Service
DISCLAIMER : NARUTO © Masashi Kishimoto
WARNING : OOC, AU, tidak sesuai EYD, typo(s)
Genre: Romance, Fluff
DON'T LIKE DON'T READ!
.
.
.
"Ayo masuk," ucap Sasuke datar.
Sakura hanya mengangguk. Tidak peduli apakah Sasuke melihatnya atau tidak. Namun ia tersenyum setelah menangkap rona merah yang menghiasi telinga Uchiha itu.
Sasuke masuk ke dalam apartemennya tanpa melirik ke arah Sakura sedikit pun. Hal itu sangat tidak baik bagi kesehatan jantungnya. Terutama akal sehat sang Uchiha. Ia berniat membuka sepatunya hingga akhirnya langkahnya terhenti dengan sedikit tarikan di lengan bajunya.
Ia membalikkan badannya ragu. "Ada apa?" tanyanya pada Sakura.
Sakura sedikit menundukkan kepalanya. "Maaf, tapi bisakah aku pulang sebentar?"
Sasuke memicingkan kedua matanya. "Kau tidak jadi memakai laptopnya?"
Sakura menggelengkan kepala.
"Oh, aku tau. Tunggu sebentar, akan ku ambilkan laptopmu. Nanti setelah selesai kau gunakan, kau bisa memberikannya padaku lagi untuk ku perbaiki," tukas Sasuke dan bergegas membuka sepatunya.
"Bukan bukan, bukan begitu maksudku," timpal Sakura.
"Lalu?"
"Aku mau ganti baju. Soalnya dari tadi aku udah kedinginan karena blazerku ga terlalu tebal. Ditambah cuaca hari ini cukup dingin. Setelah itu aku ke sini lagi."
Sasuke terdiam sejenak. Kedua onyxnya menatap kedua manik emerald Sakura yang seolah berbicara 'tenang saja, aku pasti ke sini'.
Ia pun menghembuskan nafas pelan. "Tapi kalau kau mau ambil laptopmu, tidak masalah. Berhubung tempat tinggal kita ternyata sangat dekat. Kau bisa kembali lagi ke sini kapan saja selama aku ada di tempat."
Sakura menggelengkan kepalanya. "Tidak tidak tidak. Sungguh, nanti aku akan ke sini lagi. Lagi pula aku bukan tipe yang akan menarik perkataanku begitu saja," ujarnya. Sakura membungkukkan badannya. "Permisi. Nanti kalau aku datang, jangan lupa bukain pintunya ya Uchiha-san." Ia pun segera pergi sebelum Sasuke mengucapkan kalimat yang sama untuk ketiga kalinya.
Sasuke terdiam di tempat. Ia sungguh tidak mengerti dengan apa yang ada dipikiran gadis bersurai pink itu. Aneh? Absrud? Entah lah.
Semoga saja gadis itu tidak seperti gadis pada umumnya yang ia jumpai. Dimana mereka akan selalu berusaha mencari perhatian darinya secara berlebihan. Dan itu sungguh memuakkan.
Tapi, mungkin tidak buruk juga kalau gadis itu akan benar-benar datang ke apartemennya. Hanya memikirkannya saja, sudah memunculkan seulas senyuman tipis di wajah sang Uchiha.
Sasuke meletakkan kue di dapur dan berjalan menuju kamarnya. Ia meletakkan barang-barang bawaannya. Kemudian mengganti kemeja yang ia gunakan dengan kaus hitam polos kesukaannya. Oh, untuk sekedar informasi, hampir semua kaus miliknya berwarna hitam polos.
Setelah itu ia kembali ke dapur. Menatap kue yang dibeli oleh Sakura sejenak, kemudian memindahkan semua kuenya ke atas dua piring keramik.
Sasuke mengambil coffee maker yang tidak jauh dari jangkauannya. Ia memasukkan beberapa sendok bubuk kopi dan menyeduhnya dengan air hangat. Tidak membutuhkan waktu yang terlalu lama, espresso hangat sudah tersaji di dalam dua cangkir dengan ukiran yang elegan.
Ia menyusun dua piring kue dan dua cangkir espresso di meja dapurnya. Kemudian ia memegang dagunya dan menatap lekat espresso yang sudah dibuatnya. "Haruno-san suka espresso tidak ya.. Atau dia lebih suka kopi dengan rasa yang lebih manis.." gumamnya.
TING TONG
Pandangan Sasuke teralihkan. Ia segera menuju pintu apartemennya dan membukakan pintu. "Selamat datang."
Sakura tersenyum lebar, "Maaf sudah menganggu."
Sasuke menatap Sakura dari ujung kepala hingga ujung kaki. Entah kenapa ia terlihat lebih manis dengan sweater pink yang cukup longgar.
Sakura memiringkan kepalanya. "Uchiha-san?"
"U-Oh, maaf. Silahkan masuk."
Sakura mengangguk. Ia melepaskan sandal yang dikenakannya. "Permisi," ucapnya kemudian masuk beberapa langkah.
Sasuke menutup pintu apartemennya. Ia menatap Sakura yang hanya berdiri di dekatnya dan memperhatikan dirinya. "Kenapa kau berdiri di sana?"
"Er.. Bukankah kau yang seharusnya masuk terlebih dahulu?" ujar Sakura bingung dan mempersilahkan Sasuke dengan gerakan tangan.
Sasuke mengerutkan dahinya dan tertawa kecil. "Aneh," ucapnya pelan.
Sakura berjalan mengikuti Sasuke dan kemudian dipersilahkan duduk. Matanya menjelajahi setiap jengkal ruangan yang ditinggali oleh si bungsu Uchiha.
Interior yang sangat elegan didominasi oleh warna putih dan coklat menghiasi seisi ruangan. Sakura hanya dapat berdecak kagum memandanginya. Sungguh sesuai dengan ekspektasi Sakura saat membayangkan seperti apa tempat yang ditinggali sang Uchiha.
Pandangan kedua emerald itu kini teralihkan pada beberapa makanan yang tersusun rapi di meja. Sakura menatap kue yang ia beli dengan Sasuke tadi dengan mata yang berbinar.
Sasuke keluar dari kamarnya dengan membawa laptop miliknya dan Sakura. Ia meletakkan laptop di meja, kemudian duduk di hadapan Sakura. Tawanya pecah saat melihat tingkah Sakura. "Kau bisa memakannya jika kau mau tanpa harus menungguku."
Sakura menatap Sasuke, "Sungguh?"
"Tentu saja."
Sakura tersenyum lebar. "Itadakimasu," ucapnya kemudian mengambil sendok yang sudah diletakkan di atas piring dan memakan kuenya.
Sasuke menyalakan kedua laptop yang ia bawa. Namun perhatiannya teralihkan pada ekspresi Sakura yang terlihat sangat menikmati kuenya. Tanpa ia sadari, ia menumpukan kepala di salah satu tangannya dan tersenyum tipis.
"Kau benar-benar menyukai kue ya," tanya Sasuke.
Sakura menghentikan aktivitasnya, "Hmm, untuk dua kue yang kita beli tadi ia. Seperti fruit cake, aku masih bisa memakannya. Tapi untuk kue yang terlalu manis, tidak."
"Maksudmu?"
"Sama sepertimu, aku tidak suka makanan yang manis. Mungkin lebih tepatnya tidak bisa memakan makanan yang terlalu manis."
"Tidak bisa memakan makanan manis?" tanya Sasuke sedikit penasaran.
Sakura mengangguk. "Ya. Kalau aku makan makanan yang terlalu manis, biasanya aku mual," ujarnya kemudian menyeruput espresso yang sudah disajikan. Ia menghela nafas panjang dan tersenyum lebar. "Kopi itu memang lebih nikmat selagi masih panas ya."
Sasuke membulatkan kedua matanya. "Benar kan? Kopi itu memang lebih nikmat selagi masih panas?" tanya Sasuke refleks seolah menemukan sekutu baru.
Sakura terdiam sejenak, ia kemudian tersenyum dan mengangguk. Sungguh, ia tidak menyangka seorang Uchiha Sasuke juga bisa refleks seperti itu.
Mereka pun berbincang-bincang menceritakan banyak hal. Dimulai dari membahas makanan kesukaan mereka, hingga akhirnya membahas betapa menyebalkannya seorang Naruto. Kalau diperhatikan baik-baik, mereka seperti sedang berbicara dengan teman lama. Terlihat sangat akrab.
Tanpa terasa waktu telah berlalu. Sakura menyeruput espressonya yang sudah dingin. Ia melupakannya karena perhatiannya teralihkan oleh Sasuke. Entah kenapa berbicara dengan Sasuke terasa sangat menyenangkan. Sakura kemudian membereskan piring dan cangkir yang digunakannya.
"Ah, biar aku saja," ucap Sasuke. Dengan cepat ia mengambil piring dan cangkir dari tangan Sakura. Ia juga mengambil cangkir yang ia gunakan dan mencucinya di westafel.
Sakura hanya bisa diam dan mengangguk. Ia menatap lekat punggung bidang Sasuke dan melihat tubuhnya sendiri. Ia menyadari bahwa tubuh Sasuke jauh lebih besar dibandingkan tubuhnya. 'Tentu saja, dia kan cowok!' batin Sakura. Ia pun terkekeh geli dengan isi pikirannya sendiri.
Sakura mengambil laptop miliknya yang tidak jauh dari jangkauannya. Ia mengaktifkannya kembali karena laptopnya sudah berada pada mode sleep sedari tadi.
"Oh ia, kemarin saat aku menyalakan laptopmu, sepertinya banyak pesan masuk di aplikasi chatmu," ujar Sasuke yang sudah selesai dengan kegiatannya. Ia kembali duduk di hadapan Sakura dan mengaktifkan kembali laptop miliknya.
"Hah? Serius?"
Sasuke mengangguk.
Sakura dengan cepat membuka aplikasi chat di laptopnya. Ia membaca satu per satu chat yang tidak dibacanya sejak kemarin.
Ia pun membuka aplikasi khusus untuk membuat dokumen. Jari-jarinya baru saja mulai ingin mengetik sesuatu, hingga dia akhirnya mengingat tugas yang harus ia selesaikan terlebih dahulu. "Maaf Uchiha-san. Sepertinya aku akan lama di sini karena harus mengerjakan tugasku. Bolehkah?" tanya Sakura ragu.
Ia sedikit mengutuk isi hatinya yang tidak sinkron dengan pikirannya. Ia ingin pulang, mengerjakan tugasnya di apartemennya. Tapi ia ingin tetap berada di sini. Paling tidak sedikit lebih lama lagi.
Sasuke menatap Sakura. "Tentu saja. Silahkan. Anggap rumahmu sendiri," ucapnya kemudian memfokuskan dirinya pada hal yang akan ia kerjakan di laptopnya.
Sakura terdiam. Tidak membutuhkan waktu yang lama baginya agar senyuman mengembang dari kedua sudut bibirnya. "Baiklah! Terimakasih!" tukas Sakura kemudian mengerjakan tugasnya.
Sasuke menghentikan aktifitasnya sejenak. Kedua onyxnya melirik Sakura dan ia kembali fokus pada laptopnya dengan senyuman tipis yang menghiasi wajahnya.
.
.
.
Sakura meregangkan badannya sambil menguap cukup lebar. Seluruh badannya terasa pegal karena ia tidak berhenti mengerjakan tugasnya sedari tadi.
Ia mengutuk dirinya karena salah mengerjakan tugas. Jadinya ia terpaksa mengerjakannya dengan sistem kebut semalam. Padahal tugas yang dikerjakan cukup menguras otak. Yah, setidaknya ia patut berbangga karena bisa menyelesaikannya hanya dalam waktu 2 jam.
Ia mengendus pelan kemudian menatap lurus ke depan. Kedua emeraldnya membulat. Ia baru ingat kalau ia sedang berada di apartemen Uchiha.
Sepertinya Sakura memang harus benar-benar mendengarkan Ino yang selalu mengomelinya karena kebiasaan buruknya. Selalu lupa dengan hal yang lain kalau sudah fokus dengan satu hal.
Sakura menumpukan kepala pada kedua tangannya. Ia menatap lekat pria yang ada di hadapannya. Dimulai dari rambut ravennya yang terlihat sangat halus. Kedua onyxnya yang entah kenapa sangat memikat baginya. Hingga struktur wajah pria itu yang dilihat dari mana pun hanya akan ada satu kata yang akan terucap. Flawless.
'Ah! Mungkin ini bisa jadi bahan buat fanfiction!' teriak batin Sakura kegirangan. Kapan lagi coba bisa dapat model yang notabene ada di depan mata, pikirnya.
Sakura dengan cepat membuka file fanfiction lama yang ia miliki. Ia menghapus semua isi filenya kecuali pada bagian judul dan beberapa keterangan. Kemudian save as dan melakukan rename hingga menjadi file baru.
Sejujurnya, cukup menyakitkan bagi Sakura untuk mengulang satu chapter yang sudah ia kerjakan selama dua bulan dari awal. Tapi, dari pada hanya berdiam dan menunggu, mungkin ini ide bagus untuk mengulangnya dari awal.
Sakura melakukan sedikit peregangan pada jari-jari tangannya. Setelah itu ia meletakkan tangannya di atas keyboard laptop dan mulai mengetik kalimat yang terpikirkan olehnya.
Tak tak tak tak.
Suara berisik itu kini terdengar. Sasuke menghentikan kegiatannya. Jujur saja, ia sedikit terganggu dengan suara yang dihasilkan oleh jari-jari Sakura. Tapi, ada satu hal yang mengganjal pikirannya.
Bagaimana bisa, suara yang ia dengar seperti di kantin muncul setelah Sakura mengerjakan tugasnya selama 2 jam? 2 jam di awal tadi bagaimana? Kenapa suara itu tidak muncul? Padahal, ia sama-sama mengetik bukan?
Sasuke memijat dahinya, kepalanya terasa sedikit sakit. Ia berjalan ke arah dapur, mengambil dua gelas dan mengisinya dengan air. Ia meminum air dari salah satu gelas dan meletakkannya di dapur. Ia kemudian membawa gelas yang satunya dan berjalan ke arah Sakura.
Sasuke meletakkan gelas tersebut di dekat Sakura. Ia kemudian memperhatikan laptop Sakura hingga tanpa sadar sudah mensejajarkan kepalanya dengan Sakura. "Bagaimana dengan tugasmu?"
"KYA-!" teriak Sakura reflek sambil menekan beberapa tombol untuk tidak menampilkan dokumen yang sedang ia kerjakan. Suara bariton Sasuke sukses membuat Sakura shock saat itu juga.
Sasuke tersenyum tipis. "Bagaimana dengan tugasmu?" bisiknya di telinga Sakura.
Sakura dengan reflek menutup telinganya. "Baik baik saja. Tugasku baik baik saja. Sungguh baik baik saja," tukas Sakura dengan cepat. Wajahnya merona dengan hebat kali ini. Jantungnya berdetak dengan cepat. Sungguh, ia tidak tau apa yang harus ia lakukan dan apa yang akan dilakukan sang Uchiha setelah ini.
Tawa Sasuke pecah. "Hahaha, tenanglah. Aku tidak akan melakukan apa pun padamu," ujar Sasuke yang kini membetulkan posisi berdirinya.
Sakura hanya diam menundukkan kepalanya. Ia tidak sanggup jika harus menatap Sasuke dengan rona merah di wajahnya. Apa yang akan dikatakan Uchiha itu coba?
"Haruno-san?" panggil Sasuke.
Sakura mengepalkan tangannya.
"Haruno-san?" panggilnya sekali lagi. Tak mendapatkan respon apa pun, ia mendekatkan wajahnya dengan wajah Sakura. Berusaha mengalihkan pandangan gadis itu padanya.
Reflek, Sakura melakukan hal yang diinginkan sang Uchiha. Kedua bola mata mereka bertemu. Mereka saling menatap satu sama lain dalam diam.
"OIOIOIOIOI!" pekik Naruto tidak percaya. Dengan cepat ia menutup wajah Sasuke dengan tangannya dan mendorong pria itu sejauh mungkin. Ia berdiri di depan Sasuke, berusaha menutupi Sakura yang ada di belakangnya. "Jauhkan dirimu dari Sakura-chan teme!"
Sakura mengedipkan matanya berkali-kali. Ia bingung, apa yang sedang terjadi. Ia menatap punggung Naruto dengan seksama hingga akhir perhatiannya teralihkan pada Ino yang sedang terkekeh geli.
"Dobe, apa yang sedang kau lakukan?" tukas Sasuke kesal.
"Harusnya aku yang bertanya itu teme! Apa yang akan kau lakukan pada Sakura-chan!?" tukas Naruto yang entah kenapa ikut kesal.
"Aku tidak akan melakukan apa pun," timpal Sasuke datar.
"Lalu, apa yang kau lakukan tadi itu!? Kau jangan coba-coba menodai Sakura-chan. Dia terlalu polos untukmu!" protes Naruto.
Ino terkekeh geli melihat Naruto dan Sasuke. 'Sakura? Polos? Polos dari mananya? Beberapa fanfiction buatan dia aja rate M bego,' batin Ino. Ia segera mengeluarkan ponsel miliknya dan mengambil beberapa foto. Momen langka sayang untuk dilewatkan bukan?
"Sungguh. Aku tidak melakukan apa pun. Benar bukan Haruno-san?" tanya Sasuke yang berusaha menatap Sakura.
Sakura mengangguk setuju.
Naruto menatap keduanya secara bergantian, kemudian ia menyeringai jahil. "Kau yakin tidak melakukan apa pun? Kau sadar kalau kau hampir menciumnya?"
Sakura dan Sasuke saling beradu pandang. Keduanya terdiam sejenak hingga akhirnya mereka saling mengalihkan pandangannya ke arah yang lain.
Naruto mengangkat kedua alisnya. "Ada apa dengan kalian? Kenapa kalian diam saja? Atau jangan-jangan. . . Kalian sudah. .?"
"Belum belum belum!" pekik Sakura seketika.
Ino menyeringai puas. "Belum apa Saki? Naruto belum selesai ngomong loh."
Sakura menatap Ino tajam, rasanya ia ingin menangis saat itu juga. Ino hanya terkekeh melihat reaksi Sakura. Ia sangat puas karena bisa menggoda sahabatnya.
Naruto tersenyum lebar. "Kan sudah ku bilang Sakura-chan. Kalau si teme macam-macam, kau tinggal menelponku saja. Aku akan datang secepatnya," ucapnya sambil mengacak-ngacak rambut Sakura.
Naruto memamerkan kedekatannya dengan Sakura pada sahabatnya. Yah, setidaknya melihat sahabat datarnya itu emosi sesekali tidak masalah bukan?
Sasuke menatap tangan Naruto yang berada di atas kepala Sakura. Ia kemudian menatap sahabat terkutuknya itu menyeringai penuh kemenangan. "Jadi, apa yang kau lakukan disini? Bagaimana kau bisa masuk?"
"Bagaimana? Hmmm. . . Teleport?" jawab Naruto asal.
Sasuke menghadiahi Naruto dengan deathglare miliknya. Yang benar aja jawabannya teleport. Kebanyakan ngayal tuh anak, pikirnya.
"Hahahaha. Kau lupa mengunci pintunya teme," jawab Naruto.
"Hah?"
"Ia, kau lupa mengunci pintunya. Kalau dikunci gimana caranya kami masuk coba?"
Sasuke menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Terkadang keterledorannya selalu datang yang disaat yang tidak tepat. Terlebih entah kenapa kalau itu dengan Naruto. Pasti selalu ketahuan olehnya.
"Terserah kau saja," ucap Sasuke pasrah diikuti cengiran Naruto.
"Hahahahaha!" tawa Ino seketika pecah setelah ia melihat kembali foto yang ia ambil beberapa waktu yang lalu.
Seisi ruangan menatapnya heran. "Ah, maaf, perkenalkan aku Yamanaka Ino. Teman Sakura dan sepupunya Naruto. Maaf kalau tiba-tiba datang Uchiha-san. Tadi aku diajak Naruto ke suatu tempat. Katanya ada hal menarik, ku pikir apa. Ternyata… Hahahaha. Aku tidak percaya aku bisa melihat ini," tukas Ino sambil mengusap air mata dan memegang erat ponsel miliknya.
Ino menarik nafas panjang, kemudian menatap Sakura. "Jadi Saki, bagaimana? Sudah bisa dibuka filenya? Atau kau buat baru lagi?"
Sakura menggelengkan kepalanya. "Mungkin aku buat baru."
"Buat baru? Seriusan? Yang sedang kau kerjakan rate-M kan? Kemaren kau udah dapat banyak referensi bukan? Kau mau ngulang lagi? Kau harus cari referensi lagi dong? Lalu adegan-." Sakura dengan cepat berdiri dari kursinya dan menutup mulut Ino.
"Ssssttt!" bisik Sakura sambil meletakkan jari telunjuk di depan bibirnya.
Naruto dan Sasuke saling menatap satu sama lain. "Apa yang sedang kalin bicarakan?" tanya Naruto penasaran.
Ino menatap Sakura yang kini sedang menunjukkan ekspresi memohon padanya. "Kau berhutang gelato padaku," ucap Ino yang diikuti anggukan Sakura.
Ino tersenyum girang. Ia menepuk lengan Naruto, "Kau bawa makanan kan tadi. Mau sampai kapan kau biarin di sana?" tanya Ino sambil menunjuk ke arah bungkusan makanan yang tergeletak di lantai.
"Oh ia!" Naruto mengambil barang yang dimaksud kemudian membawanya ke dapur. Seenak jidatnya emang. Tapi apartemen Sasuke adalah apartemennya juga. Yah, setidaknya selama Sasuke masih belum muak padanya dan mengusirnya keluar.
Sasuke memicingkan kedua matanya. 'Rate-M? Yang mereka maksud rating bacaan bukan? Kalau ia, lalu referensi? Referensi apa untuk rate-M? bukannya…. Ah tidak tidak tidak.' batin Sasuke. Ia menatap Sakura lekat. Semakin ia mengenal gadis itu, semakin banyak pula hal yang tidak ia mengerti. Mungkin, akan semakin banyak kesalah pahaman nantinya?
.
.
To Be Continue~
