Halo semuaaaa....!! ^O^ Akhirnya, sampai juga di last chapter fic ini. Mungkin masih ada beberapa yang nanya, akhirnya SasuSaku atau bukan. Tapi mungkin lebih baik kalau kalian baca sendiri saja ya.. ^_^
Haruchi Nigiyama : *nutup telinga* buset dah, toa amat (o.O) *dibantai* hehe bercanda, Sakura gimana ya..?? Baca aja..!! (^O^) *kicked* hehe thanks dah review ya..!!
Fusae Deguchi : Sasuke ikutan mati..!? Nggak boleh..!! *ikut ngroyok kak Fusae - ditendang duluan* hehe baca ya kak..!! :3 *dilempar bakiak* thanks dah review kak..!!
Uchiha Ry-chan : Wah, Ry-chan suka sama Sasori ya..?? Sama dong..!! Sasori anggota yang paling aku suka di Akatsuki..!! XD *siapa yang nanya? -dihajar* ok deh, baca last chapter ini ya..!! Thanks dah review..!! (^O^)
Dei-kun coolz : Senpai… *_* Boleh aku tetep manggil senpai (baca : Deidara) walau fic ini udah selesai..?? :3 hehe makasih banyak senpai atas dukungannya selama ini, baca last chap ya..!! (^^)Thanks dah review..!!
Furu-pyon : Naniiii…!? *pingsan* jangan nembak Sasuke, tapi bunuh aja langsung pakai kusanaginya..!! *dichidori* hehe bercanda, thanks dah review..!! (^^)
KuroShiro6yh : Nggg, sejak kapan Deidara jadi guru matematika..?? (o.O) Kalau gitu, ajarin aku juga doong..!! *diinjek, digiles, digoreng –senasib sama Kuro-chan (-,-")* hehe, baca last chap ini yaaa.. Thanks dah review..!!
Fuyuki Namikaze : Ngg, karena ini angst jadi gak janji ending SasuSaku ya.. (^^")a *ditendang* baca last chap ini aja ya.. :3 thanks dah review..!! (^O^)
Orangerrorlewat : Hehe nama saya De-chan lhoooo, nanti kalo Dei-chan, berarti saya Deidara dong..!? *_* *ngarep..!! –ditendang ampe kutub utara* hehe bercanda... ngg, iya maaf hehe habis penasaran sesekali pingin coba bikin cerita yang Angst (^^)a iya ini udah update, maaf kalau telat ya.. Thanks dah review..!! :D
Mayura : Hiii, jangan salahin Sasuke, habis Sasuke kan juga menderita *dipeluk Sasuke karena dah bela dia* tapi... kenapa juga dia harus ngebunuh Deidara tanpa bilang-bilang ke Sakura ya..?? Bodoh..!! *bersungut-sungut –dicincang kusanagi* Thanks dah review..!!
Haruchiwa Kanata : Sakuranya nggak mati? Aku nggak janji lhooo (-_-)v *dibantai* hehe, Kanata baca ya..!! Thanks dah review..!! (^O^)b
Amethyst is Aphrodite : Yoo juga Amethyst..!! d(^O^)b iya, aku akuin emang menjerumus ke angst (^^")a SasuSaku? Baca last chap ini aja ya..!! *kabur dulu –LHO..!?-* hehe thanks dah review..!!
Sekarang, selamat membaca...!!
Disclaimer : Always Masashi Kishimoto
Genre : Romance/Crime/Angst
Pairing : SasuSaku
I AM DIFFERENT
CHAPTER 9 : SELAMANYA…
Normal POV
Sakura terdiam di kamarnya. Pandangannya kosong mengarah ke lantai di bawahnya, kepalanya tertunduk. Koper besar yang masih kosong dan terbuka di sebelahnya menunggu untuk dimasukkan barang-barang sang gadis. Sakura menghela nafas panjang, dia bangkit dan saat dia akan membuka lemari bajunya...
TOK TOK
"I.. Iya siapa..??" tanya Sakura yang sedikit kaget karena suara ketukan yang tiba-tiba itu.
"Ini aku, Minato-sama, ada yang ingin kubicarakan denganmu Sakura," gumam orang dari luar pintu Sakura itu.
"E.. Eh..?? Minato-sama..!? I.. Iya, tunggu sebentar," jawab Sakura gelagapan sambil membereskan barang-barangnya dan segera membuka pintu kamarnya. Di depannya berdiri seorang laki-laki dewasa tampan berambut kuning menatapnya dengan lembut.
"Apa aku mengganggu..??" tanya Minato. Sakura menggeleng cepat.
"Tentu saja tidak, ada apa Minato-sama..??" tanya Sakura berusaha tersenyum. Tapi Minato bisa merasakan perasaan gadis itu sesungguhnya. Ya, mata hijau emeraldnya mulai meredup.
"Sakura, tentang hukuman mati itu... kau yakin? Maksudku, aku bisa saja membujuk Sasuke untuk menghilangkannya," tanya Minato sambil menatap mata Sakura dalam-dalam. Sakura menggeleng.
"Jangan Minato-sama. Kalau ketahuan Sasuke menghilangkan hukuman mati seseorang karena dibujuk keluarga, bisa saja Sasuke mendapat malu dan harga dirinya sebagai polisi hilang," jelas Sakura dengan tatapan tegar dan senyum mengembang. Minato terdiam lalu tersenyum. Dia mengusap kepala gadis pink itu.
"Kau benar-benar gadis yang baik dan kuat Sakura. Seandainya saja Sasuke bisa melihat itu," gumam Minato. "Tapi.. sepertinya Kushina sangat syok saat mendengar perkataanmu tadi, dia belum keluar dari kamarnya," tambah Minato lagi. Sakura membelalakkan matanya.
"A.. Apa!? Tapi.. apa yang bisa kulakukan untuk menghiburnya," gumam Sakura pada dirinya sendiri.
"Lebih baik jangan temui dia sekarang, soal Kushina serahkan saja padaku," gumam Minato, lagi-lagi dengan senyum lembutnya. Sakura mengangguk dalam diam.
TOK TOK
"Oh, pintu depan, sebentar Minato-sama," gumam Sakura lalu meninggalkan Minato dan membukakan pintu depan.
CKLEK
"Sa.. Sasuke-sama?"
"....Sakura..."
"Ng? Ah, Sasuke kau sudah pulang rupanya," gumam Minato melihat Sasuke di depan pintu. Meredakan suasana yang hampir tegang saat kedua insan itu bertatapan. Sasuke mengangguk gugup dan sesekali terlihat melirik Sakura. Sedangkan gadis itu menunduk dan langsung masuk ke dalam.
"Saya.. akan membereskan dapur dulu," gumam Sakura di tengah jalannya yang membelakangi Sasuke dan Minato. Laki-laki dewasa berambut kuning itu mengangguk dan menoleh ke arah Sasuke. Tapi setelah itu, Sasuke langsung membuang muka dan masuk kamarnya membuat Minato bingung.
"Sebenarnya kenapa mereka..??"
Di kamar Sasuke...
Laki-laki berrambut seperti pantat ayam itu duduk terdiam di tepi tempat tidurnya. Dia memegang kepalanya dan sesekali meremas sendiri rambutnya yang berwarna hitam kebiruan itu. Wajahnya kelihatan bingung dan tegang, sampai-sampai sedikit terlihat keringat dingin mengalir di pelipisnya.
"Bagaimana harus kukatakan padanya..??" gumam Sasuke pada dirinya sendiri. Dia menghentak-hentakkan kakinya di lantai berkali-kali.
"Harus kukatakan, kau harus berani Sasuke," gumam laki-laki itu lagi dan dengan mantap dia melangkah keluar pintu kamarnya. Degup jantungnya berdetak sangat kuat dan cepat.
Sasuke melangkah ke dapur di rumahnya. Dia mendekati dari jauh punggung seorang gadis berambut pink yang sedang merapikan piring di raknya. Tatapan mata onyxnya melembut, ingin sekali memeluk gadis yang dicintainya ini selama 10 tahun. Tapi dia tahan perasaan ini dan itu memang harus. Sekarang, dia tidak lebih dari seorang penjahat yang sudah membunuh orang yang paling disayangi gadis itu. Sakit memang, tapi mau bagaimana lagi..?? Nasi sudah terlanjur menjadi bubur..
Sasuke semakin mendekat dengan punggung Sakura. Sepertinya gadis itu masih belum menyadari keberadaannya. Baru saja Sasuke akan memegang bahu gadis itu untuk menyadarkannya, Sakura sudah keburu berbalik dan menatapnya kaget...
"Ah, ada apa Sasuke-sama?" tanya Sakura berusaha bersikap seolah tidak ada apa-apa. Sasuke terdiam.
"Sasuke-sama?" tanya Sakura lagi. Sepertinya Sakura menyadari, ada yang ingin Sasuke katakan padanya, tapi... apa?
"Deidara..." jawab Sasuke pelan. Sakura merasakan degup jantungnya semakin berdetak cepat, dia memegang bahu kekar Sasuke.
"Deidara-senpai..!? Deidara-senpai kenapa, Sasuke..!?" tanya Sakura. Dia menatap dalam-dalam mata Sasuke yang sudah meredup seperti dirinya.
"Sasuke..!? Bagaimana..?? Kau tidak mengapa-apakan dia kan, Sasuke..??" tanya Sakura lagi, tapi Sasuke tidak juga menjawab.
"SASUKE..!!"
"Deidara... sudah kubunuh. Dia sudah meninggal," jawab Sasuke akhirnya setelah menghela nafas panjang.
Sakura terdiam. Tangannya yang sedari tadi dia goyangkan untuk mengguncang-guncang tubuh Sasuke akhirnya terdiam. Kedua tangannya jatuh terkulai di sampingnya, tidak berdaya. Air mata mulai kembali keluar dari kedua mata emeraldnya. Dia menundukkan kepalanya setelah menatap Sasuke tidak percaya. Akhirnya Sakura jatuh terduduk di depan Sasuke.
"TIDAAAAAAK....!!!"
"......"
"KENAPA..!? KENAPA KAU BISA SEKEJAM INI, SASUKE...!?"
"......"
"APA KAU SENANG MEMBUATKU MENDERITA..!?"
"......"
"APA KAU BENCI PADAKU...!? JAWAB, SASUKE..!!"
"......Sakura.."
Sasuke duduk lalu menatap gadis di depannya yang masih mengusap air mata dengan tangannya. Tubuh gadis itu gemetar, tanda mengalami penekanan batin yang amat sangat. Sasuke tidak tega melihatnya, dia ingin menyentuh gadis itu. Tapi berhenti seketika saat mengingat kesalahannya yang sudah teramat banyak. Yang bisa Sasuke lakukan sekarang, hanya menatapnya...
Sasuke terus menunggu hingga tangis Sakura mereda. Tapi tidak juga mereda, malah rasanya semakin terdengar menyakitkan. Hingga tiba-tiba Sakura bangkit dan berlari melewati Sasuke. Membuat laki-laki itu kebingungan...
"Mau kemana kau Sakura..??" tanya Sasuke.
"Aku... tidak tahan lagi, sekarang aku sudah sendirian. Aku akan menyusul Deidara-senpai," jawab Sakura sambil tetap berlari menuju pintu depan.
"Apa..!? Memangnya apa yang mau kau lakukan? Jangan bodoh, Sakura..!!" gumam Sasuke berusaha menahannya.
"Aku akan meminta hukuman matiku," jawab Sakura lagi dengan getir. Sasuke terbelalak, baru saja dia akan menghentikan Sakura. Dia ingat perkataan terakhir Deidara padanya...
"Tapi.. seandainya Sakura benar-benar ingin dihukum mati, kau harus menurutinya Sasuke,"
Sasuke terpaku di tempat, tepatnya di pintu depan rumahnya. Dilihatnya Sakura semakin menjauh hingga tidak terlihat lagi. Ingin menghentikannya, tapi dia juga tidak mungkin mengabaikan pesan terakhir Deidara padanya. Sasuke terus terdiam, tidak terasa dia mengepal tangan sangat erat hingga memerah. Entah apa saja yang dipikirkannya, sampai-sampai dia tidak sadar Minato sudah berdiri di belakangnya.
"Sasuke.. kenapa kau tidak mengejarnya..??" tanya Minato heran sambil menatap punggung anak angkatnya itu. Sasuke tidak bergeming sedikitpun, sampai akhirnya Minato menghela nafas panjang dan berdiri di samping Sasuke.
"Bagaimana kalau kau jujur saja, hm?" tanya Minato sambil mengangkat sebelah alisnya. Sasuke sedikit tersentak lalu menoleh ke ayah angkatnya yang berambut kuning itu.
"Jujur... untuk apa?" tanya Sasuke balik. Minato menghela nafas panjang.
"Kau menyukai Sakura kan..?? Ayolah ngaku saja, Naruto sudah menceritakan semuanya padaku. Perempuan yang kau cintai 10 tahun lalu itu mirip sekali dengan Sakura," jelas Minato sambil menepuk bahu Sasuke dan tersenyum.
"Apa bisa..?? Aku sudah menyakitinya berkali-kali," jawab Sasuke getir "Apalagi sekarang, dia meminta hukuman mati yang tidak mungkin kutolak sebagai polisi. Semuanya sudah sia-sia," tambah Sasuke lagi lalu menundukkan kepalanya.
"Tidak ada yang sia-sia di dunia ini," gumam Minato dengan tajam membuat Sasuke spontan kembali menoleh ke arahnya.
"Kau tahu? Sepenglihatanku, Sakura juga mempunyai perasaan yang sama kepadamu. Karena itu, kalau memang dia harus dihukum mati, katakan perasaanmu sekarang atau dia akan mati dengan kesedihan yang mendalam," jelas Minato lagi sambil tertawa khas yang mirip dengan Naruto. Sasuke menatap ayahnya, entah apa yang dipikirkannya.
"Nah, sekarang pergilah," gumam Minato sambil memukul punggung Sasuke. Laki-laki berambut pantat ayam itu terkaget, tapi akhirnya mengangguk dan pergi menjauh.
-
-
-
Sakura POV
Pada akhirnya aku sudah memutuskan, aku akan menerima hukuman mati yang memang seharusnya sudah dilakukan dari dulu. Aku sedikit kesal pada diriku sendiri. Seandainya waktu itu aku tidak menahan Sasuke untuk melaksanakan hukuman mati pada aku dan Deidara-senpai dulu, mungkin tidak akan sesakit ini rasanya. Karena minimal, aku bisa mati bersama Deidara-senpai sehingga aku tidak sendirian.
Tapi sekarang semua sudah terlambat. Deidara-senpai sudah mendahuluiku, sehingga aku dan Deidara-senpai tidak bisa mati bersama seperti yang kuimpikan dulu. Sekarang giliranku, apapun yang terjadi aku akan menyusulnya. Takkan kubiarkan Sasuke menghalangi niatku, tekadku sudah bulat.
Tapi kenapa? Kenapa Sasuke tidak bisa kubenci? Setiap langkah kakiku yang berusaha melupakannya, selalu teringat dengannya. Aku tidak bisa melupakannya, tidak bisa membencinya, aku terlalu menyayanginya. Perasaanku pada Sasuke, sama seperti perasaanku pada Deidara-senpai atau mungkin lebih. Wajahnya selalu terbayang-bayang di ingatanku. Aku ingin membencinya, yang sudah membunuh orang yang kusayangi dengan tenangnya. Tapi apa daya? Aku juga tidak bisa menyalahkan perasaanku yang sudah terlanjur ini. Sakit, semuanya terlalu menyakitkan.
Akhirnya aku memutuskan untuk tidak terlalu memikirkannya, karena toh sebentar lagi juga aku akan pergi dari dunia yang fana ini. Aku menghentikan langkahku di depan sebuah gedung yang sangat besar, markas Polisi pusat di Konoha. Degup jantungku berdetak cepat, tubuhku kaku, sesungguhnya aku takut, takut sekali. Setelah mengambil nafas panjang dan mengeluarkannya, akhirnya aku siap melangkah masuk.
Tapi tiba-tiba tubuhku tidak bisa bergerak. Seseorang memeluk tubuhku dengan erat dari belakang. Tubuhnya gemetaran dan nafasnya tidak beraturan hingga mengenai bahuku. Aku ingin menoleh tapi tidak bisa, tubuhku seperti dikunci olehnya. Dan saat menyadari siapa orang itu, mataku membulat..
"Sasuke..!? Kau.."
"...Sakura.. hah hah.. jangan.. kumohon.." gumam Sasuke dengan terengah-engah sambil mengatur nafasnya.
"...."
"Tolong.. kumohon jangan meninggalkanku.. kumohon.." gumam Sasuke lagi. "Aku.. tidak mau kehilangan lagi.." tambah Sasuke, tapi aku masih tetap terdiam.
"Aku tahu, aku sudah keterlaluan karena sudah membunuh Deidara-senpai. Dan aku rela kau membenciku, karena kau punya hak untuk itu. Tapi tolong.. jangan pergi..." pinta Sasuke, tubuhnya semakin bergetar. Tanpa kusadari, air mataku mengalir di pipiku. Tapi setelah itu, aku langsung mengusapnya.
"Maaf Sasuke, aku tidak bisa," jawabku dengan getir. "Karena bagaimanapun juga, aku dan Deidara-senpai pernah berjanji untuk sehidup semati," jawabku lagi. Karena pelukan Sasuke semakin melemah, aku bisa menggerakkan tubuhku menghadapnya sekarang.
"Tapi..."
"Tidak Sasuke, maaf.." potongku cepat dan aku langsung berbalik untuk menaiki anak tangga menuju pintu markas pusat polisi itu.
"Tapi aku mencintaimu..!!!" ucap Sasuke tiba-tiba sedikit berteriak.
Aku terperangah, aku terpaku di tempatku berdiri. Tidak pernah kusangka Sasuke akan mengucapkannya. Tapi semua sudah terlambat, aku tidak bisa menarik diri lagi. Aku pun kembali melangkah maju menaiki anak tangga yang menantiku. Kami berdua terdiam dan bisa kurasakan Sasuke tidak berhenti menatap punggungku, menunggu aku berbalik untuk menyambutnya. Tapi percuma Sasuke, aku bukan perempuan yang akan menjilat ludahku sendiri.
Saat aku masuk, semua polisi yang sedang beraktifitas di situ langsung berpaling ke arahku. Mereka menatapku heran dan salah satunya ada yang berambut merah yang sepertinya aku kenal. Dia teman Sasuke sepertinya, lalu dia mendekatiku dan menyapaku ramah...
"Sakura-san, teman Sasuke kan?" tanya orang itu dengan ramah. Aku mengangguk gugup.
"Ada perlu apa..??" tanyanya lagi. Aku terdiam, bingung mau bicara apa.
"Aku-"
"Dia meminta hukuman mati yang dijatuhkan padanya, Gaara," potong seseorang tiba-tiba. Gaara terkejut begitu pula aku, aku langsung menoleh ke belakangku. Sasuke sudah berdiri menatapku, tatapannya terasa dingin.
"Eh? Tapi bukannya dia.."
"Ya, memang tadinya mau kuhapuskan hukuman itu. Tapi berhubung tersangka yang bersangkutan yang meminta, tidak ada cara lain selain menurutinya," jelas Sasuke.
Aku tertunduk, memang Sasuke terlihat biasa saja dan seperti melupakan yang baru saja terjadi. Tapi aku merasa, itu semua dipaksakan dan hanya mendengar suaranya saja, aku bisa merasakan dia sangat menderita. Aku jadi merasa bersalah, entah kenapa malah terlihat akulah yang menyiksanya. Gaara yang mendengar penjelasan Sasuke barusan, hanya bisa mengangguk bingung dan berlalu. Lalu
Sasuke menoleh ke arahku, kami bertatapan sesaat.
"Ini yang kau inginkan, bukan?" tanyanya dengan penekanan di setiap katanya. Aku terdiam lalu mengangguk.
"....Baguslah kalau begitu," gumam Sasuke sambil kembali berbalik. "Setidaknya walau cuma sekali, aku bisa mengabulkan salah satu keinginanmu," tambah Sasuke lagi sambil berjalan. Aku terdiam lagi.
"Kenapa? Ayo, kita mulai," ucap Sasuke sambil menatapku bingung. Aku mengangguk gugup kemudian mengikuti Sasuke dari belakang.
Kami berjalan dalam diam dan keheningan. Tidak ada yang mau memulai pembicaraan terlebih dahulu. Sasuke menuju lapangan yang luas di belakang gedung ini. Aku terkagum melihatnya, tapi rasa kagum itu sirna ketika aku mengetahui kalau lapangan inilah tempat hukuman mati dijatuhkan. Berarti, mungkin inilah kuburan untukku. Tiba-tiba aku merasa takut, tubuhku gemetar, degup jantungku berdetak cepat. Sepertinya Sasuke menyadari itu, dia bergumam...
"Kalau mau mundur, masih ada kesempatan," gumam Sasuke tanpa menoleh padaku. Aku menggeleng cepat.
"Ti.. Tidak, aku tidak akan mundur. Ini sudah takdirku, kapan akan dijalankan Sasuke?" tanyaku yang sebenarnya sedikit takut-takut. Sasuke terdiam hingga dia menjawab...
"Sekarang,"
Sasuke berjalan lagi, menuju tengah lapangan. Aku mengikutinya, kemudian Sasuke berbicara dengan seorang polisi di tengah lapangan itu. Entah apa yang mereka bicarakan, lalu setelah itu polisi itu memberikan Sasuke isi peluru. Sasuke mengeluarkan pistolnya, dan mengisi dengan peluru itu kemudian dia menatapku.
"Berdirilah di sana," gumam Sasuke lalu menunjuk tempat yang berada lurus tepat di depannya. Aku berjalan menuju tempat itu, dan beberapa polisi keluar dari gedung dan salah satunya Gaara. Dia menatap cemas pada Sasuke.
"Sasuke..." kudengar Gaara mengucapkan pelan, tapi bisa didengar olehku. Tapi aku tidak begitu mempedulikannya.
"Sebelumnya, Sakura apa pesan terakhirmu?" tanya Sasuke padaku, dia menatapku tajam. Aku bingung entah apa yang mau kuucapkan, sudah cukup lama aku berpikir tapi Sasuke tetap masih mau menungguku. Aku menatap matanya lalu kuingat kejadian tadi...
"Tapi aku mencintaimu..!!!"
Degup jantungku kembali berdetak cepat. Sasuke menatapku dengan tatapan 'ada-apa-denganmu?' dan aku hanya menggeleng. Aku tidak bisa menahan perasaan ini lagi, ya aku juga mencintai Sasuke tapi aku tidak mau mengakuinya, atau lebih tepatnya tidak bisa mengakuinya. Aku berlari ke arah Sasuke yang menatapku bingung dan kupeluk tubuhnya untuk yang terakhir.
"Sakura..??" tanya Sasuke yang masih dalam keadaan kupeluk.
Aku mendongak, pandanganku sedikit buram karena aku mulai mengeluarkan air mata. Dan akhirnya wajahku maju, mendekatkan bibirku dengan bibirnya. Aku mencium bibirnya lembut dan tidak mengharapkan balasan. Walau akhirnya Sasuke tetap membalas ciumanku dan memegang punggungku. Sepertinya kami melupakan polisi-polisi yang sedang bengong melihat kami. Setelah itu, kami melepaskan ciuman masing-masing...
"Aku juga... mencintaimu, Sasuke.." gumamku akhirnya sambil tersenyum lembut. Sasuke terdiam lalu membalas senyumanku dengan tatapannya yang nanar.
"Terima kasih.." jawab Sasuke dengan pelan. Aku melepaskan pelukannya padaku begitu pula sebaliknya. Lalu aku mundur dan mengambil jarak untuk penembakan...
"Mulai, Sasuke. Aku sudah siap," gumamku. Sasuke mengangguk dan mengarahkan pistolnya ke arahku. Aku menutup mata menanti sang peluru menerjang tubuhku.
Degup jantungku semakin cepat saja. Aku takut mati, benar-benar takut. Tapi seperti kataku tadi, aku tidak mungkin menarik kata-kataku. Aku berkali-berkali menarik nafas panjang, dan tidak terdengar tanda-tanda Sasuke akan menarik pelatuknya. Sampai akhirnya...
"Selamat tinggal Sakura, aku harap kita bisa bertemu di sana," gumam Sasuke yang tidak bisa kulihat wajahnya karena aku menutup mata.
"Ya," jawabku getir lalu..
-
-
-
-
-
-
-
DOOOOOORRRRR
-
-
-
-
-
-
-
-
-
Dan aku.. tidak merasakan apa-apa lagi..
-
-
-
Normal POV
Suasana terasa tegang saat Sasuke sudah menembakkan peluru menuju gadis di depannya. Peluru itu tepat menembus jantung Sakura, sehingga tidak mungkin dia akan bangun lagi. Setelah ditembak, perlahan tubuh Sakura jatuh kemudian ditangkap Sasuke. Semua yang melihat terutama Gaara, bisa merasakan kesedihan Sasuke yang amat mendalam saat itu.
Pistol yang tadi digunakan untuk menembak Sakura, masih mengeluarkan asap seakan berusaha melupakan peluru yang tadi dikeluarkan itu pernah ada di dalamnya. Sama seperti perasaan Sasuke, dia kembali menangis dalam diam sambil berusaha melupakan kenangannya bersama Sakura. Tidak ada polisi yang berani mendekati Sasuke untuk sekedar menghiburnya termasuk Gaara, semua orang tahu Sasuke itu keras kepala dia pasti tidak mau dihibur. Lalu seseorang datang menggeser-geser orang untuk melihat Sasuke dan Sakura lebih jelas.
"Maaf, permisi.." gumam laki-laki berambut kuning itu. Dia melihat Sasuke dengan pandangan sendu. Laki-laki yang bernama Minato itu mendekati Sasuke sehingga anak angkatnya itu mendongak menatapnya.
"A.. Ayah.." gumam Sasuke. Minato berjongkok kemudian menepuk bahu sang anak dan tersenyum.
"Setidaknya kau sudah melakukan apa yang diinginkannya," hibur Minato dengan senyum sedih. Sasuke tidak menjawab apa-apa.
"Biar aku yang mengurus Sakura, kau dinginkan kepalamu dulu," gumam Minato.
Sasuke menurut dan menyerahkan Sakura ke dalam gendongan ayah angkatnya. Setelah itu dalam diam, Sasuke kembali memasuki gedung markas diikuti yang lain. Minato menatap wajah Sakura yang tenang menyandar di dada bidangnya, wajah gadis itu menyiratkan kelegaan, membuat Minato juga ikut tersenyum lega.
"Kau pasti bahagia karena Sasuke benar-benar menyayangimu,"
-
-
-
Di bagian Sasuke...
Di atas bukit yang tak jauh dari markas pusat itu, terlihat seorang laki-laki yang duduk di sana. Laki-laki itu terdiam membiarkan angin sepoi-sepoi meniup rambutnya yang berwarna hitam kebiruan itu. Pandangannya kosong menatap ke bawah bukit entah apa yang dipikirkannya. Sesekali tangannya terlihat memainkan rumput yang ada di sampingnya.
Saat itulah angin bertiup kencang, sehingga laki-laki bernama Sasuke itu menerbangkan rumput-rumput yang tadi dicabutnya. Rumput-rumput itu berputar-putar di udara mengikuti arah angin sehingga terlihat menari. Dan sepertinya tanpa Sasuke sadari, rumput yang dia cabut berjumlah 4 helai. Sehingga melihat 4 helai rumput-rumput itu pergi meninggalkannya, membuat dia teringat dengan 4 orang yang disayanginya yang sudah meninggalkannya.
Sasuke sedikit kecewa saat rumput-rumput itu benar-benar hilang dari pandangannya. Saat Sasuke mendongak rupanya keempat rumput itu sedang menari di atasnya, lalu rumput-rumput itu pergi lagi. Ketika Sasuke menoleh ke arah perginya keempat rumput itu, rupanya matahari sudah terbenam. Pemandangan yang sungguh jarang, bisa melihat matahari terbenam serasa sedekat ini. Sasuke tersenyum...
"Selamat jalan, kak Itachi, kak Naruto, Deidara-senpai, dan..."
"Sakura..."
-
-
-
Sen no yoru wo koete ima anata ni ai ni yukou
Tsutaenakya naranai koto ga aru
Aisaretai demo aisou to shinai
Sono kurikaeshi no naka wo samayotte
Boku ga mitsuketa kotae wa hitotsu kowakutatte kizutsuitatte
Suki na hito ni wa suki tte tsutaeru n da
Sono omoi ga kawanakutatte suki na hito ni suki tte tsutaeru
Sore wa kono sekai de ichiban suteki na koto sa
-
Aku akan mengalahkan ribuan malam dan pergi untuk bertemu denganmu sekarang,
Ada sesuatu yang harus kukatakan padamu...
Aku ingin dicintai, tapi kau tidak kelihatan mencintaiku
Aku mengembara tanpa tujuan di dalam pengulangan ini
Dan jawaban yang kutemukan hanya satu; walaupun aku takut, walaupun aku terluka
Aku akan mengatakan "Aku cinta kamu" kepada orang yang kucintai
Walaupun perasaan ini tidak akan terbalas, mengatakan "Aku cinta kamu" pada orang yang kau cintai...
Itu adalah hal paling indah di dunia ini...
The End
Song : Sen no Yoru wo Koete – Aqua Timez
Huweeeeee (TT_TT) baru kali ini bikin ending angst, nggak nyangka jadinya ancur begini.. *merenung di pojokan*
Aku bener-bener minta maaf kalau ternyata endingnya tidak sesuai yang diharapkan readers. Sebenarnya sebelum memutuskan akan membuat ending seperti ini, aku sudah berpikir ribuan kali dan ternyata memang sudah sampai batasku.. (TT_TT)
Terima kasih sebanyak-banyaknya untuk semua yang sudah membaca apalagi mereview sampai akhir. Aku benar-benar berterima kasih, sebab kalau bukan karena kalian yang mendukungku mungkin fic ini gak bakal bisa selesai :3 *alasan aja..!! -dibantai*
Baiklah, terima kasih..!! Dan sampai jumpa di ficku yang lain..!! Jaa nee..!! ^^