Ketika jam alarm bundar berwarna merah yang selalu berada di atas meja di samping tempat tidurnya berbunyi, Kanda hanya berguling ke samping, mengeluarkan suara terganggu "Ngghh...", lalu mematikan alarm tersebut. Banyak orang yang tidak ingin diganggu di minggu pagi yang mendung dan dingin, ketika malam sebelumnya mereka terpaksa harus mengikuti acara menonton DVD bersama keluarga. Kanda adalah salah satu dari mereka.
Namun sayangnya, satu dari jumlah total tiga orang yang tinggal di rumah tersebut tidak mengerti tentang keinginan sederhana Kanda. Keinginan seorang Kanda yang jarang sekali memiliki harapan, apalagi memohon. Dan hal itu berkata banyak.
Jadi jangan heran jika ia melempar Tiedoll dengan bantal seketika kaki pria paruh baya itu menyentuh lantai kayu kamarnya.
"Jangan ganggu aku," ujar Kanda setengah-tidur setengah-terjaga. Ia menarik selimutnya yang tebal menutupi kepala dan seluruh tubuhnya, berharap selimut tersebut bisa dijadikan perisai dari musuh apapun yang mencoba menariknya dari dekapan hangat dan nyaman kasurnya yang empuk. Ya, dan Kanda menamai kasurnya "Liza". Tidak.
"Oh tidak Yuu-kun, tidak seperti biasanya kamu bertingkah seperti ini! Kau mau bersikap manja kepada ayah?? Aaah Yuu kamu telah kembali menjadi remaja normal!"
Ya, film vampir-vampiran hina yang kamu putar tadi malam membuatku pusing dan mengubahku menjadi normal kembali. Sekarang tinggalkan aku sendiri selama aku menikmati masa-masa 'normal'ku. Oh ya lagipula kamu bukan ayahku. Oke. Thanks. Bye.
"Oh ya ada yang mencari Yuu-kun. Menunggu di bawah."
Tch. Siapa. "Suruh pergi."
"Rambutnya merah dan memakai eyepatch. Apa dia temanmu?"
Kanda melompat bangun dan duduk, matanya terbelalak. Ia segera turun dari tempat tidurnya, membuka pintu kamar lalu turun dengan tergesa-gesa sehingga menimbulkan suara derap kaki ribut di tangga.
Ia buka pintu depan dan melihat sesosok laki-laki, lebih tinggi darinya beberapa senti, memakai jaket coklat dengan tudungnya menutupi kepala. Punggungnya menghadap Kanda.
Orang itu pun berbalik. "Ah… Yuu! Selamat pagi~"
"Tch. Apa maumu datang kesini, Bookman Jr."
"Panggil Lavi saja~ Kita kan teman." Sahut Lavi, nyengir. "Apa aku mengganggu? Hei… Baru bangun? Piyamamu lucu juga."
Saat Kanda turun dari tangga setelah mengganti bajunya dengan pakaian santai yang lebih pantas (Orang asing baru saja melihatnya dalam keadaan sangat tidak keren dan hanya memakai piyama. Sudah jatuh sejauh mana derajat Kanda?), ia melihat ayah angkatnya dan cowok yang mengaku-ngaku sebagai temannya sedang asyik ngobrol berdua di ruang tamu. Entah apa yang mereka bicarakan karena tiba-tiba Kanda menyadari bahwa mereka berbicara dengan bahasa Prancis.
Hah?
"Yuu!" panggil Lavi begitu melihat sosok Kanda di bawah tangga. "Ini hebat! Kenapa kamu nggak pernah bilang kalau ayahmu itu Monsieur Froi Tiedoll, musisi dan seniman terkenal? Kalau tahu begini kan aku bisa bawa buku kumpulan tanda-tanganku!"
"Tch, kamu ke sini mau fanboying orang tua itu atau apa sih? Lagipula kamu tahu dari mana alamatku?"
"Insting sahabat," Jawab Lavi sambil mengetuk-ngetuk dahinya sendiri dengan telunjuk. Kanda meraih vas bunga terdekat. "EEEHHH!! Jangan lempar ke sini! Vasnya cantik! Aku tahu alamatmu dari Lena!"
Kanda meletakkan kembali vas bunganya. "Lenalee?"
"Yep. Kamu nggak ngasih alamatmu waktu itu sih. Untung saja aku kenal dengan cewek baik itu. Aaahh… Sayang dia udah punya pacar. Dasar Allen, lucky bastard." celoteh Lavi nggak nyambung.
"Lalu ada perlu apa kamu kesini hari ini?"
"Mengecek tempat dong Yuu! Mulai besok kan aku akan sering kesini…" mendengar nama kecilnya dipanggil lagi oleh Lavi Kanda segera melakukan gerakan mengancam super ampuh. "EEEHHH IYA IYA KANDA, JANGAN LEMPAR! VAS BUNGANYA CANTIK!!"
Cowok berambut merah itupun menoleh kearah jendela, dimana langit masih mendung diiringi hujan gerimis. Ia bangun dan memakai jaketnya. "Mungkin harus pulang sekarang, nanti hujannya tambah deras."
"Jangan pulang dulu Lavi-kun, tunggu saja sampai benar-benar reda. Mau dibuatkan teh hangat?"
"Terima kasih Mr. Tiedoll, tapi saya harus pergi!" Sahut Lavi sambil memakai sepatunya di teras. "Mungkin besok saja teh hangatnya. Saya permisi dulu. Dadah Mr. Tiedoll! Dadah Yuu!!"
Tiedoll melambaikan tangan kepada sosok Lavi yang mulai berlari menjauh, dan ketika Kanda sadar cowok itu baru saja memanggilnya nama kecilnya lagi, Lavi sudah menghilang di belokan.
"Temanmu itu lucu." komentar Tiedoll. "Kelihatannya baik, aku suka."
"Kapan sih kamu pernah nggak suka sama seseorang?" jawab Kanda sambil meletakkan linggis yang awalnya ingin ia gunakan untuk mengejar Lavi.
"Sering kok. Yuu-kun saja yang tidak tahu."
"Che, dan aku masih nggak mau tahu."
"Aku senaaang sekali," celoteh Tiedoll dengan sedikit terisak. "Akhirnya Yuu-kun punya teman yang bukan Lenalee saja. Mungkin memang sudah saatnya aku melepasmu, dan akhirnya kamu menyadari bahwa kamu memang ditakdirkan menjadi seorang kupu-kupu sosial!"
Kanda menahan godaan dahsyat untuk mengambil linggis tadi. "Tch, terserah deh. Dasar orang tua super sensitif."
Malamnya ia menerima sms dari nomor tidak dikenal, yang berisi :
Hei Yuu ini Lavi. Save nomerku ok! :3 Oh ya udah mau tidur? Aku kena insomnia lagi hahaha… Temenin aku dong! (/= 3=)/
Kanda jadi memikirkan apa ia perlu mengganti nomornya atau tidak. Atau mungkin sekalian memohon kepada Tiedoll untuk pindah rumah.
-To be continued-
So, how was it? Hahaha iya chapter yang ini agak pendek orz. Entah kenapa tiap lagi bikin fic multichapter kaya' gini ada aja ide lain yang bermunculan, yang memaksa untuk ninggalin proyek yang sekarang. Euuuhh...
Yang review bakal saya cium! XD. Lho? Kalian mau lari kemana? Jangan pergii!!! DDD:
