Dia Naruto, seorang pemuda yang disanjung sebagai pahlawan Konoha, prestasinya setelah mengalahkan ketua Akatsuki membuat pakornya naik, dulu dia selalu dikucilkan warga Konoha, namun sekarang dia menjadi sosok yang dijadikan panutan beberapa Ninja.
Sang Ibu sendiri juga bangga kepada dirinya, dia beberapa kali disanjung oleh Kushina karena keberhasilannya menguasai Senjutsu dengan cepat, serta sempurna, lalu mengendalikan seekor Bijuu yang ada didalam tubuhnya, serta beberapa keberhasilan lainnya. Naruto memang patut untuk dipuji-puji.
Semilir angin berhembus, menerpa wajah tenang Naruto. Pemuda itu menyimpan sifat aslinya dengan sempurna di dalam sebuah topeng yang bernama keceriaan. Semuanya adalah palsu, sifatnya hanyalah topeng belaka, dan semuanya tersiman rapi di dalam dirinya. Dia hanya akan mengeluarkan sifat aslinya itu di saat tertentu saja.
Helaan napas keluar dari mulutnya, ini yang kesekian kalinya dia mengeluarkan napas panjang. Di atas bukit patung Hokage, dia bisa menenangkan dirinya sendiri sembari melihat para warga yang berlalu lalang, dia sendiri duduk tepat di atas kepala patung Ayahnya. Hokage keempat, Minato Namikaze.
Dahulu, beberapa tahun yang lalu, para warga tak mengetahui jikalau dirinya itu putra dari Hokage mereka, warga hanya tahu jika Naruto adalah Iblis berekor sembilan yang memporak-porandakan desa Konoha, dan dirinya sadar jika Naruto sebenarnya anak dari Hokage keempat.
Sadar sebelum sang Ibu memberitahukannya.
Dia tersenyum miring, mengingat masa lalu itu membuatnya miris. Para warga yang seharusnya tahu jika dia adalah anak dari seorang pemimpin, malah berlaku sebaliknya.
"Masa lalu yang kelam."
Naruto lalu beranjak dari tempatnya, dia membersihkan celananya dari debu yang ada, lalu melompat pergi dari patung Ayahnya.
Sebenarnya, Naruto sudah sangat lelah akan kehidupannya, dan ingin sebuah kehidupan hanya dengan Kushina, Ibu kandungnya. Serta sebuah alasan lain yang tak ingin diketahui oleh siapapun.
"Perasaan tabu ini, sungguh menyiksa."
Dia mencintai Kushina.
...
...
Naruto by Masashi Kishimoto
Warning: OOC, Typo, Semi-canon, Alive Kushina, Incest, Mom x Son, Mature content.
...
...
Dia baru saja pulang dari bukit Hokage. Pintu rumah itu dia buka, kedua netra biru itu menatap sebuah sandal Shinobi yang berserakan, ada seseorang yang datang ke rumahnya. "Aku pulang!" Ia berseru, dan mulai melepas sandal shinobinya. Langkah kakinya sungguh pelan saat menelusuri lorong rumahnya, dia mencium masakan yang sudah matang.
Kushina sedang memasak sesuatu.
"Oh, Naruto, selamat datang." Netra biru itu berkedip beberapa kali saat melihat Kushina yang membawa sebuah nampan yang berisi beberapa makanan, Naruto juga sadar jika ada seseorang yang ikut makan malam di rumahnya. Sosok yang menyukai sang Ibu, usianya sendiri masih terlalu muda untuk menyukai seorang wanita tua seperti Kushina. "Kita makan malam bersama, silahkan dimakan, Kiba-kun."
"Ya, Kushina-baasan."
Naruto menutup matanya sejenak, dia lalu menyunggingkan sebuah senyum cerianya, seolah tak terjadi apa-apa, serta bertingkah layaknya sosok lain. Perasaan benci itu akan selalu ada dihatinya, tertutup oleh sebuah sifat ceria yang menjadi topengnya. Tapi, dia tak bisa terus menyembunyikan semuanya, dia menunggu waktu yang tepat untuk melepas topeng itu.
Serta semua beban yang terasa sangat berat di kedua pundaknya.
Netranya bergulir pada interaksi keduanya, Kiba dan Kushina mengobrol dengan akrabnya dan melupakan sosok dirinya yang saat ini tengah menikmati makan malamnya dengan khidmat, Naruto tak terlalu memperdulikan obrolan akrab dari Kiba serta Kushina, dia tak akan sudi jika Kiba mengambil hati Kushina, ataupun menjadi kekasih bagi ibu kandungnya.
Kushina hanya miliknya, bukan milik siapapun. Dia tak mau tangan lelaki lain menyentuh Ibunya.
"Jangan marah, dirimu yang kegelapan akan menguasaimu."
Seekor Rubah mulai berbicara di dalam pikirannya, Naruto mencoba untuk menenangkan dirinya. "Mungkin jika Kiba menikahi Kaasan, aku akan membiarkan kegelapan menguasaiku. Miris juga memikirkan hal tabu ini."
"Jika aku jadi dirimu, aku akan mengusir bocah itu dari hadapan Kushina."
"Itu juga akan kulakukan saat ini juga. Tapi aku tak mau mengecewakan Kaasan."
Rubah tua itu tertawa keras di dalam pikirannya. "Obsesimu memang aneh, tapi apapun itu aku akan mendukungmu, Naruto."
"Terima kasih Kurama."
Sang Rubah tersenyum, Naruto benar-benar membuat dirinya berubah setelah dua Jinchuuriki sebelum dirinya tak bisa membuat dia berteman. Serta, hanya bersama Naruto saja, Kurama bisa membuat ikatan pertemanan dengan manusia yang selama ini menjadi musuhnya.
"Terima kasih atas makanannya," ucap Naruto. Pemuda pirang itu membereskan peralatan makannya, dan membawanya ke wastafel. Dia mencuci peralatan itu dalam diam, dia menghiraukan tatapan bingung yang diberikan Kushina pada dirinya. "Kaasan, apa ada yang kau butuhkan? Sepertinya kau terus memperhatikanku?" tanya Naruto tanpa memperhatikan Kushina. Insting Naruto sangat peka saat dirinya sedang di awasi ataupun diperhatikan.
"Tumben kau diam? Biasanya kau paling berisik."
"Aku ingin menembekkan Bijuu dama pada Kushina."
"Kurama, tenang!" Naruto meletakkan peralatan itu pada tempatnya, dia berbalik sambil mengusap kedua tangannya yang basah dengan sebuah kain. "Aku dari tadi diam?" tanya balik Naruto. Dia meletakkan kain itu di atas meja dapur, lalu berjalan mendekati keduanya. "Tidak masalahkan jika aku jadi pendiam?"
"Ti-tidak apa sih, la-lagipula itu hakmu."
Naruto tersenyum mendengar jawaban Kushina, senyuman itu terlihat datar dan tak ada arti apapun. Dia benar-benar ingin membuka topengnya saat ini. "Baiklah, sampai nanti, aku akan ke kamar untuk istirahat. Jika butuh sesuatu, kau tinggal ketuk saja kamarku," pamit Naruto. Dia berjalaj menuju kamarnya meninggalkan Kushina dan Kiba yang belum menyelesaikan makan malamnya.
Di dalam kamarnya, Naruto menatap langit-langit kamar, ia mencoba untuk merilekskan tubuhnya, kedua matanya masih terjaga karena tak mengantuk sama sekali. Itu hanyalah sebuah alibinya untuk menghindari pertanyaan basa-basi dari Kushina. Semakin lama, dia semakin ingin merengkuh wanita cantik itu, dia menginginkan hubungan yang lebih dari sekedar keluarga.
Sebuah hubungan tabu yang membuat banyak orang jijik melihatnya.
Dia sendiri sebenarnya jijik dengan orientasi seksualnya, tetapi dia tetap menjalani segalanya, dan menyimpan perasaan itu di dalam lubuk hatinya.
Sampai saat ini Naruto memang tak ingin berurusan dengan wanita manapun, ia menyukai Sakura hanya alibi untuk menjadi Rival Sasuke, lalu dia tak membalas perasaan Hinata karena dia tak punya perasaan pada gadis itu. Tak ada wanita yang bisa membuat dirinya jatuh cinta, kecuali Kushina itu sendiri.
Wanita cantik berambut merah panjang.
Dia beranjak dari tempat tidurnya, sensornya mengatakan jika ada suatu hawa negatif yang berada di dekat dirinya. Sensor negatif itu ia dapat saat berhasil berteman dengan Kurama, serta dia berusaha untuk menajamkannya setelah latihannya bersama Kakashi beberapa waktu yang lalu.
Saat ini, dia merasakan hawa negatif itu. Tak sekelam hawa Negatif yang dikeluarkan Nagato. Naruto membuka pintu kamarnya, dia berjalan menuju ke dapur tempatnya tadi melaksanakan makan malam.
Netra biru itu berubah menjadi merah menyala, tatapan tajam itu ditujukan pada sosok Kiba yang ingin mencium sang Ibu.
Hawa negatif itu dari Kiba, dan dia sudah merasakan itu sejak masuk ke dalam rumah.
"Oh, jadi ini niatmu untuk terus makan malam bersama kami," ujar Naruto. Dia menekankan setiap kata yang keluar dari mulutnya. "Kau anjing yang terus mengejelku Deadlast! Kau yang selalu berada di dekatku ini ternyata mempunyai tujuan tertentu, hah?!"
"A-aku bisa jelaskan Naruto." Pemuda itu mencoba untuk merapikan kembali pakaiannya, keringat dingin membanjiri tubuhnya, dia merasakan sesuatu yang buruk akan terjadi setelah ini. "I-ibumu menggodaku tadi, i-itu benar, ibumu menggodaku!"
"..." Mata merah Naruto melihat Kushina yang saat ini tengah meringkuk di bawah, wajahnya begitu pucat pasi saat akan diperkosa oleh Kiba. Naruto mencoba untuk menenangkan dirinya, tetapi... "Aku mungkin tak masalah jika menjadi seorang Nuke-nin hanya karena membunuh seorang Heir dari Klan terkenal di Konoha."
Tubuh Kiba semakin bergetar, dia tak menyangka dibalik wajah ceria itu, ada sebuah kengerian di dalam sana. Pantas saja semua warga dulu mengacuhkan Naruto.
Karena jukukan Monster Rubah itu bukan isapan jempol belaka.
"Kali ini aku memaafkanmu," ujar Naruto. Kedua matanya berubah kembali menjadi biru laut, tapi lebih gelap seolah itu adalah dasar samudra. "Lebih baik kau pergi, dan jangan kembali lagi, anjing kampung. Pergi dari rumahku, bedebah sialan!"
Kiba segera keluar dari rumah Naruto, hawa intimidasi dari pemuda pirang itu sungguh mengerikan, dia tahu kenapa Naruto bisa membunuh ketua Akatsuki yang kekuatannya di atasnya.
Level Naruto lebih tinggi daripada dirinya.
...
..
...
Beberapa hari setelah kejadian itu, ada beberapa gosip yang mengatakan jika Kushina menggoda calon pemimpin Klan Inuzuka. Gosip itu terus menyebar hingga sampai di telinga Kushina. Waniat itu tak mau keluar, dia benar-benar menggurung dirinya di dalam kamar setelah gosip itu terdengar olehnya, dia tak bisa mengatakan apa yang terjadi sebenarnya karena semua warga mempercayai Kiba.
Naruto yang mendengar itu menyuruh Kushina untuk berada di rumah saja, sembari memasang sebuah pelindung di pinggiran rumah mereka.
Kushina sendiri mengingat bagaimana kehidupannya dulu bersama Minato, dia benar-benar mencintai suaminya itu, sampai saat ini. Walaupun sang Suami telah meninggal saat menyegel Kyuubi pada tubuh Naruto.
Ngomong-ngomong soal Naruto, dia mendengar kalau putra semata wayangnya itu berteman dengan Kyuubi bertahun-tahun yang lalu. Dia juga merasakan hawa intimidasi yang sangat kuat saat Kiba mencoba untuk memperkosanya, hawa kebencian yang sangat kuat dari makhluk mengerikan.
Dia mantan Jinchuuriki, tapi dia tak bisa melakukan hal tersebut, dia tak pernah bertemu Kyuubi, bahkan hanya untuk berinteraksi saja pun tak bisa. Kyuubi sendiri masih menyimpan kebencian mendalam pada Manusia seperti dirinya. Kecual dengan Naruto, dia bingung bagaimana Naruto bisa berteman dengan sosok mengerikan itu.
"Kaasan, makan siang."
Kushina mengerjapkan matanya beberapa saat, dia mendengarkan Naruto yang memanggilnya untuk makan siang. Segera, dia beranjak dari tempat tidurnya untuk keluar mengambil makanan tersebut, dan di saat dia membuka pintu itu, Kushina dikejutkan dengan sosok pemuda gagah dengan kemeja hitam, serta celana pendek dibawah lutut berwarna orange. "Kau... Naruto?"
Sebuah senyuman ramah terpatri di wajahnya. "Terkejut, maafkan aku. Tapi aku mengubah penampilanku saat ini."
Sebuah rona merah keluar di pipi putih Kushina, wanita itu mengangkat tangannya, dan mencoba untuk menyentuh pipi putranya itu. Dia merasakan permukaan kulit Naruto yang lembut, pemuda itu mulai merawat dirinya sendiri. "Kau bertambah tampan."
Rona merah menyembur di kedua pipi Naruto. "Terimakasih Kaasan, sekarang kita makan dikamarmu."
Kushina menganggukkan kepalanya, dia mengizinkan Naruto untuk masuk ke dalam dan makan di dalam kamarnya. Bagi Kushina, hanya Naruto saja yang bisa membuatnya tersenyum, sama seperti dulu. Saat Minato menjadi sosok penyelamat baginya.
Siang itu dilewati Kushina dengan makan siang bersama Naruto, di dalam kamarnya. Putranya sudah berubah setelah kejadian tersebut, Naruto seolah bertambah dewasa. Putranya itu sungguh gagah saat ini, mirip seperti Minato saat itu.
"Kau mirip Ayahmu Naruto."
"Sungguh? Aku tersanjung akan itu, terima kasih Kaasan."
Suara serak itu, Kushina terkejut dengan nada bicara Naruto. Dia mendengar sebuah kedewasaan dari nadanya. "Naruto, katakan pada Kaasan."
"Katakan apa?"
Kushina menggigir bibir bawahnya seolah tak menginginkan perkataan itu keluar. "Kau memakai sebuah topeng untuk berbicara dengan siapapun?"
Tak ada jawaban dari Naruto, dia hanya diam tak mengeluarkan sepatah katapun. Pemuda itu meletakkan mangkuknya di nampan yang ia bawa tadi, helaan napas keluar dari mulutnya. "Apa Kaasan akan menjauhiku setelah aku membukanya?" Kushina menggelengkan kepalanya. "Baiklah, itu semua benar, aku terus memakai topeng yang bernama keceriaan." Ia tersenyum tipis setelah mengatakannya.
"Kau tetap putraku, Naruto. Putra kesayanganku, Kaasan tak akan membencimu kok." Kushina kembali mengelus pipi Naruto. "Kau benar-benar anak Kaasan, mirip mirip seperti Ayahmu yang pendiam."
"Maafkan aku yang tak mewarisi sifat Kaasan."
"Tak apa, kau masih tetap anak Kaasan." Kedua manik Violet itu terus menatap Naruto, dia menikmati wajah tampan Naruto. Rona merah muncul kembali di kedua pipinya, jantungnya berdebar saat tangannya menyentuh pipi Naruto. Ini kedua kalinya. "Tidak, tidak... Tidak mungkin..."
"Kaasan?" Kushina menarik tangannya, dia memeluk tangannya serta menjauh dari Naruto. "Kaasan?!"
"Tidak, ini tak boleh terjadi! Tidak boleh!"
Naruto terdiam sejenak, dia tahu jika Kushina mulai merasakan hal yang sama dengan apa yang ia rasakan saat ini. Sangat mirip, dia pun mulai mengambil sebuah kesimpulan.
Kushina Jatuh cinta pada dirinya.
Kushina sendiri terus bergelut dengan pikirannya, dia harus bisa mengembalikan pemikiran rasionalnya. Ia tak mau memikirkan sebuah hal tabu yang bisa menjadi bumerang baginya. Tapi dia malah dikejutkan dengan sebuah benda lunak yang menyumbat bibirnya, rasanya manis bahkan lebih manis daripada madu.
Tubuh Kushina menegang merasakan bibir basah itu. Kedua violetnya membola sempurna saat putra semata wayangnya itu mencium dirinya, tubuhnya ditarik oleh Naruto, dan pemuda itu merengkuhnya saat dia lengah, dia juga kembali mencium Kushina dengan lembut.
Kushina merasakan sebuah perlindungan saat Naruto merengkuh dirinya, tubuh kekar itu seolah melindungi dirinya dari mara bahaya yang ada, lalu ciuman Naruto seolah menjadi sebuah penenang bagi dirinya sendiri.
Beberapa saat kemudian, Naruto menarik ciuman itu, dia mendekatkan bibirnya pada telinga Kushina. "Kaasan, kau tahu. Aku sangat mencintaimu sebagai seorang lelaki," bisik Naruto. Pemuda itu juga merasakan sebuah sengatan yang terjadi pada tubuh Kushina, Ibu kandungnya itu terkejut dengan sebuah pernyataan dari putra semata wayangnya itu. Naruto menenggelamkan wajahnya pada ceruk leher Kushina, dia mencium wangi yang keluar dari tubuh Kushina. Ia benar-benar menyukai wangi tersebut.
"Naruto...kita Ibu dan anak." Bahu Kushina bergetar, wanita itu mulai mengeluarkan air matanya. "Kita tak bisa melakukan ini. Ini adalah hal tabu," lanjut Kushina. Wanita itu mencoba untuk keluar dari rengkuhan hangat Naruto, tapi hatinya seolah menolak, dia pasrah saat dirinya harus menuruti kata hatinya sendiri.
"Persetan dengan hal Tabu." Kushina terkejut dengan balasan Naruto. "Aku ingin memilikimu Kaasan."
"Aku benar-benar mencintaimu, Kushina."
...
..
...
Naruto mendorong Kushina dengan pelan hingga rebahan di atas kasur, kedua manik biru itu menatap Kushina dengan lembut, Kushina seolah terhipnotis dengan kedua manik biru samudra itu. Bibir Naruto kembali mencium bibir Kushina, kedua tangan mereka saling menggenggam erat saat ciuman itu terjadi.
Kushina menikmati ciuman Naruto, dia memenjamkan kedua matanya saat bibir itu mengcap bibirnya, dirinya benar-benar dibuai oleh ciuman itu. Naruto menyentuh jidat Kushina dengan jidatnya, dia menarik ciumannya. Sebuah senyuman merekah di wajah Naruto. "Aku senang Kaasan membalas perasaanku."
Kushina merona seketika, dia mengerjapkan kedua matanya beberapa kali. "..." Tak ada jawaban yang diterima oleh Naruto, Kushina diam dengan wajahnya yang merona. Sejauh ini, Minato jarang sekali memberikan perlakuan seperti ini, tapi tidak dengan Naruto. Pemuda pirang itu bisa melakukan lebih dari apa yang Kushina bayangkan.
"!"
Kushina merasakan sesuatu menabrak area kewanitaannya. Kedua matanya mencoba untuk menatap kebawah, melihat apa yang ada membuatnya terkejut. Posisinya saat ini menguntungkan Naruto, Kushina berpikir jika Naruto sengaja menabrakkan kejantanan ereksinya pada area kewanitaannya. "Maafkan aku, Kushina."
Wanita itu mengetuk kepala Naruto. "Siapa yang menyuruhmu memanggilku Kushina?" tetapi Naruto hanya tertawa kecil sebagai balasannya. "Tapi Naruto, aku takut akan orang-orang-"
"Jangan khawatir, aku akan meminta izin pada Hokage untuk keluar dari Konoha, dan memulai kehidupan denganmu."
Kushina tersenyum mendengarnya, dia pun mengalungkan kedua tangannya pada leher Naruto, lalu kembali mencium putranya itu.
...
..
...
Pagi ini, Kushina terbangun dari tidurnya setelah sebuah sinar dari matahari berangsur masuk ke dalam kamarnya melalui celah-celah yang ada, dia mencoba untuk membuka kedua matanya. Kesadarannya mulai kembali setelah kejadian semalam, dia tersenyum menatap sosok yang tengah memeluk tubuh mungilnya.
Wanita itu kemudian mencoba mendekatkan bibirnya, dia mencium sekilas bibir Naruto untuk membangunkannya. "Selamat pagi tukang tidur, ini sudah pagi."
Kedua manik biru itu terbuka, dia melihat sosok wanita cantik berambut merah yang tengah tersenyum pada dirinya. "Berikan aku waktu lima menit untuk memelukmu di dalam tidurku. Mimpiku belum selesai tadi."
"Naruto, ini sudah pagi. Seorang Shinobi tak boleh bermalas-malasan."
Naruto tak menjawab, dia malah mengeratkan pelukannya pada Kushina, tangannya menggerayangi pantat sintal Kushina, dan meremasnya dengan lembut.
"Ini masih pagi sayang."
"Tak bisakah kita melakukan ini sebelum melakukan aktifitas lain?"
"Dasar manja."
Keduanya pun saling bericuman untuk kesekian kalinya.
...
..
.
End
