Voila~ eL is back XDDD miss me anyone? #plak

Eh", eL mo ksih pengumuman dulu...jadi gini, karena judulny Night Rhapsody jadi kalo chapter yang tulisannya 1st Night, 2nd Night, dst, maka GAK ADA adegan Asucaga dan eL lebih memfokuskan pada perkembangan yang lain. Tapi nanti kalo pake judul 1st Rhapsody, dst...yah, kalian bisa nebak lah =P

Cags : Author tidak bertanggung jawab, ngasih pengumuman cuma separoh" begitu...ckck

eL : Eh, hai Cags, miss me?

Cags : Never in hell! Udah ah, ayo ceptan lanjutin ceritanya...parah...ditinggalkan melulu...ckck

eL : huwaa...Cags serem banget T^T...maaf lah atuh, secara eL kan lagi sibuk (baca : Sok Sibuk) ini juga eL sempet"in buat bikin...hohohoho

Cags : Lama" neh author bisa 'tak banting juga...

eL : err...(=.=") janganlah, eL masih muda...hehe...ok" eL mo ngucapin dulu terima kasih untuk ofiai17, Ritsu-ken, Aihsire Atha, ageha-davis, Yuki Hiruma

Cags : Akhir kata selamat membaca...

eL : eh, tunggu! eL Cuma mo ksh peringatan dulu...hoho...kayakny bakal ada hint-hint, crack pairing gitu ya~ hehe...ok..sekarang baru...

Enjoy reading ;)


Theme Akatsuki no Kuruma – FictionJunction Yuuka


"Cagalli?"

"Jangan panggil aku seakrab itu!"

"Attha?"

"Jangan juga panggil aku dengan nama itu!"

"Jadi kau ingin aku memanggilmu apa?"

"Aku ingin agar kau tidak memanggilku sama sekali!"

"Tapi–"

"ATHRUN ZALA! Apa yang tidak kau mengerti dari pernyataanku tadi?"

"Maaf."

.

Night Rhapsody

eL-ch4n

'1st Rhapsody'

.

Earth, Hongkong, 0346 hours

Cagalli masih mencoba mengingat bagaimana bisa dia berada di posisinya sekarang ini. Di sebelah dia adalah seorang pemuda dengan nama Athrun Zala. Cagalli tidak terlalu mengenal coordinator itu selain bahwa dia memiliki julukan The Red Knight.

"Hei." Athrun mencoba memecahkan keheningan yang lagi-lagi berada di antara mereka.

Sang pemilik mata amber itu memutar kepalanya untuk berhadapan dengan sepasang batu emerald terindah yang pernah dia lihat. "Apa?" desisnya pelan. Dari suaranya terdengar jelas bahwa dia membenci pemuda yang berada di hadapannya saat ini. Memang, seorang Cagalli sangat membenci coordinator mengingat karena merekalah, hidupnya harus menderita seperti sekarang. Ayahnya juga tidak akan meninggal jika bukan karena perang antara natural dan coordinator.

"Kau...tidak bisakah kau berbagi selimut itu? Aku kedinginan juga di sini, kau tahu?"

Jika tatapan bisa membunuh, mungkin seorang Athrun Zala akan tinggal kenangan. "Kau coordinator." Dia mengatakan jawabannya dengan dingin. Sungguh, dia tidak habis berpikir kenapa dia harus membagi selimut yang dibawanya terhadap seorang coordinator yang dingin yang sudah membunuh berapa banyak dari orangnya.

Athrun terlihat sedang menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Sepertinya pemuda Zaft itu kehilangan kata-kata untuk membalas perkataan Cagalli. "Benar, tetapi aku kan tetap bisa merasakan kedinginan."

Tawa Cagalli terdengar begitu keras di tengah derasnya hujan membuat sang ksatria melihatnya dengan penuh tanda tanya. "Kau? Seorang coordinator? Bisa merasakan sebuah emosi?" Kemudian dia menatap Athrun dengan tajam. Sungguh aneh, Athrun yang dijuluki oleh The Red Knight karena tidak terhitung berapa banyak natural dan coordinator yang dia bunuh, bisa merinding ketakutan oleh tatapan itu. "Lucu sekali. Katakan itu kepada mereka yang sudah kau bunuh." Sebuah sarkasme terdengar di dalamnya dan pemuda berambut biru itu hanya bisa menghela nafas.

"Dengar, aku-"

"Cukup. Kau tidak usah bicara lagi." Cagalli berdiri, masih tetap menyelimuti dirinya dengan kain kering yang dia bawa. Setiap tindakan yang dilakukan gadis itu selalu membuat Athrun penasaran. Dia, yang sebagai seorang admiral di dalam Zaft, selalu tidak bisa menebak apa yang akan dilakukan gadis yang sekarang sudah berdiri di depannya. Ketika jarak di antara mereka sudah cukup dekat, Athrun bisa mengamati keadaan gadis itu. Dia terlihat kecil, jika dibandingkan dirinya, tetapi dia tahu sudah seberapa besar tanggung jawab yang diambilnya. Jika diamati, usia gadis itu terlihat masih muda dibanding dirinya, mungkin masih 16 atau 17 tahun. Kalau di kehidupan yang dulu, mungkin gadis itu sekarang sedang bersekolah dan berkumpul dengan teman-temannya.

Masih memandangi sang gadis, Athrun tidak memperhatikan ketika dia menyuruhnya untuk berputar. "Hei! Aku suruh kau menghadap ke arah luar." Athrun yang kesadarannya kembali memutuskan untuk mengikuti apa yang akan diperintahkan gadis itu. Terkekeh kecil, dia menyadari betapa lemahnya dia terlihat di depan gadis itu.

Tiba-tiba Athrun merasakan kehangatan yang berasal dari punggungnya. Tangan kanannya dipegang oleh sebuah tangan kecil memberikan kehangatan. Dia tidak menyadari bahwa ternyata tangan seseorang itu bisa hangat seperti ini. Api yang berada di dalam bangunan tua itupun tidak bisa mengalahkan kehangatan yang sekarang sedang dia rasakan.

.

Cagalli tahu bahwa pemuda yang berada bersamanya di bangunan itu terlihat merinding karena kedinginan. Walau dia seorang coordinator, Cagalli tidak bisa menutup matanya ketika ada orang yang terlihat sengsara di depannya sementara dia bisa menolong. Itu akan melanggar nuraninya. Maka, dengan sangat berat hati, diapun memutuskan untuk membagi selimut yang dia bawa.

Seandainya tidak ada perang seperti ini, Cagalli mungkin akan tersenyum malu karena berdua saja dengan seorang pemuda tampan seperti Athrun dan saling membagi kehangatan. Ya, seandainya saja. Yang dia tidak duga adalah bahwa Athrun sama hangatnya dengan dirinya, tidak ada bedanya. Sebuah perasaan sedih merayap keluar dari hatinya. Kenapa? Kenapa tangannya yang hangat itu bisa merengut begitu banyak nyawa?

"Hei." Akhirnya Cagalli memutuskan untuk memecahkan keheningan itu. Lagipula, dia cukup kasihan karena sedari tadi lelaki itu mencoba memanggilnya, tetapi dia mengabaikannya.

"Hmm?" Tanpa berbalik, Cagalli bisa menyadari adanya gerakan dari kepala Athrun. Mungkin dia mencoba untuk memutar kepalanya tanpa menjauhkan jarak di antara mereka.

"Athrun namamu?" Mulainya dengan suara pelan. Sungguh pertanyaan bodoh. Sudah jelas tadi dia memperkenalkan dirinya adalah Athrun Zala, kenapa juga kau masih bertanya hal itu?

"Memangnya perkenalanku kurang jelas tadi?" Nah kan, kau menggali lubang kuburanmu sendiri, Cagalli.

"Aku hanya ingin memastikan." Jawab sang gadis dengan tenang, menutupi kebodohannya tadi. "Siapa yang tahu bahwa kau hanya impersonatornya saja."

Sekarang giliran Athrun yang tertawa membuat kedua pipi Cagalli bersemu merah. "Hei! Kau...kau tidak perlu tertawa seperti itu!"

"Maaf." Athrun masih mencoba menahan tawanya sambil memegang perutnya. Rasanya dinginnya malam itu mulai terlupakan. "Hanya saja, kau lucu sekali. Aku? Impersonator? Yang benar saja."

"Bisa saja. Kau itu kan coordinator." Seketika itu juga tawa Athrun berhenti dan raut wajahnya kembali mengeras.

"Hentikan." bisiknya pelan. "Hentikan menyebutku sebagai coordinator seperti itu. Memangnya kau tidak berpikir bahwa aku juga menanam kebencian kepada kalian para natural?" Kali ini suaranya terkesan dingin dan Cagalli sepertinya merasa bersalah membangkitkan sang iblis.

"Maaf." ujarnya pelan. "Aku tahu tidak akan ada artinya melakukan itu semua. Membunuh karena dibunuh, dan dibunuh karena membunuh. Tidak akan ada habisnya, selain menanamkan dendam lebih banyak lagi."

Tersentak kaget mendengar kata-kata yang cukup bijaksana dari seorang gadis, Athrun memutar kepalanya untuk menatap Cagalli yang sekarang sudah berbalik menghadapnya. "Kau tahu?" Dengan perlahan, gadis itu menyentuh tangan Athrun, menaikkannya agar cukup tinggi untuk terlihat. Kemudian dia menyilangkan tangannya dengan tangan Athrun membuat sang coordinator merasakan sebuah perasaan yang belum pernah dia rasakan sebelumnya. "Kau hangat." ujarnya lembut. "Dan selama kehangatan ini masih terasa, kau tidak ada bedanya dengan kami, manusia yang kalian benci." Mata zamrudnya membesar karena terkejut dengan pernyataan barusan, tetapi dia memutuskan untuk diam dan membiarkan sang gadis untuk melanjutkan kata-katanya. "Kami mungkin tidak sempurna seperti kalian, tetapi bukankah justru itu indahnya kehidupan? Saling melengkapi satu sama lain dan membentuk sebuah kesempuranaan? Bukankah itu artinya agar kami, manusia, tidak hidup sendiri dan berbaur satu sama lain? Apa artinya mencapai kesempurnaan dan kesuksesan, tetapi sendirian pada akhirnya?"

Jleb. Mungkin itu yang dirasakan Athrun sekarang. Sendiri. Benarkah dia merasa bahwa dia sendirian? "Athrun." ujar gadis itu perlahan. "Apakah kau kesepian?"

"Aku tidak tahu." jawab yang ditanya dengan lembut, memberikan senyuman hangat yang pernah dia berikan dulu pada ibunya ketika kedamaian masih berada di antara mereka.

"Begitu." Perlahan, tangan mereka terlepas membuat masing-masing di antara mereka merasa ada yang hilang. "Apa yang sedang kau lakukan di sini?" Segera dia membalikkan tubuhnya kembali karena tak sanggup berhadapan dengan sang coordinator. Dia mencoba mengalihkan pembicaraan.

Terkekeh pelan, Athrun kembali memposisikan tubuhnya seperti semula. "Aku juga bisa bertanya hal yang sama seperti itu pada dirimu, Attha."

"Cagalli."

"Hmm?"

"Maaf, tadi aku hanya terkena emosi sesaat. Panggil saja aku dengan Cagalli."

"Baiklah, Cagalli." Sebuah senyuman lembut kembali terpasang di mukanya. Walau malam itu Athrun hanya mengenakan kaos dalamnya yang tidak berlengan karena bajunya masih basah karena hujan, dan api di ruangan itu mulai redup, dia bisa merasakan secercah kehangatan di dalam dirinya. "Jadi, apa yang sedang kau lakukan di sini? Seorang diri?"

Cagalli teringat kembali alasan kenapa dia bisa berada di tempat ini. Dia harus menyelamatkan Auel, Sting, dan Stellar, tetapi karena transporternya masih belum bekerja dengan baik, dia harus tercerai berai dengan beberapa temannya. Semoga saja mereka baik-baik saja, pikir Cagalli.

.

Earth, Archangel, 3 hours ago

"Cagalli, kau tidak boleh pergi. Biar Shinn dan aku saja yang mengurus masalah ini!" Andrew memperingatkan gadis yang masih keras kepala memaksa untuk menyelamatkan ketiga orang yang berada di belahan dunia sana.

"Andrew, aku harus ikut menyelamatkan mereka. Hanya menambah satu orang saja, tidak masalah bukan? Lagipula, kau tahu aku tidak suka menunggu saja!" Masih bersikukuh melawan Andrew, Cagalli mencoba berargumen dengan Andrew.

Shinn yang tadi berlari dari dapur sekarang sedang berdiri di dalam ruangan transporter mengamati kedua insan di depannya masih bertengkar. Tidak ada waktu lagi, pikirnya. "Hei, mau sampai kapan kalian bertengkar? Selama yang aku tahu, jika kalian terus seperti ini, apa yang mungkin bisa terjadi pada mereka bertiga?"

"Tenang, Shinn. Sting dan Stellar sudah berada bersama dengan Natarle. Lagipula, transporternya juga masih memerlukan waktu sebentar lagi untuk benar-benar pulih. Sembari menunggu, kita biarkan saja Andrew menyakinkan Cagalli untuk tidak ikut." ujar Ramius yang berada di ruangan itu sedari tadi bersama dengan Shinn.

"Ramius, aku mengerti! Tetapi, makin cepat makin baik! Memang kenapa Cagalli tidak boleh ikut serta?"

Raut wajah Ramius mendadak menjadi murung. "Aku merasakan firasat yang tidak enak. Lagipula–" ujarnya pelan lagi sambil menatap kedua insan yang masih asyik berargumen itu. " –transporter yang sekarang hanya bisa mengangkut dua orang. Jika membawa lebih dari itu, aku tidak tahu apa yang bisa terjadi." Shinn mengangguk tanda mengerti.

"Baiklah." Terdengar nada kekalahan dari suara Andrew. Sepertinya dia sudah tidak tahu lagi bagaimana harus menghadapi gadis pirang yang berada di depannya itu. Memang sudah susah kalau mau mengubah keputusan seorang Cagalli. "Tapi, kau harus mengikuti apapun kataku dan jangan menciptakan kekacauan."

Cagalli menyengir lebar. "Tenang saja. Serahkan padaku!"

Dan tiga jam kemudian, dia berada di tempat yang dia tahu bukanlah Indonesia, bukan tempat di mana dia seharusnya berada. Seandainya saja dia mengikuti kata-kata Andrew dan masih menetap di Archangel. Tidak! Dia tidak boleh menyesal dengan keputusan yang sudah dibuatnya. Lagipula, lihat sisi positifnya, dia bisa mengelilingi tempat yang belum pernah dia datangi sebelumnya. Sepertinya, tempat ini belum begitu mendapat dampak dari peperangan besar itu. Bangunan-bangunan tinggi masih berdiri kokoh dan tidak terlihat puing-puing di antaranya. Tetapi, aura kehidupan sudah tidak terasa. Para penghuni negara itu mungkin sudah lari ke tempat yang aman, atau mungkin...

...sudah terbunuh dalam peperangan.

Cagalli merinding. Untung dia selalu membawa perlengkapan alih-alih ini terjadi. Dalam tasnya sudah terdapat senter, card, selimut, korek, dan pengobatan pertama. Sayang hari itu dia tidak membawa baju ganti seperti biasanya karena dia terlalu terburu-buru. Tak lama hujanpun turun.

Tik. Bermula dari rintik-rintik dan Cagalli masih bisa mengatasinya, tetapi tak lama, tetesan itu menjadi besar dan hujan semakin deras. Mengutuki nasibnya itu, dia segera mencari tempat berteduh yang cukup aman. Dia tidak mau demam hanya karena hal seperti ini. "Tsck." Diapun berlari memasuki gedung yang terlihat tinggi dan tua.

Gedung yang bertuliskan Hongkong University™.

.

Earth, Hongkong, 1 hour ago…

Terdengar derap langkah kaki di luar ruangan Cagalli sedang berdiam. Segera mematikan api agar tidak ada cahaya dalam ruangan itu, Cagalli bersembunyi di balik pintu. Mencoba menahan nafasnya agar tidak terdengar suara, Cagalli membiasakan dirinya dalam kegelapan. Suara hujan masih terdengar dari luar membuatnya mempertajam indera pendengarannya.

"Aku yakin tadi aku melihat cahaya berasal dari sini." Cagalli tidak bisa melihat sosok itu dengan baik, tetapi dari suaranya, dia yakin bahwa pemilik suara itu adalah seorang pria. Dengan hati-hati dia meraih pisau yang dia letakkan di dalam sepatunya. Mempertaruhkan semua hal yang pernah dia pelajari, dia menyerang sosok itu membuat pemilik suara tadi terjatuh ke lantai dan terkejut.

Cagalli memposisikan dirinya berada di atas pemilik suara tersebut dan meletakkan pisaunya di leher sosok itu, tetapi tiba-tiba saja, dalam sekejap, posisi mereka sudah terbalik. Cagalli berada di bawah, sementara sosok itu berada di atasnya menahan pisau yang masih diarahkan Cagalli kepadanya. Dia terus melawan dan tak akan membiarkan dirinya kalah oleh orang yang bahkan tidak dia ketahui identitasnya itu. Ketika terdengar suara guntur yang menggelegar dan kilat yang memberikan sedikit cahaya pada ruangan itu, sang natural bisa melihat sosok yang berada di atasnya sekarang.

Athrun Zala.

Kalau dia tidak salah ingat, itu adalah namanya. Seorang Red Knight yang sudah membunuh ribuan bahkan mungkin jutaan natural. Sial, jika pemuda itu yang menjadi lawannya, maka dia hanya mempunyai kesempatan yang kecil sekali untuk menang.

"Hei. Aku tidak akan melakukan apapun terhadap dirimu. Jika aku berdiri, apakah kau janji kau tidak akan memberontak lagi?" Suaranya terdengar lembut membuat Cagalli bertanya-tanya apa pemuda yang ada di hadapannya ini sama dengan pemuda yang berdiri di medan perang dan membunuh begitu banyak jiwa itu?

Perlahan dia mengangguk, lagipula dia tahu bahwa sangat kecil kemungkinan untuk melawan Athrun. Dia –Cagalli– memang tidak kenal menyerah, tetapi bukan berarti dia harus melakukan tindakan nekad di mana kemungkinan dia menang mendekati nol bukan? Dia bukan orang yang mencari mati. "Apakah kau membawa korek?"

Dia tidak menjawab, melainkan membuka kembali buku yang tadi dia tutup dan seketika itu juga api mulai keluar dari dalam buku tersebut. "Kau? Cagalli?"

.

Earth, Hongkong, thirty minutes earlier...

Athrun tidak percaya bahwa yang baru saja menyerangnya adalah Cagalli, sang Goddes of Victory, musuh para coordinator. Pamor Cagalli sebagai natural pertama yang berhasil lolos dari serangan maut di ORB sudah tidak asing lagi. Seorang diri dia melawan begitu banyak coordinator yang menghadangnya untuk keluar dari gedung ORB yang dikelilingi oleh coordinator berseragam merah. Jika berseragam merah, artinya coordinator itu sudah cukup tinggi dan sudah mampu mengontrol kekuatan mereka masing-masing. Dan Cagalli adalah satu-satunya yang berhasil melalui itu semua. Hal itu membuat semua coordinator bertanya-tanya tentang identitas Cagalli. Mereka berpikir, bagaimana seorang gadis natural biasa bisa melawan mereka semua hanya bermodalkan nekad, pistol kecil, dan pisau? Dan sejak saat itulah julukannya sebagai Goddes of Victory melekat pada dirinya.

Jika orang berada pada posisi Athrun sekarang, pasti tidak ada seorang coordinatorpun yang percaya bahwa gadis yang kelihatannya lemah ini bisa melawan sekelompok kawannya. Karena sekarang gadis ini terlihat tidak berdaya. Dia terlihat begitu lemah dan sepertinya tidak percaya bahwa baru saja dikalahkan oleh sang coordinator. "Athrun Zala." Dia dapat mendengar namanya didesis pelan oleh gadis yang sekarang duduk di seberangnya dan dibatasi oleh api yang berasal dari buku.

"Jadi, seorang Goddes of Victorypun bisa kalah oleh seorang coordinator?" Athrun tidak bermaksud menguji kesabaran Cagalli, tetapi dia tidak tahan untuk menggoda gadis itu.

"Bukan urusanmu, Red Knight." Tanpa menghiraukan kata-katanya barusan, gadis itu berjalan mengambil tas ranselnya dan mengeluarkan selembar selimut. Semburat merah muncul di pipi Athrun ketika melihat gadis itu melepas bajunya untuk dikeringkan. Sang ksatria bisa melihat kulit mulus sang gadis yang dipenuhi dengan luka-luka yang berasal dari beberapa pertarungan yang diikuti gadis itu.

Merasakan hawa dingin mulai menusuk dirinya, sang pemuda juga mengikuti gadis itu untuk melepas bajunya yang basah dan mengerikannya dekat perapian. Otot-otot bisep dan trisepnya yang terlatih terlihat. Tubuhnya benar-benar dibentuk dengan baik membuat lelaki manapun pasti merasa iri. Tetapi, berbeda dengan Cagalli, Athrun tidak membawa apa-apa bersama dengan dirinya saat itu. Dia terlalu terburu-buru untuk menuju ke Jepang untuk bertemu dengan orang itu, tetapi di tengah jalan dia malah terkena arus aliran waktu dan tempat yang membelok sehingga jadilah dia terdampar di negara ini.

Setelah mendapat informasi yang cukup dari Zaft mengenai keberadaan orang itu, Athrun memutuskan untuk segera berangkat dan tidak menghabiskan waktu lagi, suatu keputusan yang dia sesali ketika dia tidak mempunyai apapun untuk menghangatkannya sekarang selain daripada api yang berasal dari buku itu. Entah kenapa, melihat Cagalli membuat dia teringat akan seseorang. Ya, orang itu. Dia juga memiliki mata bening seperti Cagalli, hanya bedanya kalau yang dimiliki Cagalli adalah amber, yang dimiliki pria itu adalah amethyst yang indah.

Diam dalam keheningan membuat Athrun untuk mencoba mengamati kembali gadis itu. Gadis itu terlihat mengantuk dan ingin sekali memejamkan matanya, tetapi sepertinya dia masih belum cukup percaya pada Athrun untuk melepaskan pandangannya dari pemuda itu. Sepertinya, ini akan menarik.

.

Earth, Hongkong, present time…

"Aku terkena aliran arus yang membelok." jawab Athrun terhadap pertanyaan Cagalli tadi. "Aku bermaksud pergi ke Jepang." lanjutnya lagi. "Untuk menemui seseorang, tetapi sepertinya tranpsorternya sedikit tidak beres sehingga aku terdampar di tempat ini."

Suara tertawa kecil yang berasal dari Cagalli membuat Athrun bingung. "Lucu, aku juga mengalami hal yang sama, tetapi aku bermaksud pergi ke Indonesia."

"Indonesia?" Athrun mengangkat alisnya, walau gadis itu tidak bisa melihatnya. "Untuk apa kau ke negara itu?"

"Aku bisa menanyakan hal yang sama pada dirimu, Athrun Zala. Untuk apa kau ke Jepang?" Suaranya terdengar dingin dan serius. Mungkin pemuda itu telah salah memilih topik.

"Untuk mencari seseorang, kau?" Tetapi dia masih bisa menyembunyikannya dengan baik dan balik bertanya kepada sang gadis.

Menghela nafas pelan, dia menjawab, "Menolong temanku." Dia kembali teringat alasan sesungguhnya dia menaiki transporter itu. Dia bersedih karena tidak berhasil menolong temannya padahal justru karena itulah dia bersikukuh untuk ikut, walau Andrew sudah melarangnya berkali-kali dengan alasan transporternya masih belum cukup untuk membawa tiga orang menembus aliran waktu dan tempat. Satu yang menjadi pikirannya.

Kenapa...

Kenapa dia yang harus terhempas dari aliran waktu itu? Kenapa bukan Shinn atau Andrew yang terdampar di tempat ini dan bertemu dengan Athrun? Dan kenapa? Kenapa Athrun juga mengalami hal yang sama?

.

Menyadari bahwa sepertinya gadis itu termenung dalam pikirannya, Athrun mencoba menghibur. "Hei. Temanmu pasti akan baik-baik saja. Lagipula, dia temanmu kan? Percayalah padanya." Entah kenapa tiba-tiba saja langit-langit di ruangan itu terlihat menarik dan membuat Athrun terus menatapnya. Tanpa berbalik, dia bisa merasakan gadis itu mengangguk pelan tanda bahwa dia setuju atau mengerti perkataan Athrun barusan.

"Cagalli." ujarnya lagi.

"Hmm?" Kali ini sepertinya gadis itu sudah mulai melembut.

"Berapa umurmu?"

Hening sejenak.

"16 tahun. Kau?"

Ternyata benar dugaannya, gadis itu masih muda –sama seperti dirinya. "17 tahun."

Dia merasakan adanya gerakan dari belakang. "Tidak mungkin!" teriaknya. "Kau cuma beda 1 tahun denganku saja? Kau pasti bercanda!" Memeluk selimutnya dengan erat, gadis itu berdiri dan meneriaki Athrun yang sudah berbalik dan sedang menatapnya dengan tatapan bingung. Apa ada yang salah dengan perkataannya? Tidak.

"Hei, aku juga bisa bilang hal yang sama. Berarti kau masih berusia 14 tahun ketika kau melawan para coordinator itu?"

Ups. Sepertinya dia telah salah mengungkit topik. Hal itu terlihat dengan jelas dari raut muka Cagalli yang menjadi serius. Gadis itu kemudian memposisikan dirinya kembali seperti semula. Keheningan sekali lagi berada di antara mereka. "13 tahun."

"Ha?"

"Kali pertama aku membunuh coordinator. 13 tahun. Itu usiaku." Hening. "Dan 2 tahun yang lalu? Aku tidak tahu setan apa yang merasukiku saat aku melihat mereka membunuh ayahku dengan keji."

"Maaf." Athrun tidak tahu bahwa hal itu bisa membuat Cagalli merasa sedih. Dia merasa bersalah mengangkat topik yang tabu itu.

"Dia bukan ayah kandungku." Gadis itu memulainya dengan pelan. "Tetapi dia menjagaku layaknya seorang anak."

Hening.

"5 tahun. Itu usiaku saat dia mengambilku dari panti asuhan. Aku tidak tahu siapa orang tuaku, tetapi aku sudah menganggap Ayah Uzumi seperti ayahku sendiri. Dia juga menjagaku dengan baik dan mendidikku agar aku tetap hidup." Dia mengambil nafas sejenak untuk beristirahat. "Jadi, kau bisa bayangkan apa yang akan kau lakukan jika dia mati di hadapanmu demi melindungi dirimu dari para coordinator yang tidak berperasaan itu."

Athrun tahu bahwa ada sebagian –bahkan hampir semua coordinator menganggap rendah manusia biasa dan ingin menghancurkannya. Bagi mereka, natural mengacaukan kesempurnaan yang telah mereka bangun dan mereka tidak akan segan-segan untuk menghancurkannya. "5 tahun ya?" Dia bergumam pelan mencoba mengingat apa yang terjadi saat dia berusia sama. "Saat itu, ibuku meninggal. Dia tidak terbunuh, tidak. Dia terkena penyakit yang tidak bisa disembuhkan. Aku menangis, meneriakkan ibuku terus menerus dan bertanya-tanya kenapa ayahku tidak datang untuk menolongnya. Karena tidak bisa melawan penyakitnya lagi, diapun meninggal, di depan mataku sambil mengucapkan kalimat, "Jangan benci ayahmu."."

Tiba-tiba dia bisa merasakan kehangatan berasal dari tangannya. Diliriknya tangan Cagalli sedang menggenggam tangannya erat seolah-olah sedang menguatkannya. Dia tidak tahu kenapa transporternya bisa rusak dan membelokkan aliran waktu, tetapi dia tidak menyesal sebab karena itu, dia bisa bertemu Cagalli dan mengingatkannya kembali akan kehangatan yang pernah dia rasakan sebelumnya. Mungkin, takdir sedang merencanakan sesuatu untuk mereka, tetapi saat itu mereka tidak peduli karena mereka sama-sama telah menuju ke dunia mimpi.

.

I wish for the time to stop.

.

Earth, Indonesia, 0630 hours

Meer Campbell adalah nama lengkap gadis berambut merah muda panjang yang memakai baju yang sedikit terbuka itu. Dia juga adalah gadis yang menemukan Auel di antara puing-puing tadi. Saat itu, dia sedang duduk di sebelah Auel yang terbaring di kasurnya, menggantikan handuk dingin yang dia letakkan di kepala pemuda itu. Sebuah senyuman kecil terpasang di wajahnya. Dia tidak sabar untuk melihat warna mata milik pemuda itu. Dia tidak sabar untuk mendengar suaranya. Ya, dia sungguh tidak sabar untuk menanyakan identitas pemuda itu.

Tak lama, pintu kamar itu terbuka memperlihatkan seorang gadis yang mirip sekali dengan dirinya kecuali gadis yang ini memakai baju yang sedikit lebih tertutup dan penjepit rambut yang dipakainya berbentuk dua kilat bersamaan sementara yang digunakan Meer adalah berbentuk bintang. "Lacus?" Meer memanggil nama saudara kembarnya dengan lembut.

Gadis yang bernama Lacus itu membawa sebuah nampan yang terdapat gelas berisi air minum dan piring yang di atasnya terdapat roti isi. "Aku bawakan ini kalau-kalau pemuda itu sudah bangun." Pemuda yang dimaksud tentunya Auel yang masih belum membuka matanya semenjak mereka menemukannya. Semua luka yang dimiliki pria itu sudah diobati oleh Meer dengan baik. Tentu saja sebab Meer adalah seorang perawat sehingga mengobati orang itu adalah makanan sehari-harinya. "Terima kasih, Lacus." jawab Meer dengan lembut sembari mengambil nampan itu dari tangan Lacus untuk kemudian meletakannya di meja yang berada di sebelah tempat tidur.

"Bagaimana dia?" tanya Lacus sementara Meer sedang meletakkan nampan tersebut.

Menggelengkan kepalanya, Meer menjawab. "Impulsnya mulai stabil, tetapi masih belum ada tanda-tanda kalau dia akan bangun."

"Dia coordinator itu kan?" ujar Lacus pelan. Tentu mereka sudah melihat selebaran yang disebarkan di jalanan yang memasang wajah Auel dan lainnya. Menyembunyikannya adalah hal yang cukup berisiko bagi mereka, tetapi Meer bersikokoh untuk merawatnya sampai pemuda itu sadar. Dan lagi, Lacus juga tidak mungkin membiarkan orang yang terluka itu begitu saja, meskipun dia dicari-cari.

Dari poster di jalan itu, mereka menduga bahwa nama pemuda itu adalah Auel. Hal yang menarik dari Lacus adalah pergelangan tangan lelaki itu. Di bagian dalam pergelangan tangan kirinya terdapat barcode yang akan muncul untuk menunjukkan bahwa mereka adalah coordinator. Tetapi yang menarik adalah, barcode itu seperti digores dengan pisau tajam seolah dia ingin menghapus barcode tersebut. Dan memang hal itu cukup berhasil untuk menutupinya, tetapi meninggalkan bekas luka yang mengerikan.

Dalam pikiran saudara kembar itu terdapat satu pertanyaan yang sama, Kenapa lelaki itu mau berkhianat?

"Urgh..." Suara erangan dari pemuda itu membuat Meer segera berlari menghampirinya.

.

Auel tidak tahu apa yang telah terjadi. Hal pertama yang dilihat ketika dia membuka matanya adalah melihat Lacus Clyne dengan seorang gadis yang tidak dia ketahui namanya. Dia tahu siapa itu Lacus Clyne, anak dari Siegel Clyne yang cukup berpengaruh dalam dunia politik coordinator. Terlebih Lacus juga terkenal karena suara bidadarinya yang membuat siapapun mendengarnya merasa tenang. Yang menjadi pertanyaannya adalah, siapa gadis yang sangat mirip Lacus itu? Kenapa dia berada begitu dekat sekali dengan dirinya dan memandangnya dengan tatapan khawatir?

"Kau sudah sadar." Suaranya berbeda dengan Lacus. Gadis ini memiliki suara sedikit lebih tinggi dan lebih ceria dari Lacus – bukan berarti dia tidak menyukainya.

Perlahan, dia memposisikan dirinya untuk duduk, tetapi luka di perutnya bekas tembakan tadi membuatnya mengerang kesakitan. "Urgh."

"Jangan bergerak dulu. Lukamu masih belum sembuh sepenuhnya." Gadis itu mendorong Auel untuk tidur kembali. "Bukan berarti sebagai coordinator, lukamu akan sembuh dengan sekejap."

Mendengar gadis itu menyebutnya coordinator membuat Auel menarik gadis itu dekat dengan wajahnya sehingga jika dilihat dari posisi Lacus, mereka seperti sedang berciuman. Auel merasakan tatapan kebingungan dari gadis itu seperti tidak tahu apa yang sedang dilakukan Auel terhadapnya. Mata amethystnya yang menyadarkan Auel. Dia adalah gadis yang menyelamatkannya kemarin. Seorang yang dia kira adalah bidadari yang turun dari langit untuk menjemput dirinya.

.

Lacus merasakan bahaya ketika Auel sudah menarik Meer mendekat ke arahnya. Dia tidak dapat mendengar apa yang dibisikkan (kalaupun ada) oleh Auel kepada diri Meer, tetapi saudara kembarnya itu terlihat tenang-tenang saja, berbeda dengan Lacus yang sudah ketakutan. "Meer." ujarnya pelan.

"Hei! Kau itu masih sakit, jangan banyak gerak dulu!" Dia menepok tangan Auel yang membuat Auel tersentak kaget karena dengan mudahnya gadis itu melepaskan genggamannya. "Urgh...kenapa kau tidak bisa jadi pasien yang baik sih?" Meer menekan Auel untuk berbaring kembali dan menyelimuti tubuh pemuda tersebut.

"Lukaku?" ujar pemuda itu dengan pelan, mencoba untuk melupakan bahwa baru saja seorang gadis melepaskan genggamannya.

Seketika itu juga muka sang perawat itu memerah. Dia tentu mengerti maksud Auel. Luka yang ada di perutnya juga semua yang ada di tubuhnya sudah dirawat oleh Meer yang artinya dia harus melihat tubuh Auel setengah telanjang. Dia masih bisa mengingat betapa dia terkagum karena tubuh pemuda itu yang begitu sempurna. "Aku sudah membalut lukanya." jawab Meer dengan pelan. "Habis, kalau tidak kau bisa kehabisan darah nanti."

"Urgh." Kedua saudara kembar itu bisa melihat bahwa Auel sepertinya sedang berpikir sesuatu. "Terima kasih." Akhirnya setelah berkelut dengan dirinya, diapun mengucapkan terima kasih kepada gadis itu.

Kalau tadi muka Meer berwarna merah muda, sekarang kedua pipinya sudah bersemu merah seperti tomat. Dia seperti seorang anak remaja (memang dia masih remaja) yang baru saja memberikan sebuah kotak bento kepada orang yang disukainya dan menerima ucapan terima kasih darinya. Apalagi suara pemuda itu sangat lembut dan menghanyutkan, gadis mana yang tidak akan luluh? "Err...sa- sama-sama." Meer mengutuki dirinya yang tidak bisa mengucapkan kata-kata dengan baik. Dan dia sangat membenci dirinya yang memutuskan untuk memandang ke arah Auel yang sedang tersenyum lembut kepada dirinya. Sungguh suatu keputusan yang salah, karena sekarang wajahnya sudah benar-benar merah dan membuat kedua insan di ruangan itu khawatir.

"Meer? Kau tidak apa-apa?" tanya Lacus yang mulai mendekat ke arahnya.

"Ti- tidak apa-apa nee-san." Meer mencoba menjawab dengan tegas dan berdiri menghadap ke arah saudaranya itu.

Dan itu menjawab pertanyaan Auel tentang siapa gadis itu. Dia adalah Meer Campbell, saudara kembar Lacus. Gadis yang juga memiliki suara seindah Lacus. Hanya saja, gadis itu lebih suka ke arah lagu yang sedikit ceria sementara Lacus ke arah lagu yang sedikit mellow. Sebuah senyuman terpasang di raut mukanya melihat kedua gadis di depannya itu. Meer sedang menggembungkan pipinya karena kesal sementara saudara yang satu lagi tersenyum lembut dan masih mencoba menenangkannya. Well, mungkin yang lain sekarang sedang mencarinya, tapi Auel rasa tidak ada salahnya jika dia beristirahat sejenak dan menghabiskan waktu dengan mereka –terutama gadis itu. Stellar sedang bersama Sting, dan Archangel pasti sudah mengirimkan beberapa orang untuk menolong mereka –termasuk dirinya. Yah, dia juga masih capek, jadi, biarkan saja dulu dia menikmati waktu ini. Melihat mereka berdua membuat dia lupa bahwa mereka masih berada dalam peperangan yang belum berakhir dan hanya Tuhan yang tahu.

.

I wish for happiness, Lord.

.

Earth, Indonesia, 0901 hours

"Sepertinya mereka sudah datang." ujar wanita pemilik rumah di mana Sting membawa Stellar untuk diobati tadi. Dia berdiri dari tempat duduknya dan membuka pintu ruangan tersebut. Di balik pintu itu terlihat Andrew dan Shinn yang baru saja datang dari transporter. Shinn tidak menghiraukan Andrew yang masih membereskan transporter. Dia segera berlari masuk melewati wanita itu menuju ke arah Stellar yang sedang terbaring dan bahkan mengabaikan Sting yang sedang duduk termenung di dekat gadis itu.

Sekejap rasa khawatir itu hilang diganti sebuah rasa kelegaan karena gadis itu tidak kenapa-kenapa. Dia sudah berjanji pada dirinya bahwa dia akan selalu menjaga gadis itu. Bahkan saat dia dan kedua saudaranya memutuskan untuk pergi ke Indonesia menjaga markas Archangel yang ada di sana, Shinn tidak henti-hentinya memikirkan dirinya dan sesekali mengunjungi mereka bahkan sampai membuat transporter mereka rusak karena terus digunakan.

"Shinn." Sting memanggil pemuda pemilik mata ruby itu dengan pelan. "Maaf." ujarnya pelan. Dia tahu bahwa seberapapun kata maaf yang dia keluarkan, apa yang terjadi sudah tidak akan bisa berubah.

Mendengar permintaan maaf dari orang yang duduk di sebelahnya sekarang membuat Shinn menjadi naik darah. Dia menarik kerah pemuda berambut hijau itu dan membuat saudara Stellar itu berdiri. "Maaf? Kau pikir dengan maaf semua bisa baik-baik saja, hah? Apa yang ada di pikiranmu saat kau mencoba untuk menerobos masuk ke markas itu tanpa persiapan? Kalau mau mati, mati saja sendiri, jangan ajak mereka ikut serta!" Shinn terus berteriak dalam amarah kepada Sting tanpa mempedulikan kalau suaranya bisa saja membangunkan Stellar yang sedang tidur.

Sting tidak mengatakan apapun dan membiarkan pemuda berambut hitam itu melampiaskan amarahnya. "Shinn, tenangkan dirimu." ujar wanita pemilik rumah itu. "Aku tidak mau ada keributan di sini. Kalau mau berkelahi, sana di luar saja!"

"Urr." Terdengar suara dari arah Stellar yang mulai sadar dan membuat Shinn melepaskan genggamannya dari kerah Sting dan membuat pemuda yang terlihat putus asa itu jatuh ke tempat duduknya tadi. Mereka segera mendekat ke arah gadis itu sementara Andrew sedang membicarakan sesuatu dengan wanita pemilik rumah itu.

"Shinn?" ujarnya pertama kali ketika melihat sepasang mata ruby itu di depannya. "Sting?"

"Stellar." Sting mengucapkannya dengan rasa lega karena akhirnya saudaranya sadar juga.

Tanpa aba-aba, Shinn segera memeluk Stellar dan gadis yang mulanya terlihat bingung itu kemudian membalas pelukannya. "Nee, nee, Shinn tidak sakit kan? Stellar tidak apa-apa kok." Gadis pirang itu menyapu matanya ke semua sudut ruangan dan menyadari ada seseorang yang hilang. "Eh? Auel-niisan mana?"

Hening. Tidak ada yang menjawab pertanyaan gadis itu. Baru saja Sting hendak menjelaskan di mana keberadaan Auel, dia disela oleh Andrew.

"Shinn."

"Apa?" Shinn menjawabnya tanpa melepaskan pelukannya.

"Cagalli tidak ada." Dan itu cukup membuat pemuda itu melepaskan pelukannya terhadap Stellar dan menatap Andrew dengan tajam.

"Apa maksudmu dengan tidak ada? Dia ada bersama dengan kita kan tadi?" Suara Shinn terdengar keras dan khawatir.

"Tadi, tapi sekarang dia tidak ada. Sepertinya guncangan tadi menandakan bahwa Cagalli terdampar dalam arus aliran waktu dan tempat yang lain."

"Sudah kau coba untuk hubungi card-nya?" Andrew mengangguk. "Cih, sial! Belum selesai satu masalah, sudah muncul masalah lain. Jadi sekarang bagaimana?"

"Lebih baik kalian selesaikan dulu urusan kalian yang pertama. Selamatkan Auel, lagipula julukan Goddes of Victory yang diberikan Cagalli bukan tanpa arti." Akhirnya wanita itu mengeluarkan pendapatnya, memecahkan keheningan di antara mereka. "Tapi." Dia memulainya dengan nada yang sedikit tajam. "Kalian harus siap-siap jika terjadi sesuatu pada dirinya."

.

Hope for the best and prepare for the worst

.

eL : 15 halaman, 15! Mungkin ini adalah chapter terpanjang yang pernah eL buat..sungguh eL tidak menyangka kalau eL bisa membuatnya sampai sepanjang ini! Aduh, seandainya kalian beneran datang ke Indo..eL pasti udah melukin Auel ama Sting deh...minta foto bareng semua chara GS...urgh...seandainya itu bisa terjadi T^T

Sting : Akhirny ada juga author yang memasukkanku dalam cerita, walau cuma sekilas.

eL : ohoho...aku kan menepati janjiku, lagian kau akan memegang peranan yang cukup penting untuk beberapa chapter berikutnya.

Sting : T^T makasih, makasih (peluk eL yang lagi mesem-mesem)

eL : Wuhu! Oh ya, eL tahu kalo adegan Asucaga di sini mirip banget dengan episode 25 (?), tetapi eL rasa itu adegan paling romantis dan paling pas buat cerita ini, yah walau eL ubah-ubah dikit seperti tempat dan cara mereka bertemu...hoho...tapi emang eL lagi pengen bikin cerita mereka sih...semoga Asucaganya cukup ya XDDD

Kira : Kenapa kali ini aku tidak tampil ya?

eL : Sabar ya, habisnya kau kan lagi dikurung di dalam ruanganmu sebab Cagalli meninggalkanmu demi menyelamatkan Sting.

Athrun : WTH? Sting? Aku tidak salah dengar?

eL : err...iya? Yah, pokoknya tunggu saja di chapter berikutnya, ok? ;)

Athrun : Eh, tunggu...maksudnya ap? Hei!

eL : *ngacir* Oh ya, apakah konfliknya cukup? Atau masih kurang?

Auel : Bersediakah kalian mereview buat eL? Tq sebelumny ya ^^ Oh, ini ada sedikit cuplikan untuk chapter berikutnya. Psst...jangan kasih tahu eL ya...ok?


"Sudahlah Meyrin, lupakan saja dia. Tidak ada untungnya kalau kau tetap mengingatnya seperti itu!"

"Mudah bagi kakak untuk bilang begitu! Kakak kan tidak patah hati seperti aku! 3 tahun kak! 3 tahun aku bersama dengan dirinya, mencoba menjadi apa yang diinginkannya dan dia menolakku!"

"Mey..."

-x-

"Namamu Auel kan?"

"Iya."

"Boleh aku bertanya?"

"Kalau aku bisa menjawabnya, silahkan."

"Kenapa kau berkhianat?"

"Karena-"

"Hmm?"

"Karena itulah yang diinginkan oleh dirinya."

-x-

"Kurasa kita harus berpisah di sini dulu ya, Goddes of Victory."

"Sudah kukatakan hentikan memanggilku dengan julukan seperti itu, Red Knight."

"Kau juga harus menghentikannya."

"Setelah kau tentunya."

"Sampai berjumpa lagi Cagalli."

"Sayonara, Athrun."

"Kali berikutnya kita bertemu–"

" –kita tidak akan pernah bertemu lagi."

"Mungkin. Hari esok siapa yang tahu?"

-x-

eL : AUEL! Itu kan cerita untuk chapter berikutnya...darimana kau mendapatkannya?

Auel : Err...ya sudah ya semua...jangan lupa review untuk eL...aku lari dulu...hehe...tha2

Review?