BBB hanya milik ANIMONSTA
semoga terhibur
Ini semua bohong.
Semenjak panggilan itu datang hingga saat dia menginjakkan kaki ke tempat ini, kalimat itu terulang-ulang di kepala Kaizo. Kakinya melangkah kencang, puluhan orang yang berlalu lalang di lorong rumah sakit intergalaxy terasa seperti hambatan. Hatinya tidak sabar, Kaizo ingin mengaktifkan pedang tenaganya dan merobek orang-orang itu agar tidak menghalangi jalannya.
Tenang. Kau harus tenang.
Kaizo kembali mengingatkan dirinya sendiri. Memaksa untuk menenangkan diri. Sikapnya sekarang tidak mencerminkan sikap dari sesosok Kapten yang biasa memimpin armada perang melawan perampok Power Sphera. Dia tahu hal ini pasti bisa terjadi, dia sudah menduga hal ini pasti akan datang, tapi tidak secepat ini.
Dia berbelok ke lorong yang menghubungkan antarbangunan, aroma steril membuat Kaizo mual, setidaknya karena tujuannya sedikit berbeda dengan banyaknya alien yang berada disini, lorong yang di lewati sekarang sedikit sepi. Bangunan ini terasa suram, perbandingan jumlah alien yang masih hidup dan sudah mati berat sebelah di sini.
Kaizo tidak terlalu sering dipanggil untuk hadir di rumah sakit pusat, hanya beberapa kali dia pernah melangkahkan kakinya ditempat ini, pertama kali saat dirinya dirawat karena luka akibat misi dan Tapops sendiri tidak memiliki sistem medis yang mampu menangani kondisinya, setelah itu panggilan lainnya hanya berupa panggilan untuk mengidentifikasi jasad anak buahnya yang gugur dalam misi solo.
Panggilan yang menuntut kehadirannya kembali datang setelah hampir enam bulan lamanya. Persis seperti panggilan-panggilan sebelumnya, Panggilan yang dia terima beberapa saat lalu menuntutnya untuk hadir ke ruang identifikasi jasad.
Di sanalah dia sekarang, berdiri kaku dengan napas terengah di depan pintu yang bertulisan R. Identifikasi. Tangan berbalut sarung tangan hitam itu bergerak menyentuh gagang pintu, bahkan dengan sarung tangan yang menyelimuti tangannya, rasa dingin dan menggigit gagang pintu terasa kuat di dalam genggaman tangannya.
Tangan Kaizo terhenti, perintah untuk membuka pintu ruang itu berkoar-koar di dalam kepalanya, namun begitu hatinya berkata lain, Kaizo mempertanyakan tindakannya sendiri, kenapa dia ini?, bukan hal jarang baginya untuk melihat jasad, bahkan beberapa ada yang sulit untuk dikenali lagi, kenapa dengan rasa aneh yang ada di dadanya ini sekarang? Takut? Seorang sepertinya yang biasa disebut sebagai Kapten tidak punya hati merasakan takut?, apa yang dia takutkan?
"Kapten Kaizo."
Sebuah suara memanggil sedikit kesadarannya. Kaizo menoleh untuk menemukan dua kadet Tapops yang dia kenal baik, sepasang kadet yang memiliki wajah nyaris serupa. Baju pelindung besi yang membalut tubuh mereka berkilat-kilat, kedua orang itu biasanya menampakkan ekrepsi dingin yang sejalan dengan penampilan mereka. Namun saat ini si kembar Sai dan Shielda menampilkan ekpresi lain. Shielda berdiri di belakang kakak kembarnya, wajah wanita muda itu tertunduk seperti berusaha menutupi eskpresi wajahnya sekarang. Sai berdiri kaku, tatapan janggal yang dia berikan memancing kemarahan di dada Kaizo, kenapa mereka memberikan tatapan itu? Kaizo tidak suka, tatapan itu terasa sangat kurang ajar.
Tangan Sai terulur ke gagang pintu itu, Kaizo tidak menarik tangannya dan membiarkan tangan Sai bertumpu di atas tangannya, Kaizo merasakan tangan Sai bergetar hingga jarinya memutih, Kaizo tidak mengatakan apa-apa saat tangan Sai membantunya untuk membuka pintu ruangan itu. Menampilkan ruangan putih dengan puluhan lemari penyimpanan jasad.
Tidak ada kata lain yang keluar dari bibir si kembar, hanya terdiam di depan ruangan menunggu Kaizo untuk masuk.
"Kalian dipanggil juga?" Akhirnya Kaizo bersuara.
Mereka mengangguk "Ya Kapten."
Tidak ada pilihan lain selain masuk sekarang. Bahkan sebelum kakinya menginjak ruangan itu, aroma formalin merasuki penciumannya, ruang identifikasi itu juga berfungsi sebagai ruang penyimpanan jasad, suhu diruangan itu lebih dingin dibanding ruangan lainnya. Dingin yang ganjil, seperti bukan berasal dari mesin, namun sesuatu yang telah mati.
Kaizo melangkah tegas dengan kedua orang itu dibelakangnya. Dua orang petugas berseragam kepolisian intergalaxi berdiri membelakangi mereka dengan seorang dokter berseragam putih, ketiganya menoleh bersamaan saat mendengar langkah kaki mendekat. Mereka berdiri di samping sebuah tempat tidur dorong. Seseorang, atau sesuatu terbaring disana, seluruh tubuhnya ditutup oleh kain putih.
Dua petugas kepolisian itu berwajah tidak bersahabat, gerakan tubuh mereka seperti mencurigai setiap orang yang berhadapan dengan mereka. Salah satu dari mereka berkulit ungu dan yang satunya lagi terlihat seperti gurita dengan kaki.
Si polisi ungu mengeluarkan tablet, benda kotak itu mengeluarkan cahaya dari lensa kameranya, memindai tubuh Kaizo bersama Sai dan Shielda tanpa meminta izin terlebih dahulu "Kapten Kaizo bersama Kadet Sai dan Shielda dari Tapops." Ucapnya mengkonfirmasi identitas ketiganya "Langsung saja kalau begitu."
Dokter berjubah putih menyibak kain putih yang menutupi tubuh yang terbaring itu, menampilkan setengah tubuh dari jasad yang terbaring kaku dan pucat.
"Lance Corporal Fang, jenis kelamin ; pria, berasal dari planet Gogobugi, umur 14 tahun, lahir pada tanggal 13 April, warna rambut ; biru malam, warna mata ; crimson." Si polisi gurita membaca data dari tabletnya "Bisa kalian konfirmasi bahwa identitas jasad ini tepat dengan identitas alien yang saya sebutkan?"
Shielda mengeluarkan suara tercekat, dia mengalihkan pandangan dari sosok patner kerja yang juga sekaligus ketua timnya dari misi terdahulu. Di sebelahnya Sai menggumam hal tidak jelas. Baik keduanya tenggelam dalam ketidakpercayaan sehingga tidak menyadari keadaan seseorang yang membeku di belakang mereka.
Kaizo mendekat, matanya rakus meneliti jasad yang terbaring didepannya, jasad itu dalam kondisi yang baik, tanpa luka apapun, bahkan hanya goresan luka juga tidak ada, Kaizo berusaha mencari tanda-tanda agar dapat menyangkal kalau jasad di depannya ini adalah Fang, namun semakin lama matanya menatap jasad itu, semakin sulit baginya untuk menyangkal. Dia kenal adiknya, dia tahu setiap inci wajah adiknya, dia tidak dapat menyanggahnya lagi, jasad ini adalah Fang, adiknya tewas.
"Apa yang terjadi?" Tanya Kaizo
"Apa kau bisa mengkonfirmasi jasad ini adalah alien yang saya sebutkan identitasnya tadi?" Tanya si polisi gurita ulang.
Tenggorokkan Kaizo terasa tercekat "Ya." jawab Kaizo pelan, dia sendiri bahkan tidak dapat mendengar suaranya sendiri.
Kaizo menenggak liurnya dengan susah payah, tangannya yang terkepal semakin menguat "Ya, ini Fang." Jawab Kaizo ulang.
"Bagaimana dengan kalian?" Si polisi berpaling pada Sai dan Shielda.
Shielda membekap mulutnya sendiri, menahan isakan yang keluar, wanita muda itu mengangguk pelan sedangkan Sai mengeluarkan jawaban yang serupa bisikkan.
"Korban ditemukan di planet Xolion, saksi mata menyebutkan korban jatuh pingsan tiba-tiba saat berjalan di pasar Stellia, korban dilarikan kerumah sakit lokal namun korban menghembuskan napas terakhir saat diperjalanan menuju rumah sakit, waktu kematian pukul 15.00 waktu negara Stellia, penyebab kematian diperkirakan ; cardiac arrest." Si dokter akhirnya bersuara "Tidak ada luka ataupun memar benturan, korban juga tidak mengeluarkan tanda-tanda keracunan, tidak ada indikasi pembunuhan, walaupun begitu, cardiac arrest termasuk jarang untuk usia 14 tahun, maka dari itu kami akan melakukan otopsi jika Tapops dan keluarga berkehendak."
.
.
.
Pikiran Kaizo kosong. Di kepalanya sekarang dia tidak dapat memikirkan hal lain lagi selain tungku pembakaran di depannya. Ada sekat kaca yang memisahkan ruang pembakaran dan ruang pengantar, Kaizo mendekatkan diri serapat mungkin dengan sekat kaca itu, memperhatikan lekat peti mati kayu bercat putih dengan jasad Fang di dalamnya.
Banyak kadet Tapops yang gugur akan memilih jalur penguburan sebagai tempat peristirahatan terakhir mereka, namun di planet asalnya, budaya pengkebumian sangat jarang ditemukan, dia ingat pengkremasian terakhir sebelum planet asalnya hancur, pengkremasian kakeknya saat Kaizo berumur 10 tahun.
Riuh rendah dari orang-orang yang mengantar kepergian Fang berlangsung di belakangnya, Kaizo mengacuhkan suara itu, mendengarkan tangisan bocah Boboiboy bersama dengan tangisan teman-temannya yang lain menyulut emosi Kaizo.
Sebuah tepukan ringan di bahunya membuat Kaizo menoleh, Kaizo menemukan Maskmana di sisinya. Pria yang juga gurunya itu tidak mengatakan apa-apa, bukan berarti Kaizo menginginkan dia mengatakan sesuatu, gurunya itu kenal pada muridnya dengan baik, Kaizo memang enggan untuk bicara saat ini, dia hanya ingin diam dengan pikiran kosongnya, sentuhan lembut Maskmana membantu Kaizo meredakan emosi yang tadi sempat muncul.
Di ruang pembakaran, Nut bersuka rela untuk membantu seluruh rangkaian pengkremasian Fang meminta persetujuan dari Kaizo untuk memulai pengkremasian. Kaizo memberikan anggukan persetujuan, Nut menerimanya, dan menekan tombol.
Peti mati Fang bergerak masuk ke dalam tungku pembakaran, tanpa sadar tangan Kaizo menyentuh kaca sekat di depannya, dia seperti ingin menarik kembali peti itu untuk keluar dari tungku pembakaran, tapi hingga pintu tungku itu tertutup di depannya, Kaizo tidak dapat melakukan apa-apa, pintu itu meninggalkan keheningan yang menyiksa, mata Kaizo terpejam saat telinganya menangkap bunyi api yang melahap udara dan peti mati Fang didalam sana, seakan tubuh Kaizo juga ikut terbakar di dalamnya, dia merasakan sakit di seluruh tubuhnya.
Apa Fang merasakan sakit? Tanya Kaizo didalam kepalanya, Apa Fang benar-benar sudah pergi? Bagaimana jika semua ini salah? Bagaimana jika sebenarnya Fang berteriak didalam sana? Bagaiamana jika dia sebenarnya masih hidup?
Kaizo tidak tahu berapa lama dia berdiri menatap tungku pembakaran itu hingga satu persatu orang meninggalkan ruang pengantaran dan hanya menyisakan dia dan pikirannya seorang, biasanya kremasi membutuhkan waktu tiga jam namun Kaizo merasa waktu berjalan cepat, seolah dunia tidak membiarkan dirinya untuk dapat berlama-lama meratapi jasad adiknya. Dia terus berada disana, melihat adiknya dari kejauhan, menemani kepergiannya hingga seluruh tubuh Fang hancur menjadi serpihan abu.
Memorinya berantakan, apa yang terjadi selama tubuh Fang dikremasi dan setelahnya tidak dapat Kaizo ingat dengan baik, sejauh yang dapat dia ingat di kepalanya adalah Nut memanggilnya, mengarahkan Kaizo ke ruang penyerahan untuk memberikan abu Fang yang dimasukkan kedalam kotak keramik keunguan. Kaizo menerimanya, membawa kotak itu dengan lembut namun kuat, seperti saat dirinya dipercaya oleh orangtuanya yang juga sudah tiada untuk menggendong Fang saat dia masih baru lahir, Fang kecil yang terbungkus dalam balutan selimut, hangat dan lembut.
Dan sekarang, di sanalah dia, terduduk di ranjang kamarnya, kotak abu Fang diletakkan di meja kecil di samping ranjangnya. Lagi… Kaizo tidak sadar berapa lama waktu yang dia habiskan dengan duduk di ranjangnya seperti ini, masih dengan balutan jas. Dia berusaha menahan suatu emosi yang muncul, Kaizo tidak ingin emosi itu keluar, tidak lagi.
Matanya terpejam, mengingat baru dua hari lalu dia bertemu dengan Fang, adiknya yang sering tergagap saat berhadapan dengannya itu mengatakan dia akan menjalankan misi esok siang di planet Xolion untuk melacak penjual power sphere palsu. Dia terlihat sehat, ada senyuman kecil di wajahnya saat Kaizo berkata untuk berhati-hati saat menjalankan misi solonya.
Anak itu tidak mendengarkan perkataannya…
Kaizo berada di ruang kendali saat itu, bercengkrama dengan Laksamana Tarung perihal pekerjaan akhir-akhir ini, hingga telepon dari kepolisian intergalaxy memasuki saluran komunikasi Tapops, mengatakan ada seorang kadet yang tewas saat menjalankan misi dan memintanya untuk datang mengidentifikasi karena kebetulan, kadet yang tewas itu memiliki hubungan darah dengannya.
Kaizo seketika kehilangan kontrol atas pikiran dan emosinya.
Tenggorokkannya kering, dia merasa haus, Kaizo membutuhkan tenaga lebih untuk mendorong kedua kakinya agar mau bergerak melangkah mengambil segelas air di meja kerjanya. Kamarnya sangat hening, yang entah kenapa semakin menyiksa kaizo, bunyi langkah dan dentingan gelas terasa seperti tawa yang mengejeknya, teko yang terisi setengah air itu terasa berat, membuat Kaizo muak. Dorongan untuk melempar gelas itu menjadi serpihan kecil meraung-raung.
Kaizo menengguk cairan itu, dinginnya air melewati tenggorokkannya tidak meredamkan apa yang dia rasakan saat ini, gerangan hebat keluar dari mulutnya, gelas ditangannya dilontarkan ke tembok, membiarkan pecahan gelas itu berjatuhan ke lantai. Ketenangan datang sejenak, sebelum dorongan-dorongan lain bermunculan.
Kaizo kembali melempar teko air ke ujung ruangan, tidak peduli dengan kehancuran yang dia hasilkan. Entah itu buku atau apapun menjadi sasaran emosi Kaizo, dia meninju tembok kamarnya hingga kepalan tangannya meninggalkan bercak kemerahan di tembok itu.
Kaizo menghancurkan barang yang dapat dia hancurkan, apapun kecuali kotak abu mayat Fang. Kaizo meraung dan menggerang hingga dia sendiri kelelahan, hingga dia terduduk di antara benda-benda yang dia hancurkan, kedua kepalan tangan mengeluarkan cairan merah, napasnya terengah.
"Kenapa Fang?" Teriak Kaizo pada kotak abu mayat itu "Kenapa kau meninggalkan aku?"
.
.
.
Nut mengecek layar kontrol di pesawat ruang angkasanya, memastikan tidak ada pesawat angkasa yang tidak dikehendakinya untuk muncul tiba-tiba di radar. Dia mengendarai pesawat angkasa ke sebuah planet berukuran medium di sektor Willow-434, sektor yang cukup jauh, tanpa satupun planet berpenghuni kecuali yang satu ini.
Di depannya planet berwarna kemerahan menampakkan diri, Akarua namanya, planet yang seharusnya tidak berpenghuni itu nyatanya dihuni alien asing yang menempati planet itu hampir selama satu dekade belakangan ini, Nut mendaratkan pesawatnya ke titik pendaratan di planet itu. Dari layar kendali, Nut dapat melihat beberapa orang berkumpul tidak jauh dari titik pendaratannya.
Dia tidak pernah mau merepotkan diri untuk turun ke planet ini, sejujurnya dia tidak suka dengan aroma di planet Akarua, pengap dan berbau zat besi pekat, mengingatkannya pada padang pembantaian. Nut membuka pintu pesawat angkasanya, dia akan mempersilakan mereka masuk untuk mengambil pesanan mereka, pesanan yang sekarang berada di dalam tempat tidur tabung horizontal dibelakangnya.
Nut duduk manis di kursi kendali, memutar kursi itu agar menghadap ke arah pintu yang terbuka, lima orang memasuki ruangan dengan seragam hitam serupa, seorang wanita berkulit hijau memimpin ke empat orang itu, paras wanita itu sempurna, tipe yang akan diakui kecantikannya oleh berbagai jenis alien yang ada di galaxy ini, wajahnya selalu dihias dengan senyuman ramah dan menenangkan, topeng sempurna untuk seorang dokter maniak.
Kepalanya segera terarah pada meja silinder berisi air dan pesanan yang dia nantikan, tawa pelan penuh kepuasan keluar "Kau tidak pernah mengecewakanku Nut." Bola matanya membesar memeriksa seluruh inci pesanannya "Seperti biasa, sangat sempurna."
Nut mengulurkan tangannya "Dan kiranya mana bayaran untuk pemasok paling setiamu ini?"
Wanita itu memberikan isyarat pada anak buahnya, salah satu dari mereka mengeluarkan sekantong besar uang dan memberikannya pada Nut.
Nut menimbang kantong itu dengan tangannya, dia mengangguk puas "Seperti biasa juga dari pelanggan setiaku." Nut berjalan mendekati tempat tidur tabung, memeriksa tubuh yang sedang terbaring di dalamnya.
"Hai Fang." Ucap si wanita pada tubuh di depannya, tatapannya masih lekat memperhatikan calon uji cobanya "Ras alien Gogobugi sudah sangat langka, aku tidak percaya aku mendapatkan salah satunya."
"Masih ada satu lagi di Tapops." Ucap Nut.
Si wanita mengeluarkan ekspresi tidak tertarik "Dia sudah terlalu tua, aku hanya bermain dengan tubuh anak kecil." Si wanita mengeluarkan isyarat pada anak buahnya untuk membawa subjek uji cobanya yang segera dituruti oleh mereka.
Tatapan Nut mengikuti kepergian keempat alien yang membawa tempat tidur itu "Mungkin yang ini akan berhasil." Ucap Nut berbalik dan mulai mensistem ulang pesawatnya untuk lepas landas.
Si wanita tertawa "Yang kali ini akan berhasil." Ucapnya meninggalkan pesawat itu, terlihat bersemangat untuk mengerjakan proyek yang sangat dia yakini akan berhasil.
Genggaman tangan Nut mengeras pada yoke pesawat, sejujurnya dia tidak berharap proyek si dokter maniak akan berhasil, karena jika iya, posisinya mungkin akan berada dalam bahaya, Tapops tidak akan menjadi tempat aman lagi baginya, bahkan sebelum dirinya terbukti bersalah, jika abang dari si anak itu sadar apa yang telah dilakukannya, Nut akan dicabik sebelum dirinya menginjakan kaki ke pengadilan.
.
.
.
Ini baru prolog untuk fanfic baru
yang ini sudah saya usahakan agar tidak sepanjang i can''t understand, capek juga kalo kepanjangan hehehe.
plotnya akan cepat tapi updatenya tidak akan secepat i can't understand yaa
semoga terhibur