Beware of typos!
.
.
.
Chapter 15
Sensasi geli di kuku jari kakinya membangunkan Chanyeol dari tidurnya siang itu, di kamar yang berbeda dan dengan selembar selimut yang menutupi tubuh telanjangnya. Ia menopang kepalanya dengan kedua tangannya dan melirik ke bawah. Nampak seorang gadis yang telah berpakaian rapi dan cantik duduk di bawah kakinya, sedang sibuk mengecat kuku-kuku kaki kanan Chanyeol dengan cat kuku berwarna merah.
"…apa yang kau lakukan, Mila?" tanya Chanyeol pada gadis teman kencannya semalam.
"Well, kau tidak mau bangun," jawab Mila tanpa menoleh, tangannya masih asyik mengecat kuku jempol kaki Chanyeol.
Chanyeol bergumam pelan. Lalu dengan menggunakan kakinya ia menangkap tubuh gadis itu. "Dapat kau," katanya jahil.
"Hentikan itu! Kau akan merusak rambutku," ujar si gadis, memukul pelan kaki Chanyeol agar dilepaskan. ""Oh sejujurnya, pergi dari sini, Chanyeol! Aku harus pergi! Chanyeol!"
Chanyeol kembali bergumam dan menggeliat pelan. Rasanya ia masih mengantuk namun ia ingat bahwa ia sudah tidak pulang semalam. Maka ia memaksa tubuhnya untuk beranjak turun dari tempat tidur. Setelah mandi, bersiap-siap dan menyantap makanan yang telah disiapkan Mila untuknya, ia pun beranjak pergi meninggalkan rumah gadis itu. Tentu setelah memberikan kecupan lembut di bibir gadis teman kencannya itu, sebagai ucapan terima kasih.
Chanyeol pulang dengan menggunakan kereta dan dilanjut dengan menggunakan taksi. Namun saat memasuki Lynn Forest ia memilih untuk berjalan kaki. Ia menyusuri jalan setapak diantara pohon-pohon yang tinggi. Semilir angin musim gugur membuatnya merasa kembali mengantuk. Sesekali ia menguap dan merenggangkan otot-otot tangannya. Saat ia menoleh ke arah sungai tidak sengaja ia melihat seseorang sedang berbaring di pinggir sungai. Entah tidur atau pingsan.
Chanyeol mengernyit saat mengenali sosok itu. Maka ia memutar langkahnya, menuruni tanah tinggi menuju pinggir sungai. "…Baekhyun? Apakah kamu tidur siang?" tanyanya, menghampiri sosok yang ternyata sang adik tiri.
Menyadari kehadiran Chanyeol, Baekhyun yang sedang berbaring dan menutup wajahnya dengan kedua tangannya tersentak kecil, lalu beranjak duduk. Baekhyun duduk memeluk kedua lututnya dan hanya diam menatap sungai. Tiba-tiba matanya yang basah mengalirkan air mata.
Chanyeol terkejut saat Baekhyun menyembunyikan wajahnya di atas lutut dan menangis tanpa suara. "Apakah kau baik-baik saja?" tanyanya.
"Tidak apa…aku hanya homesick," jawab Baekhyun.
Chanyeol terdiam selama beberapa saat, memperhatikan Baekhyun yang masih menyembunyikan wajahnya diatas lutut dan menangis tanpa suara. "Apa kau punya kekasih di Boston?" tanyanya, kemudian.
"…ya," Baekhyun menjawab disela tangisnya.
"Boston tidak terlalu jauh," ujar Chanyeol mengalihkan pandangannya pada aliran sungai yang tenang di depannya. "Kau masih bisa menemuinya sesekali."
"Kami putus…" Baekhyun mengangkat sedikit kepalanya dan mengusap air mata di wajahnya.
Chanyeol kembali terdiam sejenak, berusaha mencari kata-kata untuk menghibur sang adik tiri. "Ada gadis-gadis baik juga London," katanya. "Bahkan meski kita berada di pedesaan, London juga tidak jauh. Setidaknya udaranya bagus di sini, walaupun rumahnya sudah tua…"
Chanyeol menutup mulutnya saat dirasa ucapannya barusan tidak cukup untuk membuat sang adik tiri merasa nyaman. Namun tiba-tiba Baekhyun berucap lirih, "Aku lebih baik tinggal di neraka."
Menyadari sesuatu, Chanyeol menoleh pada Baekhyun. Menatapnya selama beberapa lama. "Begitu. Kau kesal tentang pernikahan kembali ibumu," katanya. "Kau menentang tapi akhirnya diseret ke Inggris tanpa peduli, menendang dan berteriak. Kau juga mungkin menyalahkan putusnya hubunganmu dengan kekasihmu karena itu. Apakah aku benar?"
Baekhyun terdiam mendengarnya. Mengalihkan pandangannya kembali pada sungai di depannya, Chanyeol melanjutkan ucapannya, "Dan tentu saja, kau pikir ayahmu yang mati itu adalah seorang pria terhebat di dunia. Aku tahu kau tidak menyukai ayahku, tapi dia sangat dihormati juga. Sejujurnya, jika itu terserah padaku, aku lebih memilih dia menikahi Irene. Tapi…"
Chanyeol melirik Baekhyun yang tiba-tiba berdiri dan hendak beranjak pergi. "Pernikahan hanya bisa ditentukan oleh orang-orang yang terlibat dalam hubungan. Satu-satunya orang yang mengeluh tentang itu adalah anak nakal manja seperti Sehun. Jika kau sangat membencinya, kembalilah ke Boston. Tidak ada yang akan merindukanmu."
"Kau tidak tahu apa-apa," ujar Baekhyun kesal dan beranjak pergi.
Chanyeol terdiam menatap punggung Baekhyun yang perlahan menjauh pergi. "That's quite a mother complex," pikirnya.
*chanbaek*
"Oh ya ampun!"
Sandara memekik senang melihat sebuah kalung indah yang melingkar di lehernya. Hari ini seorang ahli perhiasan datang ke rumah besar keluarga Lowland untuk mengantarkan sebuah kalung yang dipesan khusus oleh Kris untuk Sandara. Dengan sebuah cermin di tangannya, Sandara melihat kalung baru di lehernya dengan bahagia. Namun Kris nampak tidak puas.
"Itu tidak bagus! Aku tidak menyukai desainnya sama sekali, Hawk," ujarnya pada pria setengah botak yang berdiri di dekatnya sambil terus memperhatikan sang istri.
"Tapi itu adalah barang paling populer kami tahun ini…" ujar Hawk, si ahli perhiasan.
"Oh, benarkah?" Sandara menurunkan cermin di tangannya dan menoleh pada Kris.
"Sandara, ketika kita pergi ke opera atau pesta, kau akan menjadi wanita paling cantik di ruangan," sahut Kris, menghampiri sang istri. "Memakai sesuatu hanya karena itu sedang mode membuatmu terlihat murah. Kau adalah wanita kelas tinggi, kau seharusnya memakai perhiasan kelas tertinggi.
"Oh, Kris…" Sandara tersenyum, wajahnya merona bahagia.
Sementara itu, Chanyeol mengintip di ambang pintu, memperhatikan sang ahli perhiasan yang mencoba menawarkan perhiasan model lain pada Kris dan Sandara. Hannah yang datang dari dapur dan melihat keberadaan Chanyeol pun menyapanya.
"Sudah sepuluh tahun sejak kunjungan ahli perhiasan, bukan?" tanya Chanyeol, menoleh pada Hannah.
"Tidak, lebih dekat ke dua belas tahun sejak kita melihat tuan Hawk. Ketika nyonya sebelumnya dan nona Irene di sini, dia selalu datang dan pergi…" jawab Hannah dengan senyum keibuannya. Kemudian ia teringat sesuatu. "Tapi saya ingin bertanya, apakah anda melihat tuan Baekhyun?"
"Aku baru saja bertemu dengannya di hutan," jawab Chanyeol seraya melepas jaketnya.
"Begitu. Sepertinya dia flu. Dia belum benar-benar menyentuh sarapan dan makan siang…" beritahu Hannah yang nampak sedikit cemas.
"Hmm?" Chanyeol mengernyit mendengarnya. Apa ini? Mogok makan?, pikirnya.
*chanbaek*
Di kamarnya Baekhyun masih tidak bergerak dari tempatnya sejak ia kembali ke kamarnya, duduk melamun sambil memeluk satu lututnya di sofa samping jendela. Namun tiba-tiba suara ketukan pintu membuatnya terkejut. Tubuhnya mendadak gemetar pelan, sejenak ia takut jika itu adalah Kris. Namun kemudian terdengar suara yang dikenalnya dari balik pintu.
"Baekhyun? Apa kau di dalam? Waktunya makan malam."
Itu suara Chanyeol. Selama beberapa lama Baekhyun meragu, ia tidak ingin membuka pintu. Namun Chanyeol pasti akan berpikir ada sesuatu yang salah jika ia tidak membuka pintu. Maka dengan tubuh yang masih gemetar pelan ia membuka sedikit pintu kamarnya dan mengintip keluar.
"T-terima kasih, tapi aku tidak benar-benar lapar…" katanya, berharap dalam hati semoga sang kakak tiri tidak curiga dan segera pergi dari depan kamarnya.
Namun Chanyeol hanya menunduk memperhatikan wajah pucat Baekhyun dan berpikir, mungkin adik tirinya anoreksia?
"Asal kau tahu…" kata Chanyeol mendorong pintu kamar Baekhyun yang hanya dibuka sedikit.
Namun Baekhyun menahan pintunya dengan cepat dan tiba-tiba berteriak dengan takut, "Jangan masuk!"
Chanyeol berhenti bergerak dan menatap Baekhyun lekat-lekat. Menyadari tingkahnya barusan Baekhyun berusaha mencari alasan agar sang kakak tiri tidak curiga, "Um…maksudku…aku tidak ingin kau tertular flu."
"Di samping tempat tidurmu, ada telepon yang memiliki saluran rumah. Tekan salah satu tombol dan kau dapat mencapai dapur," beritahu Chanyeol, menunjuk ke dalam kamar Baekhyun.
Baekhyun terdiam, mengerjap memandang Chanyeol dengan bingung. "Kau bisa memberitahu mereka sendiri mengapa kau tidak bisa turun," lanjut Chanyeol.
"T-terima kasih," ucap Baekhyun.
"Oh, sebelum aku lupa. Bagaimana dengan sekolah? Sebagian besar siswa asrama akan kembali besok. Aku akan pergi juga, tapi bagaimana denganmu?"
"Saat kau bilang "sekolah"…maksudmu, kau masuk sekolah asrama, Chanyeol?"
"Ya, itu sekolah umum. Dekat London."
"Tapi Sehun bilang kelasnya tidak dimulai sampai minggu depan,"
"Sehun masuk sekolah tata bahasa di daerah sini. Dia masih mengompol, jadi dia tidak bisa tinggal di asrama."
"D-dan aku akan pergi ke sekolah yang sama denganmu?"
"Itu yang Dad bilang. Dia tidak bilang apapun padamu?"
Baekhyun tidak menjawab pertanyaan Chanyeol. Mendengar kata sekolah memberikan sedikit harapan bagi Baekhyun. Itu artinya ia bisa meninggalkan rumah ini!
*chanbaek*
"Maaf kami terlambat," kata Chanyeol memasuki ruang makan bersama dengan Baekhyun yang mengikuti di belakangnya.
Semua orang telah menunggu di meja makan, begitu juga dengan para pelayan yang berdiri menunggu di pinggir ruangan. Meja makan telah penuh dengan makanan-makanan lezat yang terhidang. Sandara yang sedang mengobrol mesra dengan Kris tersenyum saat melihat kehadiran Baekhyun. Para pelayan pun bersyukur Baekhyun mau turun untuk makan.
"Oh, Baekhyun! Apa yang kau lakukan sore ini?" tanya Sandara sambil tersenyum setelah Baekhyun duduk di sampingnya.
"Uh, aku berjalan-jalan di hutan…" jawab Baekhyun tanpa menoleh pada sang ibu.
"Ada hantu di dalam hutan," ujar Sehun yang duduk di seberang Baekhyun dan Sandara, menakut-nakuti. Namun ia berjengit kaget saat diam-diam Chanyeol menendang kakinya di bawah meja. Ia melirik Chanyeol dan merengut. "Kau brengsek! Ketika aku dewasa, aku akan membalasmu untuk itu…"
Chanyeol hanya mendengus tidak peduli. Teringat pada pembicaraannya dengan Chanyeol tadi, Baekhyun mencoba untuk bicara, "Um, aku baru saja bicara pada Chanyeol tentang masuk sekolah…"
"Namanya adalah Modeen Victory Public School. Tahun ajaran baru di musim gugur dimulai besok," beritahu Chanyeol.
"Kupikir tahun ajaran baru di musim gugur tidak dimulai sampai minggu depan, Chanyeol," sahut Kris. "Besok minggu, bukan?"
"Musim gugur itu ketika kami ganti kamar, jadi semua orang datang lebih cepat," timpal Chanyeol. "Apa yang akan dilakukan Baekhyun?"
"Baekhyun…belum bisa pergi," memikirkan putranya akan berada jauh darinya seketika membuat Sandara merasa cemas. "Kami baru saja sampai, jadi kami belum siap. Dia akan butuh seragam…"
"Kau bahkan belum memulai prosedur transfernya?" tanya Chanyeol.
"Sebenarnya aku sudah memulainya di bulan Agustus. Aku sudah menulis surat pada kepala sekolah dan mendapat balasan," jawab Kris. "Tidak sulit untuk mendaftarkan seseorang ke dalam sekolah umum ketika ada saudara kandung yang bersekolah di sana."
"Aku ingin pergi bersama Chanyeol besok…" Baekhyun yang diam sejak tadi menyuarakan keinginannya.
"Tapi bagaimana dengan upacara pembukaannya? Itu masih nanti, kan?" tanya Sandara, menoleh pada sang putra.
"Itu minggu depan. Pada hari jumat tanggal 8," jawab Chanyeol.
"Dengar! Itu terlalu cepat! Kita tidak memiliki apapun yang siap. Dia akan butuh pakaian, sepatu, tas dan buku pelajaran…" Sandara menjadi panik dan semakin cemas.
"Maaf menyela, tapi saya yakin kami masih memiliki seragam lama tuan Chanyeol," kata Johnson, si kepala pelayan yang berdiri di belakang Kris, menyarankan. "Meski mungkin itu agak terlalu besar."
"Kau bisa membeli buku pelajaran di sekolah," ujar Chanyeol pada Baekhyun.
"Um, apakah kau pikir aku bisa meminjam seragam itu?" tanya Baekhyun, memandang Chanyeol.
"Cukup, Baekhyun! Apa kau benar-benar baik-baik saja pergi ke sekolah dengan pakaian longer dan bekas pakai?" pekik Sandara tidak suka. "Sekolah swasta Inggris sangat elit. Kita harus membuatkanmu sesuatu yang dibuat khusus!"
"Itu tidak penting. Sampai dia bisa mendapatkan sesuatu yang disesuaikan, jas hitam tunggal seharusnya bisa…" ujar Chanyeol.
"Tapi jika dia melakukan itu, mereka akan sadar dia orang Amerika dan mengganggunya!" takut Sandara.
"Sandara, aku mau pergi! Pergi sebelum upacara pembukaan lebih baik. Datang setelah itu akan menjadi hal yang bodoh," kata Baekhyun bersikeras.
"Dan jika mereka tahu dia sedang menunggu untuk membuat setelan jas…mereka pasti menertawakannya," Sehun yang sejak tadi hanya diam mendengarkan sambil makan ikut menyeletuk, lalu terkekeh kecil.
"Sehun!" tegur Chanyeol. Namun Sehun hanya mengendikkan bahunya dan kembali menikmati makanannya.
Sandara merasa malu mendengar celetukan Sehun. Rasa cemas dan takut berada jauh dari sang putra membuatnya menangis. "Mengerikan sekali! Kenapa seperti ini, tiba-tiba?" katanya disela tangisnya. "Itu sekolah asrama, benar? Begitu kau sampai di sana, aku tahu kau tidak akan pernah pulang lagi!"
"Jangan sulit, Sandara," Kris akhirnya ikut bersuara. Ia menyentuh lembut bahu sang istri. "Kau berakting seperti dia adalah kekasihmu daripada seorang anak. Baekhyun akan kembali di akhir pekan. Bukan begitu, Baekhyun?"
"Itu benar!" bukan Baekhyun yang menjawab tapi justru Chanyeol. Sementara Baekhyun hanya diam saja. "Ya, Modeen memperbolehkan siswanya pulang di akhir pekan. Jumat, sabtu dan minggu."
*chanbaek*
"Oh ya ampun! Kami benar. Saya pikir ini terlalu besar untuk tuan Baekhyun," ujar Hannah saat memberikan seragam lama milik Chanyeol pada Baekhyun. "Tuan Chanyeol memakai ini ketika dia berumur enam belas tahun."
Baekhyun memegang seragam lama Chanyeol di depan tubuhnya, mencoba mencocokkannya. Tapi memang seragam lama itu terlalu besar untuknya. Tubuhnya pasti akan tenggelam saat memakainya nanti.
"Dia sangat tinggi, seperti tuan besar, bahkan pada usia itu tingginya 185cm," sahut Annie si pelayan.
"Apa kalian memiliki seragam ketika dia berusia empat belas atau lima belas tahun?" tanya Sandara memperhatikan seragam lama Chanyeol yang terlalu besar untuk putranya.
Kedua pelayan saling berpandangan dengan ragu. "Well…Saya takut tidak…" jawab mereka.
"Lebih baik daripada terlalu kecil," kata Baekhyun tersenyum tipis, merasa tidak keberatan. "Aku bisa menggulung lengannya saat aku memakainya."
*chanbaek*
Malam itu sebelum tidur Baekhyun sibuk membereskan barang-barang yang akan dibawanya besok. Ia memasukkan pakaian-pakaiannya dan seragam lama milik Chanyeol ke dalam kopernya. Ia tersentak saat tiba-tiba kunci pintu kamarnya berputar, lalu pintu kamarnya terbuka.
"Apa kau siap untuk besok, Baekhyun?" Kris melangkah masuk dengan senyum memuakannya, dan jubah tidur yang membalut tubuh tingginya.
Baekhyun hanya diam, memperhatikan dalam ketakutan langkah Kris yang semakin mendekat. Tidak mendapat tanggapan, Kris kembali melanjutkan ocehannya, "Modeen memiliki staff penjahit sendiri, jadi kau dapat mengepas seragammu di sekolah. Beli apapun yang kau butuhkan, yang harus kau lakukan hanyalah menandatanganinya."
Baekhyun masih diam, tubuhnya terasa kaku saat Kris berdiri di belakangnya. Keringat dingin terasa mengalir di wajahnya ketika tangan Kris meraih bahunya, sementara tangan Kris yang lain menyentuh dagunya.
"Kau suka sekolah? Atau apakah kau pikir…" kata Kris lagi. "Kau dapat melarikan diri dariku? Itu dia, bukan? Tapi kau tidak akan melarikan diri, kau harus kembali ke rumah ini di akhir pekan. Kau akan menjadi…kekasih akhir pekanku."
Seringaian yang terulas di bibir Kris membuat wajah Baekhyun memucat. Sekali lagi, percintaan paksa yang liar itu kembali terjadi pada Baekhyun. Di dalam hatinya Baekhyun bersumpah untuk tidak akan pernah kembali ke rumah sialan ini lagi.
Satu malam lagi. Ia hanya harus bertahan satu malam lagi dan kemudian semua akan berakhir…
Tbc