让我爱你
Ràng wǒ ài nǐ
[ chapter 03 ]
Song : Soyou - Saying I Love You - Naughty Kiss Ost
#Bertulisan Italic adalah flashback!
.
.
.
.
Brugh
Akh!
"A...apa yang kalian inginkan?"
"Seharusnya kau tau sendiri Xi Luhan, apa yang kami inginkan darimu?!"
"Jelas kau bukan orang yang bodohkan, mengingat kau adalah siswa terpintar di sekolah ini!"
"Ne, kami tidak akan berlama-lama. Hanya memberitahu, jika sebaiknya kau jauh-jauh dari Sehun oppa!"
"Benar, jangan buat dia sama sepertimu! Namja gay yang tidak tau malu. Dan bagaimana bisa kau mengaku sebagai siswa terpintar, jika tertarik pada sesama jenis? Ck, menjijikkan!"
"Aku...tidak..."
"Apa? Mau mengelak, sudah jelas kami tau kau dan Sehun oppa berpacaran. Dasar tidak tau malu, apalagi Sehun oppa adalah anak terpandang. Tidak seperti dirimu!"
"Geurae, mana mungkin bisa berpacaran dengan anak tidak jelas sepertimu, gay pula? Ck, kau hanya akan merusak masa depan Sehun oppa!"
"Yang jelas, lekas menjauh darinya. Sebelum keberadaanmu benar menghancurkan hidup Sehun oppa! Dan kami tidak akan tinggal diam."
"Ne, ingat itu, Xi Luhan!"
"Kajja, kita pergi!"
Matanya meredup selepas kepergian tiga siswa perempuan itu. Mereka yang tiba-tiba menariknya menjauh dari keramaian sekolah. Hingga berujung mengatakan segala hal untuk memperingatkan dirinya. Bahkan mereka telah mengatakan hal yang kasar mengenai dirinya.
Dan semua itu disebabkan oleh hubungan yang telah ia jalin bersama sesosok namja yang ia cintai.
Luhan tidak pernah tahu jika dirinya menyimpang. Selama hidupnya ia tidak pernah memikirkan segala hal mengenai hormon keremajaannya, apalagi mengenai orientasi seksualnya. Perasaan suka dan sayang itu muncul begitu saja semenjak ia mengenal sosok namja bernama Oh Sehun.
Namja yang pernah membantunya ketika ia mengalami kesulitan membersihkan lapangan, yang usai digunakan pertandingan basket. Hari yang juga menjadi hari pertama ia bertemu dengan namja itu.
Setelah mengenalnya baik, dan mereka cukup dekat. Maka pada saat itu perasaan suka muncul begitu saja. Sehingga tidak dipungkiri Luhan semakin jatuh lebih dalam. Dan membawanya pada lautan penuh bunga bernama cinta. Ia juga tidak tahu mengapa bisa menyukai Sehun. Apa penyebab yang membuatnya bisa menyukai namja itu.
Yang Luhan ketahui, jika Sehun memanglah begitu baik memperlakukan dirinya. Senyuman manis nan hangat begitu mengetarkan hati. Luhan akui sosok Sehun memanglah begitu berpengaruh terhadap siapapun. Tampan, keren, kaya raya, terpandang dan sangat dikagumi oleh setiap orang.
Itu pula sebagian besar menjadi penyebab mengapa Luhan menyukainya. Terlebih saat ia mengetahui jika Sehun juga menaruh hati kepadanya.
Luhan seakan melupakan jati dirinya. Ia egois dan begitu bangga pada dirinya sendiri ketika Sehun membuat mereka lebih dari seorang teman dekat.
Sehun mencintainya melebihi apapun. Begitu sebaliknya. Sampai semua terjadi lebih rumit tanpa mereka duga.
Dan Luhan baru menyadari, dirinya telah merubah garis kehidupan seorang Oh Sehun yang sebenarnya. Ia merusaknya. Dirinya telah menghancurkan segala kesempurnaan namja itu.
Sekarang ia merasa berdosa atas segalanya. Tak heran jika semua orang yang dekat dengan Sehun mulai tak menyukai keberadaan dirinya.
Keberadaan Luhan didekat si sempurna Sehun.
Luhan menangisi dirinya sendiri.
Ia membawa tangan untuk menyentuh perutnya yang rata. Mengusapnya begitu lembut penuh kasih sayang. Dengan kepala tertunduk Luhan benar menitihkan air mata seorang diri.
"Sayang, kita sudah merusak kehidupan ayahmu hiks...sekarang apa yang harus kita lakukan? Hiks...hiks..."
.
.
.
.
.
.
Sebelumnya...
"Jadi, ini rumahmu anak kecil?"
Dan suara pria lain menyahuti mereka. Hingga keduanya berpaling melihat pada sosok pria lebih tinggi yang baru saja datang itu.
Deg
Ketika Luhan menoleh, pada saat itu ia merasa waktu seakan berhenti seketika. Segala kenangan masa lalunya perlahan muncul dipermukaan, tepat saat ia mendapati wajah sesosok pria yang telah lama tidak ia pandangi.
Sosok yang selalu ia coba lupakan, namun juga selalu ia rindukan. Segala usaha juga payahnya seakan percuma, hanya karena sosok itu kini bertemu tatap dengannya.
Sama halnya dengan pria itu, Sehun membatu dengan mata yang melotot terkejut. Bagaimana bisa?
Tidak, semestinya ia tahu jika Sehan mau membawanya ketempat tinggal anak itu. Dan jika perkiraannya benar, sudah jelas hal ini akan terjadi. Bertemu kembali dengan sosok yang selalu ia cintai semasa hidupnya.
Sesosok yang juga telah lama pergi meninggalkan dirinya dengan segala kenangan-kenangan manis mereka. Sosok yang juga telah membawa sesosok anak bernama Sehan hidup di dunia ini.
"Se...Sehun?"
Dan suara itu masih begitu melekat di ingatan Sehun. Suara lembut yang amat ia rindukan.
"Lu...han?"
.
.
.
.
.
Hujan benar turun, lebih deras dari perkiraan. Itu pula yang membuat Sehun harus tertahan disebuah rumah sederhana ini. Bersama sang pemilik dan anak kecil yang telah membawanya kesana.
Sebenarnya Sehun bisa saja langsung pergi dengan menggunakan mobilnya. Meskipun hujan sederas apapun. Namun ketika pertama kali hujan turun, walaupun masih suasana tegang penuh kejutan diantara mereka. Sebuah tarikan pada tangannya membawa Sehun sekarang duduk diam pada ruang tamu sederhana itu.
Ditemani oleh keheningan Luhan datang membawa nampan berisikan teh hangat. Pria lebih kecil itu meletakan segelas teh hangat untuknya pada meja kecil. Sebelum ikut duduk diam penuh kecanggungan. Sehun memandangnya antara rindu dan tak percaya.
Sudah sangat lama, dan rupa pria kecil ini masih tidak berubah. Manis juga cantik tidak ada duanya.
Dalam hati Sehun menahan diri.
"Silahkan diminum Sehun-shi," suara itu menyadarkannya.
"Terima kasih," Sehun meraih gelas teh miliknya. Meminumnya tetap tenang kemudian kembali meletakan gelas pada tempat semula.
Sehan datang dari arah kamar tidak lagi dengan seragam sekolah. Anak itu telah mengganti pakaiannya dengan lebih santai. Memandang datar pada kedua pria yang duduk berhadapan pada ruang tengah. Sebelum anak itu ikut bergabung, duduk disebelah Luhan.
Belum ada pembicaraan lagi diantara mereka. Masih saling mendiami dalam kecanggungan. Sampai Sehan menghela nafas malas.
"Paman ini yang sudah mengantarku pulang ba," anak itu berkata hanya memberitahukan.
Luhan tersentak kecil dari tundukan kepalanya. Berpaling pada anaknya dan tersenyum canggung.
"B...benarkah?"
"Ne."
"B...bagaimana bisa?"
"Aku bertemu dengannya di sekolah, jadi sekalian saja aku mengantarnya pulang."
Sehun mengambil alih untuk lebih menjelaskan. Membuat Luhan mau tak mau memandangnya hanya sesaat. Karena pria kecil itu belum terbiasa?
Tidak, Luhan hanya tidak menyangka jika takdir membawanya kembali bertemu dengan pria yang sudah lama tidak ia temui. Sosok Sehun yang tidak pernah ia duga bisa kembali melihatnya secara langsung seperti sekarang.
"Jadi begitu..." Luhan bergumam pelan menunduk lagi.
"Jadi, baba dan paman ini saling mengenal?"
Dari Sehun maupun Luhan sama-sama menegang ditempat. Tidak tahu bagaimana bisa pertanyaan seperti itu keluar dari mulut satu-satunya anak kecil diantara mereka itu.
Sehan yang entah sengaja atau tidak, bertanya seakan menginginkan suatu kejelasan atas pertemuan mereka saat ini. Dan Luhan sungguh dibuat bingung, bagaimana bisa Sehan bisa bertemu dengan Sehun? Bahkan di sekolah anaknya itu? Kenapa? Ini benar-benar suatu hal yang mengejutkan bukan main.
Sekarang apa yang harus ia katakan kepada anaknya itu? Terlebih Sehan yang bertemu dengan sosok pria yang berwajah hampir sama dengannya.
Oh, apakah anak itu menyadarinya?
"S...Sehan, kau pergilah ke-"
"Yah, aku dan dia memang saling mengenal. Lebih tepatnya ketika kami disatu sekolah yang sama?"
Sehun memotong ucapan Luhan yang berniat mengalihkan pembicaraan mereka. Kala itu Luhan mendongak dengan tatapan agak kejut. Sedangkan Sehun membalasnya dalam tatapan datar nan dingin.
"Benarkah? Jadi kalian berteman?" Sehan benar-benar sengaja sekarang.
"Hm, bahkan lebih dari berteman."
Luhan menunduk sekali lagi. Kedua tangan di atas pahanya ia kepal erat. Menahan diri dari perasaan yang selama ini ia pendam. Apalagi setiap ucapan Sehun seakan ingin menyindir dirinya dari masa lalu mereka.
"Teman dekat?"
"Yah, lebih dekat," ada rasa bangga diri terjadi pada Sehun, bahkan dari wajah Luhan yang menunduk kaku. Ia beralih pada sosok Sehan yang membalasnya dengan pandangan menantang?
Mengerti jika sebenarnya anak berwajah sama dengannya itu melakukannya dengan sengaja. Memancing emosi lebih tepatnya.
"Ah, jadi seperti itu. Pantas saja baba sering membicarakan paman."
"Apa?"
"Sehan!"
Sehun tiba-tiba mengerutkan keningnya. Mencerna apa yang barusan Sehan katakan. Belum lagi Luhan ikut bereaksi lebih. Mengangkat wajah dan memanggil anak itu seperti memperingatkan agar tidak berbicara apapun lagi.
Apa itu? Sering membicarakan dirinya? Luhan? Jadi, Luhan sering bercerita tentang dirinya kepada anak itu?
Benarkah itu?
Entah mengapa sedikit Sehun merasakan perasaan senang di hatinya.
Luhan sendiri ingin sekali lari dari situasi saat ini. Terlalu canggung dan tidak nyaman. Anaknya itu pun justru mengungkit-ungkit mengenai dirinya dengan pria yang lama ia tinggali itu. Rasanya begitu sesak, apalagi sampai mengingat kembali semua kejadian di masa lalu.
Luhan belum siap, bahkan dengan keberadaan sosok Sehun saat ini.
Sehun menghela nafas pelan sesaat. Lalu matanya beralih pada setiap sisi yang ada pada ruangan ini. Melihat-lihat kondisi juga segala tataan pada rumah sederhana milik pria kecil dan anak itu. Benar-benar sederhana, namun juga terasa nyaman. Jadi, apakah Luhan selama ini tinggal di sini? Sehun bertanya dalam batinnya.
Kemudian matanya tertuju pada jendela kaca yang ada disebelah kanan. Terlihat langit menjingga dan hujan telah berhenti. Ia beralih pada Luhan dan Sehan.
"Hujannya sudah redah, mungkin aku harus pergi sekarang," ia berkata untuk pamit.
Membuat keduanya ikut melihat pada jendela. Benar saja hujan telah berhenti.
"Ah, n...ne," Luhan membalas, sebelum ikut bangun dari duduknya mengikuti Sehun lebih dulu.
Mereka bersama menuju pintu utama. Membiarkan Sehun memakai kembali sepatu mahalnya dan siap pergi.
"Aku pergi dulu," pamitnya.
"Ne, hati-hati," balas Luhan.
"Dan, terima kasih paman sudah mengantarku pulang," suara Sehan kali ini, baru ingat jika ia belum mengucapkan terima kasih kepada pria tinggi itu.
"Hm."
Sebelum benar pergi Sehun menatap bergantian Luhan dan Sehan. Ketika matanya tertuju pada Luhan yang juga memandangnya. Ada guratan rindu ia pancarkan pada tatapannya itu, dan hanya untuk Luhan. Sungguh rasanya ia jadi tidak ingin pergi dari sana.
Sampai akhirnya ia benar berbalik badan, segera menaiki mobilnya dan melaju pergi. Menyisakan baba dan anak itu memandangi kepergiannya.
Lebih dulu Luhan berbalik badan untuk masuk kedalam. Dilanjut Sehan yang justru berkata menghentikan pria kecil itu.
"Paman itu...orangnya bukan?"
Luhan benar berhenti ditempat. Sampai beberapa detik dalam hening, Sehan kembali bersuara sambil memandang punggung babanya itu.
"Paman itu...ayah kandungku bukan?!"
Masih dalam hening karena Luhan tetap membisu. Tidak berkata apapun sebagai jawabannya.
Sampai Luhan memejamkan mata menahan diri, lalu berbalik sedikit dengan senyuman palsu.
"Baba lapar, ayo kita makan sekarang!"
Sekali lagi ia belum siap.
.
.
.
.
.
.
.
Sehun pulang namun pada rumah kedua orang tuannya. Entah mengapa ia melajukan mobilnya menuju arah lain, bukan pada arah di mana letaknya apartemen yang selama ini ia tinggali.
Pakaian yang agak basah, kedua kaki panjang itu melangkah masuk pada rumah besar keluarganya. Mengabaikan beberapa pelayan yang memberinya suatu kehormatan, setiap ia lewati. Sehingga sampai pada ruang tengah rumah besar itu. Ia menemukan sang ayah dan ibu duduk bersantai di sofa. Berbincang tanpa beban, teralih ketika ketukan sepatu seseorang berhasil mengganggu.
"Sehun?" Seorang nyonya besar rumah ini, lebih dulu menyadari kedatangannya.
Sehun mendekat hanya untuk memberi kecupan sayang pada sang ibu. Lalu pada kepala keluarga.
"Ada apa? Tumben kau pulang rumah ini?" Itu suara berasal dari tuan Oh.
"Entahlah, hanya ingin saja," jawab Sehun sambil menghempaskan pelan tubuhnya pada sofa yang kosong.
Nyonya Oh memperhatikan penampilan sang anak tunggalnya itu. Pakaian kantor yang masih dikenakan bahkan sedikit basah akibat hujan, cukup berantakan. Lalu beralih pada raut yang tampak memiliki beban pikiran.
"Ada masalah lagi?"
"Tidak, aku hanya kelelahan saja. Mungkin malam ini aku akan tidur di sini," Sehun beranjak dari duduknya.
Melangkah lagi kini menuju kamar miliknya dulu di lantai dua.
"Kau sudah makan nak?" Nyonya Oh bertanya.
"Nanti saja bu, aku akan makan. Sekarang aku ingin tidur sebentar," balas Sehun agak berteriak ketika ia sudah menaiki tangga.
Nyonya Oh pun hanya bisa menggelengkan kepalanya sambil menatapi kepergian sang anak. Namun sejujurnya wanita paruh baya itu memiliki rasa kecemasan untuk anaknya itu. Entahlah, seakan hapal setiap kedatangan Sehun di rumah mereka. Anak itu pasti memiliki beban pikiran yang tidak bisa ditangani seorang diri.
Ini memang bukanlah hal pertama. Dimana Sehun datang membawa satu masalah yang sulit diatasi oleh pria itu sendiri. Dari itu nyonya Oh cukup menyadari segala tingkah sang anak.
Beberapa detik terlewati atas kepergian Sehun, nyonya Oh memutuskan untuk beranjak menuju kamar anaknya itu. Rasa cemas justru semakin membesar, dari itu ia sedikit ingin menghilangkan beban pikiran sang anak. Meskipun tidak yakin apakah dengan begini semua akan baik-baik saja.
Tepat di depan pintu kamar yang tertutup, nyonya Oh perlahan mengetuknya pelan. Meminta izin agar bisa masuk.
Tok
Tok
"Sehun-ah, ini ibu!"
"Masuk saja bu," terdengar suara Sehun menyahuti dari dalam.
Wanita itu masuk begitu tenang. Menemukan sosok Sehun yang terbaring lelah di atas ranjangnya. Lantas nyonya Oh menghampiri, untuk duduk dipinggir ranjang dalam tatapan cemas.
"Kau baik-baik saja?"
Tidak ada jawaban apapun untuk beberapa saat. Sampai Sehun bangun dari tidurannya, ikut duduk menghadap sang ibu. Raut wajah yang benar kelelahan tidak bisa disembunyikan. Pria itu sempat menghela nafas berat.
"Menurut ibu?" Balik bertanya.
Satu tangan nyonya Oh terulur guna membelai wajah sang anak, begitu lembut.
"Karena itu, ibu datang untuk mengetahui apapun yang telah mengganggu anak tersayang ibu ini?"
Sehun mengulum bibirnya amat tipis hampir tak terlihat di mata. Ketika hening terjadi Sehun hanya betah dengan belaian sayang dari sang ibu. Dan apa yang sebenarnya memang telah datang lalu mengganggu pikirannya. Ia tidak bisa bersembunyi, justru ingin mengatakan semuanya kepada ibunya ini.
Apapun itu, pada akhirnya Sehun tidak akan bisa bertahan seorang diri.
"Buu..."
"Yah anakku?"
Tatapannya meredup.
"Aku...menemukannya."
Nyonya Oh diam mendengarkan lebih lanjut.
"Akhirnya...aku menemukannya bu," sesaat masih dalam diam.
Sampai pada akhirnya nyonya Oh menyadari terlebih dari tatapan sendu dari Sehun. Saat itu belaian tangan di wajah sang anak terhenti.
"Dia yang ku cari selama ini, aku...sudah menemukannya bu..."
Nyonya Oh lekas membekap mulut dengan kedua tangannya. Raut kejut dicampur dengan perasaan tak percaya dan senang tidak bisa diabaikan. Bagaimana pada akhir dari sekian lama, Sehun datang bersama sebuah berita mengejutkan. Berita yang bahkan juga sudah lama mereka nantikan.
"Lu...Han," menyebut nama itu seperti akan tersangkut pada tenggorokkannya sendiri.
Sehun menahan denyutan sakit di hatinya.
"Ya Tuhan!"
Nyonya Oh pun tidak bisa menahan dirinya sendiri. Hampir menjerit dalam perasaan yang luarbiasa senang.
"Bagaimana...bisa?"
"Aku juga tidak tau bu, awalnya aku tidak yakin jika itu dirinya...tapi setelah aku memastikannya sendiri dia...," Sehun merunduk kepala bertahan, melanjutkan dengan lirihan menyedihkan.
"...memang dia, yang selama ini aku cari. Aku menemukannya buu..."
Nyonya Oh segera meraih tubuh bergetar Sehun dalam dekapan hangatnya.
"Aku menemukannya...,"
Membiarkan Sehun kembali jatuh dalam tangisan. Yang bahkan untuk pertama kali terjadi dari sekian lama waktu terlewati. Waktu yang amat lama setelah kepedihan hatinya di masa lalu.
.
.
.
.
.
.
.
"Jadi, siapa pria yang kemarin menemuimu itu?" Jaeha datang dengan satu pertanyaan.
"Bukan siapa-siapa!" Sehan pun menjawab seadanya tidak melepas tatapan pada buku yang sejak tadi ia baca.
Hal yang membuat Jaeha tidak menyerah. Anak itu hanya begitu penasaran dengan sosok pria dewasa berwajah sama seperti teman dekatnya ini.
"Ayolah Han, katakan saja padaku!" Rengeknya.
Sehan sampai terpaksa melepaskan fokusnya pada buku di tangan, beralih ke wajah agak memelas anak yang lebih tua setahun darinya ini.
"Aku katakan juga, itu bukan urusanmu!"
"Astagaa...kenapa kau pelit sekali eoh? Aku ini temanmu bukan!"
"Sudahlah, jangan menggangguku!"
Dan Jaeha tidak bisa melakukan apapun lagi selain akhirnya menyerah. Meskipun dikata teman dekat, tetap saja terkadang Jaeha tidak bisa mengetahui lebih jauh kehidupan seorang Sehan.
Anak laki-laki yang sangat sulit diluluhkan. Begitu tertutup dan tidak ingin siapapun bisa memahami dirinya sendiri. Benar-benar anak yang berbeda.
"Baiklah, seperti biasa kau memang menyebalkan!" Hanya itu sebagai keluhan dari Jaeha.
Dan tidak ada tanggapan apapun dari Sehan yang lebih memutuskan untuk kembali pada apa yang ia baca. Sebelum ia butuh pergi ke toilet untuk menuntaskan sesuatu. Anak itu menyimpan bukunya dalam laci meja, lalu bangun dari bangkunya.
Jaeha cukup memperhatikan. "Kau mau kemana?" Anak itu bertanya.
"Toilet."
Selanjutnya hanya keheningan setelah kepergian Sehan dari kelas mereka.
.
.
.
.
.
.
Sehan tidak mengerti, apa sebenarnya kemauan pria dewasa ini padanya. Setelah hari dimana ia nekat menemui pria itu, entah mengapa Oh Sehun-si pria, membuat semua ini jauh lebih sulit. Bahkan Sehan tidak pernah menduga akan terjadi seperti ini. Pada waktu yang sama disebelumnya, Sehun datang dengan pakaian kantor mahal itu.
Memandangnya dalam ekspresi dan rupa yang sama. Adakah rencana yang pria itu susun?
Sehan balas memandang seadanya. Lalu jalan lebih dulu melewati tanpa perduli. Sementara Jaeha yang memang biasa pulang bersama dengannya, memasang wajah bingung begitu kentara. Menyenggol kecil lengan teman dekatnya.
"Eh, pria itu datang lagi," berbisik memberitahu.
Tidak dibalas.
"Sebenarnya apa maunya?"
"Mana aku tau, tanya saja sana sama orangnya!" Dibalas acuh.
Kedua anak itu masih melangkah di depan, mau tak mau Sehun mengikuti di belakang. Memperhatikan sampai mereka tiba di gerbang sekolah. Lantas Sehun mempercepat langkahnya, tepat saat mereka akan melewati mobil miliknya yang terparkir.
Masuk kedalam mobil dan mengendarainya dengan agak lambat. Berniat menyusul kedua anak yang ia ikuti tadi.
Sementara kedua anak yang diikuti tetap berjalan tenang, meski Jaeha beberapa kali menoleh kebelakang. Melihat sebuah mobil mengikuti mereka. Anak berkacamata itu kembali berbicara agak berbisik pada teman dekatnya.
"Sehan, dia mengikuti kita," ujarnya memberitahukan.
Tapi tidak ada tanggapan apapun lagi. Sehan hanya diam berjalan begitu tenangnya. Sampai Jaeha harus menarik-narik lengan seragam anak itu.
"Sehaann..."
"Biarkan saja, jika dia mengikuti kita!"
"Tapi..."
"Kenapa kau cerewat sekali?"
Seketika Jaeha cemberut, bagaimana tidak Sehan mengatai dirinya cerewet. Padahal ia hanya ingin tahu siapa sebenarnya pria yang sedang mengikuti mereka itu, terlebih mengapa pria itu mengikuti mereka. Tapi tampaknya temannya ini begitu enggan memberitahukan.
"Aku kan hanya ingin tau!" Rengutnya dengan bibir yang dipoutkan.
Sehan sempat melirik padanya, dan masih tetap begitu acuh menyebalkan. Terus melangkah bahkan berbeda arah dari tujuan mereka.
"Sekarang kita mau kemana?" Tanya Jaeha karena menyadari.
"Mampir ke rumah makan bibi Jang."
"Baiklah."
.
.
.
.
.
.
.
.
Sehun membiarkan kedua anak itu pergi, dan dirinya mengikuti dari dalam mobil. Ia pikir mungkin Sehan benar akan pulang dimana anak itu tinggal bersama Luhan, di rumah yang sederhana kemarin. Akan tetapi nyatanya berbeda. Arah yang dituju kedua anak di depan itu berbeda, setahu Sehun.
Karena ia cukup hapal jalannya. Dan sekarang? Sehun tidak tahu kemana anak itu akan membawanya.
Terlihat Sehan dan temannya berhenti pada sebuah rumah makan sederhana. Sehun ikut menghentikan jalan mobilnya tak jauh. Diam sesaat untuk memperhatikan, ketika kedua anak itu masuk ke rumah makan tersebut. Sehun lekas ke luar dari mobil dan berjalan menghampiri.
"Oh, kalian sudah pulang?" Terdengar suara wanita ketika Sehun melangkah masuk.
Melihat sekitar hingga menemukan dua sosok anak yang ia ikuti tadi. Sehan dan temannya sedang duduk disalah satu bangku meja makan.
"Bibi aku lapar."
"Tunggu sebentar yah- oh ada tamu ternyata. Selamat datang tuan!"
Kali ini Sehun mengetahui pemilik suara wanita yang ia dengar saat masuk tadi. Sosok wanita paruh baya dengan ramah menyapa kedatangannya. Ia hanya balas dengan tatapan seperti biasa. Bahkan ketika tahu sang wanita menatapnya begitu kagum.
"Silahkan duduk," ucap wanita itu begitu ramah.
Sehun cukup mengangguk kepala pelan, lalu melangkah lebih masuk sampai berakhir ikut duduk di kursi kosong. Tepat disebelah Sehan. Sehingga membuat anak itu menatapnya agak kejut.
"Eoh, paman lagi?" Itu suara Jaeha ikut terkejut.
"Kalian saling mengenal?" Bibi Jang bertanya heran, pasalnya Jaeha seperti mengenal tamunya yang baru datang ini.
"Err, tidak juga...tapi paman ini yang mengikuti kami tadi di sekolah."
"Mengikuti?"
"Bi, aku ingin makan jjajangmyeon!"
Sehan tiba-tiba berseru agak keras, sengaja untuk mengalihkan pembicaraan bibi Jang dan Jaeha. Tapi kedua matanya setia menatap tajam pada sosok Sehun yang memasang wajah stoic khasnya.
"Ah, ne..."
"Aku juga bibi."
"U...untuk tuan, mau pesan apa?"
Dari wajah Sehan, Sehun akhirnya berpaling kini pada bibi Jang yang bertanya padanya. Walau sebenarnya ia tidak ingin memesan apapun, tapi akhirnya pria itu ikut memesan agar tidak dianggap mencurigakan. Apalagi anak bernama Jaeha itu sudah mengatakan kepada bibi Jang, jika Sehun telah mengikuti kedua anak itu.
Ia hanya tak ingin dianggap yang tidak-tidak. Apalagi sampai dicurigai sebagai penjahat yang sedang mengintai anak-anak. Itu tidak lucu sekali, yang bahkan ia datang dengan pakaian kantor mahalnya.
"Segelas kopi, saya pesan itu!" Ujarnya.
"Baiklah, mohon ditunggu sebentar tuan..." dan bibi Jang pergi meninggalkan mereka.
Kembali Sehun membawa tatapannya pada Sehan. Saling melemparkan tatapan dalam artian berbeda. Tak perduli dengan suasana yang justru terjadi hening tidak mengenakan. Tak perduli penuh tanda tanya besar dipikiran Jaeha yang memperhatikan keduanya.
Anak itu jadi semakin penasaran. Siapa gerangan sosok pria dewasa berwajah sama dengan teman dekatnya ini?
"Itu...maaf, sebenarnya paman ini siapa? Mengapa mengikuti kami? Dan juga, apa paman ini ada hubungan sesuatu dengan Sehan?"
Lihat saja, Jaeha tidak bisa menahan rasa penasarannya. Sampai ia akhirnya bertanya langsung kepada pria tersebut.
Sehun terpaksa beralih pada anak yang berkacamata. "Bukan siapa-siapa, hanya orang yang ingin lebih dekat dengan temanmu ini?" Ia jawab seadanya.
"Ah, benarkah? Tapi...wajah paman mirip dengan...emm, Sehan?"
Kembali hening melanda. Sehun tidak lagi berniat menjawab pertanyaan anak itu. Sama halnya dengan Sehan yang sejak tadi lebih memilih diam tidak ikut campur.
Mungkin suasana itu akan terjadi cukup lama. Jika saja tidak ada sosok lain yang datang menghampiri mereka semua. Sosok pria agak kecil datang dan bertanya ramah. Lebih tepatnya tertuju pada Sehan yang terus mendiamkan diri.
"Sehan, kau sudah pulang?"
Dan Sehun sangat mengenal siapa pemilik suara tersebut. Ketika itu ia memutuskan membawa pandangannya pada sosok yang baru datang. Membuat pria kecil melebarkan mata terkejut.
"Oh, annyeong baba Han!" Sapa Jaeha riang.
"Se...hun?"
Tanpa membalas sapaan, Luhan lebih fokus pada sesosok Sehun yang entah sejak kapan bisa berada ditempat ia bekerja. Lebihnya bersama sang anak, Sehan.
"Baba..."
.
.
.
.
.
.
.
Tbc
Duhhh sorry tbc-nya kayanya nanggung bngt yah bwahahaa :v
Sorry jga agak lama update, lagi nyari ide soalnya :')
Okeh, makasih banyak buat yg masih nungguin ff ini. Seneng ternyata lumayan yg minat sama cerita ff gw hehe
Buat yg review makasih banyak deh^^
Trus yg masih nanya2 soal masa lalu hunhan, nohh mungkin diatas udh sedikit gw ksh tau yah, walo gw gk bisa kasih lebih rinci gmna mrka bsa pisah, yg jelas gitulah cerita :v #ditampol
Oia, yg juga nanya gmna bsa Sehan umur 13 udh kelas 9 smp? Gini aja deh, krna dia anaknya cerdas jadi bisa dibilang dia anak Akselerasi gitulah, yg bisa nglangkah kelas krna emng dia pinter. Udah gitu aja :v
Trus yg lainnya, kalian tunggu aja kelanjutan ceritanya kalo penasaran. Asal kalian mau setia aja deh hehee
Satu lagi, bagi yang mau kontakan sama gw, atau mungkin bisa lebih kenal dgn authornya #nawardiri :v add aja akun facebook gw yah^^
Unme-nya : Shuna Deff
Atau akun wattpad : Shunadeff
Krna gw juga suka upload ff gw disana...
Yah, yg minat aja sih. Gk maksa buat kalian mau add/follow apa kaga 😂😂😂
Okeh, gitu aja
Baiiii :* :*