The Code

Mashashi Kishimotou© Naruto

Drama, Mistery,Romance

Chapter 8 : Penghianat

Di bawah sebuah kuil kuno yang tersamarkan dengan derasnya suara hujan. Kota Amegakure rasanya telah menelan siapa saja yang berusaha mengorek kebenaran di dalam sana.


.

.

.

Mobil Volvo warna hitam itu masih merayap diatas aspal jalanan kota Tokyo. Menyusuri hiruk-pikuk malam hingga lengangnya daerah perumahan kecil di pinggiran kota Metropolitan itu. Udara malam itu semakin dingin serasa menusuk tulang.

"Uchiha-san…" suara Sakura menggantung. Gadis disampingnya masih menatap jalanan di depan.

"Hn." Sambil menoleh ke arah Sakura.

"Bukankah kau merasakan kita mulai mendekati sesuatu yang penting?"

"Apa maksudumu?"

"Pertama, cincin yang mempertemukanku dengan ibumu dan kotak itu. Lalu, lukisan itu dan kaitannya denganmu, Uchiha . Dan lagi, lukisan itu telah membawa kita menuju kemari. Orang dengan marga tiga klan berikutnya, klan Uzumaki. Bukankah arti dalam lukisan itu sepertinya benar-benar nyata. Maksudku, ini hampir terbukti seluruhnya. Tidakkah kau percaya hal itu?"

"Aku percaya. Meski tak sepenuhnya bisa percaya."

"Apa-apaan itu?"

"Uzumaki ini. Orang yang akan kita temui, belum tentu dia seperti yang diramalkan dalam lukisan."

"Apa ada sesuatu yang mengganggumu lagi?"

Pertanyaan Sakura membuat Sasuke lama terdiam bahkan mobilnya berjalan terasa lambat. Sasuke harus mengalah, ia benar-benar harus jujur pada gadis ini.

"Sepertinya begitu..."

"Katakanlah!" Nada menuntut itu membuat Sasuke kembali mengerutkan dahinya.

"Aku merasa aneh dengan temanmu, Sai. Sepertinya ada yang tak beres dengan setiap ekspresi yang ia keluarkan. Dan juga pada alamat yang akan membawa kita ini, aku tak bisa sepenuhnya percaya padanya. Hanya itu."

"Oh, jadi Sai. Dia memang tidak pandai berekspresi. Gaara-kun pernah bilang jika ayah Sai mendidiknya sangat keras dan berhati dingin, mungkin itu yang membuat Sai menjadi terlihat aneh dan kaku. Tidak usah memikirkannya itu hal biasa."

"Kau pernah bertemu ayahnya."

Sakura menggeleng, "Tidak, ayah Sai sudah meninggal dunia bahkan sebelum aku mengenalnya."

"Aa."

Tak ada lagi gedung pencakar langit yang mereka lalui melainkan jajaran perumahan dan beberapa toko yang berderet di sudut perumahan. Penerangan yang tak terlalu terang dan cenderung sepi.

Mobil itu berhenti.

"Ini tempatnya?" Tanya Sakura

"Menurut penunjuk arah di mobilku dan juga alamat itu , benar ini tempatnya."

Bangunan yang terlihat sudah tak muda lagi. Alas kayu yang berderit ketika diinjak tak bisa menyembunyikan usia bangunan yang renta. Tak ada yang istimewa selain beberapa boneka-boneka kayu yang dipasang untuk dekorasi di sekitar beranda. Bangunan yang kecil hampir mirip rumah yang membedakan hanyalah plang 'Ruang Baca' di pintu kayunya.

"Ruang Baca?"

"Mungkin kata lain untuk perpustakaan." Sakura mengendikkan bahunya.

"Pemilihan kata yang aneh."

Bel di atas pintu itu berdenting ketika mereka berdua memasuki bangunan perpustakaan itu. Mata Sakura menemukan jajaran rak buku yang menjulang tinggi di ruangan yang tak bisa dibilang luas. Ada beberapa patung kayu lagi di sudut ruangan. Beberapa tangga bantu nampak berjejer rapi di beberapa rak. Aroma buku-buku tua mulai tercium mengusik hidungnya.

"Apa ada yang bisa dibantu, Tuan dan Nona." Sapa seorang pustakawan di balik meja.

"Sebenarnya kami mencari seseorang...Ehmmm.. Sasori Uzumaki."

"Mari duduk."

Lalu pemuda berambut merah itu mengajak mereka duduk di meja besar di tengah perpustakaan.

"Aku adalah Sasori Uzumaki. Apa yang membawamu kemari?" Pemuda babyface itu penasaran.

Sakura dan Sasuke, mereka berdua agak terkejut melihat laki-laki muda itu yang sangat kontras dengan keadaan bangunan yang tua dan terlihat rapuh.

"Aku adalah Sakura Haruno dan Ini Uchiha Sasuke, kami kemari karena ingin tahu sesuatu mengenai hubungan tiga klan besar di masa lalu. Kami berdua adalah seorang penulis. Kuharap kau bisa membantu pengerjaan buku kami. Seorang temanku, Sai yang menyarankannya. Mungkin kau sudah mengenalnya..?" ujarnya dengan bumbu kebohongan.

Sakura sedikit merasa bersalah karena membohongi pemuda yang baru ia temui. Identitasnya harus ia jaga sebaik mungkin. Untungnya Sasori juga tak mengenal Sasuke, anggota kepolisian seperti Uchiha harusnya pernah beberapa kali wara-wiri di layar pemberitaan.

"Ah.. jadi kalian temannya Sai. Baiklah aku bisa membantu, perpustakaan ini lumayan sepi jadi aku punya waktu luang."

"Terima Kasih, Sasori-san. Semua info yang kau berikan pada kami akan sangat berharga. Mohon bantuannya."

Sebagai seorang pustakawan, Sasori tak nampak seperti kutu buku atau sastrawan bahkan sebaliknya meskipun Sakura tak tau persis sepertinya pemuda ini lebih muda darinya.

"Mengenai tiga klan besar. Maksudmu, Senjuu, Uchiha dan Uzumaki?"

"Ya."

"Apa yang ingin kau tau?"

"Hubungan ketiga klan itu? Bisakah kau menceritakan detilnya. Dan juga.. apa kau tau tentang sebuah permata suci?"

"Permata suci?"

"Ya, milik klan Senjuu."

"Oh.. permata itu… aku pernah sesekali mendengarnya, sebenarnya bukan berasal dari klan Senjuu tapi permata yang diturunkan."

"Diwariskan?"

"Ya, semacam itulah. Biar kuperjelas, Haruno-san. Jadi kau ingin tahu hubungan ketiga klan itu dengan permata suci. Jika kau mengira aku adalah seorang yang sangat tahu karena aku keturunan Uzumaki, kau salah. Mungkin saja aku sama seperti Uchiha Sasuke ini, yang tak sepenuhnya mengerti hingga kalian harus kemari dan bertanya padaku. Yang kutahu hanya sebatas yang pernah kupelajari dan kuteliti." Ujar Sasori menegaskan.

"…Tapi aku bisa membantumu sebagai ahli sejarahwan dan pustakawan." Lanjutnya.

"Tak apa, Uzumaki-san."

"Panggil aku Sasori saja. Dan kutegaskan sekali lagi, maafkan aku Tuan Uchiha jika hal yang aku ceritakan sedikit menyinggungmu."

Sasuke mengangguk mantap. Saat ini dia hanya perlu mengikuti scenario kebohongan Sakura. Meski pada akhirnya ia nanti merasa tak terima, jika hal itu bisa membantu mereka berdua itu tak masalah baginya. Cara kerja professional sudah lama ia terapkan dan ia sudah mulai terbiasa dengan sikap rasisme.

"Apakah cerita itu benar-benar terjadi?" Tanya Sakura sambil memandang setumpuk buku di depannya.

"Pada saat itu, jurnalis tak boleh menuliskan cerita yang mengada-ada tentang kerajaan. Semua berita dari koran dan biografi-biografi kerajaan hanya boleh diterbitkan dari pihak kerajaan saja. Tapi untuk kebenaran cerita kita tak pernah tahu. Rahasia selalu saja ada, namun tersimpan rapat."

"Jadi sebenarnya permata suci itu berasal dari mana?" Tanya Sasuke.

"Dalam suatu hikayat lama, pernah diceritakan bahwa saat itu Raja Pertama menderita suatu penyakit aneh. Suatu hari, raja bermimpi bahwa ia bisa menemukan obatnya berada dalam patung batu di sebuah kuil. Yang kita kenal sekarang dengan Kuil Ise Jingu, pusat dari segala kuil. Raja berhasil mendapatkan patung batu itu dan memecahnya namun anehnya yang keluar adalah bongkahan permata yang indah. Sang raja meminum air campuran permata itu dan sembuh."

"Kuil Ise Jingu?"

"Kuil ini dikelilingi 125 kuil. Menurut legenda, ketika Amaterasu-Omikami sedang mencari peristirahatan terakhirnya, dia berkata, 'ini adalah tempat yang suci dan saya ingin tinggal di sini' . Sejak saat itu kuil Ise Jingu menjadi tempat paling suci di Jepang." Jelas Sasori.

Sakura dan Sasuke memandang Sasori Takjub. Amaterasu-Omikami adalah dewa tertinggi menurut kepercayaan orang Jepang. Pantas saja permata yang dijuluki permata suci itu sangat berharga.

"Lalu Raja Pertama mewariskan permata itu hingga keturunannya?"

"Benar sekali."

"Kalau benar-benar ada, permata itu ada dimana?"

"Tak ada yang pernah tahu, tak ada catatan mengenai permata atau semacamnya. Semua orang menganggap hal itu hanya dongeng semata."

"Apa kau percaya, Sasori."

"Tidak."

Sakura memandangi setumpuk buku di pahanya. Sasori memberikan ini padanya untuk refrensi menulis. Ia lega seluruh rencananya berhasil. Ia bersyukur Sasuke bisa berperan dengan sangat bagus. Sakura juga ingin meyakinkan Sasuke bahwa Sai adalah teman yang bisa dipercaya.

Bicara mengenai Sasuke, setelah mobil mereka berjalan beberapa meter dari tempat Sasori ia berkata harus mengisi ulang bahan bakarnya. Namun setelah mereka keluar dari tempat pengisian Sasuke malah berhenti di sebuah pabrik daur ulang mobil. Mengecek legalitas pabrik.

Alhasil meninggalkan Sakura sendirian di mobil. Sakura memutuskan untuk membaca buku-buku itu hingga Sasuke kembali.

Seorang pria berambut panjang tengah duduk di kursi tua yang telah setia menemani hari-harinya. Rambut panjangnya telah memutih. Matanya tak lagi secerah dulu sama seperti keadaan kerajaan yang semakin meredup. Semuanya telah berubah. Negara ini bukan lagi tunduk dibawah kerajaan. Penguasa-penguasa telah melakukan gerakan-gerakan pembaharuan revolusi. Demokrasi.

Meski kerajaan tetap diberikan tempat tersendiri oleh pemerintah agar kekaisaran tak terputus demi melindungi sejarah yang telah terbentuk beratus-ratus tahun lalu. Hashirama Senjuu, pria itu tak bisa menyembunyikan kegelisahan yang tercetak jelas di raut wajah senjanya.

Kedua putrinya masih menatap ayah mereka dalam diam. Menunggu sang ayahanda untuk membuka mulut dan memberikan titah pada mereka. Pastinya ada hal penting yang ingin ayahnya sampaikan hingga mereka berdua tiba-tiba dipanggil menghadap ke ruang eksekutif kerajaan.

Mata tuanya menatap putri sulungnya. Melihat mata dan surai merah putrinya itu ia seketika teringat akan istrinya yang berasal dari klan Uzumaki, rambut merah yang pernah membuatnya jatuh cinta pada wanita yang telah mendahuluinya menemui malaikat maut.

"Uzu.." Panggil ayahnya.

"Hai' Otou-sama." Sahutnya.

"Berapakah usiamu sekarang?"

"27 tahun, Otou-sama."

"Dan kau, Tsunade?" Matanya kini beralih pada putri bungsunya.

"18 tahun, Otou-sama."

"Kalian berdua sudah dewasa. Seperti yang kalian tahu ayah tak lagi muda dan keadaan kita tak sebaik dulu. Nama besar klan yang kita sandang bukan lagi sama seperti dulu, nama hanya tinggal nama saja…"

"… ayah sudah memikirkan hal ini matang-matang. Ayah ingin segera menyerahkan tahta pada pewaris selanjutnya, yaitu kau Uzu."

"Suatu kehormatan bagiku, Otou-sama."

"Tapi, aku ingin kau menikah. Syarat utama menjadi pewaris tahta adalah kau harus menikah, Uzu."

Tsunade kaget mendengar perintah ayahnya itu.

"Baiklah, Otou-sama. Siapakah yang akan menjadi pendamping saya?"

Tsunade menoleh pada kakaknya, ia heran sekaligus tak percaya kakaknya menerima hal itu dengan mudahnya.

"Aku akan menikahkanmu dengan panglima besar kerajaan, Madara Uchiha."

"Baiklah, Otou-sama. Perintahmu adalah kehormatan bagiku." Ucapnya tegas sambil membungkuk hormat.

"Satu hal lagi. Ayah juga akan menyerahkan permata itu padamu. Permata itu sangat berharga bagi kerajaan. Ada saatnya permata itu akan menjadi penyelamat kita di masa depan. Perintah ini tak main-main, anakku. Kau harus menjaganya dengan segenap jiwamu, kalau perlu nyawa adalah taruhannya. Ayah yakin, Madara bisa membimbingmu untuk melaksanakan perintah ini. Kau boleh keluar sekarang."

Titah Hashirama.

Sejenak kemudian, Putri Uzu telah keluar ruangan itu. Menyisakan Hashirama dan putri bungsunya. Suasana tiba-tiba menjadi lebih mencekam. Keringat dingin membanjiri telapak tangan Tsunade yang terkepal diatas pahanya yang bersimpuh. Kepalanya menerka-nerka apa yang akan ayahnya ucapkan.

"Tsunade…"

"Ya.. Otou-sama." Suaranya hampir berteriak saking kagetnya.

"Ha.. .. tak perlu tegang begitu, Tsunade. Ayah tak akan menyuruhmu menikah."

"Lalu kenapa ayah meminta Nee-sama untuk menikah dengan Madara Uchiha?"

"Ayah tak punya pilihan,Tsunade. Dengan begitu ayah bisa merasa tenang karena ia berada di tangan yang tepat. Jika perang, mulai bergejolak. Madara bisa melindungi kerajaan kita dan juga kakakmu tentu saja. Lagipula, klan Uchiha sudah banyak punya dedikasi pada kerajaan kita."

"Lalu apa perintah untukku, Otou-sama?"

Hashirama tak menjawab malah memberikan sebuah kotak kayu padanya.

"Ini hadiah untukmu."

"Apa ini?" tangannya terulur dengan raut penasaran.

"Kau harus bisa membukanya sendiri."

"Ada kodenya." Ucapnya antusias.

"Ya. Kau bisa minta bantuan Jiraiya kalau kau mau. Dia ahli dengan hal semacam itu, kan." Sambil terkekeh.

"Apa?... aku harus bertanya padanya! Otou-sama." Ucapnya, merasa tak terima dengan godaan dari ayahnya.

"Didalam kotak itu, adalah kunci dari kotak permata suci yang ayah berikan pada kakakmu."

Mata Hashirama kembali sendu.

"Lalu kenapa diberikan padaku?"

"Jika kotak permata itu berada di kakakmu ia tak akan bisa membukanya dan meskipun kau punya kunci kau tak akan bisa membuka apapun karena kotak permata itu tak ada padamu. Dan jika musuh mendapatkan salah satunya, mereka tak akan bisa melakukan apapun pada permata itu. apa kau mengerti?"

"Ya, Otou-sama. Aku juga akan menjaga ini dengan seluruh hidupku." Sahutnya.

"Minato-sama, kelihatannya anda kelelahan. Haruskah kita beristirahat sebentar malam ini?" Tanya Danzo ditengah perjalanan mereka.

"Tak apa, kunjungan kita ke kuil lebih penting. Kita harus datang tepat waktu." Jawabnya.

"Benar apa yang Shimura-san katakan, kita harus istirahat Minato." Desak Jiraiya.

Ia akhirnya menyerah ketika mendengar usulan dari pamannya. Mereka bertiga memang sudah lelah karena berhari-hari melakukan kunjungan ke kuil-kuil untuk melakukan penyucian dan menjalin keakraban dengan banyak pihak. Mobil mereka juga butuh bahan bakar. Akhirnya mereka memutuskan untuk beristirahat di penginapan dekat kuil.

Barang sejenak Minato dan Jiraiya melepas penat, suara desingan peluru terdengar di luar kamar mereka. Perasaan tak enak menyergap keduanya. Minato langsung berdiri dan mengambil ancang-ancang jika seorang memasuki kamar mereka.

Suara itu lenyap tak lama kemudian. Lampu di kamar mereka meredup dan padam. Kedua tangan mereka telah menggenggam sebuah pistol untuk berjaga-jaga.

Desingan itu kembali muncul, dan pintu kamar mereka terbuka. Suara deritan mengagetkan keduanya. Seseorang telah masuk. Di dalam kegelapan mereka mengendap-endap, berusaha menelisik pergerakan musuh.

Tiba-tiba mereka merasakan udara yang berembun seperti semprotan air. Tak lama setelahnya pening yang teramat sangat menghantam kepala mereka. Di sisa-sisa kesadarannya, keduanya menyadari itu adalah semprotan beracun.

"Dengarkan ini baik-baik, Minato." Sebuah suara muncul di kegelapan.

Minato sangat mengenal suara itu, suara bawahannya di ANBU. Mulut Minato dan Jiraiya tak bisa bergerak, rasanya sekujur tubuhnya lumpuh perlahan.

"Kau ingin tahu kenapa aku melakukan ini? HAH..!"

"Setelah semua yang terjadi, akulah yang harusnya jadi ketua ANBU waktu itu. Akulah yang harusnya menikah dengan Kushina. Akulah yang harusnya menjadi raja. BUKAN KAU, MINATO!."

Suara itu terdengar lebih keras dari sebelumnya. Bersamaan dengan suara langkah kaki yang mendekat.

"Aku akan merebut semuanya darimu."

"…"

"Bukan. Aku tidak merebutnya. Kau yang akan memberikannya padaku. Akan kubuat skenario yang jahat atas namamu. Akan kuambil Kushina darimu dan kedua anak kalian dan kerajaan, tentunya. Dan satu lagi hal penting yang selama ini kalian lindungi. Kau tau kan apa itu, Minato?"

Baru kali ini, Minato merasa takut. Tapi ia tak bisa berbuat apapun. Dunianya menjadi lebih gelap, ia hampir hilang kesadaran. Jiraiya pun merasakan hal yang sama.

"Sayang sekali, pak tua Haruno , aku sebenarnya tak ingin membunuhmu agar kau bisa melihat kelahiran cucu pertamamu. Tapi, aku juga tak bisa membiarkan kau hidup." Lanjut pria itu.

Sepasang tangan terasa mencengkram wajahnya. Minato mencoba berontak tapi ia tak bisa. Tubuhnya sudah terlalu lemah.

"Tenang saja, aku takkan menyakiti Kushina dan kedua anakmu. Dan akan kudapatkan permata itu bagaimanapun caranya. Sekarang tidurlah untuk selamanya…"

Suara itu menghilang dengan langkah kaki yang menembus kegelapan kamar yang menjadi saksi bisu sebuah peristiwa yang menakutkan. Minato dan Jiraiya tak bisa bertahan lagi tubuh mereka mati rasa, semua indera mereka tak berfungsi. Napas mereka sudah berada di ujung raga keduanya.

"Haru…no"

"Haruno.."

"Bangunlah Sakura.. Hei.."

Mata Sakura membelalak. Hal pertama yang ia lihat adalah Sasuke yang mengguncang-guncang tubuhnya. Peluh membanjiri kemeja warna maroon miliknya. Napasnya memburu tak teratur. Ia bermimpi. Mimpi buruk yang menakutkan. Badannya terasa lemas, seolah ia baru saja melompati waktu menuju masa lalu.

"Kau kenapa Haruno?" Tanya Sasuke tak sabaran.

"Aku..aku..bermimpi aneh, Uchiha-san." Sakura tergagap. Kesadarannya belum pulih benar.

Ia memandang pemuda di sampingnya yang mengemudi dengan terburu-buru. Juga buku-buku yang ia baca tadi berserakan kesana kemari.

"Kita harus segera kembali ke markas." Ujar Sasuke, mengabaikan efek pusing yang dialami Sakura karena tindakannya.

"Apa yang terjadi ? ini sudah tengah malam!" teriaknya.

"Kita kehilangan kontak dengan Tim Kakashi. Selain itu ada hal yang harus kita selesaikan segera."

Wajah Sasuke mengeras disaat yang bersamaan.

Jantungnya berpacu lebih cepat. Sakura merasakan keringat dingin membanjiri telapak tangannya. Kejadian mencekam dalam mimpinya kembali tersirat begitu mendengar Sasuke kehilangan kontak dengan Tim Kakashi. Sakura yakin itu bukan mimpi buruk biasa, sebuah kekuatan dari masa lalu seolah ingin menunjukkan kebenaran padanya.

"Pukul berapa kita kehilangan kontak dengan Kakashi?"

"Sekitar pukul 17.00."

"Bagaimana dengan kelancaran misinya?"

"Dipastikan gagal. Harusnya pukul 18.00 mereka melaporkan keadaan, tapi kita sudah kehilangan kontak."

"Apa mereka selamat?"

Sasuke menghujani Juggo dan Neji berbagai pertanyaan, ia bahkan membiarkan Sakura yang berjalan sempoyongan di belakangnya karena tak berhasil mengimbangi langkah kaki bungsu Uchiha itu ketika memasuki gedung kepolisian.

"Bisa jadi begitu. Apa kita harus mengirimkan bantuan?"

"Tunggu dulu. Mereka bisa melumpuhkan pergerakan tim sehebat Kakashi, mengirim bantuan dari Divisi di bawah kita itu sama dengan bunuh diri."

"Ciih… Mereka benar-benar merepotkan, kita saja belum menemukan Sabaku No Gaara, sekarang kita juga harus kehilangan teman-teman kita." Keluh Neji.

Raut khawatir tak bisa disembunyikan pria berambut panjang dibalik layar komputernya. Mereka semua mengalami guncangan batin yang sama. Kehilangan rekan adalah hal yang paling tidak diinginkan dalam sebuah kerja sama tim.

"Hyuuga, apa jenis mobil yang tempo hari kita bicarakan?" Tanya Sasuke

Pengalihan pembicaraan membuat Neji kaget, tapi ia langsung mengerti arah pembicaraan Sasuke.

"Sedan biasa berwarna hitam keluaran tahun 2000. Memangnya kenapa?"

Persis.

"Hn.. sebuah kebetulan menarik. Aku baru saja berkunjung ke sebuah pabrik daur ulang mobil memeriksa legalitas pabriknya karena kuanggap mencurigakan dan kebetulan menemukan mobil dengan plat yang sama dengan mobil misterius yang pernah kau tunjukan padaku…."

"…Aku sudah memasang pelacak di mobil itu." Lanjutnya

Tiga pasang mata itu melebar. Terlebih Sakura, sejak awal ia sudah merasa aneh karena mobil mereka berhenti di tempat daur ulang mobil. Dan Sasuke lama sekali.

"Tapi kita tak punya banyak waktu untuk mengintai mobil itu. Keadaan kita saat ini sangat genting, Sasuke. Dan lagi, apa kau yakin itu mobil yang sama seperti yang kita curigai." Protes Juugo.

"Aku tau. Besok aku, kau dan Haruno akan pergi ke Amegakure. Dan kau, Hyuuga, aku mengandalkan bantuanmu untuk memandu kami."

Persiapan mereka akan jauh lebih rumit. Apalagi tanpa tim yang lengkap. Sasuke merasa kecolongan karena tak berpikir panjang. Keputusannya kali ini, dengan pengawasan Hyuuga dari markas kepolisian akan memudahkan pergerakan mereka. Awalnya ia tak berniat mengajak Sakura tapi begitu melihat mata dengan tekad membara gadis itu, ia akhirnya mengangguk pasrah.

Sasuke juga telah menghubungi Divisi Perhubungan untuk melakukan pengintaian mobil terhadap mobil misterius itu dan Divisi Komunikasi Intelijen untuk membantu Neji Hyuuga demi kelancaran misinya kali ini.

Fokus mereka menjadi terbagi-bagi. Kalaupun mereka tak bisa menangkap Akatsuki, menyelamatkan Gaara dan Tim Kakashi adalah prioritas utama dibawah misi penangkapan ini. Ia tak boleh gegabah.

Tsunade tak menyangka harus mengambil keputusan ini. Mengusir keponakannya dari kerajaannya sendiri. Di tengah runtuhnya kerajaan ia harus menyaksikan pengkhianatan paling memalukan dari perselingkuhan Kushina dengan Danzo. Ia juga mendengar desas-desu bahwa pimpinan ANBU Root itu telah mengatur siasat mengambil alih kerajaan.

"Bibi, kumohon dengarkan penjelasanku." Mohon Kushina.

"Aku minta maaf Tsunade-sama." Pinta Danzo sambil memegangi lengan Kushina.

Setelah kematian Minato. Kushina memang sempat menolak perhatian yang Danzo berikan, tapi ia tak bisa mengelak bahwa ia telah jatuh hati pada bawahan suaminya itu. Ia sebenarnya tahu kalau Danzo sudah memiliki seorang anak dari pernikahan sebelumnya. Bahkan itu semua tak bisa menyurutkan hatinya yang membara.

"Apalagi yang harus kudengarkan, kau bahkan telah mengandung anak darinya. Tak ada lagi yang harus kau lakukan selain turun tahta dan keluar dari sini. Aku tak mau lagi melihat kalian. Penghianat kerajaan seperti kalian harusnya pantas mati. Berbahagialah karena aku tak menghukum mati kalian."

Perasaan Tsunade campur aduk. Suaminya tewas bersama Minato karena terlibat perang saudara di suatu kawasan seperti yang diinformasikan pihak ANBU padanya, meski ia tak bisa percaya sepenuhnya. Sekarang ia harus kehilangan keponakan yang sudah ia anggap anaknya sendiri.

Rasanya baru kemarin ia berbincang dengan cucu kakaknya, Nagato Uzumaki. Anak berusia 10 tahun itu bahkan mengatakan impiannya menjadi dokter sekaligus menjadi Raja jika ia sudah naik tahta. Tapi sekarang, ia harus mengusir anak itu dan adiknya yang masih berusia 2 tahun dari kerajaan dan memupuskan impiannya.

"Okaa-sama, aku sudah tak bisa berlari lagi." Pintanya.

Perempuan itu terduduk di atas semak-semak. Perutnya yang membuncit membuat tenaganya terkuras habis karena harus berlari terlalu jauh.

"Bertahanlah sebentar lagi, kita sudah hampir jauh masuk hutan. Aku tau tempat dimana mereka tak bisa menemukan kita." Ujar Tsunade.

Malam itu kerajaan diserang sekelompok musuh. Semuanya porak poranda. Darah membanjiri seluruh tempat di kerajaan. Tak ada lagi yang tersisa selain dirinya dan menantunya. Kizashi Haruno, putranya tewas dalam penyerangan itu.

Ia meyakini bahwa itu adalah serangan Danzo. Tsunade sangat tahu gaya penyerangan ANBU Root. Kejam dan tak berperasaan. Tak salah lagi, Danzo ada di balik semua ini.

Hanya ia dan menantunya yang tengah hamil besar berhasil menyelamatkan diri ke hutan. Tak ada yang bisa Tsunade lakukan selain terus berlari. Ia sejatinya sudah tak tega melihat Mebuki yang sudah kesakitan.

Ia bahkan tak bisa menyelamatkan kotak permata suci itu. Tapi setidaknya ia masih mengenakan kalung dalam kotak yang pernah diberikan Hashirama dulu. Kalung yang ia kenakan ternyata adalah kunci yang ayahnya pernah bicarakan. Tanpa kunci ini, kotak permata itu tak akan pernah bisa terbuka.

Membayangkan permata itu jatuh pada tangan yang salah membuat tenaga semakin berkurang. Ia pun ikut terduduk. Ia sudah terlalu lelah untuk mengkhawatirkan soal permata yang bahkan belum pernah ia lihat.

Tiba-tiba suara tangisan bayi mengusik seluruh inderanya yang sudah lelah. Pandangannya tertuju pada bayi perempuan dalam gendongan Mebuki dengan darah segar menyelimuti kulit bayi itu.

Tangisnya pecah. Tak bisa menyembunyikan rasa haru.

"Okaa-sama, saya mohon jagalah Sakura untukku."

Ia menggendong bayi mungil itu dalam rengkuhannya.

"Sakura?"

"Ya, nama yang cantik,kan."

Ia memandang wajah pucat menantunya. Lagi-lagi ia harus ditinggalkan orang yang dia sayangi. Air mata tak kuasa membanjiri wajah lelah Tsunade.

Suara deru mobil mengusik ketenangan hutan. Jantung Tsunade kembali berpacu lebih cepat. Ia harus segera pergi dari sini. Meninggalkan jasad menantunya. Tak ada pilihan selain terus berlari. Sakura untungnya diam saja dalam gendongannya. Dari kejauhan ia melihat pondok kecil dan beristirahat disana.

Tak ada penerangan selain sinar bulan purnama pada malam itu. Bulan yang bulat dan bersinar kemerahan itu menyaksikan seluruh rentetan kejadian yang memilukan.

Tsunade meraba lehernya. Ia tak menemukan apapun. Kalungnya tidak ada. Itu pasti karena ia berlari dalam hutan tadi. Ia sangat khawatir tapi rasa lelah mengalahkan segalanya. Ia ikut tergeletak di samping bayi mungil itu.

'Suatu saat nanti kau pasti akan menemukan kebenarannya, Sakura.'

"Hah…hah…ha…"

Sakura terbangun dengan keringat yang kembali membanjiri tubuhnya. Tangannya meraih segelas air di atas nakas. Sofa panjang yang ia jadikan alas rasanya seperti mematahkan lehernya.

Ia bisa melihatnya dengan jelas dalam mimpinya, neneknya Tsunade dan perempuan yang melahirkannya serta bayi itu, Sakura sangat yakin itu adalah dirinya. Tangan seolah bergerak sendiri, menyentuh kalung permatanya.

'jadi yang diceritakan oleh Mikoto Uchiha itu benar, kalung ini pernah hilang seperti dalam mimpi.'

Untung saja Mikoto Uchiha berhasil menemukannya. Klan Uchiha memang orang yang bertanggung jawab, pikirnya.

Selain itu….

Kalung ini adalah kunci dari kotak permata suci. Sakura kembali penasaran, jadi dimanakah permata itu berada?

Kepalanya terasa pening lagi. Mimpi buruk ini kembali menghantuinya. Sakura tak mengerti. Sepertinya itu bukan mimpi biasa, seolah mimpinya itu terhubung satu sama lain menjadi satu cerita panjang. Terasa begitu nyata.

Malam ini Sakura bermalam di markas bersama Timnya. Tentu saja, ia berada di ruangan yang berbeda dengan para lelaki.

Jam di meja menunjukkan pukul 2 dini hari. Itu artinya ia baru tidur sekitar setengah jam yang lalu karena Sasuke terus memaksa mereka untuk mendiskusikan misi mereka. Masih ada waktu 3 jam sebelum mereka berangkat ke Amegakure.

Atensinya langsung beralih ketika melihat pintu ruangan itu terbuka.

"Apa kau belum tidur?" Tanya Sasuke dari balik pintu.

"Tidak, aku baru saja terbangun. Kau sendiri."

"Aku tidak bisa tidur."

Sasuke beralih duduk di sofa panjang di depannya.

"Aku baru saja terbangun karena mimpi buruk itu lagi."

"Seperti tadi malam?"

"Ya. Rasanya mimpi itu seperti ingatan Baa-chan."

Sasuke memandang gadis didepannya yang terlihat kacau.

"Suatu kebetulan karena aku baru saja ingin membangunkanmu, sebenarnya ada hal penting yang harus kau lakukan."

Matanya memandang Sasuke penasaran. Hal penting apa yang ingin Sakura lakukan untuk Sasuke.

"Baru saja ada pesan dari tim Kakashi. Pesan itu mencurigakan. Sebuah kode. Karena kau satu tim dengannya aku kira itu hal yang biasa kalian lakukan untuk bertukar informasi. Aku ingin kau memecahkannya segera. Pagi ini." Perintah Sasuke.

"Baiklah, Uchiha-san. Ayo. Waktu kita tidak banyak."

Apa ini.

Sebuah kode. Semacam pesan rahasia.


つづく

TBC

Mind to Review?