Ada beberapa informasi yang aku sadari setelah aku dihidupkan kembali di dunia ini. Yang pertama, dan yang paling membuatku penasaran sejak pertama kali aku membuka mata, ialah tubuhku saat ini adalah tubuh manusia, bukan lagi tubuh kugutsu. Aku ingat tubuh ini. Tubuh ini adalah tubuh terakhirku sebagai manusia, sebelum aku memindahkan kesadaranku ke dalam jantung buatan. Aku ingat saat itu umurku 20 tahun. Sayangnya, wajahku lebih terlihat seperti remaja, beberapa tahun di bawah umurku sebenarnya.

Kedua, tidak ada aliran chakra di tubuhku. Aku sedikit khawatir pada awalnya. Bagaimanapun, aku sudah sangat terbiasa dengan keberadaannya. Ada rasa tidak nyaman di tubuhku. Persis seperti ketidaknyamananku saat merasakan rasa lapar setelah beberapa dekade tidak pernah merasakannya. Informasi baru: aku menyukai pancake madu sebagai sarapan. Kabar baiknya, di dunia ini ada hal yang cukup mirip dengan chakra dan jutsu. Hal itu adalah mana dan sihir. Meskipun cukup mirip dengan sistem chakra, aku belum sepenuhnya mengerti tentang sihir.

Konsep sihir bisa dibilang lebih sederhana dibandingkan dengan jutsu. Jika jutsu memerlukan keahlian untuk memanipulasi chakra, dalam hal ini segel tangan, maka sihir tidak memerlukan itu. Sihir lebih kepada imajinasi seseorang, seperti yang dijelaskan oleh Sitri. Tapi sayangnya, tidak semua sihir dapat dipelajari. Ada beberapa sihir yang hanya bisa dimiliki oleh garis keturunan tertentu. Konsep itu mirip kekkai genkai di duniaku sebelumnya.

Ketiga, di dunia ini ada tiga fraksi yang tengah berperang, Tuhan, Fallen Angel, dan Iblis. Selain ketiga fraksi itu, ada beberapa fraksi lain yang saat ini masih netral. Oh ayolah, tidak adakah dunia yang damai? Dunia ini bahkan lebih buruk, sampai-sampai Tuhan dan malaikat pun juga berperang.

Selain sihir, di dunia ini juga ada yang lebih langka dibandingkan dengan seseorang yang menguasai sihir. Hal itu adalah sacred gear. Menurut Sitri, sacred gear adalah anugrah dari Tuhan kepada manusia. Peluang seseorang manusia memilikinya adalah satu berbanding sejuta. Selain itu, Sitri berkata bahwa peluang dua orang memiliki sacred gear yang sama, adalah sama dengan nol.

Ngomong-ngomong tentang sacred gear, itu adalah informasi keempat. Lebih tepatnya informasi ini sudah ada di kepalaku saat pertama kali aku datang ke dunia ini. Hanya saja aku baru mengerti apa maksud informasi itu setelah Sitri menjelaskan tentang sacred gear padaku. Informasi keempat adalah, aku memiliki sacred gear.

xxx

Aku adalah orang yang sangat benci menunggu. Tapi setelah datang ke dunia ini, aku menemukan hal baru yang menggeser 'menunggu' dari tempat pertama "daftar hal yang paling kubenci". Hal itu adalah matematika. Oh ayolah, aku bahkan tidak tahu apa itu 'x'. Bagaimana aku harus mencari hal yang bahkan tidak aku ketahui. Aku lebih memilih melawan sepuluh Kazekage, daripada berhadapan dengan hal abstrak ini. Untungnya, suara bel beberapa saat lalu menyelamatkanku dari neraka tersebut.

Saat ini aku berada di sebuah ruangan kelas di Kuoh Gakuen. Mulai hari ini, aku adalah siswa sekolah ini. Sitri bilang, aku sebagai familiarnya harus selalu berada di dekatnya. Jadi, mau tidak mau, aku harus menjadi siswa Kuoh, yang notabenenya, adalah wilayah kekuasaan keluarga Sitri.

Di kehidupanku yang sebelumnya, aku adalah seorang shinobi yang telah melalui beberapa peperangan, aku telah terbiasa mengalami tekanan. Tapi entah kenapa, ditatap tajam oleh sekelompok gadis remaja membuatku berkeringat dingin. Apakah ini gara-gara darah remaja yang mengalir di tubuhku? Dan apa-apaan ini! Mengapa aku satu-satunya laki-laki di kelas ini?

"Akasuna." Aku menoleh saat mendengar namaku dipanggil. Di sampingku seorang gadis berambut hitam panjang berdiri. Matanya, yang sewarna dengan milikku, menatapku tajam di balik kacamatanya. "Ikut aku!"

"Haruskah?" Aku menjawab malas. Kau tahu gadis kecil-. Mataku menatap sepasang 'sesuatu' di depanku. -maksudku gadis besar. Aku sudah menghabiskan seluruh energiku untuk menahan diriku agar tidak keluar dari ruangan ini sejak menit pertama pelajaran matematika tadi. Jadi, sopanlah sedikit, sialan! "Oh, dan kau melupakan kata 'kumohon' di ucapanmu tadi."

"H-hah?!" Wajah gadis di sampingku memerah. Mulutnya sedikit terbuka. Sepertinya ia tidak mengira aku akan menjawabnya seperti itu. Aku menyeringai penuh kemenangan. Maafkan aku, gadis besar. Aku hanya sedang butuh pelampiasan stres saat ini. "K-kau..."

"Ya, ya, aku mengerti." Aku bangkit dari tempat dudukku. "Silahkan tunjukkan jalan...," aku tersenyum kecil ke arah gadis itu. "...Tsubaki-chan."

"Ba-baik."

Dan untuk kedua kalinya, wajah gadis berambut hitam itu memerah. Tapi tentu saja, kali ini bukan karena kesal. Aku tahu itu.

xxx

"Ne...," Suara Tsubaki akhirnya memecahkan keheningan. Saat ini aku tengah mengekorinya. "Bagaimana kau bisa tahu namaku?"

"Hee..., kau penasaran?" Aku dapat melihat gadis yang berjalan di depanku sedikit tersentak. Dari posisiku saat ini, telinganya yang sedikit bersemu dapat terlihat oleh mataku. Aku menyeringai karena hal itu. "Bagaimana kalau aku bilang tebakan beruntung, Tsubaki-chan?"

"Berhentilah bercanda, Akasuna!" Tsubaki mendengus kesal. "Dan berhentilah memanggilku Tsubaki-chan. Aku tidak ingin orang-orang menganggap kita terlalu akrab." Ia kemudian sedikit bergumam. "Karena inilah aku membenci laki-laki."

"Hmm, kalau begitu...," aku menyeringai. "Bagaimana dengan laki-laki pirang tadi? Apakah kau juga membecinya? Aku melihatmu merona saat melihatnya."

"A-a-a-apa maksudmu?" Bingo! Tsubaki menghentikan langkahnya lalu berbalik. Wajahnya sewarna kepiting rebus. Aku tekekeh geli. Menurutku tingkah gadis di depanku sangat lucu. Oi oi, Tsubaki-chan. Ada apa dengan wajah cool kebanggaanmu itu? Setelah beberapa saat, gadis itu akhirnya membuang muka. Sepertinya ia sadar kalau aku sedang menggodanya. "Berhentilah mempermainkanku, Bakasuna!"

"Ya, ya. Maafkan aku, Tsuba-"

"Panggil aku, Shinra!"

"Shinra."

"San"

"-san."

"Hmph..."

Setelah itu, kami berjalan dalam diam. Lebih tepatnya, Shinra sepertinya tidak ingin berbicara denganku. Aku menyibukkan diriku mengamati situasi di sekelilingku. Suasananya benar-benar damai. Bahkan aku sampai meragukan ucapan Sitri tentang peperangan tiga fraksi itu. Aku tersenyum getir menatap siswa-siswa yang tertawa bahagia. Entah sudah berapa kali aku menghancurkan tawa seperti itu. Ternyata aku harus mati tiga kali sampai aku mengerti sepenuhnya, kalau hal yang sebenarnya kuinginkan adalah tawa seperti itu. Tawa bahagia.

"Kita sampai."

Suara Tsubaki membuatku tersadar dari lamunanku. Saat ini kami berdua berada di depan pintu yang bertuliskan "Ruang OSIS". Tsubaki mengetuk pintu itu, lalu membukanya setelah mendengar balasan dari dalam.

Di dalam ruangan itu, ada beberapa orang, lebih tepatnya beberapa gadis. Perasaanku saja, atau laki-laki di dunia ini benar-benar berada di ambang kepunahan? Tatapan mereka tertuju ke arahku.

"Selamat datang Akasuna Sasori-kun." Suara Sitri membuat perhatianku tertuju ke arahnya. Ia saat ini tengah duduk di kursinya, sambil melipat tangannya di atas meja. "Selamat datang di keluarga Sitri."

xxx

Aku menghela nafas lega. Akhirnya tumpukan kartu yang beberapa saat lalu masih berada di tanganku telah habis. Mungkin jika mendengar kata 'iblis', yang pertama kali dipikirkan orang-orang adalah ossan berwajah menyeramkan, dengan sepasang tanduk besar, yang tinggal di kastil hitam yang megah, serta berambisi untuk menguasai dunia. Yah, maaf merusak ekspektasi kalian. Pekerjaan iblis tidaklah sekeren itu.

Iblis bertahan hidup dengan melakukan kontrak dengan manusia. Menurut Sitri, karena dunia manusia yang saat ini jauh dari peperangan, cukup sulit untuk iblis membuat kontrak dengan manusia. Selain itu, saat ini semakin sedikit manusia yang percaya dengan keberadaan iblis, bahkan keberadaan Tuhan sekalipun. Karena itulah diperlukan semacam cara untuk membuat manusia membuat kontrak dengan kami. Dan taadaa..., disinilah aku sekarang, menyebarkan kartu kontrak dengan lambang Sitri di atasnya. Dibandingkan seorang iblis, aku lebih terlihat seperti seorang pekerja paruh waktu, bukan

Kartu kontrak ini berfungsi sebagai perantara iblis dengan manusia. Sitri mengatakan, bahwa saat manusia tenggelam dalam keinginannya, tanpa mereka sadari mereka akan melakukan apapun untuk mendapatkannya. Dan disanalah peluang bisnis bagi para iblis.

"Kerja bagus."

Suara seorang gadis membuatku terbangun dari lamunanku. Apakah aku terlalu tenggelam dalam pikiranku, atau gadis di depanku terlalu pintar menyembuyikan keberadaannya, hingga aku tidak menyadarinya sampai ia membuka suaranya. Sinra Tsubaki berdiri di depanku sambil berkacak pinggang, dengan wajah dingin kebangganya.

"Yo..." aku hanya menyapa seadanya. "Kerja bagus."

"Apa yang mebuatmu begitu lama menyelesaikan pekerjaan sepele ini?" Perempatan imajiner muncul di keningku. Oh ayolah... aku baru saja menyelesaikan pekerjaan membosankan ini. Tidak bisakah kau setidaknya bertingkah sedikit manis, Tsubaki-chan? Aku baru menyadari kalau hari telah berubah menjadi malam. "Kau membuatku terlambat, Akasuna?"

"Ya...ya..., maafkan aku Shinra-san. Bagaimanapun ini adalah pekerjaan pertamaku." Aku hanya membalas tak acuh pada gadis di depanku. "Dan juga, bukankah harusnya seorang senior membimbing juniornya. Bukan hanya mengamati dari jauh seperti seorang stalker. Atau jangan-jangan, kau memang seorang stalker, Shinra Stalker-senpai?"

"Berhentilah mempermainkan nama orang, Bakasuna!" Bukankah kau juga melakukannya, Tsubaki-chan? Aku hanya tersenyum kecil. Menggoda gadis di depanku membuat rasa lelahku sedikit berkurang. Shinra menghela nafas kesal. "Jika bukan karena perintah Kaicho, aku lebih memilih melawan sekelompok iblis liar daripada menemanimu, kau tahu?" Baru saja aku berniat membalas perkataanya, Shinra menatapku tajam. "Dan berhentilah bicara! Buatlah sihir teleportasi sekarang!"

"Ba-baik."

Aku menelan ludahku. Instingku mengatakan jika aku menggoda gadis di depanku lebih jauh, maka aku tidak akan pulang dengan tubuh utuh malam ini.

Aku mulai berkonsentrasi. Jika kau mempunyai pengelihatan seperti milik klan Hyuga, kau mungkin dapat melihat aliran mana yang mulai keluar dari tubuhku. Lingkaran biru mulai terbentuk di bawah kakiku dan kaki Shinra. Konsep sihir teleportasi bisa dikatakan mirip dengan sunshin, yaitu memindahkan tubuh melewati ruang dan waktu menuju ke koordinat tertentu.

Saat cahaya biru mulai membungkus tubuh kami, aku baru menyadari sesuatu.

"Ah..."

"Hm..." Shinra menatapku dengan tatapan penasaran. "Ada apa?"

"Aku baru ingat..." aku tersenyum ke arah Shinra sambil menggaruk belakang kepalaku yang tidak gatal. "...aku belum menentukan koordinat tujuan kita."

"E-eh?!"

TBC

A/N:

Tidak sesuai dengan harapan? My deepest apology

Arch Strike: Setengah dari pertanyaanmu terjawab di chapter ini. Sasori tanpa chakra!

Kekuatan Sasori mungkin akan author perlihatkan di chapter selanjutnya. Don't expect too much. Kekuatan Sasori nggak bakal "wah" banget kok :v.

Lactobacillus, out.

Mind to RnR?