Title : Walking into Disaster

Pairing: SasuSaku

Disclaimer: Naruto isn't mine

Warning Notes: AU, Multi-chapters. Typos. American High School-set. MATURE SCENES.

Summary:

Sasuke adalah musuh bebuyutan Naruto, sahabat sejak lahir Sakura. Apa yang harus Sakura lakukan kalau Sakura tidak bisa menahan godaan untuk dapat menghabiskan sexy-times bersama musuh sahabatnya?

A: Katakan dengan keras pada Sasuke bahwa dia tidak akan melakukannya lagi dengan Sasuke karena itu adalah hal paling bodoh yang pernah ia lakukan.

B: Mengatakan yang sebenarnya pada Naruto, dan melihat Naruto membunuh Sasuke dengan tangan kosong agar Sakura tidak perlu pusing memikirkannya.

B: Menjelaskan dengan tenang pada Sasuke bahwa situasinya terlalu buruk dan hey, mungkin kalau kau bias berdamai dengan Naruto, kau dan aku bisa ciuman lagi, karena, duh, kau melakukannya dengan sangat baik.

C: Lupakan semuanya, langsung melompat masuk ke dalam api dan melakukan seks dengan Sasuke lagi.

D: Mengubur diri hidup- hidup dan menunggu belatung memakannya hingga habis.

o

O

o

Last Chapter

o

O

o

Sakura hanya mengantar kedua orang tuanya sampai depan gerbang pintu rumah di sabtu sore saat mereka akan terbang ke Maldives untuk ulangtahun pernikahan mereka. Dia sudah menawarkan diri untuk mengantar sampai bandara, namun ayahnya mengatakan bahwa akan lebih efisien jika mereka memesan Uber.

Naruto baru saja menelepon dan meminta maaf karena dia tidak bisa menemani Sakura weekend ini karena dia masih ada di rumah pamannya di kota sebelah dan hanya mendapatkan tiket kereta pertama untuk hari Senin. Sakura cukup lega mendengarnya—bukan berarti dia tidak mau menghabiskan waktu dengan Naruto. Hanya saja dengan absennya Naruto, berarti dia tidak perlu sembunyi- sembunyi untuk dapat bertemu Sasuke atau menunggu sampai larut malam.

Sakura tidak memberitahu orang tuanya bahwa dia sudah memiliki pacar. Mereka berdua selalu berpikir bahwa pada akhirnya Sakura akan menikah dengan Naruto tidak peduli betapa keras Sakura dan Naruto menyangkalnya. Sakura merinding memikirkan akan menikahi Naruto(dude, itu seperti kau menikahi kakak—atau adik—laki-lakimu! Incest--Tidak bisa diterima!).

Sasuke Uchiha mungkin bukan nama yang ada di urutan paling atas daftar calon pacar yang ideal menurut ayah Sakura. Mungkin nama Sasuke malah ada dalam daftar hitam nama yang tidak boleh berada lima meter dari Sakura, apalagi masuk ke kamar anak perempuannya.

Ada alasan untuk itu. Alasan utamanya tentu saja karena Naruto sudah mencuci otak orang di sekelilingnya tentang betapa buruknya Sasuke, menceritakan kenakalan apa saja yang pernah Sasuke lakukan--termasuk orangtua Sakura.

Sebelumnya, Sakura hanya memutar bolamata setiap kali Naruto menjelekan Sasuke di tempat yang bisa didengar ayahnya. Karena, siapa yang peduli, kan? Sakura tidak perlu peduli tentang pendapat ayahnya tentang Sasuke Uchiha.

Tentu saja sekarang, Sakura berharap dulu dia membawa Naruto jauh- jauh dan menggosip di kamarnya saja. Atau setidaknya mencoba menjelaskan pada orangtuanya bahwa Sasuke tidak seperti yang Naruto katakan. Sekarang sudah terlalu terlambat untuk menjelaskan apapun. Jadi Sakura tidak mengatakan bahwa akan ada seseorang yang akan datang ke rumah selagi mereka bersenang-senang di Maldives, karena mereka pasti akan bertanya siapa. Dan Sakura tidak bisa menjawabnya.

Sakura tidak melakukan apapun untuk menunggu kedatangan Sasuke. Dia hanya naik ke kamarnya, mengambil beberapa pakaian kotor dari lantai dan sandaran kursi dan belakang pintu lalu meletakannya di ruang laundry sebelum mengirimi Sasuke pesan.

Dua puluh menit kemudian dan setelah menonton dua video Kids Says the Darnest Things lewat ponsel pintarnya, datanglah sosok yang ia tunggu.

Sasuke berdiri membeku di ambang pintu kamarnya. Sakura mendudukan diri di ranjang dan melemparkan—apa yang dia pikir—senyuman seksinya tapi mungkin lebih mirip orang sembelit, jika melihat reaksi Sasuke (mata melebar, bibir terbuka dan pandangan kosong). Seluruh tubuhnya membentuk siluet kaku, tangannya memutih dengan tidak lancarnya sirkulasi darah di sana dengan betapa kerasnya dia menggenggam handel pintu.

"Hey," sapa Sakura terengah, matanya berpindah dari dua box pizza di tangan Sasuke dan wajah tampannya lagi dan lagi, mencoba memilih satu fokus.

Sasuke membersihkan tenggorokan, "Tidak apa- apa kalau aku masuk?" suaranya… Sakura tidak tahu bagaimana menjelaskannya. Sangat terkontrol, seperti dia sudah latihan sebelumnya di depan kaca, setiap kata yang keluar sudah dipilih secara presisi.

"Kau tidak perlu minta izin," kata Sakura, "kita sudah membicarakan tentang…"

"Aku tidak…" Sasuke menjeda, kembali terbatuk, menutup mata. "Aku hanya memastikan, kalau kau tidak…"

"Sasuke," panggil Sakura tenang, "masuklah. Aku tidak berubah pikiran."

Jeda cukup lama untuk membuat Sakura merengut dan menghembuskan nafas keras lewat hidung.

"Kalau aku masuk sekarang, maka aku tidak akan mundur lagi. Dan aku tidak akan bisa mengontrol tanganku untuk tidak lepas dari tubuhmu."

Sakura menjatuhkan kepala ke atas bantal mendengarnya. Dia menarik nafas dalam dan pelan, setengah tidak percaya ini akan terjadi. "Bukankah itu rencananya?"

Sasuke memasuki kamar, menutup keras pintu dan menjatuhkan kotak pizza di meja. Butuh beberapa detik saja sebelum mereka berdua bergumul di atas ranjang. Bibir, tangan di mana- mana.

Terlalu banyak kain.

Panas.

Lepas.

Lepas.

Tangan besar Sasuke mendorong kepala Sakura ke atas bantal sebelum menciumnya; keras, panas dan putus asa. Sakura meraba punggung terbuka Sasuke dengan jemarinya.

"Sasuke," desah Sakura saat bibir pemuda itu mencapai lehernya.

"Beritahu aku," bisik Sasuke, mengecup dada Sakura—bukan di tempat yang Sakura paling inginkan—"beritahu aku apa yang kau inginkan, sayang, kau harus beritahu aku. Akan aku berikan apapunyang kau mau dan lebih banyak lagi…"

Sakura mengerang. Diksi tiba- tiba menjadi sesuatu yang asing dan tidak pernah ia pelajari bagaimana cara menggunakannya sebelumnya.

"Katakan," bisik Sasuke di telinga Sakura, lidahnya bermain di sana. Hangat. Basah.

Jemari lentik Sakura menyapu dada Sasuke, "Aku mau kau." Kata Sakura pada akhirnya. Lidah Sasuke menjelajah tulang selangka Sakura, "Miliki aku," Sakura menarik rambut Sasuke untuk menjauhkan bibirnya dari tubuhnya sesaat. "seutuhnya."

"Kau sempurna," bisik Sasuke sebelum memberikan apa yang Sakura mau—dan mendapatkan apa yang dia damba sejak lama.

o

O

o

(Fernando 11.24) : pulang sekolah?

(Sayang 11.25 ) : ?

(Sayang 11.25 ) : pakali kalimat utuh, please?

(Fernando 11.26) : kalimat utuh; Sayang, apa kau mau ketemuan sepulang sekolah?

(Sayang 11.28) : mungkiiin.

(Sayang 11.28) : apa rencanamu?

(Fernando 11.31) : semuanya.

(Sayang 11.32) : Aww! Mister Naughty!

(Sayang 11.32) : kau tahu ibuku di rumah hari ini, kan! Kenapa menggodaku?!

(Fernando 11.34) : sial, aku lupa. Kakakku juga di rumah dengan temannya,

(Sayang 11.38) : bukannya kau pernah bilang kamarmu kedap suara?

(Fernando 11.38) : aku tak suka membawamu ke tempat di mana ada kakakku. Dan temannya, sayang.

(Sayang 11.40) : oh well.

(Sayang 11.40) : apa teman kakakmu HOT?

(Fernando 11.41) : tidak lebih seksi dari aku. ;)

(Fernando 11.45) : bagaimana?

(Fernando 11.52) : bisa tidak?

(Fernando 12.03) :Aku tidak ingin pulang sebelum kita bertemu. besok sudah akhir pekan.

(Sayang 12.17) : tunggu aku di tempat biasa. Masabodoh dengan Naruto.

o

O

o

Sakura dan Sasuke sudah sangat akrab dengan gudang sekolah sekarang. Dari semua tempat yang bisa mereka gunakan(dan yang sudah mereka coba) untuk bermesraan di sekolah, yang paling aman adalah gudang.

Mereka sudah mencoba toilet(terlalu berisik, terlalu menggema, sepatu Sasuke terus berdecit menggesek keramik, sekali ada seseorang yang sedang diare parah masuk ke toilet sebelah saat mereka tengah sibuk perang lidah--secara harfiah. Menghilangkan mood mereka seketika.) membuat mereka mencoret toilet dari daftar.

Di belakang bangku penonton di lapangan basket indoor (lagi-lagi, sepatu Sasuke mendecit dan banyak debu di mana- mana, seekor tikus melompat entah dari mana ke arah kaki Sakura.) mereka mencoretnya dari daftar.

Di kebun kosong dekat lapangan (Sasuke salah perhitungan kapan waktu latihan sepak bola di mulai, alhasil mereka hampir ketahuan pelatih saat tangan Sasuke tengah berada di balik baju Sakura, untungnya hanya Juugo yang melihat mereka—lagi, mereka mencoretnya dari daftar).

Gudang penyimpanan alat kebersihan adalah tempat paling aman selama ini. Sunyi, tidak ada tikus yang melompat atau kecoa terbang—sejauh yang Sakura tahu—dan tidak ada tim sepak bola yang bisa memergoki mereka. Hanya ada mereka dan beberapa alat pel. Walau masih tetap beresiko, karena mereka sering berada di sana sepulang sekolah, dan besar kemungkinan petugas kebersihan masuk untuk mengambil sesuatu dan melakukan pekerjaannya.

Sakura tidak ingat kapan terakhir kali ia melihat seorang petugas kebersihan, jadi dia pikir mereka aman untuk sekarang ini.

Sakura mengecek sepanjang koridor—kosong, sebelum membuka pintu dan menutupnya. Dia tidak heran melihat Sasuke sudah berada di dalam, berdiri sambil memainkan ponselnya. "Akhirnya datang juga," katanya sambil mengantongi ponsel dan tersenyum miring.

"Mereka sedang bagi- bagi sisa cookies di kantin," Sakura merogoh dua bungkus cookies dari saku dan memberikannya pada Sasuke. "Aku tidak mungkin melewatkannya."

"Tentu saja," Sasuke setuju dan mengambil satu.

Sakura memakan tiga bungkus cookies lain dari sakunya dengan cepat, tidak seperti Sasuke yang mengigit sedikit- demi sedikit seperti orang normal. Tidak seperti Sakura.

Setelah selesai, dia menatap tangannya yang kotor karena remahan cookies dan menyodorkannya pada Sasuke.

Tanpa berpikir dan tanpa diminta, Sasuke mengambil tisu basah dari tasnya dan membersihkan tangan Sakura. Rasanya mereka seperti sudah menikah selama dua puluh tahun dan saling memahami satu sama lain walau secara tekhnis, mereka baru saja dekat selama dua bulan. Mereka berdua seperti… seirama. Sesuatu yang tidak bisa dijelaskan dan terjadi begitu saja.

"Jadi," mulai Sakura, melempar tisu basah bekasnya ke tempat sampah terdekat. "kau ada rencana untuk akhir pekan ini?"

Sasuke merengut, "Kata siapa?"

"Smsmu tadi," jelas Sakura mengernyitkan dahi "kau bilang ingin melihatku sebelum memulai akhir pekan seperti ada hal yang penting."

"Memang penting," Sasuke mengangguk, "aku ingin melihatmu hari ini, bukan berarti besok aku tidak akan menemuimu."

Sakura memutar bola mata seperti dia sedang sebal, padahal tidak. Sama sekali. Dia dengan senang hati mengambil semua kesempatan yang ia dapat untuk bertemu Sasuke tidak peduli bagaimana dan di mana situasinya. Entah di gudang, toilet, mobil Sasuke, atau mobilnya, di mana saja. "Jadi apa yang akan kita lakukan akhir pekan ini?"

"Orangtuamu di rumah?" pemuda itu mendekat, menyatukan jemari kedua tangan mereka. Sakura menggeleng. "Kalau begitu, kita bisa melakukan apapun yang kau inginkan."

Sakura tersenyum lebar, penuh rencana. Sasuke memicingkan mata seperti dia tahu apa yang akan Sakura katakan. "Termasuk kita menonton…"

"Tidak. Jangan katakan."

"Drama…"

"Sakura,"

"…Korea."

"Jangan lagi," kata Sasuke, meremas tangan Sakura lembut. "Jangan lagi, Sayang. Aku tidak tahan duduk untuk beberapa episode."

"Hey, janji deh besok hanya satu episode."

Sasuke memutar bola mata, "kau bilang begitu minggu lalu. Pada akhirnya kita menonton tiga episode."

"Jangan mengatakannya seperti kau tidak menikmatinya." Sakura membela diri.

"Aku tidak mati bosan karena kau mengizinkanku memeluk dan menciummu sepanjang kita menonton," Sasuke membela diri.

"Aku mengizinkanmu melakukan hal yang lebih nakal kalau kau temani aku menonton drama korea besok," Sakura mengerdipkan mata menggoda.

Sasuke menghela nafas, tahu bahwa dia sudah kalah sejak awal. Dia tidak pernah berhasil mengabaikan keinginan Sakura. Sasuke menggunakan tangannya untuk menarik tubuh Sakura mendekat dan menempel pada tubuhnya, sebelum menunduk untuk menekan bibirnya pada bibir plum merah kekasihnya.

Mulailah sesi ciuman panas keseribu mereka di dalam gudang ini. Mereka tidak pernah merasa bosan melakukannya, pikir Sakura, menyisirkan jarinya pada rambut Sasuke dan membiarkan pemuda ini membawanya menyandar ke dinding. Sasuke meraih satu kaki Sakura agar gadis itu melingkarkan kakinya ke pinggangnya tanpa memutus ciuman atau membuka mata.

Mencium seseorang cukup sering membuatmu menjadi seorang ahli dan tahu apa yang mereka suka dan apa yang mereka tidak suka. Sekarang, Sakura sudah memegang sabuk hitam dan dalam level epic tentang cara mencium Sasuke dengan benar.

Mudah melupakan fakta bahwa mereka sedang berada di gudang sekolah di mana siapa saja bisa membuka pintu dan menemukan mereka.

Sangat mudah melupakannya. Dan itu adalah kesalahan besar.

Karena Sakura terlalu fokus pada tangan Sasuke yang mulai merayap di pahanya, dan Sasuke terlalu fokus pada aroma dan rasa bibir Sakura untuk memperhatikan hal lain di sekitarnya. Sakura berhenti mengingatkan Sasuke untuk lebih berhati- hati entah di pertemuan keberapa. Karena mereka tidak pernah ketahuan, membuat mereka merasa aman selamanya.

Dan itu adalah hal bodoh, karena Sakura selalu tahu hal semacam ini akan terjadi. Dia seharusnya berusaha lebih keras untuk mencegah hal ini terjadi, setidaknya agar mereka bisa bertahan sedikit lebih lama.

Saat pintu gudang mengayun terbuka sangat keras hingga membentur dinding, Sasuke terperanjat. Dia sangat terkejut dan hampir melepaskan Sakura yang hampir terjatuh karena begitu cepat gerakannya. Sasuke berhasil menangkap Sakura di detik terakhir dan kembali tercengang saat melihat siapa yang berdiri di depan pintu.

"What the fuck." Kata Naruto melihat Sakura dan Sasuke, lagi dan lagi.

Untuk beberapa saat, Sakura mencoba mencari alasan. Dia mencoba mencari alasan masuk akal yang bisa menjelaskan kenapa dia ada di dalam gudang berdua saja dengan Sasuke—pasti ada yang bisa ia jadikan alasan, kan?

Kecuali fakta bahwa Naruto sudah melihatnya langsung saat sedang mengunci bibir dengan Sasuke, dan melihat mereka sekarang, kaki Sakura melingkari pinggul Sasuke, tangan Sasuke menahan bokongnya.

Tidak ada penjelasan untuk adegan ini, Naruto tidak bodoh.

"What the fuck!" teriak Naruto lagi, cukup untuk mengembalikan kesadaran Sakura untuk melepaskan diri dari Sasuke dengan tangan gemetar.

"Lepas, lepas," desisnya, Sasuke melepaskannya namun merangkul lengan atas Sakura, seperti menahannya untuk berjalan mendekati Naruto. "Tunggu sebentar…"

"Apa… apa-apaan itu tadi?" Naruto menatap Sasuke lalu Sakura. "Apa kau sedang bercanda?!"

"Ini tidak seperti…"

"Aku tahu kau menyembunyikan sesuatu dariku," Naruto menunjuk wajah Sakura, cengkeraman Sasuke mengerat. "Aku tahu kau bertemu seseorang di belakangku. Tapi… tapi aku pikir—bukan dia!"

"Ini tidak seperti.." Sakura berhenti. Ini tidak seperti yang kau kira? Sakura memukul kepalanya sendiri mendengar usahanya untuk menjelaskan. Jelas- jelas kenyataannya tepat seperti yang Naruto lihat.

Naruto melangkah maju, wajahnya gelap dan sangat marah. Sakura tidak pernah melihatnya seperti ini sebelumnya. Jujur saja ini membuatnya takut, karena sosok di hadapannya bukanlah sahabatnya.

Sasuke melangkah maju menghalangi Naruto, dan mendorong Sakura ke balik punggungnya.

"Sasuke," Sakura mengingatkan—namun tidak mendapatkan respon.

Sasuke dan Naruto memiliki sejarah panjang dalam perkelahian di masa lalu. Mungkin sudah hampir seribu kali. Dengan beberapa perkelahian lebih parah dari yang lainnya. Melibatkan darah, detensi, hingga keduanya berakhir di rumahsakit.

Perkelahian parah mereka selalu tentang Sakura. Kali ini bukan hanya karena Sasuke melihat ke arah Sakura sedikit lebih lama. Namun karena Sakura sudah seperti tropi kemenangan bagi mereka. Siapapun yang memenangkan pertarungan ini maka bisa membawa Sakura pergi. Seperti dalam hukum rimba. Sakura tidak bisa memberikan pendapatnya. Kalau dibiarkan, tidak akan ada yang mau berhenti sebelum salah satu dari mereka berakhir di ruang emergensi atau kuburan.

"Hey," Sakura mencoba melepaskan tangannya dari genggaman Sasuke, namun pemuda itu tidak bergerak. "Hey. Hentikan."

Naruto menggeretakan giginya. "Jadi ini orang yang kau pilih, huh, Sakura?" suaranya sangat kasar, dan Sakura mencoba untuk tidak mengambil hati. Dia tahu Naruto sakit hati dan merasa dikhianati. "Lepaskan tangan sampahmu darinya!"

Sasuke malah semakin mengeratkan tangannya. Naruto maju selangkah dan Sasuke mendorong Sakura menjauh dan menyerang di waktu yang sama dengan yang dilakukan sang pemuda pirang. Mereka saling menyerang cukup jauh dari Sakura agar gadis itu tidak terlibat, seperti perkelahian mereka biasanya.

Namun ada yang berbeda dari perkelahian kali ini. Ada sesuatu yang berbeda dari cara Naruto meninju Sasuke, dan dari cara Sasuke mengayunkan tubuh lawannya membentur dinding—lebih intens dan sungguh berniat untuk menyakiti. Ada motif dan alasan yang jelas kali ini. Untuk pertama kali selama bertahun- tahun, mereka tahu kenapa mereka berkelahi dan itu membuat mereka bergerak lebih keras, tanpa ampun.

Dan hal yang berbeda lainnya adalah, Sakura tidak bisa hanya diam berdiri menonton dengan lengan melipat di dada dan tatapan bosan. Karena ini tentangnya.

"Jangan," teriak Sakura berlari dari dalam gudang menuju koridor kosong. Dia berdiri beberapa meter dari mereka, mengepalkan tangan dan tak tahu harus melakukan apa. Staf guru pasti sudah pulang sekarang. "Hentikan kalian berdua!"

Tentu saja tidak berhasil. Mereka sudah lepas kontrol, mempertahankan apa yang menurut mereka adalah milik mereka—seperti Sakura adalah krayon dari saat mereka kelas satu yang memulai semua ini.

Satu- satunya hal yang bisa menghentikan mereka adalah Sakura sendiri. Jadi dengan helaan nafas, Sakura melangkah maju dan menunggu waktu yang tepat. Dia melihat darah keluar dari hidung Naruto yang kemungkinan besar patah dan bibir Sasuke yang pecah dan pelipisnya yang berdarah. Saat Naruto meninju dagu Sasuke membuat pemuda itu terhuyung ke belakang, Sakura memanfaatkan kesempatan itu untuk melompat masuk di antara mereka. Dia merentangkan tangan di depan Sasuke dan berteriak, "Berhenti."

Naruto baru saja akan memberi serangan lanjutan dan harus mengentikan gerakan tangannya di udara melihat sahabat merah mudanya menghalanginya. Dia hampir mengayunkan tinjunya pada wajah Sakura, dan memekik sebelum sempat mengendalikan diri.

Melihat dia baru saja hampir memukul Sakura, cukup menyadarkan Naruto. Melirik dari balik punggungnya, Sasuke juga menghentikan langkahnya untuk menerjang Naruto. Keduanya berdiri dengan nafas terengah, wajah memar penuh luka dan mencoba memproses apa yang terjadi.

Naruto mengelap darah yang masih mengalir dari hidungnya. "Jadi begitu, huh?" dia menunjuk Sakura yang masih berdiri dengan lengan terbentang seperti dia melindungi Sasuke. "Kamu memilih dia?"

"Tidak ada yang aku pilih," Sakura hanya melemparkan dirinya di tengah- tengah mereka tanpa perhitungan. Naruto jelas tidak memiliki pandangan yang sama dengannya tentang ini. Kepalanya masih kacau.

"Sepuluh tahun lebih menjadi sahabatku, dan setelah semua yang kita lewati," suara Naruto geram namun jelas terdengar sakit hati di sana. "…kau membuang semuanya karena dia."

"Bukan begitu…"

"Dia," ulang Naruto, "bagaimana kau bisa melakukan ini padaku, Sakura?"

Sakura membuka mulutnya, namun tidak ada suara yang keluar. Dia menjatuhkan lengannya lunglai. Merasa kalah, melihat sahabat satu- satunya menatapnya penuh kekecewaan.

Sakura tidak bisa menatapnya, dia memalingkan wajah. Karena dia tidak bisa melihat wajah benci Naruto menatapnya langsung. Sakura tahu dia pantas mendapatkannya, tentu saja—dia sudah berkhianat, berkali- kali.

Namun kalau saja Sakura dapat menjelaskan pada Naruto, bahwa hatinya terlibat di sini… Maka, mungkin….

Naruto mendecakan lidah, melangkah pergi tanpa mengatakan kalimat lain.

"Tunggu," panggil Sakura dengan suara tercekat, tangannya berusaha meraih Naruto sebelum dia menghilang di ujung koridor. "Tunggu, please, aku bisa…"

"Apa? Menjelaskan? Aku tidak peduli, Sakura."

Sakura diam membeku, karena dia tahu percuma mengejar Naruto sekarang, tidak akan menyelesaikan masalah. Naruto terlalu marah, terlalu sakit hati untuk mendengarkan kalimat Sakura dengan pikiran yang jernih. Satu-satunya hal yang dapat ia lakukan sekarang adalah berdiri dan melihatnya pergi. Dia berusaha keras menahan diri untuk tidak mengejar Naruto yang menghilang dalam matahari sore.

Sakura tahu tidak ada yang sepenuhnya salah dalam skenario ini. Namun dia marah, dan sedih dan Sasuke seharusnya tidak membiarkan dirinya lepas kendali sampai semua berakhir seperti ini. Jadi saat Naruto sudah menghilang meninggalkan udara kosong, Sakura menghadap Sasuke.

"Kau brengsek sialan," tuduhnya, memukul dan mendorong dada Sasuke. Sasuke terhuyung karena tidak menyangka Sakura akan menyerangnya.

"Sakura?" tuntut Sasuke, "aku hanya,"

"Aku tahu!" Sakura mendorong Sasuke, namun kali ini pemuda itu tidak bergeming. "Aku tidak percaya kau bisa—"

"Dia akan membawamu pergi dariku, Sakura." Sasuke memberi alasan, memegang pergelangan tangan Sakura sebelum dia dapat mendorongnya lagi. "Kalau aku membiarkannya..."

"Membiarkannya," desis Sakura mengulang kalimat Sasuke, mencoba melepaskan diri, "Bagaimana kau bisa begitu? Kenapa kau melakukannya?!"

"Aku tidak tahu kenapa ini jadi salahku," Sasuke membela diri, "saat dia yang pertama…"

"Cukup!" suara Sakura sangat keras hingga menggema di koridor, "sudahi semua pembelaan dirimu tentang dia begini dan begitu…"

"Aku hanya,"

"Aku," Sakura menunjuk dirinya, "bukan bola di lapangan yang kalian bisa perebutkan! Kau tidak punya hak untuk memutuskan persahabatanku dengan memukul Naruto di hadapanku karena masalah ini, Brengsek!"

Sasuke tidak tahu harus merespon apa mendengarnya. Seperti dia tidak pernah memikirkan tentang posisi Sakura sebelumnya dan kini, dia tidak tahu harus mengatakan apa.

Wajah bingung Sasuke hanya membuat Sakura semakin marah. Dia berpikir tentang betapa bodohnya Sasuke hari ini, dan sebelum- sebelumnya setiap berkelahi dengan Naruto. Dan betapa bodohnya karena mereka merahasiakan semua ini untuk menghindari kejadian semacam ini terjadi, namun tetap terjadi.

"Aku tidak bermaksud membuat persahabatan kalian berakhir," Sasuke tersendat, "Aku tidak berpikir—"

"Ya," Sakura memotong, "kau memang tidak berpikir. Kau pikir kau bisa memutuskan siapa yang tinggal dan siapa yang pergi dari hidupku…?"

"Tidak, aku tidak… Sakura, Sayang, aku…" Sasuke mencoba menyentuh Sakura, namun gadis itu menghindar. Melihat Sakura menghindarinya, wajah Sasuke menunduk memperlihatkan rasa sakit. Sakit bagi Sasuke memikirkan Sakura membencinya bahkan tidak mau ia sentuh.

"Jangan," suara Sakura memperingatkan, melipat kedua tangannya di dada, membentuk tameng.

Sakura sudah tahu dari awal bahwa ini akan terjadi. Dia juga sudah mengulangnya di dalam kepala seperti mantra. Namun dia hanya duduk menunggu semuanya berakhir, dan dia pikir, dia bisa menghadapinya. Bahwa mereka akan berjalan dari masalah ini tanpa luka fisik maupun luka tak kasat mata.

Jelas bukan itu yang terjadi.

o

O

o

Sakura tahu dia membuat keputusan yang buruk.

Lebih tepatnya, ia sudah membuat serangkaian keputusan yang buruk dan salah. Dia mengerti Naruto memiliki hak untuk marah padanya. Dia sudah membelakangi dan membohongi Naruto selama dua bulan. Dan setengah mengabaikan persahabatan mereka saat dia menghabiskan waktu bermesraan dengan musuh bebuyutan Naruto sejak kecil. Semua panah yang menunjukan siapa yang salah menunjuk ke arahnya. Sasuke tidak melakukan kesalahan. Dia tidak berhutang penjelasan atau apapun pada Naruto. Tidak sama sekali.

Sakuralah yang mengacaukan semuanya. Apa mereka seharusnya berkelahi di sekolah? Tidak. Apa mereka harus membuat Sakura sebagai objek perebutan mereka? Tidak.

Tapi salah siapa semua berakhir seperti ini? Siapa yang berbohong dan main belakang saat dari awal seharusnya dia jujur dan duduk di sebelah Naruto dan mengobrol dari hati ke hati?

Sakura bersyukur semua ini terjadi tepat sebelum akhir pekan, jadi dia tidak perlu melihat keduanya dalam waktu dekat. Setidaknya tidak sampai hari Senin datang. Sakura masih berbaring di atas ranjang di bawah selimut, bersembunyi dari orangtuanya, dan ponselnya dan dari dunia.

Menyebalkan. Menyakiti orang yang peduli padamu itu menyebalkan.

Dia mendapat dua panggilan tak terjawab dan tiga pesan penyesalan dari Sasuke. Dalam dua voicemail yang dia tinggalkan, tidak satupun Sasuke meminta Sakura untuk meneleponnya kembali atau tolong balas pesanku, dia sama sekali tidak menekan dan tidak ingin membebani Sakura—Sasuke hanya mengatakan bahwa dia menyesal tidak memikirkan posisi Sakura dan minta maaf sudah bertindak seperti kemarin dan seterusnya.

Sakura tidak membalas atau meneleponnya balik. Dia masih butuh sedikit waktu.

Dia menolak untuk melakukan kontak dalam bentuk apapun dengan Sasuke sampai dia selesai berbicara dengan Naruto.

Dia akan merasa sangat buruk jika masih berhubungan pada Sasuke setelah semua yang terjadi. Saat Naruto mungkin sedang bersembunyi di balik selimut di ranjangnya hanya beberapa blok dari rumah Sakura, merasa lebih buruk dan sakit hati dibandingkan Sakura. Dia tidak mau menaburkan garam di atas luka yang masih berdarah.

Sakura hanya berharap Naruto sudah pergi ke klinik tempat ibunya bekerja sebagai perawat dan mendapatkan pengobatan untuk hidung dan luka luarnya.

Saat pada akhirnya Sakura keluar dari kamarnya pada siang hari. Kuat memancarkan aura negatif dan kesedihan, karena ibunya menatapnya dari sofa ruang tengah dengan bibir merengut, lalu bertanya, "Ada masalah?"

"Aku dan Naruto bertengkar," jelas Sakura melangkah turun menuju kulkas. Tidak ada yang menarik perhatiannya di sana. Menghela nafas, dia berjalan menuju sofa dan membaringkan kepalanya di pangkuan ibunya.

"Bertengkar?" ulang ibunya, "kenapa?"

Dia dan Naruto sering bertengkar karena hal sepele seperti berebut remote TV atau saat bermain video game, memperebutkan makanan. Tapi tidak pernah satupun pertengkaran mereka serius sampai mereka tidak mau berbicara satu sama lain. Fakta bahwa mereka kini bertengkar dan tidak saling berbicara dan semua ini adalah salahnya, membuat Sakura ingin masuk ke dalam freezer dan tinggal di sana sampai mati. Sebagai hukuman.

"Karena seorang pria," Sakura mengerang, "sungguh bodoh."

"Ibu tidak tahu Naruto menyukai…"

"Bukan begitu," Sakura mengoreksi pelan, "Aku suka seseorang, dan dia… tidak."

Saat Sakura mendongak ia melihat ibunya masih mengelus rambut merah mudanya lembut dengan wajah serius mendengarkan. Ibunya menyipitkan mata, menatap ke sekeliling ruangan sebelum menebak, "Sasuke Uchiha?"

Tentu saja ibunya dengan mudah menebaknya dalam waktu sepuluh detik. Ibunya adalah seorang jurnalis kasus misteri dengan pengamatan tajam.

"Anak yang menyebabkan Naruto menjadi langganan ke ruang kepala sekolah itu?"

"Iya,"

"Anak yang membuat Naruto dilarikan ke ruang gawat daruat…"

"Seperti Naruto tidak pernah membuat Sasuke dirawat di Rumah Sakit saja," Sakura membela, melipat tangan ke depan dada. "Apa Ibu akan menceramahiku tentang siapa yang boleh dan tidak boleh aku kencani?"

"Kalian sudah berkencan? Sejak kapan kau berkencan dengan Sasuke Uchiha?"

Sakura memijit pangkal hidungnya, "Sejak aku memutuskan menjadi sahabat pengkhianat dan brengsek."

Ibunya pasti dapat merasakan Sakura sedang dalam suasana hati yang sangat buruk, terpuruk dan sedih, karena dia tidak menegur sumpah serapah Sakura. Wanita paruh baya itu hanya mendesah dan menyandar di sofa. "Persahabatan kalian terlalu erat untuk bisa dihancurkan oleh Sasuke Uchiha. Ibu tidak tahu bagaimana situasinya," ibunya menunjuk Sakura, "tapi apapun itu, kau harus mengatasinya. Kedengaran seperti drama remaja bodoh menurut ibu,"

Benar.

Drama remaja yang bodoh. tidak cukup berharga jika dibandingkan dengan apa yang sudah dia dan Naruto lewati.

o

O

o

Naruto membalik badan dari kursi putar meja belajar dan melihat Sakura berada di ambang pintu kamarnya. Seketika ia melipat kedua tangannya di dada dan menatap tajam sahabat merah mudanya, menunjukan kemarahan. Tatapannya mengancam dan marah, namun garis wajah kekanakan masih mendominasi, membuat pemuda pirang itu terlihat seperti anak kecil yang mengambek karena tidak dituruti kemauannya. Dan itu membuat Sakura berusaha keras untuk menahan senyum. Jika saja bukan karena luka dan lebam di wajah Naruto, Sakura tidak akan berhasil.

"Kau sudah mengobati lukamu?" Tanya Sakura sambil membersihkan tenggorokan.

"Siapa yang bilang aku mau bertemu denganmu?" gerutu Naruto, memalingkan wajah dan memilih menatap dinding. "tidak ada yang ingin aku bicarakan denganmu."

"Oke," kata Sakura pelan, memasuki kamar dan memainkan jarinya gugup. "Kalau begitu aku saja yang bicara."

Sakura menarik nafas dalam, "Aku berhutang seribu permintaan maaf padamu..."

"Seribu satu," koreksi Naruto masam, masih tidak melihat Sakura langsung.

"Seribu dan tak terhingga, oke? Aku benar- benar sudah mengacaukan semuanya. Aku seharusnya tidak..."

"Kau tahu," Naruto memotong kalimat Sakura, bertolak belakang dengan kalimatnya untuk tidak bicara pada Sakura. Dia membusungkan dada seperti bersiap untuk menyerang, otot tubuhnya menegang berusaha untuk tidak menyalurkan kemarahannya sepenuhnya. "Aku bahkan tidak marah karena ternyata selama ini kau dan Sasuke Uchiha sudah... ugh.. entahlah apa yang kalian berdua sudah lakukan. Ini sama sekali bukan tentang Uchiha, karena aku tidak peduli tentangnya!"

Kalau ini adalah percakapan mereka yang biasa, Sakura akan dengan senang hati mengoreksi bahwa tentu saja Naruto peduli tentang Sasuke, -walau ia hanya peduli tentang hal buruk tentangnya—mengingat setiap hari mereka berkelahi dan seterusnya.

"Aku marah karena kau berbohong padaku!"

"Aku minta maaf," pinta Sakura, setulus yang ia bisa. "Aku tidak tahu bagaimana memberitahumu,"

"Jadi karena tidak tahu bagaimana, alternatif yang kau pilih adalah menemuinya di belakangku seperti itu?! Dan membiarkan aku tahu tentang kalian dengan cara paling buruk... dan kau tahu tidak sih, betapa aku benci orang itu?"

"Setelah melihat perkelahian kalian selama ini? Ya, Naruto, aku tahu."

"Lalu apa kau bisa bayangkan apa yang aku rasakan melihat dia menggunakan tangan bodoh jeleknya untuk menyentuh sahabatku?" dia memelototi Sakura, kali pertama dia menatap Sakura. "Kemarin aku lihat mobilmu masih di tempat parkir, aku khawatir karena kau bilang kau sedang tidak enak badan."

Sakura menunduk malu mengingat pesan singkat yang ia kirim pada Naruto untuk membatalkan rencana hang out mereka demi lagi-lagi menghabiskan waktu dengan Sasuke.

"Aku memutuskan untuk mencarimu, dan—ugh," pemuda pirang itu mengacak rambutnya seperti berusaha membuang bayangan Sakura dan Sasuke tengah berciuman dari otaknya. "Berapa kali kau membohongiku seperti itu supaya bisa menemuinya? Sejak kapan hal ini berlangsung?"

Untuk beberapa saat, Sakura ingin membohongi Naruto. Dia ingin mengatakan bahwa ini adalah hal baru dan dia baru saja melakukannya, atau alasan apapun yang membuat keadaan sedikit lebih baik. Namun sepertinya kebohongan baru tidak akan menyelesaikan masalah yang ditimbulkan karena kebohongan lainnya. Jadi dia memilih untuk mengatakan yang sejujurnya, "Dua bulan?"

Mata Naruto melebar dan seperti akan keluar dari tempatnya. "DUA BULAN?!"

"Sejak tugas Bahasa Inggris..."

"Sudah kuduga!" Naruto mengacungkan jarinya penuh amarah. Tidak mungkin Naruto pernah menduga tentang ini sebelumnya. Dia tidak pernah curiga tentang hal ini, tapi Sakura membiarkan Naruto berpikir dia benar. "Aku tahu kau membohongiku hari itu!"

"Aku minta maaf."

"Dan saat kau bilang mau membeli eskrim," jari Naruto menekuk di udara, membentuk kutipan, "kau sedang di tempat si Uchiha, kan?"

Sakura menghela nafas keras, "Dia memberikan aku kupon pizza?"

"UGH!" geram Naruto, seperti kupon pizza dari Sasuke adalah hal paling menjijikan di dunia, dia terlihat seperti akan muntah di atas karpet. "Kau dan dia—memikirkannya membuatku—aku tidak bisa. Ini membuatku sangat marah—"

"Kau menunjukan kemarahanmu dengan jelas kemarin," gumam Sakura, "saat kau mencoba membenturkan kepala Sasuke ke dinding."

Naruto memelototi Sakura lebih lama, dia mungkin sedang membayangkan meninju wajah Sasuke dan membuat hidungnya patah menjadi ratusan bagian. sambil membayangkan saat Sasuke menyentuh Sakura. Semua bayangan itu cukup untuk membuat wajahnya merah menyala, karena dia mulai mengoceh lagi.

"Berapa kali kau membawaku ke ruang kesehatan untuk mengobati lukaku dan membasuh wajahku dari darah karena Sasuke Uchiha, Sakura? Berapa kali aku secara terang- terangan mengatakan padanya untuk jaga jarak darimu? Dan sekarang, lihat apa yang terjadi! Aku yakin kalian sudah pacaran —kayak—makan pizza bersama dan nonton film dan..."

"Iya," Sakura memotongnya, suaranya keras di telinganya sendiri. "tapi tidak lagi—aku sudah memutuskannya." Suara Sakura bergetar pada kata 'putus', mendengar suara bergetar Sakura membuat wajah keras Naruto perlahan melembut. Cukup membuat Naruto menjeda, pundaknya turun, semua kemarahannya menghilang seperti seseorang baru saja memecahkan balon dan isinya melebur ke udara.

"Kau...oh," suaranya pelan, untuk pertama kali sejak dia memergoki Sasuke dan Sakura kemarin.

"Tidak adil buatmu kalau aku tetap—dengan seseorang yang kau benci," Sakura mengedikan bahu seperti ini bukan sesuatu yang berarti, dia memalingkan wajah untuk menghindari menatap mata Naruto langsung. "Itu tindakan bodoh, lagipula."

Hening.

Lama.

Naruto menatap wajah Sakura saat gadis itu hanya menatap ke luar jendela dan melihat daun hijau yang sebagian terbang terbawa angin. Kemarahan Naruto sudah cukup mereda sampai dia bisa diajak mengobrol tanpa berteriak, pemuda pirang itu mungkin bisa membaca suasana di dalam kamarnya. Dan mau memikirkan sesuatu selain pengkhianatan yang ia rasakan. Berusaha melihat dari sudut pandang Sakura.

Naruto mungkin bisa melihat bahwa sahabatnya tengah patah hati.

Karena saat Naruto berbicara lagi, dia tidak terdengar marah. Hampir terdengar sedih, atau menyesal. "Kau bisa membicarakannya denganku, tahu."

Sakura menggelengkan kepala, "Supaya apa? Supaya kau bisa mematahkan lehernya?"

Diam lagi. Naruto menghela nafas dan menyapu wajahnya dengan tangan. "Aku mungkin akan... entahlah. Kau tahu, kalau kau jujur padaku dan mengatakan yang sebenarnya bahwa kau sangat menyukainya..."

"Siapa bilang aku menyukainya?"

Naruto menatap Sakura dengan tatapan yang mengatakan 'kau boleh bohong sesukamu tapi aku sahabatmu dan aku tahu apa yang sebenarnya kau rasakan'. Seketika Sakura merasa ditelanjangi dan bodoh. "Kalau kau bilang padaku kau menyukainya, aku mungkin akan mencoba bersikap dewasa dan menerimanya. Aku bisa melakukannya, terkadang."

"Terkadang," Sakura mencoba melucu dan mencairkan suasana, namun Naruto tidak tertawa. Bahkan tidak tersenyum sama sekali.

"Kau berbohong padaku karena takut melihat reaksiku." Kata Naruto seperti dia baru saja memecahkan puzzle yang amat sulit, setelah dia mencoba memandang dari sudut pandang Sakura, akhirnya mengerti.

Sakura mengangguk, sekali, dan Naruto menghela nafas. "Sepertinya aku juga berhutang permintaan maaf padamu."

"Naruto, tidak. Aku yang salah dan aku yang sudah jadi sahabat yang buruk..."

"Kalau aku sudah membuatmu berpikir—bahkan walau sepuluh detik saja—kalau kau tidak bisa terbuka tentang sesuatu kepadaku karena kau takut apa yang akan aku lakukan, maka aku juga adalah sahabat yang buruk. Aku sudah menarikmu ke dalam masalahku dengan Sasuke selama ini, dan..." dia menggeretakan mulut seperti dia kembali memikirkan untuk meninju wajah Sasuke. "dan mungkin itu adalah salahku. Tapi aku tidak suka membuatmu berpikir bahwa kau harus merahasiakan sesuatu padaku."

"Aku ingin memberitahumu." kata Sakura, dia maju mendekati sahabatnya. "Aku sangat ingin bercerita padamu! Tentang aku dan dia... dia tidak seperti yang kau pikirkan, oke?"

Naruto kembali menggeretakan gigi, seperti memaksa dirinya untuk tidak berteriak.

"Kau salah sangka tentangnya, sungguh."

"Bagaimana dia memperlakukanmu?" Tanya Naruto, dan saat Sakura akan menjawabnya, dia meneruskan dengan nada keras "jujur."

"Sejujurnya," mulai Sakura, mencoba mencari kata yang tepat untuk menjelaskannya pada Naruto. Bagaimana dia harus mendeskripsikan Sasuke? Tentang betapa baik dan lembut dan penuh pengertian dia ketika hanya ada mereka berdua saja. Betapa topeng dingin dan keras pemuda itu runtuh di hadapannya ketika hanya ada Sakura bersamanya.

"Ya Tuhan," desis Naruto sebelum Sakura dapat meneruskan, "Kau sungguh menyukainya, ya? ."

Sakura tersenyum, "Aku sangat menyukainya, Naruto. Dan aku tahu kau tidak..."

"Aku membencinya dengan setiap tarikan nafasku," Naruto memperjelas.

"Tapi aku mungkin serius dengannya."

Naruto menatap langit-langit kamarnya seperti bertanya kepada tuhan kenapa dia dikutuk dengan karma seperti ini, menghela nafas keras. "Sial. Oke, baiklah. Kalau kau sungguh menyukainya, maka aku akan menahan diri.po

Perdamaian di antara Naruto dan Sasuke adalah sesuatu yang tidak pernah Sakura bayangkan akan terjadi selama seratus tahun ke depan. Ini seperti akhir dari perang dunia III. Dan walau Sakura tahu bahwa Naruto dan Sasuke tidak akan pernah bisa sepenuhnya berbaikan, dan mereka pasti akan bertengkar lagi dalam waktu dekat, setidaknya kalimat Naruto menenangkannya dan membuktikan bahwa sahabatnya setidaknya mau mencoba.

"Maaf karena menyembunyikannya darimu," kata Sakura mendudukan diri di ambang jendela. "maaf sudah menjadi sahabat yang buruk."

"Iya," Naruto merentangkan tangannya untuk mengelus rambut Sakura. "Tidak apa- apa, Sakura. Aku juga minta maaf karena, ingin membunuh pacarmu."

"Maaf karena pacarku juga mencoba membunuhmu balik."

"Huh" Naruto mengedikan bahu, tersenyum miring "aku sudah terbiasa menghadapi kebrengsekannya."

o

O

o

Sakura memasuki kedai pizza Uchiha dengan pelan, mencoba untuk tidak menarik perhatian. Dia tahu Sasuke sudah melihat mobilnya parkir di halaman restoran dan mungkin tengah menunggu apa yang akan gadis itu lakukan. Bertanya- tanya apakah Sakura hanya lewat saja atau berencana untuk mampir dan apakah gadis itu akan bicara padanya.

Jadi Sakura tidak terkejut saat Sasuke sudah menunggunya sambil berdiri di belakang meja kasir saat ia baru selangkah masuk kedai. Ada sederet orang yang menunggu untuk memesan di hadapan Sasuke, dan lebih banyak lagi orang yang sudah duduk bercengkrama memenuhi ruangan.

Malam yang sibuk. Mungkin Sakura seharusnya memilih waktu yang lebih tepat, namun dia tidak memikirkan rencananya dengan matang. Dia hanya ingin segera bertemu dengan Sasuke.

Sasuke hanya berdiri membeku di tempat, beberapa lembar uang di tangannya, jarinya melayang di atas keyboard komputer kasir. Sakura diam sejenak setelah pintu di belakangnya menutup sempurna diiringi bel dan melambai untuk menyapa Sasuke.

Sasuke menelan ludah, meletakan uang di tangannya ke atas meja dan berteriak, "Aku istirahat lima belas menit!"

Antrian di hadapan Sasuke berbisik bingung dan sebagian menggerutu kesal melihat Sasuke melepas apron dari tubuhnya. Ibunya mengeluarkan kepala dari dapur dengan adonan pizza di tangan, .dan berteriak "Kita sedang sibuk!".

Sakura melihat dari jauh saat Sasuke keluar dari belakang meja kasir dengan mudah, mengedikan kepala ke arah pintu belakang, mengabaikannibunya dan orang yang menyumpahinya karena tidak mengambil pesanan mereka setelah menunggu lama. Sakura hanya bisa mengikuti langkah Sasuke dan tersenyum minta maaf pada antrian di depan kasir yang kini memelototinya.

Sakura melihat kakak Sasuke, Itachi keluar dari dapur menuju meja kasir, mengelap tangannya yang terkena saus tomat dengan seringaian di bibir. Sakura berharap situasinya sudah terkendali di dalam sini.

Setelah berada di luar, Sakura menggigit bibirnya. "Maaf, aku seharusnya menunggu sampai besok..."

Sasuke menggelengkan kepala, "Tidak, kau tidak perlu minta maaf. Akulah yang seharusnya minta maaf."

Sakura akan mengiyakan namun Sasuke memotongnya.

"Aku seharusnya tidak membuatmu menyembunyikan sesuatu dari sahabatmu seperti itu, tidak peduli betapa aku tidak menyukainya." Kata Sasuke dengan suara yakin, tidak ada ruang untuk argumentasi. "Aku sudah mengerti sekarang, aku menyesal sudah menempatkanmu pada posisi yang sulit dan hanya memikirkan diriku sendiri."

"Dan aku tidak seharusnya berkelahi dengan Naruto kemarin, apalagi di hadapanmu. Kau benar—aku salah sudah memperlakukanmu seperti kau adalah milikku. Atau piala yang bisa diperebutkan, aku sama sekali tidak bermaksud begitu."

"Aku tahu," Sakura pada akhirnya berkesempatan bicara, "Aku tahu kau tidak menganggapku seperti piala yang bisa diperebutkan."

"Hanya saja..." Sasuke meremas rambutnya.

"Ya," Sakura mengangguk, melangkah lebih dekat. "Aku mengerti."

"Aku tidak tahan mendengar cara dia memarahimu, jadi aku..."

"Ya."

"Aku minta maaf, aku tidak akan melakukannya lagi." Sasuke merentangkan tangannya saat Sakura sudah berada dalam jarak yang dekat, menyentuh pundak Sakura. "Kau tidak seperti gadis yang lain untukku, kau tahu kan? Aku tidak suka kau menganggap apa yang aku rasakan, apa yang aku—kita—lakukan adalah hal dangkal biasa."

Sakura mengikuti gerakan tangan Sasuke dan mengangguk, "Bukan hanya kau yang melakukan kesalahan, Sasuke."

"Tidak, akulah yang..."

Sakura memutar bolamata dan menggunakan satu tangannya untuk menutup mulut Sasuke. Sebelum pemuda itu mulai meneruskan membahas kesalahannya, untuk membela Sakura. "Aku melakukan semuanya tanpa paksaan, kan? Sembunyi- sembunyi adalah hal bodoh yang kita lakukan berdua. Memperlakukanmu seperti kekasih rahasia adalah salahku."

Sasuke menghela nafas, dia tidak lagi mencoba menyangkal bahkan setelah Sakura menurunkan tangannya. Dia berdiri di sana untuk beberapa lama, tangannya masih ia letakan di pundak Sakura. "Kita berdua sama-sama salah." Kata Sasuke simple.

"Yup, aku salah, kau salah. Naruto juga salah. Tidak ada yang melakukan hal yang benar di sini."

Sasuke mengangguk. Di belakangnya, Sakura mendengar seseorang berteriak "Aku jelas-jelas memesan pepperoni! Mana managernya?!" dengan keras.

"Aku sangat peduli padamu." Sakura mengakui pelan, tenggorokannya mengetat. "dan aku juga sangat menyukaimu."

"Aku juga,"

"Tentang kemarin, wajar bagi sepasang kekasih untuk bertengkar," Sakura meremas pelan tangan Sasuke di pundaknya,

"Sekali lagi aku minta maaf," kata Sasuke, Sakura menahan diri untuk tidak memutar bola mata.

"Aku tahu apa yang kau rasakan padaku, tapi bisakah kau tidak memukuli sahabatku lagi?" Sakura menunjuk jarak di antara mereka, "karena kita tidak akan berhasil kalau kau terus melakukannya."

Alis Sasuke terangkat, wajahnya mencerah dan terlihat penuh harap. Dari arah restoran di belakang mereka, Sakura mendengar piring pizza yang di banting diikuti teriakan lainnya. "Kau bercanda ya?"

Sakura merengut bingung, namun Sasuke sepertinya sama sekali tidak memedulikan kekacauan di dalam sana. "Jadi maksudmu?"

"Tentang aku yang memutuskanmu," Sakura memulai, "baru dua hari berlalu, tapi... aku tidak menyukainya."

"Aku juga." Sasuke menyetujui dengan cepat, menggunakan satu tangannya yang lain untuk menyentuh pinggul Sakura. "Aku tidak mau jika tidak bisa bertemu denganmu."

"Aku juga tidak mau jika tidak bisa bertemu denganmu." Sakura menyatukan jemari mereka, tersenyum pada Sasuke. "Sepertinya aku terlalu menyukaimu."

Sasuke tersenyum lebar, mengangguk setuju. "Aku tidak ingin bertengkar lagi."

"Itu tidak mungkin," kata Sakura mengecup bibir Sasuke singkat. "Pertama, karena kau menyebalkan," satu ciuman lagi. "kedua, karena aku menyebalkan."

"Kau benar juga." Sasuke menciumnya kembali. "Jadi kita akan terus bertengkar."

"Kadang," Sakura mengangguk, "Atau setiap saat, terus menerus. Tidak ada putusnya."

"Kenapa aku merasa," Sasuke membenamkan kepala ke leher Sakura dengan nafas lega. "kau sedang membahas tentang hal lain?"

"Karena otak mesummu." Sakura mendorong tubuh Sasuke sambil tertawa. "Jujur saja, ya, Sasuke, apa hanya itu yang ada dalam pikiranmu?"

"Kalau sedang denganmu?" seringai Sasuke, "Iya."

Kali ini terdengar suara kursi dibanting dari dalam restoran, beberapa pekikan kaget lalu suara Itachi "Memang aku managernya, bodoh!"

Sakura melepaskan diri dari Sasuke dan memelototi restoran. "Oke, apa sih yang sedang terjadi di dalam sana? Kau bisa dengar kan?"

Tentu saja Sasuke bisa dengar. Saat Sakura menoleh untuk menatap balik Sasuke, dia hanya mengedikan bahu seperti itu bukan hal baru. "Itachi sangat payah saat menjaga meja kasir."

Sakura memiringkan kepalanya bingung.

"Dia salah mencatat hampir semua pesanan lalu tersinggung saat ada yang protes." Sasuke mengedikan bahu lagi, menunjuk ke pelataran restoran. Seorang pria botak melangkah marah keluar dari restoran menyumpah serapah sambil membersihkan saus tomat dari bajunya. "Biasanya berakhir seperti itu. Itulah alasan kami tidak menaruh Itachi di depan sana."

Sakura mengangkat sebalah alisnya, "Sepertinya aku harus lebih sering ke mari."

o

O

o

Sasuke meletakan piring kertas sekali pakai berisi pizza di hadapan Sakura di meja makan siang baru mereka. Ia memicingkan mata menatap sekeliling kafetaria sebelum duduk dan mengatakan, "Ini yang terakhir."

Sakura menarik pizza yang baru saja Sasuke panaskan di microwave untuknya, mencium aroma lezat keju mozzarella dan saus tomat sebelum melenguh setelah gigitan pertama.

"Ini enak sekali dan jelas bukan yang terakhir." Gumam Sakura dengan mulut penuh.

"Kalau aku terus membawakan pizza untukmu, semua orang akan mulai memintaku membawa untuk mereka juga."

Sasuke mungkin benar. Semua orang setuju pizza Uchiha adalah yang terbaik di seluruh kota. Beberapa bahkan mengatakan yang terbaik di seluruh negeri. Dan jelas sekali seisi kafetaria tahu tentang Sasuke yang membawakan pizza dan memanaskannya untuk Sakura setiap hari. Karena mereka memperhatikan Sasuke dan Sakura sepanjang waktu.

Sakura tahu bahwa berita tentang dia dan Sasuke berkencan adalah berita besar. Gosip tentang keduanya tidak berhenti menjadi topik utama bahkan setelah berminggu- minggu. Tentang bagaimana Sakura mencoba untuk membuat Sasuke dan Naruto berdamai. Atau tentang Sakura yang bukan tipe Sasuke,— kenapa mereka berkencan? Ya Tuhan Aku benci Sakura! Kenapa harus dia dan rambut anehnya? Kenapa bukan aku saja! —yang sebagian besar keluar dari para penggemar Sasuke.

Semua tatapan, tarikan nafas kaget, bisikan- bisikan di koridor, semuanya cukup menghibur pada dua hari pertama. Apalagi karena Sakura kini bisa bebas berjalan bergandengan dengan Sasuke tanpa harus sembunyi- sembunyi. Sakura bisa duduk di sebelah Sasuke di kelas atau menunggunya di loker. Namun lama- lama reaksi mereka membuat Sakura kesal.

"Kenapa kau tidak bilang pada mereka kau hanya melakukan ini untukku?" saran Sakura mengelap bibirnya, "Karena aku spesial dan karena aku adalah pacarmu."

Sasuke tersenyum miring dan menelan kebabnya. "Spesial, yeah."

"Super spesial," Sakura mengangguk, "dan ini mengingatkanku, kenapa kau masih tidak mau memberitahu..."

"Sakura," Sasuke memperingatkan, sudah tahu ke mana arah pembicaraan ini.

"...kenapa aku tidak boleh tahu resep rahasianya?"

Sasuke mengelap bibirnya dengan tisu dan menghela nafas, "karena itu sangat rahasia."

Sakura tersenyum lebar. "Seperti formula rahasia Krabby Patty?"

"Walau kedengaran bodoh, ya, Sakura. Sama seperti formula rahasia Krabby Patty."

"Aku tidak percaya kau merahasiakan tentang basil dan peterseli dariku."

"Sudah kubilang bukan basil dan peterseli," Sasuke setengah tertawa, "dan aku tidak bisa memberitahunya, Sakura. Ini sudah menjadi rahasia keluarga dari generasi ke generasi, aku bisa dikutuk jika memberitahu orang di luar keluarga."

Sakura merengut, memakan crust terakhir pizzanya. "Jadi kau tidak mau dikutuk demi aku?"

Sasuke memutar bola matanya. Dan sebelum dia menjelaskan resep itu sudah berumur 60 tahun dan loyalitas atas nama keluarga Uchiha (Sakura sudah mendengarnya berkali- kali setelah mencoba mengetahui resep rahasia itu, dia mungkin bisa menceritakan kembali kata demi kata dari ingatannya), Naruto muncul dan mendudukan diri di sisi lain Sakura membawa makan siangnya—semangkuk ramen. 9Pemuda pirang itu melempar senyum pada sahabatnya dan sama sekali tidak melirik ke arah Sasuke.

"Hey, Naruto!" sapa Sakura, "kau datang di saat yang tepat. Sasuke sedang memberitahu aku tentang resep rahasia..."

"Sakura."

Sakura membuang nafas, dia tidak suka tidak tahu tentang sesuatu.

Naruto tidak berkomentar, hanya duduk menyeruput ramennya dan ini adalah rutinitas makan siang mereka sekarang.

Sasuke memberikan tisu basah pada Sakura untuk membersihkan tangannya. Sakura menerimanya sambil mengedikan dagu ke arah Naruto, mengisyaratkan Sasuke menyapanya.

Merengut, Sasuke mendongak menatap langit- langit sambil menggerutu sebelum menyandar ke kursi dan melirik Naruto. Naruto juga hanya merengut dan balas melirik Sasuke, seperti dia tidak menyukai apa yang akan terjadi selanjutnya.

Sakura sungguh mencoba membuat mereka berdamai, walau dia tahu membuat keduanya berteman adalah hal mustahil. Setidaknya tidak sampai masa SMA berakhir dan mereka tumbuh dewasa, Sakura tahu itu.

Setidaknya Sakura mencoba membuat keduanya bisa tahan berada di ruangan yang sama tanpa berkelahi. Hasilnya selama ini cukup... lambat.

"Naruto," mulai Sasuke, suaranya enggan seperti dia akan membacakan vonis mati. "Aku lihat kau mengecat mobilmu,"

Naruto merengut menatap mangkuknya, "Yeah, oren."

"Hn," respon Sasuke, dan percakapan pun berakhir.

Seperti yang Sakura bilang, lambat seperti siput berjalan. Setidaknya Sasuke tidak mulai mengatakan betapa noraknya warna baru mobil Naruto, seperti warna kotoran manusia. (Dan Sakura yakin itulah yang akan Sasuke katakan kalau saja Sakura tidak duduk di antara keduanya.)

Sasuke meletakan tangannya di belakang kursi Sakura, jemari menyentuh pundak kekasihnya sebelum satu tangan yang lain meraih kembali kebabnya. Mengindikasikan dia memberikan waktu bagi Sakura dan Naruto mengobrol sepanjang makan siang.

Naruto mulai membicarakan tentang prom (Sakura sudah berhasil meyakinkan Sasuke untuk datang bersamanya, walau mungkin kekasihnya akan menolak berdansa) dan Naruto sama sekali tiak menoleh ke Sasuke lagi.

Keduanya jelas sekali tidak menikmati setiap detik yang Sakura paksa mereka habiskan dalam satu ruang yang sama—apa lagi satu meja yang sama, tapi keduanya mau melakukannya. Karena mereka tahu hal ini penting bagi Sakura –setidaknya mereka mau berpura- pura baikan. Naruto sangat menyayangi Sakura, dia masih tidak rela ada pria yang meletakan tangan mereka di tubuh sahabat yang sudah ia anggap seperti adik kandung. Namun dia juga mulai bisa melihat bahwa Sasuke juga sungguh menyayangi Sakura.

Walau Sakura mulai meragukan seberapa besar cinta Sasuke untuknya, karena kekasihnya itu masih menolak memberitahu dia tentang rahasia pizzanya.

Sakura sepertinya mengatakan hal ini keras- keras, karena detik selanjutnya, Sasuke mencondongkan kepalanya untuk berbisik di telinga Sakura.

"Akan aku beritahu rahasianya, kalau kau mau mengganti nama belakangmu menjadi Uchiha." Bisik Sasuke.

Sakura menoleh menatap Sasuke tidak percaya.

Apa Sasuke baru saja melamarnya?

END

o

O

o

AN: Eve pengin pizzzaaaaaaa keluarga Uchiha aaaa~~~

Terimakasih untuk semua dukungan di fiksi ini. I love every single review from you guys.

Kabar baik: Eve udah ada ide buat multi chapters baru –yang bakalan panjang—over 20chapters. Semoga kejadian dan bisa dipublish dalam waktu dekat.

Anywaay, Terimakasih sudah membaca. Sampai jumpa di chapter selanjutnya~~

xoxo

Kritik, saran dan pendapat silahkan sampaikan lewat review.

-with cherry on top-

.the autumn evening.