Ohayou! Konnichiwa! Konbawa!

.

Mohon maaf untuk segala kesalahan di chapter lalu!

Terima kasih untuk semua yang sudah memberikan feedback, dan menambahkan fic ini di list fave/alert-nya.

Dozo, Minna-sama!

Disclaimer:

Masashi Kishimoto

Warning:

Alternate Reality, POV changing, out of character-maybe, a little typo(s) and mary-sue. Full of gajeness and garingness.

.

Italic: bicara dalam hati..

Bold+italic: Naruto/Hinata'sPOV

.

Have a nice read! ^_~

.

XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX

.

Selamat datang di dunia fantasi bernama 'Hinata in Wonderland'!

Oke, itu memang berlebihan.

Pasalnya, Hinata yang sedang ngumpet di balik pohon entah-apa-namanya sedang tersenyum-senyum sendiri. Yep, nyaris seperti orang gila. Tapi, duhai pembaca sekalian… Masa gadis secantik Hinata disamakan dengan orang gila? Hell no! Wajahnya itu sedemikian polos dan seakan tidak memiliki dosa, raganya bagaikan dewi malam yang memukau siapapun layaknya cerita di negeri dongeng!

Dan dibandingkan dengan orang gila?

Ya ampun. Lupakan.

Hinata yang bersembunyi di belakang sebuah pohon besar menoleh ke arah kanan, aman. Dan kali ini, ditolehkannya kepalanya ke arah kiri. Aman pula. Maksud aman di sini adalah tidak tampaknya batang hidung seorang pemuda bernama Naruto Uzumaki, yang menjadi teman bermain petak umpetnya.

Hinata menghela napas lega, dan ketika ia mengangkat kepala, wajah si teman bermain petak umpetnya tengah tersenyum ramah tepat di hadapan wajahnya.

"Dor! Hinata tertangkap!" serunya riang.

Hinata dapat merasakan jantungnya seakan berhenti berdetak beberapa saat, dan dalam sekejap rona merah memberi warna pada wajahnya, tubuhnya menegang sesaat karena luar biasa terkejut.

"Kau tidak akan bisa bersembunyi dariku, Hinata! Kau tahu itu?" tanyanya lagi dengan senyum yang tetap bikin meleleh.

Senyumnya menular pada Hinata, gadis itu kini menarik napas panjang, dihembuskannya penuh rasa lega. "Aku kalah, Naruto-kun," katanya lembut.

Ada rasa lega dan senang tersendiri di hati Naruto, melihat gadis di depannya kini bisa rileks dan sama sekali tidak pingsan saat berada di dekatnya.

Naruto mengulum senyumnya, matanya menyipit menatap Hinata yang sedang tersenyum padanya. "Kita belum menentukan hukuman untuk yang kalah lho, Hinata."

"Aku kira tidak ada hukuman," kata Hinata heran. "Baiklah… Hukumannya terserah yang menang saja!"

Naruto melebarkan cengiran khasnya. 'Tidak lebih sulit dari yang kuduga,' batinnya. "Hmm… Hukuman, ya? Bagaimana kalau kau menemaniku bermain?"

Hinata mengangkat sebelah alisnya, wajahnya diliputi keheranan. "Nani? Bukannya dari tadi kita bermain, ya?"

Naruto kembali meraih tangan mungil Hinata dalam genggamannya. "Tentu saja! Tapi ini berbeda, Hinata… Ayo kita main aiiirrr!" soraknya gembira, ia membawa Hinata berlari menembus hutan tersebut menuju sungai yang tadi ditemukannya.

Diam-diam Hinata tersenyum. Perlahan, dibalasnya genggaman tangan Naruto. Dieratkannya genggaman mereka, seolah kedua tangan mereka dilem dan benar-benar merekat kuat. Hinata pun menyesuaikan kecepatan berlarinya mengikuti Naruto yang tertawa-tawa senang saat berlari bersamanya.

Mereka berdua menembus hutan yang rindang dengan kehijauan itu, berlari menjejaki rerumputan yang tebal dan memperlambat langkah mereka namun tak mereka permasalahkan, berlari melewati pepohonan yang menjulang tinggi, berlari merasakan angin yang membelai mereka dengan lembut, berlari merasakan sinar samar yang hangat dari pancaran mentari di langit biru, berlari bersama melupakan beban masing-masing yang semula terpikirkan menjadi terlupakan.

Kalau ini mimpi, Hinata bersedia untuk tidur selamanya. Ia tidak akan melepaskan mimpi indahnya—jikalau ini mimpi. Ia rela menjadi putri tidur selamanya, putri yang menemukan pangerannya dalam mimpi indah.

.

#~**~#

.

"Teman-teman, kurasa Neji membutuhkan bantuan kita," kata Lee pada teman-temannya yang lain, mereka semua sama-sama memandang sosok pemuda Hyuuga yang tidak berhenti mondar-mandir di hadapan mereka dengan wajah cemas.

"Lee, coba kau pikir, memang apa yang bisa kita lakukan untuk Neji?" tanya Tenten, matanya tetap tak lepas memandang rekannya yang berambut coklat panjang.

"Setidaknya ia bisa berhenti mondar-mandir," sahut Shino sambil lalu.

"Betul! Aku pusing melihatnya mondar-mandir seperti itu!" Kiba mengangguk-angguk diikuti Akamaru. Oh, betapa sehatinya pasangan majikan-peliharaan yang satu ini!

Neji yang mendengar perbincangan teman-temannya menoleh dengan wajah datar. "Aku tidak meminta kalian untuk memandangiku seperti itu," katanya ketus.

"Kurasa kau mengidap penyakit bernama sister complex, Neji," cetus Ino dengan wajah serius.

Lee dan Tenten berpandangan. Tenten tersenyum memaklumi Ino yang berkespresi serius yang seakan memvonis Neji dengan kata-katanya barusan. "Mungkin belum sampai ke tahap itu, Ino."

"Kudoakan tidak sampai separah itu, deh." Sakura menggeleng-gelengkan kepalanya. "Penyakit seperti itu sulit untuk disembuhkan."

Neji mendelik pada mereka, dan teman-temannya tertawa melihat Neji yang melirik mereka tajam, tatapan yang penuh kekesalan di samping kecemasan.

"Apa ada yang melihat Naruto?" Sai datang menghampiri mereka, pemuda berkulit pucat itu pun duduk di sebelah Sakura, ikut bergabung dengan teman-temannya.

"Ada perlu apa kau mencari Naruto?" Chouji iseng balik bertanya pada Sai.

"Zzz… Krrrhhh…" Dengkur suara yang mendadak mengeras itu membuat semua menoleh kaget. Ya, mereka dibuat terkejut dengan Shikamaru yang mendadak mendengkur kencang.

"Lanjutkan tidurmu, Shikamaru. Tak ada yang bertanya padamu," kata Kiba pada Shikamaru dengan wajah sok serius yang membuat semua tergelak kencang.

"Zzz… Krrhh…"

"Aku baru tahu kalau Naruto mengerti tentang seni," kata Sakura setengah menyindir pada Sai.

Sai hanya tersenyum. "Karena dia tidak tahu apa-apa tentang seni, hal itulah yang membuatku senang bertanya dan meminta pendapat padanya tentang karyaku."

"Biar kutebak…" Sakura menyipitkan matanya, menatap tajam Sai yang tersenyum mencurigakan. "…Pasti karena kata-katanya konyol dan intinya karyamu 'bagus'? Dan hal itu lucu untukmu?"

Sai terkekeh pelan. "Tepat sekali."

Sakura ikut terkekeh-kekeh. "Kalau dia tahu, dia pasti akan memberikan satu rasengan untukmu, Sai!"

"Makanya, jangan biarkan Naruto mengetahuinya. Oke, Sakura-chan?" Sai mengulurkan tangannya pada Sakura.

Sakura balas menepuk tangan Sai. "Oke!" Dan keduanya tertawa-tawa, membuat yang lainnya sweatdrop. Mereka pikir, Naruto cukup kasihan juga memiliki partner seperti Sakura dan Sai.

"Jadi, kemana Naruto pergi? Aku tidak melihatnya sama sekali," tanya Sai setelah tawanya mereda.

"Dia dan Hinata sedang berke—" Sakura merasakan bulu kuduknya berdiri ketika Neji memandangnya dengan tatapan penuh intimidasi, juga dengan aura hitam yang tidak terlihat namun sangat jelas terasa.. "—Aaah! Maksudku, Naruto dan Hinata sedang berjalan-jalan bersama. Sudah dari tadi!" Sakura segera meralat kata-katanya dengan tawa canggung. "Bukankah begitu, teman-teman? Hahaha…"

Semua kecuali Neji, Sai dan Shikamaru mengangguk-angguk membenarkan perkataan Sakura.

"Hal ini menjelaskan kenapa muka Neji sejutek itu." Sai ikut mengangguk. "Padahal lebih baik dia tersenyum… Setidaknya, muka datarnya lebih baik di banding muka galak seperti itu."

"Itu juga menjadi penyebab kenapa penampilan Neji bisa seberantakan itu." Kiba terkekeh-kekeh melihat penampilan Neji yang lain daripada biasanya.

Lee pun mengangguk dengan wajah serius. "Lihat saja, rambutnya bisa sampai sekusut itu…"

Yang lain mundur teratur menjauhi Kiba, Lee dan Sai. Bukan karena trio tersebut, melainkan karena Neji dengan wajah sangar mendekati trio yang mengomentari penampilannya yang jauh dari kata 'oke'.

"Kurasa kita bisa menutup mata." Shino membantu Chouji menyeret Shikamaru. "Adegan kekerasan yang akan dimulai dalam tiga detik lagi, tidak pantas untuk disaksikan siapapun."

Tepat setelah Shino selesai berkata-kata, semua buru-buru memejamkan mata dan menutup telinga, namun suara pukulan dan tangkisan serta ringisan kesakitan yang pilu dapat mereka dengar.

"Kuharap Naruto cepat kembali kemari," kata Sakura yang bergidik ngeri. Ia dan teman-temannya dengan pengecualian Neji dan trio yang sedang disiksa Neji, duduk membelakangi adegan pertarungan sadis yang sedang berlangsung di belakang mereka.

"Dan sebaiknya Hinata baik-baik saja, Naruto tidak boleh kembali dengan Hinata yang pingsan." Ino menambahkan dengan suara pelan.

"Kalau tidak, kurasa kita terpaksa menyelamatkan Naruto dari Neji yang protektif pada Hinata." Tenten hanya bisa pasrah merasakan kedua rekannya yang sedang tidak akur. "Dan semoga Neji tidak terlalu sadis pada Lee, Kiba dan juga Sai!"

.

To be continued

XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX

.

Tak terima protes karena chapter ini sedemikian pendek. Kalau memang terlalu suka sama cerita—gaje punya—Light yang satu ini, daripada 'gedruk-gedruk' nagih update, lebih baik baca fic NH Light yang lain. RnR kalo perlu. XD

Light juga nggak terima protes kenapa chapter ini lama update. Light nggak janjian sama RnR kapan mau update! Besok, lusa, entah kapan. Cukup percaya sama Light bahwa fic ini akan dilanjutkan.

Tolong… sadarlah sedikit kalau author itu sendiri manusia biasa. Punya masalah-urusan-kesibukkan masing-masing yang mesti didahulukan di banding yang lain. Ingin, memang sangat ingin melanjutkan cerita, menerima review/fave, tapi ada kalanya hal lain harus lebih diprioritaskan di banding hal yang disukai. Kasus semacam ini sering terjadi, pada senpai-senpai lainnya, mereka jadi malas melanjutkan cerita karena banyak yang 'nagih' dan 'mengejar-ngejar' sebegitu ngotot dan memaksanya. Oke, kita—author—mengerti kalau kalian penasaran dengan kelanjutan cerita, tapi tidak sampai 'sebegitunya' hingga membuat sang author jadi sedih, marah, malas melanjutkan cerita. Kalau sudah terjadi seperti itu, siapa yang merasa kesal selanjutnya? Tentu RnR tersebut.

Lebih baik mana, cepat-cepat update tapi ceritanya 'belepotan' penuh kesalahan dan keanehan, atau lama update namun cerita memuaskan?

.

Terima kasih sudah menyempatkan membaca! Kritik dan sarannya ditunggu selalu!

.

Sweet smile,

MoonLite Crystal