A/N:
Sebenarnya saya malas membuat sekuel, karena takut mengurangi nilai dari cerita awalnya, tapi ya rasanya kok tidak enak juga gantungin orang hehe.
Disclaimer:
Saya meminjam karakter dari Masashi Kishimoto dalam cerita ini.
ForgetMeNot09
mempersembahkan
.
.
.
Tes Rasa (Sekuel)
.
.
.
Sudah dua hari ini ia tidak melihat pria itu. Kubikel paling ujung juga terlihat lebih rapi dari biasanya. Apakah Naruto tidak masuk kerja karena sakit? Atau jangan-jangan ….
Hinata merasa detak jantungnya meningkat. Ia berpikir, "Mungkinkah karena kejadian di taman itu?"
Jika diingat-ingat lagi, Hinata tidak mengatakan apapun setelah Naruto selesai berucap. Hei bukan salahnya kan? Saat itu tidak terdengar seperti Naruto sedang menyatakan perasaan. Yang seminggu lalu itu Naruto terlihat seperti tengah bercerita tentang masa lalunya, tentang sebab mengapa ia marah ketika Ino dan kawan-kawan menjodoh-jodohkan mereka berdua, tentang ….
Ya Tuhan, pipi Hinata memerah lagi mengingatnya. Naruto hanya mengatakan hal yang menurutnya sedikit tersirat.
"Namun sepertinya usahaku itu sia-sia."
Apakah itu artinya bahwa usaha Naruto untuk tidak jatuh cinta menjadi sia-sia? Jadi maksudnya Naruto benar jatuh cinta padanya, pada Hinata? Benarkah begitu?
Hinata semakin merona. Tanpa sadar ia menepuk-nepuk sendiri pipinya. Merasa butuh minum, Hinata sedikit berlari untuk mengambil minum.
"Hinata?"
Hinata mendongak. Ditatapnya Ino dengan pandangan sedikit kaget.
"I-iya?"
"Kau baik-baik saja?"
"I-iya Ino, memangnya kenapa?"
Ino menggeleng, "Tidak, hanya saja wajahmu terlihat merah. Aku khawatir kau sakit."
Hinata tersenyum, "Terima kasih Ino, aku baik-baik saja."
Matanya sejenak melirik ke arah meja kerja Naruto, tepat setelah Ino pergi. Hinata mendesah, entah kenapa ada yang terasa aneh. Suasana ruang kerja ini menjadi sepi.
Ternyata benar kata Kak Neji dulu, "Segala sesuatu yang sudah hilang, baru terasa manfaatnya."
Ya, ada miripnya bukan dengan kejadian ini? Kalimat ledekan yang biasanya menyapa semrawut gendang telinganya, hardikan dari Naruto, sikap Naruto yang suka marah tanpa alasan kepadanya. Itu semua dulu adalah hal yang mengganggu. Namun kenapa sekarang jadi sepi dan kosong ketika itu semua tak ada?
"Hinata, bisakah ke ruanganku sebentar?"
Panggilan Nyonya Tsunade membuyarkan pikiran melayangnya. Hinata datang dengan tergopoh-gopoh, mengejar sang atasan menuju ruang pribadinya.
"Duduklah!" perintah wanita cantik itu pada Hinata.
Hinata menurut, ia duduk di hadapan Tsunade.
"Tolong kau selesaikan laporan ini."
Ia menerima berkas yang disodorkan. Wanita berambut indigo itu membaca sepintas sebelum mengerutkan dahi heran.
"Laporan keuangan?" gumamnya yang dijawab dengan anggukan kepala dari Tsunade.
"Ta-tapi …."
Tsunade mengangkat tangannya, "Aku tahu, kau tidak biasa mengerjakan itu. Karena itulah aku memintamu untuk membiasakan diri mengerjakan laporan itu mulai hari ini."
Sebenarnya Hinata ingin menolak, ingin sekali. Namun, ia kenal betul wanita pemaksa di hadapannya ini. Salah satu sifat yang sangat tidak disukai para pegawai adalah, tidak menerima alasan apa pun. Akhirnya wanita Hyuga itu mengangguk terpaksa.
…
Langkah kakinya sangat pelan. Rasanya bagai nyawa yang ditarik dari raga. Bukan, ia tidak merasakan sakit sama sekali, hanya saja kelopak matanya terasa berat dan susah untuk dikendalikan. Ia sangat mengantuk.
Nyaris saja kepalanya menghantam tiang lampu jalan. Beruntung ia masih memiliki sisa kesadaran walaupun bisa dikatakan sangat kecil. Wanita itu merasa harus segera mencari tempat bersandar sejenak, sebelum melanjutkan perjalanannya ke rumah. Tak mengapa jika ia terlambat mengejar kereta, demi keselamatannya saat berjalan seperti ini. Toh ia masih bisa menggunakan taksi, meskipun biayanya pasti lebih mahal.
Hinata memilih memasuki sebuah kedai kopi kecil. Biasanya wanita penggemar Americano itu tidak mau sembarangan memilih tempat meminum kopi, tetapi sore ini adalah spesial. Spesial usaha menghilangkan kantuk.
Tanpa melihat papan nama yang tertulis di depan pintu, wanita itu berjalan terhuyung dan mendudukkan pantatnya di meja paling dekat dengan pintu masuk.
Matanya seketika memejam, kendati masih sedikit sadar. Ia letakkan tas di atas meja dan membuatnya sebagai bantal bagi pipi.
"Selamat sore,"
Sebuah sapaan memaksanya membuka mata. Ia mendongak, mendapati seorang pelayan wanita tengah tersenyum kepadanya dengan membawa sebuah tablet.
"Pesanannya, Nona?"
Hinata tersenyum tipis, "Americano dingin satu."
Pelayan itu mengangguk sembari mengetikkan sesuatu pada tablet.
"Ada lagi?"
Hinata menggeleng.
"Baiklah, mohon ditunggu pesanannya."
Hinata memanfaatkan kepergian pelayan itu untuk membuka ponsel, demi mengurangi rasa kantuk. Iseng, ia membuka notifikasi email yang masuk.
"Hinata, kau sudah dengar kabar?"
Hinata menatap bingung pada layar. Email tersebut dikirim oleh Sakura, teman sekantornya. Dengan cepat jemarinya mengetikkan pesan balasan.
"Kabar apa Sakura?"
Hampir lima menit Hinata menunggu balasan pesan Sakura. Entah apa yang dilakukan wanita berambut merah muda itu hingga dengan tega mengabaikan pesan Hinata dan menciptakan rasa penasaran yang begitu membuncah.
Hinata memijit pelipisnya tepat saat segelas minuman tersaji di meja. Setelah mengucapkan terima kasih, wanita itu segera menyeruput minuman kesukaannya itu.
Sudah genap satu bulan, Hinata beralih pekerjaan. Dari membuat laporan kepegawaian, menjadi membuat laporan keuangan. Pekerjaan baru tersebut sebenarnya adalah pekerjaan Naruto, yang orang itu menghilang entah ke mana.
Ah, dengan mengingat nama laki-laki itu saja sudah mampu membuat jantung Hinata berdegup lebih cepat. Hinata menangkupkan tangan pada kedua pipinya yang terasa panas. Lama waktu berlalu, Hinata tak mampu membuang kenangan itu. Hei apa itu pantas disebut kenangan? Ketika itu hanya Naruto bercerita kepadanya dan ia diam seribu bahasa.
Tiba-tiba Hinata merasa kesal pada dirinya sendiri. Bagaimana mungkin ia terlambat menyadari bahwa saat itu Naruto memang sedang menyatakan cinta, itu versi Ino setelah ia terpaksa menceritakan kejadian itu pada si wanita pirang.
"Ya Tuhan," keluhnya.
Ia sangat merasa bersalah. Kalaupun memang ia tidak menyukai Naruto, setidaknya ia memberikan jawaban, bukannya menggantung diam seperti itu. Namun, benarkah ia tidak menyukai Naruto? Lantas mengapa ia merasa kesepian sejak pria bermata biru itu menghilang? Mengapa pula dadanya terasa sesak seperti sekarang ini? Jantungnya pun berdenyut laju ketika nama pria itu melintas dalam percakapan teman-teman kantornya …
dan satu bulan berlalu, semua itu tetap terjadi.
"Hinata!"
Wanita itu menghentikan kegiatannya mengaduk-aduk isi gelas. Dilihatnya Sakura berjalan ke arahnya.
"Sakura?"
Sakura tertawa canggung, membuat Hinata bingung.
"Aku mencarimu kemana-mana," tutur wanita beriris mata hijau itu.
"Ya dan kau sekarang menemukanku."
Sakura terkikik geli. Setelah mengatur napasnya, ia menatap Hinata dengan tajam, mencipta gidikan ngeri pada wanita Hyuga itu.
"Apa kau tahu kabar Naruto?"
Deg
Seketika detakan yang sedianya telah normal, meningkat lagi. Pipi yang telah kembali pucat, merona lagi. Hinata menggeleng pelan. Namun segera menatap penasaran pada kawannya yang tengah menyeringai.
"Kau merona," lagu Sakura.
Hinata membelalakkan mata dan cepat menutup pipi dengan tangan, "Tidak," elaknya.
Sakura menolak percaya dan mendengus.
"Hinata!"
Hinata melonjak terkejut saat Sakura menggebrak meja. Setengah malu ia menatap sekeliling, berharap tidak ada yang menyadari kebrutalan Sakura.
"A-ada apa?"
"Kau tahu ke mana perginya Naruto?"
…
Agak tergesa ia berlari. Sesekali menatap jarum jam tangannya. Matanya menatap lurus pada jalanan gelap yang mulai diterangi lampu jalan.
Jujur ia bingung, apa yang membuatnya kesetanan seperti ini. Semua kawannya tahu, Hinata adalah tipe wanita kalem yang sudah berada di rumah sebelum jam 8 malam. Ia hanya keluar apabila benar-benar perlu. Bahkan untuk itu pun, terkadang Hinata lebih suka menitip pada Hanabi, adiknya, atau Neji, kakaknya.
Napasnya tersengal tatkala kakinya berhenti di depan sebuah kedai ramen. Cukup ramai, itu yang pertama kali ia pikirkan.
"Selamat datang."
Hinata tertegun, apakah pendengarannya sedikit terganggu hingga suara baru saja mirip dengan suara Naruto?
Lantas mata piasnya membelalak, saat bersirobok dengan netra sewarna milik safir seseorang di ambang pintu kedai. Hanya perasaannya kah, atau memang udara mendadak hangat di sekitarnya?
…
Suasana menjadi canggung. Tak ada cakap terdengar. Dua manusia yang duduk berhadapan bahkan enggan bertatapan. Mungkin meja dari kayu yang mereka tempati terlihat lebih menarik, dengan warna gelap nan suram. Mereka bahkan tidak menyadari sedang menjadi bahan tontonan sebagian besar manusia berbaju putih dan apron hitam.
"Silakan pesanannya."
Keduanya menoleh, mendapati seorang pelayan pria yang mengamati mereka dengan pandangan menggoda.
"Aa terima kasih," ujar Hinata terbata-bata.
Sebenarnya dia bingung, padahal urutan antriannya masih lama, tetapi kenapa makanannya sudah datang?
"Pelayanan cepat khusus untuk wanita cantik sepertimu, Nona," goda pelayan itu sembari mengedipkan sebelah mata, seolah tahu isi pikiran Hinata.
Hinata merona dan tersenyum. Laki-laki itu tampan jika Hinata boleh jujur. Senyumnya pasti bisa membuat lutut setiap wanita lemas, kecuali Hinata tentunya. Bagaimana pun ia masih sibuk menetralkan detak jantung yang balapan gara-gara keberadaan pria berambut kuning di depannya.
"Jangan ganggu Hinata, Kiba! Pergi sana, dasar playboy," bentak Naruto membuat laki-laki bernama Kiba itu tertawa.
"Aku dan teman-teman hanya tidak suka melihat kalian seperti kucing pemalu yang canggung begitu. Makanya pesanan Nona cantik ini kami dahulukan."
Kiba berlalu menuju kawan-kawannya yang ternyata memperhatikan mereka dan tertawa, membuat Naruto mendengus. Ya, di ujung sana, ada setidaknya lima orang pria yang tengah menatap mereka, seolah penasaran apa yang akan terjadi selanjutnya.
"Jangan pedulikan, mereka memang suka begitu," ujar Naruto.
Tatapan pria itu beralih pada Hinata, tepat menusuk sepasang amethystnya. Hinata menjadi semakin gugup, jemari tangannya saling meremas di bawah meja. Namun, ia paksakan untuk tetap melihat Naruto.
"Jadi kau ke sini dengan terengah-engah seperti tadi, kusimpulkan kau sengaja mencari tempat ini dan kemudian menemukannya? Ya, kecuali ada penguntit atau polisi yang mengejarmu."
Hinata merasa tersinggung dengan kalimat terakhir Naruto yang terdengar sinis, tetapi ia diam saja.
"A-aku …."
"Jangan membohongiku dengan mengatakan bahwa kau tidak sengaja menemukan tempat ini, Hinata. Karena aku tidak akan percaya."
Naruto masih menatap dirinya tajam, seakan sedikit saja jawaban yang tidak membuat laki-laki itu puas, akan membunuhnya.
Hinata menggeleng, "Aku ingin bertanya ten-tang pekerjaanmu dulu, karena aku yang menggantikannya."
Naruto tertegun, ia bergeming sesaat, sebelum akhirnya menurunkan bahunya yang menegang dan mendesah maklum.
"Kukira kau rindu dijodoh-jodohkan denganku," lirihnya dengan maksud untuk tidak didengar Hinata.
"Ya-yang i-itu juga," jawab Hinata tak kalah lirih.
Tubuh Naruto mendadak kaku. Kendati suasana ramai, ia masih mampu mendengar suara Hinata yang sangat kecil. Naruto tahu, Hinata mengatakan kalimat itu tak selancar kalimat pertama tadi. Pria itu merona sampai ke telinga. Membuatnya terpaksa menutup wajah dengan sebelah tangan, menyisakan sepasang mata yang melirik jauh dari tujuan.
Jujur, ia gugup. Naruto merasa jantungnya berkali lipat lebih cepat. Ditambah lagi ketika gerombolan manusia penggoda di seberang sana mulai meneriakkan suara-suara aneh menyerupai cuitan burung.
"Yang itu jugaaaaa …."
Sungguh, jika punya keberanian, Hinata ingin sekali menampar mulut manusia laknat itu. Namun yang wanita itu lakukan hanyalah menunduk, tak mampu untuk menahan rasa malu yang luar biasa.
Tiba-tiba tangannya ditarik paksa oleh Naruto.
"Ayo pergi, di sini banyak jomblo kurang perhatian."
Senyum Naruto membuat hatinya seketika menghangat. Terlebih ketika pria itu melanjutkan ucapannya saat keduanya sudah berada di luar kedai.
"Aku anggap itu jawabanmu atas perasaanku."
.
.
.
TAMAT
.
.
.
Tambahan
"Hinata, tadi kau serius?"
"Yang mana?"
"Mau bertanya tentang pekerjaan lamaku yang kau gantikan."
Tubuh Hinata mendadak kaku, sebelum ia menggeleng cepat.
