For Hurt/Comfort no typo Challenge from FFN
~xXx~
C H O I C E
~xXx~
Naruto © Masashi Kishimoto
Choice © Akaneko
~xXx~
Warning : Yaoi, OOC, AU. DON'T LIKE, PLEASE DON'T READ!!!
BASED ON TRUE STORY
~xXx~
Dedicated from Mr. R who inspired this fict from his true life.
~xXx~
Enjoy please…
l\_/l
(=^_^=)
~xXx~
Sasuke's POV
Manusia, hidup di dunia dengan memiliki ketentuan. Mereka harus menentukan sebuah pilihan yang harus mereka hadapi dalam kelamnya hidup. Mencari jalan terbaik yang dapat mereka lakukan menuju masa depan yang mereka tapaki. Tentu saja tak semua pilihan yang terlihat adalah baik. Tapi, tak ada pilihan yang salah dalam mengambil keputusanmu. Walaupun hal itu menyakiti dirimu bahkan orang lain.
Entah apa yang terjadi padaku jika saja aku tidak bertemu dengan orang itu. Apakah aku boleh memilih? Bahkan seandainya diberikan sebuah pilihan, aku sendiri juga tidak tahu mana yang harus kupilih. Apakah aku tidak berharap bertemu dengannya, atau justru aku bersyukur bertemu dengannya. Aku tidak tau pilihan mana yang kuyakini.
Bagi diriku yang merupakan bagian dari keluarga Uchiha yang terpandang, menjaga kewibawaan merupakan bagian dari kepribadian. Begitulah prinsip yang harus kami anut dalam hidup ini. Memiliki harta yang melimpah dengan banyaknya penjilat disekitarmu memang sulit untuk bertahan. Tapi itu bukanlah masalah besar.
Aku adalah Sasuke Uchiha, berumur 25 tahun yang merupakan bungsu dari keluarga Uchiha ini. Kakakku, Itachi, merupakan penerus perusahaan yang di tempatkan di kantor pusat Sharingan Corp. Sedangkan aku di tempatkan di kota Oto, mengelola salah satu cabang perusahaan kami dalam bidang distribusi mobil. Tinggal di sebuah apartemen mewah seorang diri. Walaupun aku memiliki tunangan yang bernama Sakura Haruno, tak pernah kubiarkan dia bersikap sesukanya pada apa yang menjadi milikku dan sekitarku. Harga diriku terlalu tinggi untuk tunduk padanya.
Ya, aku tak akan pernah membiarkan diriku diperbudak oleh siapapun. Apalagi oleh seorang wanita, biarpun kelak dia akan menjadi pendamping hidupku. Tidak. Tak akan pernah. Seharusnya begitu. Tapi yang terjadi justru sebaliknya. Aku telah diperbudak, bukan dengan wanita itu, melainkan oleh cinta yang tak pernah sungguh-sungguh kurasakan sebelumnya.
Berawal aku bertemu dengannya saat itu. Saat aku menghabiskan akhir pekanku dengan bermain di arena golf bersama tunanganku. Tak kuperdulikan pria-pria lain yang menatap Sakura dengan pandangan terpesona yang menelanjanginya. Menurutku, tak perlu memusingkan hal yang tak perlu seperti merasa cemburu karena banyaknya pria-pria mata keranjang yang memandang Sakura. Itu hak mereka memandangnya seperti itu. Aku tak punya kewajiban untuk melarang mereka. Lagipula kelihatannya Sakura cukup menikmatinya. Dasar wanita.
Tak sengaja pukulanku keluar dari pembatas arena golf dengan lapangan umum yang berada di luarnya. Lapangan yang selalu ramai dikala akhir pekan ini. Dengan sedikit kesal aku berjalan ke tempat itu dengan Sakura yang mengekor dibelakangku. Mataku mencari-cari kearah yang kuperkirakan jatuhnya bola itu. Dan saat itulah aku bertemu dengannya. Seorang pemuda berambut pirang cerah, bermata biru langit, dan berkulit tan eksotis dengan 3 buah garis tipis di setiap sisi pipinya. Wajahnya tampak sedikit merengut kesal. Aku mengernyitkan dahiku heran melihatnya yang memanggilku dengan nada kesal.
"Hei, apa kau mencari ini?" ujarnya sinis sambil memegang bola golf yang kuyakini sebagai milikku tadi.
Ternyata bola golf yang telah terlempar tadi telah merusakkan mainan aeromodelling yang dimilikinya. Dan sedikit lebih membuat kami bertengkar mulut. Ditambah dengan campur tangan Sakura, membuatku kesal dengan sikapnya yang tak pantas sebagai seorang wanita calon istriku ini. Aku memutuskan untuk mengganti mainan milik pemuda pirang itu yang kuketahui bernama Uzumaki Naruto, dengan bertukar nomor handphone kami agar aku mudah menghubunginya untuk mengantarnya mencari pengganti baru mainan aeromodellingnya.
Aku segera kembali dengan Sakura ke apartemenku. Kusuruh dia untuk pulang tanpa mengantarnya, karena aku akan mengganti mainan pemuda itu hari ini juga. Aku tak ingin mencari masalah dan ingin segera menyelesaikan masalah itu secepatnya. Setelah menyiapkan mobil Ferrari California hitamku, segera kuhubungi Naruto untuk menungguku di depan gerbang apartemenku. Perlahan kujalankan Ferrari-ku keluar dari apartemen dan berhenti tepat di depan gerbang apartemen ketika kulihat seorang pemuda berambut pirang dengan jaket tanpa lengannya yang berwarna oranye itu tampak mencolok di mataku.
"Kemana?" tanyaku datar setelah Naruto masuk ke dalam Ferrari-ku.
"Huh… Kita ke Oto Super Mall dulu saja," sahutnya seraya mendengus.
Tanpa menunggu kalimat berikutnya, aku langsung melajukan mobilku dengan cepat. Hingga dalam 4,3 detik telah mencapai kecepatan 100 km/jam. Tak kuperdulikan teriakannya yang terdengar ketakutan ketika aku menyalip mobil-mobil yang ada di depanku dengan kecepatan yang semakin tinggi. Tapi tak lama dia menjadi diam. Kulihat dengan ekor mataku, dia memejamkan matanya dan beberapa tetes keringat mengalir di pipinya yang kecoklatan melewati 3 garis halus disetiap sisinya. Aku tertawa kecil melihat reaksinya yang tampak begitu ketakutan itu. Karena sepertinya dia begitu ketakutan, aku memelankan laju kendaraanku hingga sampailah kami di Oto Super Mall yang menjadi tujuan kami.
"Hei, mau sampai kapan kau diam di sana?" tanyaku ketus.
Begitu kami turun dari mobil, pemuda pirang itu langsung keluar dari mobilku dan menyandarkan tubuhnya di pilar penyangga yang ada di samping parkir mobil. Menempelkan dahinya pada tangannya yang bersandar pada dinding.
"Di-diam kau…" desisnya.
Aku hanya menghela nafas memandangnya sambil melipat kedua tanganku di depan dadaku. Kutunggu dia beberapa saat dan dia mulai berjalan dengan langkah yang terhuyung-huyung. Ketika kulihat dia hampir saja terjatuh tersandung kakinya sendiri jika saja aku tidak segera menopang tubuhnya yang mungil itu.
"Geez… Tak hanya payah, ternyata kau juga ceroboh, Dobe," sindirku.
"Ap-apa kau bilang, Teme?!" serunya sambil mendongakan wajahnya memandang kearahku. "Kau pikir gara-gara siapa aku jadi seperti ini, huh?"
"Che, kau ini berisik sekali, Dobe," dengusku.
Kulingkarkan tangan kiriku dipundak kecilnya.
"Hei, apa yang kau lakukan? Aku bisa jalan sendiri," serunya berusaha melepaskan tanganku dari pundaknya.
"Diamlah. Bisa apa kau dengan kaki yang sempoyongan seperti itu?" ucapku sambil mengeratkan tanganku dipundaknya.
Sedangkan dia hanya mendengus dengan kesal mendengar ucapanku. Kami berjalan memasuki mall tanpa menyadari tatapan yang terus mengarah pada kami. Melewati berbagai macam toko yang berjejer rapi dan orang-orang yang lalu-lalang. Dan berhentilah kami di sebuah toko dengan berbagai macam model aeromodelling. Tanpa melepaskan tanganku yang bertengger dipundaknya, kami memasuki toko. Beberapa saat sang pemilik toko itu sedikit heran melihat kearah kami. Barulah kusadari apa yang aneh pada kami. Segera aku melepas tanganku yang masih merangkulnya.
"Ehem…" aku berdeham pelan.
"Kau kenapa, Teme?" tanya Naruto heran melihat kearahku.
"Tidak."
Dia hanya mengedikan bahunya lalu mulai bertanya-tanya tentang aeromodellingnya yang kurusakkan tadi pagi. Ternyata dia memang bodoh, karena sepertinya dia tidak menyadari kesalahan yang sejak tadi kami lakukan. Aku bersyukur tentang itu. Tapi entah kenapa wajahku terasa panas mengingat kebodohan yang telah kulakukan tadi. Pantas saja sejak tadi aku merasa orang-orang melihat kearah kami dengan tatapan yang aneh. Dan lagi aku seolah tidak menyadarinya? Sungguh memalukan.
"Apa? Tidak ada?!"
Seruan si Dobe itu membuyarkan lamunanku yang telah melayang entah kemana. Aku langsung menoleh kearahnya dan menghampirinya.
"Ada apa?"
"Aku ingin frame dasar mhz, tapi katanya belum ada, berhubung aero milikku itu merupakan tipe terbaru. Dan komponen itu masih belum dijual banyak."
Aku terdiam mendengar penuturannya yang tak kumengerti. Bukan, bukannya aku bodoh. Otakku ini termasuk golongan jenius jika saja aeromodelling termasuk dalam bidang yang kukuasai. Selama ini yang kupelajari hanyalah yang menyangkut dengan bisnis untuk menjalankan usaha keluargaku. Selingan lainnya mungkin olahraga dan sedikit tentang permesinan. Karena bagaimanapun juga aku bekerja di bidang distribusi mobil.
"Hmm… Kalau begitu aku harus mencari di tempat lain, ya?" gumamnya.
Aku hanya memperhatikannya yang sedang memilih-milih berbagai macam komponen terpampang di depannya. Akhirnya dia memutuskan beberapa komponen aeromodelling yang akan dibelinya. Si Dobe itu bermaksud mengeluarkan dompetnya ketika aku mencegahnya.
"Apa yang kau lakukan?"
"Eh? Apa? Aku hanya ingin membayarnya," sahutnya.
"Bodoh," dengusku sambil mengeluarkan kartu kreditku dari dompet.
"Apa katamu, Teme?! Kau ini menyebalkan!" sungutnya.
"Hn."
Aku memberikan kartu kreditku pada si pemilik toko untuk membayar semua barang-barang yang telah dibelinya.
"He-hei, aku bisa membayarnya sendiri kok, Teme."
"Kau pikir untuk apa aku ada di sini, Dobe? Jadi supirmu? Che, aku akan mengganti semua yang kau perlukan karena aku yang telah merusakkannya, kau ingat? Aku bukan orang yang tidak bertanggung jawab, karena itulah aku ada di sini."
Si Dobe itu bengong menatapku. Aku mengernyitkan dahiku melihat ekspresinya yang bodoh itu.
"Apa?"
"Tidak. Tak kusangka kau bisa bicara sepanjang itu. Yang kudengar sejak tadi kau hanya berbicara beberapa patah kata saja. Maksimal hanya 1 kalimat," ujarnya.
"Dasar bodoh."
Aku langsung memalingkan wajahku yang terasa panas. Sial. Apa yang terjadi padaku? Lagi-lagi aku melakukan kesalahan yang konyol di hadapannya. Sudah 2 kali aku menampakan kebodohanku yang tak kusadari. Dan ini baru pertama kalinya terjadi bahkan di hadapan si Dobe ini, orang yang baru hari ini kutemui. Mau taruh di mana wajahku?
"Hei, Teme," panggilnya.
"Hn," sahutku masih membelakanginya.
"Ng… Terima kasih," ucapnya.
Aku langsung menoleh kearahnya. Kulihat dirinya tersenyum ramah padaku. Sesaat jantungku berdetak dengan keras dan kembali aku memalingkan wajahku darinya. Lagi kurasakan wajahku memanas. Entah kenapa aku semakin aneh melihat tingkah lakunya yang mudah berubah-ubah itu.
"Lalu, apakah yang kau cari sudah kau dapatkan semua?" tanyaku tanpa memandang kearah wajahnya.
"Ng… Sebenarnya masih ada beberapa lagi, tapi…"
"Ayo."
Aku langsung menarik tangannya pergi dari toko itu setelah mengambil semua barang yang telah kami beli.
"Te-Teme, tunggu! Kenapa kau tiba-tiba menarik tanganku seperti itu? Kita mau ke mana?" tanyanya bingung.
"Kita cari lagi benda yang kau inginkan di tempat lain sampai dapat. Beritahu saja di mana ada toko aeromodelling yang kau ketahui," ucapku masih tetap menyeretnya.
"Eh?"
Hanya itu yang kudengar darinya. Beberapa saat kami berjalan menuju basement, tak banyak yang bicara di antara kami. Begitu kami menaiki mobil, Naruto langsung mengatakan tempat yang akan menjadi tujuan kami selanjutnya, Rakuen Mall. Kutancap gas mobilku tapi tak sekencang tadi, karena aku tidak mau melihatnya mabuk seperti tadi lagi. Cukup merepotkan jika melihat dia seperti itu lagi.
Kami mulai mencari toko aeromodelling lagi begitu kami sampai di Rakuen Mall. Aku hanya diam ketika dia sedang memilah-milah kembali barang yang akan dibelinya. Begitu lama sehingga membuatku cukup bosan. Memang aku cukup sering menemani Sakura yang senang sekali shopping barang-barang bermerek. Walaupun dia menghabiskan cukup banyak uang yang kumiliki, tak pernah aku memprotesnya. Bukannya aku tunduk padanya, hanya saja aku tidak ingin mendengarnya merengek-rengek dengan berisiknya untuk memintaku membelikan sesuatu yang diinginkannya. Tapi jika aku sudah kesal, aku akan menghentikan gila shopping-nya itu.
"Hmm… Mungkin aku akan membeli yang ini saja," suara Naruto membuyarkan lamunanku.
"Tapi, jika Anda menggunakan Sapac Extra 330L, performanya akan lebih baik. Apalagi jika di aeromodelling Anda dilenkapi dengan remote control auto, Anda tidak akan sulit untuk mengendalikannya," ucap si pemilik toko.
"Tapi ini masih terlalu mahal. Aku tidak bisa membelinya saat ini."
"Yah… Mau bagaimana lagi? Ini keluaran terbaru, tentu saja masih mahal. Karena belum banyak yang menjualnya," sahut si pemilik toko.
"Maaf, aku tidak…"
"Kami beli yang itu," ujarku sambil menyerahkan kartu kreditku.
"Te-Teme?" seru Naruto terkejut.
"Apa?"
"Jangan, Teme. Itu masih mahal," cegahnya.
"Dobe, kau menginginkan ini kan? Sudahlah, tidak apa-apa. Aku akan mengganti benda yang telah kurusakkan. Jadi, sudah sewajarnya aku membeli yang terbaik untukmu," ucapku.
Naruto diam memandangku lalu tersenyum malu-malu padaku.
"Hehe… Te-terima kasih, ya, Teme?"
Aku langsung mengalihkan wajahku darinya. Kuusap kepalanya dengan tangan kiriku. Entah kenapa sesaat tadi jantungku berdetak dengan keras. Sudah 2 kali aku mengalaminya ketika aku melihatnya tersenyum. Aneh.
Tak terasa sudah pukul 7 malam. Dan hal ini membuat kami cukup lapar. Aku membawanya ke sebuah café yang biasa kudatangi. Sebuah café dengan interior bergaya Eropa dengan penerangan sedikit remang-remang. Terdapat panggung kecil untuk pementasan musik klasik berada di dalamnya. Membuat suasana di sana terasa nyaman. Kami mulai memesan makanan dan berdiam cukup lama menunggu pesanan kami datang.
"Te-Teme… Terima kasih untuk semuanya hari ini."
Aku yang sedang memandang kearah lain langsung menoleh kearahnya. Melihat dirinya yang sedang tersenyum lembut dengan rona merah di pipi kecoklatannya yang hanya berada di tempat remang-remang seperti ini, membuat jantungku berdetak dengan sangat cepat. Dia terlihat begitu manis. Sangat manis hingga membuat wajah porselenku ternoda oleh rona merah. Aku merasa terpesona olehnya.
"Hn."
Hanya itu yang dapat kuucapkan. Aku tak sanggup menatapnya lebih dari itu. Jika kulakukan, mungkin aku tak akan sanggup untuk menahan gejolak yang kurasakan. Kini kusadari kenapa sejak tadi aku merasa aneh dengan diriku ini. Ternyata aku menyukainya. Dan aku tidak tahu sejak kapan mulai menyukainya. Apakah sejak aku melihat senyumannya itu? Ataukah sejak aku pertama kali bertemu dengannya tadi pagi? Entahlah. Tapi, walaupun aku tahu bahwa ini merupakan hal yang aneh dan tak wajar, aku tidak membenci perasaan ini padanya.
l\_/l
(=^_^=)
Seminggu telah berlalu sejak itu, kami sering berhubungan melalui telepon genggam atau dunia maya. Sudah cukup banyak hal yang kuketahui darinya. Tak kusangka dia sudah berumur 19 tahun. Kupikir dia masih berada di bangku sekolah. Saat dia mendengar komentarku itu, dia langsung merengut dengan menggembungkan pipinya. Membuatnya tampak menggemaskan. Semakin dia seperti itu, membuatku semakin ingin menjahilinya lebih lagi.
Malam minggu, banyak orang yang mengisi malam itu bersama dengan pasangannya. Seharusnya aku juga bersama dengan Sakura saat ini, tapi itu menurut orang lain. Bagiku, hal itu tidak-lah penting jika aku harus bersama dengannya. Memangnya haruskah aku menghabiskan malam minggu-ku dengan seorang wanita berisik yang selalu banyak maunya itu? Aku ingin menikmati malam ini dengan orang yang jauh lebih baik darinya. Walaupun lebih berisik, tapi setidaknya dia tidak membuatku merasa bosan.
Kudengar suara bel apertemenku berbunyi. Aku berjalan menuju pintu masuk. Bisa kutebak siapa yang datang.
"Hai, Teme. Ini aku bawakan bahan-bahan untuk membuat kare," serunya riang.
Aku tersenyum lembut padanya yang menggenggam kantung berisi bahan-bahan makanan yang dibawanya. Kutarik tangannya masuk ke dalam apartemenku.
"Masuklah," ucapku sambil mengambil kantung yang dibawanya.
Kami berjalan kearah dapur dan menyiapkan semua bahan dan peralatannya untuk memasak kare. Untuk ukuran Naruto yang tampak bodoh itu, dia cukup bisa diandalkan dalan hal masak-memasak. Mengingat dia hanya tinggal berdua dengan pamannya. Memang jika dibandingkan dengannya, aku tidak terlalu bisa dalam hal ini. Aku hanya tinggal sendiri dan kalaupun aku berada di rumah, aku selalu memesan makanan resto melalui delivery service.
l\_/l
(=^_^=)
"Gochisosamadeshita."
Kami membereskan sisa-sisa makanan dan piring kotor, membawanya menuju dapur. Setelah membersihkannya, kami kembali ke ruang tengah.
"Wah, sudah pukul 10 malam. Lebih baik aku pulang," ucapnya tiba-tiba sambil melihat kearah jam yang berada di dinding.
Jantungku langsung berdetak dengan keras. Aku tidak ingin dia pulang. Aku masih ingin dia menemaniku malam ini. Tanpa kusadari, tanganku sudah bergerak terlebih dahulu untuk mencegahnya.
"Te-Teme?"
Aku diam memandangnya. Perlahan kugerakkan bibirku untuk mengucapkan beberapa kata.
"Jangan pergi…" lirihku.
"Eh?"
Wajahnya menampakan keterkejutan. Bola mata birunya penuh akan tanda tanya dengan sikapku yang aneh ini. Aku masih tetap memandangnya dalam diam. Ekpresi terkejutnya telah berganti menjadi senyuman lembut. Senyuman yang amat kusukai darinya. Senyuman indah yang terlukis dalam bibir mungilnya yang selalu membuat hatiku merasa hangat. Perlahan tangannya yang bebas dari genggamanku menyentuh pipiku dengan lembut.
"Aku suka padamu, Naruto," ucapku lembut seraya menyentuh tangan hangatnya yang menyentuh wajah porselenku.
Sesaat dia membelalakkan matanya kembali penuh keterkejutan. Tapi itu tak berlangsung lama. Detik berikutnya senyuman manis semakin membuat wajahnya tampak semakin indah.
"Aku juga suka padamu, Sasuke."
Aku tersenyum mendengarnya. Hatiku berdebar-debar dengan lembutnya ketika mendengar kata hatinya yang sama denganku. Kusentuh pipi kecoklatannya dengan ujung jariku yang dingin. Mendekatkan bingkai wajahnya padaku. Dan dalam hitungan detik yang terasa lambat itu, dapat kurasakan manisnya bibir lembut kemerahan yang selama ini kunantikan untuk menyentuhnya. Melumatnya penuh hasrat untuk mengecap rasa manis dari dirinya lebih lagi.
Dan malam itu, kami menghabiskan waktu dalam dimensi yang hanya diterangi sinar rembulan. Melewati indahnya malam dalam ciuman panas yang bercampur dalam deru nafas membara oleh tubuh penuh akan peluh. Hal terlarang yang kami lakukan pertama kalinya dalam hidup ini. Saat ini, tak terpikirkan oleh kami akan perihnya yang kami rasakan mendatang. Hanya menikmati setiap detik waktu yang terlewati dalam dekapan hangat.
-
-
~TBC~
-
-
Cerita ini berdasarkan cerita asli kenalan Neko, Mr. R. Sankyuu dah ngizinin Neko buat pengalaman oom R jadi fanfic SasuNaru ini… XP
Ya, ya, Neko tau. Padahal genre-nya hurt, tapi malah ga ada hurt sama sekali… *dihajar rame2*
Soalnya selain Neko ga bisa buat hurt, emang ceritanya begitu kok… *ngeles aja kayak sopir bajai*
Semua cerita yg ada di sini bener2 pengalaman asli. Cuma bedanya sifatnya oom R ga kayak si ayam itu…
Fict ini Neko buat FFN (Federal For Newbie) yg bikin challenge ini. Padahal Neko ga bisa buat fict Hurt, tapi karena diwajibin… apa boleh buat… T^T;
Akaneko as the Demon Queen
MIND TO REVIEW? ^^