Chapter 1: Prolog
DISASTER
DISCLAMER:
Gintama © Sorachi Hideaki
Saya tidak mengambil keuntungan apapun dari fanfiction ini, kecuali Hijikata yang saat ini saya klaim sebagai husbu saya.
Story by:
Asai Konno
WARNING!
AU, Typo(s), OOC, EYD berantakan dan masih banyak kekurangan lainnya.
(Ini adalah ff pertama saya di fandom Gintama dengan pair dua orang brutal, OkiKagu—sekaligus latihan corat-coret dan balikin mood ditengah chaosnya pandemi.
Jika anda berharap sesuatu bernuansa romantis ada dalam cerita ini, harap keluar saja!)
~Selamat membaca~
•
~Disaster~
•
•
Dua orang tua sialan dengan anak-anak yang juga merepotkan.
Sebenarnya, hidup ini saja sudah sialan. Mengapa harus di perburuk dengan kemunculan dua bocah sialan ini juga? Yang satu menetap di Yorozuya, sementara yang satunya berlindung di bawah jubah Shinsengumi.
Si bocah Shinsengumi kerjanya suka bikin onar, sementara bocah yang satunya suka sekali makan dengan porsi yang tidak wajar sampai-sampai membuat Yorozuya menjadi kaum yang hampir melarat.
Lihat? Benar-benar sialan, bukan?
•
~Disaster~
•
•
Drama bodoh terbaik tahun ini bukan lagi tamparan kesopanan atau saling menendang satu sama lain karena mendengar gosip murahan. Dibanding menampar, dentuman revolver terasa lebih membakar dada ditengah bengisnya sebuah perkelahian. Entah itu imbas dari gosip murahan atau konflik tak berujung yang memang sengaja diciptakan. Perkelahian tanpa landasan yang jelas tetap saja drama bodoh namanya.
Dan kota Edo punya banyak drama terbodoh yang tidak pernah habis untuk diceritakan.
"Lama tidak bertemu. Sekalinya bertemu, kau semakin brutal saja ya, China."
Kurva bibir si bocah Shinsengumi tertarik membentuk seringai remeh. Salah gerak sedikit maka tamatlah riwayat gadis Yato yang bahkan lebih dulu menyematkan pisau lipat ke lehernya—saat pistol miliknya hampir menempel ke jidat gadis itu.
"Lama tidak bertemu. Dan kau! Semakin cerewet saja ya, sadis."
Tanpa ragu, Kagura—si gadis China sebutan Okita, menampilkan seringai yang sama. Ini adalah ajang siapa mati duluan. Lagi pula, Tuhan tidak peduli kalau pun mereka harus mati.
Setelah sempat terpisah jarak sampai akhirnya kembali dipertemukan, prinsip keduanya masih sama. Sebut saja hidup dalam perkelahian adalah sebuah keharusan, atau siapa peduli jika harus babak belur? Toh, malaikat maut sampai bosan menunggu keduanya ketika bertarung karena tak kunjung ada yang mati.
Anggaplah ada alasan sederhana mengapa masih harus bertahan hidup besok.
Sesimpel Okita Sougo yang tidak sabar ingin nenembus pelipis Kagura dengan satu tembakan revolver—juga si gadis China yang sudah tidak sabar ingin meremukkan tulang kering pemuda sadis kebanggaan Shinsengumi dengan tendangan terbrutal.
Dari jarak hampir lima meter, dua pasang mata tampak asyik mengamati aksi bengis keduanya—sambil saling sindir kelebihan jagoan masing-masing.
"Asal tahu saja, orang sekelas Sougo itu tidak mudah mati."
"Kau tidak tahu? Cadangan nyawa Kagura itu lebih banyak dari jumlah pori-pori manusia."
Dia—si rambut keriting Gintoki dan si perokok berat Hijikata—tentu tak mau ketinggalan momen berharga yang sebenarnya sudah terlalu sering terjadi seperti kaset yang terputar berulang-ulang.
Bak seorang supporter terselubung, dari lubuk hati yang terdalam, keduanya saling cemas memikirkan, bagaimana jika salah satu atau bahkan kedua orang sialan yang sedang berselisih di sana itu betulan meregang nyawa?
Menjadikan sebuah perkelahian sebagai bahan tontonan tanpa niat melerai seakan membenarkan pernyataan Shinpachi yang mengatakan kalau hati kedua orang ini memang cacat dari lahir.
"Mati kau, China!"/"Mati kau, sadis!"
Dan.
DOR!
Jadi, siapa diantara Yorozuya dan Shinsengumi yang akan mengadakan upacara pemakaman duluan?
Bersambung...
A/N : Lama saya baru nulis-nulis lagi. Dan ngembangin mood itu sungguh tidaklah gampang. But, ff gaje ini saya persembahkan untuk tante terhebatku Tante Egia a.k.a Grey Cho yang always support dan dukung saya supaya mau nulis lagi dan aku mau makasih banget sama tante~~~ /hug
Oke sekian dan terimakasih sudah mau mampir.
Salam,
Asai.
