Mango is back, Yey!

Seneng banget banyak yang antusias di Sick, untuk melanjutkan kisah mereka. Sedikit terlambat dalam pengetikan tetapi aku akhirnya berhasil membuat sebuah chapter untuk mereka. Love it!

Trimakasih banyak atas review, fave and follow yang kalian berikan di Sick, aku sudah membalas review kalian 1 persatu yang memiliki akun #Bergetargembira.

Kuharap kalian menyukai lanjutan cerita ini.

Karena cerita ini adalah sequel dari sick, kuharap kalian membaca Sick terlebih dahulu untuk mengerti cerita ini.

Maaf bila ada Typo, Ooc..

Naruto hanya milik Masashi kishimoto seorang.

Date : 25 april 2019

-Sour-

Sakura mengehela nafas berat, memijat pelipisnya perlahan, menutup matanya, menyandarkan tubuhnya di kursi miliknya. Sakura tidak peduli akan laporan di mejanya yang berserakan ataupun laporan yang seharusnya ia kerjakan saat ini, ia tidak peduli.

"Sakura-san, apa kau baik-baik saja?" tanya seorang pria berdiri di sebelahnya, menyerahkan secangkir kopi panas dan Sakura menerimanya, menghirup aromanya perlahan, meminumnya seteguk kemudian menaruhnya kembali.

"Aku baik, Toshiro." Jawab Sakura singkat, tetapi tidak menghentikan aktivitasnya yang memijat pelipisnya, berpikir keras.

"Apakah ini karena Kazekage-sama?" ucap Toshiro tiba-tiba.

Sakura mendongak kecil, tersenyum kesal menatap Toshiro dengan pandangan membunuh. "Kazekage yah," desisnya perlahan.

'Benar. Semua hal ini karena pria itu!'

Toshiro yang menyadari bahwa nama Kazekage agak sedikit terlarang akhir-akhir di hadapan Sakura. Sakura menutup kembali matanya, menghela nafas. "Aku hanya lelah Toshiro,"

"Maaf Sakura-san," seorang pria memasuki ruangannya dengan gugup, memperhatikan sekelilingnya dan menatap wanita berambut muda itu. "Kazekage-sama ingin meminta laporan anda,"

'Bahkan ia tidak mengizinkan aku beristirahat! Sial' gerutu Sakura.

"Toshiro, kau bisa memberikan ini kepadanya." Sakura menyerahkan beberapa dokumen yang berserakan di mejanya dan Toshiro segera mengambilnya.

"Tidak bisa Sakura-san, dia meminta anda sendiri dan saya disini memastikan anda sendiri yang mengirimnya," ucap pria itu di balik topeng bonekanya.

"Sepertinya Kazekage kalian membenciku yah, sampai menyuruh Anbu untuk menjemputku," ucap Sakura menghina. Ia berdiri dari mejanya, mengambil dokumen itu dan berjalan keluar.

-Sour-

Suasana ruangan Gaara saat ini sangat baik, laporan yang semakin sedikit karena ia memaksa dirinya untuk mengerjakannya semalaman. Tersenyum kecil menyoret beberapa hal yang tidak perlu di dokumennya dan membacanya perlahan.

Suara langkah tergesa-gesa perlahan terdengar, Gaara dapat merasakan aliran cakra yang sangat ia kenal mendekati mejanya.

Suara pintu di ketuk dengan keras.

"Masuk,"

Wanita itu masuk, masih mengenakan seragam dokternya, wajahnya bersemu merah akibat betapa cepatnya ia datang ke kantor Gaara. Nafasnya bergerak perlahan, kakinya berdenyut mengingat ia mengenakan sepatu dengan hak.

"Bagus kau disini," ucap Gaara perlahan mendongak dan Sakura membalasnya dengan menatapnya tajam.

"Ini laporanmu. Kazekage-sama," ucap Sakura ketus, menyodorkan dokumen itu dan Gaara menatapnya.

Gaara tidak suka dengan sifat Sakura sekarang. Biasanya wanita ini akan menunjukan rasa hormat kepadanya, tetapi akhir-akhir ini sepertinya wanita itu tidak peduli dengan status Gaara saat ini. "Ada apa?" ucapnya dengan nada datar.

"Tidak ada," balas Sakura cepat. "Sekarang bila tidak ada pertanyaan, aku akan pergi."

"Kau belum diizinkan untuk pergi Sakura-san."

"Sial! Kazekage sialan!" batin Sakura, berbalik dan menatap pria tenang di hadapannya, meremas buku-buku jarinya.

"Ada apa?" kali ini ada perubahan dari suara Gaara.

"Tidak ada!" jawab Sakura cepat.

Gaara menatapnya kemudian mengalihkan pandangannya pada laporan yang di bawa Sakura. "Great. Aku punya waktu yang panjang untuk membuatmu berbicara Sakura-san," ucap Gaara ringan.

Sakura menghela nafas, "Tidak ada Kazekage-sama," ucapnya dengan nada berat. "Jika diizinkan aku akan pergi, banyak tugas yang harus diselesaikan."

"Ada apa?"

Sakura bergerak tidak nyaman. Ia benci dengan pertanyaan sepele dan Gaara mengejarnya sampai mendapatkan jawabannya. "Tidak ada Kazekage-sama," kali ini Sakura menjawabnya dengan nada mantap. Jika saja Naruto yang di hadapannya dengan senang hati ia akan memukul pria itu. Sayangnya, ia bukan Naruto.

Sakura mengingat kembali teman rambut pirangnya itu, ia merindukannya. Lebih baik menghadapi kebodohan Naruto dari pada kekeraskepalaan Gaara.

"Ada apa?"

"Apakah kau sangat tidak sibuk, Kazekage-sama? Sehingga kau terus mengajukan pertanyaan yang sama kepada orang asing?" tanya Sakura, ia melipat kedua tangannya di dadanya dan memandang Gaara tajam.

Gaara mendongak dari dokumen yang di baca Sakura. "Kau bukan orang asing disini, sudah dua bulan. Kau ingat?" ucapnya datar, mencoret beberapa kata-kata di dokumen itu.

Sakura ingin tertawa mendengar jawaban pria itu, bahkan Sakura tak menyadari bahwa ia sudah tinggal selama itu di Sunagakure. Pantas perasaan rindu terhadap teman-temannya muncul dalam pikirannya akhir-akhir ini.

"Ada apa?"

"Kenapa kau mengirim Anbu? Apakah Sunagakure sedang santai saat ini, sampai-sampai Anbu yang harus mengirimkan pesan itu kepadaku? Bahkan itu bukan pesan penting Kazekage-sama."

Gaara terdiam sejenak, menghentikan aktivitasnya dan memandang Sakura. "Terakhir kali aku memanggilmu untuk laporanmu. Dua jam kau membuatku menunggu, dua jam Sakura." Dengan penekanan pada akhir katanya.

Sakura mendengus kesal. "Aku menyuruh kamu yang datang dan kau menyuruh orang lain untuk mengirimnya," ucap Gaara, menekuk kedua tangannya memperhatikan Sakura dengan serius. "Aku mengirim seorang Anbu untuk memastikan kau mengirimnya dan datang ke kantorku tepat waktu, Sakura. Aku tidak punya banyak waktu, laporanmu adalah yang terakhir."

Sakura mendengus kesal. Bukan tanpa sebab Sakura melakukan hal itu, ia memang sengaja berusaha menjauhkan diri dari Gaara sebisa mungkin. Tetapi Gaara memiliki autoritas lebih dalam desanya.

"Kau tahu aku sibuk, rumah sakitmu sedang berkembang saat ini. Aku akan menyelesaikan laporan tepat waktu, tetapi jangan menggunakan Anbu. Itu membuatku seolah aku adalah tahanan disini," ucap Sakura.

"Baiklah, kau boleh pergi Sakura,"

-sour-

Sakura menyesali semua ucapannya dengan Kazekage, ia tidak pernah berharap seperti ini. Ia mengatakan apa yang ada dalam pikirannya dan Gaara meresponnya dengan pemikiran yang tidak bisa di duga.

Ia tidak bisa mengetahui pemikiran Gaara. Sedikitpun tidak.

Rumah sakit yang biasanya, tenang dan hanya terdengar beberapa orang lalu lalang. Suasana tenang sangat di butuhkan di rumah sakit ini, dengan suasana yang tenang setidaknya penyembuhan pasien akan lebih cepat.

Tetapi beberapa hari semenjak Sakura menemui Gaara di kantornya, suasana rumah sakit berubah dengan drastis.

Suara gaduh terdengar, jeritan kagum beberapa wanita muda, suster-suster yang seharusnya fokus bekerja semuanya berlari mendekati pria yang membuat gaduh rumah sakit akhir-akhir.

Tidak ada yang memprotes tentang kejadian itu, semuanya menutup mulutnya rapat. Walaupun beberapa dokter pria tidak menyukai suasana baru ini tetapi mereka tidak bisa melawan. Bahkan Sakura, ia tidak bisa mengerti apa isi pikiran Gaara.

"Disini Kazekage! Disini, ruangannya disini." Wanita muda membuka pintu ruangannya dan Gaara masuk perlahan, "terimakasih. Kalian telah membantuku," tersenyum kecil khas Kazekage, ia menutup pintu dan menatap Sakura.

"Sakura-san. Maukah kau memberikan laporanmu?" suara berat Gaara yang mampu membuat para pengemarnya histeria, tetapi Sakura merasakan efek sebaliknya. Tulang punggung belakangnya mengigil dasyat seolah ia melihat hantu.

Beberapa wanita masih memperhatikan mereka, mengintip dari jendala tembus pandang itu, menduga-duga apa yang sedang mereka bicarakan. Sakura tidak nyaman di kursinya, melihat hal itu Gaara berbalik, mendekati jendela dan menarik penutup jendela.

Seruan kecewa diri beberapa wanita dan kemudian mereka kembali ke tugasnya masing-masing.

"Kazekage-sama. Kau tidak perlu repot-repot melakukan ini, aku akan datang ke kantormu."

Gaara hanya terdiam, memperhatikan pakaian Sakura, ia mengenakan rok pendek hitam di atas lutut, kemeja konohanya dan jas putih miliknya. Biasanya Sakura mengenakan celana putih, Gaara menyipitkan matanya menimbang bahwa Sakura memang lebih baik mengenakan rok.

"Apakah kau datang kesini untuk menginpeksi pakaianku Kazekage-sama?" tanya Sakura tidak nyaman dengan tatapan Gaara yang menatapnya dengan serius.

Gaara berjalan perlahan, ia duduk di atas kasur pemeriksaan dan melipat kedua tangannya. "Kenapa kau mengenakan rok hitam?"

"Apakah itu penting?"

"Hanya bertanya,"

"Ino mengirimkan beberapa pakaianku dari Konoha, dan beberapa oleh-oleh dari Konoha." Sakura tersenyum kecil ketika ia membaca surat Ino yang menceritakan banyak hal menarik yang terjadi di kampung halamannya.

Gaara tidak membalas, "Dokumen?"

"Ah, aku lupa. Sebentar aku akan memintanya dari beberapa muridku," ucap Sakura segera keluar dari ruangan dan meninggalkan Gaara sendirian.

Seorang wanita memasuki ruangan Sakura, ia membawa dokumen di tangannya. "Sakura-san, meminta saya untuk mengirim ini kepada anda,"

Gaara menerimanya, "Dimana dia?"

"Sedang mengerjakan dokumen yang lain."

"Bilang padanya, lebih baik ia mengerjakannya disini."

"Baik Kazekage-sama,"

Sakura keluar dengan riang, ia tidak nyaman dengan Gaara yang di kantornya sementara ia sendiri lupa menuliskan rincian tentang apa yang terjadi kemarin di rumah sakitnya. Mengambil bolpen menuliskan beberapa kata, lebih baik ia mengerjakannya di resepsionis dari pada berdua dengan Gaara di ruangannya.

"Sakura-san, Kazekage meminta anda ke ruangan anda,"

Seharusnya Sakura sudah terbiasa dengan ini. Gaara tidak akan membuatnya tenang, pria itu terus mendesaknya, memaksanya sampai ia mendapatkan apa yang ia mau.

Sakura menghela nafas, tetapi ia tidak berhenti menyelesaikan dokumennya dan setelah ia selesai Sakura masuk dengan riang di kantornya. Berharap Gaara pergi meninggalkannya. Tetapi pria itu sama keras kepalanya seperti dia.

"Kazekage-sama, kau masih disini?"

Gaara tampak tak sabar, raut wajahnya kesal. "Tentu, aku sangat memiliki banyak waktu luang akhir-akhir ini,"

Sakura tahu bahwa itu bukan jawaban yang menyenangkan. Gaara menyindirnya. "Maafkan aku Kazekage-sama, aku tidak bisa mengerjakan disini, aku harus memastikan sesuatu." Jawab Sakura berbohong.

Gaara menyipitkan matanya. "Sakura, kau membuang waktuku."

"Maafkan aku. Apakah anda sudah makan siang?"

"Belum, kenapa?" tanya Gaara, bahkan ia tidak menyadari bahwa sekarang sudah waktunya jam makan siang. Terlalu asyik dengan beberapa buku medis yang ada di meja Sakura membuatnya lupa.

"Apakah anda mau makan siang? Kurasa ada Kafetaria disini tidak buruk,"

"Baiklah," Gaara menghembuskan nafas berat. "Maukah kau menolongku sebelum kita makan?"

"Apa?"

"Memijat kepalaku Sakura, berapa banyak beban yang kutanggung ketika kau tidak mendengarkanku," ucap Gaara dengan nada yang menyebalkan.

"Aku sudah minta maaf Kazekage-sama."

Gaara tidak peduli, mengerakkan tangannya meminta wanita itu untuk mendekat kearahnya. Sakura masih diam di tempatnya.

"Sakura, bukankah kau sudah berjanji kepadaku? Bukankah ninja Konoha selalu menepati janjinya?"

Perjanjian sialan.

-sour-

Kafetaria itu tampak sepi, sepertinya waktu makan siang mereka sudah habis dan hanya menyisakan beberapa orang disana.

"Ah, bahkan aku belum makan siang." Sakura memijat Gaara nyaris 30 menit, setiap kali ia hendak berhenti, pria itu pasti meminta lagi dan lagi. "Aku akan kembali bekerja," ucap Sakura lemah.

"Tidak, temani aku disini."

"Tapi jam makanku sudah lewat,"

Gaara tidak peduli. "Aku Kazekage disini Sakura,"

Bagus, pria yang keras kepala yang suka mengunakan otoritasnya.

Beberapa orang tampak terkejut ketika Kazekage mereka memesan beberapa makanan, memasak makanan yang terbaik untuk Gaara. Pria itu hanya tersenyum dan menerimanya.

Senyuman yang sering di pakai Gaara ketika ia berada dalam acara resmi, menyapa rakyatnya, hanya saja Gaara tidak pernah tersenyum seperti itu di hadapan Sakura. Bahkan ia tidak ramah terhadapnya.

Beberapa suster yang mengetahui bahwa Kazekage mereka ada di Kafetaria, perlahan mulai mencari perhatiannya. Beberapa pasien juga mulai turun untuk melihat Kazekage mereka di Kafetaria.

"Kurasa aku membawa orang yang salah kesini," ucap Sakura tidak nyaman. Para wanita melempar senyum ke Gaara, tetapi tatapan membunuh ke arah Sakura.

"Kau tak suka aku disini?"

Sakura menghela nafas, "Aku berjanji Gaara, aku tidak akan terlambat atau menyuruh orang lain untuk membawakan dokumenmu."

Gaara memakan supnya perlahan, "Barusan saja, kau membuatku menunggu Sakura."

Sakura mengigit bibirnya, ia hanya ingin menjauh dari Gaara. Hanya itu, ia semakin tidak nyaman dengan tingkah menyebalkan Gaara semakin hari. Bahkan Sakura lebih baik berurusan dengan Sai daripada Gaara.

"Aku berjanji Gaara,"

Gaara menatap makanannya dan memakannya perlahan. "Aku tidak yakin,"

Sakura merengek kecil, menyandarkan punggungnya pada kursi kafetaria itu dan meminum tehnya dengan tidak sabar. "Kau harus percaya padaku kali ini Kazekage-sama,"

"Sakura-san, apakah kau mau beberapa puding?"

"Yah, aku akan mengambilnya."

"Tidak perlu Sakura-san, biar aku yang mengambilnya." Dengan cepat Gaara berdiri menuju konter puding, beberapa wanita tua tersenyum ketika Gaara mendekat.

"Kazekage-sama, senang melihat anda di kafetaria ini. Bagaimana makanannya?" tanyanya dengan ramah.

Gaara tersenyum kecil, "Enak dan sangat bergizi. Aku sangat menikmati makananku," ucapnya.

"Kazekage-sama," panggil anak kecil disampingnya, Gaara membungkuk tersenyum kecil. Beberapa pertugas kantin kini berdiri di hadapan Gaara, beberapa suster juga tampaknya sedikit mendekat kearahnya berusaha mendengar percakapan mereka.

"Apa yang anda memiliki hubungan dengan Sakura-san?"

Gaara tersenyum kecil. "Kami memang akrab," ucap Gaara ringan. Gaara tidak bermaksud apapun dengan ucapannya, ia maksud adalah ia dan Sakura memang cukup akrab. Tetapi beberapa wanita menanggapinya dengan berbeda.

Beberapa wanita terkejut mendengar ucapan Gaara dan menjerit kesal, "Bisakah kau memberikanku 4 puding?"

"Tentu Kazekage-sama,"

Gaara menerima puding itu, menyerahkannya ke anak kecil itu. "Siapa namamu?"

"Naomi,"

"Nama yang bagus, aku harus pergi." Gaara mengusap rambut anak kecil itu, meninggalkannya terpana atas apa yang terjadi.

"Apa yang terjadi Kazekage-sama?" tanya Sakura tidak sabar.

"Ini, kau membutuhkan ini lebih banyak," ucap Gaara menyerahkan tiga pack puding di tangannya. "Aku harus pergi, nikmati pudingmu Sakura-san," ucap Gaara dan menghilang dengan jurus teleportasi miliknya.

Sakura memakan puding itu dengan bertanya-tanya.

-To be continued-

Akhirnya selesai juga, menatap jam di dinding. Lol.

Fakta bahwa Sakura tidak tahu apa yang menimpanya.

Kuharap kalian menyukainya, Sakura disini berusaha menebak permainan Gaara, tetapi tetap saja tidak memiliki Clue tentang apa yang dimainkan Gaara.

Fic ini tidak memiliki banyak chapter, kurasa. Hanya 5 atau 6, tapi tidak tahu lagi apakah bisa berubah di kemudian hari. Saat ini saya belum bisa berkomitmen banyak untuk membuat sebuah cerita panjang.

Saya salut dengan mereka yang bisa menulis dengan chapter panjang.

Klik Review please, lanjut or not??

Klick review, fave and like. Aku akan menunggu kalian

Mangoissour leave.