Nya-Ha~!!!!
Saiia di awal fic ini mau tegasin kalo saiia ini sebenarnya cuma reader yang pengin-pengin publish fanfic——padahal nggak ada bakat T.T, dan fic ini ceritanya saiia ambil dari sebuah novel dengan judul yang sama, cuma tokoh-tokohnya saiia ganti dengan tokoh BLEACH dan sedikit perubahan yang saiia sesuaikan sama chara-nya, beberapa nama setting tempatnya juga saiia ganti tentunya, karena——saiia ulangi sekali lagi bahwa——saiia sama sekali nggak ada bakat buat jadi author T.T
Warning: AU; OOC; cuma cerita dari sebuah novel yang menurut saiia bagus, jadi saiia cuma ingin kalian baca cerita ini, buat yang udah pernah baca, nggak baca fic ini nggak apa-apa kok, tapi kalo emang mau baca, silahkan...
Ps: Saiia nggak menerima flame karena saiia cuma njiplak cerita orang. Lagi pula udah saiia peringatin dari awal, kan?
Disclaimer:
BLEACH © Kubo Tite
THE TRUTH ABOUT FOREVER © Orizuka
Saiia?? Cuma mempublikasikan kok! T.T
Enjoy, please!!!!!
RnR!!!
-------------------------------------------------------------------------------
Chapter 1
NEIGHBOUR FROM MARS
Kereta jurusan Seireitei-Karakura berjalan tenang di antara persawahan. Di dalam kereta itu, seorang cowok berambut putih berumur dua puluh satu tahun tertidur dengan mulut setengah terbuka. Suara dentum-dentum keras terdengar dari headphone besar yang merosot dari telinganya dan malah melingkari lehernya.
Seorang anak perempuan berumur sekitar empat tahun menatap wajah cowok di depannya itu dengan cermat. Ibu dari anak itu juga sedang terkantuk-kantuk. Anak perempuan itu bangkit, mendekati cowok di depannya. Dia memerhatikan iPod yang ada di tangan cowok itu, lalu menjulurkan tangan, bermaksud memegangnya.
"Jangan," kata cowok itu membuat anak perempuan itu tersentak kaget. Namun mata cowok itu masih terpejam. Rupanya, dia hanya mengigau.
Anak perempuan itu menghela napas lega, lalu kembali menjulurkan tangannya, penasaran. Tiba-tiba, cowok itu bergerak gelisah.
"Jangan! Lepasin gue!! JANGAN!!!!!!!!!!!!!!" teriak cowok itu, sambil membuka mata emerald-nya yang sejak tadi tertutup.
Si anak perempuan tadi terlonjak dan akhirnya jatuh terduduk dengan wajah pucat pasi.
"Ada apa??" seru ibu dari anak itu kaget. Dia terbangun karena teriakan keras si cowok. "Ada apa, Orihime??"
Anak perempuan bernama Orihime itu langsung menangis, terlebih karena kaget. Ibunya segera menenangkannya, lalu melirik tajam ke arah cowok bermata hijau emerald tadi.
Toushiro, si cowok tadi, masih terlalu kaget dengan mimpinya. Mimpi buruk yang sudah sekian tahun mengganggunya. Toushiro menyeka keringat dingin yang mengalir deras di wajahnya, lalu menatap si ibu yang juga masih menatapnya tajam.
"Oh, maaf, Bu," kata Toushiro setelah melihat Orihime yang masih terisak meski dia tak tahu persis apa kesalahannya.
Si ibu tidak begitu peduli dengan permintaan maaf Toushiro, bahkan membuang muka. Toushiro yang merasa bersalah, hanya bisa menggigit bibir sambil membetulkan posisi duduknya. Setelah memastikan si ibu tidak menatapnya lagi, Toushiro membuang pandangannya ke luar jendela. Kereta masih melintasi persawahan.
Toushiro menghela napas berat mengingat mimpinya tadi. Tanpa sadar, tangannya mencengkeram lengan kirinya erat.
-------------------------------------------------------------------------------
Toushiro sudah sampai di Karakura, kota yang dua hari lalu tidak pernah terpikirkan akan menjadi kota tempat tinggalnya. Hari itu, temannya memberi tahu tempat tinggal seseorang yang sedang dicarinya.
Toushiro berjalan keluar stasiun, lalu menatap ke sekeliling. Di depannya jalanan ramai dipenuhi orang yang berlalu lalang, dia sama sekali tak tahu menahu mengenai kota ini.
Nekat. Itulah modalnya datang ke kota ini. Toushiro tak bisa mundur lagi. Dia sudah mendapatkan info penting tentang seseorang yang dicarinya, dan dia tidak mau kehilangannya lagi.
Toushiro menghela napas, memanggul ranselnya, dan mulai berjalan untuk mencari bus kota.
Toushiro menatap rumah-rumah di depannya yang tampak seperti bangunan kos. Dia sudah selamat setelah penjual minuman di depan stasiun menyuruhnya untuk naik bus nomor empat. Sekarang, dia berada di kawasan kampus Universitas Karakura dan berniat untuk mencari kos.
Toushiro tidak memiliki banyak uang. Dia memiliki simpanan, tetapi tidak akan dihabiskannya untuk sebuah kos bertingkat yang mewah. Dia akan mencari kos dengan harga sewa semurah-murahnya. Tidak perlu bagus, dia toh, tidak akan lama berada di kota ini. Setelah bertemu dengan orang yang dicarinya, Toushiro akan segera pergi.
Setelah dua jam mencari, Toushiro berhenti untuk makan di sebuah warung makan. Agar hemat, Toushiro hanya memesan makanan yang harganya paling murah, yang penting bisa untuk mengisi perutnya yang sejak tadi pagi belum diisi.
Toushiro bertanya pada si penjual di mana kos cowok yang murah. Si penjual menyarankan untuk pergi ke tempat kenalannya yang ada di gang sebelah. Toushiro pun mengikuti sarannya.
Dan, di sinilah dia berada, di depan sebuah bangunan reot yang sepertinya hanya tinggal menunggu waktu untuk rubuh. Bangunan itu bertingkat dua, tampak menyeramkan karena hampir semua catnya mengelupas aneh. Atap bangunan itu juga tampak seperti akan jatuh.
"Ada nih, yang tinggal di sini?" Toushirou bergumam sangsi. Namun, dia tetap melangkahkan kakinya masuk.
-------------------------------------------------------------------------------
"OH, MAU KOS??? BOLEH-BOLEH!!!!" sahut ibu kos membuat Toushiro merasa headphone-nya akan sangat berguna untuk menghindari kerusakan telinga. Ibu itu terlalu histeris. Toushiro merasa curiga, jangan-jangan kos itu tidak berpenghuni.
"Saya mau masuk hari ini juga, Bu," kata Toushiro lagi.
"MASUK HARI INI JUGA? OH, BOLEH!!!" sahut ibu yang belakangan ini diketahui bernama Yuroichi itu lagi, matanya sekarang berbinar-binar. Bahkan nyaris berkaca-kaca.
"Saya juga mau bayar lunas sekarang," kata Toushiro lagi, lalu dengan segera menutup telinganya sebagai antisipasi.
"OHHH!!! BAYAR LUNAS SEKARANG JUGA BOLEEHHHH!!!!" seru Yuroichi lagi. Kini, dia sudah menangis.
Toushiro menatap simpati. Yuroichi menyeka air matanya, lalu menggenggam tangan Toushiro erat. Toushiro tak sempat menghindar. "Ng... siapa tadi?"
"Hitsugaya... Hitsugaya Toushiro," sahut Toushiro.
"Mm, Hitsugaya-san... kos saya ini udah hampir nggak ada penghuninya... Tinggal dua orang di bawah dan satu orang di atas... Kamu liat sendiri, kan, kondisi kos ini... Nggak ada yang mau kos di sini...," ratap Yuroichi.
"Terus kenap..."
"Terus, saya juga nggak punya duit untuk renovasi...," potong Yuroichi. "Jadi, satu per satu semua pada pergi. Sisanya bertahan karena mereka pada nggak mampu bayar kos-kosan yang lain. Saya kasihan sama mereka...."
Toushiro mengangguk-angguk dengan pandangan kosong. Dia seolah mengangguk hanya untuk formalitas. Yuroichi sekarang sudah terisak.
"Tapi!! Kamu tiba-tiba datang menyelamatkan saya!! Terimakasih! Saya benar-benar berterimakasih banyak...," sahutnya, membuat Toushiro tersenyum kaku.
"Kalo gitu... boleh saya tau di mana kamar saya?" tanya Toushiro setelah memberi uang kepada Yuroichi. Ternyata biayanya amat sangat murah, jauh di luar perkiraan Toushiro.
"Oh! Kamar kamu di lantai dua, nggak apa-apa, ya?" kata Yuroichi lagi.
"Nggak apa-apa. Tapi, emangnya kalo lantai dua kenapa?" tanya Toushiro, curiga.
"Ng... kamar yang dibawah, kecuali yang di tempatin, semua rusak, cuma sisa satu kamar di atas yang bisa dipakai," kata Yuroichi.
"Oh, oke. Nggak apa-apa."
"Tapi, masalahnya, kamar yang di atas itu... Ng... gimana yah... kamar cewek," kata Yuroichi yang sukses membuat Toushiro cengo.
"Hah? Jadi, ini kos cewek?" tanya Toushiro yang merasa capek karena sudah mengobrol panjang lebar.
"Bukan, ini kos campuran. Yang cowok di bawah, yang cewek di atas. Tapi berhubung yang di bawah pada rusak, jadi yang sisa cuma di atas," kata Yuroichi sambil nyengir bersalah. "Tapi, nggak apa-apa, kok. Si cewek ini anak baik!"
Toushiro melongo. Sebenarnya, yang harus merasa terancam itu siapa?
"Yuroichi-san, saya bukannya nggak mau, tapi apa cewek itu mau?" tanya Toushiro lagi.
"Oh, kamu tenang aja! Dia pasti mau, kok, pasti mau!! Orang dia keponakan saya!" sahut Yuroichi yang kemudian kembali membuat Toushiro melongo. Orang macam apa yang membiarkan orang asing tinggal di sebelah keponakannya sendiri??
"Tapi..."
"Sudah, sekarang kamu naik aja ke lantai dua. Kamar kamu nomor sebelas! Kalo kamu butuh apa-apa, tinggal datang ke sini aja, ya?" kata Yuroichi tak sabar.
Toushirou mengangguk, lalu bangkit sambil melirik Yuroichi yang sedang sibuk menghitung uang. Dia menghela napas, memanggul ranselnya, lalu bergerak keluar rumah ibu kos.
-------------------------------------------------------------------------------
"Duhh!!!! Gue kenapa, sih??????"
Sebuah teriakan cempreng terdengar dari dalam kamar nomor sepuluh. Penghuninya, Rukia, sedang tergeletak di lantai sambil menjambaki rambut sebahunya dengan frustasi.
Tak lama, ia bangun dan menatap komputer yang ada di depannya. Di layar komputer itu, terdapat tulisan-tulisan yang masih menunggu untuk diselesaikan. Rukia memelototi tulisan itu, berharap dengan begitu dia akan mendapatkan inspirasi untuk meneruskannya.
"Oh, inspirasi!!! Datanglah!!!!" serunya lagi sambil mengatupkan kedua tangan dan mengarahkannya ke langit-langit seperti sedang menjampi-jampi orang.
Rukia masih menatap layar komputernya, tapi tak ada inspirasi apa pun yang datang. Perempuan itu menghela napas, meraih gelas di sebelahnya, lalu meminum isinya: kopi. Cairan hitam yang akhir-akhir ini selalu diminumnya.
Rukia melirik papan target berhiaskan gambar chappy kesukaannya yang ada di sebelah komputer itu. Di sana tertulis: Menjadi Penulis Best-seller. Rukia mendesah. Jangankan best-seller, jadi penulis saja belum tentu.
"AAAARRGGGHHHH!!! SEBEEEELLL!!!" seru Rukia membuat Toushiro yang sedang lewat di depan kamarnya terlonjak kaget.
"Ada apaan, sih?" gumam Toushiro. Dia bergerak menuju sebuah kamar yang pintunya sudah penuh ditempeli stiker.
Toushiro menengadah untuk melihat nomor kamar itu, sebelas. Ya, benar, ini kamarnya. Toushiro melirik kamar di sebelahnya. Pintu itu ditempeli hiasan bertuliskan nama pemiliknya: Rukia.
Toushiro memasukkan kunci di tangannya ke lubang kunci. Sebelum pintu kamarnya terbuka, pintu kamar sebelah sudah terbuka duluan.
Rukia keluar kamar sambil menguap lebar. Dia melakukan gerakan-gerakan kecil untuk meregangkan ototnya, belum menyadari kalau ada seseorang di sebelahnya yang sedang menatapnya heran. Rukia meregangkan otot leher dengan menoleh ke kiri dan ke kanan, dan saat itulah, dia bengong mendapati seorang cowok asing sedang menatapnya.
Rukia mengerjapkan matanya sesaat, lalu berkata, "Elo siapa?"
"Yang mau kos di sini," jawab Toushiro pendek.
"Oh," ujar Rukia sambil mengangguk-angguk, kemudian kembali bersenam-senam. Toushiro memanfaatkan kesempatan ini untuk masuk ke kamarnya. Sesaat kemudian, Rukia tersentak. "HEEH??? LOE MAU KOS DI SINI???"
Rukia segera mendatangi Toushiro, tetapi pintu kamar Toushiro terbanting tepat saat Rukia hendak bicara. Rukia bengong, ia menggedor-gedor pintu itu. Tak ada jawaban.
Rukia memandang pintu itu geram, lalu segera tahu siapa biang keladi dari semua ini. Dia langsung berderap ke bawah.
-------------------------------------------------------------------------------
"Obaa-san!!!!" teriak Rukia setelah sampai di rumah tantenya yang tak lain tak bukan adalah Yuroichi, si ibu kos. "Kenapa ada cowok yang ngekos di sebelah kamarku??"
"Ya, nggak apa-apa, kan, Rukia," kata Yuroichi santai sambil menghitung uang yang sudah dihitungnya untuk kesekian kali. "Anaknya baek, kok."
"Obaa-san tau dari mana kalo dia anak baek?? Emangnya dia kenalan Obaa-san??"
"Bukan," jawab Yuroichi. Sikapnya yang masih sesantai sebelumnya, membuat Rukia melongo.
"Bukan?! Terus kenapa Obaa-san bolehin dia ngekos di sebelahku??"
"Rukia, kamu tau sendiri, di bawah kamarnya udah nggak ada yang bisa di pake. Tinggal kamar yang ada di sebelah kamu," kata Yuroichi lagi.
"Iya, tapi itu, kan, khusus buat cewek! Yang tadi, kan, cowok!!" Rukia masih berusaha memprotes.
"Dia bayar lunas, Rukia," jawab Yuroichi yang semakin membuat Rukia menganga.
"Obaa-san!" teriak Rukia lagi hingga membuat perhatian tantenya itu teralihkan dari uang.
"Rukia, kamu tau, kan, Obaa-san lagi kesulitan uang. Anak-anak kos udah nggak ada yang bayar. Sekarang, ada orang yang mau bayar, yah, Obaa-san nggak bisa nolak," jelas Yuroichi yang membuat Rukia tak jadi protes lagi.
"Iya, sih, tapi... apa cowok itu bisa dipercaya? Kalo ntar dia ngapa-ngapain aku, gimana?" tanya Rukia, intonasi suaranya sudah menurun.
"Kalo dia ngapa-ngapain kamu, ya malah enak, kan, orangnya cakep ini," ujar Yuroichi santai. Tentu saja Rukia melotot mendengar jawaban itu. "Iya, iya. Kalo ada apa-apa, kamu tinggal teriak aja. Kamu jangan lupa selalu kunci pintu." Yuroichi cepat-cepat melanjutkan kalimatnya.
Rukia menghela napas, tak tahu lagi harus berkata apa. Sepertinya, mulai sekarang, dia harus terbiasa dengan makhluk asing yang tinggal di sebelahnya.
-------------------------------------------------------------------------------
Rukia naik ke kamar dengan tubuh lunglai. Sebenarnya, Rukia merasa ngeri harus bersebelahan dengan cowok asing, tetapi berhubung Rukia tinggal di sini secara gratis, dia tak bisa protes. Memang benar, tantenya sedang mengalami kesulitan keuangan, jadi Rukia harus maklum kalau ia menerima siapa saja yang membayar untuk kos sebobrok ini.
Rukia sampai di lantai dua, menatap pintu sebelah kamarnya dengan sebal. Di antara dua puluh kamar, kenapa harus kamar sebelahnya yang masih bisa dipakai?
Rukia berdecak sebal, dan memutuskan untuk kembali ke kamarnya. Masih banyak yang harus dikerjakannya daripada memikirkan makhluk tidak jelas di sebelah kamarnya itu. Menjadi penulis best-seller, misalnya.
Baru saja ia hendak masuk, pintu di sebelahnya terbuka. Toushiro keluar dengan handuk tersampir di bahunya. Rukia dan Toushiro saling tatap, seolah mempunyai pertanyaan untuk ditanyakan kepada satu sama lain.
"Elo...."
"Kamar mandinya di mana?" tanya Toushiro sebelum Rukia sempat menyelesaikan kalimatnya.
"Hah? Oh, di ujung situ," kata Rukia sambil menunjuk ruangan di ujung gang.
Toushiro segera bergerak ke sana. Rukia tiba-tiba tersadar. "Eh!! Woi, woi!!! Jangan pake kamar mandi di situ!!"
Toushiro berhenti dan menoleh. "Kenapa?" tanyanya.
"Itu kamar mandi cewek! Kamar mandi cowok yang di bawah!" sahut Rukia lagi.
"Tapi kamar gue, kan, di lantai ini, jadi kamar mandinya yang di lantai ini juga dong," Toushiro membalas.
"Hah? Tapi!! Itu kan... kamar mandi cewek!!" Rukia masih bersikeras meski tak punya alasan yang lain.
"Emang apa bedanya, sih? Sama-sama kamar mandi, kan?" Toushiro bertanya tak sabar.
"Ya, tapi, kan... jijik!" sahut Rukia sambil membayangkan hal-hal apa yang bisa dilakukan cowok itu di kamar mandi. Kamar mandi yang sudah beberarapa bulan terakhir menjadi kamar mandi pribadinya.
"Oh...," gumam Toushiro. Gumaman itu membuat Rukia lega karena sepertinya cowok itu mengerti. Namun, perkiraannya meleset karena setelah itu Toushiro malah melengos dan tetap bergerak menuju kamar mandi di depannya.
"Woi!!!" teriak Rukia, tapi Toushiro sudah keburu menghilang di balik pintu kamar mandi. Rukia cuma bisa melongo, ia merasakan firasat buruk tentang kehidupannya ke depan bersama cowok aneh itu.
Baru beberapa detik, Toushiro keluar lagi dari kamar mandi, membuat Rukia menatapnya dengan heran. Toushiro melambai-lambaikan tangan memanggilnya.
"Apa?" tanya Rukia sebal.
"Tolong ya, peralatan perang lo diambil dulu," ujar Toushiro.
Rukia mengernyit tak mengerti. Namun, beberapa detik kemudian, Rukia langsung teringatkan pakaian dalamnya yang sejak mandi tadi pagi belum diambil.
"HUAAA!!!" seru Rukia histeris dan segera berderap menuju kamar mandi untuk mengamankan pakaian dalamnya yang menggantung di balik pintu. Dia menatap curiga pada Toushiro yang tampak malas.
"Makasih," kata Toushiro pendek, dia segera masuk ke dalam kamar mandi, meninggalkan Rukia yang melongo parah. Detik berikutnya, Rukia tersadar.
""WOII!!! Elo tadi liat, ya??? Heeii!!!" seru Rukia sambil mengedor-gedor pintu kamar mandi, tapi yang terdengar hanya bunyi cebar-cebur orang mandi.
-------------------------------------------------------------------------------
Rukia semakin tak bisa berkonsentrasi pada karya tulisnya setelah kejadian aneh tadi sore. Tetangga barunya tiba-tiba datang, memakai kamar mandinya, dan melihat pakaian dalamnya. Sambil berbaring di lantai, Rukia menghela napas putus asa.
"Kenapa, sih, saat gue butuh konsentrasi, malah dateng orang aneh...," gumamnya kesal.
Tiba-tiba, terdengar suara langkah-langkah kaki di luar. Menurut Rukia, itu pasti langkah si cowok aneh. Tadi orang itu pergi keluar. Iseng, Rukia membuka pintunya dan melongok ke kiri. Toushiro sedang mencari-cari kunci kamarnya. Di tangannya terdapat plastik besar berisi berbagai macam mie cup dan air mineral.
"Elo bisa makan di rumah Yuroichi baa-san," kata Rukia membuat Toushiro menoleh. "Semua anak kos makan di sana."
"Nggak usah," jawab Toushiro, sambil tetap mencari-cari kunci di seluruh kantongnya. Rukai mengangguk-angguk pelan.
"Soal minum, bakal mahal, lho, kalo selalu beli satu literan. Elo bisa langganan galon di Yuroichi baa-san."
"Nggak perlu. Gue nggak bakal lama di sini." Kali ini Toushiro sudah mulai berkeringat dingin karena tidak menemukan kuncinya.
"Oh, gitu." Rukia masih penasaran. "Kalo nggak bakal lama, kenapa ngekos? Pake bayar lunas, lagi."
Toushiro menghela napas panjang dan menatap Rukia. "Gue punya alasan-alasan tertentu yang nggak harus gue bagi sama semua orang," jawabnya dingin yang langsung membuat Rukai cemberut.
"Iya, iya, sok rahasiaan amat," ujar Rukia keki, dan Toushiro kembali mencari kuncinya. "Terus, elo asalnya dari mana?"
Toushiro putus asa mencari kuncinya. Iseng, dicobanya membuka pintu. Ternyata, pintu itu tidak dikunci dan kuncinya masih tergantung di dalam. Toushiro menghela napas lelah. Dia menoleh pada Rukia yang tampaknya masih menunggu jawaban.
"Dari sana," jawab Toushiro asal sambil menunjuk ke atas. Rukia mengikuti arah jari Toushiro sambil menatap langit-langit. Wajahnya mengisyaratkan kebingungan.
"Hah? Dari mana?" tanya Rukia bingung. "Oh, gue tau. Rokun'gai——tulisannya bener gini, gak?——, ya?"
"Bukan," kata Toushiro, hampir mendengus.
"Oh... Atau mungkin dari Seireitei?" tebak Rukia lagi
"Bukan. Gue dari sana," kata Toushiro sambil menunjuk ke atas lagi. "Dari Mars."
"Hah?" Rukia bingung, tetapi Toushiro sudah masuk ke dalam kamarnya sebelum Rukia sempat bertanya lagi. Rukia menggeleng-geleng simpati. "Hhh... udah gue kira. Anak ini pasti punya kelainan jiwa," gumamnya lagi sebelum melangkah masuk ke dalam kamarnya.
----------Tubikontinyu dulu, yah!!!?----------
Review???
Tapi gak pake cabai, ya?! Soalnya, lambung ama usus saiia agak nggak tahan pedas. *dikemplang*
YaHa~!!!! Repiu, pliiiisz~!!