Netra sewarna langit di siang hari itu mengedar. Baru menyadari kalau mereka berdua jadi pusat perhatian para penghuni lapangan indoor. Cowok imut yang sekarang jadi tidak imut lagi itu segera menyambar tangan kanan Seijuuro untuk dibawanya pergi keluar lapangan.

Seijuuro hendak protes, tapi tak jadi. Menurutnya percuma saja berbicara padanya disaat seperti ini. Makanya Seijuuro membiarkan saja Tetsuya berbuat semaunya.

.

KuroAkaKuroAkaKuro

.

"Kau tahu kalau susu vanillaku adalah minuman favoritku, lalu kenapa kau menyembunyikannya lagi?!" bentak Tetsuya untuk yang ke sekian kalinya ketika mereka berada di tempat parkiran yang sepi.

Seijuuro mengusap-usap pergelangan tangannya yang memerah akibat cengkraman Tetsuya.

Gila. Tubuh Tetsuya memang kelihatan kecil dan rapuh, tapi tenaganya macam gajah saja.

"Kok masih diam sih?! Jawab dong!" kali ini Tetsuya mulai gak santuy. Ia berseru sambil menendang salah satu motor yang dipastikan milik para guru.

Namun, karena tenaganya kelewatan kuat, motor itu sampai terjatuh menubruk motor yang lainnya. Dan saat itu juga terjadilah efek domino. Di mana yang awalnya hanya satu motor terjatuh, kini semua motor yang terparkir di sana jatuh semua.

Tetsuya dan Seijuuro melongo. Mereka terdiam untuk beberapa saat.

Seijuuro melirik Tetsuya dengan pandangan seolah berkata, "Lihat! Ini semua gara-gara ulahmu! Sekarang bagaimana coba?!"

Seperti mengerti dengan tatapan saudara merahnya, Tetsuya mengedikkan bahunya tampak tak peduli. Tapi wajahnya mulai memucat dengan keringat di sisi dahinya yang mulai menjentik.

"Woi, ada suara apaan tadi -What the hell! Apa yang telah kalian lakukan haaah?!" Seorang petugas kebersihan nongol dari dalam gudang yang terletak tidak jauh dari parkiran. Mata si petugas terbelalak begitu melihat pemandangan di tempat parkir.

Tetsuya buru-buru menarik tangan Seijuuro lagi untuk ikut kabur bersamanya. Dari arah belakang, si petugas kebersihan tampak memaki-maki dan mulai mengejar mereka.

"Tetsuya, kau tidak bertanggung jawab sekali!" Seijuuro masih sempat-sempatnya berkomentar di tengah kejar-kejaran mereka.

"Berisik!" Tetsuya mempercepat laju larinya. Melewati korisor sekolah yang untungnya sedang sepi dikarenakan sebagian siswa siswi SMP Teikou sudah sedari sejam yang lalu pulang ke rumah masing-masing.

Hanya ada beberapa siswa yang mengikuti ekstrakulikuler dan beberapa guru yang masih sibuk dengan urusan mereka di sekolah. Salah satunya adalah Pak guru di depan sana.

Pak guru itu tengah menyuruh dua orang siswa untuk memindahkan meja ke luar kelas entah untuk apa. Dan sialnya itu akan menghalangi Tetsuya dan Seijuuro untuk lewat.

"Tetsuya!" panggil Seijuuro memberi peringatan untuk berhenti.

Namun, Tetsuya merasa kakinya tidak bisa direm. Maka tidak ada jalan lain selain melewatinya begitu saja.

"Terjang saja!" kata Tetsuya yang sukses membuat Seijuuro terbelalak.

Saat jarak mulai menyempit, Tetsuya melompat setinggi mungkin melewati meja itu. Sedangkan Seijuuro menggelindingkan tubuhnya dari bawah meja ketika secara mendadak saudara baby blue-nya melepas tautan tangan mereka.

Pak guru dan dua orang siswa yang tengah membopong meja itu keliahatan kaget dan shock. Mereka mematung untuk beberapa saat, sebelum kemudian tersadar akibat teriakan si petugas kebersihan.

"Dasar bocah kurang aseeem!"

@_@_@_@

Tetsuya mendorong kasar kembarannya di suatu gang sempit seusai kabur dari sekolahnya. Kebetulan tempat itu sepi, jadi, Tetsuya bebas mengeluarkan uneg-unegnya tanpa merasa terganggu oleh orang-orang.

"Cih, kenapa kau jadi kasar begini sih." Seijuuro berdecih kesal. Napasnya masih memburu akibat aksi kejar-kejaran tadi.

"Bodo amat. Cepat dah! Katakan padaku di mana kau sembunyikan properti berhargaku itu?!"

Seijuuro rolling eyes mendengar kata 'properti berharga' keluar dari mulut Tetsuya.

"Cepaaat!"

"Iya, iya, santai kali!" Seijuuro kesal sendiri dibuatnya. Sambil membuang muka, Seijuuro berkata, "semua vanilla milk shake-mu sudah kubuang sebagian. Lalu sebagian lagi kuberikan pada Nigou."

Manik shapphire Tetsuya membola. Wajahnya mengeras. Mukanya mulai merah padam.

"Seijuuro, kau benar-benar cari mati ya?!" desis si baby blue.

Sembarangan saja saudara kembarnya membuang minuman favoritnya. Tidakkah Seijuuro tahu kalau vanilla milk shake adalah belahan jiwanya? Tanpa minuman itu Tetsuya bagaikan butiran debu. -,-

"Saat itu aku melihat Nigau sedang kelaparan. Aku tidak tahu di mana kau menyimpan makanan anjingnya, ya aku kasih saja minuman itu. Dan memang beberapa minumanmu itu ada yang sudah kadaluarsa kok. Makanya aku membuangnya. Kau jangan salah paham dulu." Seijuuro buru-buru menjelaskan. Sedikit waswas melihat tampang Tetsuya yang siap meledak kapan saja.

Pernah dengar mengenai kemarahan seorang pendiam tidak? Biasanya kan marahnya seorang pendiam lebih horror ketimbang marahnya orang yang doyan ngomong. Makanya Seijuro agak waswas dengan mood Tetsuya yang jarang sekali bahkan hampir tidak pernah semarah ini terhadapnya.

Tetsuya menunduk. Ekspresinya tak terbaca, karena wajahnya tertutup poninya. Namun, auranya begitu suram. Seijuuro sampai merinding dibuatnya. "Eum, Tetsuya. Kau sudah mengertikan? Jangan marah ya?"

Seijuuro mencoba mengintip wajah Tetsuya. Dalam hati berdoa semoga Tetsuya tidak murka. "Kau tidak apa kan? ... Tetsuya, jangan diam dong."

"Haha ... Ahaha ... AHAHAHAHA." Tiba-tiba saja Tetsuya tertawa lirih di awal, lalu tawanya semakin keras setelahnya.

Seijuuro sampai berkeringat dingin melihat Tetsuya tertawa ala psikopat begitu. Tetsuya yang pendiam dan kalem, Tetsuyanya yang jarang sekali menunjukkan emosi, Tetsuyanya yang punya sikap baik dan suka menolong, dan kini tengah tertawa gila. Horror, bro!

Seijuuro sudah terbiasa melihat Tetsuya yang ekspressionless seperti biasanya. Tidak seperti sekarang yang malah memberi kesan creepy.

Tak berapa lama Tetsuya menghentikkan tawanya. Ia menatap sinis Seijuuro.

Seijuuro sendiri mulai merasakan firasat buruk. Namun, disaat bersamaan Seijuuro merasa heran dengan sikapnya sendiri. Kenapa pula Seijuuro harus khawatir dan waswas begini? Dibanding Tetsuya, Seijuuro harusnya lebih bisa mendominasi keadaan seperti ini.

Fisiknya lebih kuat ketimbang Tetsuya. Tatapannya bahkan bisa lebih tajam dibanding tatapan Tetsuya saat ini. Lalu kenapa sekarang malah jadi begini?

Begitu tersadar akan kepribadiannya, Seijuuro mengubah raut wajahnya menjadi datar. Ia menegakkan punggungnya. Tatapannya balas lebih intens ketimbang Tetsuya. Seolah Tetsuya dimatanya bukanlah apa-apa.

Tetapi rupanya Tetsuya tak mau kalah. Bibirnya bahkan menyeringai. Tidak peduli meski kalau dilihat dari fisik, jelas Tetsuya kalah telak dari Seijuuro.

Tetsuya mendengus. Dalam hati menertawai tingkah sang kembaran. Mungkin kalau dilihat dari luar, Seijuuro tampak lebih kuat dibanding dirinya.

Tubuh Seijuuro lebih berotot, tatapan Seijuuro juga tajam dan memberi kesan mengintimidasi. Semua orang dapat dibuat segan dengan tatapannya. Namun, tidak ada yang tahu kalau dari dalam, Seijuuro itu sabenarnya masih polos, naif, mudah rapuh dan lemah. Hanya Tetsuya saja yang tahu sisi kekurangan kembarannya.

Berkebandingan terbalik dengan Tetsuya. Dari luar, Tetsuya memang tampak jelas terlihat lemah, fisiknya juga mudah lelah. Terbukti saat tiap latihan basket ketika pemanasan, pasti Tetsuya bakal tumbang dan muntah-muntah. Raut wajah Tetsuya juga tampak polos dan memelas. Tapi, bicara soal mental, Tetsuya lebih kuat ketimbang Seijuuro. Tetsuya juga tidak sepolos Seijuuro. Hatinya tak mudah rapuh dan gentar. Sebesar dan sekuat apapun lawan yang dihadapinya, Tetsuya berani melawan.

"Sejuuro, sesungguhnya aku sangat kesaaal sekali denganmu."

Dibalik tatapan menantangnya, Seijuuro diam-diam meneguk ludahnya gugup. Terlebih ketika merasa aura-aura tidak mengenakan yang dikeluarkan oleh Tetsuya. Tanpa sadar kakinya melangkah mundur.

Disaat bersamaan, Tetsuya mulai mempersempit jarak di antara mereka. "Dan sebagai bayarannya, bagaimana kalau kau menggantikan semua minumanku yang kaubuang?"

"Ha?" Seijuuro mengenyit heran. Apa maksudnya? Tetsuya ingin ia membelikan minuman itu untuk menggantikannya kah? Oh, kalau begitu sih Seijuuro tidak keberatan sama sekali.

"Baiklah. Tidak masalah. Aku akan membelikan yang baru untukmu. Sebanyak apapun kau minta," jawabnya dengan senyuman lembut. Seijuuro kira Tetsuya bakal marah dan mau mengajaknya adu jotos tadi, ternyata tidak.

"Huh? Membelikanku? ... oh, tidak perlu. Kau kan sudah memilikinya." Seringai Tetsuya semakin melebar ketika Seijuuro mengerutkan keningnya bingung.

"Apa maksud -mmh!" Belum sempat Seijuuro menjawab, Tetsuya dengan cepat menerjang dengan membungkam bibirnya. Memojokkannya di tembok gang.

.

.

.

The End dengan kamvretnya :D