Bleach: Tite Kubo

Warning : OOC, Typo.

Chapter 5 : Mugicha Roasted Barley Tea

Kurosaki Ichigo (pov)


Rukia sudah terlambat hampir empat puluh menit, tidak ada kabar atau konfirmasi yang aku terima jika dia berhalangan hari ini. Dalam empat puluh menit ke belakang, aku bertanya-tanya apakah ada kataku yang membuatnya tersinggung semalam? Mungkin pada bagian aku bertanya tentang kisah asmaranya, tapi aku rasa dia tidak selabil itu. Aku meneguk lagi kopi hitamku yang sudah mendingin.

Oh, baiklah, aku tidak bisa membiarkan waktu terus berjalan seperti ini. Setengah jam lagi dr. Yammy akan menggunakan ruangan ini. Berarti tidak ada kesempatan untuk Rukia berlatih.

Satu-satunya orang yang bisa kuhubungi adalah Lily—perawat khusus ruang Kuchiki Rukia. "Apa hari ini Rukia tidak latihan fisioterapi?" Aku langsung bertanya ketika telepon tersambung.

"Oh, aku kira Kuchiki-san sudah tiba di sana. Astaga!" Dia tampak kepanikan dan nadanya terdengar menyesal. "Aku akan segera ke ruangannya."

Telepon tidak dimatikan dan aku terus menunggu. Aku mengetuk-ngetuk meja kerjaku dengan telunjukku. Astaga, kenapa hari ini semua orang menyuruhku menunggu?

"Hallo, dr. Kurosaki!" Lily terengah-engah seperti habis berlari.

"Ada apa?"

"Kuchiki-san pingsan di dalam bathup!"

Aku langsung berlari menuju lantai empat ruang diamond suite tanpa berpikir panjang. Dr. Yammy meneriakkiku saat aku berpapasan dengannya tapi maaf aku tidak punya waktu lagi. Ada banyak skenario terburuk yang aku bayangkan tentang keadaan Rukia. Serangan jantung, karena memikirkan sesuatu yang tidak seharusnya ia pertimbangkan. Atau kembali mati suri?

Sampai di lift aku menarik-narik rambutku. Astaga, bahkan lift ini pun mencoba menggodaku—membuatku menunggu. Tidak lupa aku mengutuk pintu lift tersebut setelah aku meninggalkannya.

Ketika tiba di depan pintu ruangan Rukia, aku langsung masuk ke dalam dan mendapati kasur tidurnya yang masih kosong. Kedua perawat itu menghampiriku dengan wajah yang ketakutan—mungkin mereka sudah membayangkan akan didisiplinkan.

"Kuchiki belum dikeluarkan dari bathup?" Tanyaku dengan napas yang terengah-engah. Jadi untuk apa kedua bodyguard sialan itu berada di sana sepanjang hari seperti anak anjing dengan terompet di kepalanya?

"Bodyguardnya tidak berani—"

Aku tidak butuh penjelasan yang mengharuskan aku sendiri yang akan melakukannya. Jadi aku langsung mengambil selimut putih bercorak norak (kelinci) itu—yang berada di atas tempat tidur dan bergegas ke kamar mandi.

Sebenarnya kedua bodyguard itu melakukan tindakkan yang benar, karena mereka tidak akan mengerti instruksi membopong pasien yang baru saja mengalami patah leher. Itu cukup beresiko. Kalau ada Shirayuki di sini, mungkin lain ceritanya.

Aku membentang selimut di lantai dan segera mengeluarkan Rukia dari dalam busa yang hampir menyedotnya.

Dan satu lagi alasan kedua bodyguard itu tidak berani memberikan pertolongan pada Rukia; dia tengah telanjang dan alasan ini juga dapat mengambil resiko. Aku segera membungkus badannya seperti membungkus seorang bayi.

"Ichigo, ada apa?" Aku menoleh dan mendapati Momo yang sedang terengah-engah di ambang pintu. Sepertinya dia juga habis lari maraton sepertiku.

"Dari napasnya yang statis dan denyut nadinya," aku menoleh lagi ke wajah Rukia yang terpejam damai. "Dia tertidur." Aku memposisikan kepala Rukia di tanganku dan mengusahakan agar kepalanya tidak jatuh ke bawah. Badannya begitu dingin, dia akan terkenal flu dua jam dari sekarang.

"Astaga, jantungku hampir berpindah tempat. Bagaimana dia bisa tertidur di sana?"

Mata Rukia berdenyut—menggerakkan bulu matanya yang panjang itu, aku bernapas lega karena bukan serangan jantung, mati suri atau kemungkinan buruk lainnya. "Dia memang ketiduran, Hinamori."

Aku meletakkan Rukia di tempat tidurnya. Gadis mungil itu terbangun—lalu aku terjebak pada perdebatan antara dua sepupu beberapa saat. Rukia mengatakan dia akan tetap terapi siang ini, dan Hinamori mengatakan dia harus istirahat. Aku sebenarnya menginginkan Rukia berada di dalam kamarnya saja dengan Momo yang menemaninya dulu sementara Shirayuki tidak ada.

Dan soal Hinamori. Aku tidak mengerti kenapa Momo mendaftarkan dirinya menjadi dosen pengganti profesor Aizen di mata kuliah kardiovaskuler dengan upah yang minim. Dia lebih bercahaya di rumah sakit ketimbang di depan kelas. Banyak jadwal akan membuatnya cepat mendapatkan keriput di mata. Daripada dia mengurus mahasiswa yang lebih suka pamer dengan jurusan mereka, lebih baik dia merawat sepupunya saja.


Siang ini aku benar-benar tidak mengharapkan Rukia terapi. Tapi aku malah makan cepat-cepat agar tepat waktu. Tadinya selepas makan siang adalah jadwal dr. Yammy menggunakan ruangan ini, tapi aku malah menyuruhnya pindah. Yeah, otakku terkadang sulit diperintah.

Tepat pukul setengah dua siang Rukia hadir di hadapanku dengan menggunakan masker spunbond 70 gsm. Astaga, aku bahkan memperhatikan ketebalan maskernya.

"Kau terserang flu?" Aku langsung bangkit dari dudukku dan menempelkan punggung tanganku ke dahinya. Sudah kuduga dia akan mendapatkannya. Suhu tubuhnya cukup panas tapi dia masih terbilang sehat.

"Aku baik-baik saja."

"Kau yakin?"

Rukia tidak mau menatapku dan membuang muka ke arah lain. Dia tidak bicara lagi dan langsung memanjat tempat tidur—bersiap untuk pemanggangan otot.

Seperti biasa aku menyetel alat itu dan mendekatkan ke sekitar kakinya. Mood Rukia benar-benar tidak bisa ditebak. Atau dia habis menyadari sesuatu bahwa akulah yang mengangkatnya dari bathup dalam keadaan memalukan.

"Aku menunggu kata terimakasih karena pertama kali yang menyalamatkanmu."

Dia mendengus serta menyipitkan mata tidak setuju.

"Baiklah, sama-sama." Aku hanya menggodanya memancingnya untuk membuka suara.

Dia membuang muka lagi sembari memejamkan mata, berfokus pada panas yang menjalar di kakinya. Dalam keadaan seperti ini dia cukup terlihat... menggemaskan? Aku tidak percaya bahwa umurnya sudah dua puluh tujuh pada saat ini. Dia masih cocok jika mengenakkan seragam SMA.

Rukia masih bersikeras tidak berbicara apapun setelah selesai pemanasan otot. Dia tetap mengikuti intruksi tapi menghindari pertanyaan—dimana aku yakin dia memiliki sejuta ocehan yang ditahannya.

Pertemuan hari ini adalah pelatihan jalan menggunakan tongkat. Tongkat terbaik setinggi badannya sudah disediakan pihak rumah sakit. Rukia tampak bosan menerima tongkat itu padahal aku tahu dia sangat menunggu momen ini. Beberapa saat kemudian di tampak asyik meneliti tongkatnya dan mungkin sudah menyusun beberapa rencana. Aku berani bertaruh dia akan menempelkan beberapa stiker kelinci pada pertemuan berikutnya.

Aku terus mengoceh untuk memposisikan sanggahan tongkat dengan benar pada kedua ketiaknya. Dia terus mendengus, memutar mata atau menaikkan bahu. Dan aku masih menangkap sisi lucu darinya.

Dia mulai berjalan pada jarak yang sudah ditentukan. Beberapa kali dia berhenti hanya untuk melepas bersin, lalu mendesah lagi. Dia mengangkat tangannya seperti seseorang yang sudah ahli menjempit tongkat di ketiak, tapi diturunkannya lagi. Gestur gerak-geriknya seperti akan menggaruk hidung yang gatal. Aku hanya bisa menyeringai dan menertawainya dalam hati.

Karena dia terus-terusan seperti ingin meraih hidungnya. Aku langsung mengambil beberapa tisu di atas meja dan melepaskan maskernya.

"Apa yang kau lakukan?" Rukia memelototiku dan suaranya sedikit berubah dari yang normal biasanya. Hidungnya sungguh mengenaskan, seperti baru saja dikukus.

Aku menjejalkan tisu ke hidungnya. "Jangan mengandalkan maskermu untuk menahan lendir." Aku tidak tahan melihatnya menderita dan alasan ini membuatnya mempersulit latihan.

Seketika wajah Rukia memerah. Dan kalau dia mau mengutuk Shirayuki karena tidak ada disaat seperti ini. Aku juga akan menambahkannya.

"Aku ini dokter. Tidak mudah jijik. lendir harus dibuang." Aku meyakinkannya agar dia mau melakukannya.

"Tutup matamu," ujarnya memerintah.

Oke, aku melakukannya. "Aku akan menutup telingaku juga." Aku segera meletakkan telapak tangan di salah satu telingaku.

Rukia masih bergeming, sementara tanganku masih menunggu. "Hei, tunggu apa lagi?"

Akhirnya Rukia menyemperotkan lendir dari dalam hidungnya dengan pelan. Dia masih malu-malu dan gerakkan itu tidak akan memuaskan rongga hidungnya yang gatal. Aku membantu hidungnya dengan sedikit memencet batang hidung yang mungil itu.

"Masih mau lagi?" Aku menyeringai dan menggumpal tisu itu untuk dibuang.

Wajahnya masih memerah dan sedikitpun harga dirinya tidak jatuh di depanku. "Sepertinya kau senang sekali melihatku menderita." Rukia menarik senyum bengkok yang dipaksakannya.

"Aku membantumu, Rukia." Aku tentu langsung menyelanya. Rasanya ingin mengacak-acak rambutnya karena sikap skeptis itu.

"Oh, ya? Kulihat daritadi kau tersenyum aneh sendiri ke arahku." Rukia menyipitkan matanya. Dia benar soal tersenyum aneh atau bodoh itu. Dan aku tidak menyangka dia menyadarinya.

"Baiklah maaf soal itu jika kau tersinggung. Tapi, kau lucu," aku menegaskan dengan hati-hati. Lucu bukan bearti dari sisi stigma negatif. Dia lucu parasnya, tingkah lakunya menggemaskan. "Tapi boleh aku tahu alasan kenapa moodmu buruk sekali siang ini?"

"Bukan urusanmu, sekarang tolong minggir, dr. Kurosaki aku harus berlatih."

Bukan urusanku, tapi dia marahnya padaku. "Aku akan minggir setelah mendapat jawaban."

"Kau menghambat latihanku—hatchiii."

Aku menjejalkan tisu ke hidungnya lagi sambil berpura-pura bosan. Rukia tidak memprotes lagi. Dia akhirnya menurut saja dan membuang lendir sial itu.

"Ichigo-kun?"

Aku dan Rukia sama-sama menoleh ke sumber suara—aku masih belum menarik tanganku dari hidung mungilnya, sementara Rukia tampak acuh.

"Nelliel?"

"Pasienmu?" Rukia bertanya setelah dia menggesek-gesekan hidungnya di tisu yang aku pegang. Kali ini dia malah tidak malu-malu lagi.

"Bukan." Aku hanya bisa menjawab pertanyaan Rukia dengan singkat karena mendadak filter otakku membeku.

"Bisakah kita bicara?" Nell mengangat suara lagi karena aku tidak kunjung menjawab dan masih mencerna keadaan ini.

"A-aku—"

Nell langsung memotong kata-kataku. "Oh, tidak sekarang. Aku akan menunggu di luar. Selesaikan pekerjaanmu." Dia membungkuk ke arah Rukia yang tidak direspon sama sekali olehnya. "Maaf sudah mengganggu." Setelah itu dia keluar dari ruangan fisioterapi.

Aku dan Rukia kembali terdiam pada pikiran masing-masing. Rukia tetap berfokus pada tongkat jalannya, dan aku bertanya-tanya tentang kehadiran Nelliel.

Nelliel mantan pacarku sewaktu kuliah. Dia populer, terpelajar, dan cukup aktif dalam kegiatan organisasi. Sifat yang aku benci padanya adalah dia terlalu lugu dan menganggap semua akan baik-baik saja. Karena ramah dan terlalu baik dia memiliki banyak teman. Aku benci dengan sifatnya yang tidak memilih-milih teman itu. Terkadang kita harus menarik diri jika berteman dengan orang yang memiliki stigma negatif. Dia malah mengulurkan tangan dan ikut terjerumus bersama orang-orang yang dianggapnya teman. Jadi, aku menganggap Nelliel itu brengsek.

Aku menahan diri untuk tidak menarik-narik rambutku kesal. Kami sudah lima tahun tidak bertemu dan aku sudah memutuskan untuk memaafkan dia karena telah menghancurkan dirinya sendiri dan juga menghancurkan kepercayaanku padanya. Aku bukan pria yang baik jadi aku tidak bisa menerima keadaannya yang sial itu.

"Aku sudah selesai. Aku akan kembali ke ruanganku." Entah sejak kapan Rukia sudah duduk di atas kursi rodanya. "Kau boleh menemui tamumu tadi kalau kau mau." Dia berkata seolah aku adalah pasiennya saat ini.

Aku mengecek jam tanganku. "Masih ada lima belas menit lagi."

"Hidungku menyusahkanku. Seharusnya aku menuruti Perkataan Momo saja." Rukia tampak menyesal dan membuatku juga menyesal entah karena apa. Setidaknya dia sudah mau bicara padaku lagi.

"Baiklah, aku akan mengantar." Aku langsung bersiap-siap merapikan mejaku.

"Tidak perlu. Aku bisa sendiri."

Rukia merajuk lagi. Aku langsung mengambil botol mugicha roasted barley tea yang sudah kusiapkan dari tadi pagi. "Tolong jangan marah lagi, oke?" Lalu menyodorkan botol itu dengan tatapan memohon. Siapapun tidak akan menolak teh itu.

Dia menyambutnya dengan enggan, aku juga tidak melihat matanya yang berbinar-binar. Tapi aku tahu dia menunggu itu dariku. "Terimakasih," ujarnya hampir berbisik.

"Aku akan memberitahu Lily untuk memberimu antihistamin agar flumu besok membaik."

Selagi Rukia menandaskan minuman manis itu, aku segera mengetik pesan dan mengirimnya pada perawat Rukia. Mood Rukia tampak bagus setelah meminum-minuman dingin. Aku punya senjata untuk menenangkannya.

Setelah Rukia keluar dari ruangan, aku mengecek ponselku lagi dan mendapati pesan dari Nelliel.

Aku tunggu di toko kopi seberang rumah sakit.

Aku langsung menghapus pesan tersebut dan menyimpan ponselku kembali ke dalam saku. Aku tidak ingin langsung bergegas ke sana seperti pria malang yang tersihir oleh mantan kekasihnya. Aku juga masih menimbang-nimbang apakah dia pantas menemuiku saat ini?

Pertemuan terakhirku dengannya saat di ruang sidang lima tahun yang lalu. Aku kurang mengerti proses sidang sehingga aku hanya menonton dengan tangan terkepal, menyesal dan bodoh. Aku mengikuti jalannya sidang Nell dengan merutukki diriku sendiri sepanjang jaksa itu mengoceh. Ayahku juga ikut menonton sidang, dia takut aku akan mengacaukan segalanya dan aku tidak mungkin melakukan itu. Ayah sebenarnya menyuruhku untuk menyemangatinya atas tindakkan bodohnya, tapi aku tidak mau. Dia tidak pantas mendapatkan semangat dariku. Dia harus menyesalinya dengan hukuman drop out dari jurusan apoteker dan juga kehilanganku. Tadinya kami ini pasangan serasi. Semua temannya mengatakan itu dan merasa iri, namun Nelliel mengacaukannya.

Nell terpuruk sekali waktu itu. Dia menyesal tapi juga belum bisa lepas dari obat-obatannya. Dia bisa menggila kalau sudah waktunya. Dan aku jijik melihatnya seperti itu.

Setelah sidang selesai dia beruntung tidak dipenjara. Orangtuanya memiliki koneksi yang bagus sehingga dapat membebaskan anaknya. Pada akhirnya Nell dikirim ke Paris dan mendapati rehabilitasi sesuai kelasnya.

Aku kira dia tidak akan kembali lagi dan hidupku berjalan sesuai cita-citaku. Aku juga mendoakan dia agar bisa hidup normal di Paris tanpa mengingat masa lalunya.

Tapi apa? Dia malah hadir dan mengacaukan hariku.

Ponselku berbunyi nyaring tanda ada panggilan yang masuk. Aku sudah tahu ini pasti Nell yang masih menungguku di coffee shop. Aku langsung mengiriminya pesan.

Hari ini aku banyak kerjaan. Tolong jangan ganggu aku. Dan tolong jangan muncul mendadak seperti tadi.

Setelah itu aku langsung menelepon Keigo.

"Hei, Ichigo. Aku sedang marah—tidak. Aku dak Tatsuki sedang marah padamu tolong jangan hubungi aku." ternyata dia masih mengingat kejadian sebulan lalu dan aku memang belum sempat meminta maaf atau bertemu dengan mereka.

"Nelliel ke ruanganku tadi." aku mengabaikanya dengan memberi informasi lain.

"Benarkah? Aku harap kalian berbaikkan." Aku mendengar nada bersalah dari bisikan Keigo di seberang sana. Wah, tentu saja si bajingan ini yang menuntun Nell kemari.

Aku mendesis dan ingin sekali memukul hidungnya yang menyebalkan itu. "Kau pasti memberitahu Nell tentang keberadaanku."

"Dia mengancamku Ichigo, aku tidak bisa apa-apa lagi. Dia bilang akan bunuh diri," jelas Keigo langsung masih dengan nada bersalah terbaiknya. "Lagipula dia sudah sehat dan sangat menyesal."

"Dan kau takut dia benar-benar akan bunuh diri?" Ujarku geram. Semudah itu si kunyuk ini memberi informasiku.

"Tentu saja! Dia mengatakan itu sambil menangis. Aku tidak mungkin membiarkannya."

Aku memutar bola mataku. "Kau sudah membuatku dalam masalah. Tunggu saja aku akan menendang kepalamu nanti." Setelah ancaman itu aku memutuskan sambungan telepon.

Nell menelponku lagi tapi aku hanya memelototi layar ponselku. Wanita ini keras kepala sekali.

Karena tak kunjung kuangkat akhirnya dia mengirim pesan lagi.

Kalau begitu aku akan ke ruanganmu lagi dan tidak peduli pada siapapun agar aku dapat berbicara kepadamu.

.

Nell mendapatkan keinginannya, pada akhirnya, aku menyerah dan duduk di hadapannya dengan ekspresi bosan. Aku begitu malas untuk menyeret kakiku ke kedai kopi di seberang rumah sakit Karakura ini. Tapi aku lebih malas lagi jika Ishida dan Momo melihat Nell datang menemuiku.

Tidak banyak perubahan dari tampilan Nell yang dulu sangat aku kenal. Dia masih memakai parfum yang sama dari dulu. Dia juga tidak merubah gaya rambutnya. Badannya tampak sedikit berisi dari terakhir kali aku melihatnya. Dia berusaha tampil begitu sehat di depanku.

Nell meremas-remas jarinya sendiri sambil menatap meja. Kebiasaan ini menandakan dia benar-benar gugup. "Aku baru saja lulus dari Pascal Blaise University dan langsung kembali ke Jepang." Nell membuka pembicaraan ragu-ragu walau dia tahu aku tidak tertarik. "Aku tidak bisa melanjutkan menjadi Apoteker karena riwayat kesehatanku yang pernah positif sebagai konsumsi. Aku mengambil jurusan ekonomi dan management. Ayahku sangat senang jika aku menjadi pembisnis." Nell kembali menarik napas dalam dan ragu-ragu mengintip ke arahku. "Aku tahu kau akan menghindar tapi aku benar-benar berusaha memberanikan diriku untuk menemuimu, dan meminta maaf."

Sebenarnya aku lebih tertarik dengan gelas plastik kopiku yang mulai mencair. "Pertama-tama selamat atas gelarmu." Aku ingin menambahkan bahwa menjadi seorang apoteker itu akan mempermudahmu mendapatkan narkoba, memang lebih baik belajar bisnis itu cocok untuknya. "Aku juga sudah lama memaafkanmu. Baiklah kalau begitu." Aku mengintip jam tanganku. "Aku rasa itu saja, kan?"

Nell langsung tersentak. Jika aku menurutinya sebentar lagi ada drama berupa tangisan di meja kami. "Ichigo aku mohon. Aku belum selesai." Mata Nell mulai berkaca-kaca. "Selama lima tahun ini aku memikirkanmu. Aku selalu mengirimimu email. Tapi kau tidak pernah membalasnya."

"Aku tidak pernah membuka email, bahkan aku tidak mengingat sandinya." Aku berkata jujur dengan penuh kesabaran.

Nell mengangguk mengerti, usaha dia menghubungiku memang sia-sia. Aku bahkan mengganti nomor ponselku untuk menghindarinya.

"Aku sudah menjalani bertahun-tahun di rehabilitasi dan semua itu menyiksaku. Kini aku sudah terlahir menjadi pribadi yang baik lagi, Ichigo. Aku juga berusaha untuk menyelesaikaan studiku agar aku kembali pantas bersamamu." Nell mengelap air matanya dengan penuh penyesalan. "Aku dengar dari Keigo selama ini kau tidak pernah berpacaran. Aku sangat senang sekali mendengarnya."

Astaga, Keigo benar-benar bermulut sampah.

"A-aku memang bertemu banyak pria di luar sana. Tapi aku bersumpah selama kita berpisah aku tidak pernah berpacaran."

Aku memang tidak pernah berpacaran bukan bearti mengharapkan Nell kembali. Aku sungguh telah melupakannya walau ada sedikit trauma. Mendadak Rukia terlintas di pikirkanku. Kalau kulihat-lihat, aku tidak bisa membandingkan apapun bagian diri Nelliel dengan Kuchiki Rukia. Oh, Tuhan aku pasti sudah gila.

"Nell, aku senang kau sudah sehat sekarang. Tapi lima tahun sudah berlalu dan banyak perubahan yang telah terjadi."

Nelliel mencoba mencerna perkataanku tapi sepertinya dia tidak terima. "Apa itu bearti kau mencampakkanku?" Air mata Nell sudah turun lagi tapi aku berusaha tidak terlalu mempedulikannya. Yeah, aku memang pria brengsek untuk wanita yang pernah jadi brengsek.

"Kau sudah lebih dulu mencampakkanku, Nell." Aku membalas kata-katanya dengan mantap. Dengan ini aku harap dia tidak akan memaksaku lagi. "Lagipula aku sekarang sedang menyukai seseorang." Aku tidak yakin tapi aku hanya mengatakan ini untuk memperjelas situasinya.

"Siapa? Gadis yang ada di fisioterapi tadi?"

Aku hanya menaikkan bahu. Siapa yang tahu?

Dengan itu aku meninggalkan Nell yang semakin nangis menjadi-jadi di kursinya. Saat aku keluar dari coffee shop, aku masih dapat melihat Nell menenggelamkan wajahnya di antara tangannya yang putih. Aku berharap ada seorang pria yang menghampirinya dan mengklaim Nell adalah wanita yang malang—yang baru dicampakkan pria brengsek. Aku juga tidak keberatan jika pria yang beruntung itu akan mengutukku dengan kasar.

Saat aku kembali ke rumah sakit. Hari sudah menjelang sore. Aku akan pulang ke apartemen saja sore ini dan menyerahkan sisa tugasku kepada dr. Yammy.

Tbc


Thanks for reading :)