Title: Map Game
Words: 1433
Type: Canon, of course with small trivia
Genre: Mostly friendship with fluff romance
Summary: Sebagai pembuat peta, ada satu hal yang membuat Nami penasaran pada Sanji, dan ia mengejar jawabannya...
Ini seperti malam biasanya Nami bekerja di perpustakaan untuk menggambar peta dan Sanji tak pernah lupa membawakannya beberapa cemilan untuk menemaninya. Hanya sampai di situ saja, karena setiap ucapan terima kasih disertai senyuman yang hampir pasti membuat Sanji melayang gila, Nami sudah terlebih dahulu mengusirnya secara halus.
Tak ada yang berbeda...
Sampai Nami menanyakan sesuatu yang membuat langkah sang koki belum jadi keluar pintu.
"Nee, Sanji-kun," panggil Nami. "North Blue itu seperti apa?"
Sanji pun menoleh menghadap punggung Nami yang bergoyang, tanda bahu dan lengannya masih sibuk bekerja menggambar sesuatu. "Kau tahu aku dari North Blue, Nami-swaaaan?"
"Kau sendiri yang bilang di rumah Mombran Cricket bukan?" jawab Nami. "Jangan ge-er."
Ucapan Nami paling terakhir tadi tepat mencegah niat Sanji untuk mulai ber-noodle dance, ia sudah hapal gelagat koki itu.
Nami pun melanjutkan bicaranya. "Ini bermula saat aku mengobrol dengan Robin di kamar sebelum tidur. Dari situ aku tahu bahwa ia berasal dari West Blue. Lalu, entah kenapa aku jadi tertarik dengan lautan lainnya. Luffy, Zoro, Usopp, dan aku jelas berasal dari East Blue; aku sudah menjelajahinya saat dulu harus merampok harta ke sana kemari, tak ada yg perlu ditanyakan lagi pada mereka. Chopper berasal dari Grand Line. Dan, Franky, saat kutanya, ternyata ia berasal dari South Blue. Kalau Brook, aku bahkan sudah kehilangan minat sebelum menanyakannya."
"Tak heran kalau kau tertarik, Nami-san," sambung Sanji menghisap rokoknya. "Kau ingin membuat peta dunia bukan?"
Begitulah, Nami dan impiannya, dua hal itu saat digabung membuat Sanji semakin terpikat karena dapat melihat segala keantusiasan yang dimiliki navigator kapal mereka. Itu cantik sekali.
"Mungkin hanya gambaran kasarnya dulu," lanjut Nami. "Aku kan bukan tipe petualang seperti Luffy yang harus singgah di setiap pulau tanpa informasi memadai."
"Menurutmu, North Blue itu seperti apa?" tanya Sanji balik, memancing agar tidak hanya terjadi pembicaraan yang cukup singkat. Kalau bisa, ia ingin lebih lama di situ.
"Entahlah, aku hanya tahu Kerajaan Lvneel tempat Mombran Norlan dulu berasal," jawab Nami memiringkan kursinya, ia pun menghadap Sanji. "Mungkinkah tempat itu dingin dan bersalju? Di sana ada kutub utara bukan?"
Sanji tersenyum hangat menikmati rasa penasaran Nami. "Seingatku dulu aku sering memakai syal untuk keluar rumah, tapi tidak sedingin Pulau Sakura tempat Chopper berasal. Beberapa bulan, cuacanya juga hangat dan tidak sepanas East Blue."
"Pernah ke pulau apa saja?"
"Aku tidak begitu ingat, Nami-san. Aku masih sangat kecil saat itu dan aku menghabiskan 75% hidupku di tengah laut karena bekerja di kapal pesiar bernama Orbit. Meski Orbit kadang singgah, aku jarang turun dari kapal."
"Kau sudah mengarungi lautan di usia sekecil itu, Sanji-kun?"
"Karena keadaan. Aku...Aku miskin," kata Sanji menelan ludah. "Orangtuaku sudah meninggal saat aku berusia 8 tahun dan aku harus membiayai hidupku sendiri. Aku pun meninggalkan rumah dan memaksa ikut tetanggaku untuk bisa diperkerjakan di Orbit meski itu hanya sebagai tukang pengupas kentang di dapur yang tidak diberi upah. Kapal pesiar itu sangat mewah, Nami-san. Bagai hotel bintang lima yang bisa berjalan. Kupikir kalau aku bisa bertahan di sana, jabatanku akan naik dan aku akan kaya. Aku bahkan sempat memimpikan bisa menjadi seorang Kapten kapal pesiar. Meskipun, yeah, itu membutuhkan waktu berpuluh-puluh tahun. Hanya itu yang kupikirkan. "
Nami merasa prihatin mendengarnya. Tidak hanya dirinya, bahkan ia kini yakin bahwa semua kru dalam kapal ini memiliki masa lalu yang sangat berat. Robin bahkan juga sudah sejak berusia sekecil itu menjadi seorang buronan kelas kakap. Arlong memang pernah menghancurkan hidup Nami. Tapi andai Fishman jahat itu tidak datang sekalipun, apakah ia akan berhenti mengeluh dan protes menanggapi kemiskinan yang mendera ibunya? Belum tentu juga.
Tapi, mendengar Sanji juga ingin menjadi pria yang kaya cukup menggelitik hatinya. Nami tahu kualitas hotel bintang lima itu seperti apa meski saat di Water 7 dulu ia sengaja mencari yang cukup murah demi penghematan. Siapa yang tak ingin tinggal di sana? Melintasi laut pula. Thousand Sunny juga kapal yang hebat, pikir Nami. Sangat hebat. Tapi ini bukan hotel dan ulah kru yang ada di sini justru membuatnya pusing.
"Mmm, hanya itu yang bisa kau ceritakan mengenai North Blue?"tanya Nami lagi.
"Maaf, Nami-san," jawab Sanji.
"Lho? Berarti kau ke East Blue itu usia berapa?"
"Sepuluh tahun saat pertama kali bertemu Pak Tua sialan itu."
Tak jauh beda dengan usia Robin dan Franky meninggalkan kampung halaman mereka untuk pergi ke Grand Line, pikir Nami. Tak ada yang bisa ditanyakan lagi. "Baiklah, Sanji-kun. Cukup sekian obrolan kita. Aku akan melanjutkan pekerjaanku."
Sanji sedikit kecewa tapi apa boleh buat. Ia sudah cukup senang dengan perhatian Nami barusan. "Aku tetap berada di dapur, Nami-san. Kalau kau ingin cemilan lagi atau minuman, aku selalu siap sedia di sana."
Nami mengangguk dan membiarkan Sanji pergi begitu saja. Ia pun membenarkan letak kursinya kembali menghadap meja. Dan saat menatap petanya kembali, Nami baru sadar ada yang terlupa. Ia pun bangkit menuju rak bukunya. Ada beberapa gulungan peta di sana dan ia pun mengambil peta Red Line dan Grand Line.
"Tidak ada," ucap Nami.
Telunjuknya menelusuri kedua garis itu dan berhenti di persimpangan keduanya. Tidak putus sama sekali, ia bahkan sudah tahu hal itu tanpa perlu mengeceknya kembali. Tapi kenapa?
"Arus di Mountain Reverse itu hanya mengarah searah ke puncak dari keempat lautan, lalu mengalir turun menuju Twin Cape tempat kami bertemu Laboon," ujarnya lagi. "Robin dan Franky melewati tempat yang sama dengan kami untuk menuju Grand Line."
Sementara tempat satunya masih tidak dapat ia kenali. Katanya tempat itu amat tertutup, tempat milik para penguasa dunia tinggal dan tidak terjamah rakyat kecil, Marie Joa. Ia juga ingat bahwa sisi Red Line merupakan tebing-tebing yang mampu mengaramkan kapal, bukan pantai landai. Jadi bagaimana Sanji-kun melintasi Red Line atau pun Grand Line dari North Blue ke East Blue, batinnya. Apakah kapal pesiar semewah itu memiliki teknologi batu laut seperti marinir untuk melintasi Calm Belt yang mengurung Grand Line? Ataukah ada jalur khusus bagi kapal pesiar yang difasilitasi pemerintah karena mereka membayar mahal?
Ini belum ada dalam pengetahuan geografinya!
"Sanji-kun!~"
Begitulah Sanji mendapati Nami telah membuka pintu dapurnya. "Ada yang bisa kubantu, Nami-sani?"
Nami tak ingin basa-basi. "Nee, Sanji-kun. Di mana rute untuk melintas antar Blue?"
"Eh, maksudmu?"
"Jangan pura-pura. Bagaimana caramu melintas dari North Blue menuju East Blue?" tanya Nami lagi.
Sanji terdiam. Pemandangan yang dilihatnya nyaris sama dengan yang tadi saat ia tertahan beberapa menit di dalam perpustakaan. Tapi yang ini tampak lain. Tampak...
Tampak lebih menggebu-gebu di matanya.
Jantung Sanji serasa meloncat dari dadanya. Meskipun dalam arti lain, belum pernah Nami-san nya tampak begitu memburunya seperti ini. Tapi, bukannya menari, otak Sanji nyatanya bisa dikendalikan untuk lebih cerdas saat ini.
Dan permainan pun dimulai.
"Rahasia," jawabnya tenang sambil menghembuskan asap rokok.
"Apa?" Nami tak percaya dengan jawaban Sanji. "Jangan main rahasia-rahasiaan denganku, Sanji-kun."
"Maaf, Nami-san, Tapi itu rahasia." Sanji masih berlagak cool.
"Ayolah, Sanji-kun."
"Tidak."
"Kau tega..." Nami tak kehilangan akal. Ia pun mendekati Sanji dan menarik dasinya, membuat wajah sang Koki ikut merunduk mendekati wajah ayunya. Kalau dibeginikan pasti akan dijawab, pikir Nami. "Kau akan mengabulkan semua permintaanku kan?" katanya dengan nada manja.
Sanji mulai kehilangan napas, mukanya merah padam. Sejujurnya bukan ini yang ia ingingkan tadi. Ia hanya ingin Nami menyimpan rasa penasaran terhadap dirinya. Bukankah itu sama dengan otaknya yang selalu dipenuhi Nami setiap hari? Menunjukkan ketertarikan? Sayang, Sanji pun sudah tidak tahan lagi dan wajah cool-nya berubah drastis. "ME...MELLORINE~~~!"
Nami pun lantas menjauhkan muka Sanji dari mukanya. Kurang ajar, jadi ini tujuan si mesum ini? Baiklah, Sanji-kun. Kau pikir kau sudah menang, hah? Aku hapal dirimu.
Permainan pun dibalik.
"Baiklah, Sanji-kun," kata Nami berbalik. "Jika kau tak mau memberitahuku, aku tak akan berbicara padamu lagi."
Benar saja, giliran Sanji yang merajuk. "Jangaaaaaaaaan, Nami-swan."
"Terlambat," kata Nami sengaja mengetuskan nada bicaranya. "Itu kesalahanmu sendiri, Sanji-kun. Kau laki-laki kan? Laki-laki tak akan meralat ucapannya."
"Maafkan aku, aku hanya bercanda."
"Dan aku tak suka candamu!"
Nami pun hendak menutup pintu dari luar. Sebelum akhirnya tangan Sanji menghalangi pintunya.
"Minggir!" seru Nami. "Aku harus kembali bekerja."
"Kalau aku mengatakannya, kau masih mau bicara padaku?" tanya Sanji.
Nami pun menghela napas. Aku menang, batinnya. "Ya."
Kepala Sanji kembali mendekat ke kepala Nami. Ia membisikkan sesuatu, cukup lama. Dan, apapun bisikannya saat itu, Nami akhirnya tersenyum mendengarnya.
"Thanks, Sanji-kun."
"Mellorine~" hanya itu respon Sanji dengan mata berbentuk hati.
Sanji memandangi Nami yang berseri-seri kembali ke perpustakaan. Ia pun menyulut rokoknya kembali. Mungkin ia tetap tak berhasil membuat Nami berbalik menjadi tertarik padanya, mengejarnya, memburunya meski dengan rasa penasaran akan sebuah rute misterius dalam peta; bukan karena perasaan jatuh cinta yang melanda seperti dirinya. Tapi melihatnya tersenyum tadi sudah membuat hati Sanji berbunga. Itu baru sebagian kecil dari rahasia geografis bumi mereka. Sanji pun menjadi semakin tak sabar ingin melihat senyuman Nami yang jauh lebih cerah dari saat tadi.
Ya, saat peta dunianya telah sempurna dan mampu menguak seluruh rahasia alam.
END
Jangankan Nami, pembaca OP di seluruh dunia aza pengen tau itu gimana cara Sanji pindah Blue?
Aku udah coba tanya-tanya sama master-nya teori2 ginian di Kaskus tapi ga ada yang jawabannya memuaskanku. Akhirnya, apa yang dibisikkan Sanji ke Nami di sini masih misteri.
Btw, aku berencana bikin kisah Sanji kecil sebelum ketemu Zeff di 30 Recipes of Gentlecook. Dan itu akan mengandung OC karena aku bakal ngarang sendiri ttg ortu Sanji.