The Limit of My Time

Disclaimer: Persona 4 © ATLUS

Rated: T

Genre: Angst/Romance

Summary:

"Kematian sesungguhnya bukan hal yang harus ditakuti, iya kan?"


Tidak ada orang yang ingin menyia-nyiakan waktunya untuk hal yang tidak berguna. Seiiring dengan berputarnya jarum jam, setiap orang pasti memiliki batas waktu tertentu. Seperti peribahasa 'waktu adalah uang', maka sangatlah bodoh jika orang memanfaatkan waktu mereka yang terbatas untuk hal-hal yang tidak penting. Manusia hanya diberikan batas tertentu oleh Tuhan, dan di saat yang telah ditentukan itu, waktu manusia akan terhenti, semua kegiatan mereka akan terhenti, juga kisah hidup yang telah dijalani akan terputus dengan sendirinya.

Kematian

Satu kata itulah yang membuat waktu manusia berhenti untuk melakukan semuanya. Mungkin akan ada orang yang takut akan hal tersebut—mungkin mereka tidak siap; tapi ada juga yang menganggap enteng hal tersebut. Kematian tidak akan pernah bisa ditebak oleh manusia, apa penyebabnya, kapan dia akan datang menjemput manusia, dan bagaimana cara kematian itu sendiri akan datang kepada manusia. Semuanya sudah menjadi rahasia Tuhan.

"Maafkan kami… Kami sudah melakukan yang kami bisa untukmu…"

Akan tetapi, kematian menjadi sangat lain jika seseorang sudah tahu apa yang menyebabkannya menemui kematian. Mungkinkah penyakit yang diderita, kecelakaan yang mengenaskan, atau pembunuhan berencana? Entahlah, siap atau tidak, semua manusia tanpa terkecuali pasti akan merasakan hal tersebut, yaitu kematian.

'A… Apa…? Ti… Tidak mungkin… Aku… masih bisa bertahan hidup, iya kan…? Kenapa semuanya diam…? Ja… Jawab aku…!'


Angin yang berhembus pelan, daun-daun berserakan yang ditiup oleh angin, langit senja yang berwarna kemerahan, juga masih terdengar beberapa kicauan burung-burung yang akan kembali ke sarangnya menghiasi tempat itu. Jika diperhatikan dengan saksama, semua orang bisa melihat ada seseorang yang duduk sendirian di tepi aliran air yang tenang itu. Kepalanya merunduk ke lututnya, seolah menandakan jika ia tengah menangis. Dan sayangnya, hal itu benar. Orang itu menangis, air mata terus meleleh di pipinya. Beberapa kali ia mengusap air matanya itu, tetap saja air matanya tidak mau berhenti mengalir.

'Jangankan satu tahun, kami pun masih ragu apakah kau tetap bisa bertahan hidup untuk enam bulan ke depan…'

Orang itu pun mengangkat kepalanya menghadap ke langit. Seperti mengharapkan sesuatu yang ia yakin pasti akan datang.

"E… enam bulan…? Apa yang bisa kulakukan dengan waktu yang sangat sedikit itu…?" ucap orang itu sambil terisak-isak.

Dia pun terus berpikir bagaimana jika dia tidak bisa melakukan hal yang terbaik untuk orang-orang di sekitarnya? Bagaimana jika dia tidak bisa menjaga orang yang disayanginya di saat-saat terakhir dia berada di muka bumi ini? Semuanya menjadi kusut di pikiran orang itu. Tangisan yang sedari tadi terus mengalir pun sampai sekarang masih saja mengalir. Tapi orang itu pu akhirnya mengusap semua air mata itu, karena dia tahu, pada akhirnya, dia pasti akan meninggalkan semuanya.

"Untuk apa aku menangis…? Bahkan, jika kenyataannya seperti itu… aku harus mencoba yang terbaik di saat-saat terakhirku…" ucap orang itu dengan lemah.

Dengan tenaga yang tersisa, anak itu bangkit dari tempat duduknya di tepi aliran air yang tenang tersebut, lalu perlahan-lahan menggerakkan kakinya meninggalkan tempat itu. Dengan senyum kecil, ia berkata dengan pelan:

"Kematian sesungguhnya bukan hal yang harus ditakuti, iya kan?"

-to be continued-


Author's Notes:

Ampun, tolong jangan lempari saya dengan barang-barang yang berada dekat dengan anda ya… /dilemparduluan

Jadi… gimana fic kedua saya? Hancur? Jelek? Prolognya gaje, abal dan aneh menurut saya, genrenya pun saya bingung mau pasang apa -_-"a /nggakbakatbangetsayaini

Dan buat readers, kalau ada yang mau kasih saran genrenya apa, kasih tahu lewat review ya... Your reviews will be most appreciated X)

-Misaki Shirogane-