Disclaimer:
We do not own Naruto, nor making any money from this fic. Naruto is respectively belongs to Kishimoto Masashi-sensei.
Genre: Romance/Drama
Rating: M (for this chapter)
Pairing: FugaMina (main) slight FugaMiko & MinaKushi
Warnings: Alternated Universe, Shounen-ai, yaoi, possible OOC. Don't like? Then please don't read, 'kay?
A Naruto Role Play Fanfiction by denayaira and Kyou Kionkitchee
Mistakes
5th Mistake: Distrusting
Matahari telah semakin condong ke barat. Langit mulai berubah warna menjadi keunguan, berpadu dengan warna jingga indah yang akan mengantar malam untuk tiba di kota ini.
Di bawah naungan senja, beberapa orang nampaknya terlihat tak peduli dengan perubahan hari. Sementara yang lainnya telah memutuskan untuk mengakhiri kegiatan mereka dan kembali ke kediaman masing-masing... termasuk dua orang ini.
Dua orang pemuda dengan rupa yang amat kontras, bagaikan siang dan malam, tengah berjalan bersama meninggalkan gerbang dari universitas tempat mereka menuntut ilmu. Mereka berjalan berdampingan, agaknya lagi-lagi tak peduli dengan mahasiswa-mahasiswi lain yang terus mengikuti gerak kedua orang ini dengan ekor mata mereka.
Nyatanya, hanya beberapa langkah meninggalkan gerbang, sang 'pemuda malam', pemuda bermarga Uchiha yang memiliki rambut hitam kelam dengan warna mata yang sama, membuka mulutnya untuk bertanya.
"Bagaimana kalau kau kuantar pulang?"
Sang 'pemuda siang' yang ditanya, seorang penyandang marga Namikaze yang berambut mentari bermata samudera, menolehkan wajahnya untuk melihat sang 'malam' dengan lebih jelas. Seulas senyum ceria melengkung di bibirnya seraya membalas, "Tentu!"
"Kita singgah ke apartemenku sebentar," balas Fugaku, "menyimpan buku-buku ini."
Ya. Fugaku memang sedang membawa beberapa buku tebal di tangan kanannya, buku perpustakaan yang mereka pinjam untuk tugas mereka. Tapi rencana untuk singgah sejenak di apartemennya seharusnya tak mengganggu karena lokasi tempat itu tak begitu jauh dari universitas mereka.
Minato menggembungkan sebelah pipinya, "Makanya tadi aku menawarkan diri untuk membawa buku-buku itu, Fugaku! Berat, 'kan?" ujarnya dengan nada sebal, meskipun sebenarnya tidak begitu.
"Apartemenku tidak jauh, Minato," balas Fugaku, mencoba menyembunyikan rasa heran sekaligus takjub yang lagi-lagi muncul saat melihat sikap sang 'pemuda siang' itu, "berat atau tidak tak akan jadi masalah."
Sang Yellow Flash menghela napas sebelum kembali tersenyum. Betapa cepat ia merubah ekspresinya tentu tak lepas dari pengaruh sang Uchiha.
Minato pun mengambil salah satu buku tebal dari tangan Fugaku seraya berkata, "Hari ini kemungkinan Ayahanda pulang ke rumah. Jadi, aku bisa memperkenalkan Fugaku nanti."
Namun, tak lama Minato terdiam. Menghela napas kembali, ia menatap sang 'pemuda malam' dengan senyum sendu.
"Kalau boleh jujur, aku lebih senang berdiam di apartemenmu daripada harus pulang ke rumah, Fugaku."
Tak ada perubahan ekspresi di wajah Fugaku, tetapi pupil oniks miliknya sempat melebar sejenak mendengar penuturan itu.
Kemudian, dengan memandang pada wajah sang pemuda siang itu, ia pun berkata, "Kalau begitu, hari ini menginaplah di apartemenku."
Lagi-lagi tak ada tanya di dalam kalimatnya.
Kali ini pupil sapphire Minato yang melebar, namun, tak lama kembali pada ukurannya semula—bahkan menyipit karena senang.
"Dengan senang hati!" balasnya riang.
Ya, Minato senang karena ia bisa kembali merasakan suasana hangat ruangan yang terbilang unik—setidaknya ia berpendapat begitu—milik Fugaku. Suasana yang menentramkan hati dan jauh dari kata 'dingin'. Berbeda dengan rumahnya yang megah tapi sama sekali tidak membuatnya nyaman. Kalau boleh memilih, sang Namikaze muda itu pasti takkan pikir panjang lagi untuk menetap bersama Fugaku.
Seandainya benar terjadi...
Balasan riang Minato membuat Fugaku ingin menghembuskan nafas lega.
Ia tidak suka, dan juga sama sekali tidak ingin, melihat senyum sedih yang mengiris hati itu tertera di wajah Minato.
Dan, mungkin berlebihan, tapi rasanya ia rela melakukan apapun untuk tetap menjaga senyum ceria Minato di wajah pemuda itu.
Kembali ke tempat ini...
Itulah yang ada dalam benak Minato ketika tiba di depan apartemen Fugaku. Hembusan napas lega yang keluar dari mulutnya yang melengkung ke atas sudah cukup membuktikan bahwa ia menantikan saat-saat kembali ke sana... ke 'rumah' yang membuatnya nyaman. Padahal, kalau dipikir-pikir, ia belum lama mengenal sang Uchiha, bahkan mereka tidak pernah menjadi teman sepermainan sebelumnya.
Apa justru kesenjangan itu yang membuat Minato tertarik pada Fugaku? Mungkin ya. Selain menyadari bahwa pemuda itu memiliki aura klasik yang dikaguminya, hanya bersamanyalah Minato bisa merasa nyaman yang sesungguhnya... merasa sangat bahagia. Dan ia akan berusaha mempertahankan agar rasa itu tetap bersemayam dalam dirinya.
Minato mungkin hanya tidak tahu, bahwa Fugaku pun merasakan hal yang sama dengannya.
Ia takjub dengan besarnya perbedaan mereka—yang untungnya, tidak menjadi pemisah ataupun pemberi jarak untuk mereka, namun justru menjadi salah satu penyatu kedua pemuda ini.
Dan, sungguh, ini kali pertama dalam hidupnya ia bertemu dengan sosok seperti Minato, seseorang yang mampu membuatnya lepas dari segala kekang tak terlihat dari orangtuanya, kekakuan dirinya, maupun dunianya.
Fugaku lalu membuka pintu apartemennya lalu menahan pintu untuk tetap terbuka; tanpa kata, mempersilahkan—atau mungkin lebih tepat disebut mengajak—pemuda pirang itu untuk masuk ke dalamnya.
"Terima kasih," ucap Minato sambil menatap bola malam sang Uchiha, "maaf mengganggu~" tambahnya ketika mulai memasuki ruangan 'klasik' itu. Masih dengan senyumnya, Minato kembali melihat-lihat isi ruangan Fugaku seperti yang pernah ia lakukan beberapa hari yang lalu. Dua kata melintas dalam pikirannya,
tetap sama...
Sang Namikaze muda itu pun menatap sang Uchiha kembali. "Katana-mu tetap menjadi rahasia ya, Fugaku!"
Oh, Kami-sama... Jangan Engkau mulai lagi ketidaknyambungan Minato!
Fugaku, yang kala itu tengah meletakkan buku pinjaman mereka di atas meja, hampir terpaku dibuatnya. Namun sebuah senyum lagi-lagi menggantikan rasa herannya, membuat sang Uchiha maju dan menyentuh kepala Minato, mengusap rambut pirang itu dengan gemas.
"Kau ini benar-benar..."
Fugaku menggantung kata-katanya. Entah karena ia tak ingin melanjutkan, atau mungkin memang kehabisan kata-kata karena pemuda itu.
"Benar-benar?" Minato mengulangi sebagian kalimat Fugaku yang 'terputus' seolah ingin mendengar lanjutannya. Kali ini, cengiran menghiasi wajahnya.
"Benar-benar..."
Fugaku mencoba berkata, namun malah ia lanjutkan memandang Minato tepat di mata dalam diam kembali, sebelum akhirnya ia maju dan meraih tengkuk pemuda pirang itu, dan mengecup lembut bibir Minato dengan bibirnya.
Tentu sang Namikaze tak membuang waktu untuk membalas ciuman hangat dari sang Uchiha. Dalam pikirnya, ia bersorak. Rupanya Fugaku baru memperlihatkan kasihnya di saat-saat seperti ini, dimana mereka hanya berdua tanpa perlu memikirkan reaksi orang lain. Yah, Minato memang tak peduli sebenarnya. Ia hanya ingin dimanja oleh seseorang yang paling disayanginya—tidak, dicintainya. Ia—sebetulnya—ingin Fugaku lebih sering menunjukkan rasa sayangnya. Well, Minato ingin menjadi yang paling istimewa untuk orang yang istimewa pula baginya. Sebutlah ia egois, tapi justru itulah bentuk pengungkapan cintanya pada sang pemuda malam.
Dan memang begitulah sang Uchiha. Ia bukannya segan untuk menunjukkan perasaan yang dimilikinya kepada Minato di saat mereka berada di dekat orang lain. Tanpa ia sadari sendiri, sesungguhnya ia takut. Ia takut jika hubungan mereka—yang ia tahu persis terlarang—diketahui oleh orang lain, dan berakhir dengan kekacauan. Fugaku memang tidak peduli apa kata orang tentangnya, tapi tentu ia peduli akan perlakuan mereka pada Minato.
Fugaku lalu bergerak melepaskan kecupan mereka. Meski terdiam dan bernafas dengan agak terengah, ia tak mampu melepaskan pandangannya dari wajah itu—wajah orang yang paling dicintainya.
Demikian pula dengan Minato. Rasanya ia seperti habis ditelan warna malam yang tengah ditatapnya itu. Ia tak mampu—bukan, tak ingin melepaskan pandangannya. Ia butuh... ia membutuhkan makna yang tersirat di dalamnya. Sama seperti perasaannya yang kian lama kian bertambah untuk Fugaku, kini ia tak bisa lepas darinya. Rasa kagumnya pada sang pemuda semakin menjadi, merubahnya ke arah yang berbeda.
Cinta.
Minato memang telah mengucapkannya pada Fugaku—juga mendapat balasan dari sang Uchiha. Namun, ia tak ingin terdengar klise karena cintanya bukanlah drama seperti yang pernah dimainkannya di atas panggung. Rasa yang dimilikinya sungguh nyata adanya dan tulus... hanya untuk Fugaku seorang.
Sang Namikaze muda itu pun kembali mengembangkan seulas senyum indahnya.
Desir aneh itu lagi-lagi mendera jiwa Fugaku saat melihat senyum indah sang Namikaze. Desiran aneh yang ia tahu hanya didapatkannya saat bersama Minato. Desiran aneh yang entah mengapa ia yakini juga dirasakan oleh pemuda itu.
Fugaku sungguh tak mampu menahan diri untuk bergerak maju, dan meraih tubuh pemuda itu dalam sebuah pelukan.
Hangat, itulah yang kini dirasakan Minato. Bukan hanya sekarang saja tapi saat-saat bersama Fugaku selalu terasa hangat baginya. Memang dengan teman-temannya ia pun merasa demikian. Namun, kehangatan yang diterimanya terasa berbeda. Tenang... damai... nyaman. Ah, ia tak tahu kalau hal seperti ini bisa terasa begitu spesial.
Namikaze muda itu menyempatkan diri untuk mengecup pipi sang Uchiha dengan lembut, pertanda bahwa ia sungguh menyayanginya.
Fugaku membalas kecupan itu dengan satu kecupan singkat di kening sang pemuda siang. Sebelum akhirnya ia segera bergerak menggenggam tangan Minato dan menuntunnya perlahan menuju kamar di dalam apartemennya.
Apakah Minato terkejut dengan tindakan Fugaku? Tidak. Justru ia sedikit banyak telah mengetahuinya. Bukan karena ia memiliki kemampuan melihat masa depan—seandainya benar, ia akan tahu kelanjutan setelahnya dan bukan kejutan hidup lagi—tapi karena ia juga memikirkan hal yang sama. Ia menginginkan hal yang juga diinginkan sang Uchiha. Singkat kata, Minato tahu bahwa ia dan Fugaku memiliki keinginan yang sama. Oleh karena itu, Minato membiarkan dirinya dibawa oleh sang pemuda malam yang kini mulai memasuki kamar.
Hanya beberapa langkah melewati pintu masuk, sang pemuda malam berhenti dan berbalik. Ditatapnya dengan dalam mata pemuda berambut keemasan itu. Lagi-lagi tanpa kata, tapi juga tanpa melepaskan genggaman tangan mereka.
Satu pertanyaan kembali terlontar dalam ragu di matanya...
Bolehkah? Bolehkah ia?
Fugaku akan tetap menjadi Fugaku, itulah yang melintas dalam pikiran Minato. Kalau tidak salah, kali pertama ia kemari yang berujung pada sebentuk kasih sayang, pemuda berambut gelap itu pun menanyakan hal yang sama—tetap tanpa kata-kata—padanya. Dan seharusnya ia mengetahui dengan jelas apa yang menjadi jawaban Minato. Yah, sang Namikaze mengerti bahwa sang Uchiha tak akan berbuat sesuatu yang tak diinginkannya.
Mengulangi kembali 'jawaban'nya tempo hari, Minato menunjukkan senyum kepastiannya pada Fugaku. Ia juga mengeratkan jemarinya pada jemari putih yang menyelubunginya. Dan ia yakin, Fugaku telah mendapatkan jawabannya.
Dan memang benar, Fugaku telah mendapatkan jawaban atas pertanyaannya itu dari ekspresi sang Namikaze muda. Itulah yang membuatnya untuk tak lagi ragu bergerak maju, kembali mengeliminasi puluhan senti terakhir di antara mereka demi meraih bibir Minato dengan miliknya.
Memang Minato takkan membuang waktu untuk membalas ciuman sang Uchiha. Segera ia kalungkan kedua lengannya di leher Fugaku dan menariknya untuk lebih mendekat, merasakan kehangatan yang tak pernah terlepas darinya semenjak awal mereka berjumpa. Desahan kecil keluar dari tenggorokannya ketika ia merasakan sang pemuda malam menjilati bibirnya yang akhirnya terbuka, lalu menjelajahi ruang perasanya.
Tanpa melepas kecupan ataupun dekapan mereka, dengan sadar Fugaku bergerak mundur sebelum akhirnya ia membaringkan perlahan Minato di atas tempat tidurnya.
Empuk dan tercium wangi Fugaku; Minato merasakannya ketika sang 'kekasih' membaringkannya di atas ranjang pribadi yang berukuran lumayan besar. Sejenak, ia melepaskan ciuman mereka dan mengambil napas, sebelum kembali meraih bibir sang Uchiha seraya meremas helaian raven milik sang pemuda.
Kecupan itu pun berpindah, menjalari sudut bibir Minato hingga ke leher pemuda itu. Dihirupnya dalam-dalam aroma yang merasuk ke alat pernafasannya, memenuhi relung parunya dengan 'tanda' dari sang pemuda siang.
Tangan Fugaku sendiri bergerak pelan menyentuh bagian bawah baju Minato, sebelum menyingkapnya sedikit dan menyentuh langsung kulit pemuda itu.
Lengkungan senyum geli bermain di bibir Minato. Sentuhan Fugaku terasa menggelitik dirinya, mengirimkan sensasi mula yang ia anggap sebagai pembuka. Namun, dari pengalaman awalnya, Minato sudah belajar untuk menikmati semua secara perlahan. Dan kini, itulah yang akan dilakukannya.
Jari-jemari Fugaku lalu meraih kancing terbawah kemeja Minato, dan mulai melepaskannya. Bibirnya sendiri masih berada di sekitar leher pemuda Namikaze itu, mencoba mengecupi apa yang bisa ia raih.
Tiba-tiba saja ada perasaan yang membuatnya ingin berkata sesuatu—entah apa. Tapi ia tak bisa mengungkapkan apa itu sebenarnya lewat bibirnya jika otaknya sendiri belum mampu untuk menerjemahkan apa yang diinginkannya sebenarnya.
"Fugaku..." Minato menyebut nama sang pemuda di tengah 'keheningan' yang mendera di antara mereka. Ia pun memiliki sesuatu untuk dikatakan, tapi ia tak tahu apa gerangan yang ingin dikatakannya. Ia tak mampu berpikir dengan jelas karena kehangatan sang Uchiha membuatnya melayang. Belum lagi ketika jemari putih Fugaku berhasil melepas seluruh kancingnya... Ah, lebih baik ia lupakan apa yang ingin dipikirkannya.
Fugaku berpindah posisi. Ia bergerak ke atas, menempelkan dahinya dengan kening Minato, memandang sangat dalam pada iris mata indah dari pemuda yang sangat dicintainya itu.
Ya, cinta.
Itu mungkin yang ingin dikatakannya, lagi dan lagi kepada sang kekasih. Kata itu mungkin yang menyesakkannya, meminta untuk dilontarkan dan diungkapkan tanpa bosan kepada Minato.
Tanpa melepaskan pandangan mereka, bibir Fugaku berucap tepat di depan wajah pemuda itu...
"Aku mencintaimu."
Minato terpaku mendengar kalimat itu. Seharusnya ia sudah tahu dan tidak terpaku sedemikian rupa, namun, ia seperti terhipnotis oleh dua kata yang dilontarkan sang kekasih. Wajah keras namun tampan milik Fugaku tampak begitu tulus di matanya. Dan ia lebih dari tahu bahwa sesuatu yang ingin diucapkannya sedari tadi adalah kata-kata yang sama dengan apa yang baru saja didengarnya.
Tidak bosan, pemuda Namikaze itu memberikan senyum terbaiknya pada sang Uchiha. Tanpa melepas sedetik pun pandangannya pada warna malam di hadapannya, Minato meraih wajah putih itu dan meletakkan kedua telapak tangannya pada kedua pipi sang pemuda seraya berucap lembut,
"Aku pun mencintaimu, Fugaku."
Satu kecupan manis di kelopak mata Minato membalas kalimat itu. Dilanjutkan dengan kecupan demi kecupan lembut menuju hidungnya, pipinya, sudut bibirnya, sebelum akhirnya Fugaku kembali menyentuh lembut bibir pemuda itu dengan bibirnya sendiri.
Minato pun kembali mengalungkan kedua lengannya pada leher Fugaku seraya menarik sang pemuda lebih dekat, memperdalam ciuman mereka. Ia tahu bahwa meskipun tanpa kata-kata, perasaan sang Uchiha tersampaikan padanya dengan jelas.
Dan dengan itu, sang Uchiha kembali bergerak menyentuh perlahan sang kekasih—tanpa rasa ragu, namun lembut, tanpa ada sedikitpun niat untuk menyakiti.
Suara kenikmatan mulai terdengar dari sang Namikaze seiring dengan dirasakannya sentuhan demi sentuhan yang diberikan sang kekasih padanya. Terasa hangat dan lembut... semakin membuat jiwanya memanas untuk suatu hal yang memang diinginkan mereka.
Dan hal yang mereka inginkan itu perlahan namun pasti mulai mereka jejaki. Jengkal demi jengkal mereka telusuri dalam setiap helaan nafas yang seakan terdengar seirama. Bersama, tanpa cela.
Meski terkadang terdengar desahan kesakitan, kelembutan segera kembali mengobatinya. Dan walau peluh membanjiri setiap pori-pori yang ada, kecupan demi kecupan akan senantiasa meniadakannya. Mereka tahu, sebentar lagi beribu kupu-kupu yang tengah ditahan oleh sepasang sayap putih akan segera menyerbu, terbang ke angkasa bersama dengan segala keindahan yang dimilikinya.
Dan sayap putih itupun akhirnya berkepak indah, menandai gerakan ribuan kupu-kupu itu yang segera terbang ke angkasa, membuat mereka berdua melayang bersama dalam keindahan tak terkira...
...penyatuan jiwa tertinggi sepasang kekasih.
Yang tertinggal adalah kasih sayang sejati yang kini memendarkan cahayanya menutupi dua insan yang terbaring berpelukan. Desahan napas kebahagiaan terdengar bersahutan seperti suara hutan, namun mereka tak peduli. Mereka hanya ingin merasakan keberadaan satu sama lain. Dan mereka telah mendapatkannya.
Perlahan, Minato menggerakkan sebelah tangannya untuk menyentuh helaian raven yang kini terbaring di atasnya. Ia mengelusnya dengan lembut seraya berucap kembali,
"Aku mencintaimu, Fugaku."
Sejenak Fugaku terdiam mendengar kalimat itu, sebelum akhirnya ia kembali maju dan meraih bibir Minato untuk satu kecupan manis—sungguh, rasanya tak bosan ia melakukan ini.
Setelah kecupan singkat itu usai, Fugaku pun bergerak perlahan dan berbisik di telinga pemuda itu, "Aku juga, Minato."
Minato tersenyum dengan tulus sebelum merengkuh sang Uchiha dalam pelukannya, merasakan pemuda yang satu membalas pelukannya. Pemuda ini lebih dari tahu bahwa perasaan mereka telah menyatu sepenuhnya.
"Aku curiga pada Mina-kun. Belakangan ini ia dekat sekali dengan Fugaku-san. Apa Mikoto-chan juga berpikiran yang sama?"
Itulah kalimat dan pertanyaan yang mendadak dilontarkan gadis bermarga Uzumaki pada gadis Uchiha di depannya. Seharusnya bukan itu yang diucapkannya pertama kali ketika melihat Mikoto sedang memesan makanan di kantin kampus. Kushina dengan seenaknya menerobos antrian para cowok di belakang Mikoto—yang tidak mempermasalahkannya sama sekali mengingat gadis berambut merah itu tak kalah cantik dari gadis yang berambut hitam—dan langsung main tembak lurus tanpa sapaan basa-basi. Terkadang, gadis itu memang tak mempedulikan situasi dan kondisi kalau sudah menyangkut seorang pemuda. Tapi, apa ia tak sadar kalau perkataannya dapat membuat Mikoto bingung?
File-map di tangan Mikoto hampir terlepas dari tangannya karena terkejut. Jika ia lebih tersentak sedikit saja, maka materi kuliahnya hari itu pastilah telah terhambur di lantai.
Sejenak, pemilik mata oniks itu hanya memandang si gadis berambut merah dalam diam. Mikoto hampir saja menelengkan kepalanya bingung, tapi sebagai gantinya ia malah bertanya, "Ano, bisa ulangi, Kushina-chan?"
Kushina sejenak memesan minuman pada Ibu kantin sebelum kembali berkata, "Aku curiga pada Mina-kun. Belakangan ini ia dekat sekali dengan Fugaku-san. Apa Mikoto-chan juga berpikiran yang sama?" persis sama dengan apa yang diucapkan sebelumnya.
Lagi, Mikoto tak langsung menjawab pertanyaan itu. Ia meraih nampan berisi makanan pesanannya, lalu meraih minuman yang dipesan Kushina dan meletakkannya di atas nampan yang sama. Mikoto pun mulai melangkah perlahan dengan membawa nampan itu, menoleh sejenak, memastikan Kushina mengikuti langkahnya.
Ia bergumam kecil, "Bukankah itu bagus, Kushina-chan...?"
Gadis berambut hitam panjang itu meletakkan benda yang di bawanya ke salah satu meja kantin, sebelum memandang Kushina dan tersenyum miris.
"Fugaku-nii tidak punya banyak teman, apalagi sahabat."
Kali ini Kushinalah yang terkejut dengan mata membulat dan mulut tertutup. Bukan karena gadis itu mendengar bahwa sang pemuda Uchiha tidak mempunyai banyak teman—ia bisa menebaknya dalam sekali lihat—melainkan karena ia menyadari sesuatu dari gadis Uchiha itu.
"Mikoto-chan..." gumam Kushina pahit—masih dalam keadaan berdiri. Ia pun melangkah mendekati sang Uchiha lalu memeluknya lembut.
Mikoto-chan sama sekali tidak sadar akan keanehan yang kurasakan. Ia tulus mencintai orang itu dan mempercayainya, tapi... aku malah mencurigai orang yang kucintai...Bodoh sekali aku ini!
Kushina pun memejamkan mata seraya bergumam, "Gomenne..."
Mikoto mengerjapkan matanya kaget mendapati dirinya tiba-tiba saja dipeluk oleh gadis berambut merah itu. Ia sungguh tak tahu apa yang terjadi sebenarnya, dan apa yang dimaksudkan oleh Kushina dengan maaf itu.
Ia memang masih bertanya-tanya, tapi entah kenapa rasanya ia mengerti. Karena itu, tidak sampai semenit setelah pelukan itu ia dapatkan, ia lalu membalas pelukan itu dan akhirnya kembali mulutnya, "Tidak perlu meminta maaf, Kushina-chan... tenanglah."
Seulas senyum tulus terukir di bibir itu.
Kushina memang tak bisa melihat senyum itu karena wajahnya terbenam di lekuk leher sang Uchiha, namun ia tahu—ia merasakannya. Oleh karena itu, sebuah cengiran segera merekah di wajahnya.
"Mikoto-chan, daisuki~"
Mau tak mau senyuman Mikoto melebar. Rasa-rasanya wajahnya memanas dan lagi-lagi hampir membuat pipinya bersemu merah.
"Aku juga, Kushina-chan," balasnya lembut, masih dengan senyuman yang sama.
"Hehe~" Perlahan, Kushina melepas pelukannya namun tetap menautkan emerald miliknya dengan oniks milik Mikoto. "'I pray the very best for you', itu monolog Christine dengan dirinya sendiri di cermin, berharap suatu hari nanti ia akan mendapat kebahagiaan sejati. Kini, aku memberikan monolog itu padamu. Aku berharap kebahagiaan sejati pun segera kau dapatkan, Mikoto-chan," ucapnya dengan senyum tulus.
"Terima kasih, Kushina-chan," balas Mikoto segera, bergerak untuk memegang jemari kedua telapak tangan Kushina. "Aku juga mendoakan hal yang sama untukmu."
Senyuman Kushina semakin melebar hingga berganti kembali menjadi cengiran a la bocah. Ia sungguh berharap gadis itu mendapatkan kebahagiaan sejati karena perasaan yang dimiliki Mikoto terhadap Fugaku sungguh tulus. Ia pun berharap pemuda Uchiha itu menyadari ketulusan kasih sayang yang dimilikinya. Tentu, Kushina mengharapkan hal yang sama untuk dirinya dan Minato.
Semoga firasat buruknya murni hanya pikirannya saja.
"Semoga kita bisa menjadi sahabat baik ya, Mikoto-chan!"
Dan Mikoto mengangguk dengan senyum manisnya membalas kalimat Kushina itu.
Di saat yang sama, tak jauh dari meja yang ditempati kedua gadis cantik itu, dua pemuda tengah menyantap makan siang mereka sebelum kelas berikutnya dimulai. Namun, salah seorang dari mereka tak tampak seperti menikmati makanannya, malah lebih berkesan tak nafsu. Mata coklatnya seperti menerawang jauh meskipun bola itu tepat tertuju pada makanannya. Ya, itulah kompensasi dari hal yang kini sedang dipikirkannya.
Iruka sadar bahwa dirinya terlalu mencemaskan isu itu tapi ia tak bisa tak memikirkannya kalau hal itu berkaitan dengan Minato—senior kesayangannya. Sebenarnya tak masalah kalau hal itu benar, namun ia cemas akan hal yang terjadi kalau tetua Namikaze mengetahuinya. Tentu tak segampang itu beliau menerima, bahkan mungkin akan ditentang habis-habisan. Ah, membayangkannya saja sudah membuatnya kalang kabut.
Sehembus napas panjang pun keluar dari sang Umino.
"Menghela napas di hadapan makanan itu tidak baik," tegur seseorang yang sedari tadi duduk di dekat Iruka, yakni seorang pemuda berambut perak yang masih terus mengunyah makanannya, Hatake Kakashi.
Iruka melirik temannya sejenak sebelum mencoba makanannya. Ia berusaha mengunyah Nasi Donburi-nya dengan benar. Sayangnya, ia tersedak dan segera saja mengambil ice tea-nya. Setelah berhasil meredakan tenggorokannya, ia kembali menatap Kakashi dengan ekspresi bosan. Yang sebenarnya ada dalam pikirannya adalah anggapan bahwa sang Hatake sama sekali tak peduli akan senior mereka.
Kakashi berhenti mengunyah makanannya sejenak saat mendapati dirinya dipandangi seperti itu oleh Iruka. Ia lalu menelan sisa makanan di dalam mulutnya, sebelum akhirnya mengangkat alis dan bertanya, "...Apa?"
Iruka memandang sang pemuda lekat, "Kakashi-san tidak khawatir?"
Kakashi sempat berkedip saat mendengar tanya itu terlontar untuknya. Khawatir? Apa yang—ah, tentang itukah?
"Kau masih terus memikirkan itu?" Kakashi malah balik bertanya pada Iruka. "Aku jelas khawatir pada mereka. Tapi aku yakin—"
Kata-kata pemuda berambut perak itu terhenti saat matanya mendapati sesosok yang sangat ia kenali, seorang pemuda lain dengan rambut yang terikat dalam pony tail tinggi yang terlihat berjalan tidak jauh dari meja mereka.
"Nara!" sapa Kakashi segera pada pemuda itu, membuatnya menoleh kepada mereka.
Namun tak seperti yang Kakashi perkirakan—pemuda itu akan langsung berbelok dan melangkah ke arah mereka—ternyata Shikaku malah terhenti dulu sejenak dan memandang ke arah lain, sebelum akhirnya berjalan ke arah mejanya dan Iruka. Dan lagi-lagi, ia tidak langsung duduk pada kursi kosong yang berada di dekat mereka.
"Kalian tidak bergabung dengan Uzumaki?" tanyanya, menunjuk ke belakangnya dengan jempolnya, membuat Kakashi mendapati sosok seorang gadis berambut merah sedang duduk bersama gadis lain berambut hitam di meja yang berada tak jauh dari mereka.
"Kushina-senpai dan," gumaman Iruka terhenti ketika matanya mendapati pemandangan yang sedikit berbeda, "temannya ya?" tanyanya bingung. Rasanya jarang sekali ia melihat gadis berambut merah itu ke kantin tanpa Minato. Dan kini, dengan seorang gadis asing? Ah, mungkin bukan berarti apa-apa. Mungkin hanya perasaannya saja.
"Lebih baik di sini saja," ucap Iruka lagi, "mungkin saja Kushina-senpai sedang mengobrol hal pribadi dengan temannya. Aku tidak ingin mengganggu."
Kakashi tak menanggapi perkataan Iruka. Dalam diam, pemuda ini malah bangkit dari kursinya, lalu berjalan ke arah meja Kushina. Bahkan sesampainya di sana, sejenak ia berdiri tanpa kata dengan masing-masing tangan di dalam saku celananya, sampai kedua gadis itu menyadari keberadaannya.
"Di sana masih ada kursi kosong," katanya, tersenyum di balik maskernya saat mempertemukan matanya dengan pandangan Kushina. "Berniat bergabung dengan kami, senpai?"
Mata hijau Kushina membulat sesaat sebelum kembali normal. Senyum yang akan direkahkannya tertahan oleh sebuah ide yang muncul dalam otaknya. Ia melirik Mikoto sekilas sebelum membalas sang Hatake.
"Kakashi-kun, kenalkan. Ini Mikoto-chan," ucap Kushina—sama sekali tidak membalas tawaran juniornya. Yah, setidaknya ia sudah memperkenalkan temannya itu.
Pandangan Kakashi pun beralih pada gadis berambut hitam panjang dengan mata berwarna senada itu. Tersenyum lagi, dan ia menyodorkan tangannya pada gadis itu.
"Hatake Kakashi. Salam kenal, Mikoto-san."
Gadis itu, tentu saja, berdiri dari duduknya dan meraih tangan Kakashi dengan anggun.
"Aku Uchiha Mikoto. Salam kenal, Hatake-san," katanya lembut dengan tersenyum.
"'Uchiha'?" tanya Kakashi segera saat menyadari marga apa yang barusan disebut oleh Mikoto.
"Ah, ya," balas gadis itu lagi saat menyadari bahwa mungkin Kakashi mengenal Fugaku. Ia melirik dan memandang wajah Kushina sejenak sebelum kembali menatap Kakashi dan berkata, "Aku... adik sepupu Fugaku-nii."
"Bukan hanya itu, 'kan?" goda Kushina dengan cengiran—menyahuti kalimat Mikoto. "Mikoto-chan itu tunangannya Fugaku-san loh~" ucapnya pada Kakashi.
Kakashi tentu segera berusaha agar tidak memperlihatkan rasa terkejutnya.
"Tunangan?" tanyanya, memastikan.
Namun yang didapatinya sebagai jawaban hanyalah sang gadis Uchiha yang tertunduk malu dengan wajah yang hampir bersemu.
"Well, semoga ucapan selamatku belum terlambat sekarang," balas Kakashi lagi pada akhirnya.
"Tidak terlambat kok," sahut Kushina, "ucapan selamat itu 'kan bisa diucapkan kapan saja!" tambahnya sambil nyengir.
Mikoto hanya bisa tersenyum, mengangguk mengiyakan saat Kakashi lagi-lagi memandangnya setelah mendengar komentar Kushina itu.
"Selamat kalau begitu," ucap Kakashi pada Mikoto dan nyengir dari balik maskernya.
Ia lalu menoleh ke Kushina. "Omong-omong, tawaranku untuk bergabung di sana diterima tidak, senpai?" tanya Kakashi lagi akhirnya.
"Boleh saja, tapi—" Kushina melirik Kakashi dengan mata melengkung ke atas dan seringai di bibir, "—apa kami tak jadi pengganggu jika kalian para cowok ingin membicarakan cewek-cewek manis?" tanyanya menggoda. Ia kembali beralih pada sang Uchiha, "Bagaimana menurutmu, Mikoto-chan?" kali ini sebuah cengiran yang bermain di bibirnya.
"Eh? Errm..." Mikoto terlihat agak panik saat tiba-tiba ditanyai seperti itu. "Aku tidak ingin kami jadi mengganggu, Hatake-san. Maaf, tapi lebih baik kami tetap di sini."
Kushina mengekeh, "Setuju!" sahutnya.
"Yare-yare..."
Kakashi hanya bisa menggaruk kepalanya yang tidak gatal melihat penolakan manis dari kedua gadis ini.
"Ya sudah kalau begitu. Semoga lain kali penawaranku tidak ditolak begini," pemuda berambut perak itu nyengir dari balik maskernya. Ia pun mulai berbalik untuk melangkah pergi. "Jaa na."
"Ah, s-sampai ketemu lagi, Hatake-san!" Mikoto membalas segera.
"Mata na, Kohai-chan!" timpal Kushina. Gadis itu kembali berpaling pada sang Uchiha lalu berkata, "Panggil Kakashi saja, Mikoto-chan! Dia mahasiswa satu tingkat di bawah kita loh. Masa' kau memanggilnya menggunakan keigo? Nanti susah akrabnya~"
"Eh?" Mikoto terlihat terkejut sejenak mendengar penjelasan itu. "...Maaf Kushina-chan, aku sudah terbiasa begini di keluargaku. Jadi..."
Mikoto memilih untuk tidak melanjutkan kalimatnya.
"Yare-yare," Kushina meniru Kakashi, "jangan minta maaf, Mikoto-chan. Kau 'kan tidak salah apa-apa," ujarnya sambil menepuk pundak sang gadis, "tapi... Mikoto-chan memang manis-ttebane!" serunya tiba-tiba. Cengiran tak terlepas dari wajahnya.
Begitulah Uzumaki Kushina. Kalau melihat seseorang yang manis dan bertingkah manis pula, gadis itu pasti menjadi semangat dengan sendirinya. Tidak masalah meskipun ia baru mengenal orang itu, kalau menurutnya menarik pasti ia akan berkata sejujurnya. Pernah tempo hari Kushina melihat seorang bocah terjatuh dari ayunan di Taman Kanak-kanak Oto. Dan karena wajah menangis bocah itu sangat manis, bukannya mendiamkan, gadis itu malah mencubit pipi sang bocah. Alhasil, bocah malang itu meraung sekerasnya.
Yah, itulah Kushina, salah satu gadis paling unik di Oto.
"A-a-apa hubungannya dengan manis, Kushina-chan?" balas Mikoto gelagapan.
Oh, Kushina tak tahan lagi. Bisa-bisanya orang macam Fugaku memiliki tunangan se-se-sepolos ini! Tidak bisa diterimaaaa!
Okeh, coret bagian yang tertera di atas tadi.
"Daijoubu-ttebane, Mikoto-chan! Jangan dipikirkan!" ujarnya seraya mengambil minumannya. "Ayo makan makananmu! Nanti jadi basi loh~" tambahnya.
"Ah." Mikoto berkedip kaget, baru menyadari apa yang hampir ia lupakan. Ia pun kembali memandang makanannya, "Iya, Kushina-chan."
Dan gadis itu pun kembali melanjutkan acara makannya.
Di saat yang bersamaan, Kakashi telah sampai ke meja makan tempat Iruka dan Shikaku masih menikmati makanannya.
"Bagaimana?" tanya Shikaku setelah menelan kunyahan rotinya.
Kakashi hanya membalas pertanyaan pendek itu dengan mengangkat bahu.
Iruka tersenyum, "Sudah kubilang, 'kan?" timpalnya sebelum meminum tehnya. "Ngomong-ngomong, gadis yang bersama Kushina-senpai itu siapa?" tanyanya kemudian.
Kakashi kembali duduk di tempatnya dan meraih gelas minumannya.
"Tunangan Uchiha-san," jawabnya pendek, sebelum meneguk kopinya.
Otomatis, Iruka menjatuhkan minumannya—yang untunglah bukan berwadah kaca melainkan plastik. Mata coklatnya membelalak lebar seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja dikatakan sang Hatake.
"Tunangan... Uchiha Fugaku-san maksudnya?" tanyanya memastikan.
Sebagai jawaban, Kakashi hanya mengedikkan bahu, masih dengan gelas kopi di bibirnya.
Sementara Shikaku sendiri terlihat masih belum tertarik untuk bergabung dalam pembicaraan dan memilih untuk terus menikmati rotinya.
"Ta-tapi 'kan Uchiha-san dengan Mi—" Iruka langsung menekap mulutnya seolah hampir saja mengucapkan suatu hal yang tabu untuk dibicarakan. Matanya melirik pemuda berambut hitam diikat yang tengah menikmati makanannya sebelum beralih pada Kakashi.
Shikaku menghentikan acara makannya. Dipandangnya sejenak wajah Iruka—yang hampir jelas menunjukan ekspresi panik sekarang.
"Minato?" ia mengucap nama itu. Datar, namun penuh selidik. "Uchiha-san punya hubungan dengan Minato-senpai, begitu?"
Kalimat sang Naara membuat Iruka berjengit dalam kekakuan. Ia benar-benar mengutuki dirinya sendiri! Tapi... Shikaku adalah sahabat mereka juga, bukan? Kenapa hal seperti itu harus dirahasiakan?
Tidak. Tidak, jangan dulu. Lebih baik dirinya mencari penjelasan lain untuk mengalihkan fokus utama dalam otaknya.
"Me-menurut isu yang beredar sih... ya begitu..." gumam Iruka sangat pelan. Keringat dingin mengalir di pelipisnya tanpa ia mau.
"...Isu?" Shikaku membeo. Pandangan selidik masih terlihat di matanya.
"Isu," Kakashi balas membeo dengan nada dan wajah datar.
Sementara itu, Iruka menundukkan kepalanya dalam-dalam, berniat menyembunyikan ekspresinya yang tidak karuan. Kakashi memang telah membantunya meyakinkan 'isu' tersebut, namun ia ragu kalau Shikaku akan mempercayainya begitu saja. Masalahnya adalah, bagaimana kalau sang Naara tidak menerima kenyataan bahwa 'isu' itu bukanlah sekedar isu?
"...Kalau memang hanya isu..." Shikaku membalas, sembari menggigit dan mengunyah rotinya lagi. Ditelannya makanan itu sebelum memandang Iruka datar. "...kenapa kau harus sepucat itu?"
Mau tak mau, Iruka menghela napas panjang di sela keringat dinginnya. Tahu atau tidak, Shikaku memang setipe dengan Kakashi. Seribu wajah mereka sangat menakjubkan. Terkadang ia berharap, seandainya ekspresi yang dimilikinya seperti itu—yah, ekspresinya memang banyak sih, tapi datar sama sekali tidak ada dalam kamusnya.
"Tentu saja karena aku mengkhawatirkan Minato-senpai..." balas Iruka pelan sambil meletakkan kepala di atas meja, "isu itu bisa menyebabkan masalah besar jika tetua Namikaze mendengarnya..."
Setidaknya pemuda itu memiliki alasan yang tepat.
"...Ya," balas Shikaku setelah terdiam sejenak. "Semoga saja mereka tidak akan tahu isu itu."
Dan dia kembali melanjutkan makannya, mencoba melupakan 'tugas' yang seharusnya ia kerjakan sekarang.
Kakashi sendiri hanya bisa memandang Iruka dalam diam selama beberapa detik.
Sehembus napas panjang kembali terdengar dari pemuda yang tidak sadar tengah diperhatikan sang Hatake. Pemuda berambut coklat itu mengangkat wajahnya dan tanpa sengaja bertatapan dengan pemuda berambut silver tersebut.
"Kakashi-san?" tanyanya bingung begitu melihat mata itu tak kunjung lepas darinya.
"...Tidak," balas Kakashi, sebelum beralih pada kopinya lagi.
Kakashi memutuskan untuk batal mengungkapkan kekhawatirannya sendiri. Kekhawatirannya terhadap kekhawatiran Iruka pada senior mereka itu.
Iruka hanya memiringkan kepalanya ke kanan pertanda bingung. Namun, ia tak mempermasalahkannya lagi seraya berdiri untuk memesan minuman yang tadi tak sengaja ia tumpahkan.
"Aku akan memesan sesuatu di counter. Ada yang mau menitip sesuatu?"
"Ah. Aku, aku," Kakashi segera menjawab. Matanya yang tidak tertutup masker segera memandang wajah Iruka, dan ia melanjutkan, "Tolong pesankan lagi tiga tusuk dango dan dua porsi takoyaki..."
Ia mendelik pada nampannya yang hampir kosong.
"...Aku masih lapar."
Mendengar pesanan itu, Iruka menggeleng heran. "Aku takjub padamu, Kakashi-san. Sepertinya aku menemukan rival kuat untuk Akimichi-san," kagumnya. Lalu ia berpaling pada sang Naara, "Shikaku-san mau memesan sesuatu juga?"
Shikaku menggeleng sebagai jawaban.
"Biar kuambil punya Kakashi saja, supaya dia tidak jadi seperti Chouza nanti."
Iruka tertawa kecil menanggapi balasan sang Naara. Pemuda itu pun mulai melangkah menuju counter seraya berkata, "Kuharap begitu." Dan ia pun pergi meninggalkan kedua pemuda itu.
Sejenak, kedua pemuda itu membisu sembari memandang sosok punggung Iruka yang semakin menjauh, sampai...
"Sebuah isu tidak mungkin membuatnya sepanik itu," Shikaku memecah keheningan di antara mereka.
"Hm," Kakashi bergumam kecil sebelum ia kembali menyesap minuman hangatnya.
Kali ini, sang Nara bergerak, menoleh ke arah Kakashi dan kembali bertanya, "Apa benar itu hanya isu?"
Kakashi balas memandang Shikaku di mata. Diturunkannya kopinya, dan ia kembali membuka mulutnya.
"Isu," katanya, kali ini tidak datar, dan dilanjutkan dengan, "yang ternyata benar."
Dan kali ini, Shikaku terdiam. Lebih lama dari waktu yang biasa ia gunakan untuk berpikir sebelum membalas lagi...
...karena mungkin, ia memang tidak tahu harus membalas apa.
-
To Be Continued…
-
.
.
.
A-a-adakah yang masih ingat sama fanfic ini? #ditampar
Oke, ganti pertanyaan, masih adakah yang sudi meninggalkan review? :')
