disclaimer © YandereDev
warning AR, OOC, salah genre, PWP (plot? what plot?), confused plot, typo(s), kebutaan EBI, ide klise, diksi ambyar, bahasa gaul, benar-benar random seperti tagarnya.
submitted to #NulisRandom2020


Tersebutlah kisah di kelas 2-1 di Sekolah Tinggi Akademi yang berisikan lima belas murid, di mana keberagaman menyatukan mereka semua. Dimulai dari tampang-tampang preman pasar seperti Gaku Hikitsuri dan Unagi Denkashiza, tukang gibah seperti Hana Daidayama, tampang anak-anak alim seperti Juku Ren, Daku Atsu, dan Sakura Hagiwara, bahkan tampang datar yang mengalahkan dompet akhir bulan seperti Ayano Aishi pun ada. Betul-betul kelas yang penuh warna-warni.

"Gengs." Gaku sang preman buka diskusi. "Gue mau kalian semua ikut dengan rencana gue."

"What?" sahut Seiyo Akanishi, cowok yang overcinta dengan dunia Barat. "You mesti tell kita-kita dulu you mau what."

"Bangke, apaan sih Piyo, gak jelas," ujar Unagi.

"Nama I itu Seiyo, dasar Ragi."

"Seitan!"

"Una—"

"Stop, gue gamau isi fanfiksi ini cuman penuh dengan bacotan kalean berdua aja," potong Gaku. "Gue mau ngajak kalian—"

"Nobar The World of Married?"

"Nyanyi Gurenge versi koplo?"

"Mabar Pabji?"

"BUKAAAAAAAAN!" Gaku menggebrak meja. Keempat belas siswa tampak geger. "Gue mau kita berdoa supaya Kyoshi Taiso-sensei sekaliiiiiiii aja nggak ngajar kita, alias jamkos!"

"Doa doang?" tanya Sukubi, pemuda yang mengusulkan koplo massal tadi.

"Gue belum mau mati muda, haha."

Sepreman-premannya murid, takut guru juga.


Mayoritas para murid setuju dengan ide Gaku. Sebut saja Beshi, Enpitsu, Riku, Yaku, Juku, dan Hana yang langsung antusias mendengarnya. Nama-nama yang telah muncul di bagian sebelumnya adalah pengikut sejati Gaku, sehingga tak perlu dipertanyakan lagi keikutsertaan mereka dalam acara aneh bin ajaib nan tidak berakhlak ini. Sementara sisanya tampak netral-netral saja, seperti Sakura dan Daku yang memang punya masalah kesehatan, Ayano yang masih setia dengan muka sedatar tembok sekolah, Osana yang nyengir cantik, dan Raibaru yang sebenarnya ingin protes kalau saja sang sahabat—Osana—tidak mendukung konspirasi ini..

"Oke, mari kita berdoa semoga hari ini turun hujan," titah Gaku. "Berdoa, dimulai."

Siang itu benar-benar turun hujan, akan tetapi kegiatan olahraga dialihkan ke gedung olahraga. Semuanya dihukum karena terlambat mengganti seragam olahraga.


"Oke, sejak hari Minggu kemarin, gedung olahraga kita dipakai untuk persiapan pentas seni, jadi tidak mungkin kita akan berolahraga di sana. Sekarang, mari kita berdoa semoga hari ini turun hujan," titah Gaku, lagi. "Berdoa, dimulai."

Siang itu benar-benar turun hujan, akan tetapi Taiso-sensei mengganti kegiatan praktik dengan memberikan teori di kelas.


"Oke gaes, jangan menyerah—"

"Apaan dah Gak," sambar Sukubi sambil memotret apa saja, gabut maksimal sebelum kegiatan belajar-mengajar dimulai. "Dua minggu ini doanya nggak bener mulu."

"Kenapa coba kita nggak doain aja Taiso-sensei sakit? Kan selesai?" timpal Unagi.

"Wuish, bener banget kalean berdua, Bro! Geblek banget gua!" seru Gaku.

Seiyo melotot. "DIH BARU NYADAR."

Gaku menyunggingkan seringai. "Iri bilang bos."

"Gue tahu tolol itu gratis, Gak, tapi nggak usah diborong semua juga kali," komentar Unagi.

"APA LO BI—udah udah! Saatnya kita bersatu demi jam kosong!" Gaku memukul meja tak bersalah. Seisi kelas—yang sudah berkumpul setengah jam sebelum kelas dimulai—pun beralih memperhatikan si preman sekolah. "Mari berdoa semoga Taiso-sensei tidak masuk!"

Siang itu, Taiso-sensei memang berhalangan hadir karena urusan keluarga mendadak, tetapi seorang guru datang menggantikan Taiso-sensei dan menyuruh pemghuni kelas bergerak langsung ke kolam renang, tidak mengikuti silabus kelas mereka yang seharusnya masih dalam lingkup atletik. Siapa namanya? Entahlah, mereka tidak peduli.


"Doain cuaca buruk, udah. Doain Taiso-sensei nggak masuk, juga udah. Mau apa lagi elo, Rambut Pasir?" Hana Daidayama, kang gibah anak buah Musume Ronshaku, melontarkan pertanyaan dengan nada tak suka alias nyolot. "Keknya cukup sudah kita semua mengikuti jalan kesesatan bersama elo."

"Nggak sekalian ngedoain mata pelajarannya ilang?" celetuk Riku.

"Yang itu rada mustahil, sih," komentar Sukubi.

"Kalau kalian punya ide yang lebih baik, jangan cuman meledek!" gertak Gaku.

"Ide apalagi yang lebih baik selain menurut saja? Lagi pula kita bayar sekolah untuk pendidikan, bukan jam kosong." Datanglah Raibaru yang pada akhirnya sukses melayangkan protes. "Kalian benar-benar aneh."

"Tapi Raibaru, aku juga kepengen ngerasain jam kosong sekali saja. Sekolah ini terlalu ketat," ungkap Osana.

"Aku tahu!" seru Unagi. "Gedung olahraga masih dalam persiapan, kita doakan saja hujan dan Taiso-sensei nggak masuk. Guru pengganti pasti bingung mau ngajar apa, ya nggak?"

"Oke, semuanya! Mari kita berdoa!"

Siang itu hujan memang turun dan lagi-lagi Taiso-sensei tidak masuk. Akan tetapi, tidak seperti yang diharapkan, guru pengganti yang sama datang dengan membawa soal kuis titipan. Nyaris seisi kelas panik karena kuis dadakan.


"Semuanya, mari kita berdoa semoga Taiso-sensei amnesia atau mata pelajaran Penjasorkes dihapuskan untuk selamanya."

"Sebegitu bencinya dengan mata pelajaran Penjasorkes, ya?"

"Berdoa, mulai!"

Sungguh, kewarasan kelas 2-1 patut dipertanyakan, dimulai dari Gaku sang pionir hingga seisi kelas yang masih mau saja mengikuti kegiatan tak berfaedah tersebut.


Minggu ini, setelah sebulan percobaan, akhirnya mereka pasrah dan tak mau lagi berharap.

"Kenapa kalian ganti seragam?"

Pertanyaan Taiso-sensei sukses mengagetkan seisi kelas.

"Kan jam olahraga, Sensei?" tanya Unagi sambil melihat jam tangannya. Ada sepuluh menit sebelum jam satu, jam olahraga. Itu juga merupakan alasan mengapa mereka begitu tidak suka dengan mata pelajaran tersebut; waktunya siang bolong, saudara-saudara! Bisa-bisa mereka jadi kanebo kering!

"Kemarin kepala sekolah sudah memberitahu bahwa hari ini akan ada seminar sampai jam pulang sekolah," jawab Taiso-sensei. "Saya mencari kalian semua dan ternyata kalian di lapangan."

"YA TUHAN, LUPA!"

"KOK BISA LUPA SIH KITA?!"

"BERARTI KITA NGGAK OLAHRAGA, DONG?"

"JAMKOS!" sorak Gaku tanpa sadar. Impiannya setelah sekian lama akhirnya terwujud juga. "Eh tapi-tapi ... sampai pulang sekolah? Sampai jam enam? Berarti lima jam dong, Sensei?"

"Ya. Sekarang kalian semua harus segera ke aula."

"YAAAAAHHHHHHH!"

Untuk kali pertamanya, Gaku dan nyaris seisi kelas berharap lebih baik jam olahraga saja.


tamat


~himmedelweiss 13/06/2020