DISCLAIMER : Masashi Kishimoto -Sensei
Story by Hikari Cherry Blossom24
WARNING: OOC/AU/typo/boring/mainstream
Pairing: NaruSaku slight NaruHina and SasuSaku.
Genre: Crime, Romance semi Hurt/Comfort
Rated: M FOR ALL SCENE.
DON'T LIKE? DON'T READ!
Happy Reading ;)
Summary:
Masa lalu yang tragis telah merubah sosok Naruto menjadi seorang pembunuh berdarah dingin. Tak pernah lelah dia mencari sosok yang menjadi dalang atas kesengsaraannya dulu. Terlibat dalam sebuah cinta yang tak diharap, namun sama sekali tak mengurangi dendam yang menggebu.
Dark Revenge - Chapter 1 [Prolog]
.
.
xXx
.
.
Malam yang kelam itu dipaksa terang ketika kilat menyalak berkali-kali dalam waktu singkat. Setelahnya, bergantian dengan secabang petir memecah belah tubuh dan menyerupai bentuk akar pohon.
Kilatnya begitu tajam dan menakutkan.
Kilat tak bersuara, namun gemuruh terus menggema di tengah badai. Lalu disusul badai angin dengan hembusaan kencang seakan hendak melahap semua yang ada di tanah. Ujung pepohonan tinggi menari-nari pasrah mengikuti haluannya.
Rintik-rintik hujan mulai berjatuhan mengiringi angin serta kilat.
Bagai mendapat pawang, amukan cuaca perlahan mulai mereda seiring gerimis yang mulai mengembangbiakan pasukan.
Ceplash! ceplash!
Mereka terus berlari tanpa perduli akan badai yang menghadang, sementara hujan semakin melebat.
Tanah becek mulai digenangi air, membuat jalan semakin tak terlihat. Angin tak lagi berhembus kencang, dan amukan kilat perlahan mulai menjinakan diri.
Seketika, keadaan menjadi gelap.
BRUKH!
Minato terjembab, membuat Naruto terpental dari gendongannya. Air banjir membutakan matanya secara paksa, dan senter yang sedaritadi menjadi penerang jalan dipaksa mati oleh genangan air.
"Naruto..." Minato meraba sekitar. "Maafkan Ayah." lirihnya dengan berurai air mata. "Ayah tidak sengaja." banjir membuatnya tak dapat melihat akar pohon yang melintang. Akibatnya, ia terjatuh di tengah-tengah gentingnya keadaan.
"Ayah, aku di sini..." Naruto berjalan menyusuri gelap. "Ayah di mana...?"
Suara si anak membuat perasaan Minato sedikit lega. Syukurlah dia baik-baik saja. "Jangan bergerak dari tempatmu, biar Ayah yang datang."
Bocah berusia tujuh tahun itu berhenti meraba. "A-ayah, aku ta-takut." ia mulai terisak.
CTARRR!
Kilat petir menjadi penerang. Walau hanya sekilas, namun berhasil membuat Minato dapat melihat keberadaan Naruto. Segera ia berlari ke tempat Naruto berada sebelum hutan kembali gelap.
Minato mendekap Naruto. "Jangan takut, Ayah bersamamu sekarang." dirinya tak kalah takut dari yang dirasakan Naruto. Sebagai Ayah, ia hanya mencoba memberi perlindungan untuk sang putra. "...berhenti menangis, anakku. Kau laki-laki yang kuat, dan laki-laki kuat tidak boleh menangis."
Naruto mengatup mulut untuk meredam isak tangisnya. "A-ayah, apa Ibu ba-baik-baik saja...?" ia melihatnya tadi. Ibu hebatnya tertabrak mobil karena menyelamatkan mereka.
Dekapan Minato semakin erat. "Ibumu baik-baik saja." sebuah kebohongan terlontar. "...dia baik-baik saja di sana, anakku."
Mobil yang mengejar mereka begitu laju. Saat hendak berbelok memasuki hutan, mobil hitam itu lebih dulu sampai. Kushina menjadikan tubuhnya sebagai pelindung dengan mendorong Minato ke pinggir hutan.
Mobil jeeb melindas tubuh Kushina. Minato selamat bersama Naruto yang berada dalam gendongan. Putranya terlalu lelah untuk berlari sendiri.
"Maafkan aku, Kushina... maaf."
Minato menangis dalam diam. Rasa bersalah atas kematian Kushina terus menghantui, namun tak harus membuatnya terlena dan terus mengutuk diri.
Baginya, keselamatan Naruto yang paling utama.
Bukan saatnya bersedih. Minato melepas dekakapan terhadap Naruto lalu memukul-mukul kepala senter untuk memaksanya kembali menyala.
Beberapa kali berkedip. Minato tak menyerah, sampai senter yang akhirnya mengalah dan kembali menyala seperti awal pertama.
Minato hendak kembali menggendong Naruto, namun sang putra menolak. "Aku bisa lari sendiri, Ayah." tangannya digenggam erat. "Aku sudah tidak lelah lagi."
Tanpa menjawab, segera Minato menarik Naruto ketika melihat sorot lampu dari arah belakang. Membuktikan mereka semakin dekat.
"Itu mereka!"
Kala mendapat seruan, seorang lelaki muda dengan cepat mengangkat senapan kemudian meluruskan laras sniper ke depan.
Sebelah matanya menyipit. Mencari titik pas melalui teropong yang dibekali lensa malam. Mereka terlihat!
Cahaya laser mengenai tepat belakang kepala Minato.
Sasori melepas tembakan.
SLEB!
BRUKHH!
Dalam sekali bidik, sebuah peluru kecil berhasil memecahbelah kepala Minato tanpa menimbulkan suara dari sniper.
Minato ambruk.
Genggaman Naruto terlepas.
"AYAH...!"
Sasori tersenyum puas. "Kalian tetap di sini." ia membawa senter besar guna menerangi langkah. Menapaki genangan air dan menghampiri bocah pirang yang tengah menangis itu.
Cahaya itu terlalu terang sampai membuat Naruto dapat melihat mayat Ayahnya secara jelas. Tempurung kepalanya pecah. Darah kental menggenang di atas air dan menyebar ke mana-mana.
Naruto terdiam kaku menyaksikan kematian Minato yang sangat tragis. Tubuhnya bergetar hebat. Wajahnya pucat pasi.
"Keras kepala." Sasori menyorot mayat Minato yang terbaring telungkup. Ia berdesis sinis lalu mengalihkan tatapan kepada Naruto. "Hey, bocah."
Anak itu mengangkat kepala. Menatap takut si pemanggil.
"Rekam ini dalam otakmu." Sasori berjongkok dihadapan Naruto. "...kematian Ayah dan Ibumu, lalu wajahku." ia mencondongkan wajah sembari menyeringai puas. "Kembali temui aku setelah kau tumbuh dewasa. Aku ingin melihat kobaran dendam yang tersirat dari matamu." ia kemudian tertawa.
Tubuh Naruto masih bergetar. Senyum pria berambut merah itu terlihat sangat menakutkan. Perlahan ia melangkah mundur.
Sasori berdecih. "Sampah!" ia menodongkan laras di depan wajah pucat Naruto. "Aku hitung sampai sepuluh. Kalau masih terlihat, maka terimalah nasibmu seperti Ayahmu."
Naruto lekas berbalik. Kaki kecilnya melangkah cepat membawa lari tubuh pendeknya.
"CEPAT!"
Naruto kalap. "HUWAAA..." ia menangis histeris, dan dengan teriakan keras menyerukan kedua orang tuanya. Ayah Ibu.
Jerit tangis Naruto disambut dengan tawa gembira. Sasori tertawa bagaikan iblis.
Tawa keji yang menakutkan.
Sekaligus yang akan selalu Naruto ingat.
Sampai mati.
.
xXx
.
Wajah lugunya tak kalah kotor dari baju yang dikenakan. Rambutnya acak-acakan. Tak memakai sandal saat menapaki jalananan, lalu selain kurus badannya juga dekil. Berbau busuk. Orang-orang akan langsung menutup hidung kala dirinya berlalu.
Sejak beberapa bulan setelah kejadian tragis yang menimpanya, Naruto tak tahu arah langkahnya. Sebatang kara hidup dijalanan di tengah kota membuatnya kesulitan untuk bertahan.
Tak jarang Naruto harus menahan lapar sehari semalam jika tak mendapatkan sampah-sampah bekas untuk dijual. Parahnya lagi, sampai terpaksa ia harus mengais sampah demi mendapat jatah makan.
Tak ada seorang pun yang iba.
Mereka seolah buta untuk memberi bantuan sekecil apapun.
Seorang diri tanpa tempat tinggal. Kedinginan dengan sedih yang melanda. Terkadang menangis merindukan sosok Ayah dan Ibu, juga dengan kehidupan layak pada sebelumnya.
Hari ini pencarian sampah hanya sedikit yang didapat. Naruto menatap hampa karung di tangan. "Segini tidak akan cukup." hari semakin sore. Sebentar lagi malam tiba sementara tidak ada yang bisa dijual untuk beli makanan malam ini.
Meski biasanya cuma mampu membeli sebungkus roti, tetapi itu saja sudah lebih dari cukup.
Seharian belum mengisi perut, dan Naruto merasa sangat lapar hari ini.
Seseorang baru saja keluar dari sebuah restoran mewah sembari membawa plastik berisi.
Tampaknya pelayan restoran.
Laki-laki berseragam merah itu kembali masuk setelah membuang plastik ke dalam tong sampah. Dengan cepat Naruto mendatangi tempat sampah tersebut, kemudian menilik ke dalam.
Srakk!
Saat dibuka, ada bungkus makanan yang tidak dimakan habis. Naruto mengurai senyum lebar. Sedikit kesulitan menjangkau, sampai membuatnya harus bergantung dibibir tong.
Naruto berhasil meraih makanan buangan. Segera dibongkar isinya untuk memeriksa masih layak atau tidak dikomsumi.
"Woah. Sepertinya enak."
Bahagia rasanya karena malam ini tidak jadi tidur dengan perut keroncongan.
"Semuanya masih bagus."
Naruto berbinar. Hanya bekas acak-acakan, selebihnya semua makanan tersebut masih layak untuk dikomsumsi. Lauknya ada yang utuh, ada pula begas digigit sedikit.
Ada ayam goreng sisa. Daging panggang kecap dan kepala udang besar.
Sudah lama sekali Naruto tidak makan makanan seperti itu. Tepatnya setelah kejadian naas yang menimpanya pada malam itu.
Naruto berlari cepat membawa sekantung sampah ditangan mungilnya. Ia ingin kembali ke pondok sesegera mungkin dan memakan semua makanan lezat itu di sana.
Tentunya Naruto tidak lupa membawa hasil pencarian hari ini. Besok lanjut mengumpulkan, setelah banyak akan dijual lalu uangnya bisa dibelikan ke roti untuk makan siang hingga malam.
Sang surya mulai menenggelapkan diri, dan jalanan mulai menyepi.
Naruto telah tiba di tempat berteduhnya. Terdiri dari ranting pohon berdinding karung bekas yang dibelah lebar, sementara untuk atap terbuat dari dedaunan kelapa kering yang telah disulam serapat mungkin agar tidak ditembus hujan.
Keberadaannya cukup jauh dari pusat kota. Di sini aman, berbeda dengan di kota. Pernah sekali Naruto melakukannya dipusat kota, dan yang terjadi ia malah digusur oleh petugas. Kejadian waktu itu membuatnya jera tinggal di kota. Sekedar mencari bahan pangan di sana.
Naruto menyantap hasil pencariannya dengan begitu lahap. Ada sedikit rasa asam, namun rasa lapar yang berlebih membuat lidahnya menolak untuk tidak menerima.
Ayam goreng bekas gigitan disantap dengan penuh nikmat. Selanjutnya udang yang hanya bersisakan kepala.
Naruto menyesap kepala udang tersebut dengan rakus. Rasanya manis-manis asam, dan tentunya lezat.
"Uhukk!"
Bocah pirang itu tersedak. Diletaknya kotak makanan, kemudian segera berlari keluar gubuk sembari membawa botol ukuran dua liter.
Rasa lapar membuat Naruto lupa bahwa stok air sudah habis. Terpaksa menunda makan untuk keluar mengambil minum.
Untungnya selalu sedia air tak jauh dari tempat tinggal. Naruto selalu mengisi air dari kran umum sampai dua liter penuh, lalu membawanya pulang dengan langkah tertartih.
Hanya beberapa menit, Naruto kembali membawa botol yang terisi penuh dengan air. Diminum beberapa teguk, setelah itu kembali melanjutkan makan.
.
xXx
.
Matahari belum beranjak sementara Naruto sudah bangun untuk mencari sampah-sampah botol, kalau pagi sudah terang dapat dipastikan keadaan kota sudah bersih karena truk pengangkut sampah bergerak sebelum matahari naik.
Jaket lusuh yang dikenakan sudah berlubang, tak heran bila hawa dingin berhasil menembus kulit. Tapi Naruto tak perduli akan hal tersebut selagi masih bisa bertahan dan terus berusaha mengumpulkan sampah.
Lebih baik sedikit kedinginan daripada tidur sambil menahan lapar.
Tidak ada rasa lelah. Naruto terus mencari-cari botol bekas dari dini hari hingga matahari merambat naik. Untungnya pendapatan hari ini cukup banyak untuk ditukarkan dengan uang.
Hal yang begitu sederhana membuat Naruto merasa bahagia. "Malam ini aku bisa makan lagi." ia terkikik sendiri.
Lucu sekali.
Lucu melihat bocah sekecil dia memiliki tekat hidup yang begitu Kuat. Kejadian yang dialami tak berhasil mematahkan semangat hidupnya, tak pula memukul mentalnya.
Anak itu luar biasa sekali.
Seorang pria paruh baya tersenyum bangga melihat ketangguhan Naruto Namikaze. Seorang bocah lelaki dengan latar belakang menyedihkan. Kelam dan dingin.
Pria berambut panjang itu menghampiri Naruto yang sedang menghitung hasil pendapatan. Sudah sejak lama ia mengintainya untuk melihat kesanggupan anak itu hidup, dan siapa sangka hasilnya akan sememuaskan ini.
Naruto Namikaze layak menjadi bagian dari keluarga besar Hyuuga.
"Nak."
Panggilan lembut dari seseorang membuat Naruto berhenti menghitung uang. Ia mendongakan kepala menatap orang tersebut.
"Paman memanggilku?"
Hiashi Hyuuga menyentuh kepala Naruto. "Ya... aku memanggilmu." ia memberi senyum teduhnya. "Kau sudah terlalu lelah dengan keadaanmu." Naruto berdiri kala ia menuntunnya. "Ikutlah denganku. Akan kubuat kau mendapatkan semua yang kau inginkan."
Naruto menatap bingung pemilik manik lavenderh tersebut. "Paman bicara apa sih?" ia benar-benar tak mengerti.
Hiashi terkekeh. "Ayo tinggal bersamaku. Jadilah bagian dari keluargaku." katanya— menjelaskan.
Mata bulat Naruto mengerjap-ngerjap. Masih tak mengerti dengan maksud orang tua itu. Ia bahkan tak menolak ketika digendong.
"Kalau kau ikut bersamaku, semua keinginanmu akan terpenuhi."
Wajah Naruto langsung ceria. "Apa aku juga bisa bertemu Ayah Ibuku lagi?"
Hiashi mengangguk mantap. "Tentu saja."
"Baiklah Paman, aku mau ikut dengan Paman."
"Anak pintar." seringai keji mengiring gumaman Hiashi.
Naruto bisa menjadi senjata paling mematikan. Dia adalah senjata andalan milik Hiashi Hyuuga— ketua mafia yang paling disegani oleh beberapa Negara, dan akan diturunkan kepada Naruto Namikaze yang jauh lebih berguna daripada keturunan Hyuuga lainnya.
Sungguh. Rasanya persis seperti mendapat gunung berlian.
.
xXx
.
Dengan tubuh yang bergetar hebat, Naruto memaksakan diri menodong senajata api ke arah sosok lelaki tak berdaya yang terduduk lemah dengan punggung bersandar pada dinding tembok.
Wajah Naruto pucat. Air matanya mengalir deras menyaksikan penderitaan sosok lelaki tersebut.
Dia dipukuli hingga babak belur. Hidungnya patah, rongga mata pecah dan bibir sobek. Darah segar mengalir deras dipelipisnya akibat hantaman keras dari tongkat baseball.
Naruto menyaksikan acara penyiksakan itu secara nyata. Raungan penuh akan rasa sakit membuat tubuhnya mati rasa, disertai dengan ingatan-ingatan tiga tahun lalu pada kejadian yang menimpanya.
Kematian Minato dan Kushina.
Ibunya tewas dilindas mobil jeeb. Ayahnya pecah dikepala oleh peluru sniper. Naruto mengingatnya lagi.
Jelas sekali. Tak bisa dilupakan dan tak akan pernah melupakan.
"TEMBAK DIA!"
Hiashi berseru keras dibelakang Naruto.
"LIHAT DIA SEBAGAI PEMBUNUH AYAHMU! ANGGAP DIA ORANGNYA!"
Wajah babyface. Rambut merah dan berbulu mata lentik. Sosok tersebut kembali tercetak dalam ingatan Naruto.
Seringai jahatnya.
Tawanya yang penuh akan kepuasan.
"Aku ingin melihat kobaran dendam yang tersirat dari matamu."
Tubuh Naruto tak lagi bergetar. Matanya berkilat tajam. "Tidak akan kumaafkan." pegangan terhadap gagang pistol mengerat. "TIDAK AKAN AKU MAAFKAN."
Senyum puas mengambang di wajah Hiashi. "LUAPKAN SEMUANYA, NARUTO!"
Cklak!
DORR!
Tembakan sempurna menembus kepala. Nafas Naruto memburu seperti hewan buas sehabis mengejar mangsa. Kini tubuhnya bisa kembali dikendalikan sesudah mendapat rasa takut luar biasa tadi.
"Bagaimana?" Hiashi mengusap lembut pucu kepala Naruto. "...bagaimana rasanya?"
Naruto membuang kasar pistol ditangannya. "Aku tidak puas." tangannya mengepal geram. Rahangnya bergemelutuk.
Hiashi menyeringai. "Kau tidak akan puas sebelum menemukan mangsa yang sebenarnya." ia menepuk pelan bahu Naruto. "Suatu saat pasti."
Anak itu.
Cepat sekali dia tumbuh besar. Baru berusia sepuluh tahun, dan dendam dimasalalu berhasil menjadikannya bocah penuh ambisi.
Benar-benar layak dibanggakan.
Hiashi merasa puas.
Tidak salah lagi. Dia memang anak yang cerdas. Terlahir dengan bakat istimewa.
Dan setelah semuanya berlalu selama bertahun-tahun. Sejak kejadian malam nan pilu itu, terkatung-katung dijalanan, dipungut oleh seorang mafia dan perlahan diajari cara membunuh. Maka tumbuhlah Naruto menjadi sosok keji yang membawa dendam.
Mengubah wajah target dengan sosok si rambut merah setiap hendak menghabisi, kemudian membantainya secara sadis.
Tanpa ampun! Tanpa perasaan!
Naruto bersumpah atas nama Tuhan, kelak ia akan menemukan laki-laki berambut merah itu dan membalas perbuatannya dengan perlakuan yang lebih keji.
"Akan kuhancurleburkan badanmu."
.
.
.
.
To Be Contine...
Prolog done! Next chap baru memulai inti cerita.
Tapi... Kalau Author cuma dikasih review NEXT, jgn salahkan hamba kalau fict ini gabakal dilanjut, awokwokwok #kabur
Ayolah. Review kalian adalah semangatku... Berilah review yg enakan dikit dibaca supaya aku ga kekurangan asupan penyemangat :')
Berilah penilaian untuk fict ini dan beberapa koreksi :)