjang Sakura setelah meletakkan nampan berisi makanan tersebut di meja lampu yang ada di samping tempat tidurnya.

"Kau sudah enakkan?" tanya ibunya.

Sakura mengangguk. "Kenapa aku bisa ada di sini, bu?" tanya Sakura dengan bingung. Ibunya tersenyum menatap Sakura.

"Seorang pemuda berambut merah yang menggendongmu sampai rumah," jawab Sang Ibu. Sakura menautkan alisnya memikirkan siapa pemuda berambut merah yang berbaik hati mengantarkannya pulang dengan menggendongnya sampai rumah. Bayangan wajah Sasori melintas di benaknya.

"Apa pemuda itu memiliki mata hazel?" tanya Sakura antusias. Ibunya menutup hidung dengan tangannya karena menicum bau alkohol dari mulut Sakura.

"Kau bau sekali! Cepat sarapan, lalu mandi!" seru Ibunya tanpa menjawab pertanyaan Sakura, lalu ia berdiri dan melangkah menuju pintu.

"Ibu! Jawab dulu pertanyaanku! Apa dia memiliki mata hazel?" teriak Sakura sambil merangkak dari tengah kasurnya ke tepi kasur.

Si Ibu berhenti tepat di depan pintu, dia membalikkan badannya dan tersenyum pada Sakura. "Iya benar." Sakura tersenyum lebar mendengarnya. Sang Ibu hampir saja ke luar dari kamar Sakura, namun dia kembali berbalik ke arah Sakura. "oh iya, dia bilang kalau kau harus menjaga kesehatanmu, jangan mabuk-mabukkan lagi," ujar Ibunya lalu pergi dari kamar Sakura.

Sakura merebahkan diri di kasurnya. Dia mendekap bantal strawberry sambil tersenyum lebar. Walaupun dia tidak melihat wajah Sasori saat itu, tapi dia merasa kalau Sasori akan selalu ada di sampingnya dan menjaganya.

~FALLING IN LOVE~

Pemuda berambut seperti pantat ayam sedang duduk menopang dagu di kamarnya. Tangan kanannya yang bebas segera mengambil sebuah ponsel yang tergeletak di atas meja. Saat ia menyentuh ponsel Touch Screen tersebut, ia melihat wallpaper seorang gadis bermata emerald sedang tersenyum lebar sambil memegang setangkai bunga matahari.

Melihat foto gadis tersebut yang ia jadikan wallpaper ponselnya, ia pun menyunggingkan senyum tipis, kemudian ia menghela napas pelan. Perasaannya berkecamuk, ia benar-benar merasa bodoh dan tidak berguna, ia merasa jahat.

Ia jahat karena telah memperlakukan gadis itu tidak sebagaimana mestinya. Ia bodoh karena tidak mampu membuka mata melihat ketulusan cinta gadis itu. Ia tidak berguna karena selama ini tidak pernah berbuat apapun demi gadis itu. Dan ia pantas untuk ditinggalkan, karena ia tidak sebanding untuk mendapatkan cinta gadis itu.

Sasuke berjalan ke arah jendela kamarnya yang besar. Ia memegang bingkai jendela dan memandang langit sore yang perlahan memudar. "Aku menyesal telah menyia-nyiakanmu," gumamnya pada diri sendiri.

~FALLING IN LOVE~

Seminggu sebelum perlombaan, Sakura dkk berlatih dengan sangat serius, bahkan jadwal latihan mereka semakin padat. Jadwal latihan yang memadat membuat Sakura tidak punya kesempatan waktu luang untuk mencari tahu di mana keberadaan Sasori sekarang. Sakura sudah mencoba menghubungi Sasori namun hasilnya nihil.

Hari ke tiga sebelum perlombaan, Sakura tampak gelisah dan resah. Pasalnya dia sudah beberapa kali menelpon Sasori namun nomor Sasori tidak aktif. Rasanya Sakura benar-benar merasa lelah. Hatinya lelah sekali sehingga berpengaruh pada fisiknya. Ia menjadi tak semangat latihan.

Teman-temannya mencoba untuk menyemangati Sakura, hanya saja semangat itu tidak cukup berarti mengingat rasa rindu Sakura yang terlalu dalam. Sedetik saja, Sakura berharap sedetik saja ia bisa melihat wajah Sasori, maka ia akan semangat latihan.

Helaan napas terdengar dari hidung mancung gadis berambut gulali ini. Ia mendongakkan kepalanya melihat langit yang sudah jingga. Sedang apa Sasori sekarang? Apa Sasori merindukannya seperti ia merindukan Sasori?

Tepukan lembut di bahu Sakura membuat Sakura menolehkan kepalanya dan terbebas dari lamunannya. Ino, tersenyum lembut menatap sahabatnya. Ia yakin, sahabatnya ini sedang dalam masalah yang rumit karena ia tidak pernah melihat Sakura yang segalau ini.

"Kau ada malasah? Ceritakanlah, siapa tahu aku bisa membantu." Ino menatap Sakura lembut. Sakura mendongakkan kepalanya kembali memandang langit sore.

"Karena aku, Sasori menjadi susah. Karena aku dia dipecat dan didepak dari apartemennya. Aku merasa seperti pembawa sial saja." Sakura menghela napas. "tapi, aku sangat mencintainya, Ino..." lirih Sakura.

Ino tersenyum lalu ikut memandang langit. "Kejarlah dia jika kau benar-benar mencintainya."

"Aku sudah berusaha, Ino. Tapi nomornya pun tidak bisa dihubungi," Sakura mulai putus asa, terlihat dari suaranya yang bergetar.

Ino mengelus punggung sahabatnya. "Tenanglah, Sakura."

Sakura mengalihkan pandangannya untuk menatap langsung mata aquamarine milik Ino. "Aku takut kehilangannya..." perlahan air mata jatuh di pipi Sakura.

Ino mengelus rambut Sakura lembut. "Tenanglah... aku yakin kalian pasti akan bertemu lagi. Bukankah ia berjanji padamu untuk menontonmu saat kompetisi nanti?" Sakura mengangguk, lalu Ino menatapnya dengan senyum lembut. "kalau begitu, buatlah hadiah pertemuan kalian dengan memenangkan kompetisi itu!"

Sakura membulatkan matanya. Benar apa kata Ino, masih ada satu harapan untuk dia bertemu dengan Sasori. Perlahan cahaya semangat dari dalam hati Sakura mulai menderang lagi. Ia pun menatap Ino dengan senyum lebarnya.

"Ya! Aku pasti akan memberikan hadiah itu untuk Sasori-kun!" Ino tersenyum lebar mendengar kata-kata Sakura.

~FALLING IN LOVE~

Sasori mengelap peluh yang perlahan turun dari pelipisnya. Dia membasuh kepalanya dengan air di westafel. Ia melihat pantulan dirinya sendiri di depan cermin yang ada di atas westafel. Rambut merahnya sudah tumbuh sedikit, ia tidak lagi botak cepak. Ia tersenyum membayangkan dirinya kembali seperti dulu dengan rambut merahnya yang keren.

Deidara berjalan menghampiri Sasori. Ia melihat Sasori yang sedang tersenyum sendiri di depan cermin. Deidara mendengus melihat keabnormalan dari temannya ini. Dengan kasar dia menggeser tubuh Sasori yang sedang berdiri di depan westafel hingga membuat Sasori agak terhuyung.

"Jangan seperti orang gila tersenyum sendiri begitu un!" cibir Deidara sambil membasuh mukanya dengan air westafel, lalu membuka botol pembersih wajah.

"Cih! Suka-suka aku dong!" sahut Sasori, lalu ia tersenyum lagi sambil berjalan meninggalkan Deidara yang sedang memakai pembersih wajah di mukanya.

"Dia benar-benar gila un," gumam Deidara yang melihat Sasori berjalan dengan cengengesan.

~FALLING IN LOVE~

Langit sudah berubah menjadi hitam. Tidak ada satu pun bintang yang menggantung di langit. Tidak lama kemudian suara tetesan hujan mulai turun membasahi bumi, membuat sebuah bunyi gemericik di atas genting. Perlahan hujan yang sedikit menjadi deras, hingga terlihat aliran di jendela kamar Sasori.

Sasori menghampiri jendela dan meletakkan telapak tangannya di kaca jendela. Ia bisa melihat dirinya sendiri dari pantulan kaca. Ia dekatkan wajahnya ke kaca lalu menghembuskan napasnya hingga menimbulkan embun di kaca tersebut. Ia menggambar seorang gadis yang sedang membawa sebuah payung bersama seorang pria.

Sasori tersenyum kecil melihat hasil gambarnya. "Aku merindukanmu... tapi, sebentar lagi kita akan bertemu." Sasori menghela napas pelan. "apa di sana kau merindukanku juga, Sakura?" gumamnya.

Hujan di luar terlihat sangat deras sekali. Sesekali kilatan petir menyambar menglukiskan garis zig-zag di langit malam. Dan perlahan gambar yang Sasori buat menghilang terkena tekanan suhu. Sasori pun menutup gorden jendela dan menuju tempat tidurnya untuk menuju alam mimpi. Semoga saja ia bertemu dengan orang yang ia rindukan.

~FALLING IN LOVE~

Gemuruh sorak-sorai terdengar meriah di sebuah halaman milik Konoha Mall. Di tengah halaman itu terdapat sebuah panggung besar yang sedang menampilkan sepuluh penari yang menampilkan tariannya. Iringan musik hip hop dan R&B menjadi pengiring tarian mereka.

Ketika musik berhenti, gerakan mereka pun berhenti dengan pose yang keren dan memukau, maka tepuk tangan pun membahana di sekitar panggung itu. Jeritan histeris para gadis terdengar saat melihat pria-pria tampan di atas panggung yang tadi menari. Sedangkan para cowok pun tidak tinggal diam, mereka bersiul sambil menggoda satu-satunya wanita yang ada di antara grup penari itu.

Setelah grup penari itu turun dari atas panggung, terlihat sebuah motor matik baru memasuki kawasan mal tersebut. Gadis yang mengendarai motor pun terpaksa mengantri panjang di antrian karena para pengunjung membludak, mereka tentu saja ingin menonton dance competition yang diadakan di mal ini. Gadis ini merasa cemas, dahinya mulai berkeringat saat mendengar riuh tepuk tangan dari arah panggung. Ia tidak bisa melihat dengan jelas siapa yang baru tampil tadi.

Setelah antri selama lima belas menit, akhirnya ia berhasil masuk ke dalam parkiran. Tapi matanya membulat dengan mulut menganga melihat begitu penuh parkiran tersebut. Sayup-sayup dia mendengar nama grup tarinya di sebut oleh si pembawa acara. Gadis inipun panik, dan dengan seenaknya dia memarkirkan motornya, tidak memedulikan teriakan para petugas parkir yang memanggilnya.

Gadis ini meringsek masuk lebih dalam menuju belakang panggung. Lagi-lagi ia mendengar pembawa acara memanggil nama grup tarinya, dan ia melihat teman-temannya satu persatu naik ke atas panggung. Dan dengan sekuat tenaga ia masuk lebih dalam ke belakang panggung.

Dewi fortuna sedang berpihak pada gadis yang masih memakai helm-nya ini. Beberapa pria yang berambut klimis, memakai cadar, berambut hitam panjang, berwajah seperti ikan hiu, berambut oranye dengan tindikan di telinganya dan seorang gadis berambut ungu membukakan jalan untuknya. Ia pun mengucapkan terima kasih yang hanya dijawab dengan senyum oleh mereka.

Setelah berhasil sampai di belakang panggung, gadis ini segera menghampiri gadis berkuncir empat yang kelihatan sedang panik sambil mondar-mandir. Ia segera membuka helm-nya. Gadis berkuncir empat pun menolehkan kepalanya dan melihat seseorang yang ia tunggu akhirnya datang menghampirinya.

"Sakura! Cepat naik ke atas panggung!" perintahnya dengan cemas. Sakura pun menggangguk dan membuka jaket, tas dan menyerahkan helm pada Temari. Untunglah ia sudah menyiapkan penampilannya dari rumah. Riasannya memang agak luntur tapi yang dinilai bukan riasan dalam kompetisi ini, melainkan gerakan tariannya.

Melihat temannya yang hampir membuat jantung mereka copot karena saking takutnya didiskualifikasi telah naik ke atas panggung, Ino, Tenten, Sai dan Naruto menghela napas lega sambil mengelus dada mereka. Sang pembawa acara pun segera menyambut kedatangan Sakura dengan mengajaknya bersalaman lebih dulu.

Grup tari Sakura menempati posisi masing-masing. Sakura berada di depan, Tenten dan Ino berada di belakangnya, lalu Sai dan Naruto di paling belakang. Posisi mereka membentuk piramida dengan sudut lancip pada Sakura.

Mata seluruh penonton terfokus ke atas panggung. Seorang pria memakai mantel hitam dengan kacamata hitam berdiri di depan mobil yang ia parkir. Walaupun agak jauh, pria yang memiliki rambut mencuat ke belakang ini—Sasuke, masih bisa melihat kelima orang yang sedang berdiri di atas panggung. Mata onyx-nya yang tersembunyi di balik kacamata tak lepas memandang sosok gadis pink di atas panggung.

"Sakura..." gumamnya lirih.

Di sisi lain, di depan panggung berdiri seorang laki-laki memakai topi baseball dengan slayer membungkus kepalanya yang diikat miring, Sasori. Mata hazel-nya terus memandang sosok berambut merah muda yang sedang tersenyum manis di hadapan semua penonton. Ia pun tidak dapat menahan senyumnya lagi.

"Sakura..." gumamnya.

Sakura merasakan degup jantungnya yang memompa begitu cepat. Matanya berkeliaran mencari sesosok pria berambut botak cepak berwarna merah di antara kerumunan penonton.

"Apa dia datang?" batin Sakura. "dia pasti datang!" lanjutnya dan ia pun tersenyum manis menghadap penonton. Kemudian kepalanya ia tundukkan, begitu juga dengan Ino, Tenten, Sai dan Naruto. Deguman musik pun mulai membahana. Dua buah lagu yang dipotong dan dijadikan satu, Lady Gaga-Bad Romance dan Lady Gaga-Just Dance.

Ketika lagu Bad Romance berputar, mereka berlima menari dengan begitu seksi dan tetap penuh energi. Sasori tidak berkedip ketika melihat Sakura menari. Dia tidak menyangka jika Sakura memang memiliki bakat menari. Dia sempat melototi Pein yang terlihat menunjukkan wajah mesumnya ketika melihat Sakura menari dengan meliukkan badannya.

Lagu pun berganti dengan yang berjudul Just Dance. Sakura, Ino, Tenten, Naruto dan Sai menari dengan lebih ceria dan kompak. Peserta kompetisi yang lain pun ikut menggerakkan badannya sesuai irama musik. Mereka semua terhanyut dengan penampilan grup tari Sakura.

Sakura dkk tersenyum lebar sambil mengatur napas mereka saat menutup gerakan mereka dan mereka disambut oleh tepuk tangan meriah oleh penonton. Sasori pun tersenyum lembut.

~FALLING IN LOVE~

Sakura, Ino, Tenten, Temari, Sai dan Naruto sedang duduk di bawah sebuah pohon yang tidak jauh dari panggung. Mereka masih bisa melihat orang-orang di atas panggung dan mendengar suara pembawa acara dengan jelas.

"Kalian hebat! Latihan selama tiga minggu ini tidak sia-sia!" Temari tersenyum simpul menatap kelima junior-nya.

"Senpai bisa saja! Ini juga berkat bantuan dan semangat dari senpai!" seru Naruto yang disetujui dengan teman-temannya sambil menganggukkan kepala mereka.

"Tapi..." semua kepala menengokkan kepala mereka ke arah Sai. "apa semuanya masih berarti jika kita kalah?" tanyanya dengan disertai senyum buatan.

"Sai!" panggil Sakura. Sai pun menolehkan kepalanya menatap Sakura. "kalah menang itu sudah biasa di sebuah kompetisi. Yang terpenting adalah kita sudah menampilkan yang terbaik dan bisa menghibur semua penonton," ucap Sakura dengan senyum manisnya.

"Iya, benar apa yang Sakura bilang. Kalian sudah berusaha keras dan kulihat penonton sangat terhibur menonton pertunjukan kalian," sahut Temari.

Tenten menganggukkan kepalanya. "Benar. Tadi aku juga melihat mereka mengikuti kita menari!" serunya.

"Ya. Tidak buruk juga menghibur orang banyak 'kan Sai-kun?" tanya Ino sambil tersenyum manis pada kekasihnya.

"Menghibur, ya?" gumam Sai.

"Aisssh~ Sakura-chan, ucapanmu tadi benar-benar bijaksana sekali. Kau jadi semakin maniiiisss!" seru Naruto dan mencoba memeluk Sakura namun Sakura menahan dada Naruto dengan kakinya.

"Manis apanya? Kurasa dia tetap jelek." Sai berkata dengan wajah tanpa dosa sehingga membuat Sakura mengeluarkan garis-garis emosi di pelipisnya.

Dengan cepat Sakura berniat menghajar Sai, namun kedua tangannya diapit Temari dan Tenten. "Sai! Ke sini kau, aku akan menghajarmu!" teriak Sakura. Sai hanya tersenyum mendengarnya, sementara Ino membawa Sai menjauh dari sana.

Sosok di balik pohon dekat tempat Sakura dkk beristirahat tampak tersenyum geli melihat Sakura mengamuk. Namun semua itu tidak berlangsung lama karena seseorang menepuk bahunya dan ia menolehkan kepalanya dengan malas ke orang tersebut.

"Sasori, kita harus cepat kembali ke depan panggung un!" kata orang itu yang dulu rambut pirang panjangnya menyisakan poni di depan mata, sekarang poninya dia satukan dengan rambut belakangnya dan diikat satu.

"Untuk apa? Kau mengganggu sekali!" dengus Sasori.

Deidara mengerucutkan bibirnya. "Aku disuruh Konan untuk memanggilmu un! Nanti juga kau bisa bertemu dengannya lagi, un!" seru Deidara sambil mengikuti arah pandang Sasori yang melihat Sakura sudah tenang dan mengobrol dengan teman-temannya.

Sasori menghembuskan napasnya. "Oke, kita ke sana." Deidara tersenyum melihat Sasori dan Sakura bergantian, lalu dia menyusul Sasori yang sudah berjalan di depannya.

~FALLING IN LOVE~

Pembawa acara yang memakai masker di wajahnya tampak berdiri dengan gagah di atas panggung. Dia terlihat keren sekali dengan pakaian ala hip hop. Senyuman pun mengembang dari bibirnya, terlihat dari matanya yang sedang menyipit.

Pria berambut perak yang diketahui bernama Kakashi ini mendekatkan mikrofon di depan mulutnya. "Baiklah, saya akan mengumumkan dua finalis yang akan memasuki babak final."

Mendengar suara pembawa acara yang akan mengumumkan dua finalis yang akan memasuki babak final membuat Sasuke mendekat ke arah panggung. Ia sekarang berdiri di antara para penonton lainnya.

Di sisi lain, Sakura bersama timnya segera berdiri dan menghampiri panggung. Mereka semua deg-degan menunggu siapa yang akan maju ke babak final. Mungkinkah mereka? Tapi, mereka tidak berharap banyak. Siapa pun yang masuk ke babak final, mereka yakin jika itu yang terbaik di mata juri.

Kakashi membuka sebuah amplop perak yang ada ditangannya. Lampu sorot langsung mengarah ke Kakashi. Langit memang sudah berubah menjadi gelap. Matahari sudah kembali ke ufuk barat.

Semua peserta terlihat menegang saat Kakashi sudah membuka amplop tersebut dan mendekatkan mikrofon di depan mulutnya lagi. "Finalis yang berhasil masuk ke babak final adalah..." Kakashi memberi jeda cukup lama membuat para peserta kompetisi merasakan degup jantung mereka yang berlomba-lomba mempercepat temponya. "Dashing Dance dan Akatsuki!"

Mendengar nama grup tari mereka disebut, Sakura dkk terlonjak gembira. Mereka berlima berpelukan. Terlihat raut wajah mereka yang sangat bahagia. Sementara peserta yang lain tampak kagum dan juga ada yang iri melihat mereka bergembira. Sasuke dan Sasori tersenyum tipis melihat Sakura yang melompat-lompat gembira.

"Kepada kedua grup, harap segera naik ke atas panggung karena dance battle akan segera dimulai," tutur Kakashi.

Temari menghadap kepada kelima juniornya. "Tunjukkan kemampuan kalian! Aku yakin kalian pasti bisa!" serunya dengan mengepalkan tangan.

"Ya! Kami pasti akan menunjukkan yang terbaik!" sahut mereka dengan kompak. Temari tersenyum lebar saat melihat mereka berjalan menuju panggung.

Grup tari Sakura sudah berdiri di atas panggung. Tak lama kemudian grup lawannya pun naik ke atas panggung. Mereka adalah sepuluh orang yang tadi menari saat Sakura berada di parkiran. Mereka bersepuluh memakai sebuah lambang yang sama, awan merah.

Sakura memandang mereka satu persatu. Tapi yang menarik perhatiannya adalah salah satu orang yang memakai topi baseball putih dan sesorang berambut pirang, karena wajah mereka ditundukkan dalam-dalam. Sakura menaikkan sebelah alisnya memandang orang tersebut.

Suara Tenten dan Ino tampak berbisik-bisik di samping Sakura, membuat Sakura ikut mendengarkannya juga.

"Ino, itu 'kan grup tari yang keren tadi!" bisik Tenten dengan cemas.

"Benar. Bagaimana kita bisa mengalahkan mereka? Mereka hebat sekali saat menari tadi," ucap Ino.

"Benarkah?" tanya Sakura yang ikut berbisik-bisik. Ino dan Tenten mengangguk pasti.

"Kalau begitu, seharusnya kalian senang mendapatkan lawan yang hebat seperti mereka. Dan jadikan itu sebagai motivasi kalian untuk tampil maksimal!" seru Sakura dengan senyum lebarnya.

Ino dan Tenten tersenyum menyeringai. "Kau sudah berubah banyak, ya!" ucap Tenten. Sakura hanya mengangkat kedua bahunya.

"Baik! Ayo kita tunjukkan siapa Dashing Dance sebenarnya!" Ino mengulurkan tangan kanannya di depan keempat temannya yang lain. Tenten menaruh telapak tangannya di atas telapak tangan Ino, kemudian Sai dan Naruto. Sakura tersenyum lebar lalu menaruh telapak tangannya di paling atas.

"Dashing Dance!" seru Sakura.

"Fighting!" sahut keempat temannya yang lain sambil mengangkat tangannya ke atas.

Sementara grup Akatsuki hanya memandang mereka berlima dalam diam. Sedangkan dua orang yang menunduk terlihat mencuri-curi pandang dengan kelima lawannya. Seketika itu juga mata hazel bertemu dengan emerald Sakura. Sakura tampak sedikit terkejut melihat warna mata itu, namun si pemilik segera membuang mukanya membuat Sakura mengernyitkan alisnya.

"Baiklah! Kelihatannya suasana di atas panggung ini semakin panas saja. Kalau begitu dance battle dimulai!" seru Kakashi dan setelah itu terdengarlah suara musik hip hop yang sangat nge-beats.

Dari grup Akatsuki, maju seorang pria berambut klimis, Hidan. Ia menari dengan gaya yang begitu angkuh membuat Ino mendengus kesal melihatnya. Setelah melakukan gerakan handstyle, Hidan menunjukkan ibu jari yang ia turunkan ke bawah kepada kelima lawannya.

Ino yang kesal membalas dengan gerakan seksinya membuat Pein menganga, Sai yang melihat Pein tidak sedikit pun mengalihkan pandangannya pada tubuh Ino hanya tersenyum palsu namun sebenarnya dia sudah kesal stadium akhir.

Konan kesal melihat Pein memerhatikan Ino, setelah Ino selesai menari, Konan membalasnya dengan gerakan yang tidak kalah seksi. Pein menelan ludahnya saat melihat Konan berjongkok lalu berdiri dengan meliukkan badannya seperti ular.

Tenten mendengus melihat Konan menyeringai dan menunjuk mereka berlima. Dia pun maju dan menari dengan gerakan patah-patah lalu menunjuk Pein yang sedang bengong. Merasa ditunjuk, Pein segera maju dan melakukan gerakan breakdance dengan memutar tubuhnya di atas lantai. Agak pusing memang, tapi dia berusaha tampil keren agar tidak dihajar oleh kekasihnya, Konan.

Sai tersenyum palsu lalu membalas gerakan breakdance Pein dengan gerakan turtle memutar membuat Pein terdiam melihatnya. Kemudian Sai menunjuk seorang pria berambut pirang panjang yang mungkin mengingatkannya pada Ino.

Kakuzu menyikut Deidara yang masih menunduk untuk maju ke area battle. Deidara pun mengangkat wajahnya membuat Sakura yang sedang asik mengedarkan matanya ke penonton pun membulatkan matanya.

"Deidara-san?" gumamnya tidak percaya.

Deidara tersenyum pada Sakura, lalu dia mulai menari breakdance. Ia melakukan gerakan handstyle seperti Hidan. Setelah itu dia tersenyum lebar menunjuk Naruto.

Naruto maju ke area battle. Dia menari dengan gerakan patah-patah seperti Tenten, namun kemudian dia melakukan gerakan breakdance. Ia menutup gerakannya dengan gaya freeze. Naruto hendak menunjuk Itachi karena ia kenal dengan Itachi, namun pria yang memakai topi baseball telah maju ke area battle dan berhadapan dengan Naruto.

Naruto memerhatikannya dari atas ke bawah, dan akhirnya mata mereka bertemu. Sasori menyeringai menatap Naruto. Naruto segera mundur kembali ke samping Sakura.

Sasori menari dengan enerjik. Badannya kelihatan sangat lentur. Dia membuat suatu gelombang ditangannya kemudian dia menutup gerakannya dengan gaya handstyle dan freeze. Sasori berdiri dan melangkah ke arah Sakura. Dia mengangkat kepalanya dan mengelus pipi Sakura.

Sakura, Ino, Tenten, Naruto dan Sai terbelalak melihat apa yang baru saja Sasori lakukan. Sakura bahkan sampai menganga menyadari jika yang menari tadi itu adalah Sasori. Ino segera menyikut lengan Sakura agar dia segera maju. Begitu pula Sasuke, dia membelalakkan matanya melihat Sasori berdiri di atas panggung.

Sakura menunduk sambil berjalan ke area battle, saat ia mengangkat wajahnya, ia tersenyum menyeringai menatap Sasori. Sasori terperangah melihat Sakura menyeringai dan menari dengan gaya poppin, lalu Sakura mengakhirnya dengan gerakan breakdance handstyle dengan satu tangan. Setelah itu ia berdiri dan tersenyum pada lawannya, Sasori. Sasori pun membalas senyumnya.

Musik pun berhenti berdentum. Kakashi segera kembali ke tengah area battle tadi. "Wah... wah... kalian semua hebat sekali! Berikan tepuk tangan untuk mereka!" Para penonton memberikan tepuk tangan meriah kepada kedua finalis tersebut.

"Sementara para juri berunding untuk memilih siapa yang berhak menjadi juara satu, mari kita berbincang sebentar dengan kedua finalis," ucap Kakashi. Kakashi berjalan ke samping kirinya, di mana itu adalah tim Sakura.

Kakshi memberikan sebuah mikrofon kepada Dashing Dance dan diterima oleh Sakura. "Kalian belajar dance sekeren itu dimulai sejak kapan?" tanya Kakashi.

"Jawabannya bervariasi. Ino dan aku sejak SMA. Sementara Tenten, Naruto dan Sai sejak masuk kuliah," jawab Sakura.

"Hmm, begitu..." lalu Kakashi berjalan menuju tim Akatsuki. Ia memberikan mikrofon juga kepada tim tersebut, dan diterima oleh Pein, namun Pein segera menyerahkannya pada Sasori.

"Kalau kalian sejak kapan latihan dance?" tanya Kakashi.

"Sejak SMP," jawab Sasori singkat dan datar. Sakura mendesis mendengarnya.

"Ah... begitu," tiba-tiba datang salah seorang juri yang memberikan hasil pemenang kepada Kakashi. "hasil pemenangnya sudah ada di tanganku sekarang!" seru Kakashi. Dashing Dance dan Akatsuki memandang Kakashi dengan perasaan cemas.

Kakashi berjalan ke depan panggung sambil membawa amplop berwarna emas. "Ketua tim silakan berdiri di samping kanan dan kiriku," ucap Kakashi. Setelah melihat teman-temannya, Sakura melangkah menghampiri Kakashi.

Sasori menyuruh Pein maju namun Pein menggelengkan kepalanya. "Sebaiknya kau saja yang maju. Ingat tujuan utamamu, atau kau ingin aku yang melakukan 'itu' pada Sakura. Dia manis juga loh..." Konan yang mendengar ucapan Pein segera menendang kaki Pein hingga membuatnya mengaduh kesakitan.

"Terima kasih, Konan karena sudah mewakiliku menghajarnya," kata Sasori dengan menyeringai.

"Sama-sama," sahut Konan dengan tersenyum manis. Sementara Pein mengusap-usap tulang kering kakinya yang ditendang Konan.

Sasori pun maju dan berdiri di samping kanan Kakashi. Dia melirik ke kiri dan dapat melihat Sakura yang memegang mikrofon dengan erat di depan perutnya. Sasori tersenyum simpul. Saat matanya menghadap ke penonton, dia melihat sosok Sasuke yang sedang menatapnya dengan tatapan tajam. Sasori hanya membalasnya dengan senyum menyeringai.

"Dan pemenangnya adalah..." suara drum bertalu-talu membuat suasana makin tegang. Sakura terlihat deg-degan sekali, sementara Sasori memasang wajah datarnya hingga membuat para gadis yang berada di bawah panggung menjerit-jerit histeris.

Sakura mendengar jeritan-jeritan heboh para gadis untuk Sasori. Dia hanya mendesis sambil menatap tajam gadis-gadis itu. 'Dasar tukang cari perhatian!' batin Sakura dengan kesal hingga ia tidak begitu mendengarkan apa yang Kakashi ucapkan. Baru setelah dia merasakan Kakashi menepuk bahunya, Sakura menolehkan kepalanya ke Kakashi.

Kakashi menjulurkan tangannya di depan Sakura, Sakura yang bingung menjabat tangan Kakashi. "Selamat!" ucap Kakashi sambil tersenyum dan mundur beberapa langkah untuk memberi jalan pada Sasori yang akan menyalami Sakura.

Sakura celingak-celinguk di atas panggung. Dia melihat teman-temannya saling berpelukan sehingga dia tidak melihat wajah mereka. Satu yang Sakura pikirkan, mungkin mereka kalah dari Akatsuki. Sakura pun menunduk lesu.

Sasori menjulurkan tangannya di bawah wajah Sakura yang menunduk. Sakura perlahan mengangkat wajahnya dan menatap Sasori. "Sasori-kun..."

Sasori tersenyum lembut menatap Sakura. "Sakura, selamat ya. Kau menang!" seketika itu juga matanya membulat dan senyum lebar menghiasi wajahnya. Sakura membalas jabatan tangan Sasori.

"Dan selamat juga karena..." Sasori menggantung kalimatnya sambil menatap mata Sakura. Sakura terperangah dibuatnya.

"Karena apa?" tanya Sakura pelan namun tetap terdengar karena mikrofon yang ia pegang di depan dadanya. Dashing Dance dan Akatsuki yang mendengar suara Sakura segera mengalihkan wajah mereka melihat kedua orang itu, begitu pula dengan Sasuke dan penonton lainnya.

Sasori tersenyum manis membuat pipi Sakura memanas sehingga mengelurakan semburat merah. "Selamat karena kau sudah mencuri hatiku, aku mencintaimu. Maukah kau menjadi kekasihku?" tanya Sasori. Sakura menganga menatap kaget pada Sasori, namun selanjutnya dia mengangguk dengan semangat.

"Ya! Tentu saja aku mau, Sasori-kun!" sahutnya dengan senyum manis. Sasori segera mencium bibir Sakura sehingga Sakura membelalakkan matanya, tapi kemudian Sakura memejamkan matanya menikmati kebahagiaannya saat ini berdua dengan Sasori.

Ino, Tenten, Temari, Sai, Naruto, Kakashi, Hidan, Kakuzu, Pein, Konan, Tobi, Zetsu, Kisame, Itachi dan Deidara bersorak gembira, bahkan Deidara sampai menangis karena akhirnya mereka berdua bisa bersatu. Penonton pun merasa gembira juga, mereka bersorak sambil mengucapkan selamat.

Sasuke segera membalikkan badannya dan pergi dari kerumunan penonton setelah melihat Sasori mencium Sakura. Dia kembali memakai kacamatanya sambil memasukkan kedua tangannya di saku celana.

"Semoga kau bahagia, Sakura..."

FIN

Interlude Story

Sasuke sedang duduk di depan meja kerjanya yang ada di Rumah Sakit Konoha. Tak lama kemudian dia bangkit dan berdiri di depan jendela. Ia menikmati semilir angin musim gugur yang akan beralih ke musim dingin. Kesunyian yang ia sukai mendadak hilang karena ketukan pintu. Sasuke malas untuk menyuruh orang yang mengetuk pintu masuk, lalu pintu itupun terbuka oleh si pengetuk.

"Lama tidak berjumpa, Sasuke," ucap orang tersebut.

Sasuke membalikkan badannya menghadap ke atah pintu. "Hn. Rambutmu sudah panjang, Sasori."

Sasori tersenyum tipis lalu masuk ke ruangan Sasuke dan duduk di kursi tamu. "Ya, seperti yang kau lihat. Kau sudah tahu kehadiranku di sini untuk apa?" tanya Sasori.

"Hn. Kau akan menjadi Kepala Rumah Sakit yang baru. Selamat untukmu." Sasuke duduk di kursi kerjanya lagi.

"Yeah... akhirnya nenekku mencabut hukumanku." Sasori menghela napas lega. "kau tidak mengucapkan selamat atas jadiannya aku dengan Sakura?" tanya Sasori sambil menyeringai.

Sasuke terdiam sebentar, kemudian menjawab. "Aku tidak akan memberikan ucapan selamat..." Sasuke memberi jeda sebentar, "...tapi aku memintamu berjanji untuk mencintai Sakura sepenuh hatimu dan membahagiakannya!" lanjutnya tegas.

Sasori berdiri dari duduknya dan berjalan menuju pintu. "Tentu saja. Kau tidak perlu khawatir. Aku mencintainya lebih dari mencintai diriku sendiri," ucapnya sambil menutup pintu ruangan Sasuke. Sasuke menyenderkan punggungnya di kursi sambil menghela napas lega.

THE END

a/n: Yeaaaaah! Akhirnya oh akhirnya tamat jugaaa sesuai target cuma lima chapter! Annyeong haseyo, chingudeul! Gomapseumnida udah review, reading fict saya yang abal ini. Cwe song hamnida kalau selama pembuatan fict ini saya membuat kesalahan. Boleh minta feedback-nya untuk chap ending ini? Jeongmal kamsa hamnida!

Youichi: ini udah aku update, maaf ya gak bisa cepet. Makasih review-nya ya :)

Vvvv: Sasori itu sebenernya cucunya nenek Chiyo yang punya rumah sakit Konoha. Tapi dia itu bandel banget jadinya dia dihukum sama nenek Chiyo untuk tinggal di lingkungan sederhana karena dia itu dulunya anak yang sombong dan selalu kelayapan sama gengnya, Akatsuki. Soal rambutnya dibotakin juga suruhan nenek Chiyo. Makasih review-nya ya :)

Kamsa hamnida Roullete Cyrax Noa, Thia Nokoru, Just and Sil, Kurosaki Naruto-nichan, Anasasori29.

Terima kasih juga untuk silent readers yang udah mampir :)

Annyeong! ^O^