The Wolf Lord's Lady
Dislaimer: Based on MORINO Ion Novel
Ookami Ryoushu No Ojou-Sama
Character: Masashi kishimoto
Translated: KEY-Keziaaditya.
.
Lembar 1:
Akhir seperti ini, Kau dan Aku
.
Keluarga kami merupakan penguasa yang mengatur banyak hak kepemilikan yang seluruhnya didapatkan dari kegiatan militer leluhur kami. Wilayah yang kami terima dari perbuatan nenek moyang kami… wilayah yang kami kuasai selama ratusan tahun.
Namun, tidak semua penguasa memerintah dengan bijaksana dan berbelas kasih. Terutama, kakek dan ayahku yang sangat kejam, hingga membuat seluruh rakyat menderita dan menangis. Demi kemewahan, mereka mengeksploitasi rakyatanya dan wilayah yang awalnya makmur dengan cepat mengering dan tandus.
Tentu saja ada banyak penolakan dan amarah yang muncul, namun ayah dan kakek menganiaya mereka yang memberontak dan mengeluh, seolah-olah berkuasa melalui ketakutan rakyatnya merupakan hal yang alami terjadi.
Keluarga kami disebut orang-orang sebagai keluarga terkeji dari biadab-biadab terkutuk lainnya.
.
.
Jadi…. tidak mengherankan jika hal ini terjadi.
Aku menatap hampa rumah yang terbakar itu. Rumah yang memiliki keindahan seperti istana itu kini terbakar. Aku melirik ke arah bawah dan melihat hal yang sama terjadi pada taman-taman yang terawat dengan indah. Taman yang diurus oleh banyak tukang kebun, yang akan langsung diperbaiki hanya dengan satu kata ketidaksukaan Ibu terhadap warna bunga saat itu.
Taman yang diurus dan dirawat dengan ketulusan para pelayan…ah tidak, dengan keinginan agar tidak terbunuh, saat ini terbakar dengan asap putih yang tercampur menjadi asap hitam pekat.
Bunga yang sebelumnya aku tanam, yang ingin aku berikan kepada-nya, belum mekar. Sangat menyedihkan melihat bunga yang tidak akan pernah mekar lagi. Karena seseorang sepertiku menanamnya di taman ini, benih itu mati bahkan tanpa memiliki kesempatan untuk berubah menjadi bunga.
Dengan tangan terpelintir dan lutut menyentuh tanah, di depan mataku terpajang kepala ayah dan ibu yang selalu memanggil warga dengan sebutan babi. Sementara itu, kakek dan nenek mengunci diri di ruang bawah tanah yang sebentar lagi akan terbakar hidup-hidup. Sekalipun aku menundukan kepalaku untuk mengenyahkan seluruh pemandangan ini, aku dikelilingi begitu banyak wajah penuh dendam dan kebencian yang lebih besar lagi.
Di depanku beberapa tentara datang, berbaris dengan senyum sumringah setelah memastikan seluruh subjek keluarga kami mati. Diantara mereka, seseorang dengan baju besi yang berbeda, merupakan seseorang yang sangat penting dalam tentara pemberontak… tidak, tentara revolusioner. Pria itu dengan santai menghapus darah dari pipinya, darah dari seseorang yang kukenal, dan berbicara dengan seseorang di sebelahku.
"Sasuke-sama. Anda telah bekerja keras untuk bertahan disini dalam waktu yang lama."
Rambut pirangku yang tadi pagi tersisir rapi, saat ini terurai dan beberapa helainya terjatuh di depan mata, mengaburkan pandangaku. Dengan asap yang mengepul dan keadaan rambut seperti ini, alangkah baiknya jika aku tidak bisa melihat apapun. Namun tentu saja, apa yang aku harapkan tidak terjadi.
"Tidak, kalianlah yang sudah bekerja sangat keras."
Bahkan dalam kondisi menyedihkan seperti ini, suara pria itu mampu membuat jantungku berdenyut tidak normal.
"Sasuke-sama, anda tidak seharusnya memainkan peran sebagai seekor anjing dari mereka."
"Hei, jangan begitu. Tidak ada orang lain diantara kita yang memiliki usia pas untuk peran ini"
"Begitukah…. tapi Sasuke-sama, rasanya anda menghentikan jantung kami setiap hari karena peran ini." Pria itu, Sasuke , menatap prajurit yang sedang mengeluarkan perasaan pahitnya.
Ah ya… di dalam memoriku, nama pria itu Sukkon, berusia 16 tahun, setahun lebih muda dariku, berambut cokelat, dan memiliki mata gelap yang indah. Ibu memperkerjakannya karena wajahnya yang rupawan. Selama dua tahun bekerja, ia tidak pernah tidak senang dengan pekerjaan sesepele apapun, menerima semua pekerjaan dengan tersenyum.
Semua orang menyukainya.
Diantara para pelayan yang sering berganti, ia masih sangat muda, dan selama dua tahun itu dia tidak pernah marah pada siapapun.
Namun, saat ini berbeda.
Aku hanya mampu tersenyum tipis karena prajurit itu memanggilnya Sasuke. Aku bahkan tidak tau apakah usianya juga merupakan kebohongan. Semua yang aku ketahui tentangnya, mungkin itu semua salah…
Kekhawatirannya karena tinggi badannya yang pendek, senyum malu-malunya ketika terdapat noda di hidungnya setelah membersihkan loteng, kesukaannya terhadap binatang, wajahnya yang memerah ketika mendapatkan bunga dari gadis di kota, kebaikan hatinya hingga tidak ingin membunuh serangga sekecil apapun, Ia yang menggunakan jatah berliburnya untuk pergi ke kota dan membelikanku, yang tidak bisa tertidur, daun teh chamomile.
Ia yang merupakan kekasihku….
Seluruhnya adalah kebohongan.
Sambil berlutut, aku diam-diam mengalihkan pandangan dari Sukkon yang menghibur orang-orang di sekitarnya.
.
.
.
Aku tidak berpikir dua kali untuk bersandar pada dinding batu sel penjara yang dingin dan duduk di tempat tidur jelek yang kelihatannya akan ambruk kapan saja. Sesuatu yang baru pertama kali aku lihat di dalam hidupku
Rambut pirangku acak-acakan. Gaunku robek di beberapa sisi. Wajahku kotor karena aku tidak ingat kapan terakhir kali aku mandi.
Sudah berapa lama waktu berlalu? Sudah berapa hari aku terkurung disini? Sekalipun aku menghitung jumlah dari makanan yang diberikan kepadaku, aku tidak dapat mengetahui sudah berapa hari berlalu.
Aku tidak peduli. Aku menundukkan kepalaku lagi
Menghitung hari tidak berarti apa-apa bagiku.
.
.
.
Aku mendengar langkah kaki.
Bergema disepanjang lorong dan berhenti tepat di depan sel-ku.
Aku tahu kamu akan datang, akan lebih baik jika aku dapat mengatakan ini.
Sambil menundukkan kepala, aku menertawakan diriku sendiri.
Sukkon akan datang, Aku dapat mengatakan ini dengan percaya diri. Tetapi karena aku bahkan tidak tahu dimana Sukkon yang aku kenal sebelumnya, aku tidak dapat memprediksi tindakan laki-laki di depanku saat ini. Tanpa merapikan rambut pirangku yang acak-acakan, perlahan- lahan aku mengangkat kepalaku.
Pemandangan didepanku terlihat menakjubkan. Rambut hitam dan mata gelap, yang jika dilihat dengan posisi yang berbeda, bola matanya akan terlihat sedikit merah.
Ah… bahkan warna rambutnya pun merupakan kebohongan? Aku tidak memiliki energi lagi untuk mencemooh diri sendiri.
"…..Ojou-sama"
Aku menyukai suaranya yang tenang dan damai. Aku menyukai ucapannya yang lembut dan ramah. Tetapi aku tidak ingin mendengarnya, tidak ingin lagi.
"Apa yang Anda inginkan,Tuanku? Apakah Anda disini untuk mengejek wanita bodoh yang menghancurkan diri sendiri karena tergoda oleh pria yang lebih muda"
"Ojou-sama."
"Jangan menggertakku terlalu keras. Bukankah Anda dulu sering mengatakannya? Saya hanyalah seorang wanita yang hidup terlindungi dan bodoh. Apa lagi yang Anda inginkan dari wanita sengsara yang hancur karena memberikan segalanya untuk cinta pertamanya? Rumah besar? Tidak ada. Gaun? Tidak ada. Perhiasan? Tidak ada. Keluarga? Tidak ada lagi."
Aku memberanikan diri untuk menatapnya yang terdiam. "Kekasih? Tidak pernah ada dimanapun."
"Ojou-sama…."
"Tentang korupsi ayah? Saya tidak pernah tahu dari awal. Itu sebabnya Anda membutuhkan waktu dua tahun. Maaf jika gadis bodoh ini tidak mengetahui apapun, Saya akhirnya membuang- buang waktu berharga Anda… Saya minta maaf. Betapa menyedihkannya Anda harus bermain-main untuk memenuhi khayalan wanita tua seperti Saya… memainkan peran sebagai seorang kekasih"
"Ojou-sama!"
Dari teriakannya saat ia memegang erat jeruji besi, aku menutup mulut.
"Ojou-sama, Anda tidak tahu apa-apa. Anda tidak melakukan kesalahan apapun. Anda hanya tinggal di rumah besar, hanya itu yang cukup Anda katakan. Mengapa Anda tidak bersaksi demikian? Mengapa Anda mengakui dosa yang tidak Anda lakukan? Saya tidak bisa menenangkan keributan orang-orang pada tahap ini"
Aku tertawa getir. Tidak tahu apapun katamu?
"Saya tahu kakek membeli lukisan baru setiap minggu. Saya tahu bahwa ayah membeli lebih banyak lagi tanah. Saya tahu nenek membeli perhiasan setiap akhir pekan. Saya tahu bahwa ibu membeli gaun baru setiap awal minggu. Saya tahu tukang kebun diganti, saya tahu bahwa para pelayan diganti, saya tahu lumbung-lumbung diganti. Tanpa memikirkan makna dibalik itu semua, Saya menjalani kehidupan mewah selama tujuh belas tahun. Apakah Saya tidak cukup berdosa?"
Rumah penguasa yang lebih buruk dari binatang buas. Itulah yang diteriaki semua orang.
Julukan itu pasti benar.
Sebagai peguasa, sebagai manusia, sebagai pria, sebagai wanita, sebagai orang dewasa…Tidak peduli apapun, kami adalah yang terburuk…
…tapi mereka adalah keluargaku.
Sebagai seorang ayah, sebagai seorang ibu, sebagai seorang kakek, sebagai seorang nenek, mereka bukanlah iblis atau mahluk buas, mereka hanya manusia normal. Aku juga memiliki tanggung jawab dalam kekacauan ini karena tidak menasihati mereka. Jika hidup mewahku yang didapat dari perbuatan mereka bukanlah dosa, lalu disebut apakah itu?
Dari sejak aku dilahirkan dari dosa-dosa mereka, aku adalah pendosa yang kejam.
"Terlebih lagi jika Saya mengatakan pembelaan itu, apa yang akan terjadi? Apakah Anda akan membiarkan Saya pergi tanpa membayar apapun? Apakah Anda akan mengembalikan rumah besar, taman, keluarga, dan seluruhnya yang Saya miliki? Hmm… bukankah itu hal yang hebat?"
Pria itu menghela nafas. "Anda akan tinggal di sebuah biara di gunung. Anda tidak akan pernah bisa kembali ke wilayah ini, namun Anda akan tetap hidup."
"Jadi kamu ingin Aku hidup dan tenggelam dalam cacian selamanya. Betapa kejam."
.
"…Aku hanya ingin kamu hidup." Sukkon menundukkan kepalanya.
.
Spontan aku tertawa terbahak-bahak. Aku bermaksud tertawa dengan senang, namun suara tawa yang keluar justru terdengar menyedihkan.
.
"Pembohong."
.
Wajah pria itu membeku dan menunjukkan ekspresi yang lucu.
Namun, aku menyadari hal yang paling lucu adalah….,
"Pasti sangat menggelikan bagi Anda. Melihat jantung wanita ini berdebar dan bibirnya melengkung hanya dari senyuman yang Anda berikan. Ah… kalau dipikir-pikir, sapu tangan yang Saya sulam dengan buruk, Saya tidak pernah melihat Anda menggunakannya. Apakah anda menyingkirkannya di hari Saya memberikannya? Saya bahkan membuat kue yang belum pernah saya coba sebelumnya. Apakah Anda memberikan sisa kue itu ke babi dan ternak lainnya?"
"Ah ya… Aku bahkan menanam bunga untuk diberikan pada hari ulang tahunmu. Mungkin saat ini sudah berubah menjadi abu. Bukankah sungguh melegakan, tidak mendapatkan bunga dari seseorang seperti wanita ini?"
Sukkon tidak mengatakan apapun. Dia menundukkan kepalanya dengan ekspresi lucu itu. Ketika ia mengangkat kepalanya lagi, tidak ada emosi apapun di wajahnya.
"Untuk meluangkan waktu berbicara denganmu, Aku sungguh-sungguh memperhatikan pelajaran yang tidak aku suka. Semua informasi yang aku dapatkan dari pelajaran itu, ketika kita bercerita, itu semua hanya bagian dari peranmu sebagai mata-mata… Aku melakukannya dengan baik, bukan?"
Aku tertawa getir sambil mengingat-ingat seluruh kebodohan yang pernah aku lakukan.
"Aku terjaga hingga pagi hari untuk menyelesaikan pekerjaan rumahku…saat itu kupikir tidak apa-apa kabur dan meninggalkan rumahku jika bersamamu, jadi Aku belajar Bisnis meskipun aku tidak pandai dalam hal itu. Aku diam-diam belajar memasak, mencuci, dan membersihkan rumah dan Oh!... Saat itu Anda khawatir karena tangan saya penuh luka dan memar, tetapi Saya ingin tahu apakah Anda benar-benar peduli…"
"… atau Anda berpikir luka itu bermanfaat untuk Saya? Saya ingin tahu apakah Anda kecewa karena ingin Saya terluka lebih parah lagi. Apakah Anda akan tersenyum jika jari Saya terpotong?"
Ahh… Aku ini sungguh wanita bodoh dan konyol. Wanita bodoh ini yang otaknya lebih buruk dari anjing hutan.
"Agar tidak menjadi sumber masalah, singkirkan Aku sepenuhnya. Bukankah itu keinginanmu? Nah… ayo puji kepintaranku…"
….Kekasihku tersayang.
Ketika aku membisikan julukan itu sambil tertawa, Sukkon hanya terdiam.
"….jadi itu pilihanmu."
Ketika aku tertawa menanggapi ucapannya, Sukkon sudah pergi dan tidak ada dimanapun.
Seperti seseorang yang berpisah dengan masa lalunya, dia tidak pernah melihat kebelakang.
.
.
.
Batu-batu melayang di udara.
Kutukan-kutukan terucap di setiap sisi.
Kecaman yang dibenarkan merajalela.
Di tengah-tengah itu, dengan tangan yang terkunci pada kayu, aku berjalan di jalanan ibu kota. Aku berjalan menuju pengadilan sambil tertunduk, hanya mengangkat kepala ketika sudah sampai di tujuan.
Apakah sebelumnya ada begitu banyak orang di kota ini?
Aku memiliki banyak kenangan ketika pergi ke kota untuk berbelanja dengan ayah dan ibu, namun ketika itu, kota sangat sepi. Dalam kilas balik di dalam memoriku, aku mengingat penduduk kota yang bersembunyi agar terhindar dari kemarahan atas kesalahan yang tidak mereka lakukan, untuk tidak terbunuh karena alasan konyol. Berbeda dengan kondisi kota yang dingin dan berbau kematian kala itu, saat ini panas yang menggebu-gebu terpancar.
Panas karena kebencian kepadaku.
Aku dipaksa berlutut oleh tentara. Rambu pirangku yang tergerai dijambak kuat sehingga aku dapat menatap ke depan. Orang-orang berteriak dengan amarah yang tertahan di tenggorokan mereka. Namun semuanya itu terdengar campur aduk dan aku tidak dapat mendengar mereka dengan baik.
"Toko saya disita!"
"Bunuh!"
"Anak-anak mati kelaparan!"
"Bunuh!"
"Suamiku yang mencoba melaporkan pada Raja, dibunuh!"
"Bunuh!"
"Kembalikan tanah yang diwariskan turun temurun!"
"Bunuh!"
"Putriku tidak pernah kembali dari rumah itu!"
"Bunuh!"
"Bunuh! Bunuh! Bunuh! Bunuh! Bunuh!"
Aku hanya dapat mendengar satu kata itu dari sini. Banyak kejahatan berbeda yang mengalir dari keluar dari mulut warga. Aku tidak tahu apakah itu semua adalah dosa keluargaku atau hanya ketidakberuntungan mereka. Sebagai contoh, salah satu pasangan di depan pengadilan ini, putrimu bukan tidak pernah kembali. Ia saat ini sedang kawin lari dengan pelukis keliling.
Meski begitu, kebenaran ini tidak ada artinya. Bahkan jika sepuluh atau dua puluh dosa ditambahkan, tidak ada artinya. Aku telah melakukan begitu banyak dosa.
Aku hanya menggerakan pandanganku melihat orang yang duduk pada posisi lebih tinggi. Rambut hitam dan mata gelap kemerahan. Satu-satunya yang tidak berubah adalah matanya, namun cahaya lembut, ramah, dan kucintai tidak ada lagi di mata itu.
Setelah tatapanku bertemu matanya, aku membuka mulutku.
"Orang bodoh yang kurang ajar!"
Aku khawatir jika suaraku tidak keluar dengan baik karena aku tidak pernah berteriak seperti ini sebelumnya. Namun suaraku tidak gemetar dan aku berbicara lebih baik dari yang aku perkirakan.
"Beraninya kau, serangga rendahan, menyentuhku! Kalian harus memeras uang jika ingin menyentuhku. Suatu kehormatan bisa bekerja untuk wanita cantik dan mulia ini, tetapi kalian tidak puas dengan itu, betapa tidak tahu malu! Kau pikir siapa yang membiarkanmu tinggal disini! Kalian adalah serangga bodoh yang hidup dengan tujuan untuk digunakan olehku! Sekarang bunuh orang bodoh ini dan selamatkan aku!"
Seluruh kota mendadak sunyi senyap. Aku terengah ketika melanjutkan kembali kata-kata yang tidak pernah keluar dari mulutku.
"Hei, wanita jelek disana! Kemari kau! Aku akan memberikanmu kehormatan untuk melayaniku. Pria disana! Siapkan kereta kuda berkualitas terbaik yang dipesan dari ibukota. Ahh… Aku juga lapar. Siapkan makanan! Tapi bukan pakan babi seperti yang kalian makan. Siapkan makanan manusia yang layak"
Batu, kutukan, kebencian.
Kayu, keheranan, sukacita.
"Lakukan dengan cepat! Aku memerintahkan kalian!"
Sementara amarah warga kembali menggelora dan banyak benda dilayangkan, dari sudut mataku aku menatap pria itu untuk terakhir kalinya.
Sukkon… Ah tidak, Sasuke Uchiha mengangkat tangannya mengizinkan besi tajam turun menuju leherku.
.
Berakhir seperti ini, kau dan aku.
.
Hal yang tidak pernah ada, kau dan aku.
.
dan hati wanita bodoh ini yang seharusnya membeku, tetapi justru yang paling terluka.
.
Dan demikianlah keturunan terakhir dari penguasa yang melakukan sebanyak mungkin kekejaman, berakhir.
Mayat-mayat itu dibuang, dan mansion mereka dibiarkan terbakar selama tiga hari tiga malam. Tanpa siapapun berdukacita atas kematian mereka, tanpa dibutuhkan oleh siapapun, sebuah keluarga aristrokat dibiarkan membusuk dan menemui akhir mereka.
.
Dan akhirnya semuanya berakhir…
.
…setidaknya, itu yang harusnya terjadi.
.
TBC
*Ojou-sama: Tuan putri. Sama dengan sapaan My lady.
Ini novel jepang berjudul Ookami Ryoushu No Ojou-Sama karya MORION Ion. Novelnya pendek, ada 23 chapter. Aku akan terjemahkan seluruhnya tanpa mengubah apapun kecuali nama tokoh. Mungkin akan ada penggabungan beberapa chapter sehingga lebih padat.
Beberapa sapaan asli jepang juga akan tetap aku pakai, karena jujur agak sulit mencari padanannya di Bahasa Indonesia.
Ini akan jadi project terakhir sebelum aku hiatus Guysss, So pleasee, beri aku semangat untuk mentranslate satu novel ini karena aku sangat ingiiin berbagi cerita ini dengan kalian T.T
Mind to read and review?
.
.
.
KEY-Keziaaditya