Chapter 1 – Family Gathering
Setengah bulan setelah Tekken 5 berlangsung...
Hari itu merupakan sore yang sempurna untuk Asuka. Bejalan lenggang tanpa ada lagi musuh. Jelas aja, mafia sekalipun takut sama cewek yang jago jotos ini apalagi setelah mendengar ia mampu menyelesaikan The Iron Fist Tournament. Senang bukan main, pihak sekolah tidak ada yang tahu, jadi Asuka tidak di DO.
Tetapi ada satu hal yang membuat dia tidak mau mengingat-ingat turnamen itu. Seorang pria tak jelas asal-usulnya terbenam wajahnya ke dadanya. Bukannya sadar dan minta maaf, cowok ini malah berlagak bego seolah tidak terjadi apa-apa. Asuka benci sekali dengan cowok mesum satu itu. Enak saja, emang dadanya dia bantal bisa seenaknya dijatohin ama muka cowok?
Yah, tapi sudah setengah bulan kejadian itu berlalu. Ketika itu Asuka cukup puas dengan menghatam cowok itu sampai mental jauh. Lagian nggak mungkin ya ketemu lagi.
Asuka memang cuek, ia tidak peduli sama silsilah keluarga. Apalagi mengingat rupa orang. Keluarganya yang tinggal jauh saja ia masih sering lupa kayak apa dan namanya. Satu-satunya yang ia ingat hanyalah Jun Kazama, bibinya yang baik hati dan sudah lama meninggal itu. Ia memiliki seorang putra yang kabarnya anak dari putra Heihachi Misihima yang tukang gelar The Iron Fist Tournament. Ia meninggal muda, karena melindungi putranya yang masih kecil saat itu. Mungkin sekarang ia usianya tidak jauh lebih tua dari Asuka. Tetapi Asuka tidak pernah bertemu dengan anak dari bibi Jun. Ia tidak tahu rupanya.
Dan katanya ia akan datang dan tinggal di rumahnya karena ia tidak tahu harus pulang kemana. Heihachi Mishima sudah meninggal dan ia sering digunakan untuk macam-macam demi kepentingan perusahaan kakeknya itu. Ayahnya tidak diketahui keberadaannya dan ia tak punya tempat tinggal. Lagipula, ia masih sekolah. Sama seperti Asuka.
Hatinya penasaran. Kayak apa sih anaknya bibi Jun? Dia sepupu Asuka dan lebih tua darinya. Asuka memang selalu menginginkan seorang kakak.
Dan sampailah ia di depan rumahnya yang merupakan dojo bela diri aliran Kazama.
"Tadaima!" teriak Asuka riang. Sepatunya ia lepas dan ia berlari masuk ke dalam rumah. Ibunya menyambut dan merangkul pundak Asuka.
"Okaerinasai, Asuka!" jawab ibunya, "Putranya bibi Jun sudah datang! Kau pasti ingin melihatnya."
"Sudah? Mana dia?"
"Dia ada di ruang tamu bersama ayahmu." Ucap Ibunya tersenyum, "Ia lumayan ganteng lho! Dia mirip sekali dengan bibimu!" lanjut ibunya sambil mengedipkan sebelah mata.
Asuka nyengir lalu ia berlari menuju ruang tamu untuk menemui Ayahnya, guru di dojo itu juga anaknya bibi Jun.
Asuka membuka pintu ruang tamu. Lalu dengan tersenyum lebar ia memanggil Ayahnya.
"Ayah! Aku pu---"
Kalimat Asuka terhenti ketika sosok yang merupakan oknum dari "Anaknya bibi Jun" menoleh ke arahnya. Ia yang tadinya sangat senang, penasaran, kayak apa, sekeren, apa langsung kecewa plus marah ketika melihat siapa sebenarnya putranya bibi Jun.
Cowok yang wajahnya mendarat di dadanya ketika jatuh.
Asuka berteriak. Ayahnya kaget. Asuka dirasukin apa? Kok dia kenal anak ini? Kan belum pernah ketemu.
"AAAAAAHH! Cowok ini! Kamu! Kamu yang itu!"
"Hah? Asuka? Kamu sudah kenal Jin?"
Jin Kazama, anaknya bibi Jun, cuma pasang muka sok cool dan sok cueknya melihat Asuka dengan wajah memble kayak semur jengkol itu.
Bapaknya Asuka masih bingung, "Kamu saudah pernah melihat Jin?"
"Ayah!" langsung deh Asuka meledak, "Dia tuh cowok mesum yang kutemui di turnamen ketika aku mau membalaskan dendam dojo ini! Dia berengsek, yah! Dadaku dijadikan tempat mendarat wajahnya!"
Dan Jin hanya, "Oh? Kamu yang waktu itu ya?"
"Berani-beraninya kau cuma bilang begitu! Itu pelecehan seksual, tau gak! Dasar gak sopan! Bukannya nyadar, minta maaf kek! Dasar gak tau malu! Mau dikasih Asuka Special Strike lagi ya?" jawab Asuka dengan temperatur sudah naik ke ubun-ubun.
"Maaf."
Jawaban Jin membuat Asuka semakin geram. Apa-apaini nih? Jadi ini anaknya bibi Jun? Ganteng sih, ganteng, mirip ibunya. Tapi sikap kaya gini! Jauh dari image seorang Jun yang ia kenal.
"Ayah! Buang dia! Pasti dia cuma ngaku-ngaku jadi anaknya bibi Jun!"
"Asuka, ini memang anaknya Jun. Coba lihat wajahnya. Ia juga menyandang nama 'Kazama'." Ujar sang ayah penuh ketenangan, "Jin akan tinggal disini sebagaimana layaknya keluarga Kazama. Ia akan melakukan kegiatan yang sama sepertimu. Ia juga sekolah. Ia sepupumu, Asuka. Bahkan, ia akan jadi Kakakmu."
Kalau nggak mesum sih, Asuka juga mau. Tapi Asuka punya pengalaman buruk dari Jin sih. Memalukan sekali. Ngilfilin, nyebelin!
"Mohon bantuannya." Jin menunduk ke arah Asuka. Asuka buang muka. Lalu menjawab, "Oke, oke. Tapi jangan ulangi lagi kelakuanmu itu. Aku menerimamu demi bibi Jun."
"Terima kasih." Jawab Jin dingin.
"Hu-uh!"