Thank, yang review emang baik hati. Hahaha. Enjoy this chapter.

.

.

Disclaimer: Hoshino Katsura

Rate: T

.

.

.

CSI. Crime Scene Investigation. Aku tak mengerti kenapa organisasi besar seperti mereka ikut turun dalam kasus seperti ini. Kalau begitu, polisi tak usah ada. Apa pembunuhan ini terkait hal besar?

.

"Arrrgghh!" aku menjerit. Jatuh ke sofa di belakang. Tidak berani memegang tangan kiriku. Atau pun meliriknya. Mataku terpejam. Kesakitan. Berdenyut perih. Merambat ke seluruh tubuh. Mungkin tanganku sudah putus. Atau paling tidak, jari-jariku sudah terbakar.

"Ada apa?" tanya seseorang menggebrak pintu. Aku tak kenal suaranya. Maka kubuka mata.

"Apa sebenarnya yang terjadi?" tanyanya.

"Lakukan sesuatu pada tanganku!" teriakku. Aku melirik tanganku. Benar saja! Tanganku berubah menjadi daging terbakar yang berceceran di karpet. Darah yang mengalir mengotori sofa dan celana jeans-ku.

Kulihat pria itu menekan tombol di dinding dekat pintu masuk.

"Tenang. Jangan meringis. Aku jadi merasa kesakitan," katanya.

"Ini sakit betulan, tahu!" kesalku. "Siapa kau?"

"Aku Suman Dark. Panggil Suman saja," ujarnya, masih sempat nyengir. Tapi saat aku mengerang lagi, mukanya berubah pucat.

"Ada apa?" seorang perempuan menggebrak pintu. Kenapa hari ini gebrak-gebrakan pintu?

"Ms. Moore! Tolong, Walker terluka!" kata Suman. Perempuan yang namanya Ms. Moore itu dibantu rekan-rekannya. Mengangkutku dengan tandu.

.

"Allen!" jerit seorang pria.

"Katakan padaku apa yang dilakukan pembunuh itu padamu!" teriak pria kedua. Kepalaku pusing. Rupanya Ms. Moore membiusku selama pengobatan. Setelah penglihatanku jelas, pria pertama adalah Cross. Dan yang kedua adalah Reever. Aku menceritakan semuanya, mulai saat Earl itu menelepon.

"No... Noah? Benar dugaanku. Kelompok sinting itu," komentar Cross.

"Bagaimana mereka bisa masuk ke lantai 27 untuk memasang kamera pengintai? Pintu masuknya tersembunyi. Kalau pun bisa pakai helicopter, mencolok sekali. Saat malam pun, ada yang berjaga di sini," komentar Reever.

"Yang paling mungkin, dia bekerja sama dengan salah satu master pengkhianat, atau dia menyamar jadi salah satu yang dia culik," kataku.

"Master?" tanya Cross. Oh, iya, yang bilang mereka master cuma aku.

"Maksudku penghuni lantai 27," kataku cepat-cepat.

"Oh, kami hanya tim inti. Kalau pengkhianat, kurasa tak mungkin. Kami semua sudah bersumpah takkan berkhianat walau pun dalam tangan musuh –walau aku tak yakin. Tapi jika menyamar jadi seseorang yang mereka culik, bisa saja. Mereka menduplikat gambar retina mata –diselipkan dalam lensa kontak, sidik jari –diselipkan pada jari atau sarung tangan. Sidik suara bisa ditipu oleh ahlinya –aku tak tahu caranya. Lalu mencuri kartu. Memakai topeng," kata Cross.

"Eh? Berarti mereka penjahat kelas top, dong," kataku.

"Ya. Sudah sepuluh tahun kami memburunya, selalu gagal," kata Cross.

"Ya, seumuranmu, Walker," tambah Reever. Aku melongo.

"Permisi," seseorang masuk. Ms. Moore. Aku baru sadar, sekarang aku masih berbaring di rumah sakit. Dengan tangan terbalut perban.

"Oh, hai," sapa Cross. Tak penting.

"Kita ada di CSI Lab, lantai 14. Ruang untuk pengobatan," kata Ms. Moore memberi tahuku.

"Eh? CSI Lab di mana?" tanyaku.

"Emm, kira-kira setengah kilometer dari CSI Office. CSI punya lapangan sendiri, kan. Tidak di tengah kota. Hampir dekat hutan –dan aku suka. Allen. Aku mau menawarkan, nih," kata Moore.

"Apaan?" tanyaku.

"Aku baru meneliti sesuatu. Aku buat tangan palsu," katanya.

"Hah? Tangan palsu bukannya sudah ada?" tanya Cross.

"Ini beda. Tangan ini bukan cuma berfungsi untuk menyentuh. Sesuai perintah otak, bisa numbuhin kuku panjang buat nyerang loh," kata Ms. Moore.

"Hei, jangan bilang kalo..."

"Aku ngga bilang gitu," potong Ms. Moore. "Kan kubilang penawaran."

"Memangnya apa gunanya alat serang untuk anak 10 tahun?" tanya Reever.

"Mungkin kalau kamu juga diincar sama Noah Clan," kata Moore.

"Kami melindunginya," ujar Cross.

"Kau tak mengerti. Di organisasi kita ini ada spy. Bagaimana kalau yang menjaga Allen itu spy-nya? Kau misalnya?" kata Ms. Moore.

"Apa?" tanya Cross menggebrak sisi ranjangku. "Aku asli! Cek DNA-ku saja. Kita punya data tentang DNA-ku! Kalau kau takut datanya kumanipulasi, kau bisa..."

"Hentikan!" teriakku. "Kalian berteriak di depan anak 10 tahun yang baru kehilangan tangannya."

"Maaf," kata Cross dan Moore bersamaan.

"Ms. Moore, saya percaya Mr. Cross bukan mata-matanya," kataku. Cross senyum penuh kemenangan. Moore cemberut.

"Kenapa begitu yakin?" tanya Moore.

"Soalnya saya curiga sama satu orang."

"Kalau masalah curiga sih, aku ada banyak. Mereka melakukan gerakan aneh belakangan ini. Termasuk sih, si rambut merah ini," kata Moore.

"Apa? Kau…" bentak Cross.

"Ah, sayangnya aku cuma punya satu tersangka," kataku, mencoba agar tak ada perang lagi.

"Wajarlah. Walker kan tak kenal semua orang di sini," kata Reever.

"Ngomong-ngomong, saya terima tawaran Ms. Moore," kataku.

"Apa? Sungguh?" kata Ms. Moore. Dia berlari untuk memelukku. "Thank you, Allen."

"Tapi. Kau saksi penting. Kalau kau kenapa-napa, aku pasti..."

"Kau tak berhak mengganggu keputusannya. Kau bukan ayahnya," kata Ms. Moore melepasku. Sekarang dia melotot ke Cross.

"Kenapa tidak? Aku memegangnya sekarang. Aku membantah kalau Allen dijadikan percobaan!" ujar Cross.

"Tak apa, Mr. Cross. Lebih baik mencoba dari pada tidak sama sekali," kataku.

"Tidak! Jika mencoba hal yang mempertaruhkan nyawa, tak kuizinkan!" kata Cross.

"Mr. Cross!" teriak seseorang masuk ke ruangku. Dengan sopan. Tanpa gebrak-gebrakan pintu.

"Apa?" tanya Cross.

"Pembunuh bayaran sudah terlacak," katanya.

"Benarkah? Pada kasus Walker?" tanya Cross.

"Ya, tinggal kita datangi, tangkap, dan interogasi," katanya.

"Bagus, kita berangkat!" kata Cross. "Kau dengar, Allen? Salah satu Noah tertangkap. Kau tak perlu jadi kelinci percobaannya. Waspada. Mungkin Moore adalah penyusup yang ingin membunuhmu," kata Cross yang mendekati pintu.

"Enak saja! Jangan racuni otaknya!" teriak Ms. Moore pada Cross yang sudah menutup pintu.

"Kalau begitu, saya permisi," kata Reever.

"Tunggu. Aku mau tanya," kataku.

"Apa?"

"Bagaimana kondisi ruang santai sekarang? Sudah dibersihkan?"

"Sudah."

"Apa kalian temukan sesuatu yang aneh?"

"Hanya bekas logam terbakar dan dagingmu," kata Reever.

"Jadi tak ada data di hp-ku yang selamat?" tanyaku agak kecewa.

"Tentu saja," dia sedikit tertawa. "Hp-mu hancur berkeping-keping. Tak selamat."

"Ya, sudahlah. Silahkan pergi," kataku pada Reever. Dan dia pergi.

"Ms. Moore. Aku ingin tangan. Berikan padaku. Jangan pedulikan Cross," kataku.

"Eh, kau tak mencurigaiku? Maksudku...itu hal wajar karena kata Cross masuk akal. Eh, maksudku..."

"Tak apa. Aku percaya," kataku. Dia tersenyum.

"Terima kasih," kata Ms. Moore.

.

"Allen?" ujar seseorang. Saat aku sadar seusai operasi. Ms. Moore membiusku selama operasi –tentu saja! Setelah agak jelas, aku mengenali pria yang memanggilku tadi.

"M... Mr. Cross?" tanyaku kaget. Mukanya penuh dengan kekesalan.

"Sudah kukatakan! Kenapa masih terima operasi ini? Kau lebih percaya Moore? Kau tak memercayaiku? Allen, kau..." Cross tak melanjutkan.

"Maaf, Sir. Bukan itu alasannya. Aku ingin tangan –cuma itu," kataku.

"Kau takkan membiarkan anak kecil menjalani hidup tanpa tangan kiri, kan?" tanya Ms. Moore.

"Daripada menanggung resiko kehilangan nyawa! Aku datang kembali dari penangkapan. Tapi ternyata operasi sudah setengah jalan. Aku terlambat," Cross mengumpat. "Sekarang kita lihat tanganmu," kata Cross tersenyum sinis. Sesuatu agak panjang di mana tangan kiriku harusnya ada. Terbalut kain. Mr. Cross membukanya.

"A... Apa?" jeritku dan Cross bersamaan.

"Kau membuatnya seperti tangan monster!" kata Cross. Tanganku merah. Ada tonjolan-tonjolan membuat tanganku tak rata. Lebih besar dari tangan kanan.

"Aku tak suka tangan putih mulus -seperti tembok rumah membosankan. Jadi kudesain sebagus mungkin," kata Ms. Moore senyum, seakan ini adalah seni terbaiknya. Kulihat muka Cross kesal, lebih buruk dari yang tadi.

"Moore! Tangannya jadi seperti itu. Ganti!"

"Memangnya mudah ganti tangan! Kau mau menghina seniku?" bentak Ms. Moore.

"Jangan samakan sampah dengan seni!"

"Apa?"

Mereka terus bertikai. Aku mencoba tangan baruku –yang aku takutkan. Menggerakkannya. Lebih berat. Tapi berfungsi baik –bisa membesar seperti kata Ms. Moore.

"Mr. Cross!" aku memanggilnya setelah mengembalikan tanganku ke bentuk awal. Dia menoleh. "Bagaimana interogasinya?"

Dia mengedarkan pandangan ke seluruh ruang dengan gerak lambat. Terlihat bingung.

"Mr. Cross?" tanyaku.

"Astaga! Aku lupa merebus air di kantorku. Bahaya!" kata Cross lalu pergi lewat pintu.

"Dia kenapa?" tanyaku pada Ms. Moore.

"Ruang kerjanya akan kebakaran," jawab Ms. Moore, mengira ini bercanda.

.

Aku pergi dari rumah sakit. Kabur. Ms. Moore tak mengizinkanku pergi –menyuruhku tidur seharian. Buang-buang waktu.

Di depan CSI Office, aku bertemu Suman. Aku ikut masuk ke dalam. Dan saat aku tanya tentang pembunuh bayaran itu, dia juga kabur. Syukur aku ditinggal di lantai 27. Aku jalan keliling. Berpikir aku tersesat. Tapi saat aku belok dari lorong, kulihat Cross dan Reever di beranda besar membelakangi pintu. Bersyukur. Berjalan mengendap-endap. Mencoba mengagetkan mereka dari belakang.

"Tak mungkin kita sembunyikan dari dia," kata Reever. Aku berniat nguping. Di belakang pintu yang terbuka ke dalam.

"Dan tak mungkin kita katakan terus terang padanya," ujar Cross.

"Tapi Walker berhak tahu tentang kasusnya."

"Tidak untuk saat ini!"

"Lalu kapan? Kau mau tunggu sampai kasusnya basi?"

"Memang kau mau bicara apa padanya? Mengatakan bahwa pembunuhnya bukan Noah? Bahwa pembunuhnya dibayar oleh Noah agar sulit terlacak? Dan sekarang pembunuhnya mati. Mungkin Noah membinasakannya!" kata Cross. Nafasku tertahan. Jantungku terdengar jelas dengan kecepatan tinggi.

"Kau tak usah memberitahukannya," kataku.

"Akhirnya kau mengerti, Ree... Ah, suaramu aneh?" kata Cross. Dia menoleh ke belakang.

"Kau tak perlu memberitahukannya. Karena dia sudah tahu," kataku.

"Ah, Allen. Aku tak sadar kau di situ. Mata-mata hebat! Kau minum kopi? Ba...bagaimana kalau di ruangku? Aku punya PS juga di sana," ujar Cross. Mengalihkan topik.

"Tidak! Tak akan! Kalian CSI! Kalian begitu dikagumi. Apa yang membedakan kalian dengan polisi? Seperti inikah CSI? Kalian konyol! Bodoh! Seharusnya biarkan polisi yang tangani! Bodoh! Sial!" setelah puas menyampah, aku pergi berlari.

"Allen!" Cross di belakang mencoba mengejar. Tapi saat belok di lorong, aku masuk ke salah satu ruang tak terkunci. Bersandar di pintu.

"Allen! Biar kujelaskan!" suara Cross mendekat. "Allen!" Dan sekarang menjauh. Aku menghela nafas.

"Walker?"

Aku mengangkat kepala, melihat siapa yang memanggil. Pria kurus berkaca mata.

"Ya?" tanyaku.

"Oh, Walker? Kau di cari Cross, kan? Kau kabur? Tak baik," katanya berjalan ke arahku.

"Siapa kau?" tanyaku.

"Komui Lee. Supervisor di CSI," katanya senyum bangga. Aku mengalihkan pandangan untuk membuat ekspresi sejijik mungkin.

"Kembalilah. Kasihan Cross," ujar Komui.

"Ngg, anu. Aku lupa. PSP-ku tertinggal di rumah. Aku tak bisa hidup tanpanya. Aku mau pulang untuk mengambilnya. Cross tak mengizinkanku. Dan aku ngambek. Mau tolong aku? Aku tak bisa keluar dari sini karena sidik suara," kataku.

"Ah, ya. Aku mengerti perasaanmu. Baiklah. Ikut aku," katanya membuka pintu. Menuju ruang besar. Dan mengarah ke lorong agak besar.

"Open!" kata Komui. Aku cepat-cepat melewati pintu yang sudah terbuka.

"Nanti kalau sudah ambil PSP, balik, ya. Bilang aja sama penjaga di luar kalau kau diajak Komui. Mereka akan memanggilku. Hari sudah mau malam. Aku tak bisa mengantarmu, karena sibuk. Maaf," katanya.

"Tak apa. Aku tak suka merepotkan," kataku.

"Close!" Dengan gerakan lambat, pintu di bawah bergerak ke atas. Komui melambai, dan saat pintu sampai sejajar di perut Komui, aku melihat sesuatu. Cross ada di ujung lorong.

"Komui!" teriak Cross. Dan pintu tertutup sempurna. Aku berlari menuju lift.

"Selamat pagi," sapa resepsionis.

"Selamat sore," ralatku tanpa memandangnya. Aku masuk lift. Ternyata ada seseorang di sana.

"Mau turun?" tanyanya saat aku masuk dan pintu lift tertutup. Aku menekan tombol lift.

"Hei, boleh pinjam jaket?" tanyaku.

"Boleh saja," katanya memberiku jaket warna biru gelap. Kebesaran.

"Terima kasih."

Saat di lantai bawah, aku lari cepat.

Tapi, sial! Pintu tertutup. Diadakan razia. Pencarian diriku. Aku diam di tempat yang tak terlihat mereka.

"Hei, boleh pinjam telepon? Tahu nomor telepon CSI Lab bagian pengobatan?" tanyaku pada lelaki terdekat.

"Ya, mau menelepon?"

"Ya."

"Ini," dia menyerahkan hp-nya.

Ms. Moore mengangkat telepon. Aku menyuruhnya membawa alat-alat yang kusuruh -dengan alasan tanganku sakit.

Dia hanya berkata, "baik! Tunggu."

Tak lebih dari lima menit dia datang. Aku membisikkan sesuatu di telinganya dan dia mengiyakannya.

"Minggir!" kata Ms. Moore membawa tandu bersama temannya. "Keadaan darurat! Anak ini harus ditolong segera! Aku harus cepat!" kata Ms. Moore.

"Tunggu. Kenapa mukanya ditutup?" tanya salah satu penjaga.

"Mukanya luka parah. Bahaya jika interaksi dengan udara. Menular," kata Ms. Moore.

"Omong kosong," kata si penjaga berusaha menyentuh selimut. Tidak, jangan di sini!

"Aku harus cepat!" Ms. Moore dan temannya menembus dua penjaga dan berlari ke arah Lab.

"Tunggu!" dua penjaga berlari mengejar. Kerumunan yang habis dirazia, ramai berkomentar.

"Bodoh!" kataku berjalan keluar dari CSI Office. "Yang dibawa Ms. Moore itu bantal guling," kataku memeletkan lidah ke penjaga yang sudah hilang.

"Mereka memang bodoh. Dan kau anak yang pintar, tapi nakal," kata seseorang di belakangku. Suara yang familiar. Tanpa melihat wajahnya aku tahu. Jangan-jangan...

Yang terpikir saat ini adalah. Lari!

"Tunggu! Mau ke mana?" orang itu mencengkeram kerah belakang jaket kebesaran ini. Aku membukanya dan cepat berlari. Tapi dia cepat menangkap tanganku.

"Jangan kabur!" Lalu dia menyeretku ke lantai 27 lagi. Cross sial!

.

Kami di kantor Komui. Komui yang minta. Aku duduk di sofa, berhadapan dengan Cross, yang masih memegang jaketku. Komui jauh di meja kerjanya, di depan jendela besar yang tertutup korden. Tapi cukup untuk menguping. Ruang dingin karena AC. Tapi perasaanku panas.

"Allen. Maaf karena aku tidak jujur. Aku..."

"Diam! Aku mau pergi!" teriakku.

"Ke mana? Rumahmu? Kau tahu berita tentang rumahmu! Hah?" tanya Cross agak keras.

"A...apa maksudmu?"

"Rumahmu terbakar! Noah melenyapkannya!" bentak Cross, mengutak-atik jaket di tangannya.

"Bohong! Pasti kalian yang..."

"Kakak! Aku Lenalee! Buka pintu!" teriak seseorang di luar.

"Open!" kata Cross dari jauh. Seseorang masuk.

"Aku bawa makan siang," kata Lenalee. Mengalihkan pandangan padaku dan Cross.

"Close!" kata Komui. "Mana, mana?" Komui menengadahkan tangan. Tapi Lenalee diam.

"Apa aku ganggu?" tanyanya.

"Tidak masalah, Lenalee," kata Cross. Lenalee ke arah sofa. Komui mengikutinya.

"Mr. Marian? Kenapa di sini? Dengan Mr. Walker?" tanyanya.

"Kau tahu namaku?"

"Kakak menceritakanmu. Lelaki albino dengan tato di mata kirinya."

"Ini bukan tato! Ini luka!" bentakku.

"Ah, maaf," kata Lenalee.

"Ngg? Apa ini?" tanya Cross. Dia merobek jaketku!

"Apa yang kau lakukan?" bentakku. Dia mengeluarkan sesuatu yang kecil.

"Kau lihat ini! Kau tahu apa?" tanya Cross memperlihatkan padaku.

"Hah? Di mana kau dapatkan itu?" tanya Komui.

"Di jaketnya. Siapa yang memberimu jaket ini?" tanya Cross.

"Apaan sih?" Aku tak mengerti maksudnya. Dia mematahkan benda itu jadi dua. Isinya keluar. Kabel. Besi. Kawat. Dan lainnya.

"Ini alat sadap!" kata Cross.

"Aku memintanya dari seorang pria di lift. Memintanya. Bukan diberi langsung. Mungkin pria itu yang disadap," kataku.

"Baiklah. Sebutkan ciri-cirinya! Aku mau memastikan ini bukan ulahnya," kata Cross.

"UlahNYA? Siapa?"

"Noah!"

"Ah, oh. Pria itu berkulit hitam. Rambut keriting. Berwibawa –tak sepertimu," kataku.

"Cari!" dia memerintah Komui, tak mempedulikan ejekanku.

"Siapa bosnya?" tanya Komui melotot.

"Eh?" Cross salah tingkah, keluar ruang untuk mencari pria itu.

"Ah, aku lupa. Aku harus ke CSI Lab. Ada data yang kuperlukan untuk kasus," kata Komui menepuk kepala Lenalee. "Jaga Walker, ya. Dia sensitif. Dan berusaha kabur terus," lanjut Komui. Aku berniat meminjam hp Komui, merekam suaranya saat mengatakan 'open', dan kabur dari sini setelah mengelabuhi Lenalee. Tapi tidak. Aku harus menunggu. Apa benar itu Noah?

To Be Continued

Review ya. Yang baik hati. Hahahaha. Tunggu chapter berikut.